.


"Eyes On Fire"

Story by Joanna Katharina

Naruto is not mine but Uncle Kishimoto

Bonus Chapter Just For You Dear


Perjalanan yang cukup melelahkan tak terasa sudah sudah 5 jam penuh mereka berada di taxi sialan itu, ouch.. Sepertinya bokong Sasuke terasa panas. Well, itu tidak masalah selama ada gadis berhelaian merah-muda itu sudah cukup baginya. Sasuke pun mengendong gadis itu dengan gaya bridal style, ia menurunkan gadis itu di ranjangnya.

Sial, pemandangan menyebalkan tersaji didepan matanya ketika ia hendak mengambil segelas air dingin di dapur.

"Kau sudah kembali, ne Sasuke?" tanya Utakata.

"Seperti yang kau lihat. Hn, sedang apa kalian disini, bukankah seharusnya kalian kembali ke markas?" Sasuke tak menjawab malah balik bertanya, seolah mereka bagaikan sekumpulan serangga penganggu yang harus disingkirkan.

"Kau bodoh atau apa, Sasuke. Kau kan yang memegang kunci markas kita, mana bisa kami kesana, percuma saja, tahu kau!" Ujar Shikamaru yang kelihatan kesal.

"Oi, Sasuke. Aku lapar, didalam kulkasmu tidak ada ramen instan, memang sih ada bahan-bahan makanan olahan, tapi kau tahu kan kami tak bisa memasak sepertimu dan Shino, huft.." Ujar Naruto dengan lesuh.

"Usuratonkachi! Memang kemana Shino?" Sasuke mendecih pelan dan matanya tertuju kepada Naruto.

"Dia bilang ayahnya sakit, jadi dia segera pulang tadi. Ibunya menelpon" jelas Gaara yang berdiri dari kursi meja makan dan segera mencuci tangannya ke wastafel.

Perdebatan konyol antara Sasuke dan Naruto pun selesai, yap.. Berakhir dengan Sasuke yang memasak sup miso, yuzu sorbet, dan doria sarada/salad. Mereka makan dengan lahap, Oh I see, Selain tampan, jenius, ternyata Sasuke pintar memasak, demi apapun lelaki seperti Sasuke adalah idaman setiap perempuan.

Acara makan bersama sedikit tegang karena membahas soal pekerjaan mereka yang sedikit mengerikan. Oke, bicara soal Haruno Kizashi, Sasuke kelihatan sedikit kuatir namun kekuatiran itu tak berlangsung lama, ia berpikir toh... Dia (Kizashi) akan tetap aman selama dalam perlindungannya. Oh lihatlah, Naruto kelihatan sangat rakus sekali. Naruto mengakui dan membatin dalam hati meskipun bukan ramen tetapi pengecualian untuk sup miso ala Sasuke, hingga-

"Ya.. Sasuke, aku kan masih mau nambah... Dasar pelit!" ujar Naruto kecewa karena Sasuke menyisihkan mangkuk besar itu dan menyimpannya di dapur, perempat siku-siku pun muncul di kening Naruto berkulit tan itu.

"Heh, kau ini. Lihat, kau sudah terlalu banyak makan, Naruto, perhatikan berat badanmu." Ujar Utakata kalem, sedangkannya yang lainnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Naruto ini tidak berubah selalu bodoh seperti biasa, Gaara membatin dalam hati

.


Eyes On Fire © Joanna Katharina


.

Akhirnya Sasuke menyuruh mereka segera ke markas melihat keadaan Kizashi di ruang rahasia bawah tanah dan mengawasi apa yang sedang dilakukan Danzo-Oyabun, sementara dirinya menyetel televisi mencari-cari informasi tentang perkembangan berita bunuh dirinya Kizashi, Sasuke hanya tersenyum remeh... Tentu saja Kizashi masih hidup "Tch, berita bodoh." Sasuke bergelut dalam pikirannya kala melihat isi berita tolol itu, well... Cukup! Hari yang melelahkan, namun kala mengingat Kizashi ia teringat juga dengan gadisnya, yang sekrang resmi mengikat hati, jiwa, dan raganya. Ya, Sasuke teringat akan gadis berambut merah muda itu, maka ia berjalan lambat menuju kamarnya.

Ruang rahasia bawah tanah, Markas AO.

Keadaan ruangan itu tidak begitu gelap seperti beberapa ruangan isolasi lainnya, walau hanya tiga buah lilin besar cukup untuk penerangan cahaya ruangan itu, Gaara memastikan keadaan Kizashi yang masih terbaring diatas ranjang yang memang disediakan disana;

"Gaara, bagaimana keadaannya?" tanya Naruto pelan.

"Dia baik-baik saja, sepertinya obatnya yang diberikan Karin-san kemarin bekerja dengan bagus." Jawab Gaara sambil tersenyum tipis.

"Baguslah, memangnya harus begitu. Eh, tetapi kalau aku pikir-pikir, marganya itu Haruno Kizashi ya dan wajahnya juga agak mirip dengan Cherry, apa jangan-jangan mereka...-"

Belum sempat Naruto melanjutkan kata-katanya interupsi datang dari Utakata

"Oi, Gaara... ponselmu berbunyi, aku matikan atau aku jawab?" teriak Utakata

"Tsk, menganggu saja!" Gaara mendumel dalam hati-

"Matikan saja!"

"Ok, baiklah."

.


We found love in hopeless place
Shine a light through an open door
Love and life I will divide
Turn away cause I need you more
Fell the heartbeat in my mind

-We found love by Rihanna


.

Sepulangnya Naruto dan kawan-kawan (kecuali Sasuke tentunya) Sasuke langsung berjalan pelan menuju kamar pribadinya yang memang sengaja ia kunci dari luar karena takut akan kebiasaan teman-teman satu tim-nya keluar masuk kamar pribadinya terutama si Naruto sahabat berisiknya yang bodoh tetapi setiakawan

~Krietttt

Sasuke membuka pintunya pelan.

"Eh?"

"Hn. Kau sudah bangun rupanya?"

"Ah iya.. hehe... hmm, Uchi-"

"Ayo makan, sudah kusiapkan sup miso untukmu"

"Eh, tapi baju masih kotor begini"

"Ah, souka... Maaf." Sasuke mengambil kaus (t-shirt) miliknya dari lemari dan celana pendeknya dan meletakkannya di tangan Sakura

"Ini, mandilah dulu ya, aku tunggu di dapur ya. O iya, ada sikat gigi baru di dekat kaca bulat dalam pocket biru dan disebelahnya ada sabun cair, gunakan saja handukku yang kugantung disana, itu baru kok, oke segeralah mandi." Titah Sasuke mutlak.

"Ha'i, aku segera mandi ya." tutur Sakura yang tak sabaran karena ia merasa badannya sangat lengket dan berkeringat, weh... melihat Sasuke begini perhatiannya membuat Sakura melayang ke langit ke tujuh (?)

Sementara Sasuke menuju ke dapur menghangatkan sup miso tadi dan membuat teh hijau hangat. Sasuke teringat tingkah gadis berambut aneh itu, ah rambut unik, rambut merah muda, mata hijaunya yang indah, Sasuke terus memikirkan gadis itu, rasanya ada sesuatu yang menggelitik dihatinya, Sasuke tak menyangka pertemuan di Hutan Aokigahara berakhir seperti ini, eh? Tidak! Maksudnya bisa sedekat ini, apalagi mengingat perkataan Naruto waktu lalu bahwa gadis berkulit seputih porselen itu pernah memberinya surat cinta di hari valentine sewaktu SMP, eits... Tunggu sepertinya Sasuke menyimpannya di kotak tisu krem di dekat koper-

"Gomen, hehe... Apa kau sudah menunggu lama?" tanya Sakura yang masih berdiri di sisi meja makan

"Hn, duduklah. Semuanya sudah siap, ayo kita makan."

"Aa.. Uchiha-san?"

"Sasuke, panggil saja Sasuke!"

"Hu'um-" Sakura mencicipi kuah sup-nya dan ia menjilat bibirnya karena kuah menetes ke bibir ranumnya, melihat itu Sasuke memalingkan wajahnya. "Sup-nya enak, kau pintar memasak juga ya." Sakura memuji masakan Sasuke dengan senyuman manisnya.

"Ah... Sakura?"

"Ya"

"Apa kau ingin kubuatkan teh hangat tawar?"

"Oh, tidak terima kasih. Air mineral saja sudah cukup."

"Hn, baiklah."

"Sasuke..."

"Hn?"

"Arigatou" Sakura tersenyum manis dengan memiringkan kepalanya dengan acungan jempol.

"Hn." Hanya dua kata ciri khas-nya keluar dengan seringaian bangga diwajah tampannya. Oh I see, sekarang dia mendapat pujian dari seorang gadis, gadis yang sekarang menawan hatinya.

Menawan hatinya

Menawan hatinya

Menawan hatinya

Tunggu...!

Apa tadi...?

Menawan hatinya!

Jadi~

Benarkah?...

Seorang Sasuke dengan segala kecuekan dan terkenal tidak berperasaan terhadap gadis-gadis,
sekarang... Sedang jatuh cinta!

Hn, ku akui iya!~ Sasuke bergumul sendiri dengan pikirannya.

.


Oke, Cinta memang gila!
Tidak waras!
Ah, inikah yang namanya cinta?
Gila dan Irrasional
Kami-sama, aku suka sensasi ini
Biarkan degup jantung ini menggila
Biarkan nuansa hangat ini mendekap erat relung hatiku yang dingin
Mengapa jatuh cinta terasa menyenangkan
Sungguh, ini benar-benar gila!


.

.

Sejam tigapuluh menit kemudian.

Usai kegiatan makan siang, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menonton film bersama di ruang tengah. Sasuke mau menonton film laga sedangkan Sakura mau menonton film drama humor. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk menonton film Deadpool, Ah.. Nampaknya Sasuke dan Sakura belum pernah menonton film Deadpool sebelumnya dan benar saja film itu baru saja dibawa oleh Utakata (the pervert guy) dua minggu yang lalu, yang belum sempat ditonton oleh Sasuke.

"Hn, baiklah jadi kita nonton Deadpool ya!"

"Okay, nyalakan sekarang DvD player-nya."

"Ngomong-ngomong, kau sudah menonton film Deadpool sampai habis?"

"Belum."

"Hah? Yang benar saja... Kau beli dimana memangnya? Sayang loh kita udah beli tapi-"

"Tidak! Teman se-timku yang beli film ini, tadinya kami mau menonton bersama disini namun, karena banyak misi yang harus kami jalani jadinya ya kami menunda dulu, menunggu waktu yang tepat untuk menonton bersama." Jelas Sasuke panjang dan lebar dengan senyuman tipis diwajah tampannya.

"Oh, begitu ya." Sakura hanya ber-oh-oh saja dan matanya langsung teruju pada layar televisi

Film Deadpool memang film drama action yang dibumbui humor-humor dewasa denga bahasa yang vulgar, sebenarnya Sakura agak risih menonton film seperti ini ditemani seorang lelaki tetapi apa boleh buat. Toh, setidaknya dengan menonton film ini bisa menghiburnya sedikit dan melupakan sejenak beban dipundaknya dan Sakura membulatkan mata emeraldnya dan sesaat menahan nafas karena pada menit ke-42 itu adegan panas sang aktor utama dengan lawan mainnya diatas ranjang sedang berlangsung, Sakura mengigit bibirnya perlahan, sedangkan Sasuke merasa ada yang sesak dibawah sana, seketika ruangan itu berubah menjadi panas.

~Panas

~Begitu panas

~Sangat panas

Sasuke mengeram pelan. "Sial, aku tak bisa menahannya lagi!" Sasuke bertarung dengan pikirannya sendiri. Sementara Sakura memegang erat pinggiran kausnya "Oh.. Kami-sama, ada dia disampingku, ini tidak boleh begitu, ini berbahaya..iniiii-"

"Sakura... " Suara berat lelaki tampan behelaian raven itu memenuhi gendang telinga sakura

"..." Sakura terpaku demi apapun dia... Oh Kami-sama, mengapa suaranya begitu berat dan menghanyutkanaku dalam imanjinasi liar Wade Wilson dalam film Deadpool itu, oh tidak.. Ini.. Ini salah, ini.. Berbahaya, sial.

Entah setan darimana menghasut Sasuke lelaki tampan dengan kepribadian yang kaku dan skeptis itu... Oh tidak, tangan kanannya memegang dagu Sakura dan tangan kirinya mengesampingkan helaian rambut Sakura yang menutupi sebelah wajah manisnya

.

Sesaat onyx-emerald saling berpandangan penuh arti.

.


Aku... Aku melihat irisan kelam itu
Mendominasi, mencengkram jiwaku,
Jiwaku serasa terkurung dalam mata itu
Mata itu... Matamu yang meresap hingga merasuki jiwaku
Aku tak kuat, aku tak kuasa... Ingin aku berlari.. Berlari...
Tapi... Aku tersesat didalamnya-
Kemilau kelam matamu membangkitkan sesuatu dalam diriku
Cintakah, nafsukah... Aku tak peduli!
Aku gila, aku tidak waras...
Aku ingin tersesat selamanya dalam kelamnya matamu
Mata kelammu membakar gairahku
Nyalakan nafsu birahiku
Sentuhlah aku, tenggelamkanlah aku dalam api gairah sialan ini...*


Beberapa menit kemudian.

Waktu berputar begitu cepat bagaikan roller coaster di taman hiburan. Sasuke dan Sakura sedang bercumbu mesra diatas ranjang itu. Gairah membakar jiwa muda mereka berdua, kecupan demi kecupan erotis dan sentuhan-sentuhan panas ia berikan kepada gadis beririskan emerald itu. Nafas mereka memburu, deruan nafas yang terdengar begitu erotis... Desahan-desahan penuh gairah memenuhi kamar itu hingga-

"Sakura... Apa kau yakin menyerahkannya padaku?"

"..." Sakura mengiyakan dengan anggukan serta matanya yang terus menatap iris kelam Sasuke.

"Hn, baiklah." Hanya itu yang keluar dari bibir kissable Sasuke, sebenarnya ada banyak hal yang ingin ia katakan misalnya saja; mungkin ini akan terasa sakit, terima-kasih, atau aku berjanji aku akan bertanggung-jawab. Tetapi, dia bukanlah tipe pria yang banyak mengobral kata-kata omong-kosong, "sejatinya Sasuke bukanlah pria brengsek" yang meniduri gadis-gadis lalu pergi dan mengatakan; 'Maaf, aku khilaf... Ini tidak seharusnya terjadi, ini salah kita berdua, kita saling suka dan maaf kupikir sejauh ini kita tidak cocok, maaf maaf maaf.. dan bla bla bla...!' Tidak, lelaki sejati bukan seperti itu, demi Kami-sama aku akan menikahi perempuan merah muda ini, apapun yang terjadi, maafkan aku. Begitulah pikiran Sasuke yang begelut kesana kemari, bukan hanya pikirannya yang bergelut tetapi raganya pun bergelut, berkeringat, dan mendesah nikmat diatas tubuh perempuan berambut merah muda itu.

"Aaaaaaaaaaaaa...akhhhh..." teriak kencang Haruno Sakura kala hymen dalam kewanitaannya robek tertembus benda tumpul tak bertulang.

Melihat hal itu membuat Sasuke sedikit terhenyak dan panik, ia mengusap lembut wajah Sasuke dan mengecup lembut bibir perempuan itu. Saat ia ingin memperdalam kecupan itu-

Drttt... Drtttt... Drttttt... ponsel Sasuke berdering kencang dan akhirnya Sasuke mengangkat telepon itu, ada nama Naruto tertera dilayar ponsel itu.

"Sasuke...! gawat, si tua Danzo-Oyabun, datang ke markas kita... cepat datanglah kemari-"

PIP

"Tch, sial!" Sasuke mengeram rendah. Pikirannya tertuju pada Haruno Kizashi, ayah wanitanya.

Belum selesai Naruto berbicara Sasuke langsung memutuskan sambungan telepon itu, ia segera menyudahi hal itu dengan Sakura, ia menjelaskan singkat kepergiaannya keluar dan mengecup dahi perempuan merah muda itu.

"Sakura, aku akan segera kembali. Kau tetaplah disini, didalam lemari dapur ada banyak bahan-bahan makanan, masaklah nanti. Jangan keluar, tutup semua pintu dan jendela-" Ujarnya, Sasuke mengambil dua buah pistol dari kotak dalam lemari bajunya

"Ini, jika kau dalam bahaya saat aku tak ada, gunakan ini!" Titah Sasukepada wanitanya mantap sambil memberikan pistol yang berwarna hitam berukiran kalajengking cokelat.

"Hu'um." Sakura mengangguk mengerti dengan sedikit gemetar ia memegang pistol itu, ia memang sudah tahu profesi Sasuke saat mereka mengobrol bersama di meja makan tetapi otaknya terasa tumpul sekarang dengan adanya pistol ditangannya.

.


Eyes On Fire © Joanna Katharina


.

"Ow... ow.. Sasuke-kun. Senang kau sudah datang." Sapa Danzo-Oyabun remeh.

"Hn, apa maumu?"

"Berikan kunci ruang bawah tanah sekarang! Aku tahu semua... Kizashi masih hidup kan?"

"..." Sasuke terdiam lalu ia memberi kode kepada Shino untuk menyingkir dari tempat itu dan namun Naruto salah kaprah alias salah kira, Naruto terburu-buru mengambil sesuatu yang ada di kantung ikat pinggangnya. Oh good... itu kuncinya.

Naruto berlari begitu cepat seperti dikejar-kejar setan. Entah apa yang ada dipikiran Naruto pada saat itu. Oh bagus sekali, kaki-tangan Danzo mengejar Naruto.

Mata Sasuke membulat sempurna "Naruto... !" Tuturnya dengan nada marah tersirat disana. Tanpa pikir panjang ia berlari dan sempat menembakan beberapa pelurunya pada dua aank buah danzo-Oyabun disana, ia pun berlari tergesa-gesa menyusul si bodoh Naruto. "Ck, Usuratonkachi!" Sasuke berdecak sebal dalam hati.

Di pantry ruang bawah, dekat ruang isolasi tempat Kizashi berada. Gaara, Utakata, dan Shikamaru sedang asyik menghisap rokok mereka dan menikmati secangkir kopi latte mereka masing-masing dan bercerita hal-hal konyol dan tentang wanita. Suasana yang agak sepi disepanjang lorong tiba-tiba mendadak berisik dengan suara derapan demi derapan kaki-kaki yang berlarian kearah ruang isolasi. Gaara dan kawan-kawan melongo saat salah satu anak buah Danzo-Oyabun menodongkan laras panjang itu kearah Naruto, sementara pintu ruang isolasi Kizashi sudah terbuka lebar dan Kizashi masih terbaring diranjangnya, kelihatannya sudah sepenuhnya Kizashi telah pulih kembali. Eh? Tunggu~

.

-DORRR... !

.

Darah kental itu menciprati salah satu anak buah Danzo.

"Keparat kau Danzo!"Ujar Sasuke marah melihat perbuatan keji Danzo menembak kepala Naruto

"Ini harga yang harus kau bayar Sasuke-kun. Jangan pernah bermain-main denganku, mengerti!"

Keributan itu membangunkan Kizashi. Pria paruh baya itu terbangun, ia menlangkahkan kakinya kerah Danzo-Oyabun, seraya berkata:

"Hentikan!"

"Oh... Kukira kau sudah membusuk ditanah, heh!" Ujar Danzo memandang remeh pria bermarga Haruno itu.

"Danzo! Lepaskan dia... Dia tidak bersalah, kau telah memfitnahnya! Jika kau tak mau melepaskan maka aku akan menembakmu, mengerti!"

"Memangnya kau tahu apa, bocah sialan!" Danzo begitu geram dengan tingkah Sasuke kali ini, ini adalah pertama kalinya ia berkhianat padanya. Sungguh ia gelap mata hingga ia menodongkan laras panjangnya kearah Sasuke dan Kizashi mengigit lengan Danzo yang diperban itu dan berlari kearah Sasuke dengan cepat.

-DORR

-DORR

-DORR

-DORR... Empat peluru sialan itu menembus punggung Kizashi

"Aaaaarghhhh...!" Sasuke terbangun dari mimpinya, mimpi buruk tepatnya, mata onyx-nya sudah terbuka sempurna setelah beberapa kali mengerjap, saat tangan kanannya seperti memegang sesuatu yang lembut dan kenyal. Feel so handy** ia melirik kesampingnya.

"Kyaaaaa... Dasar mesum!" Sakura berteriak heboh kala ia terbangun karena ada tangan kekar menyentuh payudaranya dan What the- ia menemukan dirinya polos tanpa busana dan tangan kanannya menyentuh daerah sensitifnya. Demi Kami-sama, ia melihat telapak tangan kanannya dihiasi seperti sebuah cairan merah yang setengah mengering dan dengan bodohnya ia menciumnya, and voilla.. bau amis yang menjijikan menusuk aroma penciumannya.

"A-a-apa... apaan ini? Bisa kau jelaskan ini pria mesum, kau brengsek!"

"..." Sasuke begitu shock ia pun mendapati dirinya telanjang hanya saja selimut tipis biru tua menutupi tubuh polos mereka dan ia menilik sedikit kedalam seprai putih polos itu seperti menampakan bercak-bercak warna merah dan warna putih kental yang setengah mengering. Oh Gosh, dammit!

~Hening

~Hening

~Hening

~Saling berpandangan

~Mata lurus dengan pandangan kosong

~Pikiran berlari kesana-kemari

~Stress? TIDAK!

~Kau Salah!

~Ini lebih dari kata stress atau semacamnya!

~Gila? Ya, bukan sepertinya tapi ini meman a

~Cukup! Apa? Ku katakan cukup!

~Eh?

~STOP... !

"Sasuke... ?" Suara Sakura begitu serak dan akhirnya keluar juga karena tadi suaranya seperti ada yang menahan (?)

"..." Sasuke bingung. Benar-benar bingung, bukankah tadi dia sedang berada di markasnya bersama Naruto, Shino, dan yang lainnya melawan Danzo-Oyabun. Tapi ini apa? Apakah tadi semua mimpi, berarti menonton film bersama juga mimpi? Tunggu... J-a-d-i ini semua itu mimpi lalu mengapa aku dan gadis? Ah, wanita ini? Apa ini? Ini apa?

"Sasuke... ?" Sekali lagi suara serak itu bergetar dan ia meremas erat selimut biru tua itu

Sakura menangis

Sial, dia benar-benar menangis

Sakura... Jangan menangis.

Sasuke benar-benar diambang batas kebingungan. Semua tidak masuk logika, otak jeniusnya seakan terlempar menghilang kemana. Baiklah, dia berpikir sejenak, mendinginkan kepala, mencoba mencari jalan keluar. Sementara Sakura, wanita yang disampingnya terus-menerus menangis dalam diam, air matanya membasahi wajah manisnya dan selimut pun terkena imbasnya.

"Hn, maaf~ Ini benar-benar tidak masuk akal. Jadi, sudah kuputuskan, bulan ini aku menikahimu. Ini memang terdengar gila. Mungkin terlalu cepat untuk hal itu, tetapi aku adalah pria yang bertanggung-jawab walaupun tanganku berlumuran darah-" Sasuke menghela nafasnya sejenak sambil menutup kedua iris onyx indahnya.

"Percayalah, aku pria bertanggung-jawab dan aku selalu memegang teguh kata-kataku karena aku seorang Uchiha!" Ujar Sasuke dengan nada tegas dan tatapan kelembutan yang ia hadiahkan untuk wanita disampingnya, Sakuranya.

Sakura terdiam dan mencerna setiap untaian kata yang terdengar tegas dan mantap ditelinganya. Menikah? Secepat itukah (blush) bahkan Sakura tak mampu mengeluarkan kata-kata, meskipu tubuhnya hanya ditutupi selimut biru tua yang seharusnya ia merasa dingin tetapi... Ini rasanya {ia menutup matanya sebentar} hangat sekali ya.

"Hei, kupikir aku masih menyimpan surat valentine-mu, hn." Ujar Sasuke dengan nada bercanda dan wajah datarnya, Well... Creepy? No, isn't. Apapun itu Sasuke tetaplah Sasuke dia tampan dan menawan, pria tampan berwajah datar dengan sejuta pesona yang terukir indah bagaikan pahatan Dewa Apollo Yunani.

.


Eyes On Fire © Joanna Katharina


.

Akhirnya percakapan itu selesai danmereka berdua sedang mandi bersama. Sakura menggosok punggung Sasuke sedangkan Sasuke menikmati sensasi jari-jemari Sakura yang menyentuh kulitnya, rasanya begitu hangat dan menyenangkan. Hati Sasuke yang selama ini diliputi kegelapan dan kekosongan seperti terisi dan menangkapseberkas cahaya yang menuntunnya membuka ruang hatinya yang telah lama mati dan hidup kembali. Hutan Aokigahara ya? sepintas senyuman tipis nan tulus terlukis diwajah tampannya. Well, Sasuke berikir sejenak.

"Sakura... 2 minggu lagi kita menikah ya!"

"Hah?!"

"Tapi, Tousan?"

"Tenang saja, aku selalu dapat apa yang aku mau!" Ujar Sasuke dengan nada angkuh terselip disana.

"..."

"Sakura, berbaliklah aku ingin itu~"

"Apa?" Sakura berbalik dan menghadap Sasuke. Well, mereka berhadap-hadapan dengan tubuh tanpa sehelai benang pun

Sasuke hanya mendengus pelan dan tersenyum kecil dengan tingkat hentai maksimal.

~CUP

"Kyaaaaa..."

[selanjutnya bisa dibayangan sendiri seperti apa ya minna-san :D]

.


The Very End


.

.

A/N: terima kasih untuk supportnya sehingga saya membuat bonus chapter khusus untuk ff ini, semoga suka dan terhibur ya minna-san! :)

*Puisi dadakan punya Joan yang terinspirasi pas baca novelnya Alice Munro

** Feel so handy itu istilah yang Joan pinjem dari Kaho-senpai (salah satu author favourite Joan tuh... ehehe :D) itu loh yang ff dengan title "KONOHA TALKSHOW WITH UCHIHA FAMILY"

Joan juga mau bilang dankje banyak-banyak alias thankyou so much buat sugirusetsuna (a.k.a Hana) sempet PM-PM-an beberapa waktu yang lalu. Secara gak langsung Hana kasih tahu Joan soal bedanya fict sama ficlet. Hmm, what a good one. Vielen dank Hana! ;) (Pssttt... Dia juga salah satu author favourite Joan, she's smart maybe genius writer, so humble and friendly)

.

.

Special Thanks To:

Greentea Kim, Inka Bluecherry, MissCookies Kawaii, Riss Taufan, SasuSakuFic, Sasuke darKEvil, Sri334, kimtaerinrin, lightflower22, yuanthecutegirl, devanichi, hanayou70, Hanazono Yuri, vanessawijaya, Nara Aneri, Younghee Lee, Ri, teeeneji, and Sasara Keiko.


Lots of love,

xxx

Joan