Segala sesuatu yang berkaitan dengan hidup dan masa depannya merupakan prioritas utama bagi Luhan. Ia harus memikirkannya dengan matang dan menilik seluruh kemungkinan buruk dan baik yang akan terjadi kedepannya. Dan bahkan untuk masalah ini pun Luhan memerlukan waktu hampir seharian penuh.

Jujur ia akui, pikirannya memang benar - benar buntu. Berapa banyak pun ia membuat sebuah rencana lain untuk kehidupannya, logikanya terasa selalu menentang. Dan ketika mata rusanya tak sengaja melirik jarum jam yang tengah menunjukkan pukul dua siang, Luhan langsung berlari menuju meja belajarnya.

Mengambil selembar kertas dan sebuah ballpoint, juga menarik nafas sejenak untuk menenangkan pikirannya yang kacau. Dan beberapa menit berlalu, Luhan telah rapi dengan pakaian yang lebih baik.

Luhan berdiri menatap bayangan dirinya pada sebuah cermin panjang yang berada di pintu lemari pakaiannya. Awalnya, sebuah pikiran untuk melangkah mundur menghampiri pikirannya, namun ketika matanya menatap tepat pada bayangan maya yang mempresentasikan sepasang mata indah bak seekor rusa, Luhan sadar. Ia seorang pria kuat yang mandiri. Hidup kurang lebih tiga tahun di negri orang tanpa bantuan orang tuanya menempah dirinya menjadi sosok yang tegar. Dan apakah pantas ia menyerah hanya untuk masalah yang seperti ini.

Kedua bibirnya tertarik pada masing - masing sisi pipinya, memberikan sebuah senyuman terima kasih pada sosok bayangan maya dengan irisnya yang terlihat begitu tegar dan kuat. Sejenak Luhan menghela napasnya dengan kuat lalu meraih sebuah map biru yang terletak di atas meja belajarnya.

Dan begitulah jalan hidup yang dipilih Luhan, seorang perantauan China yang hidup di negri orang demi sebuah kehidupan dan kedudukkan yang lebih baik.

..

..

..

Oh Zhiyu Lu

Present

..

..

..

Another Way

..

..

..

Author : Oh Zhiyu Lu

Main Cast : Oh Sehun, Luhan

Main pair : HunHan

Light : Chaptered

Rated : Mature

Genre : Romance

Disclaimer : Cerita, alur dan karakter tokoh milik penulis. Tokoh milik agensi dan jika terdapat kesamaan unsur dalam cerita, bukanlah faktor kesengajaan.

.

.

Sorry for typo dan beberapa konten dewasa yang tak pantas untuk anak di bawah delapan belas tahun.

..

..

..


Chapter 2


..

..

..

Luhan berjalan dengan santai sepanjang trotoar menuju gedung apartemen miliknya. Kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri saat angin malam yang mulai mendekati musim dingin, menerpa tubuhnya dengan intensitas sedang. Sesekali bibir bagian bawahnya ia gigiti menahan giginya yang bergetar menahankan suhu yang terasa semakin rendah.

Selagi tangan kanannya memegang sebuah map, tangan kirinya menenteng sebuah paper bag berlogo Starbucks dengan dua cup berisikan hot americano di dalamnya.

Hari ini semuanya berjalan dengan lancar. Dirinya dipanggil oleh pihak perusahaan untuk melakukan sesi wawancara yang mana hasilnya ditanggapi dengan respon positif oleh pihak restoran. Ketika Tuan Kim, manager bagian HRD memintanya menandatangani kontrak kerja, Luhan tak mampu menahan senyuman harunya. Do'anya meminta untuk berkerja di restoran ini terkabul. Dan Luhan ingin merayakan keberhasilannya bersama paman petugas keamanan di gedung apartemennya dengan dua cup hot americano di tengah dinginnya udara malam Kota Seoul. Tak ada salahnya jika Luhan menghadiahi pria paruh baya itu sesuatu yang spesial. Bukankah pria itu yang menawarkan pekerjaan ini padanya?

Luhan tersenyum senang ketika ia baru saja berbelok di perempatan menuju gedung apartemennya. Terpaut jarak kurang lebih sepuluh meter, Luhan bisa melihat paman petugas keamanan di gedung apartemennya tengah duduk sendirian di sebuah kursi panjang yang terletak di depan pos jaganya. Pria paruh baya itu menggunakan jeket parasut tebal dan kedua telapak tangannya yang ia gosok secara bersamaan. Tidakkah kalian merasa ini timing yang sangat tepat.

"Paman?"

"Oh! Kau sudah pulang? Bagaimana dengan wawancaramu? Apakah lancar? Apakah kau diterima?"

Luhan terkekeh kecil mendengar pertanyaan pria paruh baya tersebut. Tubuhnya ia dudukkan di sebelah paman Lee dengan paper bag -nya yang ia letakkan ditengah – tengah keduanya.

"Cuaca dingin seperti ini, paling enak jika kita berbincang – bincang sambil meminum segelas kopi hangat." Luhan menyodorkan satu cup kopi yang dibalas tatapan sungkan oleh Paman Lee.

"Kau membelikanku ini? Bukankah ini sangat mahal?"

"Sekali – kali tidak akan menjadi masalah besar paman."

"Tapi seharusnya kau menyimpan uangmu untuk hal – hal penting di kemudian hari Lu. Aku tak akan mungkin sanggup meminum ini jika sehari – hari pun kau hanya makan nasi dan kimchi."

Luhan tersenyum dengan lembut, dalam hatinya membenarkan ucapan Paman Lee. "Ini hanya sebagai perayaan diterimanya aku di restoran itu paman. Lagi pula jika bukan karena paman, aku pasti masih diam termenung meratapi nasibku di kamar apartemen. Kopi ini hanya sebagai tanda terima kasihku paman. Ambilah!" Luhan yang mulai geram, menarik tangan Paman Lee dan memaksa pria paruh baya itu menggenggam cup kopinya sendiri.

"Ini semua bukan karena 'ku. Ini jalan yang telah dipilih Tuhan untukmu, dan Ia menyampaikannya melalui diriku. Mungkin dengan jalan yang ini, kau akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik." Luhan menghela napasnya dengan panjang dan diakhiri sebuah senyuman lembut yang terpatri dikedua belah bibirnya. Kepalanya ia dongakkan menatap beberapa bintang yang mampu ditangkap mata telanjangnya.

"Aku tak benar – benar yakin jika ini jalan yang tepat untukku. Tapi apa salahnya mencoba. Akan lebih baik jika aku menyesal setelah berjuang daripada merugi karena tak mencoba." Luhan menangkupkan kedua telapak tangannya pada cup kopi miliknya. Malam yang semakin larut berbanding lurus dengan suhu udara yang semakin dingin.

"Jadi, bagaimana dengan wawancaramu hari ini?" Paman Lee berusaha mencari topik lain melihat tatapan Luhan yang berubah sendu. Hal – hal yang menyerempet tentang gagalnya ia dalam ujian masuk universitas-nya bukan merupakan opsi yang tepat untuk bahan perbincangan.

Setelah menyelesaikan tegukkannya, Luhan menganggukkan kepalanya. "Mereka tidak menanyakan hal – hal yang terlalu sulit. Hanya tentang pengalamanku dalam bidang weiters dan motivasiku melamar di restoran itu. Tapi kau tau paman? Kami harus menjawabnya dalam bahasa Inggris. Dan kepiawanku dalam bahasa mandarin membuatku mendapat lebih banyak perhatian daripada pelamar yang lain."

"Aishh,,, kau beruntung sekali. Aku tak benar – benar yakin semuanya murni karena keahlian bahasamu. Pasti umurmu yang muda dan wajahmu yang manis menjadi poin tambahan bagi mereka. "

Luhan mendesis sembari membenarkan posisi duduknya menghadap Paman Lee, "Paman, mereka tak berpikir bahwa wajahku ini manis, tapi mereka berpikir wajahku ini tampan. Dan aku yakin, wajah tampanku ini akan menambah pundi – pundi won mereka."

Paman Lee hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum maklum. Pria paruh baya ini berani bertaruh, siapapun yang melihat anak China ini pasti akan berpikir kata manis lebih pantas disematkan untuk dirinya alih – alih kata tampan. Tapi Paman Lee sadar, umurnya terlalu tua untuk berdebat tentang hal sepele dengan anak laki – laki yang bahkan baru berumur sembilan belas tahun.

"Baiklah, baiklah. Mereka pasti melihatmu karena kau tampan. Sekarang, lebih baik kau segera ke kamarmu dan pergi tidur. Besok adalah hari pertamamu berkerja, dan kau pasti tak ingin terlambatkan?"

"Benar paman. Kata Tuan Kim, manager HRD, aku akan menjalani masa pelatihan selama seminggu. Dan jika aku tak melakukan kesalah lebih dari tiga kali, maka aku akan ditetapkan sebagai pegawai tetap. Habiskan kopimu paman! Aku pergi dulu." Luhan beranjak dari duduknya dan berlalu pergi setelah membungkukkan tubuhnya sekilas.

..

..

..

Dua angka dibelakang titik terus berubah bentuk menjadi angka yang semakin besar, sedang dua angka di depannya masih dalam bentuk yang sama. Ketika penunjuk menit berubah menjadi angka terkecil, penunjuk jam merubah bentuknya bersamaan dengan bunyi statis yang terdengar nyaring.

Jam digital menunjukkan waktu empat pagi dan sang pemiliki telah membuka matanya dengan sempurna. Tangan pucatnya yang dikeliling urat – urat menonjol meraih jam digital di atas nakasnya, mematikan alaramnya dan meletakkannya kembali di tempat semula.

Ia pernah menghadiri sebuah seminar bertemakan tentang kesehatan yang disponsori oleh prusahaan miliknya. Dan ia membenarkan pendapat mereka yang mengatakan beraktifitas sebelum matahari terbit, sangat bagus untuk paru – paru. Maka jangan heran ketika pria ini telah berlari dengan cukup kencang di atas Treatmil-nya yang terletak di pinggir kolam renang mewah dengan ukiran rumit bertuliskan 'Oh Sehun' di dasar lantainya.

Deru napasnya beradu kencang beriringan dengan langkah kakinya. Kringat yang bercucuran membuktikan seberapa lama ia telah berlari. Namun bukannya berhenti untuk mengambil istirahatnya, ia melanjutkan kegiatan fajarnya dengan berjalan menuju salah satu bench dengan dumbell berbagai macam berat di bawahnya.

Bukan tanpa alasan sosok Oh Sehun masuk dalam jajaran pengusaha paling panas tahun ini dalam salah satu majalah bisnis terkenal seantero Korea Selatan. Garis wajah tegasnya yang selalu terlihat dingin dan serius, mata setajam belati, hidung mancung, bibir tipis dan rahangnya yang runcing membuat siapapun setuju wajahnya bagaikan titisan Dewa Apollo. Tubuh proposional yang tegap, harta melimpah ruah, berkedudukkan tinggi, dan intelegensinya yang tinggi membuat Oh Sehun semakin sempurna. Tak ayal semua itu membuatnya menjadi incaran kaum hawa.

Namun masih dengan berorientasi pada hukum alam, tak ada yang sempurna selain Tuhan, dan begitupun dengan Oh Sehun. Sosok yang telah melewarti umur seperempat abad itu tak pernah didapati menghabiskan waktunya dengan wanita manapun. Orang – orang hanya melihat Oh Sehun melakukan tiga hal penting dalam hidupnya.

Berkerja,

berkerja,

dan berkerja.

Masyarakat sangat menyayangkan, bahu tegap nan bidang itu tak pernah menjadi sandaran siapapun. Mata tajam itu tak pernah memandang siapapun. Bibir tipis itu tak pernah melumat bibir siapapun dan jemari kokoh itu tak pernah mengganggam jari manapun.

Spekulasi – spekulasi aneh terus meruak. Oh Sehun impoten? Oh Sehun yang terlalu dingin dengan pasangannya? Oh Sehun yang tak tau bagaimana mengekspresikan perasaannya? Oh Sehun pria workaholic yang tak berhati? Atau, Oh Sehun seorang gay?

"Good morning master?"

Sehun tak ambil pusing untuk membalikkan tubuhnya ataupun menghentikan ayunan tangannya yang tengah menggenggam sebuah dumbell hitam saat seorang wanita bertubuh indah berlutut di depan selangkangannya.

..

..

..

Luhan melirik sekilas pada sebuah jam yang melingkar pada pergelangan tangannya. Jika dihitung - hitung, ia telah berkerja selama delapan jam ketika ia melihat jarum pendek menunjuk pada angka empat. Masih ada enam jam lagi sebelum hari ini berakhir, dan ia bisa berbaring dengan nyaman pada ranjang tersayangnya yang entah mengapa selalu memiliki nilai gravitasi yang paling tinggi dari apapun.

Setelah satu meja bersih mengkilat, ia melanjutkannya dengan meja yang lain. Bibirnya terus mengulas senyum membanggakan dirinya yang tak pernah melakukan kesalahan apapun hari ini. Atau mungkin saja belum? Namun apapun itu, Luhan akan berusaha sebaik mungkin selama satu minggu ini.

Jujur, hanya dengan berkerja kurang dari satu hari di restoran ini, telah membuat ia nyaman. Ia mengira akan ada senioritas di restoran mewah seperti ini. Namun, yang ia dapati sejak delapan jam yang lalu hanya sapaan ramah, senyuman dan pujian atas kerjanya yang dinilai rapi dan ahli oleh seniornya.

Entahlah, bagi Luhan semuanya tak terlalu sulit dan membingungkan. Ada dua kemungkinan yng berpencar di otaknya. Ia sudah berpengalaman atau karena hari ini restoran lebih ramai di bagian VIP dan ia yang bertugas di bagian restoran untuk umum merasa lebih lenggang. Ini hari senin dan dan para pengusaha banyak melakukan kegiatan bisnis mereka di bagian VIP. Sedahlah, apapun itu ia tak mau ambil pusing. Bukankah itu berarti Dewi Vortuna sedang berpihak padanya?

"Luhan?"

Sebuah suara dari balik tubuhnya membuyarkan pikiran – pikirannya tentang keberuntungannya hari ini. Dan saat ia membalikkan tubuhnya, ia mendapati Kim Jaejong tengah berjalan ke arahnya dengan raut gelisah. Bahkan itu bisa telihat jelas dengan kedua tangannya yang ia mainkan dengan random.

"Ada masalah hyung?"

Jaejong menggeleng dengan sangat cepat, yang malah membuat Luhan merasa bingung. "Lalu?"

"Emmm,,, Kau dipanggi Tuan Kim ke ruangannya." Dan Luhan tak mampu mengontrol wajahnya untuk tetap tenang mendengar ucapan pria bermata rubah di depannya.

"U-untuk?" Nah, bahkan ucapannya menjadi terbata – bata.

"Aku tak tau. Dia hanya memintaku untuk memanggilmu ke ruangannya."

Luhan sebisa mungkin membalasnya dengan anggukkan tenang, "Baiklah hyung. Aku akan ke sana setelah meja ini sele-"

"Jangan!" Jaejong merebut selembar kain di tangan Luhan berserta botol spraynya, "Aku saja yang menyelesaikan ini. Kau segera pergi ke ruangan Tuan Kim saja." Tanpa menunggu reaksi Luhan, pria itu langsung melanjutkan tugasnya membersihkan meja.

Beberapa kali Luhan mengedipkan mata, dirinya terlalu terkejut melihat sikap seniornya yang satu ini. Enggan bertanya lebih lanjut, Luhan segera beranjak pergi setelah berpamitan pada Jaejong.

Ketika Luhan telah menghilang di balik pintu kaca dan berbelok menuju sebuah lorong di sebelah kanan, Jaejong menghentikan kegitannya, menghela napas dengan lega sambil mengelus dadanya yang hampir hancur karena detak jantungnya yang berdenyut menggila. Bahkan ia harus mendudukkan tubuhnya yang terasa melemas.

"Jadi Luhan?"

Brukkk!

Dan Jaejong sampai terjungkal ke belakang saat Baekhyun yang berdiri di belajangnya bertanya dengan suara yang pelan. Baekhyun yakin benar, bagaimana ia bertanya pada Jaejong terbilang sangat normal. Tidak berlebihan atau dapat menimbulkan keterkejutan dari pihak korban. Namun mengapa reaksinya sanagat berlebihan.

"Ya! Mengapa kau mengagetkanku, huh?" Baekhyun menggeleng ribut sambil membantu Jaejong untuk berdiri kembali dengan benar. "Aku tak mengagetkanmu, hyung. Reaksimu saja yang berlebihan. Ada apa denganmu? Oh! Atau jangan – jangan kau yang merekomendasikan Luhan pada Tuan Kim?"

Setelah mengehela napas dengan cukup berat, Jaejong mengangguk lemah. "Aku tak tau lagi harus meminta pada siapa. Melihat bagaimana pekerjaan Luhan hari ini, aku yakin semua akan berjalan lancar."

"Apakah mereka semua menolak?"

"Ya. Kau tau, restoran ini bagai terkena bencana wabah penyakit jika dia akan mengadakan pertemuan bisnisnya di sini. Bukan hanya bagian VIP, tapi semua staf bahkan mulai panik jika dia sudah memesan satu ruang VIP."

"Mau bagaimana lagi hyung, dia investor terbesar di sini. Dia pria kaya dengan selera paling tinggi yang pernah ku lihat. Jadi maklum sajalah. Lagi pula apa yang kau bilang tadi ada benarnya hyung. Luhan benar – benar terlihat sangat lancar bahkan di hari pertamanya berkerja. Ia tak terlihat canggung ataupun lingung. Dan sepertinya dia belum tau soal Oh Sehun."

"Benar. Bukankah Luhan akan terlihat lebih santai jika ia tak tau siapa Oh Sehun itu? Aku yakin ia tak akan melakukan kesalahan apapun jika ia tak terserang gugup."

"Yahhh,,, aku harap juga begitu hyung. Semoga ia tak menolaknya."

..

..

..

Luhan hanya bisa duduk dengan gelisah sembari memikirkan kemungkinan – kemungkinan buruk yang bisa terjadi. Saat ini ia tengah duduk sendiri di ruangan Tuan Kim. Ketika ia baru saja tiba di depan ruangannya, sekertaris Tuan Kim mengatakan bahwa beliau sedang berada di kamar mandi. Dan ia meminta Luhan untuk menunggu Tuan Kim di ruangannya.

Saat pemikiran tentang dirinya yang akan di pecat muncul, pintu terbuka dan menampilkan Tuan Kim yang tengah tersenyum meminta maaf padanya, "Maaf telah membuatmu menunggu Lu." Ucap Tuan Kim ketika ia telah kembali duduk di kursi kebesarannya,

"Ah, tak apa. Aku baru saja tiba di sini."

Tuan Kim mengangguk, "Baiklah. Kau tau aku memanggilmu ke sini karena apa?"

Wajah Luhan berubah pucat mendengar nada suara pria paruh baya di hadapannya ini. "A-apa aku melakukan sebuah kesalah?"

Tuan Lee tersenyum bingung melihat reaksi Luhan yang begitu ketakutan, ada apa? "Tunggu! Apa Jaejong tak memberi tahumu mengapa kau dipanggil ke ruanganku?"

Luhan menggeleng pelan, "Ya Tuhan! Tenanglah Luhan! Aku memanggilmu ke ruanganku bukan karena kesalahan apapun. Aku memanggilmu ke sini karena ada sebuah tugas penting yang aku ingin kau melakukannya. Apa kau mau?"

"Tugas apa itu?"

"Hari Senin ini banyak sekali para pengusaha yang menggunakan ruang VIP untuk keperluan bisnis mereka, dan sialnya kita kekurangan pegawai di sana. Dan intinya aku ingin kau bertugas di ruangan VIP kali ini."

"Apa aku dipindah tugaskan ke bagian VIP?"

"Tidak. Hanya untuk hari ini saja, karena ada satu-dua orang pegawai yang mengambil cuti. "

"Saya akan melakukannya Tuan Kim." Ucap Luhan dengan pasti disertai anggukkannya.

"Apa kau yakin? Tamu yang akan menggunakan ruangan ini adalah tamu yang sangat penting. Ia merupakan investor terbesar di restoran ini. Apa kau tau Oh Sehun? Dialah orangnya."

Dahi Luhan mengkerut bingung. "Emm,,, Sehun yang anda maksud itu apakah yang anggota dewan kepemerintahan atau yang pemain sepak bola?"

"Bukan Luhan." Tuan Kim tak mampu menahan tawanya hingga ia merasa bersalah pada Luhan yang tengah menundukkan kepalanya merasa malu, "Maafkan aku Luhan. Aku tak bermaksud menertawakanmu."

"Tidak apa – apa." Walau mengatakan begitu, reaksinya malah berbanding terbalik ketika ia menggelengkan kepalanya dengan gerakkan lamban.

"Baiklah, mari kita lupakan itu. Oh Sehun yang kita bicarakan di sini adalah seorang pengusaha yang sedang naik daun tiga tahun belakangan ini. Bahkan ia terbilang salah satu pengusaha paling berpengaruh di negara ini. Ia mengembangkan kerajaan bisnisnya dalam berbagai sektor perkonomian, dan itulah yang membuatnya benar – benar berpengaruh."

"Maafkan saya Tuan Kim. Saya terlalu bodoh hingga saya tak tau hal penting seperti ini."

"Tidak, tidak! Ini bukanlah salahmu. Sebelumnya kau adalah seorang pelajar dan aku tau pelajar tak memiliki banyak waktu untuk melihat berita - berita terbaru." Tuan Kim menjeda ucapannya sejenak, dan melanjutkan, "Ia adalah pria eksklusif dengan selera tinggi. Aku berharap kau bisa melakukan tugas ini dengan sangat baik Luhan. Berusahalah untuk memunculkan citra yang baik di hadapannya. Dan jangan sampai melakukan ke salahan apapun. Apa kau sanggup?"

Luhan tak memikirkan banyak hal. Yang ia pikirkan, jika ia mengambil tugas ini, maka ia akan mendapat nilai tambah di mata Tuan Kim jika ia bisa melakukannya dengan benar. Terlebih lagi jika sosok yang disebut Oh Sehun itu menyukai pelayanan yang ia berikan. Bukankah dalam waktu yang lebih singkat lagi ia akan mandapatkan pekerjaan tetapnya. Maka dengan itu ia segera menganggukkan kepalanya dengan cepat dan tegas. "Aku akan berusaha melakukannya dengan baik dan aku berjanji untuk tak melakukan kesalahan apapun."

Tuan Kim tersenyum bangga pada Luhan. "Aku suka dengan semangat mudamu Luhan. Negara ini akan lebih maju lagi jika kita memiliki tunas bangsa sepertimu."

"Anda terlalu berlebihan Tuan Kim."

"Baiklah. Beliau akan datang bersama rekan bisnisnya jam tujuh malam. Dan kau harus sudah mempersiapkan segalanya setengah jam sebelum mereka datang. Dan pastikan dirimu untuk menyambut mereka di depan pintu VIP satu. Jika ada yang kurang kau mengerti, kau bisa tanyakan hal tersebut pada Taeyeon, Ia akan menjadi rekanmu di sana. Itu saja yang ingin aku sampaikan padamu."

"Baiklah Tuan Kim. Jika begitu saya permisi untuk pamit undur diri." Dengan begitu Luhan beranjak dari kursinya, membungkuk sekilas dan berlalu pergi dari ruangan tersebut.

"Syukurlah."

..

..

..

Luhan berdiri sambil menyandarkan tubuhnya pada pintu ruang VIP satu. Jam yang melingkar pada pergelangan tangannya masih menunjukkan pukul enam lewat dua puluh delapan menit. Mungkin dua menit lagi rekan kerjanya akan datang.

Ya,,, bisa dibilang Luhan terlalu mengantispiasi tugasnya kali ini hingga ia datang lebih cepat sepuluh menit. Bukankah lebih baik jika kau datang terlalu cepat dari pada kau datang terlambat? Dan itulah yang selalu Luhan coba terapkan dalam hidupnya. Luhan lebih baik menunggu seseorang daripada membuat seseorang menunggunya.

"Apakah kau Luhan?"

Luhan menegakkan posisi tubuhnya ketika seorang wanita bertubuh pendek berdiri di hadapannya. "Apakah anda yang bernama Taeyeon?"

Wanita itu mengagguk dengan gelagat gugupnya, "Ya, saya Kim Taeyeon."

"Ah! Saya masih baru di sini, mohon bimbingannya."

..

..

..

Luhan meletakkan sepasang sumpit di samping mangkuk bersama sebuah garpu dan sendok dengan perlahan. Ia menghela napas sekali kemudian matanya mempehatikan kerapian meja di hadapannya dengan seksama.

"Kau telah selesai Lu?" Luhan mengalihkan perhatiannya pada Taeyeon yang sedang memasang sarung kursi.

Luhan tak langsung menganggukkan kepalanya, ia kembali memperhatikan meja dengan seksama dan barulah ia menganggukkan kepalanya setelah memsatikan tak ada kesalahan apapun pada tugasnya; mempersiapkan meja.

"Tugas saya sudah selesai noona." Taeyeon membalas Luhan dengan anggukkan pelan dan sebuah senyuman tipis pada bibirnya tanpa mengalihkan pekerjaan dan perhatiannya mengikat pita hitam di bagian belakang sarung kursi.

"Luhan?"

"Ya, noona?" Luhan ingin tersenyum membalas panggilan Taeyeon sebenarnya, tapi ketika melihat raut serius itu, Luhan urung melakukannya.

"Ada yang ingin aku sampaikan padamu. Dan aku harap kau mendengarkanku dengan baik, bisakah?" Luhan hanya membalasnya dengan anggukkan dan berjalan mendekati wanita yang lebih tua darinya itu.

"Yang akan menggunakan ruangan ini adalah Presdir Oh Sehun dan Presdir Kim Young Min. Apakah Tuan Kim sudah memberi taumu siapa itu Oh Sehun." Luhan yang mengangguk dengan enteng malah membuat Taeyeon berkerut bingung. "Benarkah?"

Luhan kembali mengangguk dengan enteng seolah tak ada beban apapun. Satu hal yang mampu Teyeon tangkap, Luhan tak benar – benar tau siapa itu Oh Sehun. "Dai adalah pengusaha muda yang sangat berpengaruh di negara ini. Dan Tuan Kim bilang aku harus benar – benar bersikap sopan padanya karena ia adalah infestor terbesar di restoran ini, benarkan noona?"

"Ah! Ya,,, ya kau benar." Taeyeon yang mengangguk gugup malah membuat Luhan benar – benar bingung, namun apa gunanya ia memikirkannya. "Seperti yang Tuan Kim bilang, kita harus bersikap sangat sopan padanya, jangan sampai melakukan kesalahan apapun Luhan, kau mengerti."

"Ya, aku mengerti noona."

"Baiklah. Kita harus menunggu mereka di depan pintu ruang VIP, kajja!"

Luhan berjalan menuju pintu dengan Taeyeon menuntun di depannya. Luhan berdiri di sisi kanan pintu, sedangkan Taeyeon berdiri di sisi kiri pintu. "Luhan?"

Luhan membalikkan tubuhnya menghadap Taeyeon dengan wajah bertanya, "Kita harus menyambut mereka dengan baik. Saat aku bilang menunduk, maka kau harus menunduk, dan setelah itu kau bukakan pintu untuk mereka ketika mereka telah di depan pintu. Ka-menunduk!"

Luhan benar – benar terkejut dengan perintah Taeyeon yang ia ucapkan dengan suara yang amat sangat pelan. Tanpa memperhatikan apapun, Luhan langsung menundukkan tubuhnya.

- Untuk penghayatan, disarankan mulai memutar lagu Crazy In Love -

Luhan mendengar beberapa suara sols sepatu yang beradu dengan karpet merah. Dan di sana, ia melihat beberapa pasang sepatu pentofel hitam yang mana pemiliknya sedang melangkah mendekati mereka. Mungkin ada empat pasang.

Semakin dekat, entah mengapa Luhan merasa jantungnya berdebar dua kali lebih cepat dari biasanya.

Ia kira semua akan terasa biasa saja. Awalnya pun Luhan merasa tak secemas ini dan ia tentu saja tak memiliki rasa gugup yang berarti untuk ini. Namun ketika mendengar ketukkan itu semakin dekat, jantungnya benar – benar tak terkendali.

Ketika mereka telah berdiri di depan pintu, Luhan langsung menegakkan tubuhnya dan membuka pintu ruang VIP dengan gestur bak pelayan kerajaan. Presdir Kim yang berada di depan, memasukki ruangan terlebih dahulu meninggalkan seseorang yang berdiri diam di depan Luhan. Namun, sepatu pentofel hitam yang sedari tadi ia perhatikan itu tak kunjung bergerak untuk melangkah ke dalam. Apakah ada kesalahan yang ia lakukan?

Luhan mendongakkan kepalanya, dan sepasang mata yang begitu tajam tengah menatapnya dengan sangat dalam. Tubuhnya membeku. Bahkan tanpa ia sadari, ia tengah menahan napasnya saat ini.

Seluruh tubuhnya terasa dialiri sengatan listrik berkekuatan tinggi saat mata rusanya menatap dalam pada sepasang manik hitam yang begitu dalam, seolah – olah menarik Luhan untuk tenggelam pada pesonanya yang begitu memabukkan.

Tatapan itu begitu memabukkan, bagai menyesap segelas wine yang diiringi musik – musik penuh nuansa erotisme yang begitu kental. Hanya dengan tatapan itu, Luhan merasa seluruh tubuhnya begitu panas, seolah ada sepasang tangan tak kasat mata yang tengah meraba titik sensitif pada tubuhnya dengan gerakan – gerakkan yang begitu menggoda.

"Pssst!" Luhan seolah ditarik dari alam bawah sadarnya ketika matanya bertatapan dengan Taeyeon yang tengah menatapnya dengan lirikkan penuh bahaya.

Dan ia sadar ia telah melakukan kesalahan besar.

Luhan menundukkan kepalanya, "Silahkan." Dan mempersilahkan pria tersebut untuk masuk disertai dengan gestur tubuhnya.

Pria tersebut masih terus menatap Luhan dengan ekspresi tak terbaca, dan tentu saja hal tersebut membuat Luhan semakin ketakutan. Untunglah beberapa detik kemudian pria tersebut mengalihkan tatapannya dari Luhan dan langsung melangkahkan tubuhnya untuk masuk.

"Tamatlah riwayatmu Luhan." Dan ucapan Taeyeon sebelum melangkah masuk ke dalam ruangan VIP, malah membuat wajah Luhan menjadi pucat pasi.

..

..

..

To Be Continue

Diantara semua fanfic yang pernah Zhi post di akun ini, baru fanfic ini yang memiliki antusias pembaca yang paling tinggi, bahkan baru di chapter pertama.

Dan jujur, itu malah buat Zhi jadi takut. Melihat dari keseluruhna review, sepertinya ekspektasi kalian terhadap fanfic ini sangat tinggi. Itulah yang buat Zhi harus terus – terusan ngerombak chapter ini sampai tiga file.

Zhi nyerah, Cuma sampai sini aja Zhi bias buatnya. Kalau mengecewakan, Zhi minta maaf. Karena inilah alur yang udah Zhi buat.

Mau review, follow dan favorite, Zhi ucapin terima kasih banyak

Hanya sekedar siders saja, juga terima kasih. Semoga fanfic buatan Zhi biasa menghibur kalian.

..

..

..


Next : Only You Who I Have