Disclaimer : Vocaloid dan Voicebanknya punya YAMAHA~~~~

Rated : T (Untuk kekerasan).

Genre : Drama, adventure, romance (a little), hurt/comfort, action.

Main Character : Shion Family (Nigaito, Kaito, Kikaito, Akaito, Taito, Kageito, & Zeito) & Aoki Lapis.

Warning : GaJe, 7 Shions, abal, typo(s), kurang berasa, normal POV only, dll.


Author's Territorial


All : Haloo, minna-san~!

Kaito (OC) : Aku kembali di FF '7 Katana'!

Kaito (Voca) : Oi, ff lainnya belom dilanjutin 'tuh. –"

Kaito (OC) : Tenang aja, Kaito-san. Worry not~

Kaito (Voca) : Dasar kau ini, Kaito… -"

All-Koyuki&2Kaito : Bisakah kalian berhenti memanggil dengan nama kalian? –"

Koyuki : *giggling* Hampir lupa! Supaya nggak ada yang bingung dengan umurnya para Shion, ini dia daftarnya~

Shion Kaito, 21, Shion Akaito, 25, Shion Taito, 21, Shion Zeito & Kageito, 20, Shion Kikaito, 17, & Shion Nigaito, 15.

Kaito (OC) : Kay, silahkan baca kelanjutannya, minna-san-tachi. Seperti biasa~ Don't Like? Don't Read~


Chapter 2 : Shinobi to Samurai.


Kedelapan orang itu tengah membicarakan sesuatu di rumah sang Kepala Desa Tsukishiro, Sakime Meito. Pria berumur 54 tahun itu sedang menjelaskan permasalahannya secara detail pada ketujuh samurai itu. Ketujuh samurai itu sudah mengerti betul apa yang dialami warga desa itu. Mereka semua pun akan istirahat di rumah sang Kepala Desa. Namun, malam ini mereka akan berjalan-jalan di sekitar desa. Bermaksud untuk mengenal seluk beluk desa itu.

Pemuda beriris sewarna darah itu berjalan diiringi oleh adiknya. Wajah mereka berdua begitu mirip, sehingga susah dibedakan. Namun, pakaian sang kakak, Shion Zeito, berwarna hitam. Sedangkan sang adik, Kageito, berwarna putih bersih. Katana tampak bertengger anggun di pinggul kiri mereka.

Mereka berkeliling desa itu, dan mereka menyadari sesuatu. Desa itu tampak berantakan. Kurang lebih hampir setengah lading dan sawah hancur. Pantas saja, harga beras di pasaran naik. Zeito menghela nafas pelan. Pemuda berambut hitam itu menatap miris semua yang ada di hadapannya.

"Menyedihkan… Desa ini bernasip sama dengan desa kita… Kageito…" ujarnya dengan nada datar.

Ya. Sama. Desa kedua kakak-beradik itu memang sudah musnah. Dihancurkan oleh pemerintah. Kageito menatap kakaknya nanar. Kemudian ia mengangguk pelan sebagai jawaban. Mereka berdua menatap hamparan sawah yang setengah rusak itu. Tiba-tiba, Zeito terbatuk-batuk. Digunakannya tangan kanannya untuk menutup mulutnya. Pandangannya buram. Dadanya nyeri. Melihat hal itu, sang adik langsung mengecek keadaan saudara kembarnya itu.

"Nii-san? Kau tidak apa-apa?" tanya Kageito dengan khawatir pada satu-satunya keluarganya.

Pemuda berusia 20 tahun itu menggeleng pelan. Mencoba meyakinkan adiknya bahwa kondisiny baik-baik saja. Namun, sepertinya adiknya masih merasa khawatir. Ia pun mendudukan kakaknya pada sebuah kursi panjang yang terbuat dari kayu. Zeito menarik nafas dalam, kemudian ia hembuskan lagi. Begitu terus hingga ia merasa sedikit lebih baik.

"Nii-san, sebaiknya kau istirahat saja besok. Kondisimu kurang baik…" ujar pemuda dengan topeng di bagian kanan kepalanya itu.

Zeito mendecih kesal. Dia tidak suka hanya diam saja. Dia lebih suka melawan banyak orang dibandingkan duduk diam selama sehari. Namun, ia hapal betul kalau adiknya akan sangat berisik jika ia menolak. Pada akhirnya, ia hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.

"Sebaiknya, kita kembali sekarang, nii-san," Zeito hanya mengangguk paham.


Dua pemuda dengan warna rambut merah dan kuning itu sedang berada di dekat sungai yang mengalir di sudut desa itu. Malam sudah larut, namun mereka masih berjalan dengan santai di sekitar sungai itu. Agaknya, mereka mencoba memastikan, apakah ada jebakan atau sesuatu yang lain dipasang di sekitar sungai itu.

"Akaito-san, mungkin kita bisa kembali sekarang. Tidak ada yang aneh di sekitar sini," ucap pemuda kuning itu pada pria merah yang dipanggil 'Akaito' tadi.

Akaito mengangguk pelan, "Baiklah, ayo kembali, Kikaito," ucapnya pada remaja yang lebih muda darinya itu.

Keduanya berjalan beriringan menuju rumah kepala desa, tempat di mana mereka akan tinggal beberapa waktu kedepan. Di sana, di sebuah bangku yang tampak lapuk dimakan usia. Seorang laki-laki dengan kain berwarna putih melilit sebagian kepalanya, menutup mata bagian kanannya. Rambut ungu kehitamannya berkibar ditiup angin dingin. Wajahnya datar. Sama sekali tak menunjukan ekspresi apapun.

Pemuda berusia 21 tahun itu tampak sedang melipat kedua tangannya di depan dada. Katana berwarna ungu itu tampak bergantung dengan angkuhnya di pinggul bagian kiri pemuda itu. Dia adalah salah satu samurai. Lebih tepatnya, salah satu dari Shion.

"Taito-san? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Kikaito sambil memiringkan kepalanya.

Taito menoleh ke arah pemuda merah dan kuning itu. Iris ungu gelapnya masih menatap dengan datar. Tak jauh berbeda dengan wajah tampannya yang tanpa ekspresi.

"TIdak ada…" jawabnya singkat.

Kedua temannya itu hanya mengangguk mengerti. Ya, mereka sudah sangat hafal dengan tabiat samurai pendiam itu. Sikap pemuda satu ini tak jauh beda dengan ketua mereka, Kaito. Mereka berdua benar-benar sangat dingin pada siapa saja. Namun, jangan remehkan kekuatan laki-laki itu. Teknik katananya sangat kuat. Ia bisa menghabisi lebih dari 100 orang sendirian jika ia serius. Sayangnya, ia jarang sekali serius. Bahkan, pertarungan siang tadi dilakukannya dengan santai. Pertarungan itu, tak lebih seperti pemanasan untuknya.


Kaito masih berdiam dengan tenang. Di sini, di rumah sang kepala desa, Sakime Meito. Dia sedang mencoba untuk menyusun rencana, apabila 'mereka' datang untuk menyerang desa ini. Walaupun tanpa rencana kemungkinan mereka untuk menang memang besar, namun apa salahnya membuat persiapan? Setidaknya, itulah yang dipikirkan oleh pemimpin sekaligus pendiri 'Shion' itu.

Shion, nama kelompok samurai yang didirikan olehnya dan Akaito. Awalnya hanya ada dua orang, kemudian terus bertambah. Hingga akhirnya, tepatnya setahun yang lalu, anggota kelompok mereka menjadi tujuh. Ditambah lagi, senjata mereka. Ya, mereka bertujuh masing-masing memiliki katana legenda. Tujuh katana naga. Kaito memiliki 'Tsuki Ryuu' sang 'Naga Bulan'. Kemudian Akaito dengan 'Naga Matahari'nya, 'Taiyou Ryuu'. Disusul anggota ketiga mereka, Taito. Dengan 'Naga Bermata Satu' yang cocok dengan keadaannya, 'Dokugan Ryuu'. Kemudian anggota keempat dan kelima mereka, Zeito dan Kageito, 'Yami Ryuu' dan 'Kage Ryuu'. 'Naga Kegelapan' dan 'Bayangan'. Jangan lupa dengan Kikaito yang memegang 'Naga Cahaya', 'Hikari Ryuu'. Dilengkapi oleh anggota terakhir sekaligus termuda diantara mereka, Nigaito. Dengan 'Naga Hijau' yang selalu setia di punggungnya, 'Midori Ryuu'.

Terima kasih atas itu, mereka menjadi sebuah kelompok dengan 7 katana naga. Disamping itu, mereka semua memang berbakat untuk menjadi samurai. Jadi, walaupun tanpa katana naga, mereka tetap sulit untuk dikalahkan. Kaito sendiri memiliki dua buah katana. Yang satu adalah katana naga miliknya, dan yang satunya adalah katana pemberian mendiang gurunya. Katana pemberian gurunya ini tidak kalah bagus dengan katana naga. Katana itu cukup keras, tajam, dan kuat. Jadi, Kaito bisa memainkan dua katana itu sekaligus. Julukan 'Cakar Naga' memang pantas disandang olehnya.

Pemuda beriris biru laut itu memijit keningnya pelan. Memikirkan sebuah rencana cukup membuat lelah juga ternyata. Ia pun memutuskan untuk beristirahat malam itu.


Pria berambut putih itu menatap sinis pada pria yang sedang menghadapnya. Kalau diperhatikan, pria itu adalah pria yang memimpin penyerangan ke Desa Tsukishiro siang tadi. Dan pria di hadapannya adalah pemimpinnya. Agaknya, ia sedang melaporkan kejadian siang tadi kepada pimpinannya itu. Dan sepertinya, pimpinan itu marah atas kekalahan anak buahnya tersebut.

"Bagaimana mungkin kalian dikalahkan oleh 7 orang? Kalian ini kelewat lemah!" ujarnya sambil menatap anak buahnya dengan jengkel.

Samurai itu hanya menunduk dalam, "Maafkan hamba, yang mulia. Namun, hamba tak bisa berbuat apa-apa. Karena, yang pasukan hamba lawan itu adalah 'Shion'. Mereka dengan mudahnya membunuh seluruh pasukan hamba," ujarnya pada orang yang dipanggil 'Yang Mulia'.

Pria beiris putih keabu-abuan itu menghela nafas pelan. Mencoba untuk meredam emosinya yang mungkin dapat meledak. Ia kembali memandang anak buahnya itu.

"Lalu, kenapa kau tidak mati?" tanya pria bersurai putih keabu-abuan itu.

Sang samurai itu kembali membuka suara, "Hamba dikalahkan oleh salah seorang dari Shion. Namun, ia sama sekali tidak menarik katananya dari sarungnya, jadi hamba hanya memar."

Pria itu kembali menaikkan alisnya, "Siapa dia? Kenapa dia tidak menarik katananya?"

Samurai itu kembali berujar dengan sopan di hadapan tuannya itu, "Hamba tidak tahu nama, dan kenapa ia tidak membunuh hamba. Namun, ciri-cirinya, ia terlihat seperti remaja berusia 15 atau 16 tahun. Dia memiliki katana berwarna hijau dengan ukiran naga pada sarungnya. Dia memiliki warna rambut hijau tua, dan juga mata berwarna emerald terkutuk itu, yang mulia."

Pria itu langsung menaruh telunjuknya yang ditekuk di depan dagu. Hanya satu orang dengan ciri-ciri seperti itu yang muncul di benaknya. Ya… seseorang yang sangat tidak ia terima keberadaannya di muka bumi ini. Seseorang yang memiliki darah dan daging yang sama dengannya. Seseorang yang memanggilnya dengan sebutan… 'Otou-sama'. Ya… putranya sendiri.

Pria itu memanggil salah satu pria yang sedang berdiri di sampingnya. Pria dengan warna rambut merah itu mendekat. Ia membungkuk dengan sopan saat sampai di hadapan tuannya itu. Iris merahnya menatap sang majikan, seakan bertanya maksud memanggilnya.

"Ted, aku ingin kau membunuh salah satu Shion sialan itu. Dia adalah orang dengan ciri-ciri seperti yang dicerikatan Al tadi," titahnya pada pria dengan rambut panjang yang diikat ekor kuda itu.

Pria dengan pakaian shinobi itu mengangguk hormat, sebelum pergi menuju tempat di mana para samurai itu berada. Desa Tsukishiro. Pria beriris putih keabu-abuan itu kembali menatap pria bersurai coklat tua yang ia panggil 'Al', tadi.

"Al, aku ingin kau kembali menyerang desa itu seminggu setelah hari ini. Kau boleh pergi," kembali, sang penguasa bertitah, dan titah itu mutlak bagi semua anak buahnya.

Al menunduk homat sebelum meninggalkan singgasana tuannya. Membiarkan pria itu berdua dengan istrinya di singgasana itu. Pria beriris putih itu kembali memijit keningnya pelan. Entah kenapa, setelah mendengar cerita tadi, emosinya terpancing. Sang wanita berambut putih yang berada di sampingnya menatap pria itu dengan khawatir.

"Suamiku, kenapa kau mengirim salah satu shinobi terbaik kita?" tanya wanita beriris ungu muda itu.

Pria itu menatap istrinya, "Kau ingat kejadian 1 tahun lalu?" wanita itu menggangguk. Ya, tentu saja ia ia ingat kejadian itu. Kejadian di mana rumahnya 'terbakar'. Dan anaknya terjebak di dalam rumah itu.

"Jangan-jangan… Kau mengira 'anak itu' masih hidup?" tanya sang istri pada suaminya.

Sang suami mengangguk pelan, "Jika ia masih hidup, aku akan membunuhnya lagi. Aku akan menyingkirkan 'anak terkutuk' itu!"


Aoki tampak masih menatap sebuah hutan di bukit yang cukup besar itu. Entah kenapa, malam ini ia ingin pergi ke sana. Entahlah, yang pasti ada keinginan besar untuk pergi ke tempat itu. Zatsune yang kebetulan lewat, mendekat ke tempat Aoki menatap bukit itu. Aoki yang menyadari keberadaan kakaknya itu langsung membuka suara.

"Onee-chan, apa onee-chan tidak apa-apa? Apa ada yang sakit?" tanya gadis berusia 15 tahun itu pada kakaknya.

Gadis beriris sewarna darah itu menggeleng pelan. Pertanda ia tidak apa-apa. Walaupun ia baru saja sadar dari pingsannya, dan perutnya terasa agak sakit, namun ia tidak apa-apa.

"Aku tidak apa-apa. Ngomong-ngomong… kata Piko para samurai bayaran itu sudah menyelamatkan desa kita tadi 'ya?" tanya Zatsune pada adiknya karena tadi ia tak sadarkan diri saat para samurai itu tiba.

"Hmm… mereka kuat sekali, onee-chan. Mereka bertujuh, sedangkan lawannya puluhan," ucap, atau lebih tepatnya, jelas Aoki pada kakaknya tersebut.

"Eh, onee-chan, aku pergi ke bukit dulu 'ya?" izin Aoki pada kakaknya. Zatsune mengangguk sebagai jawaban.

Gadis beriris sewarna langit itu langsung melangkahkan kaki kecilnya di antara rumah-rumah sederhana yang berdiri di desa itu. Di antara desa dan bukit itu, ada sebuah sungai. Jadi, Aoki harus melewati jembatan kayu yang berdiri dengan kokoh di antara desa dan bukit itu. Ketukan kayu menemani di setiap langkah ketika melewati jembatan berwarna coklat pucat itu. Aliran sungai, suara katak, dan jangkrik turut menemani tiap langkah gadis dengan rambut biru muda itu.

Malam ini, awan sama sekali tidak tampak. Sehingga jika kita menatap langit, kita dapat melihat bintang dan bulan yang bercengkrama dengan jelas. Walaupun bulan selalu terlihat jelas dari desa kecil itu. Tak butuh waktu yang terlalu lama. Gadis itu sudah sampai di depan bukit. Bukit itu ditumbuhi oleh pepohonan yang lebat, lebih mirip seperti hutan.

Begitu gadis itu memasuki hutan itu, angin dingin langsung menyapanya. Rambutnya yang diikat dua rendah tertiup angin. Namun, gadis itu justru menikmatinya. Entahlah, mungkin karena suasana seperti itu sudah sangat sulit untuk didapat. Siapa tahu, nanti atau besok, desa itu sudah menjadi lautan api.

Aoki terus berjalan masuk ke dalam hutan itu. Di hutan itu ada sebuah jurang yang cukup dalam. Jika terjatuh, nyawa bisa melayang. Namun, justru tempat itu yang Aoki tuju. Ia merasa nyaman di dekat situ. Bukan di jurang, namun di sebuah danau kecil di dekatnya. Saat malam, pemandangan di danau itu bisa sangat indah. Kenapa? Kalian akan tahu nanti.

'Crasss!'

Secara tiba-tiba, indra pendengaran gadis itu mendengar suara 'sesuatu' yang terbelah. Disusul oleh suara angin yang terdengar seperti tebasan benda tajam. Sedikit takut memang, namun rasa penasaran lebih besar. Ia pun mengikuti arah suara itu berasal. Semakin dalam ia masuk ke dalam hutan, semakin larut juga malam itu. Tak terasa, ia sudah sampai di tempat di mana suara itu terdengar jelas.

Di sana, di antara pohon-pohon rimbun, tampak seorang pemuda sebayanya sedang menggenggam sebuah katana berwarna hijau. Sesekali, ia mengayunkan katana itu. Ya, dia, salah satu dari Shion. Pemuda berambut hijau itu terlihat sangat serius ketika mengayunkan senjatanya itu. Benar-benar berbeda dengan saat bertemu secara tak sengaja di kota.

Pemuda beriris emerald itu menghentikan aktifitasnya, "Siapa di sana!?" ujarnya tiba-tiba.

Kontan saja, gadis mungil itu terkejut karena tiba-tiba pemuda itu menaikan suaranya. Nigaito langsung membalikkan tubuhnya, mendapati seorang gadis seusianya sedang melihatnya dari pohon. Dia mendekati gadis itu. Entah kenapa, Aoki merasa takut. Apakah ia akan dibunuh karena mengintip? Atau dia akan disiksa? Atau lebih buruk dari itu?

Saat pemuda itu sudah berada tepat di hadapannya, Aoki pun menemukan jawabannya, "Ano, sedang apa malam-malam di sini? Seorang gadis tidak baik malam-malam sendirian di sini," ucapnya dengan nada lembutnya.

Aoki mengerjapkan matanya. "A-aku hanya berjalan-jalan saja, tuan…"

"Nigaito. Panggil saja begitu," ujarnya sambil tersenyum kecil.

Baiklah… ini sedikit aneh… Pemuda di hadapannya ini memang aneh… Biasanya, samurai berbicara dengan nada kasar, memerintah, atau apalah. Namun, gaya bicara pemuda di hadapannya ini berbeda. Ia berbicara dengan sopan, dan nada yang ramah. Lebih terlihat seperti, orang yang terdidik daripada samurai.

"Ano, Anda tidak apa-apa? Kenapa melamun?" Aoki langsung terbelalak begitu menyadari kalau dirinya melamun.

"I-iie, nandemonai! Apa Anda sedang berlatih, Nigaito-sama?" tanya Aoki pada pemuda di hadapannya itu. Kenapa ia memanggilnya seperti itu? Maksudnya ia hanya menghormati orang yang melindungi desanya.

Nigaito mengangguk pelan. "Hai'. Sekalian mencari udara segar," ujarnya masih tersenyum. "Ah, maaf, saya belum tahu nama Anda?" tanyanya dengan sopan.

"E-eh? A-Aoki… saya tidak punya marga," ujarnya jujur.

Kali ini, Nigaito terkekeh kecil. Aoki hanya melihatnya dengan tatapan bingung. "Tidak perlu terlalu formal pada saya 'kok," ucapnya santai.

"Ha-hai'…"

Keheningan terjadi di antara mereka berdua. Setidaknya sampai Nigaito kembali membuka suara, "Ano, Aoki-dono, tujuan Anda?"

Aoki langsung teringat tujuannya datang ke tempat itu. Ya, ia bermaksud untuk mengunjungi danau di bukit itu. "Oh! Aku lupa! Danau!"

"Danau?"

Aoki mengangguk pelan, "Di dekat sini, ada danau yang sangat indah kalau malam. Karena banyak kunang-kunang berterbangan di sekitarnya. Apa Nigaito-sama ingin ikut?" ujar gadis pemilik iris biru itu.

Remaja dengan rambut hijau itu berpikir sebentar, sebelum memasukan katananya ke punggungnya, lalu mengangguk singkat. Mereka berdua pun berjalan dengan Aoki di depan menuju danau itu. Entah kenapa, Nigaito merasa ada yang mengikuti mereka. Karena itu, ia berjalan dengan posisi siaga. Tak sampai beberapa menit, mereka sudah sampai di danau. Benar saja. Danau itu dipenuhi oleh kunang-kunang.

Serangga itu tampak bersinar di malam gelap itu. Cahaya bulan, bintang, dan kunang-kunang terpantulkan oleh air danau yang bersih. Tampak beberapa ikan berenang di dalam danau kecil itu. Sungguh pemandangan yang menenangkan. Nigaito melihatnya dengan kagum. Aoki hanya tersenyum bangga. Namun, ia kembali melihat hal aneh. Yaitu posisi katana Nigaito. Saat Nigaito membelakanginya, ia baru menyadari kalau posisi katanya berbeda dengan orang kebanyakan. Biasanya posisinya ke kanan seperti '/' ini. Namun, milik Nigaito justru di kiri seperti '\' ini.

"Ada apa, Aoki-dono?" tanya Nigaito pada gadis itu.

Aoki terperanjat kaget. Ia hanya menggeleng pelan sebagai jawaban. Kemudian ia mendengar suara Nigaito yang terdengar lebih keras dari biasanya.

"Sembunyi!" Nigaito langsung mendorong gadis itu menuju pohon di dekat situ. Tak lama, beberapa shuriken tampak menancap di tanah.

Aoki langsung merasa terkejut, Nigaito langsung memasang kuda-kudanya. Tak lama, shuriken kembali meluncur ke arah mereka berdua. Nigaito langsung menarik katananya. Digunakannya senjata berwarna hijau itu untuk menangkis serangan tiba-tiba itu. Ia langsung berlari menjauh dari Aoki, karena dia tahu kalau 'pelaku' penyerangan itu mengincarnya.

"Siapa kau?" tanya Nigaito langsung. Ia tahu kalau orang itu bersembunyi di antara pepohonan.

'Trang!'

Secara tiba-tiba, seorang pria dengan rambut merah langsung menyerang pemuda itu dari belakang, namun berhasil di tahan dengan Midori Ryuu. Shinobi itu menatap pemuda itu dengan sinis. Nigaito masih memasang kuda-kudanya.

"Siapa kau?" tanya Nigaito sekali lagi.

Pria di hadapannya hanya diam. Ia kembali melemparkan beberapa shuriken ke arah pemuda hijau itu. Nigaito berhasil menghindari semua serangan itu. Dengan cepat, pria itu langsung mengambil kunainya. Suara besi beradu bisa terdengar dengan jelas sekarang. Shinobi itu kembali melembar beberapa shuriken. Nigaito mencoba menghindar, namun lengan kanannya tergores oleh benda tajam itu.

"Akan kujawab pertanyaanmu. Aku Ted, shinobi yang diperintahkan Hakune-sama untuk membunuhmu!"

Tubuh Nigaito tengang secara tiba-tiba. Nama itu… Nama yang selalu diingat olehnya… Nama yang pernah ia sandang. Ia tahu betul, bahwa yang memerintahkan shinobi ini adalah… ayahnya.

Pria beriris merah itu langsung melemparkan beberapa bom asap ke arah Nigaito. Bom itu meledak, menyisakan asap tebal di sekeliling Nigaito. Membuat pemuda itu terbatuk-batuk. Aoki hanya bisa mengintip dari balik pohon dengan cemas dan takut.

Nigaito menggenggam lebih erat katanya. Ia meninggkatkan kewaspadaannya. Kembali, katana beradu dengan dua kunai. Shinobi itu melempar dua kunai tersebut ke arah Nigaito. Pemuda hijau itu langsung menangkis kedua kunai itu dengan katanannya. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Ted langsung mengambil 6 buah kunai. Ia menjepitkan keenam kunai itu di antara jari-jarinya. Kemudian, ia langsung menyerang seperti menggunakan cakar. Nigaito yang belum siap, berhasil menahan serangan dari tangan kanan, namun ia terkena serangan dari tangan kiri tepat di bahu kirinya. Darah menetes dari bagian terluka itu.

"Kau… Oh… Rupanya kau 'anak terkutuk' itu 'ya."

Nigaito langsung membulatkan matanya. "Hakune-sama pernah hampir membunuhmu, tapi gagal. Karena itu… aku akan membunuhmu!"

Shinobi itu kembali melempar bom asap ke arah Nigaito. Pemuda itu langsung menghindari asap itu. Naas, punggungnya tergores oleh sebuah shuriken.

"Aku dengar… Kau putra dari Hakune-sama," ujar Ted sembari mengambil sebuah pisau. "Hee… Sepertinya kau benar-benar tak diinginkan 'ya?"

Nigaito menundukan kepalanya, membuat ekspresinya sulit ditebak. "Mati saja kau!" Ted langsung melesat dengan cepat ke arah pemuda hijau itu

Nigaito pun melakukan 'hal' yang jarang sekali ia lakukan. Ia langsung menarik katananya dari sarungnya, kemudian melemparnya entah ke mana. Dengan cepat ia langsung menebas pria beriris merah itu. Sukses, bahu kanannya terkena tebasan katana naga itu.

Ted menatap Nigaito kesal. Kondisi pemuda itu agak aneh… berbeda dengan sebelumnya. Tatapannya lebih tajam dari sebelumnya. Katana di tangan kirinya digenggam dengan erat. Kemudian, ia kembali mengayunkan katana hijau itu ke arah Ted. Pria merah itu menahan dengan pisaunya. Entah karena pisaunya lemah, atau Nigaito yang menebas dengan kekuatan besar. Pisau itu patah menjadi dua.

Tak menyia-nyiakan kesempatan, Nigaito langsung menebas lengan kiri Ted. Pria itu menjerit kesakitan, namun Nigaito tak menghiraukannya. Ia langsung menghujamkan katananya tepat ke perut Ted. Jeritan kesakitan mewarnai malam dingin itu. Darah merah mengenai pakaian dan wajah pemuda itu. Dengan kasar, ia langsung menarik katanannya, diiringi oleh nafas yang berderu. Tubuh penuh luka itu pun terjatuh ke dalam danau. Air yang semula berwarna biru berganti dengan merah. Aoki hanya menatap itu semua dengan ngeri dan kagum.

Nigaito hanya bisa terengah-engah dengan keringat mengucur dari wajahnya. Tatapannya berubah seperti semula. Ia pun menatap tubuh yang sudah tak bernyawa dimakan air itu dengan miris.

"Maaf…"


~Besambung~


Author's Territorial


Kaito (OC) : Selesai~

Nigaito : Aku kejam banget 'ya? –"

Koyuki : *pingsan ngeliat darah*

Ted : Aku langsung mati…

Kaito (OC) : Udah! Nggak usah protes! Balas review!


vermiehans :

Kaito (OC) : Makasih atas pujiannya~

7 Shion&Aoki : ?

Kaito (OC) : Siapa 'ya~? Kaito mungkin~ Atau Akaito~ Taito~ Nigaito~ Atau… *stop*

Koyuki : Terima kasih reviewnya~ :)


Kaito (OC) : Huft… Sekarang tinggal tidur.

Taito : Kerjanya tidur terus… -"

Kaito (OC) : My line! Anyway, R&R?


R&R?