Sometimes Someone

by Megumi Kei

Author Notes:

Menjawab permintaan Zanpaku Nee, kebetulan banget dalam cerita ini memang ada hint-hint seperti itu walau tidak begitu kuat. Tapi, kalau menginginkan hint 'Everyone wants Ichigo' yang lebih kerasa lagi, saya memang bermaksud membuat yang setipe ini untuk fanfic saya selanjutnya :) Dan tentu saja, bakalan full of LUST *smirk* Yaahh... Saatnya kita sedikit berkhayal mengenai fantasi porno yang kita inginkan ;) *ditampar*

Disclaimer:

I don't own Bleach, it's Kubo Tite...

Words Count:

1.802 —tidak termasuk a/n.


Third Phase


Oktober, lagi-lagi ia dapati ayahnya menerjang ke arahnya ketika ia baru saja pulang kuliah.

Sudah merupakan rutinitas dan hal yang biasa baginya, sehingga ia tidak kesulitan untuk menghindar di detik-detik terakhir sebelum telapak kaki—yang ia yakini belum dicuci setelah dipakai berjalan seharian itu—mengenai wajahnya. Helaan nafas panjang ia keluarkan saat mendengar suara benturan dan beberapa benda terbuat dari kaleng saling bertabrakan. Sudah jelas, pak tua berjanggut kambing itu lagi-lagi menabrak tong sampah yang terletak tidak jauh dari pagar.

Padahal ia yakin, tidak jarang di dalam tumpukan sampah itu ada barang pecah belah, namun entah mengapa Isshin masih terus saja hidup dan berlari menuju poster sang ibu yang diletakkan dalam ukuran ekstra besar di ruang keluarga sambil merengek-rengek, mengatakan kalau anaknya sudah tidak lagi peduli pada dirinya.

"Aku pulang,"

Dengan santai Ichigo berjalan menuju dapur dan tersenyum saat disambut oleh Yuzu—ia cueki suara berdebam yang terdengar dibelakangnya dan bentakkan yang berasal dari suara seorang anak perempuan lainnya. Bisa ia bayangkan telapak kaki Karin saat ini sedang menekan-nekan wajah sang ayah ke dinding. "Apa makan malam untuk hari ini, Yuzu?" Tentu saja, ia tidak akan protes atas kelakuan tidak sopan adiknya itu, karena bagaimana pun juga, Kurosaki Isshin pantas mendapatkannya sebelum suara stereonya membuat tetangga melemparkan sepatu ke rumah mereka.

"Temaki Zushi!" Yuzu menjawab dengan penuh antusias walaupun kedua matanya tetap terfokus pada potongan timun dihadapannya, "Aku ingin mencoba membuat sushi rumahan yang mudah dibuat namun tetap enak."

Ichigo hanya mengangguk dan menggumamkan rasa setujunya. Ia bergerak mengambil gelas dan bermaksud untuk membuat kopi hangat demi menghangatkan tubuhnya yang dingin gara-gara berada di luar rumah dalam waktu yang lama. Tapi, perkataan Yuzu membuat gerakannya sempat terhenti, "Tadi Rukia-neesan datang, tapi langsung pulang ketika tahu nii-san tidak ada di rumah." Tanpa dirinya sendiri sadari, Ichigo menelan ludah, "Ichi-nii, memangnya tadi kau kemana? Padahal kupikir selama ini Ichi-nii sering pulang terlambat karena bersama Rukia-nee atau Renji-nii."

"... Ah... Aku bertemu dengan teman kuliahku yang lain..."

Ia bohong, namun tampaknya Yuzu menyangka bahwa ia mengatakan hal yang sesungguhnya.

Bagaimana pun juga, tidak mungkin ia mengatakan yang sesungguhnya. Kalau sudah beberapa lama ini ia selalu berada di kafe Las Noches setiap kali pulang kuliah, atau menunggu kelas. Bukan hanya untuk menikmati menu kegemaraannya lagi, tetapi juga karena seseorang yang sudah beberapa minggu terakhir ini tidak pernah bisa hilang dari pikirannya dan selalu ingin ia lihat.

XXX

"Ichigo!"

Menghentikan langkahnya, Ichigo kemudian menoleh kebelakang, mencari-cari sosok yang memanggilnya ditengah keramaian. Kedua alisnya yang memang selalu diset untuk mengkerut, kini menjadi semakin mengkerut lagi ketika melihat sosok seorang gadis bertubuh mungil berlari ke arahnya. Rambutnya yang berwarna hitam bergerak mengikuti setiap langkahnya.

Ia mendecak.

Padahal ia sudah berusaha menghindar dari Rukia selama beberapa hari ini.

Bukan karena ia dan gadis itu tengah bertengkar, tetapi karena beberapa waktu belakangan ini Rukia sering kali mempertanyakan alasan dirinya sering menghabiskan waktu di Las Noches dan tidak mau menerima alasan yang ia utarakan begitu saja. "Hari ini aku hendak ke Soul Society, apa kau ma—" Wajah Rukia yang nampak cerah ketika tengah bertanya hal itu mulai menunjukkan kerutan di dahi karena Ichigo dengan cepat memotong kata-katanya.

"Maaf, Rukia. Tapi hari ini aku sudah ada janji."

Kali ini Ichigo tidak berbohong. Walau memang ia pergi ke Las Noches lagi, tapi kali ini kedatangannya memang karena ia sudah berjanji pada Kaien kalau ia akan datang. Dan pria itu pun bilang, ia sudah menyiapkan menu khusus untuk dirinya saat ini. Tapi, dari kerutan di wajah Rukia, Ichigo tahu kalau gadis itu tidak percaya dengan ucapannya.

Rukia menghela nafas, menyilangkan kedua lengannya didada, "Sebenarnya ada apa di Las Noches sehingga kau bersedia bolak-balik ke sana terus-menerus, Ichigo?" Nada suaranya membuat Ichigo tersentak kecil. Kesabaran gadis itu kelihatannya sudah benar-benar tipis dan menginginkan jawaban tegas dari dirinya.

Tapi, belum sempat Ichigo menjawab, lengan kekar melingkari tubuhnya dan menariknya menjauh, "Renji!" Kaget tentu saja, karena yang Ichigo tahu, kawan berambut merahnya itu sudah menghilang lebih dulu semenjak kelas dibubarkan tadi.

"Ayo, Ichigo. Kau kan sudah berjanji lebih dulu denganku."

Tanpa mendengar protes yang dikeluarkan oleh Rukia, Renji terus menarik Ichigo menjauh.

XXX

"Rukia mulai membuatku menyesali mottoku untuk tidak memukul cewek."

Ichigo mendehemkan jawabannya, walau tidak ada maksud sedikit pun untuk mengiyakan karena ia masih berpikir bahwa apa yang Rukia pikirkan saat ini bukanlah sesuatu yang salah. "Maksudku, ia pun mulai terlalu cling-y ketika tahu kalau aku gay, seolah berpikiran kalau apa yang ia lakukan bisa membuatku... normal." Renji kini mengerutkan dahi, mengingat saat-saat dimana Rukia dulu selalu mengatakan kalau apa yang ia rasakan adalah sesuatu yang salah, tidak normal, dan tidak wajar.

"Tapi Rukia tidak tahu kalau aku pun sama denganmu, Renji."

Renji menoleh ke arah Ichigo, dan menghela nafas sebelum kemudian melingkarkan lengannya dipundak sang pemuda bersurai oranye. "Jangan terlalu mengkhawatirkan hal itu, Ichigo." Ia acak-acak rambut Ichigo dan terkekeh ketika melihat kerutan didahi kawannya itu bertambah. Jujur saja, ia pun sempat kaget ketika Ichigo bicara jujur padanya kalau dirinya pun gay. Karena yang ia tahu, saat SMA dahulu, Ichigo sempat mengencani seorang gadis.

Kalau ia tidak salah ingat, namanya Inoue Orihime.

Renji pun ssempat kesulitan karena untuk beberapa waktu, Ichigo terus saja mengingkari perasaannya sendiri. Terlalu banyak yang pemuda itu takuti. Bagaimana jika keluarganya tahu? Bagaimana jika orang-orang tahu mengenai seksualitasnya? Bagaimana tanggapan mereka? Akankah ia dijauhi, dianggap sebagai sebuah virus yang harus disingkirkan? Renji saat itu hanya menggeleng dan mengatakan apakah dirinya akan bisa bahagia jika terus mengingkari hatinya sendiri, dan selama beberapa hari Ichigo tidak bicara padanya.

Hingga pada suatu hari, Ichigo meneleponnya, meminta dirinya untuk menemaninya mengunjungi Las Noches.

Saat itu, bagi Renji tidak ada hal lain yang jauh lebih menyenangkan lagi.

"Selamat datang di Las Noches, Tuan. Anda menginginkan meja untuk berapa orang?" Sambutan pertama yang biasa mereka dengar saat memasuki Las Noches, membuat keduanya mengalihkan perhatian. Renji melepaskan tangannya yang melingkari pundak Ichigo dan membiarkan pemuda itu mengatakan apa yang ia inginkan kepada sang pelayan wanita.

Kedua iris kecoklatan Renji bergerak meneliti ruangan dihadapannya, dan perhatiannya dengan segera jatuh pada seorang pelayan bersurai biru. Grimmjow Jaegerjaques. Ia mengetahui nama itu melalui teman Ichigo yang bekerja di sini, Kaien. Pria yang membuat Ichigo menyadari seksualitasnya sendiri. Renji kembali menghela nafas, terkadang perasaan kecewa dimana bukan dirinya yang menyadarkan seksualitas Ichigo, menyerang dirinya dan membuatnya ingin sekali menjotos si surai biru karena telah merebut kesempatan itu.

Memang, tidak ada hal lain yang membuatnya bertahan berada di dekat Rukia, selain perasaannya yang terpendam terhadap sang pemuda bersurai oranye.

Kalau boleh jujur, perasaannya terhadap Ichigo-lah yang membuatnya menyadari kalau dirinya gay.

"RENJI!"

Tersadar dari lamunannya, Renji kini menatap ke arah Ichigo yang terlihat kesal. Tidak mengerti kenapa, ia hanya bisa mengangkat alisnya tinggi-tinggi, dan hal itu kelihatannya membuat Ichigo semakin kesal, "Jeez... Kau datang kesini sebenarnya untuk apa sih?" Tertawa sambil tersipu-sipu, Renji pun mengambil langkah mengikuti Ichigo yang kini berjalan menuju sebuah meja.

Kelihatannya pemuda itu memanggilnya semenjak tadi untuk segera duduk dimeja mereka, namun karena terlalu terbenam dalam lamunannya sendiri, Renji jadi tidak mendengarnya.

Renji mengambil tempat duduk berseberangan dengan Ichigo, dan hanya terdiam memperhatikan sang pemuda memperhatikan buku menu dihadapannya. Baru ia sadari, jika dilitik dengan lebih teliti lagi, Ichigo memiliki bulu mata yang panjang, hidungnya pun terlihat ramping sehingga bibir kemerahannya jadi lebih terlihat dan nampak 'mengundang'. Tanpa dirinya sendiri sadari, Renji menjilati bibirnya yang mendadak terasa kering. Dengan sengaja, ia majukan tubuhnya hingga berada cukup dekat dengan wajah Ichigo.

"Renji?"

Kebingungan yang diutarakan oleh sang pemuda membuat Renji tertawa kecil.

"Kau tahu, Ichigo? Kaulah orang yang membuatku menyadari kalau diriku gay." Dua iris coklat madu yang membelalak dan menatap lurus ke arahnya seolah mencari sesuatu, membuat Renji tidak bisa menghentikan kata-katanya sendiri. Betapa ia menunggu dirinya bisa berbicara jujur mengenai perasaan yang terpendam didalam dirinya selama ini. "Karena itu... Aku tidak akan terima jika kau disakiti, dan aku tidak peduli jika nantinya kau akan menggunakanku untuk mengobati rasa sakitmu." Ia semakin memajukan tubuhnya, hingga tidak ada lagi jarak yang tersisa diantara mereka.

Renji menempelkan bibirnya pada bibir Ichigo, memberikan kecupan dan jilatan, sebelum kemudian ia agak menarik diri sedikit menjauh, "Akan kulakukan apa pun untukmu." Tubuh Ichigo yang bisa ia rasakan sempat membatu, kini memerah, membuat pemuda itu semakin cocok dengan nama panggilannya sendiri. Strawberry.

Kembali Renji tertawa kecil dan memajukan tubuhnya, bermaksud untuk memberikan kecupan lagi pada bibir yang menggoda nuraninya, sebelum sebuah deheman mengalihkan perhatian keduanya.

Sementara Renji mendelik ke sumber suara, Ichigo kembali membatu, merasa bahwa dirinya mengenali dengan baik suara deheman tersebut. Oh, tidak. Debaran di jantungnya membuat sang pemuda meringis kecil. Ketukan demi ketukan yang ia yakini berasal dari ujung pulpen yang berbenturan dengan notes yang dibawa oleh Grimmjow membuatnya menunduk, berharap saat ini ada lubang dihadapannya agar ia bisa masuk ke dalamnya dan bersembunyi hingga waktu aman baginya untuk keluar kembali.

Grimmjow menangkap basah dirinya tengah 'intim' dengan pria lain, berada dalam urutan paling akhir dari daftar hal-hal yang ia inginkan.

"Kalian sudah siap pesan?"

Suara yang Grimmjow keluarkan saat itu terdengar begitu dingin ditelinga Ichigo, sehingga membuatnya merasa ngeri untuk mengalihkan pandangannya selain kepada buku menu ditangannya. Membuatnya teringat kembali mengapa ia begitu takut ketika menyadari bahwa dirinya adalah gay.

"Ck. Tidak bisakah kalian menunggu saja kami yang memanggil kalian jika memang kami sudah siap pesan?" Renji mendesis, amarah mulai menjalar di sistem tubuhnya saat mendengar suara dingin Grimmjow, terutama ketika menyadari ketakutan yang terpancar dikedua iris coklat madu Ichigo. Memang semenjak bertemu dengan pria bersurai biru itu, ia sudah tidak menyukainya. Ditambah pula, pria itulah yang disukai Ichigo terlebih dahulu, semakin saja ia tidak suka.

Ichigo menyadari kalau Renji dan Grimmjow mulai cekcok kembali seperti hari-hari sebelumnya. Ia tahu kalau keduanya kelihatannya memang tidak akan pernah cocok karena masing-masing memiliki kebencian terhadap satu sama lain. Tapi, ejekan demi ejekan yang kedua pria itu lontarkan saat ini hanya menjadi musik latar belakang saja bagi Ichigo, karena fokusnya saat ini tertuju pada hal lain.

Cincin yang berada di jari manis Grimmjow dalam sekejap membuat otak Ichigo berhenti berfungsi.

Ia tidaklah selambat itu untuk mengingat kalau benda yang sama pun selalu tersemat dijari manis ayahnya, dan ia tidak bodoh untuk tidak mengerti makna dari peletakan cincin tersebut.

"...go? Ichigo!"

Tersentak kaget, sepasang iris coklat madu Ichigo kini bertatapan dengan sepasang iris coklat milik Renji yang mengarah padanya. Kekhawatiran terpancar disana karena dirinya mendadak diam, membuatnya kembali menundukkan kepalanya, dan kedua pundaknya yang digenggam oleh Renji kini terkulai lemas. "... Kurasa... aku ingin pulang..." Ia berbisik kecil, dan dengan segera ia bisa merasakan tubuhnya ditarik oleh tenaga yang tidak lain adalah milik Renji. Pemuda bersurai merah itu nampak sangat mengerti dengan keinginan Ichigo, sehingga ia tidak bertanya apa pun.

Belum sempat ia berharap, kenyataan sudah menampakkan dirinya bagaikan tamparan langsung kewajahnya.

Kenapa hal ini sama sekali tidak ia pikirkan sampai saat ini? Bahwa jika dirinya gay, bukan berarti Grimmjow pun seorang gay. Sekarang, ia merasa bagaikan orang yang paling bodoh yang pernah ada.


Tsuzuku...


Author Notes:

Hm... Saya rasa ini cerita bakalan lebih dari 3 chapter seperti rencana awalnya deh. Tapi, bagaimana menurut kalian jika saya tambahkan beberapa drama lagi dalam cerita ini? Dan kalian ingin Ichigo berakhir bersama siapa? Grimmjow? Atau Renji? Atau dengan yang lainnya? Feel free untuk mengungkapkan pendapat kalian dalam review untuk cerita ini, saya tunggu! ^u^

Chapter berikutnya akan terdapat LEMON antara Renji dan Ichigo. Rencananya sih akan full 1 chapter, tapi tergantung juga ini tangan bergeraknya bagaimana :))"

Seperti biasa, review? Please?