BLEACH KUBO TITE
~SIAPA NAMAMU?~
Arisawa Tatsuki kembali menghirup oksigen banyak-banyak, berharap dengan begitu maka rasa gugupnya dapat teratasi. Gadis manis itu tidak tahu harus bagaimana, kedua kakinya terasa mati dan kaku. Dia tidak berani melangkah lebih jauh untuk memasuki gubuk besar ini, bahkan tangannya sudah tidak sanggup bila harus mengetuk pintu berbahan kayu tersebut.
"Sebetulnya, untuk apa aku datang kemari sambil repot-repot membawa bahan makanan?"
Tatsuki membatin, kembali berpikir bagaimana dia bisa berakhir seperti ini. Dia lupa, seharusnya dia ingat akan tujuannya datang ke sini. Setelah beberapa hari yang lalu, tepatnya hari pertama kedatangannya ke desa ini, seorang pemuda asing yang lumayan tampan datang pada malam hari demi membagi sisa ubi rebus untuknya. Dia memang kelaparan saat itu, dan tanpa keahlian memasak, Tatsuki menyesal karena selalu menganggap remeh pekerjaan mutlak seorang ibu rumah tangga tersebut. Akibatnya, dia harus terima saat pemuda pemberi makanan tadi mengasihaninya bahkan menawarkan bantuan untuk mengajarinya memasak. Yang benar saja!
"Memangnya laki-laki seram sepertinya bisa memasak? Kenapa pula aku harus termakan omongannya waktu itu? Yang lebih penting, dengan datang ke gubuk ini berarti aku telah menjatuhkan martabat seorang perempuan…"
Banyak hal berkecamuk dalam benaknya, Tatuski ragu. Tetapi dia juga tidak mau mati kelaparan dalam tugas kerjanya. Terlebih… mana mau individu dengan harga diri tinggi sepertinya bergantung makanan pada orang lain, sungguh, dia tidak mau membayangkan hal buruk lebih dari itu.
"Harusnya aku tidak menerima ubi rebus itu!"
flashback
Seharusnya dia menuruti saran sahabatnya untuk membawa mi instan, sehingga cukup mengguyurnya dengan air panas maka dia sudah bisa membungkam suara perutnya yang keroncongan. Tapi dia memang gadis sok tahu yang sombong, berdalih bahwa makanan kemasan seperti mi instan itu tidak sehat dan berbahaya bagi tubuh. Lagipula dia juga tidak ingin seumur-umur masa tugasnya harus makan junk food seperti itu. Memang ada benarnya, tapi ceritanya jadi lain jika ternyata dia tidak bisa memasak seperti saat ini!
"Ibu~ aku rindu masakan karemu, tempura, dan puding jagung manis. Aku ingin makan udon dingin dengan buah ceri dan sukiyaki."
Tak pelak, membayangkan makanan lezat membuat perutnya kembali berbunyi. Sudah lewat jam makan malam dan sedari tadi dia hanya merebus air yang diambilnya dari sungai. Dia butuh makanan, terus mengisi perutnya dengan air hanya akan membuatnya kembung tanpa mengurangi rasa lapar.
Tatsuki lantas kembali melirik bahan-bahan makanan yang tergeletak, tidak tahu harus berbuat apa dengan persediaannya itu. Ada tepung, mentega, daging asap, dan bubuk kare. Lalu kemudian terlihat sekotak kismis, beras, lobak pedas, juga saus tiram kesukaannya. Bahkan dia tidak ingat jika membawa brokoli, buah zaitun, lalu… selai nanas? Mungkin bahan-bahan terakhir itu ulah ibunya secara diam-diam.
"Apa mungkin brokoli rebus akan terasa enak jika kumakan dengan saus tiram ya? Iya, pasti begitu, saus tiram kan cocok untuk segala jenis sayuran. Tapi… Orihime pernah mencoba membuat sup dengan lobak dan kismis, ah, sepertinya aku harus menambahkan buah zaitun juga brokoli dan memasukkan bubuk kare. Tidak salah lagi, ini akan jadi masakan sup kare yang enak!"
Dok! Dok!
Baru saja sibuk memikirkan resep masakan, seorang pengganggu mengetuk pintu gubuk sewaannya dengan sedikit keras. Tatsuki segera berjalan ke arah pintu dan membukanya demi melihat siapa tamu yang mampir selarut ini. Kedua bola matanya mendadak melotot tajam mengetahui pemuda yang tadi siang sempat bercengkerama dengannya kini berdiri kokoh di depannya. Dan sepertinya tidak hanya Tatsuki saja yang merasa terkejut, hal yang sama terjadi pada sang pemuda dengan rambut merah itu.
"Ada apa ya?" Tatsuki bertanya bingung, apalagi saat melihat tangan sang pemuda yang menenteng wadah alumunium berisi sesuatu berwarna kuning mirip kentang. Apa mungkin dia ingin memberikan makanan untuknya?
"Eh? Anu, begini, aku merebus ubi terlalu banyak makanya aku berniat berbagi kelebihan makanan ini denganmu. Pak tetua desa yang menyuruhku memberikannya padamu kok!" Ada nada bergetar yang keluar dari mulut sang pemuda, tampaknya dia gugup karena salah tingkah.
Tatsuki lantas memandang sebongkah ubi rebus tersebut. Itu sudah dimasak, jadi dia tinggal memakannya saja. Meski sudah dingin namun masih cukup menggoda bagi perutnya yang penuh cairan.
"Benar ini untukku?" Tatsuki memastikan.
"Iya, ambil saja. Pak tetua juga bilang kalau kau tidak bisa memasak, bagaimana kalau kau mampir ke gubukku kalau luang? Aku bisa mengajarimu memasak masakan rumah yang sederhana," kata sang pemuda dengan ramah. Dapat terlihat senyum mengembang menghiasi wajahnya yang tegas.
Sementara gadis berambut cepak itu menunduk bingung, dia merasa sedang dihina karena tidak bisa memasak. Tetapi ayolah, bukankah pemuda itu sudah berbaik hati memberinya asupan gizi untuk bertahan hidup malam ini? Mungkin hanya perasaannya saja bahwa pemuda itu memang benar-benar sedang mengejeknya.
"Yah, kurasa aku harus segera pulang sebelum tersesat, ini sudah malam. Baiklah, datanglah menemuiku kalau kau tertarik!" Pemuda itu kemudian berbalik dan hendak berlari sebelum langkahnya terhenti dan kembali menengok ke belakang, membuat Tatsuki penasaran. "Terima kasih ya untuk yang tadi siang, kau benar-benar hebat, tanganku terasa jauh lebih baik!" pekiknya sembari tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya yang bersih sambil melambaikan tangan. Yang pemuda itu tidak tahu adalah, tingkahnya barusan membuat rona tipis bertengger menghiasi pipi Tatsuki yang masih terdiam mematung.
"Sepertinya aku akan memakan ubi rebus ini dengan saus tiram."
end of flashback
"Tatsuki bodoh, kau cukup memintanya berbagi keahlian dan setelah itu selesai sudah! Begitu kau bisa memasak sendiri kau tidak perlu mengunjungi tempat ini lagi dengan bermacam-macam perasaan aneh yang menjengkelkan. Oke, gadis jagoan sepertimu bisa melakukan ini," ujar Tatsuki mencoba untuk menyemangati dirinya sendiri, dia berusaha agar tetap tenang. "Ini gampang, sudah berapa kali kau menang turnamen judo? Kau hanya perlu memotong dan memasaknya! Kau tidak akan terluka karena pukulan lawan, yah, kecuali cipratan minyak. Tapi sungguh itu sama sekali tidak sakit!"
"Lho? Kau datang juga? Wah, aku sama sekali tidak menyangka kau benar-benar akan datang." Sebuah suara dari arah samping mengagetkannya, dia bahkan sedikit terjingkat karena kejutan tiba-tiba ini. Tatsuki mengelus dada sambil melihat pemuda berambut merah itu datang dengan menenteng dua buah ember kosong yang bau, apa itu bekas tempat kotoran ternak? Mungkin iya. "Maaf ya kalau aku bau, sapi-sapiku memang suka buang kotoran setelah kuperah susunya. Ayo masuk, aku akan membersihkan badan dulu," ajak pemuda bertubuh jangkung tadi setelah meletakkan kedua ember tersebut di depan pintu kandang secara sembarang. Dan kali ini, gadis manis bermarga Arisawa itu mampu menggerakkan kakinya mengikuti langkah panjang sang pemuda.
.
Gubuk ini memang tidak besar, tetapi lebih luas ketimbang gubuk sewaannya. Matanya berkeliling mengamati ruangan kuno itu, semua tampak rapi dan bersih. Tatsuki lalu membandingkannya dengan kondisi kamarnya di kota yang berbeda jauh, selalu berantakan dan penuh dengan sampah plastik bungkus makanan. Padahal dia perempuan, seharusnya lebih rajin untuk membersihkan kamarnya sendiri. "Kalau rumahnya saja serapi ini, mungkin dia benar-benar bisa memasak," batin Tatsuki.
"Kalau kau sudah membawa bahan makanan, berarti kau sudah punya bayangan akan memasak apa hari ini." Lagi-lagi suara itu, tidak bisakah pemuda itu berhenti membuat kaget? Dan, oh, lihatlah dia. Tampak segar sehabis mandi, kulitnya yang coklat terlihat bersih dan rambutnya sedikit lepek karena tersiram air. Kaos oblongnya yang tipis malah memperlihatkan otot-otot perutnya yang bagus, hidung mancung Tatsuki bahkan bisa mencium wangi sabun yang menguar dari tubuh pemuda itu. Ini gawat, gadis itu dapat merasakan dadanya bergemuruh hebat karena jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya.
"Sebenarnya aku tidak tahu apapun soal memasak, yang bisa kulakukan hanya menunggu masakan ibuku matang dan memakannya. Ini persediaan makananku selama aku menetap di sini, tidak semua bahan kubawa sih. Cuma kira-kira saja, kupikir aku bisa mengolah bahan ini menjadi sesuatu yang bisa dimakan," ucap Tatsuki jujur, sejujurnya dia malu untuk mengatakan hal itu. Dia merasa pemuda yang kini sudah memposisikan diri di sampingnya akan menilainya sebagai seorang gadis sok tomboy yang sebenarnya manja.
"Hm… tepung, buah zaitun, dan wah saus tiram."
Tatsuki menoleh begitu mendengar nada ceria barusan, tampak pemuda tadi berseri-seri begitu melihat sebotol besar saus tiram dalam genggaman tangannya. "Iya, aku suka sekali saus tiram, menurutku rasanya jauh lebih enak daripada saus teriyaki. Kau juga suka?" tanya Tatsuki.
"Sebenarnya sih aku suka dua-duanya, sudah lama aku tidak makan saus tiram. Maklum, desa ini hanya menjual saus dari tomat hasil panen dan shoyu. Dulu ibuku sering sekali menambahkan saus tiram dalam setiap masakannya, beberapa tetes saja mampu menghasilkan rasa yang beda, pokoknya enak!" kata sang pemuda antusias. "Hari ini kita buat bakso daging saja ya, tadi pagi aku membeli daging babi dari pasar pulau seberang," imbuhnya bersemangat.
"Ah, bisa kau buat saus dari saus tiram ini?" pinta Tatsuki.
"Tentu! Pertama kau campurkan telur dengan tepungmu, tambahkan garam dan lada lalu daun bawang juga seledri. Setelah itu masukkan daging babinya, sebelum itu kau harus mencincangnya lebih dulu, tapi biar aku saja yang melakukannya."
"Bagaimana dengan sausnya? Aku ingin lebih banyak bekerja darimu," ujar Tatsuki tidak kalah bersemangat, sepertinya dia mulai merasa nyaman.
"Karena tidak punya kaldu jadi saus tiramnya dimasak bersama air saja, tambahkan banyak cabai supaya pedas. Untuk setiap masakan, jangan lupa garam dan lada sebagai bumbu utama, tambahkan saus tomat juga irisan bawang bombai," pemuda tadi memberikan instruksi. "Setelah sausnya siap, beri potongan buah zaitun yang sudah dipotong menjadi dua bagian, rasanya pasti lezat!"
"Ngomong-ngomong, kita sudah pernah bertemu beberapa kali tapi aku tidak sempat menanyakan namamu," lirih Tatsuki sambil terus menggerakkan tangannya sesuai dengan perintah sang pemuda tadi. Yang ditanya hanya melirik singkat kemudian berlanjut fokus pada daging babinya yang sudah mulai tercincang.
"Aku Abarai Renji, siapa namamu?"
"Arisawa, Arisawa Tatsuki," jawab Tatsuki cepat.
"Tsuki―bulan―ya? Nama yang bagus, Arisawa-san," puji pemuda yang kini diketahui bernama Renji.
"Renji-san, bi-bisakah kau memanggil nama kecilku?"
Renji tidak mungkin salah lihat, garis-garis samar berwarna merah itu sudah jelas muncul menghiasi pipi Tatsuki beberapa detik yang lalu. Tapi dia tidak ingin ambil pusing, apalagi terlalu percaya diri, jangan sampai dirinya ge-er hanya karena masalah sepele seperti itu. "Baiklah, senang bisa berkenalan denganmu, Tatsuki."
Dia benar-benar memanggil nama kecilnya, Tatsuki merasa senang sekaligus malu. Tanpa sadar dia sudah memberikan senyuman tulusnya pada lelaki yang baru-baru ini sering muncul dalam kehidupannya.
