"Yoterasai, miterasai…"
.
"Majulah ke depan, lihatlah…"
.
.
Yami Shibai ILCA
Warning!
(Azuka-nyan hanya mengubah anime tersebut menjadi sebuah Fanfiction dan mengubah beberapa percakapan agar sesuai dengan alur cerita yang disampaikan)
.
.
AU/OOC/Mystery/Horror/Character yang acak!
.
"Yami Shibai no jikan da yo…"
.
"Sekarang waktunya untuk Teater Kegelapan…"
.
.
.
.
Episode 2 – Zanbai ( 惨拝 )
.
.
.
.
Ini adalah sebuah kisah tentang seorang pria pergi kesebuah pedesaan—
"Ukh, di-dimana aku?"
-untuk urusan bisnis yang sedang dikerjakannya.
Pria berambut cokelat kehitaman panjang menatap heran ke arah langit-langit. Sebuah cahaya lampu seketika menerobos masuk ke matanya. Ia sadar, ini bukan kamar tidurnya.
Perlahan, pria itu bangkit dari tidurnya. Bau obat antiseptik masuk ke indera penciumannya yang tajam.
Ini pasti di Rumah Sakit.
Pria beriris lavender itu menyingkap selimut yang menutupi separuh dirinya dengan kasar. Seketika, dirinya tersentak kaget.
Kaki kanannya telah di perban.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Pria itu kemudian menoleh ke sebelah kanan. Tepat disana terdapat tiga orang kakek yang seolah seperti sedang berdiskusi.
"A-ano…sumimasen," ucapnya sesopan mungkin.
"…"
"Sumimasen…"
"…"
Tetap tak ada jawaban.
Ketiga kakek itu masih tetap berdiskusi tak jelas, walaupun dengan suara yang lumayan pelan. Seperti tak ada niat menghiraukan pria beriris lavender ini.
Ah, mereka sangat tidak ramah—ucapnya dalam hati.
"Hyuuga Neji-san…"
Neji—pria berambut cokelat kehitaman panjang itu menoleh ketika suara yang lebih berat darinya memanggil namanya perlahan. "…sebenarnya berjalan di gunung saat musim hujan seperti ini sangat berbahaya."
Neji mengerutkan dahinya. "Memangnya saya kena, dokter?" Bingung.
"Kaki kanan anda patah," Dokter itu berucap tanpa basa-basi. "Anda kehilangan kesadaran di dasar jurang.
Neji terdiam.
Ingatannya agak sedikit kabur.
Mata dokter itu mengarah ke arah jendela yang menanpilkan pemandangan bukit nan hijau. "Di musim seperti ini saat huja deras, sangatmudah terpeleset di jalan yang ada lalui enam hari yang lalu."
Neji menatap dokter tersebut.
"Beruntung salah satu warga desa ini langsung membawa anda ke rumah sakit."
"…"
"Saya tak menemukan masalah lain selain kaki anda yang patah itu. Kami akan mengurus semuanya malam ini. Anda sudah bisa dipastikan keluar besok sore."
Neji menghela nafas lega. "Huft, jadi begitu ya. Syukurlah." Neji kemudian tersenyum kea rah sang dokter. "Te-terimaka—"
Ucapannya terpotong seketika dan matanya terbelalak kaget ketika ketiga kakek tersebut—yang sedari tadi hanya berdiskusi—menatapnya dengan tatapan tajam.
Baik kakek yang memakai penutup mata di salah satu matanya, kakek yang memakai perban di kepalanya, juga kakek yang memakai perban hampir di seluruh kepala dan dagunya, menatap tajam ke arah Hyuuga Neji.
Seperti tatapan kebencian, eh?
Apa salahnya? Apa salah dirinya?
Neji menjadi kaku. Ia tak dapat berkata apa-apa lagi setelah melihat tingkah menyeramkan para kakek tersebut.
"Tapi…anda harus memakai tongkat untuk sementara waktu, Hyuuga-san." Seolah tak menyadari hal tersebut, sang dokter berucap santai. "Beristirahatlah malam ini, selagi bisa."
"U-umm, te-terimakasih banyak."
Setelah menyampaikan hal tersebut, sang dokter pergi keluar. Meninggalkan Neji yang masih terus menatap ketiga kakek tersebut.
Tapi para kakek itu kembali berdiskusi lagi seperti awal ia membuka mata di rumah sakit ini.
"Me-mereka kenapa?" Lirihnya sepelan mungkin.
.
.
.
"Cih, percuma. Aku tak bisa tidur karena sakit." Neji meringis seraya membalik tubuhnya ke arah kiri. Ia berusaha berucap sepelan mungkin karena jam sudah menunjukkan pukul dua pagi. Semua pasien di kamar ini pasti sedang tertidur pulas. Beda dengan dirinya yang masih menahan sakit karena kakinya yang patah.
Apa dokter kurang memberi obat?
Matanya kemudian melirik ke salah satu tempat dimana para kakek tersebut masih berdiskusi.
"Orang-orang itu masih saja membicarakan sesuatu."
"…"
"Se-selain itu…" Neji menggantung kalimatnya. "…mata mereka…"
Yap. Mata mereka itu tidak ada. Tidak ada bola matanya.
Awalnya Neji sempat bingung tetapi dia menyimpulkan mungkin itu hanya halusinasinya saja karena ia baru sadar.
Ah sudahlah, lebih baik ia memejamkan matanya.
"…"
"…"
"…"
"…Pasti nanti…"
"…Jangan sampai dia kabur…"
"…Ya…Pasti…"
Deg!—Mata lavender pria itu terbelalak kaget. Ia mulai merasakan hawa yang tidak nyaman.
"Apa yang mereka bicarakan?" Lirihnya seraya bangkit kemudian duduk di ranjang rumah sakit.
"…"
"…Hahahaha!"
"…Jangan biarkan…"
"…Jangan kabur…"
"…Dia…Hahaha!"
Ini pasti halusinasi.
Percuma, saat Neji menoleh ke arah sumber suara, tak ada orang.
Neji menghela nafas lega.
Itu hanya halusi—
—"TERLAMBAT!"
Detak jantung menjadi Neji tak karuan. Matanya terbelalak kaget dan nafasnya dingin mengucur deras.
Ketiga kakek itu telah berdiri di sampingnya.
Dengan cepat, Neji langsung bersembunyi di bawah selimutnya.
Oh, Tuhan. Tolong dirinya.
Neji bersikeras memejamkan matanya.
Beberapa saat kemudian hanya tawa menyeramkan para kakek itu yang dia dengar kemudian semuanya menjadi gelap.
.
.
.
"Para kakek itu benar-benar menyeramkan tadi malam," ucapnya seraya keluar dari rumah sakit dengan tongkat. Neji—pria beriris lavender itu melirik jam tangannya.
Pukul tujuh pagi.
Saat berjalan menuju taksi yang telah menunggunya, pria itu melihat tiga bayangan yang menyerupai manusia sedang melakukan ritual pemujaan di atas atap rumah sakit.
Neji pun menoleh.
"…Zanbai…"
"…Zanbai…"
"…Zanbai…"
Neji terdiam sejenak.
Itu para kakek yang tadi malam, 'kan?
"Banzai?" Neji terlihat bingung. "Apa mereka mencoba memberiku ucapan selamat karena sudah boeh pulang?"
"…Zanbai…"
"…Zanbai…"
"…Zanbai…"
Neji berpikir. "Mungkin mereka malu kemarin, tapi sebenarnya mereka baik hati karena mengucapkan Banzai padaku."
Ketiga kakek itu terus mengucapkan kata tersebut sambil bergerak seperti memberi selamat.
Tanpa basa-basi, Neji pun tersenyum kemudian masuk ke dalam taksi.
"Apa anda sudah boleh pulang hari ini?" Ucap si sopir.
"Emm," Neji mengangguk. "Pasien lain yang satu ruangan dengan saya pun bahkan memberikan saya ucapan Banzai."
"Ah, Banzai ya…"
"Ahaha, unik, 'kan? Tapi…ayunan Banzai itu aneh. Lebih mirip seperti mengayun ke bawah."
Deg!—Kedua mata si sopir terbelalak kaget ketika ia mendengar perkataan Neji. Kemudian sopir itu melirik kaca mobilnya. Dan jelas, sangat jelas, sopir itu melihat ke atas atap rumah sakit.
Ia ingat dan tahu.
Itu Zanbai, bukan Banzai!
"Zan…bai…" Lirih si sopir.
"Zanbai?"
Si sopir mengerem mendadak. Wajahnya terlihat takut.
"Keluarlah…"
"Eh?"
"Pak, Anda harus turun disini, sekarang juga!"
Neji kaget. Turun?
"Cepatlah, pergi, pak!"
Mustahil dengan kakinya yang seperti ini.
"Ke-kenapa—"
"—Anda…tidak boleh keluar dari desa ini hidup-hi—"
TIIINNNN!
Beberapa detik kemudian, taksi itu pun hancur lebur ditabrak truk yang melaju kencang.
"…Zanbai… Zanbai… Zanbai…"
.
.
.
.
.
…Oshimai…
.
…Selesai…
.
.
.
.
.
Hai! Kembali lagi dengan saya, Azuka-nyan!
Yeay! Yami Shibai sudah chapter 2. Akhirnya bisa update pas malam jum'at. Ekekeke.
Chapter 2 ini berjudul Zanbai. Ingat ya, Zanbai itu sangat berbeda dengan Banzai.
Zanbai adalah ucapan atau mungkin kutukan agar orang yang dimaksud terkena bala. Bala itu sejenis bahaya. Biasanya langsung menyebabkan kematian.
Banzai adalah ucapan rasa syukur atau kesenangan agar orang yang dimaksud sejahtera, gembira ria, dan senang. Mungkin kalo kaya Dora is like "We did it, we did it, we did it, Horaayy!" wkwkwk XD
Special thanks to:
Sugarplum137, Dani, Nagisa Yuuki, Uzumaki Yuki15, 20th Ward Eyepatch, Vylenzh of Dream, Bayangan semu, Koi, dan juga silent readers tentunya ekekeke.
Untuk saran kalian tentang chara-nya aku simpen dulu. Aku ngatur cara tergantung para pemain di animenya. Kalau cowok, otomatis aku pilih pemain Naruto yang cowok juga, begitu sebaliknya.
Ofuda Onna (Chapter 1) itu sebenarnya bukan urban legend ya, cuma cerita hantu biasa saja. Jadi gak ada sejarahnya. Hihihi.
Maaf jika masih ada typo. Sebelum dan sesudahnya, terimakasih.
Akhir kata,
REVIEW X3
