Review reply:
Mouto yang males login (Rui Arisawa)
Keren? Ahaha.. Nee tahu kok kalau Nee keren~ yang keren Nee-nya 'kan? *ge er mode: on*
Gila? Siapa sih yang gila? *celingak-celinguk*
Awas… jangan teriak-teriak begitu.. entar ditangkep polwan.. XD
Iya… Nee memang tidak bisa lepas dari misstype… -.-"
Tebakan pertama&kedua: Uhm.. jawabannya sama-sama salah… XD jawabannya ada kok di chap ini~
Tidak usah bersedih… semangatlah~
101 hiru-san
Hee? Gyaa makasih! *peluk-peluk hi-san*
Hah? Kenapa nebaknya di saku Riku? Kan permatanya punya Kakei atuh~
Wehew… Lu-chan nyimpen kunci rumah di bawah keset lho… XD
Yosh! Udah di-update~! XD
Near Nate River
Makasih Near.. XD
Iya tuh si Sena… kamu harus mau dong ditunangin sama Riku! *ditampar Sena*
Sena: Kau kan authornya! Kau yang buat aku kayak gini tahu! *nampar sekali lagi*
Keren? Ahaha.. Lu-chan tahu kalau Lu-chan memang ke-KUPLAK! *digaplok*
Ahaha.. boleh-boleh.. :))
Uruppe
Heh? Riku.. jangan asal main ngelempar silet begitu! Choco bukan pencurinya atuh! XD
Nyahaha~ iya nih, dasar Riku… wkwkwk
Lho? Kan belum bicarain pencurinya~
Sosok asli sang Pencuri akan ketahuan di chap-chap akhir kok…
Misterius? Lu-chan sendiri juga misterius kok… wkwkwk.. *sok misterius*
Udah di-apdeth yo! XD
El Que Llora
Eh? Beneran nih? Gyaa makasih! XD
Iya nih… Sena mentang-mentang udah punya banyak duit.. buang-buang teh begitu…
Hoho.. Riku mode sadis banyak suka ya? XD
Jawabannya…… belum benar.. jawabannya ada di chap ini atuh.. XD
Sip! Udah di-apdeth! X3
Ashirish Ares
Iyep! RikuSena~
Eh.. ngomong-ngomong… Shaza ganti nickname kok susah banget… -.-"
Iya salahin si Sena! *berlindung di belakang Sena* Krumpyang! *malah muka Sena yang kena vas*
Jawabannya… dua-duanya salah… jawaban yang bener ada di chap ini..
Heh? Kenapa pencurinya harus Hiruma? XD Kan belum dikasih tahu pencurinya siapa~
Yosh! Sudah di-apdeth! :DD
Hana Yuki Namikaze
Yep! Cerita.. yang agak mirip detektif gini~
Hm.. sayang sekali jawaban Hana belum benar…
Kalau dibawa Kakei.. pasti Kakei sendiri yang susah.. dia harus acting supaya tidak ketahuan gerak-geriknya… *ngeles mode: on*
Tapi jawaban Hana bagus kok! XD
Dilia males log in
Iyep disamain sama Ciel… XD
Iyah.. Sena disini memang nyebelin.. *ikutan disembur*
Setuju~ Lu-chan juga lagi suka sama Riku~ makanya pengen bikin Riku keren~
Lha? Hiruma jadi pencuri?
Kenapa banyak yang ngira begitu ya? -.-a
Yosh! Udah di-apdeth~ :DD
Orang numpang lewat
Ehe? Makasih atuh~ XD *meluk-meluk*
Waduh.. tebakannya salah.. anda belum beruntung.. silahkan coba sekali lagi.. *ditabok*
Jawabannya ada di chap ini~ XD
Bagi yang belum mudeng dengan jawaban yang ada di chapter ini.. silahkan PM Lu-chan yah~
Kan Lu-chan udah bilang sendiri.. 'Saia sendiri harus ngasah otak supaya bisa dinyambungin-nyambungin.. walau kelihatannya gak nyambung sama sekali..'
~~~ooo000ooo~~~
Keheningan terasa. Matahari sudah akan menyembunyikan dirinya di ufuk Barat. Namun, semua orang yang berada disana berdiam, tidak bergeming. Dua orang lelaki muda sedang bertatapan, yang satunya adalah seorang Count yang mempunyai jabatan tinggi sebagai pewaris kerajaan. Sementara diseberangnya adalah seorang pencuri terkenal, yang akan mencuri permata kerajaan itu.
Sementara tanpa diketahui oleh mereka, seorang lagi sedang bersembunyi diantara pilar-pilar tinggi di bangunan tersebut. Sedang mengamati perseteruan yang akan terjadi antara Count dan Pencuri itu. Namun, ini barulah permulaan, dari malam panjang yang akan mereka lewati.. untuk menghadapi pencuri itu.
Game… Start!
~~~ooo000ooo~~~
Eyeshield 21© Riichiro Inagaki & Yusuke Murata
Thief of the Diamond© NakamaLuna
Rated: T dahulu. Seiring berjalan waktu mungkin akan Lu-chan ubah ke M
Genre: Romance/Angst
Warning: AU, OOc, violence, shounen-ai, bagi yang tidak suka silahkan tekan tombol back :D
~~~ooo000ooo~~~
Kini matahari benar-benar sudah tenggelam di ufuk Barat. Walau masih menyisakan sedikit sinar oranye yang membekas di langit. Namun mereka masih diam, dan terus menunggu sampai salah satu diantara mereka bergerak duluan. Sang pencuri mulai memecah keheningan, "Ya, jika saja kalian tidak datang. Mungkin akan lebih susah bagiku untuk menemukan dimana ruang penyimpanan permata itu."
Riku menyeringai, "Memangnya kau akan sebodoh itu untuk terjebak ke dalam perangkapnya?"
"Tidak. Tentu saja aku tidak akan terperangkap kesana, aku sudah tahu hal itu. Masalahnya.. banyak ruangan kosong yang bisa dijadikan tempat penyimpanan 'kan?" sang pencuri balas menyeringai.
"Yah, kau beruntung karena kami datang. Jika tidak, kau harus mengulur waktu untuk mencari dimana ruangan yang ada permata itu diantara banyak ruangan kosong ini." Riku menatap wajah pencuri yang ditutupi topeng itu. Tangannya masih menggenggam pisau kecil yang diacungkannya ke pencuri itu. "Memangnya kau berpikiran sama denganku ya?"
Pencuri tersebut menyeringai lagi, "Tentu saja. Ketika pertama kali count Kakei memberi tahu kalian tentang ruangan-ruangan di rumah ini, kalian hanya diperlihatkan ruangan yang dipenuhi polisi saja 'kan?"
'Ah ya.. memang begitu' pikir Sena.
"Itu adalah hari pertama count Kakei bertemu dengan count Sena. Ketika dia membawa kalian ke tempat terakhir, dia bilang tidak akan memberi tahu dimana tempat persembunyian permata itu 'kan? Karena dia masih mencurigai salah satu di antara kalian… jadi intinya begini. Kalian diberitahu tempat-tempat yang banyak polisinya saja, karena jika count Kakei mencurigai kalian, dia pasti akan menjebak kalian di tempat yang banyak polisinya.." lanjut sang pencuri.
"Karena semua orang pasti berpikiran bahwa permata disembunyikan di tempat yang banyak polisinya. Padahal itu hanya siasat untuk memancing pencuri kesana. Begitu sang pencuri tertipu karena mengira permatanya ada di ruang yang penuh polisi itu, pasti dia akan memerintahkan seluruh polisi untuk menangkapnya. Karena itu, dia memperlihatkan aku dan Sena ruangan yang hanya dipenuhi polisi saja…" sambung Riku.
"Dengan kata lain, permata itu ada disuatu tempat. Dimana tempat itu jarang ada polisinya, bahkan mungkin tidak ada polisinya sama sekali supaya tidak mencolok. Sayang sekali, aku tidak tertipu karena mengira bahwa permata itu pasti disembunyikan di suatu tempat yang banyak polisinya karena permata itu sangat berharga."
"Dan yang paling menunjukkan tempat permata berada adalah kami berdua bukan? Kakei membawa kami melewati seluruh ruangan yang ada di bangunan ini, tapi yang hanya banyak polisinya dan yang ada polisinya saja. Dengan kata lain, permata tersebut berada di salah satu jalur rumah yang lain yang tidak kita lewati dan tidak ditunjukkan, karena jalur itulah yang menunjukkan dimana kamar itu berada!" seru Riku. Yak, penjelasan yang cukup detail dari kedua orang rival ini. Riku masih memandang tajam sang pencuri, walau sebenarnya instingnya menangkap sesuatu yang lain. Sesuatu yang bergerak… sesuatu yang bukan diantara dia dan orang yang berada di depannya ini. Begitu menydarai sesuatu tersebut, dia malah langsung tersenyum.
'Jadi.. begitu? Kenapa aku tidak menyadari hal sepele itu sih?!' pikir Sena frustasi.
"Dan… Sena! Cepat larilah ke tempat dimana persembunyian permata itu berada! Kau mendengar semuanya 'kan?! Larilah!" teriak Riku keras-keras yang membuat Sena refleks berlari ke tempat permata itu.
Disaat yang bersamaan pula, pencuri itu sudah bergerak arah mengikuti Sena, namun Riku bergerak cepat dengan melayangkan pisaunya ke jubah panjang yang dipakai pencuri itu, sehingga tertancap di dinding. "Wah… seharusnya sebagai pencuri kau tidak usah memakai pakaian yang rumit seperti itu.." Riku menyeringai pelan sambil mengeluarkan empat buah pisau kecil dari dalam bajunya lagi.
"Huh," pencuri itu mendengus pelan sambil mencabut pisau kecil yang menancap di dinding sekaligus jubahnya itu. "Sepertinya aku harus melawanmu dahulu sebelum pria kecil manis yang berada disana tadi.."
-o-0-o-
"Ke-kemana ya? Yang sepertinya tadi tidak ditunjukkan.. aha! Jalur menuju ke dapur! Memang sih, tadi ditunjukkan ruang makannya.. tapi dapur sama sekali tidak!" Sena melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah dapur. Ketika sampai di dapur, dia menemukan tiga pintu yang arahnya menuju entah kemana. "Kemana lagi ini?" tanpa basa-basi lagi, dia membuka satu persatu pintu tersebut.
Namun semuanya sama saja, ruangan itu kosong melompong. "Ma-masa aku salah tebak lagi?" pikir Sena ingin menangis. 'Tidak.. memang hanya jalur ini.. yang tadi sama sekali tidak diberi tahu. Cobalah mengingatnya… bisa-bisa pencuri tersebut keburu datang kemari…' Sena berpikir keras sambil menatap ke sekeliling.
'Jumlah ruangannya ada 3 saja ya. Tunggu…? Jumlah? Perasaan dipeta tadi aku melihat di peta… hanya ada dua buah ruangan yang terletak di dapur..' Sena mulai memandangi satu persatu ruangan. 'Apa ada ruangan yang baru saja dibangun atau apa ya? Tapi peta itu sepertinya baru… bisa dilihat dari tanggal pembuatannya..' pikir Sena lagi.
'Kalau begitu.. diantara ketiga kamar ini ada yang palsu!' pikir Sena. "Tapi.. maksud palsu?" Sena bergumam pelan sambil berpikir lagi. Dia kemudian mencoba berdiri masing-masing di depan ketiga pintu itu. "Eh? Ruangan ini.." Sena bergumam pelan ketika dia berdiri di depan ruangan ketiga.
"Apa-apaan ya?" Sena melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan ketiga, kemudian mulai menyentuh dinding kamar itu. Ketika dia menyentuh dinding kamar sebelah kiri itu, dinding kamarnya masuk ke dalam karena ditekan. "Eh?" Sena bergumam pelan sambil mengulangi perbuatannya tersebut. "Mustahil ini… kertas? Kertas layar?" Sena kemudian menyentuh dinding lain yang berada di sebelah kanan. "Ini juga… jadi ini bukan dinding? Melainkan kertas layar yang ditempelkan sampai ke lantai sehingga menyerupai dinding?" Sena kemudian mengetuk pelan sisi dinding yang paling depan, yang tampak ketika dia membuka pintu tadi. Tok! "Nah, ini baru dinding asli.. jadi permatanya.." Sena bergumam pelan sambil memecahkan kaca jendela yang berada di dinding tersebut.
"Bingo! Ini bukan jendela! Melainkan cermin tempat penyimpanan permatanya!" seru Sena. "Itu.. dia!" Ketika cermin tersebut hancur, tampaklah permata berwarna kuning emas di belakangnya. "Kalau begitu jika layar sebelah kanan ini dirusak.. pasti akan menuju ke kebun belakang…"
Syuut! Braak! Tampaknya sang pencuri telah datang, disusul pula Riku yang sedang memegang dua pisau kecil masing-masing di tangan kiri dan kanan. "E-eh?" Sena menjadi panik, dia tidak tahu harus berbuat apa.
Riku melemparkan dua pisau ke arah pencuri itu, namun dia langsung mengelak cepat sehingga hanya dinding depan saja yang tertancap pisau itu. Ketika tangan pencuri tersebut akan mengambil permata itu, Riku langsung melemparkan pisau ke arah tangan pencuri tersebut.
Jreb! Darah segar mengalir dari tangan sang pencuri, kesempatan ini dimanfaatkan Riku untuk mengamankan permata dan Sena yang berada di dekat pencuri itu. Namun, pencuri tersebut mempunyai akal lain, dia mengambil sesuatu dari balik pakaiannya itu.
Mata Riku melebar, kemudian dia berlari mendekati Sena yang berada di dekat cermin itu setelah mengambil terlebih dahulu permatanya. "Bom asap!" teriak Riku kemudian berusaha menggapai Sena, namun terlambat. Sepertinya pemuda mungil berambut cokelat itu telah dipeluk duluan… oleh sang pencuri misterius itu.
"Count Riku.. bagaimana kalau kita barter saja? Kau akan mendapat anak ini, lalu aku akan mendapatkan permata itu.." ucap sang pencuri.
"Enak saja! Kau kira aku ini barang ya pake barter segala?! Riku! Tidak usah dengarkan kata-kata dia! Lindungi saja permata itu!" teriak Sena menggebu.
"Wow, kau berisik juga ya bocah." Pencuri yang sedang memeganginya terkejut karena tiba-tiba tawanannya berteriak sangat kencang, di telinganya.
Derap langkah terdengar, sangat banyak menuju tampat mereka berada itu. "Riku… ternyata kau sudah menemukannya dan.. count Sena? Dia disandera?" tanya Kakei kepada Riku.
"Tepatnya jadi alat barter." Riku menjawab singkat sambil terus memperhatikan pencuri itu. Sang pencuri merusak dinding layar kemudian keluar begitu saja, membawa Sena. "Hei! Tunggu!" teriak Riku yang langsung mengikutinya dari layar rusak itu.
-o-0-o-
Mereka sekarang berada di kebun belakang yang luas, gelap dan sunyi. Para polisi dan Kakei memilih lewat pintu belakang ketimbang layar yang tidak akan cukup dilewati oleh polisi sebanyak itu. "Apa alasanmu keluar? Tidak menginginkan permata ini ya?" Riku menantang sambil menunjuk permata yang digenggamnya.
"Bukan, hanya saja jika permatanya kuambil disana, aku akan susah berlari karena terkurung dalam ruangan sempit begitu. Sama saja cari mati." balas sang pencuri. "Lebih baik aku keluar sambil menyandera salah seorang dari kalian agar ketika mendepatkan permatanya akuu dapat bergerak bebas."
Kakei dan para polisi tersebut kemudian tiba ditempat, polisi dengan siaga langsung berusaha membidikkan senapan ke arah pencuri itu. "STOP!" teriak Riku.
"Berhenti! Apa yang kalian lakukan? Jangan tembak!" Perintah Kakei pada para polisi itu. "Disana masih ada count Sena, kalau dia ikut tertembak, dia bisa mati." Serentak para polisi itu langsung tunduk kepada perintah Kakei.
Riku mendekati Kakei kemudian berbisik pelan, Kakei menanggapinya kemudian tersenyum, "Tidak apa-apa. Asalkan kau berjanji akan melindungi permata walau hanya tersisa satu permata. Lagipula, kita harus mencemaskan keadaan count Sena. Nyawa lebih penting dibandingkan permata." ucap Kakei tersenyum. Yah, ide gila yang dilontarkan Riku.. yang membuat kemungkinan terburuk bahwa permatanya bisa diambil.
"Oke!" teriak Riku. "Aku serahkan permatanya, lalu kau lepaskan Sena!" teriak Riku kepada sang pencuri.
"Kalau begitu.. aku akan meletakkan count Sena disini, dan kau meletakkan permatanya disebelah kananku." Balas sang pencuri.
Mereka kemudian dengan perlahan mendekat. Tidak melepas pandangan dari setiap gerak-gerik masing-masing. Riku meletakkan permatanya di sebelah kanan pencuri itu, matanya kemudian memandang pencuri yang dengan perlahan melepaskan Sena dari arah kiri.
Syuut! Tangan Riku tadinya berusaha menggapai Sena dan permatanya secara bersamaan. Namun, dia kalah cepat dengan sang pencuri yang mengambil permata itu… tanpa melepaskan Sena. "Apa? Kau curang! Tadi kau belum melepaskan Sena secara seluruhnya! Sementara aku sudah meletakkan permatanya!" teriak Riku.
"Oh iya… tanganku tidak melepaskannya. Malah refleks menyambar begitu saja permatanya," ucap sang pencuri. "Kalau begitu.. aku bawa dia saja deh sekalian.. supaya lawan count-ku berkurang satu."
"Ap-tidak! Hei! Cepat lepaskan permata itu! Setelah itu baru kau boleh bawa aku!" Sena meronta-ronta dipegangan pencuri itu, namun sang pencuri sudah melesak kabur dengan memakai jubah aneh multi fungsinya.
"Gawat… Dia sebentar lagi menghilang.. itu pasti.." ucap Riku, dia menunduk ke bawah, sementara pencuri itu langsung melompat, untuk melayang di angkasa dengan berbagai macam peralatan anehnya. Ckrek! Riku refleks langsung menyambar salah satu pistol polisi tersebut dan berlari mengikuti pencuri itu, diarahkannya moncong pistol ke pencuri itu.
"Riku! Jika gegabah malahan Sena yang tertembak!" teriak Kakei dari kejauhan.
Ceklik… DOR!
Mata biru muda kepunyaan Kakei memandang dengan tidak percaya terhadap pemandangan yang dilihatnya. Jujur saja, karena ini adalah malam hari, akan susah untuk mengetahui siapakah sebenarnya target yang terkena peluru. Semakin lama pencuri itu dan Sena semakin menjauh… sampai salah satu diantara mereka terjatuh.
"Huaaa!" Sena terjatuh dari pelukan pencuri itu, beruntung sekali sebab Riku langsung menangkapnya dari bawah.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Riku terhadap Sena yang berada di gendongannya itu.
Sena menggeleng lemah, mukanya pucat, matanya berair. "Kau selalu saja memaksakan diri." Riku mempererat gendongannya kepada Sena kemudian kembali ke tempat Kakei berada. "Maaf, permatanya-"
"Tidak apa," balas Kakei. "Karena nyawa pria ini, lebih penting daripada permata itu. Langipula, syukurlah kau datang, Riku," Kakei mendongakkan wajahnya ke arah Riku. "Jika tidak, pasti permataku akan lebih cepat terambil. Kau sudah bisa mengetahui trik-triknya.. dan kau juga cerdas… aku tahu kau bisa mengalahkannya."
"Terima kasih." Balas Riku dengan senyuman. "Ngomong-ngomong.. tentang permata selanjutnya yang akan diincar. Kalau pertama Akaba, kedua Juumonji, ketiga kau.. berarti.. ke empat.."
"Count Mizumachi," ucap Kakei perlahan. "Tenang saja, aku akan menghubunginya. Hubungan kami bisa dibilang dekat kok," Kakei menggaruk pelan kepalanya. "Perlu kutawarkan kamar malam ini? Untuk count Sena yang sepertinya sangat kelelahan." Kakei menawarkan dengan senyuman tulus di wajahnya.
Namun Riku menggeleng, "Kami akan langsung pulang saja." Riku memperhatikan pria yang terlelap di gendongannya, "Terima kasih," ucap Riku kepada Kakei.
-o-0-o-
Dari atas salah satu bangunan di kota Thylyon, tampaklah seseorang, yang sedang mencopot jubah yang dipakainya. Dia kemudian duduk perlahan dan mengamati luka tembak yang terletak di sebelah bahu kirinya, "Hebat juga dia.. ini pertama kalinya aku terluka dalam menjalankan misi."
~~~ooo000ooo~~~
Kereta kuda berwarna merah maroon berhenti di salah satu rumah besar bergaya Perancis yang sangat mewah kepunyaan Riku Kaitani. Dari kereta itu, tampak turunlah dua orang pemuda, "Akhirnya.. sampai juga." Seorang pria muda berambut cokelat mengeluh pelan sambil menepuk-nepuk lututnya perlahan.
Pria lainnya yang berambut putih hanya menunjukkan cengiran mengejek, "Baru begini saja sudah capek, tertidur pula." Ejeknya perlahan.
"Diam. Semua manusia pasti mempunyai rasa lelah tahu. Lagipula, dari tadi kita berlarian kesana kemari, berusaha menangkapnya, melawannya.. belum lagi aku sempat ditawan pula.. ya jelas capeklah!" dia mengeluh kembali sambil memijit pelan bahunya.
"Bukannya dijadikan bahan barter?" Riku menggodanya dengan senyum mengejek.
"Enak saja. Tapi.. kita akhirnya tidak bisa menangkap dia." ucap Sena.
"Ya, dia bukan pencuri biasa, dia itu pencuri professional. Tidak hanya mengandalkan otot, tapi juga menggunakan otaknya untuk berpikir. Pikirannya juga licik, dia tidak bisa ditipu dengan mudah, dia juga mempunyai peralatan aneh. Dan.. kecepatannya yang luar biasa itu.." Riku memandangi cara jalan Sena yang tampaknya sudah sangat lesu di belakangnya. "Mau kegendong?"
Tawaran yang sangat tidak disangka bagi seorang Riku Kaitani. "Tidak. Terima Kasih. Aku tidak mau " Yang langsung dibalas dengan tolakan tegas dari mulut Sena Kobayakawa.
"Tida apa-apa sih kalau kau tidak mau. Yang pasti, aku ikhlas menawarkannya." balas Riku tidak menengok ke belakang.
Sena menatap Riku dengan pandangan heran, 'Dia sudah berubah' pikirnya 'Kadang usil, kadang baik, kadang terlalu serius.. dan menyeramkan' pikir Sena lagi. Sena kemudian menggengam tangan Riku dari belakang, kepalanya dengan perlahan menyender di punggung Riku yang kokoh. "Aku capek," Sena menutup matanya. "Tolong gendong aku."
Riku tersenyum, "Sesuai keinginanmu." Dia kemudian menggendong Sena di punggungnya, kemudian membawanya masuk ke dalam rumah.
-o-0-o-
"Ng?" mata cokelat keemasan itu terbuka, wajahnya diliputi rasa heran. 'Oh ya, tadi aku digendong Riku dan…' Sena memalingkan wajahnya ke sebelah kanannya. 'Ke-kenapa Riku bisa berada disebelahku?!' pikirnya panik. 'Ah ya… kontraknya' sambil menenangkan pikirannya, Sena memegang kepalanya yang terasa pusing.
CLETAR! Petir tiba-tiba menyambar, membuat Sena langsung menggigil ketakutan. Keringat dingin bercucuran dan dahinya, dia kemudian memeluk tubuhnya yang menggigil. Sepasang mata berwarna hijau emerald terbuka, kemudian memandang orang yang sedang terduduk di ranjangnya itu. Kondisi Sena menggigil, mukanya membiru, dan wajahnya pucat, membuat sang pemilik mata prihatin kepadanya.
"Kemarilah," Pemuda berambut putih itu menjulurkan tangannya kepada orang yang berada disampingnya itu. Namun, hanya dibalas dengan tatapan heran oleh pria berambut cokelat itu. "Kemarilah." ucap Riku sekali lagi. Dengan ragu Sena mulai menerima uluran tangan Riku itu. Riku menarik perlahan tangan Sena, kemudian membawa tubuh pria mungil itu berambut cokelat itu ke dalam pelukannya.
"Ri-Riku? A-ada apa?" Kena-"
"Sst.. diamlah. Ketika manusia sedang dalam rasa ketakutan atau gelisah, manusia itu akan membutuhkan pelukan untuk menenangkan pikirannya. Sekarang tidurlah, hari sudah malam." Sena terdiam di pelukan Riku. Beberapa saat kemudian, barulah dia menyadari perkataan Riku tadi benar. Perlahan dia mengeratkan pelukannya ke tubuh Riku kemudian menutup mata cokelat keemasannya dengan tenang.
-o-0-o-
'Dasar.. mungkin watak dan sifatnya memang berubah setelah beberapa tahun berlalu ya… mungkin dia memang jadi cerewet dan sangat sok tahu.. tapi.. dia ternyata masih seperti yang dulu' pikir Riku sambil menyelimuti Sena. Riku kemudian mengambil selimut cadangan di lemarinya, dia kemudian membuka pintu kamar dan memperhatikan Sena sebentar. "Selamat malam."
Sambil membawa selimutnya, Riku menuju ke ruang depan, kemudian meletakkan selimut itu di salah satu sofa panjang yang berada disana. CLETAR! Petir menyambar kembali, kali ini dia mencium bau gosong karena sesuatu, namun bau itu segera pergi karena tertelan air hujan.
Riku merebahkan tubuhnya di sofa itu, kemudian menyelimuti dirinya. 'Tidak sopan bukan jika kita tidur bersama dengan orang yang belum kita nikahi? Walau sudah terikat 'kontrak' tetapi tetap saja… aku dan dia belum terikat hubungan yang lebih serius' mata hijau emerald itu menutup perlahan, lelah dengan apa yang telah dialaminya tadi siang.
Sinar bulan menerangi ruang depan itu. Menerobos masuk melalui jendela besar yang menggantung disana. Menyinari seorang penerus kerajaan yang sedang terlelap di atas sana.
~~~ooo000ooo~~~
Sinar matahari menerobos masuk melalui jendela kamar yang besar dan panjang itu. Membuat silau seorang pria muda yang tengah terlelap di ranjangnya itu. "Uhmn," dengan sedikit mengeluh karena silaunya matahari, dia pun akhirnya bangun dan duduk di ranjang. Merasa ada yang hilang, dia mulai bercelingukkan mencari sesuatu. "Hmm.. mungkin dia sedang mengurusi sesuatu." Ia berjalan perlahan kemudian menggapai handuk yang tergantung di lemari. "Kalau tidak salah… kamar mandinya ini…" ia membuka perlahan pintunya, kemudian menutupnya. "Ng?" tampak seseorang dari dalam kamar mandi yang dipenuhi air panas dan busa itu.
Tepatnya, sosok Riku yang sedang membersihkan tubuhnya. Untung saja bagian penting tubuhnya tertutup oleh busa-busa sabun itu. Menyadari bahwa seseorang sedang memperhatikannya, Riku pun kaget, namun ketika yang dilihatnya adalah Sena, dia malah tersenyum. "Mau mandi bersama?" tawarnya.
PLAAAAAAAKKKKK!!!!!
~~~ooo000ooo~~~
Tampaklah dua orang yang sedang duduk di ruang makan yang sangat besar itu. Pemuda berambut putih yang mengambil tempat dekat pojok mendapat bekas tamparan merah di pipinya yang sepertinya sangat sakit bila dirasakan. Sambil mengaduh kecil, dia memegangi pipinya yang lumayan bengkak. "Aduh, sepertinya kau semangat sekali ketika menamparku tadi."
Sena mendelik tajam ke arah Riku. "Siapa suruh kau mesum sekali. Mana pintunya tidak dikunci segala." Sena menyantap cokelat hangatnya.
"Maaf. Aku 'kan lupa. Huh.. padahal semalam kau mesra sekali." Riku menopang dagunya, kemudian tertawa kecil ketika melihat semburat merah yang berada di pipi lawan bicaranya itu.
"Apa maksudmu?" Sena menjwab dengan muka merah merona. Tidak mau mengakui kebenaran yang Riku ucapkan.
"Wah.. wah, padahal semalam kau memelukku dengan erat. Kemudian menyenderkan kepalamu ke dadaku. Hangat loh, nyaman sekali ." Riku menggoda Sena lagi.
"Cukup! Kita hanya terikat kontrak! Dan belum menikah!" Sena berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.
"Oh, jadi nantinya kau mau menikah denganku jika Ibu Suri sudah menandatangani surat pernikahan kita?" Riku tersenyum sambil memotong-motong croissant yang baru saja diantarkan oleh pelayan.
JREB! Sena menancapkan pisaunya kuat-kuat kepada croissant-nya. "Tidak! Lagipula bukan itu maksudku! Aku sama sekali tidak sudi menikahimu jika bukan karena kontrak menyebalkan yang dibuat oleh Ibu Suri itu!" Sena menunjuk-nunjuk Riku dengan memakai pisau rotinya. Untung saja dia masih bisa mengendalikan emosinya.
Kali ini Riku memilih diam sambil bercengengesan kecil. Tentu saja, daripada memilih menjawab perkataan Sena yang memungkinkan kemungkinan terburuk bahwa Sena akan melemparkan pisau itu dan menancap tepat di kepalanya. Riku mengunyah croissant-nya perlahan, kemudian teringat sesuatu, dia melambaikan tangannya untuk memanggil salah satu pelayannya. "Semalam petir menyambar dan turun hujan deras 'kan? Pada saat petir menyambar itu, aku mencium bau gosong. Apa itu?" Riku kemudian memakan potongan croissant-nya yang terakhir.
"Ah ya, petir menyambar kabel telepon dan pusatnya. Sehingga waktu yang diperlukan untuk memperbaikinya sekitar seminggu lebih." Sang pelayan kemudian menyerahkan sesuatu kepada Riku. "Dan.. karena itupula... karena kediaman ini tidak bisa dihubungi lewat telepon, count Mizumachi mengirimkan surat ini kepada anda."
Riku menerima surat itu, membukanya, kemudian membaca isinya. "Hmm.. dia cepat bergerak seperti yang dibicarakan ya.. belum ada sehari dia sudah mulai berulah lagi. Sial." Riku melipat surat itu kemudian memasukkannya ke dalam amplop. "Siapkan kereta kuda, aku akan menuju ke rumah Mizumachi sekarang."
"Eh? Memangnya si pencuri itu sudah mengeluarkan surat peringatan lagi?" tanya Sena sambil meneguk cokelat hangatnya.
"Ya, geraknya cepat. Karena itu tidak ada waktu bagi kita untuk bersanta-santai." Riku bergegas menyusun barang-barangnya, seperti persediaan pisau kecil atau yang lainnya, memakai sarung tangan hitam lalu mantelnya. 'Walau aku bingung… kemarin sepertinya tembakanku tepat mengenai salah satu bagian tubuhnya.. tapi hari ini dia langsung saja bergerak.. padahal aku tidak yakin lukanya sudah sembuh secepat itu'
"Hu uh." gumam Sena pela, kemudian melihat Riku keluar dari ruang makan. "Tu-tunggu aku!" Sena langsung berlari menuju Riku. "Aku ikut!"
Riku menoleh ke belakang dan bertemu pandang dengan Sena. "Ikut?" gumam Riku perlahan kemudian memegang pundak Sena. "Dengar ya, aku sebenarnya tidak masalah kau mau ikut atau tidak.. tapi aku mencemaskan keselamatanmu.. hanya itu."
Sena memandang mata Riku, kemudian pandangannya berubah menjadi sedih. "Aku tidak akan merepotkan lagi. Lagipula… lagipula.. aku tidak mau ditinggal lagi.." ucapnya. 'Ya.. aku tidak mau ditinggal lagi.. seperti waktu itu' Sena perlahan mengangkat tangannya dan menempelkannya di telinganya.
Riku memandangi Sena dengan rasa prihatin, "Ya. Baiklah, kau ikut. Lagipula, aku tidak akan pernah meninggalkanmu kemana-mana." Riku kemudian naik ke atas kereta kuda dan mengulurkan tangannya kepada Sena. "Ayo, sini."
Sena memandangi Riku, "Benarkah?" tangannya menggapai tangan Riku. "Kau tidak akan meninggalkanku?" tanya Sena.
"Tidak. Tidak akan pernah, kecuali, jika memang itu sudah takdir dari kita berdua."
~~~ooo000ooo~~~
Ketika Riku dan Sena sampai di kediaman Mizumachi, mereka melihat sebuah bangunan super luas dan besar, mirip dengan kastil-kastil barat jaman pertengahan. Dan langsung dikejutkan dengan sebuah patung lumba-lumba besar di depannya. Patung yang menghadap ke ufuk timur ini. Patung lumba-lumba yang memakai bahan perak, sehingga dapat memantulkan sinar matahari, dan setiap dia memantulkan sinar matahari, pasti ada garis sinar yang merembet dan mengarah menuju kolam renang yang besar itu.
"Selamat datang, count Riku.. dan satu lagi… count Sena ya?" Mizumachi datang lalu menjabat mereka berdua. "Uwah! Kau beruntung ya Riku, kau dijodohkan oleh Ibu Suri dengan count semanis ini! Surat pemberitahuannya sudah sampai kepdaku lho!" dia menepuk-nepuk pundak Riku sambil tertawa keras.
"Apa?!" sebelum Sena mulai teriak-teriak dengan kata-kata cercaan lain, tangan Riku sudah membekap mulut dia duluan. 'Kenapa… kenapa sudah dikasih tahu.. sudah diberitahu... Ibu Suri benar-benar…' Sena mengepalkan tangannya erat-erat.
"Err.. nah, bisa kau beritahukan kepada kami.. desain rumahmu itu seperti apa?" Riku nyengir-nyengir sambil terus membekap mulut Sena. Kemudian berjalan mengikuti Mizumachi. Mereka dibawa ke perkarangan rumah yang besar itu.
"Nah, ini kolam renang!" ucap Mizumachi sambil menunjuk-nunjuk kolam renang itu. "Aku sangat menyukai kolam renang ini! Karena selain airnya bisa hangat akibat terpaan sinar matahari, airnya juga menjadi berkilau dan indah! Tepat pada matahari terbit!"
Riku memperhatikan kolam renang itu, dan melihat garis yang berasal dari patung dan menuju ke kolam renang. "Berkilau ya." gumamnya. Kemudian mereka dibawa ke dalam rumah, ternyata berbeda dengan Kakei, dia tidak mengharuskan semua penjaga ada banyak di setiap kamarnya. Kemudian Riku melewati sebuah kamar, kamar yang lumayan gelap, menghadap ke arah Barat, namun masih terkena cahaya matahari walaupun sedikit.
Di ruangan itu, banyak kardus-kardus, maupun lemari-lemari besar yang banyak lacinya. Ruangan yang sangat sumpek dan kotor, lebih dominan disebut gudang. "Mizumachi, ruangan apa itu?" Riku menunjuk ruangan itu, Sena mulai memperhatikan Riku.
"Oh.. hanya gudang biasa yang sudah tidak terpakai. Memangnya ada apa?"
"Tidak. Tapi.. sama sekali tidak ada ventilasi udara disana… aku ragu disana ada yang bertahan.." balas Riku.
"Memangnya kau pikir siapa? Tikus?" sesudah berkata seperti itu, Mizumachi terkekeh sendiri.
"Yah, bisa jadi tikus.. atau pencuri," Riku berkata sambil tersenyum. "Bolah kulihat peringatan dari pencuri itu?" tanya Riku.
"Boleh saja." Mizumachi mengambil surat itu dari kemeja-nya kemudian menyodorkannya kepada Riku.
Riku mengambil surat itu dari tangan Mizumachi kemudian membacanya. Sena yang berdiri disebelahnya mulai ikutan membaca.
Kepada Count Kengou Mizumachi yang terhormat.
Siang ini aku akan datang, mengambil permata kerajaan-mu. Dibalik sinar matahari yang cerah dan hangat, namun tertutup walau berbeda arah. Disanalah aku akan datang.
The Thiever
"The Thiever.." Riku bergumam kemudian menatap Sena. "Jika huruf 'r' dihilangkan… maka akan menjadi 'Thieve' yang berarti mencuri…" Riku menggerakkan tangannya untuk memegang dagunya. "Hmm… selera-nya rendah sekali untuk membuat nama panggilan seperti itu.."
"Hei.. kau malah mengejek nama seperti itu. Bukankah lebih baik kita meminta kepada count Mizumachi untuk diberitahu dimana permata-nya agar kita lebih gampang melindunginya?" ujar Sena yang berdiri di samping Riku.
"Aduh.. kau orangnya khawatiran sekali ya, sayang." Riku terkekeh dengan sifat Sena itu.
"E-enak saja! Jangan panggil aku dengan sebutan itu!" Sena memprotes omongan Riku itu.
"Kalau kita minta beritahu, otomatis kita akan menuju dimana ruangan tempat menyimpan permata itu berada. Dan pada saat itu juga sang pencuri akan mengikuti kita.. dan langsung mengambil permatanya. Lebih baik kau tidak usah terlalu khawatir." Riku tersenyum ke arah Sena.
"Walau.." tangan Riku memegang dagu Sena dengan cepat. "Khawatir itu bagus…" ucapnya menyeringai sambil mendekatkan mukanya ke muka Sena. Ketika bibir mereka hampir bersentuhan, Riku malah menyeringai, "Lagipula aku sudah tahu dimana tempat permata-nya." Setelah berkata itu, dia melepaskan tangannya dari dagu Sena.
"A-apa?" Sena yang masih terkejut sekaligus panik dengan tingkah Riku itu kemudian menjadi heran. Baru saja mereka masuk ke dalam rumah ini, dan belum seluruhnya diterangkan, Riku sudah tahu terlebih dahulu. "Memangnya ada dimana?"
Riku menyeringai ke arah Sena, "Ternyata… The Thiever dan pemilik rumah ini sama-sama memanfaatkan sinar matahari. Walau tempat The Thiever datang dan dimana permatanya bersembunyi hampir sama."
"Hah?"
~~~ooo000ooo~~~
TBC
~~~ooo000ooo~~~
Nyahaha~
Kayaknya jawabannya tidak ada yang benar yah? -.-"
Ya sudahlah~ :))
Ho oh… panjang banget nih chap.. O.o
Pertanyaan lagi ada dong~
1. Jika Riku dan Sena termasuk diantara daftar count yang permata-nya akan dicuri.. kenapa sehabis Kakei adalah Mizumachi? Bukan Riku ataupun Sena? (kayaknya ini tidak terlalu susah ya?)
2. Ada yang tahu dimana tempat permatanya berada? (clue: surat dari Thiever, sikap Riku, dan penjelasan tentang rumahnya)
Yak.. cukup itu aja deh pertanyaannya~
Silahkan jawab lewat repiu~ :))
Sorry if there are many typo…
Review? Flame are allowed too… :D
