Chapter 2

draco pov

1. Hogwarts kelas 6

Draco memutar bola matanya, menggosok pipinya yang habis di tampar oleh Parker-Potter. Merlin! Dasar menyebalkan! Dia yang mengajak Draco berkencan, dan apa yang dia harapkan? Harusnya dia tahu bahwa Draco tak akan mau berkencan dengan cewek seperti itu. Draco bergidik melihat pakaian mugglenya. Ayahnya akan membunuhnya kalau tahu dirinya berkencan dengan wanita seperti Potter.

Dan Draco berbaik hati menawarkan waktunya, dengan syarat cewek itu memberikan tubuhnya. Memangnya salah?

Di sudut, dia mulai mendengar kasak-kusuk anak-anak, yang pastinya akan siap menyebarkan gosisp kseluruh sekolah kalau Draco habis ditampar oleh cewek jelek Gryffindor yang rupanya tak sadar bahwa dirinya tak pantas untuk cowok seperti Draco Malfoy.

sebal, Draco mengumpulkan barang-barangnya, dan berjalan kembali ke asramanya. Dia melanjutkan mengerjakan PR di kamarnya, menggunakan literatur yang sangat terbatas, terimakasih untuk Parker the Gryffindor.

Dua jam kemudian, dia menggulung perkamennya, tepat saat terdengar ketukan. Blaise dan Theo masuk dengan seringai menggoda.

"Well, well, lihat siapa yang habis mendapat tamparan dari singa betina?" Goda Theo, menjatuhkan dirinya ke kasur Draco, sementara Blaise duduk di karpet.

Draco memutar bola matanya. "Shut up kalian berdua. Sungguh cewek menyebalkan. Kutebak beritanya terdengar ke seantero sekolah."

Blaise dan Theo terbahak.

"Kenapa dia menamparmu?" Tanya Blaise. "Kau tidak melecehkannya kan?"

"Heran juga kalau memang iya, Harry Potter tak terlihat seperti tipe mu," kata Theo penasaran.

Draco cemberut. "Yang benar saja! Perlukah aku memperjelas? Cewek itu mengajakku berkencan, dan aku menolaknya! Dan dia menamparku, si sialan itu!" Ketus Draco. "Apa yang dia harapkan? Aku bahkan tak tahu namanya!"

Blaise mengangkat sebelah alis. "Kita sekelas dengan Potter selama 6 tahun, Draco. Masa kau tak tahu namanya!"

Draco mengangkat bahu. "Dia hanya sangat tak menarik, kan? Bukan salahku aku tak tahu dia."

Theo mendengus. "Aku selalu menganggap Potter cewek yang... easy going? Dia selalu tenang dan santai. Tak menyangka hanya karena kau tolak dia bisa begitu marah," katanya.

Draco mengangkat bahu lagi. Blaise menatapnya curiga.

"Dipikir-pikir, aku juga heran," katanya. "Apa yang kau katakan padanya? Bagaimana kau menolaknya?"

"Well," kata Draco. "Aku memanggilnya Parker. Kukira itu namanya, oke? Dan... aku mengatakan bahwa aku tak mengencani cewek jelek."

Theo tergagagp, sedang Blaise terbahak.

"Merlin!" Kata Blaise. "Kau sungguh tepat sasaran. Terus?"

Draco nyengir malas. "Lalu dia bilang namanya Potter. Dan aku ingat kau pernah cerita tentang dia. Yatim piatu. Darah campuran. Aku memberitahunya bahwa aku tak berkencan dengan yang sosialnya lebih rendah dariku. Bahkan tidak untuk acara amal."

Blaise memegangi perutnya, tertawa terbahak, sementara Theo sudah duduk, menatap Draco tidak terkesan.

"Dan kurasa aku kasihan padanya, dia terlihat sangat kecewa, entah kenapa," kata Draco lagi, menatap geli Blaise. "Heran kan? Dia berharap aku bilang iya! Mungkin di asrama Gryffindor tak ada kaca? Kurasa aku akan bilang ayah untuk menyumbang cermin untuk asrama Gryffindor. Maksudku, wajahnya sungguh kecewa!"

Theo menggeleng, sementara Blaise tampak sangat terhibur.

"Dan aku ingat ulangtahunmu minggu ini Blaise," kata Draco. "Jadi kutawarkan kesempatan untuk tidur denganku, dengan syarar dia mau tidur denganmu selanjutnya..."

Theo bangkit, matanya menatap marah Draco. "Kau... astaga Draco! Panatas saja dia menamparmu!"p

"kau ini kenapa sih?" Tandas Draco, mengernyit. Blaise berhenti tertawa. "Aku hanya berbuat baik kan? Cewek-cewek lain tak pernah protes..."

Theo menarik napas. "Kali ini kau keterlaluan, pikirkan bagimana perasaannya!" Bentaknya. "Aku pernah berpasangan dua kali dengan Potter, dan dia sangat ramah padaku. Dia gadis yang baik. Aku heran apa yang dia lihat darimu."

Draco dan Blaise tergagap. Theo bukan tipe yang mudah emosi. Easy going. Seperti yang dia katakan tentang Potter. Rupanya Draco punya pengaruh hebat membuat marah para manusia easy going...

"Kau... apa kau naksir Potter?" Tanya Draco syok.

Theo mendesah putus asa. "Aku tak perlu naksir seseorang untuk memberikan respek pada mereka kan?" Ketusnya. "Caramu menolak... seolah dia bukan manusia. Apa yang dia lakukan padamu sampai kau harus menolaknya seperti itu?"

Draco dan Blaise bertukar pandang. Di antara mereka bertiga, Theo yang moralnya paling tinggi. Blaise dan Draco selalu menggodanya, mengatainya bukan Slytherin sejati.

"Yang kau lakukan itu kejahatan," kata Theo lagi. "Kalau aku jadi dia, aku tak akan hanya menamparmu." Lalu dia berjalan menghentak keluar kamar dan membanting pintunya keras-keras.

Hening.

"Well," kata Blaise akhirnya. "Kalau Theo sampai semarah itu, mungkin kau memang sangat bersalah."

Draco cemberut. "Aku tak akan meminta maaf pada Potter, kalau itu maksudmu. Dia yang mengajakku kencan! Aku sedang duduk, mengerjakan PR, dan dia datang mengajakku kencan! Kenapa aku yang harus repot meminta maaf!"

Blaise mengangkat bahu. "Moral," katanya tak peduli.

Draco menjatuhkan badannya ke kasurnya. "Lagian cewek itu sama sekali tak pentinh untukku. Aku tak mau berinteraksi dengannya seumur hidupku lagi..."

"O-kay," kata Blaise. "Mau main catur?"

Draco mengangguk, berusaha menyingkirkan wajah sakit hati Potter dari kepalanya.

-dhdhdhdh-

Besoknya, Draco di goda sepanjang hari soal insiden penamparan ini. Kesal sekali pada Potter, dia ingin menumpahkan amarahnya pada cewek itu karena berani menamparnya. Tapi Potter bolos kelas. Dia tidak datang di semua kelas bersama Gryffindor-Slytherin. Dan Draco harus mendapat tatapan murka dari para singa, sementara si Potter dengan enaknya bolos!

Untungnya, liburan Natal datang. Draco akhirnya bisa melupakan soal kejadian itu, berharap semua anak sudah lupa saat masuk semester baru.

Draco benar-benar sudah lupa soal Potter, sampai masuk sekolah kembali di semester Januari. Dia melihat Potter sedang tertawa terbahak-bahak dengan Weasley di aula besar saat makan malam di hari pertama masuk sekolah. Draco mendengus. Rupanya cewek itu juga sudah melupakan Kejadian di perpus itu.

Hari demi hari berlalu, dan Draco sadar bahwa Potter tak pernah menatapnya. Tak satupun kerlingan ke meja Slytherin, atau tak sengaja menatapnya di kelas. Dia bersikap seolah Draco lenyap dari dunia ini. Oh, baiklah, baguslah kalau begitu. Jadi Draco tak perlu meminta maaf atau apa. Bukannya Draco mau minta maaf pada cewek itu!

Saat bentrok antara Slytherin dan Gryffindorpun, cewek itu tampak tak ingin ambil pusing. Dia akan menyelinap pergi, seolah tak ingin ikut campur. Panatas saja Theo cocok dengan Potter. Mereka punya sifat yang sama.

Draco menyadari bahwa dia dan Potter sekelas di hampir semua pelajaran. Bagaimana Draco bisa tidak menyadari keberadaan cewek itu sebelumnya, dia tak tahu. Tapi memang tak ada yang menarik dari diri Potter. Cewek itu sangat berantakan, seperti cowok. Draco berjengit saat Potter telat masuk kelas Transfigurasi, rambutnya dia gelung dan kentara sekali tidak dia sisir. Merlin, Draco akan pilih tidak masuk kelas daripada tidak sempat menyisir rambut!

Theo sudah tidak marah lagi pada Draco, tapi rupanya masih menjalin persahabatan dengan Potter. Dia dan Potter cekikikan di sudut paling belakang kelas ramuan, entah membicarakan apa. Saat Draco menanyainya seusai kelas, Theo menatapnya aneh. "Kenapa kau peduli?"

"Aku tidak peduli, aku hanya penasaran apa yang dikatakan cewek model begitu sampai bisa membuatmu tertawa seperti itu."

Theo mengangkat bahu. "Tenang saja, tidak akan menarik untuk model Yang Mulia sepertimu. Ini hanya bercandaan kami para rakyat jelata," tandasnya, lalu berjalan duluan.

"Merlin," kata Blaise, menggeleng-geleng. "Kalau aku tidak tahu dia naksir berat pada Ron Weasley, aku akan bilang dia jatuh cinta pada Potter."

Draco hanya bisa mengatupkan rahangnya, sebal.

Mendekati ujian, Draco lupa pada semua hal kecuali nilainya. Dia sedang di perpus lagi, mencari literatur soal Transfigurasi, kelemahan terbesarnya, saat dia mendengar suara. Potter. Dan seorang cowok?

Draco mengintip sedikit dari celah rak di depan mereka. Potter sedamg bersandar di rak buku. Si cowok berdiri di sampingnya. Draco ingat cowok itu Ravenclaw, Boot? Sangat jago Transfigurasi.

"Merlin, aku benci ramuan," kata Potter, menggeleng, rambutnya jatuh menutupi matanya. Boot dengan gesit menyibakkan rambut Potter ke belakang telinganya, membuat cewek itu merona. Draco mendengus.

Apaan. Theo jelas terlalu berlebihan. Potter bahkan sudah move on! Dengan kesal Draco berjalan ke salah satu meja dan duduk. Dia memelototi buku Transfigurasinya. Sungguh buang-buang waktu. Di sini Draco, berpikir bahwa Potter masih marah padanya...

Memangnya kenapa kalau Potter marah padanya? Cewek itu bukan apa-apa!

Dengan tekad kuat, Draco menyingkirkan segala pikiran soal Potter, dan mulai membaca.

Akhir semester itu bebas insiden Potter. Draco tahu Potter menghindarinya bagai plak. Bukannya Draco ingin bertatapan dengan cewek itu atau apa, cuma lama-kelamaan menyebalkan juga.

Dia pernah berpapasan dengan Potter di koridor, dan Potter bisa tidak menatapnya. Mata cewek itu lurus ke depan, seolah Draco cuma debu yang tak layak dilirik sekalipun. Ingin rasanya Draco memaki cewek itu, mengatainya bahwa bukan salah Draco kalau dirinya jelek, darah campuran, yatim piatu, dan miskin kan?!

Bukannya Draco berharap disapa atau bagaimana, tapi setidaknya permintaan maaf karena sudah menamparnya harusnya cewek itu lakukan kan?

Draco marah pada dirinya sendiri. Kenapa dia masih memikirkan Potter sih!

-dhdhdhdh-

7. Hogwarts, kelas 7

Draco menjatuhkan diri ke tempat tidurnya, masih dengan jubah Quidditchnya.

Kalah.

ini pertama kalinya pertandingan yang dia ikuti kalah. Potter menangkap snitch lebih dulu dari dia. Bagaimana bisa?! Inj pertandingan pertama cewek itu! Melawan Draco yang pro, pahlawan Quiddditch...

Kesal luar biasa. Apakah cewek itu berniat membalas dendam pada Draco? Membuat Draco jadi bulan-bulanan seluruh sekolah karena dikalahkan oleh cewek tak punya bakat macam dia?

Draco menutup matanya, terbayang mata hijau Potter. Mata itu besar, berbentuk buah badam. Ini pertama kalinya Draco menyadari mata cewek itu. Potter selalu menghindari menatapnya, tapi rupanya tadi cewek itu lupa dan menatap Draco.

Draco bangkit. Wasting time, ngapain dia memikirkan mata Harry Potter. Kesal, dia mandi, lalu turun ke ruang rekreasi, berharap Pansy mau memuaskannya di ranjang. Dia sedang butuh pengalihan perhatian...

-dhdhdhdh-

Akhir November di aula besar, Draco melihat Potter masuk ke aula dengan senyum lebar. Cewek itu melambai ke arahnya.

Draco membelalak. Sungguhkah? Benarkah cewek itu melambai padanya? Setelah setahun penuh mengabaikannya bagai kotoran anjing... Draco mengerjap, bingung, tangannya masih memegang roti bakarnya dengan bodoh...

Senyum Potter melebar, dan cewek itu berjalan ke arahnya. Draco menelan ludah. Bagaimana... apa yang akan cewek itu lakukan? Dia terlihat sedang senang... apakah dia akan duduk di sebelah Draco? Draco merasakan tenggorokannya kering...

Lalu...

Cewek itu melewati Draco.

"Terry!"

Draco menoleh cepat, melihat Potter memeluk Terry Boot, yang duduk di meja Ravenclaw. Beberapa anak Ravenclaw bersuit-suit menggoda. Boot nyengir lebar, menarik Potter duduk di sebelahnya.

"Aku dapat suratnya!" Kata Potter penuh semangat. "Mereka menerimaku!"

"Selamat!" Kata Boot, tersenyum lebar, membelai kepala Potter, yang masih berjingkat saking girangnya. "Pesta! Bagaimana kalau kita menyusup ke Hogsmead? Butterbeer berdua..."

Potter menarik napas. "Apakah aku salah dengar? Prefek Terry Boot yang terhormat, mengajak melanggar aturan sekolah!" Godanya.

Boot nyengir. "Special occasion. Anything for you baby," katanya menggombal. Potter tertawa, menggeleng.

Lalu seseorang menyikut Draco, yang tersadar bahwa dirinya sedang menatap Potter dan pacarnya, menguping mereka!, dan dia berbalik ke roti ditangannya.

Blaise yang menyikutnya, bertanya, "Ada apa?"

Draco menggeleng cepat. "Nope." Dia memakan rotinya, tapi mendadak tidak senafsu tadi. Dia meletakkan rotinya, meminum kopinya, lalu bangkit berdiri.

"Aku duluan," gumamnya, berjalan cepat keluar aula besar.

Potter memang sangat dekat dengan Boot. Pansy bilang mereka hanya teman, tapi Draco tak percaya. Potter memang jarang makan di meja Ravenclaw, mungkin hanya 2 atau 3 kali. Tapi Boot sering sekali makan di meja Gryffindor, tertawa-tawa dengan Potter dan teman-temannya.

Potter nampaknya memang sudah sungguhan move on dari Draco. Mungkin cewek itu tak pernah benar-benar menyukai Draco dari awal?

Draco menggeleng-geleng. Sungguh tidak penting memikirkan yang seperti ini!

-dhdhdhh-

Potter bermain lagi. Menang lagi, mengalahkan seeker Hufflepuff Zacharias Smith. Smith jelas tidak sejago Draco, dan Draco akan heran kalau Potter kalah darinya. Mendadak, Potter menjadi sangat populer, membuat Draco entah kenapa sangat sebal.

Draco sempat menonton cewek itu latihan Quidditch. Terbangnya memang sungguh bagus. Dia heran kenapa Potter baru bergabung tahun ini? Dengan terbang seperti itu, pasti Gryffindor bisa menang tahun ini...

Getir, Draco berlatih lebih keras lagi. Dia harus memenangkan Quidditch! Ini tahun terakhirnya di Hogwarts, dan dia ingin membuat rekor bagi Slytherin, menang 6tahun berturut-turut.

Potter masih tidak memberinya satupun tatapan. Bukannya Draco peduli. Tapi tetap saja menyebalkan rasanya tidak di anggap seperti itu. Dia bertemu Potter lagi di perpustakaan. Dan cewek itu sedang berciuman dengan Terry Boot.

"Lima angka dari Gryffindor dan Ravenclaw," tandas Draco. Potter dan Boot melepaskan diri. Boot memelototinya, sedang Potter membereskan barang-barangnya tanpa menatap Draco. "Apa? Aku ketua murid, dan sebagai prefek harusnya kau tahu aturan tentang perpus," kata Draco dingin pada Boot. Boot memberinya tatapan jijik, lalu menggandeng Potter keluar perpus. Draco menatap tangan mereka yang bertautan.

Hanya teman apanya, geram Draco dalam hati, membanting tas nya ke meja, mendadak keinginannya belajar hilang.

-dhdhdhdhd-

bersambuuung

sekilas tentang Draco. Next chapter! Makin seruu.. makin angstyyy

terimakasiih buat reviewnyaa.. maaf blm bisa balas

jgn lupa review chapter ini untuk update kilat yaa :*