Judul: Blue Heart

Cast: Jimin, Yoongi (Suga) dan lainnya

Genre: Romance, Hurt

Btw, saya bukan army dan ini pertama kali juga bikin cerita dengan pair JiminSuga, kalau ada kesalahan penulisan nama dan tempat saya mohon maaf. Jika ada kemiripan jalan cerita juga saya mohon maaf karena itu sama sekali ga disengaja.

Enjoy!

.

.

.

"Direktur Park Jimin."

Yoongi melewati beberapa detik dalam sunyi setelah nama itu sebutkan, oleh Dokter Shin yang kemudian mempersilahkan Jimin untuk menyapa mereka satu persatu. Sosok itu benar-benar nyata, bukan ilusi belaka...Park Jimin benar-benar berada dihadapannya, Park Jimin-nya delapan tahun lalu.

"Sstt, Yoongi-yah." Changsub menyikut lengan Yoongi yang langsung kembali tersadar karena pemuda itu tengah gelagapan saat ini.

"Eh, ah." Ia membungkuk dalam bermaksud memberi hormat pada sang direktur baru namun ia meringis karena menyadari telah mengabaikan uluran tangan Jimin cukup lama "Maafkan saya, sajangnim."

Sementara Jimin hanya tersenyum tipis saat akhirnya Yoongi menyambut dan menjabat tangannya "Senang mengenalmu, Dokter Min Yoongi."

Oh, damn sweet cheese crackers.

Park Jimin masih mengingatnya!

"Kuharap kedepannya kita dapat bekerja sama dengan baik demi masa depan rumah sakit ini."

Itu adalah suara terakhir Jimin sebelum akhirnya meninggalkan ruang kantor bersama Dokter Shin. Yoongi masih terpaku ditempatnya saat yang lain telah bubar, lebih tepatnya kembali ke meja masing-masing. Ia masih berusaha menerima masak-masak apa yang baru saja terjadi, Park Jimin, laki-laki yang ia sukai...pernah ia sukai maksudnya, delapan tahun lalu, mantan kekasihnya delapan tahun lalu, laki-laki yang mencampakannya saat hujan juga delapan tahun lalu.

Kini ada disini, di Korea Selatan, di Seoul, tepatnya di Rumah Sakit ini, tempatnya bekerja dan itu dapat ditafsirkan jika mereka akan bertatap muka hampir setiap hari.

Demi garam dilautan.

.

Seorang laki-laki dengan perawakannya yang langsing mengambil gilirannya memilah makanan setelah mengantri sejenak. Ia mulai mengisi nampan makan siangnya dengan menu yang bergizi, pertama ia memindahkan beberapa potong kimbab ke dalam nampan, lalu menyendok kimchi, tempura udang dan terung, nasi secukupnya juga potongan semangka dan terakhir tak lupa mengisi mangkuknya dengan sup ayam. Ia kemudian melangkah menuju tempat duduk terdekat agar dapat lebih cepat menyantap makan siangnya, ia sudah lapar sekali ngomong-ngomong.

Sepotong kimbab telah siap melayang kedalam mulutnya, sampai ketika─

"Baekhyun-ah! Baekhyun-ah! Baekhyun-ah!"

─seseorang mendatanginya dengan tergesa dan menduduki tempat disampingnya, bahkan sampai mengguncang tubuhnya karena terlalu bernafsu.

"Aish, kenapa 'sih." Rutuk Baekhyun meletakan kembali potongan kimbabnya.

"Kau sudah tahu, bukan? Kau pasti sudah tahu." Tuding Yoongi seraya menunjuk batang hidung Baekhyun "Jangan salahkan aku kalau persediaan susu stroberimu lenyap semua dari kulkas."

Baekhyun meletakan sumpitnya dengan kasar "Yak. Apa masalahmu, Dokter Sugar kesayangan anak-anak?"

"Aku membicarakan Park Jimin, jangan pura-pura tidak tahu." Yoongi memelankan suaranya saat menyebut nama direktur baru mereka "Kau pasti sudah tahu kalau adik sepupu Chanyeol-hyung itu Park Jimin yang sama dengan yang kuceritakan padamu."

"Lalu apa salahku, hah? Aku baru kenal dengannya beberapa bulan lalu itu pun melalui video call karena dia masih di Amerika saat itu. Chanyeol pun baru hari ini mengatakan padaku kalau ia akan menjemput adik sepupunya dan langsung membawanya ke rumah sakit. Apalagi yang bisa kukatakan padamu?" Baekhyun mengeluarkan ponselnya dan meletakannya tepat dihadapan Yoongi "Periksa saja ponselku, kau tahu kata kuncinya."

Yoongi yang sudah memasang wajah cemberut melirik ponsel dan pemilikinya secara bergantian, ia telah hampir menyentuh benda pintar itu sebelum akhirnya menggeleng dan menggesernya ke hadapan Baekhyun.

"Ah, sudahlah." Yoongi menghela nafas panjang "Untuk apa mempermasalahkan itu sekarang."

"Aku memang sadar kalau dia adalah Park Jimin yang sama, tapi sumpah aku tidak tahu kalau dia akan menjadi direktur kita sebelum Chanyeol mengirimiku pesan hari ini." Ucap Baekhyun setelah menelan potongan pertama kimbab makan siangnya hari ini, akhirnya sesuatu mengisi perutnya "Lagipula untuk apa aku memberitahumu, kau tidak akan langsung mengundurkan diri dari rumah sakit hanya karena Park Jimin ini adalah adik sepupu Chanyeol, bukan?"

Yoongi mengangguk pelan "Iya, aku mengerti."

"Sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Tidak ada yang akan membuatmu sedih lagi sekarang, delapan tahun sudah berlalu" Baekhyun mengusap pelan punggung Yoongi, lalu mengarahkan sepotong kimbab pada Dokter Sugar kesayangannya itu "Sebaiknya Dokter Sugar makan siang lebih dulu. Aaaaa."

Yoongi hanya pasrah dan menerima kimbab tersebut dalam mulutnya, mengunyahnya lalu menelannya. Setelah kimbab, Baekhyun menyuapinya dengan tempura udang, begitu seterusnya sampai Yoongi benar-benar kenyang disuapi oleh sahabatnya tersebut.

Ia mengerti kalau Baekhyun sebenarnya hanya ingin mengalihkan pikirannya dari memikirkan Jimin. Baekhyun hanya tidak ingin kalau nyali Yoongi harus menciut lebih dulu dihari pertama mereka kembali bertemu setelah delapan tahun. Kehadiran Jimin tentu saja mengorek luka lama yang bahkan belum sembuh sepenuhnya, Yoongi masih dapat merasakan pahit di kerongkongannya tiap kali mengingat kenangan itu.

Ya, perasaannya masih sangat kuat terhadap pemuda itu. Terhadap Jimin.

.

Jimin menghabiskan waktu diruangannya sebagai direktur baru di rumah sakit milik keluarganya. Ia bermaksud membiasakan diri dengan kantornya yang baru dan tak butuh waktu lama karena ia benar-benar menyukai suasananya juga pemandangan yang tampak dari jendela, sebenarnya hanya pemandangan perkotaan biasa, bangunan tinggi dan bangunan kecil bercampur menjadi satu. Hanya saja dari sudut pandang kantornya, ia dapat melihat bianglala raksasa milik salah satu taman hiburan di Seoul yang saat ini masih dalam tahap pembangunan. Chanyeol lah yang menjadi pimpinan proyek pembangunan tersebut.

Ya, selain rumah sakit, keluarga Park Soo-Jong juga memiliki jaringan hotel yang tersebar di penjuru Korea Selatan juga taman bermain di beberapa kota besar.

Chanyeol bilang, bianglala itu akan menyala karena lampu hias saat malam hari...itulah yang membuat Jimin merasa ia menyukai pemandangan kantornya.

Selain itu, sebelum pindah kemari Jimin telah meminta Chanyeol untuk mengubah dekorasi kantor yang akan ia tempati dengan nuansa monokrom. Tidak ada jawaban spesial saat kakak sepupunya itu bertanya mengapa, Jimin hanya mengatakan kalau warna tersebut dapat menetralkan suasana hatinya.

Terdengar bunyi ponsel disertai getaran yang jelas karena Jimin meletakan ponselnya diatas meja. Pria itu mendekati meja dan tersenyum saat melihat nama pemanggil yang tertera di layar ponselnya.

"Halo, Taemin." Jimin menjawabnya seraya menjatuhkan tubuhnya diatas kursi kerja.

"Halo, Jimin." Orang diseberang telpon berbicara dengan semangat, Jimin nyaris saja terkekeh "Jimin-ah. Benarkah kau sudah di Seoul saat ini?"

"Tentu saja, aku bahkan sudah langsung bekerja."

"Aish, kau ini. Kita harus segera bertemu, aku juga akan mengenalkan Yoogeun padamu."

Jimin tersenyum saat mendengar Taemin menyebut nama putranya, langsung terbayang olehnya sosok seorang bocah berusia tiga tahun dengan mata bulat dan pipi tembam yang sangat menggemaskan "Boleh saja, ajak juga Minho, sudah lama aku tidak bicara dengannya."

"Baiklah, aku akan segera menghubungimu kalau sudah menemukan jadwal yang cocok."

"Apa kau sedang sibuk saat ini?"

"Ah, tidak. Bukan aku, tapi Minho yang sedang sibuk-sibuknya mengurus suatu kasus. Yoogeun bahkan kerap kali merengek padaku agar membawanya ke kantor Minho karena rindu setengah mati pada ayahnya itu." Terdengar helaan nafas dari seberang sana.

"Santai saja, aku tidak berencana kembali ke Amerika dalam waktu dekat." Gurau Jimin yang disambut tawa ringan dari Taemin.

"...Jimin-ah."

"Hm?"

"Kudengar Yoongi bekerja sebagai dokter dirumah sakit milik keluargamu?" Taemin terdiam sejenak lalu melanjutkan "Apa itu benar?"

Jimin menjauhkan punggungnya dari sandaran kursi saat mendengar pertanyaan Taemin "Ya, itu benar. Aku bahkan sudah bertemu dengannya."

"Benarkah?! Aish!" terdengar keluhan frustasi dari ponsel Jimin yang hanya membuat sang pemilik mendengus pelan "Aku tidak tahu apa alasan kalian putus delapan tahun lalu, tapi sumpah...sungguh..."

Keduanya terdiam. Jimin memutuskan untuk tak mengatakan apa pun dan menunggu sampai Taemin selesai dengan jeda ucapannya.

"Aku sangat menyayangkan hal itu, hei Park Jimin."

Jimin tertawa kecil "...kenapa memangnya?"

"Mana kutahu, aku hanya suka melihat kalian berdua. Menurutku kalian sangat serasi, aku bersumpah kau akan menyesal jika tidak mengajaknya untuk kembali menjalin hubungan."

Suara tawa halus menjadi tanggapan Jimin untuk kalimat Taemin. Pemuda itu menyapu anak rambutnya kebelakang sambil kembali menyamankan posisinya di sandaran kursi.

"Entahlah Taemin-ah..." ucap Jimin pada akhirnya. Ia memutar kursinya menghadap jendela hingga pemandangan Seoul kembali menjadi objek penglihatannya.

"...Kenapa? Kau tidak lagi menyukainya?"

"Tidak, bukan. Bukan begitu." Buru-buru Jimin menjawab lalu menghela nafas "Aku menyukainya, tapi rasa itu belum kurencanakan untuk menuju hubungan yang lebih jauh.

Kali ini Taemin lah yang menghela nafas "Aku mengerti, Jimin. Aku tidak akan heran jika mengetahui kalau sebenarnya kau sudah memiliki pacar bule yang mungkin nanti akan menyusulmu ke Korea." Jimin tertawa setelah Taemin selesai dengan kalimatnya.

Pacar bule dia bilang? Ada ada saja.

"Tetapi Jimin. Kusarankan putuskan gadis bule itu dan pacari lah Min Yoongi."

"Yak Lee Taemin! Kita sudah bukan lagi anak SMA dan kau masih berani menggodaku seperti ini!" nada suara Jimin meninggi dan itu hanya memicu gelak tawa dari Taemin di seberang telpon.

"Hhhh, kau ini..." desah Taemin yang nampaknya cukup lelah karena menertawai sahabatnya ini "Aku bercanda. Aku bercanda. Aku akan mendukung siapa pun orang yang kau pilih nanti."

Jimin memutar kedua bola matanya malas lalu sengaja mendengus sedikit keras agar terdengar oleh Taemin.

"Jimin-ah, sudah saatnya Yoogeun minum susu jadi aku harus mengakhiri pembicaraan kita."

"Begitukah? Baiklah."

"Tunggu kabar dariku, oke?"

"Hmm."

Setelah memastikan tak ada lagi suara dari telpon, Jimin meletakan kembali ponselnya diatas meja. Pemandangan Seoul kembali berhasil terperangkap di kedua mata coklat gelapnya.

Bohong jika ia berkata tidak berniat mengajak Yoongi kembali merajut kasih. Bohong juga jika ia berkata lebih memilih gadis bule ketimbang Min Yoongi. Hanya saja, ia tidak tahu apakah rasa bersalah yang masih bersarang dihatinya selama delapan tahun ini cukup untuk menjadi alasan yang pantas baginya kembali berhadapan dengan Yoongi. Laki-laki yang pernah ia lukai hatinya.

.

.

.

Pagi ini Yoongi tidak mendapatkan sarapannya karena ia dan Baekhyun sama-sama terbangun melewati waktu yang seharusnya, Baekhyun nyaris terlambat memulai prakteknya sementara Yoongi selamat dari amukan Dokter Shin yang memintanya mengamati pasien berusia tiga tahun dengan penyakit Bronhitis-nya. Sempat pula mereka berebut kamar mandi, meski dalam adu suit Yoongi lah pemenangnya, Baekhyun menerobos pintu dan memaksa mandi bersama.

Tidak memiliki waktu membeli sarapan dijalan, Yoongi memutuskan membeli roti krim matcha di mesin otomatis yang berada di kafetaria, sekalian dengan matcha latte nya juga.

Sembari menyusuri lorong, Yoongi memasukan potongan terakhir rotinya lalu membuang bungkusnya ke tempat sampah yang ia lewati. Pemuda berkulit putih nyaris pucat itu menghampiri pusat informasi anak dimana biasanya perawat berkumpul, menyentuh layar monitor yang terpasang di counter untuk meneliti perkembangan pasiennya, kapan terakhir mereka makan dan obat apa yang terakhir kali mereka dapatkan. Dengan tangan yang sibuk berusaha membuka tutup botol matcha latte-nya, Yoongi mengamati data yang terpampang di layar, sesekali ia berdiskusi dengan perawat yang bertugas disana dan...hei, mengapa tutup botolnya tidak juga terbuka.

"Aish, mengapa susah sekali." Mengabaikan layar monitor untuk mengerahkan tenaganya lebih kuat, ia menolak bantuan dari perawat disana karena merasa penasaran, tidak seperti biasanya tutup botol ini sulit terbuka.

"Berikan padaku, Dokter Min." Itu suara Perawat Goo yang menahan geli melihat wajah cemberut Yoongi. Biasanya dokter satu itu sangat judes terhadap orang lain selain anak-anak, karena itu bila menemukan raut wajahnya yang tengah berusaha keras layaknya anak kecil seperti sekarang ini, sangat sayang dilewatkan.

"Tidak. Aku bisa melakukannya sendiri." Tolaknya angkuh.

Terlalu fokus dengan apa yang dilakukannya, dokter muda itu sama sekali tak menyadari suara langkah kaki mendekat, terlebih diperjelas dengan para staf perawat yang tiba-tiba saja berubah tegang dan menundukan kepala. Kaki terbalut celana bahan hitam itu berhenti tepat di depan Yoongi, sementara yang bersangkutan nyaris kebas tangannya karena tutup botol yang tak kunjung terbuka.

"Aa!" pekik Yoongi melihat botol matcha latte kesukaannya terlepas begitu saja dari tangan.

Namun, ia tak sempat melancarkan protes pada pelaku yang mengambil botolnya begitu mengetahui siapa sesungguhnya orang tersebut. Seorang lelaki yang lalu membuka tutup botolnya dengan sangat mudah kemudian mengembalikannya pada Yoongi dalam keadaan siap minum.

Lelaki itu tersenyum, senyum yang sangat menawan karena hanya satu sudut bibirnya saja yang terangkat "Ambilah, Dokter Min."

Suara ramah itu menyapa indera pendengaraannya, namun tak lantas membuatnya tersadar dan kembali pada keinginannya untuk segera menikmati minuman favoritnya. Sepasang netra Yoongi menatap pria dihadapannya, tinggi mereka tak jauh berbeda, mungkin dirinya hanya satu-dua senti lebih pendek, kulitnya putih mengarah kuning langsat, tak seperti dirinya yang mutlak pucat, surai yang kemarin berwarna blonde kini berganti menjadi hitam kecoklatan dan tertata lebih rapi. Yoongi tak pernah mengira laki-laki yang dikenalnya delapan tahun lalu bisa berubah menjadi setampan sekarang.

"Dokter Min...?"

Suara itu kembali menyapa dan kali ini berhasil menghantarkan Yoongi pada gerbang kesadaran. Dengan gerakan perlahan diraihnya botol matcha latte dari tangan lelaki tersebut.

"Terima kasih, Di-direktur Park." Dokter muda itu sedikit membungkuk, tanpa sadar menggenggam minumnya erat dengan kedua tangan "K-kalau begitu saya permisi dulu."

Membungkuk lagi, kemudian buru-buru berbalik dan melangkah menjauh. Namun belum ada tiga langkah terjalin...suara ramah dan gentle itu membuatnya membatu.

"Dokter Sugar!"

Yoongi meringis tanpa suara, sebelum akhirnya membalikan badan dan tersenyum kaku "Y-ya, Direktur...?"

Pria yang dipanggil Direktur itu tertawa kecil, sedikit menggelikan mendengar Yoongi memanggilnya begitu formal dan kaku, seolah dokter muda itu takut kalau-kalau langsung didepak dari pekerjaannya hanya karena bertatap muka dengan dirinya yang seorang petinggi rumah sakit.

"Mau menemaniku minum kopi sebentar?"

"...ya?" Yoongi memastikan, dan berharap ia salah dengar saat mendengar perawat disekitarnya mulai berbisik-bisik sambil tersenyum penuh arti menatapnya. Ia tidak mau terlibat dalam suatu gosip, demi Tuhan.

Jimin tertawa lagi, kali ini lebih jelas dan terdengar begitu merdu─ eh, apa...merdu?

"Aku memintamu untuk menemaniku minum kopi sebentar, Dokter Min."

Yoongi hanya berharap jika setelah ini para staf rumah sakit tidak menjadikannya bahan bergosip.

.

Dirinya dan Jimin.

Iya, dirinya dan Jimin.

Benar, Park Jimin.

Benar-benar Ji─

Sudahlah.

Yoongi harus menunduk, menyembunyikan wajahnya yang sedikit memerah...─hanya sedikit, iya. Ketika orang-orang, terutama staf menemukannya duduk berhadapan dengan Direktur mereka yang baru, yang masih muda dan tampan, yang katanya juga sangat berpendidikan, bertutur kata lembut namun juga tegas, yang kabarnya lulusan perguruan tinggi ternama di Amerika, yang kabarnya langsung menjadi idola baru dikalangan perawat dan dokter wanita...juga laki-laki berjiwa feminis tentunya.

Jimin baru saja menyesap kopinya saat menyadari kalau pemuda manis didepannya hanya menundukan kepala dan tak nampak berniat menyentuh minumannya.

"Kau tidak ingin meminum kopimu, Dokter Min?"

"Oo...ah, baik..." Mengangkat gelas kertasnya, suhu minuman tersebut langsung terasa membakar lidahnya. Yoongi meletakan kembali minumannya dan mulai mengipasi lidahnya yang sedikit terjulur dengan tangan.

"Kau baik-baik saja?" Jimin turut sedikit meringis, ia yakin tidak lupa mengatakan kalau kopi yang dibelinya adalah kopi panas. Setidaknya Yoongi harus sedikit meniupnya sebelum menyesapnya.

"Aku tidak apa." Jawab Yoongi saat lidahnya sudah lebih baik. Ia sedikit kesal mengingat matcha lattenya tidak bisa ia nikmati karena lidahnya akan mati rasa beberapa menit kedepan.

Dawai merdu tawa Jimin kembali terdengar dan Yoongi sadar jika saat ini dirinya pasti terlihat sangat konyol. Perhatian orang-orang yang berlalu-lalang di kafetaria tak lagi ia pedulikan, karena saat ini ia hanya ingin mendengarkan suara tawa milik lelaki dihadapannya.

"Bagaimana kabarmu, Yoongi-ya?"

Yoongi mendelik saat namanya disebut dengan begitu halus oleh pria didepannya, seketika matanya langsung berbenturan dengan mata Jimin yang nampak lebih matang dari delapan tahun lalu, menandakan kalau anak lelaki yang dulu telah menjelma menjadi pria dewasa.

Doker Muda itu mengangguk pelan bersama senyum tipis yang terlukis diwajahnya "Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu sendiri?"

"Aku pun baik. Setidaknya Bahasa Inggris ku lebih lancar sekarang." Jimin mencoba bergurau dan ternyata berhasil membuat Yoongi sedikit tertawa.

"Bisa dipercaya. Aku akan memaksamu mengajariku secara cuma-cuma nanti."

Dan hanya dibalas kekehan pelan dari Jimin. Telunjuknya menyusuri bibir gelas kertas ketika melihat Yoongi meneguk matcha latte-nya, dan tersenyum saat menemukan kalau dokter muda itu benar-benar menikmati minuman favoritnya. Rupanya kesukaan Yoongi terhadap hal berbau green tea tidak berubah sejak delapan tahun lalu.

"Aku tidak menyangka kau telah menjadi dokter sekarang. Padahal dulu kau sama sekali tidak menunjukan ketertarikan menjadi pekerja medis."

Yoongi terdiam menatap pria dihadapannya, lalu menunduk untuk sedikit menyembunyikan senyum getir yang terlukis dibibirnya.

"Sepertinya kau tidak ingat saat diawal kita menjadi siswa tingkat akhir, aku langsung mengambil bimbel khusus untuk jurusan medis. Apa kau juga lupa kalau kedua orang tuaku adalah dokter?"

Tentu saja...karena tiap kali Yoongi berbicara, perhatian Jimin hanya selalu tertuju pada Taemin.

Tidak pernah, pada dirinya.

"Maaf, aku..."

Yoongi terkekeh pelan lalu sedikit mengibaskan tangannya "Sudahlah, tidak perlu dipikirkan."

Sementara bibir Jimin melukiskan senyum teramat samar bagai tersembunyi, ia memandang Yoongi yang kali menjilat bibir seusai menyesap kopinya yang sepertinya tak lagi panas.

Sejujurnya ia benci situasi canggung, namun sekeras apa pun usahanya untuk bersikap biasa pada Yoongi, ada kisah delapan tahun lalu yang menghambat kerja kerasnya. Ia bahkan tidak ingat sama sekali perihal keinginan Yoongi menjadi dokter, pemuda itu memang selalu mengajaknya bicara mengenai banyak hal, tapi hanya Taemin-lah yang menjadi pusat perhatiannya.

Jimin memang sangat mencintai Taemin...

...dulu.

Ia hanya seorang bocah labil yang tidak tahu kapan harus berhenti dan kapan harus memulai kembali.

"Bagaimana kabar kedua orang tuamu?" akhirnya Jimin mengeluarkan suara setelah menghela nafas yang entah mengapa terasa berat.

"Mereka baik dan membuka sebuah klinik kecil di Daegu."

"Daegu?" Yoongi mengangguk "Itu berarti mereka tidak tinggal bersamamu? Kau tinggal sendiri di Seoul?"

"Tidak. Aku tinggal bersama Baekhyun. Bukankah kau mengenalnya sebagai kekasih kakak sepupumu?"

"Aa." Jimin mengangguk paham, ia mengingat ketika dua bulan lalu Chanyeol mengajaknya melakukan video call karena ingin mengenalkan calon istirnya, hanya sapaan singkat sekedar menanyakan kabar karena setelahnya Baekhyun memilih undur diri dari perbincangan dan membiarkan Jimin menikmati waktunya bersama Chanyeol "Kau sudah lama mengenal Baekhyun?"

Yoongi mengangguk lagi "Bisa dibilang cukup lama, aku mengenalnya sejak kuliah semester pertama."

"Dan kalian menjadi sahabat dekat sampai sekarang, bahkan bekerja di rumah sakit yang sama?"

Sebuah anggukan kembali menjadi jawaban untuk Jimin, kali ini disertai senyum memikat dibibir merah muda itu "Kami bahkan tidak pernah memberi tanda saat menyimpan cemilan di kulkas. Siapa pun bebas mengambil apa yang diinginkan. "

Dan disini Yoongi tidak akan mengatakan pada Jimin kalau sebenarnya Baekhyun juga suka membuka kunci kamar mandi dengan sumpit ─yang ini entah bagaimana si maniak stroberi itu melakukannya─ saat ia sendiri sedang enak-enaknya berendam air panas, kemudian tanpa sungkan melepas pakaian lalu turut merendam tubuhnya di bathtub yang sama.

Tapi Yoongi tidak marah karena setelahnya Baekhyun akan menggosok punggungnya dengan body scrub.

"Bagaimana denganmu, Jimin-ah?" tanya Yoongi saat menemukan Jimin bersama tawa kecilnya "Tidak ingin berbagi cerita tentang teman...atau mungkin pacar bule-mu?"

Jimin cukup senang karena kini Yoongi mulai mengurangi sikap formal dan menyebut namanya seperti biasa, meski ia sedikit yakin kalau dokter muda itu melakukannya tanpa sadar dan hanya terbawa suasana. Tapi apa tadi dia bilang─

Pacar bule...?

Jimin tertawa...lagi. Sepertinya ia banyak tertawa hari ini padahal pagi baru saja berganti siang.

"Pacar bule? Kenapa kau dan Taemin sama saja. Aku tidak punya waktu untuk pacar bule atau pacar apa pun karena yang kulakukan hanya giat belajar agar dapat bertahan di Harvard."

Keterdiaman menjemput Yoongi. Dan kenyataan yang membuatnya menyambut sunyi bukan karena Jimin bilang dia belum memiliki kekasih...tapi karena pemuda itu menyebut nama Taemin.

Taemin yang menjadi alasan Jimin meninggalkannya kala itu.

Yoongi meremat botol minumnya, saat rasa pahit itu kembali menyakiti tenggorokanya. Sesungguhnya tidak ada yang salah, meski Taemin sudah menikah dan tetap berhubungan dengan teman sejak kecilnya bukanlah hal yang merugikan siapa pun.

Hanya saja...

Hanya saja melihat Jimin tersenyum─ senyum yang berbeda, lain dari senyumnya yang biasa menurut Yoongi, saat menyebut nama Taemin...

Senyum itu adalah senyum yang tidak mampu Yoongi raih. Senyum yang tidak dapat dimilikinya.

"Ehm. Direktur Park."

"Ya?" Jimin sedikit tidak suka mendengar panggilan itu lagi.

"Kurasa..." Yoongi terdengar seperti bergumam, ingin meringis saat tidak menemukan jam di pergelangan tangan kirinya. Oh, ia lupa mengenakannya pagi ini karena terlambat, membuatnya gagal untuk sedikit berakting "Kurasa kita sudah cukup lama menghabiskan waktu disini...bagaimana jika kita kembali pada pekerjaan masing-masing?"

Jimin terdiam menatap Yoongi beberapa detik, lalu mengangguk "...baiklah kalau begitu."

Tanpa pikir panjang Yoongi segera berdiri, mengabaikan gelas kopi yang masih terisi setengahnya, juga botol matcha lattenya yang belum habis.

"Saya permisi lebih dulu, Direktur." Yoongi membungkuk dan mulai melangkah menjauhi meja.

Jimin menghela nafas, ia sempatkan diri untuk mengusap wajahnya kemudian berdiri, sekarang atau tidak sama sekali sebelum punggung sempit itu menghilang.

"Yoongi-ya!"

Jujur saja, Jimin sendiri kaget kalau suaranya akan keluar sekeras ini hanya untuk memanggil seseorang yang saat ini menoleh lalu berbalik kearahnya.

"Bisakah...kita minum bersama lagi nanti?"

Yoongi terdiam dan menatapnya polos, sepertinya pemuda manis itu juga kaget sama sepertinya. Tak lama ia tersenyum─ yang oh, sangat manis dan mengangguk pelan. Setelahnya ia melangkah cepat, nyaris berlari memasuki lift untuk meninggalkan kafetaria.

Jimin menghela nafas lega setelah itu.

Sangat...lega.

.

Yoongi langsung melangkah cepat begitu pintu lift terbuka dilantai tiga, dimana Departemen Kesehatan Jantung dan Kardio berada. Pemuda berparas teduh itu berjalan terburu-buru dengan kepala tertunduk, ia merasa pandangannya mulai sedikit buram karena sesuatu mulai menggenang disana, dan sangat sulit mempertahankannya untuk tidak menetes.

Ia berbelok disebuah persimpangan dan tubuhnya langsung saja menabrak seseorang yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya. Yoongi mundur beberapa langkah akibat tabrakan tersebut.

"Oh! Yoongi-ya, sedang apa kau disini?" suara Baekhyun membuat Yoongi mengangkat wajahnya secara refleks, sahabatnya itu sepertinya sehabis melakukan operasi melihat pakaian yang dikenakannya.

Dan melihat senyum Baekhyun...membuat Yoongi tak bisa menahan diri untuk menerjang pemuda itu dan memeluknya erat.

"Y-Yoongi...?"

Baekhyun terhuyung beberapa langkah kebelakang saat kedua tangan Yoongi telah melingkari lehernya hingga ia dapat menghirup sedikit aroma pengharum seprai mereka dari rambut sahabatnya itu.

"Ada apa Yoongi?" Baekhyun bertanya lembut dengan tangan yang telah mengusap-usap punggung Yoongi.

Sementara yang bersangkutan tak langsung menjawab melainkan semakin membenamkan wajahnya di leher Baekhyun, benar-benar menyembunyikan wajahnya hingga tak rampak sedikit pun, masa bodoh bila hal itu membuatnya kesulitan bernafas.

"Aku masih menyukainya, Baekhyun-ah..."

Suaranya terdengar begitu lirih.

"Aku masih mencintainya..."

.

.

.

TBC