Important:
Minna-san, Ada yang tahu kenapa Review yang gak log in harus nunggu selama beberapa hari supaya muncul? :( kasihan yang harus Review berulang kali biar masuk Reviewnya : ( mohon bantuanya, ya! ^_^ Oh ya, sebenarnya fict ini pengen tak bikin One-shot tapi ga bisa : ( jadi mohon maaf jika hanya triplechap dan besok chapter terakhir :( maaf minna-san… *bungkuk* juga, mohon maaf untuk My Wife Is Hinata belum bisa update besok karena sewaktu hika negtik, mati lampu :'( automatic Recoverypun hanya bisa membantu 50% jadi mohon maaf minggu depan baru bisa update :'( mohon pengertianya :(
HARD WARNING:
Pair: Sasuke Uchiha X Hinata Hyuuga
Rate: T
Disclaimer: Naruto punyanya Masashi Kishimotto-san ^_^
Typo(s), EYD, chap ini banyak OC, alur Kecepetan dan FULL OF SASUHINA'S SCENE! So, yang ga suka dengan pair SASUHINA harap tekan tombol BACK!
Happy Reading ^_^
.
.
.
Anata
.
.
.
Hari sudah menjelang malam, namun jejak akan Gulungan wasiat milik Negri Hanagakure juga belum menemukan titik terang bahkan setelah Dua Hari kedatangan mereka kesini. Hinata menyisiri dinding yang terbuat dari Emas campuran tersebut dengan perlahan, mencoba mencari celah atau tombol rahasia yang siapa tahu bisa ditemukan. Mereka sama sekali tidak memiliki petunjuk apa-apa untuk memecahkan misi kali ini.
"Ada kemungkinan dicuri." Sasuke berhenti memeriksa Lemari kecil yang terbuat dari kaca tembus pandang tersebut dengan kesal, tidak ada sedikitpun sidik jari maupun jejak yang mencurigakan yang tertinggal di lemari tempat menyimpan Gulungan tersebut. bagaimana mungkin sebuah Negara bisa sampai teledor menghilangkan Benda Pusaka sejarahnya? Ck, tidak berguna.
"Umm… Uchiha-san, tidak ada tombol rahasia apapun disini." Heirress Hyuuga tersebut kemudian menon-aktifkan Byakuganya. "S-sepertinya memang ada kemungkinan G-gulungan itu dicuri," Imbuhnya kemudian. Setuju dengan dugaan Sasuke sebelumnya.
Mencoba berfikir lebih Keras, Sasuke menyandarkan punggungnya pada dinding berwarna Kuning Emas dekat Lemari penyimpanan Gulungan itu. "Sama sekali tidak ada petunjuk. Kau memilikinya, Hyuuga?"
"Ah… a-aku hanya mendapat sedikit Informasi bahwa Hari dimana Gulungan tersebut Hilang sama dengan Hari meninggalnya Kazuku-sama, Penasehat Raja. Satu Bulan yang lalu. " Sasuke mengernyitkan alisnya begitu mendengar penuturan Hinata. Ada kemungkinan kalau Gulungan itu memang dicuri saat semua orang menghadiri Upacara pemakaman tersebut Dan sedikit terlena dengan keamanan disini. Pasti Shinobi yang memiliki kekuatan Tinggi setingkat Sanin. Sasuke menduga-duga.
"Apa saja yang kau ketahui?"
"Ha-hanya itu."
Sasuke hanya mendengus, kemudian meninggalkan Hinata dalam ruang penyimpanan tersebut tanpa berkata apa-apa lagi. Bagaimanapun juga ia tidak mau misi ini gagal, jadi ia harus bisa menemukan Petunjuk akan Gulungan yang hilang tersebut Bagaimanapun caranya.
"Uchiha-san!" langkah Sasuke berhenti mendadak, mengerti akan teriakan Hinata yang mencegahnya keluar Ruangan barusan. "M-mereka banyak sekali," Hinata menatap sekelilingnya dengan menggunakan Byakugan miliknya yang Barusaja ia Aktifkan begitu insting Ninjanya menangkap Aura Mencurigakan, beberapa saat yang lalu.
"Cih." Saat ini mereka berada di Kuil penyimpanan Gulungan wasiat yang Hilang. memang tempat ini diluar kerajaan, Namun, Aura Chakra pelindung masih kuat melindungi Kuil ini selama Ribuan Tahun silam. "Kita diikuti saat masuk kemari." Mata Onyxnya berubah warna menjadi Merah Darah dengan perlahan, saat itu juga ia mulai dapat menangkap 'Sosok' yang di maksud Hinata.
Kini Sharingan Sasuke dalam status Waspada, ia dapat merasakan Aura Gelap mereka yang diluar sana, masih menunggu ia dan Hinata keluar dari Kuil ini lalu menyergapnya. Apa mereka menemukan tempat ini dengan mengikutinya, tapi tidak bisa memasukinya? Bisa saja, Karena memang, hanya beberapa orang khusus saja yang dapat masuk ke tempat ini. Ditambah barang berharga berupa Emas yang terdapat di dalam Kuil ini, tentu Segel Pelindung untuk mengamankan tempat ini tidak akan dihancurkan dengan mudah jika menggunakan cara paksa. Sial. Kalau begitu mereka pasti akan menangkap Dirinya dan Hinata untuk dijadikan Sandra agar bisa masuk kesini dan mengambil sesautu dari Kuil lama ini.
"Kita harus keluar, Hyuuga!" Sasuke menekan Aura Chakranya agar tak terlalu mencolok di hadapan musuh. Bagaimanapun juga ia harus memasang strategi agar bisa keluar dengan selamat dari tempat ini Tanpa harus kehilangan-dan menghilangkan- Harta apapun. "Kita akan-."
"Tidak, Uchiha-san." Hinata menggeleng perlahan, Sasuke menoleh.
"Kenapa?" Padahal ia memiliki ide yang bagus. Ia akan langsung membunuh mereka semua dalam Genjutsu Tsukoyominya Begitu ia keluar dari Kuil ini, menyiksanya tanpa ampun menggunakan Kusanagi Miliknya hingga sang Malaikat Maut datang dengan sukarela mencabut Nyawa para perampok Brengsek tersebut. Lalu, Jika salah satu diantara mereka beruntung-masih Hidup, Sasuke akan mengintrogasinya secara 'khusus' untuk menemukan Informasi yang lebih mendalam. Kalau perlu, sampai ke Akarnya.
Hinata hanya menunjuk batu pesergi yang terbuat dari Emas dan diatasnya terdapat Kaca tempat menyimpan gulungan itu, gerakan halus Tangan Hinata memecahkan Konsentrasi Sasuke yang sebelumnya telah memikirkan Rencana penyeranganya dengan matang, sial. Ia jadi melamun, dengan Penuh Konsentrasi, Sasuke akhirnya melupakan rencananya semula dan mengamati Mata Lavender pucat milik sang Kunoichi Hyuuga yang saat ini menatap penuh yakin pada Batu tua tersebut, hal itulah yang membuat Sasuke mengernyit tak mengerti.
"Ada Jutsu segel." Jawab Hinata lirih.
.
.
.
Anata
.
.
.
Saat ini Sasuke dan Hinata tengah berlari secepat mungkin untuk menghindari Ratusan Ribu Kupu-kupu yang datang entah dari mana dengan Membawa serbuk Sari beracun. Seharusnya ada Shino-kun kata Hinata dalam Hati saat ia sudah mulai letih berlari, selama satu jam penuh ia dan Sasuke sudah mencoba menghindari Hewan tersebut dari tempat sempit ini, namun mustahil. Mereka malah seperti sedang berputar-putar dalam Labirin bawah tanah dan tak mampu menemukan jalan Keluar. Ditambah lagi, Kupu-kupu mematikan yang mengejar mereka juga seakan menjadi Tanda bahwa kehadiran mereka berdua tidak di harapkan di tempat ini.
"Akan ku coba menggunakan Bola Api." Kata Sasuke sambil mendahului Hinata selama beberapa meter ke depan, lalu berhenti dan berbalik arah. Dengan Sigap, Telapak tanganya yang kekar membentuk Jutsu bentuk Binatang-Binatang rahasia yang ada di Dunia Ninja dengan Cepat, Hingga membuat Hinata tak bisa melihat-apalagi meniru andai ia adalah seorang Ninja peng-Copy Jutsu. Kemudian, Sasuke menarik nafas sedalam mungkin- mengambil Oksigen guna memenuhi rongga dadanya untuk mengalirkan Energi Chakra Api melalui Mulutnya; "Katon: Gokakyu No Jutsu!"
Zlluuaaarrrrr!
Api menyambar dengan Besarnya, hingga memenuhi Ruangan dengan tinggi Dua Ratus centi meter dan lebar Satu setengah meter tersebut. Sangat sempit dan pengap. Hinata yang berada Lima meter di belakang Sasuke bahkan masih sangat bisa merasakan panasnya Api membara milik sang Pemuda Uchiha yang berada di depanya ini, merasakan-atau lebih tepatnya mengagumi betapa Hebatnya Jutsu-Jutsu yang dimilikinya. Hinata yakin, andai yang diserang Sasuke adalah seorang manusia, Pasti Jasadnya sudah sangat sulit dikenali atau bahkan di Identifikasi lagi, mengingat Titik lebur yang ada dalam Jutsu Sasuke tersebut terbilang sangat tinggi. Jadi, bagaimana hasilnya? Jika seorang manusia saja bisa 'melebur' dalam Jurus Bola Api Sasuke, maka Kupu-Kupu Kecil tersebut bukanlah hal yang sulit untuk di singkirkan, bukan? Dengan melihat Mahluk-sejenis Serangga jinak tersebut melalui mata Byakuganya-, Hinata mencoba menganalisa bahwa para Kupu-Kupu beracun itu kondisinya-.
"Ah!" mata Bulan milik Hinata terbelalak kaget saat sebuah tangan bersuhu Hangat menarik pergelangan tanganya dengan sangat kuat secara tiba-tiba, Gerakan Sasuke yang Cepat dan lincah sama sekali di luar prediksi Hinata.
"Bodoh!" diseretnya dengan Kasar gadis yang belum mengetahui keadaan yang sedang terjadi saat ini. Apa Gunanya memilki Byakugan tapi tetap saja Berprediksi lamban, hah? Dari perilaku kasar yang ditunjukkan Sasuke terhadap dirinya, Hinata bisa menyimpulkan bahwa ia telah melakukan suatu kesalahan. Tapi apa? Bukanya ia sedari tadi hanya diam mengamati apa yang terjadi pada hewan-hewan penghisap Serbuk sari Bunga tersebut? Ternyata itulah alasan mengapa Sasuke memarahinya. karena Ia malah berdiam diri terlalu lama untuk mengamati apa yang telah terjadi.
"Kupu-Kupunya tidak mati, bodoh." Hinata terkesiap, selain karena Ucapan Sasuke barusan yang terdengar seperti; 'Lihat! Kupu-kupunya masih hidup dan lebih beracun, kau mau mereka melahapmu dengan tetap mematung disitu, hn?' juga karena Cengkraman pemuda itu pada Pergelangan tanganya terlalu kuat, Hinata mati rasa di pergelangan tanganya.
"U-uchiha-sa-."
"Hyuuga, Perhatikan langkahmu!" sinis, Sasuke menaikkan satu Oktaf nadanya pada Hinata yang hendak memprotes sesuatu pada Dirinya. Andai saja ia tidak membuka Segel yang berada di bawah batu tersebut, pasti ia tidak akan terjebak di dalam ruangan yang sempit dan penuh dengan Kupu-Kupu beracun yang masih mengejar mereka. Menyesal? Tentu saja! Harusnya misi ini dapat diselesaikanya dengan mudah, namun mengapa semuanya menjadi penuh sial seperti ini, sih! Jika saja Dirinya tidak terjebak di tempat yang merepotkan seperti ini, paling tidak sekarang Sasuke sudah mendapatkan satu atau dua bukti. Kuso!
Langkah Kaki Hinata yang mungil terlihat begitu terseok-seok mengikuti Cepatnya tempo lari Sasuke. Semenjak perjalanan menuju Negri Hanagakure, Sasuke memang –terlalu- sering mengumpatinya, dan sepertinya Hinata mulai terbiasa. Namun, tetap saja masih ada rasa sakit yang tertinggal dan menjalar di dalam ulu Hatinya ketika Sasuke terusaja mengumpatinya saat Hinata melakukan sesuatu. Tentu saja, Hinata masih belum bisa menerima setiap ucapan kasar tersebut yang di tujukan kepadanya. bagaimanapun juga semua kesalahan yang Hinata lakukan di mata Sasuke, tidak sepenuhnya murni kesalahanya, kan?. Menggelengkan kepala perlahan, Hinata mencoba menepis egonya dengan mengalihkan pemikirananya ke hal lain. Mencari jalan keluar jauh lebih penting daripada memikirkan hal yang tidak berguna-tapi tetap saja menyakiti Hatinya- benar juga.
Byakugan Miliknya menganalisa setiap dinding yang terbuat dari tanah liat ini dengan seksama, tidak berguna. Hasilnya tetap saja sama, selain Chakra Sasuke, miliknya, dan Kupu-kupu yang berada Lima meter di belakang mereka, Hinata tidak dapat melihat apapun lagi. Seluruh jalan ini sepertinya sudah di selubungi oleh Chakra yang sangat kuat sehingga ia tidak bisa menembus apapun, bahkan dengan Byakugan miliknya sekalipun. "T-tidak ada jalan keluar, Sasuke-san. Aku tidak bisa melihat apa-apa." Suara Hinata terdengar seperti mencicit saat melaporkan keadaan sekeliling mereka pada sang Uchiha muda. Takut di sumpah serapahi lagi, dan takut di patahkan lehernya karena menjadi Partner yang tidak berguna adalah alasanya. Hinata menunduk, uh Kami-sama... apakah memang dirinya hanya membawa sial?
Sasuke menggertakkan rahangnya dengan kuat begitu mendengar penjelasan dari Hinata. sungguh, apa ia akan benar-benar mati dengan sia-sia di dalam lorong Tak berujung yang tidak ada jalan keluarnya ini? Dengan Kondisi lemas karena kelelahan berlari? Kehabisan tenanga saat mencari Jalan keluar? atau terkena Racun mematikan serangga tidak berguna tersebut? Oh yang benar saja! Sasuke Uchiha ditemukan mati karena terkena Racun Kupu-kupu bersama Hinata Hyuuga, berdua.
Berdua.
Berdua?.
Tunggu-apa? berdua?
"Matamu pasti buta."
.
.
.
Anata
.
.
.
Pemuda berambut Hitam Jabrik tersebut memincingkan matanya dengan tajam. Sudah Dua jam lebih pengintaian mereka di sini namun tidak juga membuahkan Hasil, sial! Apakah mereka berdua mengetahui gerak-gerik pergerakanya? Atau… mereka sudah pergi dari kuil itu sejak lama? Tapi kenapa ia dan rombonganya tidak bisa merasakan keberadaanya jika mereka sudah keluar sebelumnya?
"Bagaimana, tuan?" seorang wanita bertubuh semampai yang minim pakaian tersebut mendekat, menunggu perintah dari sang atasan adalah tujuanya. "Kita sudah menunggu cukup lama."
"Dimana Sayaka?" namun, ternyata ia mendapatkan jawaban yang berbeda.
"D-dia masih berada di Posnya, tuan."
Sang pemimpin kelompok Ninja Buronan tersebut membalikkan badanya dan menatap lekat-lekat anak buahnya yang saat ini tengah menghadapnya; Kireisa adalah namanya. "Kita kembali."
Mata Emerald Kireisa terbelalak, semudah ini kah mereka akan menyerah? Setelah berjam-jam menunggu mangsa mereka yang tepat ada di depan Mata? Mereka malah… kembali? "Ta-tapi…"
"Akan ku beritahu rencana selanjutnya di markas." Kemudian, sang pemimpin tersebut berjalan dengan pelan meninggalkan Pos pengintaian kuil penyimpanan benda Pusaka tersebut. "Beritahu yang lainya." Ujarnya kemudian.
"B-baik!" dengan cepat, Kireisa Tsukushi mulai berlari menembus pepohonan rindang yang berjarak Tiga ratus meter dari Kuil. Saat ini ia membawa perintah dari sang ketua untuk mundur, jadi ia harus segera memberitahukanya kepada kelompok mereka dan berkumpul di markas secepatnya untuk menyusun rencana berikutnya.
Sepeninggal Gadis berambut Cokelat muda itu dari hadapanya, Pemimpin kelompok tersebut melepaskan Topeng ANBUnya, membiarkan Poni depan rambut Hitamnya tertiup angin sepoi yang menerpa wajahnya. Dua Orang Shinobi yang berada di dalam kuil sana, akan membayar dengan mahal Gulungan Wasiat yang Hilang tersebut dan… nyawa Guren tentunya.
"Shinobi Konoha, ya?" Gumamnya sendiri sambil menyeringai licik. "Nanti saja, Tunggu waktu mainya."
.
.
.
Anata
.
.
.
Duagh!
"AKH!" Punggung Hinata terbentur dengan sangat keras pada dinding ruangan buntu ini. Hyuuga sulung tersebut mencoba untuk bergerak dan bangkit lagi, namun sia-sia… Tenaganya sudah habis terkuras melawan Kalajengking raksasa tersebut. Ia sudah mengerahkan seluruh kemampuanya, namun hasilnya sama saja… matanya benar-benar buta karena tidak bisa menemukan titik Chakra mahluk panggilan itu hingga ia harus melawanya dengan jurus jarak dekat karena Sasuke tidak mau membantunya. Dasar.
"Hei Hyuuga, jangan mati disana." Kalimat pendek Sasuke yang lagi-lagi terasa sangat menusuk membuat Hinata terdiam, keadaan saat ini benar-benar tidak menguntungkan dirinya. Selain karena terkurung di tempat yang antah berantah keberadaanya, tidak bisa berkerjasama dengan Sasuke untuk keluar dari sini… juga karena sedari tadi mereka sudah kelelahan di kejar dan di hajar mahluk-mahluk panggilan aneh yang menyerang mereka dengan tiba-tiba. Ya ampun, ada lagi yang lebih buruk, kami-sama?
"Dasar Hyuuga tidak berguna."
Oh, Great. Perfect. Lengkaplah sudah cobaan Hinata.
Air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk matanya perlahan-lahan mulai menetes membasahi Pipi penuh luka milik Hinata. Jujur saat ini Hinata bingung harus bagaimana, selain karena rasa sesak dalam dadanya yang membuat gadis tersebut sulit untuk berfikir jernih… juga karena luka serius yang di alami tubuhnya membuat dirinya tidak bisa bergerak untuk sementara waktu karena kehabisan tenaga. Ditambah dengan perkataan Sasuke yang terus menyudutkanya membuat Hinata semakin terpuruk. Batu yang keras pun pasti akan terkikis juga jika ditetesi air terus menerus dalam waktu yang lama, itulah Hati Hinata. Meskipun gadis itu sudah mencoba untuk lebih kuat dan tidak memperdulikan perkataan sang Uchiha, namun jika di umpati terus seperti itu tentu beda ceritanya.
"Ck. Sepertinya harus aku yang turun tangan, ya?" Sasuke memutar Bola Matanya malas, dengan mudah… di keluarkanya jutsu; "Amaterasu!" andalanya. Api Hitam langsung berkobar dengan panasnya di sekeliling Kalajengking tersebut begitu Sasuke mengeluarkan jurusnya. Kemudian, Sasuke meningkatkan suhunya dan mengunci pergerakan si Binatang Panggilan. Sasuke yakin, semua hewan-hewan aneh yang menyerangnya pasti didasari unsur kesengajaan. Ia hanya perlu menemukan dalangnya.
"Byakuganmu itu masih berfungsi?"
Hinata menggerakkan tubuhnya dengan bersusah payah, rasa sakit yang mendera punggungnya terasa sangat sakit sekali-apalagi luka bekas pedang Guren juga belum sepenuhnya sembuh membuat keadaanya semakin lemah karena lukanya yang terbuka kembali. Meskipun terasa ada puluhan sulur yang melilit tubuh Hinata hingga membuat gadis itu sulit bergerak, namun ia akan terus mencoba untuk berdiri lagi.
Dengan tubuh yang gemetar, Hinata memaksa kembali tubuhnya untuk bangkit. Ia tidak boleh menjadi lemah, ia tidak boleh mati sia-sia karena dipenggal oleh Sasuke. Ia harus bisa menyelesaikan misi ini!
"Ck." Sasuke mendecak kesal saat Hinata hanya bisa menggerakkan tanganya dan tak mampu bergerak lebih banyak, dengan malas di dekatinya gadis Hyuuga tersebut sambil mencabut pedang Kusanagi dari Sarungnya.
Sekuat tenaga, Hinata sudah berusaha semampunya untuk berdiri namun tidak bisa bahkan setelah berulang kali ia cobapun hasilnya tetap sama; nihil. Faktor kedua setelah kehabisan tenaga hingga tak mampu membuatnya berdiri adalah karena punggungnya yang sangat sakit dan terasa amat perih seakan di tekan kuat-kuat oleh tangan yang tak terlihat. Oh, kami-sama….
Hinata terisak pelan. Apakah Sasuke benar-benar akan membunuhnya? Hinata mengetahui niat pemuda itu saat ia mendengar suara Pedang milik Sasuke telah keluar dari Sarungnya. Berarti Sasuke benar-benar akan memenggalnya, ya? Gadis itu hanya memejamkan matanya saat memikirkan hal tersebut. Sedetik kemudian yang hanya ia dengar adalah langkah Sasuke yang semakin mendekatinya sembari mempersiapkan Pedangnya yang terlihat mengkilat terkena cahaya Api dari Amaterasunya. Jadi endingnya hanya seperti ini ya? Hinata yang akan Mati karena kelelahan hingga tak mampu melawan teman satu Misinya sendiri agar tidak membunuhnya-karena Hinata hanya menyusahkanya? Menyedihkan.
Bahu Gadis berambut sepinggang itu gemetar, membuat Sasuke semakin mengangkat tinggi-tinggi pedangnya begitu jaraknya hanya terpaut satu meter dari Hinata yang tergeletak lemah. "Mati saja mahluk tak berguna sepertimu." Ujarnya dengan Nada dingin.
Andai Hinata masih memiliki kekuatan, ia akan berlari dan menjauhi Sasuke semampu yang ia bisa. Andai ia masih memiliki sedikit saja tenaga, Hinata akan menghentikan gerakan Sasuke yang ingin memenggal kepalanya saat ini juga. Namun sayangnya, semua itu hanya andai-andaianya belaka.
Mata Amethyst itu tersembunyi dengan sempurna di balik kelopak matanya yang sembab, Hinata memejamkan dengan erat kedua matanya saat Sasuke benar-benar akan mematahkan tulang lehernya sekarang. Jutsu mata Byakugan itu menghilang, seiring dengan derasnya air mata yang menetes di pipi Hinata. Jika memang saat ini adalah akhir hidupnya, Hinata tidak menyesalinya karena ia memang tidak memiliki cita-cita apapun-termasuk bersanding dengan Naruto karena pemuda –calon- Hokage tersebut terlihat semakin jauh di depan matanya.
Hiks. Setidaknya… ia sudah mendapatkan segalanya, apapun kondisinya Hinata tetap mensyukurinya hingga tidak ada keinginan khusus lagi yang menahanya untuk tetap tinggal di dunia Ini.
Terimakasih, semuanya…
Terimakasih, Sasuke-san.
Dengan begini… keberadaan Hinata tidak akan menyusahkanmu-bahkan orang orang di sekitarmu lagi.
Dengan begini, dengan kematian gadis itu di tangan Sasuke sendiri, Hinata hanya berharap jika kepergianya bisa membawa 'Rasa Berguna menjadi seorang ninja' yang merupakan sedikit impian kecilnya.
Sudah.
Sampai… jumpa. Hinata siap menjemput kematianya yang sudah menantinya di depan mata.
Ia tidak menyesalinya. Ia akan pergi bersama semua kenangan manis dalam Hidupnya.
Bersamaan dengan tetes-tetes air mata yang semakin banyak berjatuhan, Hinata mencoba menguatkan dirinya sendiri untuk siap menghadapi kematianya lalu bertemu dengan Kami-sama. Dan… meninggalkan dunia.
CRASSHHH!
Crot!
Darah Merah segar terciprat kemana-mana saat Sasuke dengan tepat memenggal Kepalanya, menjadikan dua bagian tubuh yang tadinya hanya bersatu. Kepala dan badan…sekarang keduanya sudah terpisah dari Raganya. Pemuda Uchiha itu tersenyum tipis. "Dasar rendahan." Dengan cepat, di masukkanya lagi Pedangnya ke dalam tempatnya di pinggang ramping miliknya dan mengeluarkan Jurus Susano'o untuk mengurus Kalajengking yang saat ini mengamuk di dalam jutsu Amaterasunya. Meski baju putihnya telah ternoda oleh Cipratan darah tersebut, Sasuke tidak mempermasalahkanya. Karena baginya, memenggal dia-mahluk lemah itu merupakan perkara yang mudah.
Hinata membuka matanya dengan lebar begitu tubuhnya terasa ringan. Sasuke…
Mata berwarna Putih Gading itu terbelalak tak percaya, tepat di sampingnya telah terbaring tak bernyawa Ular yang ukuranya tiga kali besar dan berat Tubuhnya. Pantas saja Hinata tidak bisa menggerakkan badanya, ternyata ular ini melilitnya dengan sempurna tanpa Aura dan Chakra sedikitpun hingga ia tidak bisa merasakanya! Tapi, sejak kapan ular itu melilitnya? Bahkan Hinata tidak merasakan dirinya tengah dililit oleh ular sebesar itu! Bagaimana mungkin?
Boff!
Ular itu menghilang, menyisakan gumpalan asap tipis yang secara perlahan juga menghilang. Dengan tertatih, Hinata mencoba berdiri dan membantu Sasuke melawan Kalajengking raksasa tersebut sekuat mungkin yang ia bisa. Sasuke-san tidak… membunuhku?
Flashback
Sasuke's P.O.V
.
.
.
"Bercabang!"
Dukk!
Dapat kurasakan dahi Hinata dengan sukses membentur punggungku saat aku menghentikan langkahku dengan tiba-tiba.
"Ungh…" aku mendengarnya melenguh pelan, sepertinya hidungnya yang mungil juga terkena imbasnya. Ck, dasar lemah.
"Ada Tiga jalan! Cepat pilih yang mana!" ku hentakkan tanganku dengan karas agar dia cepat memilih karena kami tidak dalam kondisi santai, kau tahu sendiri, saat ini kami tengah 'dicari' oleh ratusan ribu Kupu-Kupu yang jaraknya tak sampai Sepuluh Meter di belakang kami. "Gunakan Byakuganmu! Cepat! Kupu-kupunya mendekat!" ku naikkan satu oktaf suaraku saat gadis Hyuuga ini tak kunjung juga menjawab pertanyaan-atau lebih tepatnya bentakanku.
"Teng-akh!" dia memekik lagi saat ku seret dengan kuat pergelangan tanganya, memang dia belum menyelesaikan kalimatnya. Tapi siapa yang perduli hal kecil tidak berguna seperti itu jika kematian tengah mengintai tepat di belakangmu? Kuso.
"S-sasuke-san.." Ia meringis, aku tahu pergelangan tanganya saat ini sudah membiru akibat tarikanku yang terlalu keras, tapi sekali lagi… jika aku tidak menariknya begini dia pasti akan mati karena tertinggal di belakang.
"Jangan banyak mengeluh, bodoh!"
Suaraku menggema di lorong yang sempit ini, sial. Bagaimana kami bisa menemukan jalan keluar? Jika begini keadaanya bisa-bisa kami benar-benar akan mati lemas karena lelah. "Kau masih melihat Hewan brengsek itu?"
"Tidak." Suaranya terdengar mencicit, sampai sejauh ini dia belum mengeluh kelelahan berarti fisiknya tidak terlalu lemah juga. Baguslah, berarti klan Hyuuga memang mengajarkan Putra Putri mereka bagaimana untuk menjadi Pewaris yang sebenarnya.
"Berhenti dimana?"
"Tepat di Tiga Pintu ma-masuk tadi."
"Didepan sana ada apa?"
"R-ruangan, besar. Aula, M-mungkin?"
"Matamu tidak bisa melihat, ha?"
"Un.. i-itu."
"Ck, dasar buta." Ya aku tahu Hinata memang buta karena matanya yang 'Istimewa' sampai tidak bisa menembus apa yang ada di depan sana. Segel disini terlalu kuat, bahkan Byakugan sekuat Hyuuga pun tidak bisa menganalisanya dengan akurat. Ck sialan! Tempat macam apa ini!
"Sasuke-san! Kalajengking!" aku menariknya lebih kuat untuk menghindar, baru saja kami sampai di Pintu masuk ruangan yang jauh lebih besar sekali dari sebelumnya, kami langsung di hadang oleh Kalajengking besar yang entah datangnya dari mana. Ya tuhan, mahluk apa lagi sekarang?
"Kau bisa melawanya, Hyuuga?" aku memainkan nada suaraku, terdengar seperti meremehkan memang. Tapi ini semua berguna untuknya, agar ia bisa menjadi lebih kuat.
"A-aku tipe ninja penyerang Jarak dekat*," ku lepaskan cengkraman tanganku, dan kulihat dia langsung memegang pergelangan tanganya. Benar ada memar di sana.
"Kau lemah, heh? Katanya kau akan berusaha melindungi misi ini apapun yang terjadi?"
"T-tapi kita berdua bisa mengalahkanya, jika k-kita bekerjasama!"
"Lawan sekarang juga. Buktikan kalau kau memang tidak pantas ku penggal, dasar lemah."
Kulihat, mata Mutiara gadis itu terkesiap, namun sepertinya ia langsung bisa mengendalikan emosinya. Baiklah, kita tunggu saja apa yang akan terjadi selanjutnya.
"B-baiklah, ini semua demi m-misi ini." Kunoichi Hyuuga itu menatapku dengan tajam. Wajahnya yang berkeringat dan terlihat sayu membuatku sedikit menarik ujung bibirku, kalau begitu… silahkan tunjukkan kemampuanmu. ucapku dalam hati.
Dia menyeka air matanya, satu hal yang mulai tidak ku sukai darinya adalah saat melihat mata Putihnya yang mengagumkan terlihat sembab dan sendu. apa-apan ekspresi yang ditunjukkan oleh mata itu? Seharusnya semua ini tidak ada, karena dia adalah calon pemimpin Hyuuga. Jadi bagaimana mungkin dia menunjukkan sisi lemahnya? Ck dasar perempuan labil.
"Tunggu apa lagi?"
Dia menghentikan gerakanya dan menatapku sekali lagi dengan penuh keberanian, bagus… inilah ekspresi yang aku suka saat matanya di penuhi kilatan tidak suka yang ditujukan kepadaku. Jika seperti ini, dia terlihat lebih berani dan lebih kuat!
"A-aku akan mengalahkanya!"
Lalu, Yang terjadi selanjutnya adalah… pertarungan sengit antara Hinata dengan mahluk panggilan menyebalkan itu. Aku mengambil Posisi di di pojok Aula kosong Ini sebagai penonton, tapi bukan hanya sekedar penonton, tapi aku juga menganalisis keadaan ruangan besar ini. Siapa tahu ada mahluk panggilan lagi atau bisa saja pintu rahasia.
"Berjuanglah, Hyuuga." Kugumamkan kata-kata itu dengan pelan, tapi aku yakin dia tidak mendengarnya karena sudah asik 'bermain' dengan 'peliharaan liar' yang ada di hadapanya.
End Of Sasuke P.O.V
End of Flashback
.
.
.
Anata
.
.
.
"Meskipun ini masalah pribadi, tapi kematian Guren juga tetap menjadi bagian dari kelompok ini, ketua!" Sayaka Atsuko tidak terima, wanita berusia dua puluh tahun itu menghentakkan tangan kananya pada meja rapat dengan keras, pertanda bahwa ia tidak setuju pada keputusan sang ketua. "Aku sendiri tidak bisa menerimanya!"
"Sayaka, tenanglah…" Hata Takumi menepuk pundak kurus Sayaka dan menenangkanya, bagaimanapun juga sikap berlebihan Sayaka dalam rapat kali ini tidak bisa dibenarkan. "Duduklah."
"Aku sudah memikirkanya, terlihat rendahan sekali jika kita mengeroyok mereka berdua." Yang di hormati masih berusaha mengendalikan emosinya, bagaimanapun dia adalah seorang ketua yang tidak boleh terpancing emosi karena masalah yang sepele.
"Tapi ketua, kematian Guren juga tidak bisa dikesampingkan begitu saja."
"Aku tahu, Sandai. Tapi berulang kali sudah aku katakan, aku yang akan melawan mereka berdua."
"Tidak bisa ketua!" Sayaka kembali memberontak setelah beberapa saat terdiam, ia tidak rela jika nanti harus menerima kabar duka untuk yang kedua kalinya. "Bagaimana jika ketua-."
"Jaga mulutmu sayaka!" sang ketua menggebrak meja dengan kerasnya saat sebagian besar anggotanya mulai mempermasalahkan rencana barunya. "Aku yang akan melawan Ninja Konoha itu, kalian mengerti!"
Tak ada yang bersuara, semuanya terdiam saat sang ketua kelompok mereka sudah mengeluarkan Ultimatumnya. Jika begini siapapun benar-benar tidak akan bisa menghentikanya.
"Jangan mengajariku." Kemudian, si pemilik mata Biru laut itu meninggalkan ruangan rapatnya yang masih terisi penuh oleh kehadiaran 11 orang anggotanya. Seharusnya Dua belas, namun kursi yang kosong itu telah meninggalkan ruang rapat dari Tiga hari yang lalu, mati lebih tepatnya.
"Menma-sama…" Sayaka meneteskan air matanya, bagaimanapun juga ia hanya mengkhawatirkan keadaan sang ketua. Namun sepertinya perhatian yang ia tujukan kepadanya merupakan sebuah kesalahan, Menma belum bisa menerima kenyataan bahwa satu anggotanya sudah tidak bernyawa.
"Sayaka," Kireisa memeluk wanita yang usianya dua tahun diatasnya, mereka semua yang berada di ruangan itu mengerti bahwa atsmoster kebersamaan mereka mulai berubah setelah kematian Guren yang begitu mendadak. Tidak ada yang benar, karena kehidupan ini memang penuh kesalahan. Tapi, tentunya ada kesempatan dan pengampunan kan?
"Menangislah, Sayaka."
.
.
.
Bersambung
.
.
.
Author's Note: karena melihat sebagian Jutsu Hinata yang menggunakan Telapak tangan, maka Hika bikin dia tipe ninja yang menyerang dalam jarak dekat. :) kemudian, ruangan tempat Sasuke dan Hinata tersesat adalah ruangan yang hampir sama Saat Naruto, Sakura, Sai dan kapten Yamato menyusup ke markas Orochimaru pada Episode awal Naruto Shippuden.
Ngomong-ngomong soal Shipuden, Hika turut bersedih dan terharu karena endingnya SasuSaku dan NaruHina :'( ciuss hika waktu itu Drop, bahkan Sakit dan mau Hiatus! Tapi semua berubah saat Negara api menyerang-oke bercanda, semuanya telah berlalu saat Hika disemangati lagi oleh Review Minna-san yang sangat membangun! Dan tentunya, tempat Hika menimba ilmu-curhat juga- di Facebook Grup SasuHina, terimakasih banyak atas dukunganya! Semoga Chapter ini tidak terlalu mengecewakan ^_^ Salam damai SasuHina Lovers! SEMANGAT!
Yosh kita balas review dulu yaaa! :D
Dindachan06, Hiru neesan, Cahya Uchiha, : iya ini Hika Update, terimakasih sudah mau mampir! Semoga tidak mengecewakan ya :D hehehe sengaja hika update kilat supaya ga terlalu lama 'sakit hati' sama Naruto-end T_T #DIGAPLOK#
Siskap906, Saki Chan: ^^7 SIP! Hika udah update kilat, terimakasih udah mampir :D semoga ga mengecewakan ya! :3 hehehe maaf kalau masih banyak di temukan kesalahan :3 chap ini udah 80% sasuhina *author rasa* :D jadi semoga bisa menikmati 'kemesraan mereka berdua' #duagh# terimakasih udah mampir :D
Hana, Hinahime: hmm… ditanya peka atau enggaknya, menurut hana-san di Chap ini sikap Sasuke gimana? :D #plaked# sebenernya peka, hanya saja Bukan Uchiha kalau semudah itu Sasuke menunjukkkanya u,ua dia kan suka jaga image #tampoled# untuk masalah lain, yap kali ini lebih Rumit karena mereka berdua akan berhadapan dengan Menma. :3 semoga bikin agak jantungan ya Hina-san *?*yosh, makasih udah mampir! ^_^ jangan kapok balik lagi ya…
Hyuuga Renata: e-eto, Hika udah update. Tapi Hika bingung mau ngabari gimana T.T itu email, fb apa twitter? Hika buka di google ketemunya danau *gubrak* :D untuk selanjutnya hika akan kabari, tapi mohon lebih jelas ya? ^_^ #tendang# terimakasih sudah menunggu kelanjutanya, semoga ga mengecewakan :(
Nay, Guest: ini udah hika update :3 terimakasih atas dukunganya! :D misinya pun awalnya hika bingung, dan hanya Two-shot sih pengenya. tapi entah mengapa tiba-tiba Menma muncul *?* mungkin besok Chap terakhir? :( maaf sebenere Hika mau bikin one-shot T.T tapi tetep ga bisa dan selalu berujung Chapter. Semoga ga mengecewakan ya? :(
Istrinya Cho Kyuhyun: terimakasih kembali! ^_^ p-padahal Hika bikin Hinata sedih supaya Minna-san yang baca juga ikutan sedih lho T.T ternyata enggak, (saya author gagal *pundung*) yosh, tapi maaf jika chap ini agak gimana gitu, Penyakit Naruto episode 700 belum sepenuhnya sembuh dari diri saya hingga berimbas ke chapter dua ini :( semoga ga mengecewakan hati Cho-san :( terimakasih sudah mampir, Kritik dan saranya selalu hika tunggu! :D
Apikachudoodoll, nn, Hana, nn, Guest: Yup! Hika Udah update chapter dua ini, :) semoga ga mengecewakan yaa! Terimakasih sudah mensuport Hika dan suka fict abal ini! Hika juga update cepat karena minna-san yang membuat Hika semangat mengetik fict ini! Terimakasih banyak :D jangan kapok buat reviwa lagi yaa!
Mochachocolata, Flo: ini sudah aku update :3 *sambil tebar-tebar virus SasuHina* gimana chap ini? Alurnya kecepetan? :( atau gimana? Maaf kalau kurang maksimal T,T hika kurang enak badan waktu nulis ini… semoga ga mengecewakan ya :( dan untuk Mocha-san, selamat datang di dunia SasuHina :D #plak# saya akan mempengaruhi Anda untuk jadi SHL! #DUAGH#
Yap! Terimakasih minna-san, sudah mau mampir, fav dan follow cerita Hika! :D mind to RnR please? Kritik dan saran sangat Hika butuhkan! ^_^ sampai ketemu Di Chap depan….
Salam hangat, Hikari No Aoi
