Author Note: Aih, aku nggak berani publish chap ini. Rasanya tuh—entahlah. Aku baca ulang rasanya flat banget. Jadi—gyah, sudahlah. Chapter ini, terasa datar dan tidak seru. :'v Ah ya, aku nggak nyangka bakalan dapet review dan ada yang suka #nangis.
Hembusan angin dingin menggelitik telapak kakinya. Membuat si pemilik menggeliat terganggu—berusaha menutupi agar tidak kedinginan. Lagi, angin kembali berhembus, yang kali ini menargetkan tubuhnya.
"Ugh." Menyerah, gadis itu akhirnya bangun dari posisi tidurnya. Diliriknya angka jarum jam, menunjukkan waktu 2 lebih 9. Salahnya sendiri karena sudah terbiasa memakai selimut saat tidur. Dan kini, ia tidak membawanya.
Jika diperhatikan sekeliling, setiap dorm memiliki fasilitas layaknya tempat kost. Ada dapur kecil, dua kamar mandi, kamar yang dijadikan satu—dengan 11 tempat tidur di dalamnya. Sudah, hanya itu saja. Tidak ada ruang untuk menonton TV sataupun sofa. Karena ini bukanlah hotel, melainkan tempat pelatihan.
Entah kenapa ia merasa seperti sedang diperhatikan. Diedarkannya pandangan ke seluruh penjuru kamar, dan berhenti tepat di mata senior yang terlihat menatapnya.
"Terbangun karena mimpi buruk?" Yuuma mengangkat alisnya tinggi-tinggi saat bertanya. Samar-samar, Miku melihat senter kecil dan buku di kedua tangannya.
Miku menggeleng. "Tidak, aku hanya kedinginan."
"Oh, baguslah. Latihlah dirimu agar tahan terhadap dingin. Akan ada pelatihan bertahan di hutan nanti." Fokus lelaki berambut merah muda itu kembali pada bukunya.
Si gadis mengangguk, matanya mengerling ke arah buku bacaan Yuuma. "Buku apa itu, senpai?"
"Ini?" Ia mengangguk kembali. "Hanya sebuah buku sejarah. Nanti juga kau tau jika sudah menjadi senior."
Miku hanya ber-"oh" ria menanggapinya.
Beberapa saat hanya dengkuran halus dan suara nafas yang mengelilingi mereka, kemudian Yuuma kembali bicara. "Kalau dipikir-pikir, wajahmu mirip sekali dengan teman satu tim-ku dulu." Ia memperhatikan lekat-lekat lekuk wajah gadis itu. Dan memang benar, gadis itu seperti duplikat temannya versi perempuan.
"Bisa aku tahu namanya?" Tanya si gadis. Wajahnya menampakkan emosi kekhawatiran.
"Mikuo, Mikuo Hatsune."
Tepat sasaran, apa yang dipikirkan Miku benar. Matanya melotot seketika ketika mendengar nama kakaknya disebut. "Bagaimana kabar Mikuo-nii sekarang?! Aku adiknya." Berusaha mati-matian ia mengecilkan volumenya supaya tidak berteriak dan membangunkan teman-temannya.
Yuuma terbelalak. "Benarkah? Aku tidak menyangka jika foto yang selalu disimpannya di dompet ternyata kau." Ia terkekeh sebentar. "Benar juga, aku belum tahu nama anak-anak yang kubimbing." Kemudian dihembuskannya nafas dalam, pandangannya terlihat sedih nan dalam. "Aku tidak mengetahui kabarnya lagi. Terakhir kali aku melihatnya sekitar satu tahun yang lalu, dan ia menghilang begitu saja."
"Maksud senpai tentang menghilang itu apa?"
Ia kembali pada fokusnya. "Miku, sebaiknya kau kembali tidur. Bicarakan ini lagi saat ada waktu senggang. Besok kau akan dilatih habis-habisan, siapkan tenagamu." Miku meengerucut sebal mendengar jawaban yang diberikan, namun ia tetap menurutinya.
Lelaki itu terseyum tipis, dirinya seketika mengingat kilasan balik antara salah satu teman dekatnya.
"Wah, Mikuo. Siapa gadis ini? Kayaknya lo suka banget mandangin fotonya."
"Diam kau. Dia hanya adikku."
"Are? Kalau umurnya sudah pas gue boleh menikahinya ya? Boleh kan? Ya? Ya? Gue minta restu lo dari sekarang."
"Enggak boleh! Langkahi dulu mayat gue, cowok lembek kayak lo mana bisa ngalahin gue."
"Cih, mentang-mentang pintar strategi, kuat, disenangi senior. Omong-omong, namanya siapa?"
"Hei! Jangan berani-berani nyium fotonya! Kembaliin! Namanya Miku!"
Lagi-lagi ia tertawa kecil karena memori kenangan Mikuo yang emosi, padahal ia hanya bercanda. Walaupun memang benar sih, ia jatuh cinta ketika melihat foto imut adik Mikuo di dompet temannya itu.
Warna matanya yang cerah tiba-tiba tergantikan oleh kekosongan. Bibirnya menggumamkan sesuatu, bahkan anginpun tidak mendengarnya.
The Military Exam
Genre: Action, fantasy, sedikit romance, dll.
Declaimer: Vocaloid milik Crypton, Yamaha, dll.
Warning: Miku-centric, typo, gaje, dll.
Disekelilingnya ada pohon-pohon menjulang tinggi seakan tidak akan pernah rubuh. Jauh dari sisi ia berada, terdapat sungai panjang melintas memberi batas. Rumput-rumput tumbuh liar di tanah. Jika kalian menebak dimana tempat ia menginjakkan kakinya, maka jawaban yang benar adalah hutan.
Miku benar-benar menyesal karena tidak membawa apapun bekal makanan. Ia hanya memanggul ransel kecil berisi pisau dan botol yang menyisakan setengah air. "Ck, seharusnya aku bawa makanan kecil untuk mengisi perut kosongku."
Len menanggapi, "tidak sepenuhnya salahmu. Ini semua akibat Yuuma-senpai yang memberitahu untuk membawa pisau dan botol air saja lalu harus bergegas ke lapangan. Beruntung, aku membawa panah."
"Yaahh, Len benar. Saat acara survival ini selesai, aku sangat ingin membunuhnya," timpal Gumi.
Miku terkekeh mendengarnya.
Di tengah-tengah keramaian lapangan, pemuda biru menampakkan wajahnya. Hawa dingin menyebar ke seluruh lapangan, membuat para masing-masing anggota kelompok mengalihkan fokus kepadanya. Iris birunya menatap tajam ke seluruh penjuru, sampai menyebabkan kerongkongan Miku kering dengan kekuatan intimidasinya.
"Baiklah," suara khas berat itu bahkan terdengar sangat yakin dan tidak gugup. "Latihan ujian militer pertama ini bertemakan survival, dimana kalian harus bertahan hidup di dalam hutan dan merebut sesuatu yang akan diberikan dari musuh."
Ia menghela nafas sebentar, "untuk peraturannya akan dijelaskan selama kalian dipandu oleh senior kalian selama perjalanan menuju hutan. Semoga beruntung." Dan dengan itu, asap putih menghilangkan dirinya beserta jejaknya.
"Semuanya! Berkumpul dengan kelompok kalian masing-masing!"
Miku tidak tahu siapa yang berteriak karena pandangannya terhalang oleh kerumunan orang-orang. Tapi yang ada dipikirannya saat ini hanyalah mencari teman kelompoknya.
"Dor!"
"Wa!—" Miku mendengus kesal melihat pelakunya. "Jangan mengagetkanku, Len."
"Hehehe, sebaiknya kita harus cepat. Yuuma-senpai menunggu kita. Pegang erat tanganku." Ia menurut lantaran ia takut hilang diantara banyaknya orang.
Semuanya sudah berkumpul saat ia bersama Len datang. Kata Yuuma-senpai, hutannya tidak jauh sehingga semuanya berjalan kaki.
Persetan dengan semua itu. Ia bersama kawannya berjalan hingga tiga jam lamanya untuk sampai ke tempat tujuan. Dinginnya angin pagi terasa seolah-olah kulitnya dikelupas pelan.
Selama diperjalanan, Yuuma menjelaskan tetang peraturan dan memberi satu kristal hitam—untuk dijadikan bahan perebutan. "Jaga kristal ini baik-baik. Buat strategi agar kristal ini aman."
"Memangnya kristal ini untuk apa?"
"Kristal ini sebenarnya 'sesuatu' yang jatuh dari langit. Di sana nanti, kita bisa berpura-pura sebagai pihak benar atau musuh. Pokoknya kalian harus rebut kristal kelompok lain dan jaga kristal ini . Anggap semua ini sebagai pertarungan kalian saat di medan perang sesungguhnya."
Peraturan latihan ujiannya sebenarnya simpel sekaligus mematikan. Oke, mari saya sebutkan.
Peserta dilarang melewati pagar pembatas. Jika melanggar, eksekusi ditempat.
Hukuman akan diberikan jika ada 10 kelompok dengan nilai paling terbawah. Persiapkan diri kalian untuk mati.
1 kristal sama saja dengan 1 poin.
Memperebutkan kristal lawan boleh memakai cara apa saja.
Kalian boleh menggunakan apa saja yang ada disekeliling kalian untuk makan atau apapun.
Waktu habis jika sudah mencapai 24 jam.
Ya, oke. Miku dan Gumi meringis ketika mendengar peraturan-peraturan yang diucapkan Yuuma.
Pelatihan Militer dimulai pukul 6 pagi dan akan selesai pukul 6 pagi besok. Catat, BESOK. Kemungkinan persentase ia selamat cukup rendah. Apalagi bila ia sekarang berada di hutan dengan catatan paling berbahaya, Eagle East Forest—tempat sarangnya makhluk buas, bahkan manusia sulit menanganinya.
Miku melirik ke teman-teman kelompoknya yang kini kelelahan. Ia berdehem. "Teman-teman, sebaiknya kita berkumpul. Kita buat suatu strategi daripada kita muter-muter tidak jelas seperti ini."
"Benar juga." Oh, Piko, akhirnya kau muncul juga.
Setelah yakin semuanya berkumpul, Miku membuka acara kecil perdebatan. "Kupikir kalian sudah tahu peraturannya. Dan untuk kristalnya, mungkin lebih baik di simpan oleh anggota yang paling kuat untuk mempertahankannya," ujarnya.
Piko terlihat menimang perkataan Miku. "Biar aku saja yang memegang. Dulu namaku sering tercatat dalam buku blacklist guru-guru karena sering bertarung dengan kakak kelas."
Gumiya mengernyit heran. "Wow, pantas saja tampangmu seperti berandal, aku heran kenapa kau bisa lulus." Dan adu tatap terjadi.
Si gadis twin-tail hanya menggeleng pasrah melihatnya. "Oke, Piko, aku serahkan kristal ini padamu. Jangan hilang. Untuk merebut kristal lawan, menurut kalian kita gunakan strategi seperti apa?"
"Umh, aku berpikir lawan mungkin akan menggunakan cara seperti kita. Maksudku, kristal akan di pegang oleh orang yang kuat. Jadi, jika orang yang kita tangkap salah, kita harus mengintrograsinya sampai ia mengatakan siapa yang memegang kristalnya."
"Akhirnya kau angkat bicara, IA." Miku terseyum kepadanya. "Kuharap jika ada kelompok lain yang menangkap salah satu dari kalian, kalian bisa menjaga rahasia. Intrograsi yang dilakukan tidak mungkin main-main, dan kemungkinan kalian juga bisa terbunuh."
"Bagaimana kau bisa berpikir pembunuhan bisa dilakukan?" tanya Gumi.
Gumiya memutar bola mata ketika mendengarnya. "Gunakan otakmu, kakak. 'Memperebutkan kristal lawan boleh memakai cara apa saja'."
"Geezzz, lain kali aku akan bersekongkol dengan Piko untuk membunuhmu. Kau menyebalkan."
"Sudah, sudah. Jangan bertengkar. Oh, ya. Kemungkinan juga bila salah satu anggota tertangkap maka kristal akan berpindah tangan lagi. Jadi, menurut—"
Perkataan Miku terpotong akibat teriakan dari arah lain—cukup jauh, namun bisa didengar olehnya.
"Kalian cepat cari tempat bersembunyi, kusarankan tempat yang sukar dilihat oleh musuh. Aku akan mengeceknya."
"Tunggu, Miku. Aku ikut."
Ia menggeleng dengan senyum yang masih menempel pada bibir merah mudanya. "Tidak, Piko. Kau pemegang kristal. Aku takut kenapa-napa nantinya."
"Tapi aku khawatir pada—"
"Cukup." Tiba-tiba Len berjalan mendekat pada Miku, tangannya membentuk tanda silang untuk Piko. "Aku akan menjaganya. Kau lebih berarti dalam menjaga kristalnya." Piko tersenyum kecut. "Cepat cari tempat persembunyian, mereka membutuhkanmu." Dari nadanya, dapat Miku dengar kalau ia sedang mengusir Piko.
"Ayo, kita harus bergegas. Bye Piko, Gumi, Gumiya, IA, dan lainnya."
Entah ekspresi apa yang diperlihatkan Miku begitu melihat beberapa orang terbaring tak wajar di depannya. Darah menggenang di sekelilingnya, daging tercabik memperlihatkan putih tulang, atau kepala yang sudah tidak ada ditempatnya lagi.
Ini gila, Miku membatin. Setidaknya bisa ia perhitungkan ada 10 orang—1 kelompok.
"Miku, kita pastikan kristal mereka masih ada atau tidak." Pernyataan Len menyadarkan dirinya dari lamunan.
Ia tergagap mengucap, "a-ah. Ba-baiklah. Tapi kita harus tetap waspada."
Mengendap-endap, mereka berjalan kemudian memeriksa satu-persatu mayat. Miku menyuruh Len untuk memeriksa lelaki sedangkan dirinya sendiri perempuan.
Rasanya ia ingin sekali muntah sekarang, melihat bagaimana tulang itu di pertotonkan dan darah terus mengalir deras dibagiannya. Beruntung ia tidak memeriksa lelaki yang sudah terpenggal.
"Hey, aku mendapat kristalnya!" Bisa jadi Miku tersenyum bahagia mendengar ucapan Len bila di otaknya tidak ada pikiran yang menurutnya janggal.
Bagaimana bisa mereka dalam keadaan mengenaskan seperti itu? Menurutnya, itu bukan ulah manusia. Tersadar, Eagle East Forest—tempat sarangnya makhluk buas. Kami-sama, bagaimana bisa ia lupa dengan hal itu. Ia ingin mengumpat keras saat ini juga.
Tanpa aba-aba, auman memekakkan telinga menggelegar di sekitar rumput luas—dekat dengan tempatnya menginjakkan tanah. Matanya membelalak lebar menangkap sosok buas binatang.
Angelic Lion, singa besar berwarna putih bertubuh besar—hampir tiga kali lipat dari tubuh singa biasa. Ada dua sayap tajam yang bisa mengiris apapun di punggungnya. Miku memperkirakan darah di taringnya menandakan jika ia baru saja menyerang kelompok malang ini. Ohh, padahal matahari baru saja berada di atas kepala. Bagaimana ia bisa mempertahankan kelompoknya sampai besok pagi?
Auman kembali terdengar, ia terlihat marah. Merasa terganggu mungkin? Pikir Miku. Oh ya, Len?!
Ia melirik ke pemuda bersurai kuning—badannya kini terlihat tegang. "Len! Len!" Pemuda itu tersentak mendengar teriakan Miku dan guncangan yang diberikan oleh gadis itu. "Senjata apa saja yang kau bawa?" terbesit kepanikan dari iris hijaunya.
"Panah dan beberapa belati." Ia menjawab dengan tempo cepat.
"Aku tidak tahu apakah ia bisa dibunuh dengan itu, tapi menurut cerita dongeng ia bisa mati jika kita melukai jantung—"
"Awas!"
Hampir saja, kepala Miku terpenggal. Len dengan gesit menubrukkan tubuhnya hingga mereka sama-sama jatuh ke tanah.
"Kita butakan dulu matanya, lukai seluruh kakinya, dan tusuk jantungnya. Kalau tidak sempat, lumpuhkan dan kabur."
Miku mengerti apa maksud Len. Mereka tidak tahu dimana letak jantung singa itu berada, sehingga mereka harus melumpuhkan terlebih dahulu makhluk itu. Ia mengangguk sekilas dengan cepat walau tadi ia sempat mengagumi manik biru milik Len.
Lantas ia bangun, mengambil satu belati dari ransel kecilnya.
Sebenarnya ia sama sekali belum pernah mempunyai pengalaman seperti ini. Tapi ibunda tercintanya selalu melatih mental dan fisiknya.
Sungguh, Len hampir kehilangan fokusnya saat melihat kecepatan Miku berlari. Dengan sigap, ia kembali membidik mata makhluk buas itu.
Satu panah meleset, berikutnya tepat sasaran membuat Angelic Lion mengaum kesakitan. Beberapa belati menancap di kaki-kakinya—menjadikan ia ambruk seketika walau ia masih tetap dalam posisi bertahan. Akan tetapi mereka melupakan dua hal, sebelah matanya yang masih terbuka lebar dan sayapnya yang membentang luas.
Posisi gadis itu terlalu dekat. "Miku!"
ZAP.
Cahaya bagaikan pedang membelah tubuh monster tersebut. Len memandang horror ke depan, sedangkan Miku kaget tak percaya.
Sesosok lelaki berambut putih berdiri kokoh dari balik tubuh Angelic Lion yang sudah terbelah. "Piko…"
Menggenggam erat tangan si gadis, ia berlari sambil memberi komando pada lelaki bersurai kuning, "Len cepat ikuti aku! Disini tidak aman!"
.
.
Sudah keberapa kalinya Miku memandang takjub, melihat kebun bunga kecil dan air kolam di sampingnya. Ia sama sekali tidak kepikiran jika ada tempat semacam ini di hutan. Dari awal perjalanan menuju kesini memang susah sekali. Kulitnya bahkan berkali-kali tertusuk sulur berduri untuk melewatinya. Belum lagi semak-semak yang menjulur menghalangi jalan.
"Tempat persembunyian yang bagus, Piko," pujinya.
Piko terseyum. "Kalian berdua pasti bingung bagaimana aku bisa melakukan hal tadi." Len dan Miku mengiyakan. "Jadi, sebenarnya, tadi hasil pemikiran Gumiya. Awalnya aku dan dia hanya berdebat kecil lalu dia berkata sesuatu yang menyadarkanku.
"Ya, kristal ini adalah 'sesuatu' yang jatuh dari langit—memberikan kekuatan bagi pemakai atau pemegangnya. Dan itu menyadarkanku, lalu bergegas menolong kalian setelah aku mendengar suara auman dari tempat kalian ke sana. Dan kekuatan kristal ini, bisa mengubah apapun yang kupegang menjadi berbagai macam senjata. Contohnya tongkat baseball yang berubah menjadi pedang cahaya tadi."
Miku menganga takjub, "aku bahkan tidak menyadari hal seperti itu. Tapi itu keren sekali kau tau? Akan berbahaya jika kelompok lain tahu hal ini. By the way, aku lapar."
Len segera menarik lengannya—menunjuk Gumi dan IA yang sedang menyiapkan makanan. "Ayo kita makan. Mereka sudah menyiapkannya."
TBC
AUTHOR NOTE ++
GYAHHHHHHHHHHH #BantingHPdiataskasur #nggakgregetthor #bodoamat #kurangbanyakhesteknya #auahgelap.
Aku tau ini gaje karena sejak awal ini ff emang gaje. Iyaa, aku tau chapter ini banyak romancenya. Iyaaa, aku tau actionnya nggak greget sama sekali. Mak, ini gimana mak! #nangiskejer #geplaked.
Maaf, namanya juga lagi belajar. Maaf juga karena lama apdetnya. Well, soalnya aku meneliti dulu ni ff, terus nyari refrensi kemana-mana.
[Sebut Saja Mawar]: Jangan percaya sama kata-kata di atas. Dia ditutupi wijen. Bilangnya refrensi, tapi yang dibaca cuman cerita romance & drama. Sama sekali nggak ada hubungannya sama ni ff. jadinya ancur, kan.
Kapuk, darimana munculnya [Sebut Saja Mawar] #tabok.
Oke, pokoknya aku ngerasa bersalah. Oh ya, yang bingung tanya aja. Sekalian kasih kritik ma saran. Aku mau membenamkan wajahku lagi di dada bidang Mikuo :'v
[Sebut Saja Mawar]: Mesum! Pantesan aja Mikuo hilang. Ternyata gara-gara loe.
#Senyumgaje. Udah sana lah, ganggu aja. Oh ya, aku belum bales reviewnya.
Guest
#Shocked
[Sebut Saja Mawar]: Gwahaha, bener banget. Susah nyarinya. Tentang action sepertinya masih gagal. Maaf ya ^^, nanti diusahakan. Tentang botak, awal baca gue bener-bener ketawa sumveh. Dia sempat kepikiran seperti itu, tapi nanti genrenya malah jadi komedi.
Gomen, updetnya nggak bisa cepet. :'v
Name V
Ini udah lanjut ^^, review lagi yaa~
Annonym
Aih, makasih ^^ sudah dilanjut. Maaf kalau tidak memuaskan.
YZLoid
Terima kasih banyak atas reviewnya~ ^^
Rika miyake
Berhubung reviewnya sudah kubalas, aku ingin mengucapkan terima kasih lagi. Terima kasih atas reviewnyaa ^^
Jejeeee
[Sebut Saja Mawar]: Ini sudah dilanjut bro. maaf kalau tidak memuaskan. :'v
Matanya bergerak liar menahan tekanan di lehernya. Ia bisa melihat iris tajam berwarna merah darah memandang nafsu ingin membunuh. Sinar rembulan menyinari wajah sosok di depannya. Ada senyum merendahkan di sana.
Didasarkan kebencian, cekikkan semakin mengencang.
Rasanya kematian Miku sudah berada di ambang batas. Samar-samar, ia bisa mendengar teriakan teman-temannya memangil nama. Namun suara dingin itu terdengar jelas membuat desir ketakutan.
"Seluruh anggota kelompok saudariku terbunuh, dan aku melihatmu berada di sana. Kau membunuhnya."
2R&2F?
