Osu-osu~

/ngapain

Miyu-chan desu~

Saya kembali membawakan fict ampas ini..

Ya ini masih belum nampak sih konfliknya, soalnya masih masa introducing. Dan yah, harus Miyu akui kalau chapter 2 ini masih masa yang membosankan sampai chapter 3 nanti..

Jadi harap bersabar ya..

Yak, Minna-san silahkan dinikmati.

.

.

.

Watashi ni Kasei o Misete.

.

Disclaimer : Vocaloid © Yamaha, and other companies Story © Utauloid ©

.

Chapter 2 : Hajimemashite.

.

Aku berjengit saat merasakan eksistensi lain di kamar ku. Hei ayolah! ADA TANGAN YANG MEMEGANGI KAKI KU! Tangan itu kemudian mulai meraba naik ke betis ku,lalu makin naik hingga ke paha.

.

"Aduh! Ittai."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

EEEH?!

"Len-nii, jempol kakimu mengenai mataku! Sakit tauuu."

.

.

.

.

.

.

.

Loading : Complete.

.

"APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI RIN NO BAKAAAA!" Oke aku benar-benar merasa bodoh sudah ketakutan dengan makhluk konyol ini. Maksudku — ah lupakan, memang aku yang bodoh karena paranoid disaat seperti ini.

.

"Hueee Len-nii, belum lagi mataku sembuh, kau malah membuat telingaku berdenging. JAHAT! Hemph," ucapnya sambil menggembungkan pipi. Kenapa aku yang salah?!

.

Ah oke kita tunda dulu kekonyolan ini sebentar. Ayolah, aku bahkan belum memperkenalkan diri, kan? Namaku Len, 16 tahun, anak pertama dari keluarga Kagamine. Dan makhluk usil tadi adikku, namanya Rin, juga dari keluarga Kagamine yang merupakan adik kembarku. Kami bersekolah di SMA yang bisa dibilang ehmElitehm di Akiba. Hei, aku mencoba untuk tidak sombong disini, lihatlah sensor yang kubuat .

.

Kami tinggal di Akihabara dikarenakan program pindah tugas dari kantor dinas Kaa-san. Sebelumnya kami tinggal di Tokyo,dan sebenarnya alasan kami pindah bukan sepenuhnya karena pekerjaan Kaa-san sih, melainkan juga disebabkan karena makin banyaknya Yakuza yang berkeliaran dan peredaran narkoba yang makin bebas.

.

Dan...

.

Jika kalian bertanya dimana ayah kami, maka kami otomatis akan menjawab 'tidak tahu'. Kaa-san berkata bahwa Tou-san pergi sesaat sebelum aku dan Rin berumur 3 tahun, untungnya saat itu Kaa-san sudah mempunyai pekerjaan sebagai karyawan di sebuah kantor asuransi di Tokyo. Dan karena usahanya yang giat setelah 10 tahun lebih, akhirnya Kaa-san mendapatkan promosi dari pihak pengembang untuk menjadi salah satu staff dengan status "Bronze Agency" dan dipindahkan ke Akihabara 3 bulan lalu.

.

Sudah kan? Kalian sudah mengenalku kan? Oke,kini aku akan memberi imouto ku "sedikit pelajaran" karena hampir membuatku jantungan.

.

"Rin." Gumamku dengan nada berat.

"Eh? I-iya?"

"Kenapa kau melakukan hal yang tadi?" Ucapku dengan nada yang makin berat.

"HIII! G-gomennasai!"

"Aku tidak menagih maaf."

"Anu, karena dua minggu belakangan Len-nii selalu pulang telat dan menolak untuk pulang bersama, jadi aku bersembunyi di balik lemari di samping futonmu."

"Grrr, aku tanya 'kenapa'," aku melotot.

"Etto, untuk mempererat hubungan kakak-beradik di kamar," ucapnya polos.

.

.

.

.

.

HUBUNGAN KAKAK-BERADIK DI KAMAR?!

AAAAAAAARGH.!

Kalimat itu mempunyai makna lain di kepalaku.!

.

"Rin."

"Ya?"

"Bisakah kau keluar?"

"Eeh? Kenapa? Apa Len-nii marah dan mengusirku?"

.

PUPPY EYES SIALAN!

.

"Bukan, aku hanya tidak ingin imajinasiku mengenai alasanmu tadi menjadi kenyataan."

"Memangnya apa yang Len-nii pikirkan tentang kalimatku tadi?"

.

Pertanyaan bodoh! Tidak mungkin kujawab 'Rin, aku membayangkan kisah kakak-beradik yang saling menyentuh dan ini-itu di kamar selama Kaa-san mereka pergi', itu akan merusak Rin-ku yang polos.

.

"Tidak, sebaiknya kau tidak tahu"

"Apa yang Len-nii pikirkan persis seperti yang ada di buku ini?" Tanyanya lalu dia menunjukkan sebuah majalah.

.

.

.

.

WAIT!

INI MAJALAH PORNO! DIA DAPAT DARI MANA?! Bahkan labelnya 18+ yang aku sendiri belum boleh melihatnya.

.

Oke, aku syok. Rin masih menatapku dengan mata yang seakan mengatakan "jelaskan padaku atau aku akan tanya ke Kaa-san".

Kami-sama, berilah aku petuah bijak untuk kondisiku yang sekarang.

"Etto, Rin, dari mana kau mendapatkan benda ini?" Tanyaku berhati-hati.

"Aku mengambilnya dari tas Oliver saat jam istirahat. Saat aku ingin melihatnya, Oliver langsung menutupnya lalu berkata 'ini hal yang berharga bagi lelaki'. Dan kupikir akan bagus jika Len-nii yang menjelaskannya padaku maknanya, jadi kuambil saja saat jam istirahat ketika kalian ke kantin," ucapnya polos sambil membuat tanda "peace' dengan jarinya.

.

OH. ASTAGA. Kini aku bingung harus menceramahi Rin atau memukuli Oliver karena membawa majalah porno ke sekolah.

.

"Jadi? Bagaimana menurut Len-nii?"

"A-ah cuaca hari ini cerah ya?" Ucapku mengalihkan.

"Ah iya, karena lusa ada libur nasional untuk peluncuran produk UniVR, aku ada janji dengan Fukase dan Gumi untuk pergi ke water park yang baru dibuka di Shibuya. Waaah sungguh hari cerah yang membawa keberuntungan."

.

Yup, untungnya Rin itu terlalu polos (mendekati bodoh) sehingga dapat langsung teralihkan. Sankyuu ne Kami-sama!

.

Eh tunggu dulu, dia pergi dengan Fukase? Playboy kelas yang itu? Hei-hei jangan bercanda denganku.

.

Yup, aku khawatir karena ada Fukase yang ikut bersama mereka. Ayolah, jangan sebut aku siscon, kita sedang berbicara tentang Fukase yang terkenal tentang ke-playboy-an nya. Majalah dewasa dan hal-hal berbau "How to defeat a woman" selalu ada di sekitarnya. Mungkin saja dia akan "ini-itu" selama Rin tidak ada dalam pengawasanku. Orang itu bahkan lebih mesum dari siapapun di kelasku.

.

Dan JANGAN PERNAH sekalipun percaya bahwa isi tas seorang Mitsugi Fukase adalah buku pelajaran, karena sejauh yang kami (aku dan Oliver) periksa, isi tas orang itu hanya baju olah raga dan kumpulan perban gulung serta beberapa plester. Mungkinkah plester ini yang dia gunakan di hidungnya? Kimoi!

.

Yah,setidaknya aku masih percaya isi tas orang itu daripada isi tas Oliver yang menyimpan majalah porno. Hem, semakin kuingat malah semakin aku ingin membuat Oliver babak belur karena sudah "menodai" Rin ku tercinta. Tapi yang lebih penting, KENAPA RIN MAU BEGITU SAJA PERGI DENGAN FUKASE?!

.

"Ah aku harus menyiapkan barang-barang untuk lusa, sepertinya cukup banyak. Ja ne Len-nii."

"Chotto matte Rin," setidaknya aku harus bertanya alasannya.!

"Hn?"

"Anu, kenapa kau pergi dengan Fukase? Apa tidak ada orang lain yang lebih layak? Maksudku lihatlah! Dia mesum sampai ke akar!"

"Selama Gumi ada disisiku, aku tidak akan khawatir tentang apapun, Len-nii," ucapnya langsung.

.

Memang iya sih, Gumi itu ahli dalam ketangkasan karena ikut klub bela diri. Alasan yang masih masuk logika kalau menurutku. But hell please!

.

"Tapi kan Rin, Fukase itu ahli dalam 'mengambil kesempatan dalam kesempitan', bisa saja dia mencari titik lengah kalian dan—"

"Tidak akan, Len-nii," potongnya.

"E-eh?"

"Walaupun Fukase selalu digosipkan seperti itu, nyatanya dia tidaklah seburuk yang kalian bayangkan. Dan menurutku, dia bahkan masih lebih normal dari Len-nii yang sering mengucapkan 'vanishment this world!' (lenyaplah dunia!) di loteng tiap ada bersih-bersih bulanan."

.

JLEB! KENAPA DIA BISA TAU?!

.

Aku membatu untuk beberapa waktu, alasan yang dibuat oleh Rin terlalu menusuk. Sialan!

.

"Selain itu, Gumi adalah salah satu atlit terbaik di SMA kita, kan? Bagiku itu sudah cukup untuk menjagaku daripada 'seseorang' yang bahkan kelelahan karena mengangkat beberapa kotak saat bersih-bersih bulanan," sambungnya.

.

Dia jelas menyindirku! Dan yah, aku hanya bisa diam dan mengakui sindirannya.

.

"Ah dan sepertinya jalanan menuju Shibuya akan ramai karena akan fokus untuk dialihkan menuju Tokyo, jadi kami berencana akan naik kereta saja," rancangnya.

"Ya itu sih boleh saja, asalkan kau bisa jaga diri— eh tunggu dulu!" Ralatku.

"Hm? Ada apa, Len-nii?"

"Kalian akan pergi naik kereta, iya kan?" Tanyaku.

"Ya."

"Bagaimana jika—" Ucapku tanggung.

"Bagaimana apa?"

"BAGAIMANA JIKA DIA MELECEHKANMU DI KERETA?!" Tanyaku frustasi.

"Itu hanya pemikiran kotormu saja, Len-nii."

.

-PEMIKIRAN KOTOR-

Kagamine Len, 16 tahun, dicap berpikiran terlalu kotor untuk anak seumurannya.

.

Lagi-lagi aku membatu.

"Oke Len-nii, aku harus bergegas untuk membereskan barang-barangku. Jaa ne," katanya lalu keluar dari kamarku.

.

"Haaah,sepertinya memang aku yang terlalu khawatir. Tapi ini memang mencurigakan. Fukase..." Gumamku pelan. Kini mataku mulai terpejam.

.

-Cklek.

.

"Ah iya, Len-nii, apa kau tau jenis baju renang yang cocok untukku?" Dia tiba-tiba dia membuka pintu kamarku lagi.

.

Yang membuatku kembali syok bukan karena dia dia yang membuka pintu secara tiba-tiba, tetapi justru karena pertanyaannya itu. Kenapa? Karena aku belum pernah ke kolam renang dengannya dan kami tidak pernah mandi bersama sejak pertengahan SMP.

.

Kami-sama, doushite?!

.

"Pakai saja baju renang sekolah," saranku.

"Tapi kan aku ingin memakai pakaian renang seperti Miku-nee."

"MAKSUDMU MEMAKAI BIKINI?!" Ucapku panik.

"Um!" Tanggapnya semangat.

.

MIKU SIALAN!

Gara-gara pergi ke kolam saat wisata di SMP tanpaku, Rin mulai terobsesi dengan cara Miku bergaya.

.

"Tidak,Rin. Bisa bahaya jika kau memakai itu, apalagi ada Fukase yang ikut bersamamu."

"Kenapa?"

"Y-yah, karena pakaian itu terlalu s-s-seksi untuk anak seumuran kita," aku harus berhati-hati agar tidak 'merusak' Rin dengan kalimat vulgar.

"Tapi kenapa Miku-nee boleh?"

.

SKAKMAT! Inilah akhir dunia, dimana aku tidak bisa menjawab pertanyaan adikku tanpa berkata vulgar.

.

"I-itu kan karena Miku punya postur tubuh yang 'pas' dengan pakaian itu," elakku kembali.

"Memangnya bentuk tubuh seperti apa yang cocok agar aku bisa memakainya?"

"Ummm, mungkin yang lebih 'berisi' di bagian 'itu'," ucapku sambil menunjuk ke dadanya.

"A-apa maksudmu Len-nii?"

"Yah, kau tau kan, mungkin kau butuh yang lebih 'menonjol' di bagian 'itu'," reflekku tanpa sadar.

"MAAF SAJA KALAU DADAKU RATA!" Teriaknya sambil berlari keluar dari kamarku.

.

Aku segera tersadar bahwa menyinggung tentang dada rin yang 'datar' merupakan kesalahan paling fatal. Ya, mau bagaimana lagi, itu merupakan salah satu 'kekurangan' Rin.

.

Haaah, dia pasti akan cemberut seharian karena ini. Apa sebaiknya aku langsung minta maaf saja ya? Nanti saja lah, aku terlalu lelah hari ini. Lebih baik aku tidur saja.

.

Oyasuminasai ne Len (ya walau secara teknis ini masih sore sih). Bodo amat ah.

.

.

.

To be Continued.

.

.

.

A/N : still ampas kan?

.

Ah iya, jika ada yang ingin tau arti dari judul "Watashi ni Kasei o Misete", itu artinya "Tunjukkan Planet Mars Padaku".

.

Sekian, jangan lupa review!

Ja ne.