Kagura Crisis Arc Bag. II
Hutang harus dibayar sebelum tidak terbayarkan
.
Gintama © Sorachi Hideaki
Kagura Crisis Arc © MidnightsMist
Cover © Zerochan
Yorozuya x Shinsengumi | Drama, Tragic
.
.
Saat itu Kagura sudah menyuruh Sadaharu pulang duluan karena ia ingin belanja perasediaan sukonbu sendiri. Sayangnya, keinginan itu harus urung ketika kucing hitam yang dicari melenggang didepannya semena-mena. Padahal sedari pagi Yorozuya sudah berpencar untuk mencari mahluk satu itu. Tak pelak ia segera mengejar sang kucing tanpa peduli kalau matahari tinggal sejengkal dari cakrawala.
Merasa sesuatu memburunya, kucing itu pun tunggang langgang berlari dari kejaran Kagura yang tampak sangat bernafsu. Tak dipedulikan orang-orang sekitar yang ikut kacau balau karena ulah dua mahluk itu. Dari memasuki supermarket, menaiki atap rumah orang, belarian diatas dinding bangunan, merampok toko dango?
Untuk terakhir tadi sepertinya hanya Kagura saja yang mengambil kesempatan dalam pengejaran.
Aksi kejar-kejaran mereka harus berakhir ketika si kucing memasuki sebuah bangunan dengan melompati dinding dari dahan pohon terdekat. Tak mau kehilangan buruan, Kagura menghancurkan dinding tersebut dengan tinjunya. Siapa sangka kalau disana terdapat orang-orang satu klannya dan klan Shinra?
Dan tentu saja, suara dinding yang hancur tersebut mengundang mereka semua untuk keluar dan memburu si pembuat onar. Tak ada pilihan lain bagi Kagura selain bertarung agar bisa kabur dari sana.
Namun, semakin banyak ia menjatuhkan rasanya justru lebih banyak lagi yang datang. Seakan tak ada habisnya, sementara Kagura sudah mulai lelah. Beberapa kali ia terkena sabetan pedang dari kaum Shinra, kakinya pun satu patah oleh tendangan seorang lain dari klan Yato. Susah payah ia mencari celah, dia merangsek masuk ke dalam bangunan. Terus berlari dari kejaran para prajurit sewaan itu, niatnya bersembunyi ke sebuah ruangan.
Naas bagi Kagura, ruangan yang ia masuki adalah tempat orang-orang itu bertransaksi. Sekali serangan, badannya terlempar menghantam dinding. Padahal yang lama saja belum pulih, tulang-tulangnya sudah remuk lagi.
"Hoi hoi, apa ini? Kenapa ada kelinci tak dikenal disini." Salah satu dari mereka, yang bertampang seperti kerbau menjambak rambut Kagura dan melemparnya pada meja di tengah ruangan. "Siapa yang menyuruhmu, heh? Katakan!"
"Akhh," Kagura muntah darah, luka dalamnya semakin parah. Kesadarannya mulai menipis ketika amanto berkepala kerbau itu kembali menghampiri. Tenaganya terlampau habis terkuras karena perkelahian sebelumnya.
Hanya sampai situ Kagura bisa mengingatnya. Ia tak tahu lagi apa yang terjadi, tiba-tiba saja terbangun dalam sosok kucing berbulu oranye ini dan sekamar dengan Okita Sougo. APA YANG SESUNGGUHNYA TERJADI SELAMA IA PINGSAN?!
Kagura tidak bisa berpikir lagi.
'Krukkk
Ia terlalu lapar untuk berpikir atau melakukan apapun. Ia ingin sukonbu, nasi telur, daging, ah... rasanya dia semakin lapar saja.
Lama sudah Kagura berlari dari markas Shinsengumi, sampailah ia di tempat Yorozuya. Ia menggarukkan cakar pada pintu Yorozuya. Berteriak memanggil Gintoki dan Shinpachi meski yang terdengar hanya seperti raungan anak kucing.
'Srekk!
Pintu terbuka.
Bukan Gintoki atau Shinpachi yang menyambutnya. Hanya Sadaharu. Dia bahkan terlihat jauh lebih besar lagi dengan ukuran Kagura yang sekarang.
Sadaharu mendekatkan wajahnya pada Kagura. Napasnya tak beraturan terdengar memekakakkan. Lidahnya menjulur lantas menjilati Kagura hingga membuat Kagura seperti mandi air liur. Tampaknya Sadaharu mengenali Kagura...
'Hap.
—atau tidak.
Hampir saja kepala kecilnya dikulum dalam mulut anjing raksasa. Baru kali ini Kagura merasa ngeri pada anjingnya sendiri. Tak ada pilihan lain bagi Kagura selain melarikan diri kembali.
"Hei, apa kau anak baru?"
Kagura terhenti ketika dua sosok kucing menghadang dan tampak berbicara dengannya. Eh? Bicara? Kenapa kucing bisa bicara?
"Dia betina tapi masih bocah." Ujar salah satu yang berbulu putih belang hitam.
"Sayang sekali, padahal aku ingin mengawininya. Sudah lama tidak bermain."
Kagura merinding seketika mendengar kalimat yang terakhir. Buru-buru ia berlari menerobos kedua kucing pejantan itu. Dia harus kembali pada tubuhnya segera!
"MIAWWWWWWWWW"—GIN-CHAN TOLONG AKU!
Gintoki tidak kembali sama sekali.
Shinpachi sendiri tidak tidur sama sekali demi menunggui Kagura. Dia terduduk dengan kondisi lebih mengenaskan. Lingkaran matanya menghitam terlihat begitu lelah, nafasnya sudah terengah-engah karena menanggung beban tidak tidur semalaman. Yamazaki yang baru datang jadi cemas langsung menghampiri pemuda tersebut.
"Selamat pagi, Shinpachi-kun" Sapa Yamazaki seraya menyerahkan buah tangan yang ia beli dijalan. "Kau harus beristirahat. Lihat betapa pucat dirimu."
Shinpachi tetap bergeming.
"Shinpachi-kun!" Seru Yamazaki, lebih keras.
Kali ini pemuda berkacamata itu memberi atensi pada presensi Yamazaki. Ia menerima buah tangan yang disodorkan tadi dan menaruhnya sembarang.
"Yamazaki-san terimakasih karena sudah menjenguk, Kagura-chan. Bahkan kau saja datang, kemana Gin-san sebenarnya?"
Dibanding bertanya, Yamazaki lebih merasa kalimat Shinpachi terasa repulsif maka ia memilih untuk mengangkat topik lain. "Bagaimana kondisi Kagura-chan?"
Namun auranya justru semakin berat. Shinpachi menatapnya sendu, terlihat bagaimana pedihnya ia untuk mengungkapkannya. "Masih sama." Lirihnya yang terasa seperti bisikan.
"Shinpachi-kun istirahatlah dulu. Aku yang akan menungguinya. Kau terlihat lelah sekali."
"Anda tidak bekerja, Yamazaki-san?"
"Lebih tepatnya aku memang disuruh menunggu Kagura-chan." Terkutuklah mulut embernya!
Shinpachi menilik curiga. "Apa maksud anda Yamazaki-san?!"
"Tidak! Tidak! Bukan apa-apa."
"Yamazaki-san!" Teriak Shinpachi frustasi.
"TOLONG JANGAN RIBUT! INI RUMAH SAKIT!" Seorang suster berbadan tambun berteriak dari ujung lorong memperingatkan. Membuat kedua orang tadi lantas meminta maaf ketakutan.
Selepas suster tersebut pergi, Yamazaki menghela napas lega. Ia berdehem sebentar untuk kembali melanjutkan pembicaraannya. "Ekhm, Shinpachi-kun aku berjanji akan menjelaskannya setelah kau istirahat. Aku janji. Pokoknya, kau kembali ke rumah dulu. Kakakmu pasti khawatir karena kau sama sekali belum pulang. Aku akan menjaga Kagura."
Shinpachi menatap lekat manik cokelat Yamazaki. Pria itu bersungguh-sungguh. Kali ini Shinpachi yang menghela napas.
"Baiklah, Yamazaki-san. Tolong jaga Kagura. Kalau ada perkembangan tolong segera kabari aku."
Shinpachi pergi untuk kembali ke rumah. Setidaknya dia harus mengabari kakaknya agar tidak cemas. Tapi selain itu, Shinpachi kini lebih cemas karena ketiadaan Gintoki sekarang. Meski ada saat dimana ia terlihat cuek dan tidak bertanggung jawab, pria itu mustahil tidak peduli. Shinpachi paling tahu itu.
Ada sesuatu yang tidak enak melesak di dada Shinpachi. Semoga ini hanya perasaannya saja.
Garis-garis polisi mengamankan pondokan, melintasi seluruh bangunan. Ada lubang bekas dihancurkan pada dinding disisi samping. Hijikata melirik sejenak lantas menyuruh anak buahnya mengambil gambar lubang tersebut. Bercak darah mengering sepintas saru oleh rumput yang rusak karena diinjak-injak. Kalau Hijikata tidak awas, mereka tak akan sadar kalau pertarungan sudah di mulai sejak dari halaman samping.
"Memang itu penting?" Sougo berceloteh menyepelekan. Sengaja memang, untuk membuat pria itu naik pitam.
"Bocah sepertimu memang tidak akan paham, tapi penting bagi kita untuk merecord jejak. Kemungkinan janggal sedikit saja dapat mempengaruhi keberhasilan kita menangkap mereka." Ujar Hijikata seraya menyalakan korek untuk membakar tembakau rokok.
"Sugoi na Hijikata-san. Kau tampak hebat menjelaskan record jejak untuk seseorang yang merusak TKP dengan abu rokoknya."
Hijikata mendadak kesal. Sougo lagi-lagi mencari kesalahannya.
"Lebih baik kau kerjakan saja tugasmu, bocah." Hijikata mematikan rokoknya seketika sebelum bocah itu semakin menjadi.
"Aku akan dengan senang hati mengerjakannya kalau kau yang jadi mayatnya, Hijikata-san."
Sebuah pedang meluncur dari sisi kanan Hijikata, hampir merobek telinga kanannya namun berhasil dihindari. Pedang itu menancap tembok. Mengejutkan anak buah Hijikata yang sedang sibuk mengambil gambar.
"Ah, gomen Hijikata-san. Aku hendak menyerahkan barang bukti. Tapi tanganku licin. Hampir saja. Tch, sayang sekali."
Benar kan, bocah itu semakin menjadi.
Hijikata habis kesabaran, "Oi! Teme! Kau sengaja kan?! Kau tadi mendecih kan?! Sialan! Apanya yang sayang sekali?! Kau tadi benar-benar mau membunuhku! Sougo sialan!" Dia mencak-mencak tidak keruan.
Sebelum Hijikata sempat melayangkan pedangnya, satu tangan sudah menahannya. Mencengkram bahunya kuat.
"Oi Toshi, sudahlah." Rupanya Kondo yang menahannya. Satu tangan pria itu tampak repot menggendong anak kucing. "Sougo, ini kucing yang kau bawa semalam ke markas bukan?"
Sougo menilik anak kucing dalam genggaman Kondo, perban yang melingkupi perut dan kakinya kotor bukan main. Beberapa tempat bahkan mulai mengeluarkan darah. Surai jingga keemasannya mengingatkan Sougo pada surai sewarna sama yang tertutup cipratan darah amanto malam lalu. Ya, dia kucing yang sama yang berada dipangkuan gadis itu.
"Lihat, dia berdarah lagi. Sepertinya dia dari markas berlari kembali kemari. Apa dia milik salah satu amanto itu?" Lanjut Kondo. Kemudian ia menyerahkan anak kucing tersebut kepada Sougo. "Sougo, kau rawat dia lagi. Kasihan dia, tidal tahu kalau pemiliknya sudah mati."
"Kondo-san, kenapa bukan yang lain saja? Aku sedang sibuk mengurus track record kejadian semalam. Atau suruh saja Hijikata-san, dari pada dia merusak TKP dengan abu rokoknya lebih berguna kalau dia jadi pengasuh kucing." Kelit Sougo dengan mengutip penjelasan Hijikata barusan. "Lihat, wajahnya saja sudah mirip induk kucing. Kucing itu 100% akan langsung menyusu padanya."
"Teme! Apa maksudmu, Sougo?!" Hijikata sudah siap-siap mengeluarkan pedang dari sarungnya begitu mendengar hinaan Sougo. Ia sudah tak tahan lagi dengan kata-kata bocah itu. Belum lagi dia selalu jadi kambing hitam setiap masalah yang diperbuat Sougo. Kurang apes apa lagi dirinya?
Meski begitu, Kondo hanya menggeleng. Ia tetap menyerahkan anak kucing tersebut pada Sougo. "Kau yang membawanya semalam, kau lebih tahu soal luka-lukanya dibanding yang lain. Itu perintah."
Dan hanya dengan satu kalimat terakhir tadi, Sougo menerima perintah tersebut. Bagaimana pun Kondo ketuanya, sebodoh dan semenyedihkan apapun dirinya dimata beberapa orang, ia tetap panutan Sougo. Jadi Sougo menerima kucing itu untuk dirawat sambil menyesali kenapa dirinya membawanya semalam. Akhirnya dia yang direpotkan lagi.
Ingatan Sougo serta merta terlempar pada Rabu malam kemarin, di pondokan yang sama. Anak kucing itu terbujur sekarat, penuh luka dengan bercak darah siapa saja entah disana, menutupi surai keemasannya. Berada dipangkuan gadis itu yang kondisinya jauh lebih menyedihkan. Kedua tangan gadis itu menangkup sang anak kucing seolah-olah mencoba melindunginya.
Sougo tak ingat alasannya mengapa membawa anak kucing tersebut saat itu. Dia hanya tergerak impulsif. Berharap ia masih bisa menyelamatkan sesuatu yang dilindungi gadis itu. Mungkin ia mencoba membayar hutang saat gadis itu melindungi sesuatu yang ingin ia lindungi. Tidak tahu. Sougo tidak ingin berpikir berat-berat. Ia bisa jadi sama bodohnya dengan Hijikata nanti.
Tiba-tiba saja seseorang dari mereka datang tergopoh-gopoh. Dia adalah Kamiyama, dari divisinya. Seseorang yang seharusnya berada dirumah sakit setelah giliran Yamazaki untuk menjaga gadis itu yang ditetapkan sebagai saksi mata.
"Kyoukchou! Fukuchou! Okita Taichou! Kamiyama menghadap!" Napasnya pendek-pendek tanda bahwa ia baru saja berlari sekuat tenaga karena sesuatu. "Kyoukchou, di rumah sakit—"
"Pelan-pelan Kamiyama, ada apa dengan rumah sakit?" Seru Kondo menghampiri Kamiyama diikuti Hijikata.
"Rumah sakit… hah… rumah sakitnya… hah hah huh.. rumah sakitnya Kyoukchou! Rumah sakitnya kacau seperti diserang teroris!"
Seluruh anggota Shinsengumi yang ada disana lantas berhenti melakukan kegiatannya. Atensi mereka terpaku pada Kamiyama yang membawa kabar mengejutkan.
"Yamazaki-san tadi baru saja dibawa ke rumah sakit lain terdekat. Dia salah satu dari beberapa orang yang beruntung karena tidak sampai tewas."
"Apa maksudmu? Apa rumah sakit itu dibom?" Kini giliran Hijikata angkat bicara.
"Tidak. Tidak ada ledakan atau semacamnya. Beberapa yang terluka menjeritkan tentang wanita bermandi darah yang menyerang membabi buta."
Sesuatu di dalam diri Sougo terasa sesak.
"Seluruh penghuni rumah sakit bahkan dokter dan perawatnya tewas entah tercabik atau luka bagian dalam tapi yang pasti pelaku menghabisi seluruh korbannya brutal dengan tangan kosong."
Sougo tahu pola ini.
"Bagaimana dengan bocah Cina dari Yorozuya itu? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Hijikata lagi.
"Saya masih belum tahu, saat ini rumah sakit masih dalam keadaan ricuh. Dan kita tak bisa bertindak karena wilayahnya masih dalam batasan Mimawarigumi."
"Kondo-san dan aku akan ke rumah sakit memeriksa keadaan. Sougo, kau jaga disini. Setelah selesai segera ke markas untuk laporan. Keadaan ini mulai semakin buruk."
Jika Hijikata mengatakan seperti itu, maka kemungkinanannya bisa jadi sangat buruk sekali. Pria itu memiliki bakat mencium konflik yang akan muncul. Tetapi, Sougo sendiri juga punya firasat buruk tentang ini. Ada sesuatu yang mengganjal dari cerita Kamiyama.
TBC
