A HAPPY END ...?

Main Cast: Lee Donghae, Lee Hyukjae

Genre: Romance, Friendship

WARNING!

BOYS LOVE

DON'T LIKE? DON'T READ PLEASE!

THE STORY IS MINE

Typo may applied, don't be silent reader please.

NOT ALLOWED TO COPY PASTE WITHOUT MY PERMISSION :)

TIDAK MENERIMA BASH DAN KAWAN-KAWANNYA. KRITIK DAN SARAN SANGAT DIBUTUHKAN.

THANKYOU :)

.

.

All the fears you feel inside, it ending here...

.

.

Hyukjae melamun di ruang musik sambil menekan tuts-tuts piano dengan asal, menimbulkan bunyi gaduh di ruang musik yang—untungnya—sangat sepi. Siswa lainnya sedang sibuk diperpustakaan, mencari materi untuk ujian akhir nanti. Sementara Hyukjae memilih untuk menghabiskan waktunya di ruang musik. Ia sudah muak dengan pelajaran kalkulus dan lainnya.

Dan lagi, Hyukjae sedang gusar. Pikirannya memikirkan banyak hal yang acak. Setelah insiden kemarin di pameran, Hyukjae jadi tidak bisa tidur karena memikirkan Donghae yang mungkin akan melanjutkan studinya ke luar negeri dan kemungkinan besar dia akan terkenal karena banyak yang mengagumi hasil karyanya. Masih segar diingatan Hyukjae, bagaimana orang-orang memandang Donghae kagum di pameran kemarin. Bahkan ada beberapa gadis yang terang-terangan mengajak Donghae untuk berfoto, untungnya Donghae menolak mereka semua dan memilih mengajak Hyukjae pulang.

Sepanjang malam Hyukjae berpikir. Ia memikirkan nasib hubungannya dengan Donghae, jika seadainya Donghae memilih untuk melanjutkan studinya ke luar negeri. Hyukjae tahu, Donghae tidak membahas soal tawaran ke New York itu karena tidak mau membuat Hyukjae cemas. Memikirkan hal itu membuat Hyukjae merasa jadi beban untuk Donghae.

"Aku mencarimu kemana-mana, ternyata kau di sini. Sedang apa?"

Suara berat Donghae membuat Hyukjae terkesiap, ia hampir saja melompat saking kagetnya. Jelas saja, suasana sedang sepi dan tiba-tiba suara Donghae menggelegar di tengah ruangan yang sepi itu.

"Kenapa belakangan ini kau sering sekali melamun?" tanya Donghae sambil menyerahkan sekotak susu strawberry yang menjadi kesukaan Hyukjae. Ia kemudian duduk samping Hyukjae, lalu ikut menekan tuts-tuts piano itu.

Hyukjae menerima susu yang diberikan Donghae, lalu menyedotnya sekuat tenaga sebelum mengembuskan napas panjang yang berlebihan. "Aku memikirkan masa depan," gumamnya lesu.

"Kenapa harus dipikirkan? Masih ada waktu setengah tahun lagi. Lagi pula, aku juga belum memikirkan apa-apa soal masa depan." Donghae berkata sambil mulai menekan tuts piano dengan irama yang sesungguhnya.

Hyukjae diam saja sambil memandangi Donghae. Untuk sekian kalinya Donghae mengatakan hal yang sama. Donghae selalu berkata ia belum tahu bagaimana harus menentukan masa depannya, tapi sesungguhnya Donghae sudah memiliki masa depan itu tanpa harus memikirkannya. Lihat saja, meski Donghae bermain-main dengan hidupnya, tapi Donghae sudah ditawari untuk melanjutkan studinya di New York, bahkan nilainya juga cukup bagus untuk kuliah di universitas manapun yang ada di Korea Selatan.

"Aku bahkan belum memikirkan masa depanku sendiri," gumam Hyukjae.

"Kenapa harus secemas itu? Aku juga belum memikirkannya, begitu juga dengan Changmin dan Kyuhyun. Mereka masih sibuk bersenang-senang main game."

Selalu saja begitu, Donghae selalu mengatakan kalimat itu. Padahal sudah jelas, dia antara mereka berempat hanya Hyukjae yang benar-benar masih bimbang dengan masa depannya. Donghae memang terlihat santai, tapi sejak kecil tujuannya sudah jelas. Donghae ingin menjadi fotografer dan pelan-pelan sudah melangkah ke arah yang lebih baik, bahkan kemungkinan Donghae akan melanjutkan studi tentang fotografi di luar negeri. Changmin yang terlihat hanya main-main juga sama, dia berkata belum tahu tapi sesungguhnya dia sudah direncanakan akan menjadi pewaris perusahaan keluarga. Dan Kyuhyun, dia merencanakan melanjutkan kuliah di jurusan performance art karena kecintaannya pada dunia teater dan musikal. Hanya Hyukjae sendiri yang masih bingung harus menjadi penari profesional atau menjadi pianis seperti keinginan ibunya.

"Kau pintar bermain piano, kau juga bisa menari. Kau bahkan mendapat penghargaan saat main piano di festival musim semi tahun lalu. Sebenarnya apa yang kau cemaskan? Kau bisa melanjutkan studimu di bidang musik." Donghae berkata sambil menekan tuts piano dan mulai melantunkan lagu kesukaan Hyukjae. Lay me down, yang dinyanyikan Sam Smith.

"Kau pikir jadi pianis itu mudah? Aku benar-benar harus memikirkan masa depanku dan bukan hanya sekedar mengejar mimpi! Kau bisa berkata seperti itu karena kau sudah memiliki tujuan yang jelas, sementara aku masih bingung harus bagaimana." Hyukjae tiba-tiba emosi dan memukul tuts piano, membuat permainan piano Donghae jadi kacau. Ia beranjak dari tempat duduknya, lalu melangkah menuju jendela besar yang ada di ruang musik itu.

Donghae membuang napas pelan. Ia meninggalkan piano, lalu mengikuti Hyukjae ke arah jendela. Tangannya melingkar dipinggang ramping Hyukjae, bibir tipisnya ia bawa untuk mengecupi bahu Hyukjae yang masih tertutup seragam sekolah musim panas yang tipis.

"Kenapa jadi marah?" tanya Donghae di sela-sela cumbuannya di bahu Hyukjae.

"Kenapa kau selalu menyepelekan segala hal? Mulai lah memikirkan masa depan kita dengan jelas!" seru Hyukjae sambil melepaskan dekapan Donghae.

"Hyukjae, aku...,"

"Hei, hei, hentikan jangan bertengkar!" Seorang pemuda tinggi berkulit pucat menghampiri Donghae dan Hyukjae. Melerai pertengkaran yang sebenarnya belum terjadi.

"Jangan membuat kegaduhan di ruang musik," katanya sambil membetulkan letak kacamatanya.

Untunglah Kyuhyun datang tepat waktu. Karena jika tidak, Donghae mungkin akan mulai menanggapi emosi Hyukjae dan mulai berargumen dengannya.

"Mau apa kau?" tanya Hyukjae ketus.

Bibir tebal Kyuhyun mencebik, ia tidak suka mendengar pertanyaan ketus Hyukjae. "Changmin menunggu di kantin, katanya ada yang mau dia bicarakan."

"Soal apa?" tanya Donghae tampak tidak tertarik. Karena menurutnya, Changmin pasti hanya akan membahas soal persediaan makanannya selama libur musim panas nanti.

"Soal liburan musim panas. Jangan banyak tanya dan cepat turun, sebelum Changmin mengunyah meja dan kursi kantin karena kelaparan menunggu kalian datang," ajak Kyuhyun sambil merangkul Donghae dan Hyukjae yang lebih pendek darinya, lalu menyeret mereka berdua ke kantin sekolah yang ada di lantai bawah.

.

ooODEOoo

.

"Jadi," Changmin memulai percakapan setelah menelan beberapa keripik yang ia kunyah barusan. "Bagaimana kalau kita berempat liburan ke Jeju? Kita cari gadis cantik di sana," kata Changmin menggantung.

"Oh, kecuali untuk Donghae dan Hyukjae. Kalian hanya tertarik pada satu sama lain, jadi yang mencari gadis cantik dan sexy hanya aku dan Kyuhyun saja," katanya meracau.

"Aku tidak bisa," sahut Kyuhyun tenang.

"Kenapa?" tanya Changmin hiperbola, matanya melotot ke arah Kyuhyun yang sedang meneguk jus jeruknya.

"Aku sibuk bimbingan belajar," jawabnya datar.

"Kau anak kelas unggulan memang menyebalkan! Untuk apa bimbingan belajar jika nilaimu tanpa belajar saja sudah seratus?" tanya Changmin dengan nada sarkasme.

"Aku juga tidak bisa," gumam Donghae tanpa mengalihkan pandangannya dari Hyukjae yang sedang membuang wajah. Enggan menatap Donghae.

"Kau kenapa lagi? Bimbingan belajar juga? Ah, anak kelas unggulan semuanya menyebalkan!" seru Changmin gusar. Kemudian ia melipat tangan, setelah sebelumnya memasukan banyak keripik ke mulutnya hingga penuh.

"Aku dan Hyukjae mau ke Jeolla. Minggu depan peringatan kematian kakakku, jadi aku mau mengunjunginya," jelas Donghae.

Hyukjae melirik Donghae dengan ekor matanya. Ah, Hyukjae lupa soal itu. Benar juga, liburan musim panas kali ini bertepatan dengan peringatan kematian kakaknya Donghae. Tiba-tiba Hyukjae merasa bersalah pada Donghae. Seharusnya ia tidak berdebat dengan Donghae disaat seperti ini, karena biasanya Donghae jadi lebih sensitif.

"Aku mau ke toilet," kata Hyukjae tiba-tiba.

Tanpa menunggu reaksi dari ketiga orang di sana, Hyukjae melangkah terburu-buru ke toilet. Sesampainya di toilet, Hyukjae membasuh wajahnya dengan air. Hyukjae merutuk dalam hati sambil memandangi bayangannya dicermin. Ia merasa bodoh karena tiba-tiba menjadi sensitif saat membahas masa depan. Donghae tidak salah apapun, tapi Hyukjae malah marah padanya dan terkesan menyalahkannya. Keterlaluan memang.

"Sedang apa?" tanya Donghae yang muncul entah dari mana.

Hyukjae terkesiap. "Kau membuatku kaget!"

"Changmin dan Kyuhyun sudah pulang duluan," kata Donghae sambil menyodorkan tas sekolah Hyukjae yang sama dengan Donghae. Hanya warnanya yang berbeda, milik Donghae hitam dan milik Hyukjae putih.

"Oh,"

"Kita pulang? Aku akan mengantarmu," ajak Donghae sambil menganggandeng tangan Hyukjae.

"Kenapa kau selalu mengantarku pulang? Setiap kali mengantarku, kau harus kembali putar balik."

"Karena aku baru bisa tenang jika sudah memastikan kau aman sampai rumah."

"Aku bisa jaga diri," sergah Hyukjae.

Jika kau terus begini, aku akan semakin sulit melepaskanmu...

.

ooODEOoo

.

"Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan denganmu," kata Donghae sesaat setelah mereka duduk di dalam bus.

Hyukjae yang baru saja duduk, mematung ditempatnya. Matanya masih memandangi Donghae, menanti kalimat selanjutnya.

"Aku mendapat tawaran untuk mengikuti pelatihan di New York,"

Hyukjae masih diam, ia teringat pada percakapannya dengan Changmin beberapa minggu yang lalu. Akhirnya, Donghae membahasnya juga. Hyukjae sempat berpikir, Donghae tidak akan pernah membahasnya sama sekali.

"Lalu?"

Donghae menarik napas panjang sebelum mengembuskannya dengan cepat. "Aku ingin sekali ikut pelatihan itu. Kau tahu sendiri, impianku ingin menjadi fotografer profesional. Tapi ...,"

Mata sendu Donghae menatap jauh ke dalam mata Hyukjae yang bening.

"... Aku memikirkan hubungan kita."

Hyukjae mengalihkan pandangannya ke jendela, lalu mengembuskan napas pendek.

"Aku memang berharap hubungan kita berlangsung selamanya, tapi aku juga tidak mau egois," Hyukjae berkata pelan. "Aku lebih ingin kau mendahulukan yang lebih penting dari hubungan kita."

"Hyukjae ...,"

"Jika memang ke New York adalah keputusan yang terbaik, maka aku akan selalu mendukungmu dan menunggumu pulang padaku di sini. Aku tidak akan kemanapun."

Donghae menggeleng, sambil menatap Hyukjae. "Setelah kupikir-pikir, sepertinya aku tidak akan ke New York dan melanjutkan kuliah di Korea saja. Seperti yang kau bilang, nilaiku cukup untuk masuk ke universitas manapun," katanya terdengar ragu.

"Eh, hari ini kita tidak usah langsung pulang," kata Donghae mengalihkan pembicaraan. Ia tidak mau membahas soal itu dengan Hyukjae.

"Bukankah kau mau ke studio?" tanya Hyukjae heran.

"Aku bisa kesana nanti malam. Sekarang baru jam dua. Hmm, bagaimana kalau kita belanja baju untuk liburan ke Jeolla nanti?"

Hyukjae mengangkat kedua alisnya. "Memangnya kau punya uang?"

Donghae mendengus, lalu berdecak. "Selama kau tidak melirik baju merk Gucci atau terserah apa namanya, uangku cukup untuk belanja!"

Hyukjae terkikik melihat wajah kesal Donghae. Kekasihnya ini memang selalu kesal jika Hyukjae sudah membahas soal merk barang kesukaannya yang harganya mencekik itu.

Melihat Hyukjae mengikik senang, Donghae hanya bisa mendengus. Masih remaja saja selera Hyukjae sudah setinggi itu, bagaimana saat dewasa nanti? Donghae harus memikirkan pekerjaan yang gajinya perbulan menembus jutaan won jika ingin menikahi Hyukjae nanti. Merepotkan sekali.

"Akhirnya kau tertawa juga," gumam Donghae sambil menatap jauh ke dalam mata doe Hyukjae.

Alis Hyukjae terangkat. "Hmm?"

"Kau selalu melamun akhir-akhir ini, aku jadi jarang melihatmu tertawa seperti tadi," kata Donghae menjelaskan.

Hyukjae membuang napas pelan, kemudian bersandar di bahu tegap Donghae. "Hanya sedikit banyak pikiran," gumamnya

Lima belas menit berlalu, Hyukjae mulai merasa matanya berat. Mungkin karena semalam ia tidak bisa tidur, jadi hari ini Hyukjae merasa cepat lelah dan selalu mengantuk. Perlahan mata Hyukjae tertutup dan akhirnya mendengkur halus di bahu Donghae.

Menyadari Hyukjae terlelap di bahunya, Donghae tersenyum lembut. Ia ikut memejamkan matanya, lalu menyandarkan kepalanya di kepala Hyukjae. Lama-lama kantuk menyerang, Donghae pun ikut terlelap bersama Hyukjae. Tangan mereka bertaut dan deru napas mereka bersahutan halus.

Aku tidak ingin hari seperti ini berakhir begitu saja...

.

ooODEOoo

.

Hari yang di nanti-nanti Donghae dan Hyukjae akhirnya tiba. Minggu pagi yang cerah membuat Donghae bersemangat menjemput Hyukjae ke rumahnya. Hari ini mereka akan ke Jeolla, itu sebabnya Donghae datang pagi-pagi ke rumah Hyukjae untuk minta ijin pada kedua orangtuanya. Meski Hyukjae bilang itu tidak perlu karena Hyukjae sudah minta ijin, tapi Donghae tetap memaksa datang dan meminta ijin langsung pada ayah dan ibu Hyukjae. Oh, juga kakak perempuannya yang terkadang galak pada Donghae.

"Ayah, ibu dan Sora Noona," kata Donghae dengan suara jernih dan tatapan yang mantap.

"Aku akan mengajak Hyukjae ke Jeolla beberapa hari. Mohon diijinkan."

Ibu Hyukjae tertawa pelan melihat gaya Donghae yang seolah mau melamar anaknya itu. Donghae duduk dengan posisi yang sangat sopan, punggungnya tegak, dan kedua tangannya terkepal di kedua lututnya.

"Pergilah, tapi hati-hati," kata ayahnya Hyukjae lembut. "Jika sudah sampai kalian harus menelepon."

"Siap, ayah!" seru Donghae lantang. Hyukjae yang duduk di sampingnya sampai terkesiap karena kaget.

"Hei, Bocah!" panggil Sora, kakak perempuan Hyukjae. "Jangan macam-macam pada adikku. Jika dia pulang dalam keadaan lecet sedikit saja, kugunduli rambutmu!"

Donghae melirik Sora dengan sinis. "Ciri-ciri orang dengki pada pasangan yang bahagia," gumamnya meledek.

"Apa kau bilang?" jerit Sora heboh.

"Hentikan!" Hyukjae menahan tangan kakaknya yang hendak menjambak rambut Donghae. Kemudian ia menarik Donghae agar segera berangkat sebelum kakaknya benar-benar menggunduli rambut Donghae.

"Ayah, ibu, aku berangkat dulu." Hyukjae memeluk kedua orangtuanya sebelum masuk ke taksi yang akan mengantar mereka ke stasiun kereta.

Donghae yang melihat itu hanya menggeleng pelan. Ia merasa seperti akan membawa Hyukjae ke pelosok negara selama bertahun-tahun.

"Ya ampun, kau benar-benar anak manja," ledek Donghae begitu taksi yang mereka tumpangi melaju.

"Diam kau, idiot!" hardik Hyukjae sambil menyikut rusuk Donghae.

"Aw, galaknya."

.

ooODEOoo

.

"Akhirnya aku kembali ke Jeolla setelah sekian lama!" seru Donghae sambil mengirup udara dalam-dalam, merasakan udara Jeolla yang sudah lama tidak ia hirup.

Hyukjae hanya memutar bola matanya sambil mengoleskan lipbalm di bibir plumnya yang terasa kering. Sesekali matanya melirik Donghae yang tampak sumringah. Hyukjae tidak bisa ikut sumringah karena merasa lelah dan banyak pikiran.

"Sebegitu senangnya kah dirimu, Lee Donghae?" tanya Hyukjae sambil mengikik melihat aksi Donghae yang mulai berlebihan.

Kekasihnya itu sedang memejamkan matanya dan menghirup udara dengan hidung mancungnya secara berlebihan. Pandangan Hyukjae tiba-tiba tidak bisa lepas darinya. Entah kenapa hari ini Hyukjae merasa Donghae terlihat sangat tampan. Kekasihnya itu memakai kaos tanpa lengan berwarna hitam, dipadukan dengan celana denim selutut dan kepalanya tertutup topi berwarna merah. Ditangannya melingkar jam rolex peninggalan mendiang kakaknya dan kakinya beralaskan sepatu Nike hitam kesayangannya.

"Aku benar-benar tidak menyangka bisa kembali ke Jeolla setelah sekian lama," katanya sumringah.

Benar, terakhir mereka ke sini adalah saat menguburkan abu mendiang Donghwa. Setelah itu Donghae tidak pernah kembali lagi ke Jeolla.

"Baiklah, tapi kau sangat berlebihan," kata Hyukjae sambil berusaha menghentikan Donghae yang sedang menghirup-hirup udara seperti ikan kekurangan air.

Donghae melirik Hyukjae, ia suka melihat Hyukjae memakai kemeja berwarna biru muda kebesaran dan dipadukan dengan celana rip jeans yang ketat. Membingkai kedua kakinya yang jenjang dengan jelas.

"Malam ini kita akan menginap di rumah singgah yang biasa kakakku pakai jika sedang melakukan pemotretan di sini. Hm, tempatnya tidak begitu mewah, tapi nyaman," kata Donghae sambil menghentikan sebuah taksi.

Hyukjae tidak banyak bicara, ia hanya mengangguk dan masuk ke dalam taksi yang berhenti dihadapan mereka.

Butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai ke rumah singgah Donghwa yang berada di dekat sungai dan padang ilalang. Mereka harus berjalan kaki setelah turun dari taksi untuk menemukan tempat yang agak tersembunyi itu. Tidak heran Donghwa memilih rumah singgah di sini, karena harus Hyukjae akui, pemandangannya memang indah.

"Ayo kita masuk dan membersihkan diri," ajak Donghae sambil mengulurkan tangannya.

Hyukjae menyambut uluran tangan Donghae, lalu sama-sama masuk ke dalam rumah singgah sederhana itu.

"Kau mau makan? Ibuku membuatkan kimbap," kata Hyukjae sambil membongkar kotak makanan yang ia bawa dari Seoul.

Donghae menggeleng, pandangannya fokus pada kamera yang sedang ia bersihkan dengan kain tipis.

"Aku akan makan nanti, aku harus ke tempat Yunho Hyung," katanya sambil mengalungkan kamera Canon Mark II peninggalan kakaknya.

"Tapi kita baru sampai, harusnya kau istirahat dulu," Hyukjae berkata agak kesal.

"Ada objek yang ingin aku foto bersama Yunho Hyung saat datang kemari. Kau tunggu saja di sini, aku tidak akan pulang malam," kata Donghae sambil mengecup bibir plum Hyukjae yang mencebik.

"Oh, jika kau perlu sesuatu, datang saja ke rumah sebelah. Di sana ada bibi Eunjung yang biasa mengurus rumah singgah ini."

Hyukjae berdecak sambil memandang Donghae dengan tajam. "Kuharap kau diterkam hewan buas dan mati ditengah hutan!" makinya kejam.

Donghae meringis mendengar makian Hyukjae, tapi sesaat kemudian ia tersenyum sambil mengusak rambut hitam Hyukjae. Wajah tampannya condong ke arah Hyukjae yang masih duduk di lantai dikelilingi koper mereka berdua, lalu mendaratkan sebuah kecupan lembut.

"Kalau aku mati, siapa menemani belanja nanti?" katanya sambil mengusap bibir lembut Hyukjae dengan jempolnya.

"Pergi sana!" usir Hyukjae kasar. Ia tidak suka jika Donghae sudah menatapnya dengan seduktif seperti itu.

"Baiklah aku pergi dulu, jika ada apa-apa telpon aku."

Setelah Donghae menghilang di balik pintu, Hyukjae mendesah pelan. Ia membaringkan tubuhnya di lantai kayu itu sambil menatap langit-langit rumah. Dalam hati ia merutuk, menyumpahi Donghae yang malah meninggalkannya sendirian di rumah singgah. Menyebalkan sekali.

.

ooODEOoo

.

"Jadi, bagaimana keputusanmu soal belajar di New York?" tanya seorang pemuda bermata musang pada Donghae.

Jung Yunho, teman dekat kakaknya itu sedang membidik objek dengan kamera yang sejenis dengan milik Donghae. Ia kemudian memeriksa hasil jepretannya sebelum melirik Donghae yang tampak melamun sambil mencabuti rumput yang menjadi alas duduknya.

"Aku belum tahu, tapi sungguh ingin belajar di sana. Jika aku belajar di New York, mungkin ayahku juga akan berhenti menentangku," kata Donghae lesu.

"Kalau begitu pergilah, kejar impianmu dan buktikan pada ayahmu bahwa kau memang serius dengan tujuan hidupmu," sahut Yunho sambil menghampiri Donghae, lalu ikut duduk di sampingnya.

"Aku merasa berat meninggalkan Hyukjae," Donghae berkata sambil memandangi hamparan Sungai di hadapannya yang berkilauan karena bias cahaya matahari.

Yunho berdecak beberapa kali. "Kau masih muda, kenapa memikirkan cinta monyet dengan serius."

Donghae melirik Yunho dengan sinis. "Ini bukan cinta monyet, Hyung. Serius, jangan menganggap hubunganku dengan Hyukjae hanya main-main," katanya gusar.

"Cinta monyet biasanya tidak akan berakhir bahagia," gumam Yunho.

"Aku akan menciptakan akhir bahagiaku sendiri."

Yunho mengangguk pasrah. "Kau memang keras kepala," katanya sambil kembali membidik objek dengan kameranya.

Ini hidupku, aku sendiri yang menentukan jalan dan tujuannya...

.

ooODEOoo