"Aku ada rencana yang bagus..." gumam Sasuke berbisik ke telinga kiri Sakura.

"..." Sakura hanya mengerjapkan matanya berulang kali. Ia merasa senang karena kekasihnya cepat berubah pikiran.

"Kau akan menikahiku, Sasuke-kun?" tanya Sakura tersenyum dengan manis.

"Bukan." jawab si bungsu Uchiha itu dengan mantap.

"Eh?"

"Melainkan kau harus menikahi kakakku dulu..."


.

.

.

It's My Fault

Chara : Uchiha Itachi x Haruno Sakura x Uchiha Sasuke

Rate : M

Genre : Drama

Warn : AU, OOC. typos, minim deskripsi dan maaf jika ada kesamaan ide

Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto

:chacha:

.

.

.


Sakura termangu sebentar berusaha mencerna kembali perkataan Sasuke. Memastikan apakah indera pendengarannya masih berfungsi dengan baik atau tidak.

"A-apa maksudmu?" tanyanya lagi, "Kau mau aku menikahi Itachi-nii?"

Sasuke mengangguk pelan. Kedua jelaganya menatap wanitanya dengan sendu.

Gadis itu meremas jemari putih pucat milik Sasuke, ia merasa keputusan sepihak ini benar-benar tidak adil baginya, "Tidak. Aku tidak mau, Sasuke-kun. Aku tidak mencintai kakakmu..." ujarnya memelas, meminta Sasuke untuk membatalkan rencananya barusan.

"Tapi dia menyukaimu." jawab Sasuke pelan. Ia berusaha menjelaskan semuanya kepada Sakura bagaimana perasaan yang Itachi pendam selama ini. Sasuke sadar bahwa Itachi merasa iri dan cemburu setiap Sakura mampir ke perumahan mereka hanya untuk mencarinya, selalu menggoda dan menanyakan kabar Sakura setiap kali mereka sudah pulang kencan dan si adik bahkan pernah menemukan selembar foto gadis bersurai merah muda itu dan mencoba untuk pura-pura tidak tahu.

Sasuke tidak ingin merusak hubungan persaudaraan mereka karena kekasihnya, Sakura.

Isak dari sang gadis semakin menjadi, "Ba-bagaimana kalau kita akui saja kalau aku sedang mengandung, Sasuke-kun? Aku yakin kedua orang tua kita pasti langsung menyetujui ini dan membatalkan perjodohanku dengan Itachi-nii." saran Sakura memcoba member jalan keluar dengan problema rumit yang telah mereka ciptakan.

"Sudah kubilang, Sakura. Aku belum siap menjadi ayah. Aku butuh waktu secara finansial dan juga mental untuk itu. Karenna itulah aku menyuruhmu untuk menikahi kakakku dulu." pemuda raven tersebut menjelaskan rencana untuk masa depan mereka berdua.

"Sasuke..." gumam Sakura melepaskan genggamannya, "Bagaimana nanti jika aku ketahuan kalau aku hamil sebelum menikah dengannya? Bukankah waktu kita 'melakukannya' kau berjanji akan bertanggung jawab padaku?" desaknya.

"Aku memang akan bertanggung jawab!" Sasuke pun menaikkan volume bicaranya. Sakura yang mendengar perkataan itu menjadi mematung.

"Tapi tidak sekarang..." sambungnya lagi.

"Karena itu. Bila waktunya sudah tepat, aku akan mengakui semuanya dan akan akan membawamu dan anak kita pergi jauh dari sini." si Uchiha muda pun meraih kedua pipi putih Sakura yang sudah merona dengan janji manisnya, meraih bibir merah mudanya yang ranum. Mengecup pelan gadis yang sedari tadi telah menangis sesenggukan di dadanya. Sasuke sebenarnya menyayangi gadis itu namun situasi yang tidak tepat membuat dirinya merasa seperti bajingan dengan memanfaatkan kebaikan Itachi untuk menutupi aib mereka berdua.

"Aku mencintaimu Sakura..." bisiknya di sela jeda ciuman mereka. Sakura hanya

memejamkan kedua giok indahnya dan menenggelamkan kepalanya di dada bidang kekasihnya itu.

'Aku juga, Sasuke-kun...'

:chacha:

Sepuluh hari telah berlalu. Kandungan Sakura telah berkembang selama empat minggu. Setelah perbincangan berat yang telah ia dan Sasuke utarakan, akhirnya gadis musim semi tersebut menerima rencana yang telah Sasuke putuskan. Yang hanya perlu gadis itu lakukan hanyalah menikahi Itachi dan menunggu pertanggung jawaban dari Sasuke.

Putri semata wayang dari Kizashi dan Mebuki tersebut mengelus perut rampingnya yang belum membuncit, "Kamu baik-baik saja ya sayang. Papa pasti akan menjemput kita berdua." ujarnya sambil tersenyum lembut.

Hingga kedua kakinya menuruni anak tangga kamarnya setelah berulang kali sang ibu memanggil dirinya karena kedatangan tamu yaitu calon suaminya, Itachi.

Jantung Sakura berdegup kencang karena kaget bukan main. Ia belum berdandan apa-apa dan Itachi datang menemui dirinya? Ada angin apa yang membawanya kemari?

"I-Itachi-nii..." panggil Sakura dengan suara cicitan anak ayam. Otaknya belum terkoneksi dengan baik dan tidak tahu harus mengatakan apa. Ia pun duduk di hadapan si sulung Uchiha dan memasang senyuman yang gugup tapi manis.

Itachi pun membalas senyuman dari sang calon istri, "Baru bangun tidur, hm?" tanyanya memangku kedua tangannya. Pertanyaan itu membuat Sakura malu setengah mati karena ia merasa Itachi memandangnya sebagai gadis pemalas.

"Ehehehe..." Sakura tertawa kikuk, semburat merah telah hadir di kedua pipinya. Sementara Itachi terus menatap gadis cantik itu lekat-lekat dan sesekali senyuman tipis terpahat di wajahnya.

"Apa aku menyinggungmu?" tanya Itachi mulai memasang raut wajah sendu karena gara-gara pertanyaannya barusan Sakura menjadi kehabisan kata-kata. Ia pun menegakkan kepalanya dan memandang gadis itu lagi.

Sedangkan yang ditanya menjadi kelagapan, "Oh tidak. Aku juga bingung mau bicara apa sama Itachi-nii. Maaf..." Sakura pun menggeleng-gelengkan kepala merah mudanya dan jemarinya saling meremas karena ia sangat jarang mengobrol dengan kakak dari kekasihnya itu.

Itachi pun meminum the manis yang telah disediakan oleh Mebuki tadi. Setelah menyeruputnya, pemuda berusia 29 tahun itu memancing pembicaraan lagi, "Kau pasti bingung akan kedatanganku kemari kan Sakura?" tanyanya dengan lembut. Kedua oniksnya menatap manik giok sang gadis dengan intens.

"Ah iya. Hampir saja aku lupa menanyakan. Apakah ada sesuatu yang ingin Itachi-nii bicarakan?" tanya Sakura dengan raut wajah berseri-seri agar tidak mengundang kecurigaan Itachi.

"Hm..." bola mata obsidian Itachi melirik ke arah atas. Sepertinya ia tengah memikrkan kalimat apa yang membuat Sakura terkejut.

"Ayo kita memilih baju pengantin." ajaknya meraih jemari lentik sang calon istri.

:chacha:

Mereka berdua telah sampai di butik terkenal di kota Tokyo. Itachi telah menyediakan semua persiapan pernikahan baik gedung resepsi, gereja untuk seremoni serta tanggal pernikahan dan undangan pernikahan yang telah ditetapkan. Hanya saja Itachi menunggu waktu agar mental Sakura siap dengan perjodohan yang disepakati sepihak tanpa persetujuan dari si gadis. Namun kali ini Itachi senang dan menghembuskan napas lega karena Sakura bersedia menerima ajakannya untuk fitting gaun pernikahan mereka nanti.

Manik hijau Sakura menatap gaun-gaun indah dan mewah dengan nuansa putih suci ia merasa senang karena ia akan memakai baju indah yang tak pernah ia bayangkan namun rasa sedih mulai menghantui dirinya. Sakura merasa ia tidak pantas untuk Itachi dan belum bisa menaruh hati serta yang ia inginkan untuk mendampinginya adalah Sasuke.

Bukan Uchiha Itachi.

Pandangan Sakura mengabur. Dirinya merasa pusing karena rasa tertekan muncul secara tiba-tiba. Memikirkan reaksi Itachi mengenai aibnya merupakan mimpi buruk bagi Sakura.

"Bagaimana bisa aku menerima jalang ini? Bahkan anak yang dikandungnya bukanlah anakku!"

Itulah kalimat yang Sakura takutkan yang nanti akan telontar dari mulut Itachi

"Sakura?" guncangan bahu gadis itu mulai kuat dan membuyarkan lamunannya sejenak. Gadis itu menyadari bahwa Itachi sedari tadi memanggil-manggil namanya.

Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengatur napasnya yang terengah-engah. Menolehkan kepalanya kepada pangeran yang sebentar lagi akan mempersuntingnya.

"Y-ya, Itachi-nii?" sahut Sakura mendekatkan diri kepada pemuda sulung Uchiha itu.

"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Itachi menatap lembut gadis muda Haruno yang menurut dia sangat aneh semenjak menatap gaun-gaun yang terpajang di setiap sudut ruangan, "Kamu tidak menyukai gaun-gaun di sini? Kita bisa mencari di butik lain." ujarnya memastikan. Itachi menggandeng lengan Sakura dengan lembut untuk menenangkannya.

"Bukan. Aku suka gaun-gaun di sini. Terlalu banyak gaun yang indah sehingga aku kesulitan untuk memilihnya." jawab Sakura tersenyum lebar tiga jari. Senyuman yang indah sama seperti namanya. Senyuman yang membuat Itachi jatuh cinta.

Pemuda berkuncir rendah itu membuang muka, "Baiklah...pilih saja gaun yang paling kau suka. Aku akan menunggu sambil memilih suit yang cocok untukku." sang calon suami pun pergi ke bagian baju pria untuk mencari tuxedo terbaik untuknya.

Pandangan gadis berhelai merah muda itu terpaku pada satu gaun simpel. Berwarna gading bermodel kemben berenda yang mengekspos bahu, lengan dan punggungnya yang mulus. Gaun tersebut tidak terlalu kembang sehingga mempermudahkannya untuk melangkan ke altar nanti. Kerudung sepunggung pun ikut memaniskan gaun indah tersebut serta tiara putih nan mengkilat yang menghiasi kepalanya bak puteri kerajaan nanti.

"Boleh saya coba gaun yang satu ini?" tanya Sakura kepada pelayan yang sedari tadi menawarkan model gaun pengantin kepada calon nyonya Uchiha tersebut.

"Silahkan, nona."

:chacha:

Itachi dan Sakura pun telah memilih gaun dan setelan yang mereka sukai dan akan diambil sebelum hari pernikahan mereka. Sakura sebenarnya masih merasa canggung untuk menanyakan semuanya. Namun ia begitu penasaran akan apa yang membuat pemuda itu memilih dirinya sebagai pendamping hidupnya nanti.

"Ah." Sakura menepis semua itu. Ia sudah tahu kalau kedua orang tuanya telah menjual kebahagiaannya demi menghidupkan kembali perusahaan keluarganya dengan menjalin kekerabatan dengan keluarga Uchiha, sahabat bisnis keluarganya.

Dan sangat kebetulan putera sulung Uchiha jatuh cinta dengan dirinya padahal Itachi sudah tahu bahwa dirinya adalah kekasih dari Sasuke.

Bukankan ini seperti mengambil kesempatan dalam kesempitan?

'Aku akan menanyakan semuanya saat kami sudah menikah nanti.' batin Sakura memainkan kedua jemari telunjuknya.

Mobil mewah hitam metalik milik Itachi telah berhenti di depan mansion Haruno yang megah. Tanpa Sakura sadari bahwa mereka telah sampai di rumah.

Itachi pun membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan calon istrinya keluar. Meraih tangan mulus sang gadis dan mengecupnya dengan lembut. Sesekali rona merah muncul di wajah Sakura tanpa ia sadari. Ternyata Itachi cukup pandai dan lembut dalam memperlakukan wanita, tidak seperti Sasuke yang cenderung lebih kaku dan terkadang kasar kepada dirinya.

"Terima kasih, Itachi-nii." Sakura pun menundukkan kepalanya setelah pemuda itu mengantarnya ke pintu megah itu seraya berpamitan untuk masuk ke rumahnya.

"Itachi." ralat si pria membenarkan panggilannya yang barusan Sakura ucapkan.

"Terima kasih, Itachi..." dan sekali lagi gadis itu pun buru-buru melangkah ke daun pintu sementara kedua mata arang milik Itachi terus memandang punggung Sakura yang sebentar lagi akan hilang di pandangannya.

"Sakura?" panggil Itachi yang tersendat hendak mengatakan sesuatu. Sementara empunya nama pun membalikkan tubuh rampingnya karena merasa dipanggil lagi oleh calon suaminya.

"Hm?" tanyanya memasang senyum simpul. Dirinya berdiri dengan jeda waktu yang agak lama untuk menunggu Itachi berbicara.

"Aku tidak sabar tiga minggu lagi." ujarnya tersenyum lembut, "Di mana dihidupku hanya ada kamu dan aku." sambungnya kemudian ia pun kembali untuk masuk ke mobilnya.

Sakura tidak tahu bahwa pemuda yang membelakanginya saat ini tengah tersenyum lebar. Si sulung Uchiha merasa bahagia dan berdebar-debar ketika gadis itu bersamanya.

"Aku mencintaimu, Sakura..." gumamnya menatap langit biru yang cerah. Secerah wajah gadis yang dicintainya.

To Be Continue

A/N : Woohoh apakah ceritanya tambah gaje?

Review dan kritik saran akan aku terima dengan senang hati ;)

See you!

Chacha Rokugatsu.

Special thanks to :

Rizki Rizka, XiuZulfan, Alya Fadila, CherryBloosom and Febrichan2425