"Kau harus jadi kekasihku"
"APA?"
.
.
.
Disclaimer: Not mine. Semua pasti tahu siapa yang punya Naruto 'kan?
Butterfly Loves Book © Michi-chan Phantomhive626
Warning: AU, OOC, alur gak jelas, etc.
ENJOY!
FLAME IS NOT ALLOWED!
Pagi yang cerah di Konoha. Fajar yang menyingsing memaksa orang-orang untuk memulai aktivitasnya. Jalanan pun mulai ramai karena kendaraan yang berlalu lalang. Trotoar juga dipenuhi tawa dan hiruk pikuk para pejalan kaki yang dan anak-anak yang akan bersekolah atau pun bekerja.
Sakura berjalan gontai ke sekolahnya, Konoha High School. Berbanding terbalik dengan cuaca yang cerah, wajahnya murung dan ogah-ogahan. Badannya lesu dan pikirannya tidak fokus di jalan. Mata emeraldnya terlihat sayu.
Kalau ingin bertanya kenapa gadis berambut soft pink itu jadi seperti ini, mari kita tinjau ulang kejadian kemarin.
Flashback
"Kau harus jadi kekasihku" kata Sasuke.
"APA?"
Sakura melotot tak percaya pada pemuda di depannya. Jadi kekasih katanya? Seenaknya saja. 'Jangan bercanda!' teriak Sakura dalam hati.
"Aku tidak mau, enak saja kau. Kenal juga tidak!" jawabnya asal.
"Hn, kau jangan salah paham dulu," ujar Sasuke. Ia berjalan melewati Sakura dan duduk di bangku dekat jendela sambil menyandarkan tubuhnya. Kedua telapak tangannya ia letakkan di belakang kepala.
Sakura berbalik menatap mata onyx pemuda itu. Ia diam dan menunggu Sasuke melanjutkan perkataannya.
"Kita hanya bersandiwara saja. Bohongan maksudku," ujarnya santai.
"Heh, kenapa aku harus mau?" balas Sakura. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menunggu penjelasan dari pemuda berambut model mencuat kebelakang itu.
"Hn. Tentu kau harus mau, Haruno," Sasuke menatap Sakura dan menyeringai, "Kalau tidak bukumu tidak akan kukembalikan" lanjutnya santai.
Sakura melotot tak percaya. Pemuda di hadapannya ini benar-benar seenaknya saja. Sakura benar-benar merutuki takdir yang mengaturnya bertemu pemuda bermata onyx ini. Tapi, buku itu sangat penting bagi Sakura –yah, karena ia memang gila buku- dan itu adalah buku limited edition yang dibelinya beberapa hari lalu.
"Kau tenang saja, kita hanya pura-pura kan? Sebenarnya aku benar-benar bersyukur dengan kejadian tadi," perkataan Sasuke membuat Sakura sadar dari lamunannya. Emeraldnya menatap onyx Sasuke tajam. 'Tapi aku tidak, baka!' rutuk Sakura dalam hati.
"Kau tahu? Para gadis itu benar-benar menyusahkan. Selalu mengikutiku kemana saja," Sasuke mulai bercerita sambil menerawang. "Tapi sejak aku mengatakan berpacaran denganmu tadi, mereka berhenti mengejarku. Hahaha, menyenangkan sekali," tawanya. Sakura memandangnya kesal. Entah kenapa ia jadi tidak bisa sama sekali melawan Sasuke
Lalu Sasuke bangkit dari duduknya dan berjalan kembali melewati Sakura ke arah pintu. Ketika tepat di ambang pintu, ia berbalik sebentar dan menyeringai ke arah Sakura. Sakura bergidik ngeri.
"Lagipula kau tidak bisa menghindar lagi. Satu sekolah ini sudah tahu bahwa kau adalah pacarku, Uchiha Sasuke. Oh ya, mulai hari ini aku akan memanggilmu 'Sakura' saja. Dan kau panggil aku Sasuke, ok. Bye, sayang~" katanya sambil berlalu meninggalkan Sakura yang masih bengong.
1 detik…
5 detik…
10 detik…
"Kami-sama! Katakan kalau ini hanya mimpiiiiiiiiii!"
End of Flashback
Sakura's POV
Aku menghentikan langkahku dan menarik nafas panjang. Gara-gara si Sasuke yang suka seenaknya itu hancur sudah kehidupan tenang di sekolahku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku kuat-kuat.
'Tidak! Kau harus menjelaskan semuanya Sakura!'
Terdengar teriakan seperti itu dari dalam diriku. Ya, benar juga. Tak akan kubiarkan ia merusak kehidupan damaiku. Aku mengepalkan kedua tanganku ke udara dan reflek berteriak "Yosh, aku akan berusaha!"
Tiba-tiba aku merasakan sorotan orang-orang di jalan. Mereka pasti menganggapku aneh. Aku tersenyum canggung dan sedikit membungkuk ke arah mereka lalu melenggang pergi. Gah, bisa-bisanya aku bersikap begitu.
Aku mempercepat langkahku ketika memasuki gedung Konoha High School, sekolahku. Aku menyusuri koridor yang penuh oleh anak-anak yang berlarian, ada pula yang ngobrol dengan teman mereka. Kenapa mereka tidak masuk dan menunggu bel berbunyi di kelas saja sih? Mengganggu saja.
Sesampainya di depan pintu kelas, aku menguatkan hati. Aku sudah bertekad akan menjelaskan semuanya pada mereka. Aku ingin kehidupan damaiku kembali!
SREK
Aku membuka pintu kelas dengan canggung.
"O-ohayou minna-san" sapaku gugup. Teman-teman di kelas menatapku sebentar, lalu mereka kembali ke aktivitas mereka. Seakan-akan aku ini… tidak ada.
Aku terdiam di ambang pintu menatap mereka semua. Astaga, aku baru ingat, aku bahkan tak pernah sekalipun bergaul dengan teman sekelasku. Aku menutup mulutku dengan kedua telapak tanganku.
Tiba-tiba mataku terasa memanas, aku berlari dan meninggalkan ruangan kelas. Tak peduli bahwa aku akan absen atau sebagainya. Kakiku membawaku ke suatu tempat, tak lain yaitu ruang kesenian.
Tiba disana aku segera masuk dan meringkuk di sudut ruangan. Kedua tanganku memeluk lutut. Dan aku membenamkan wajahku diantara dua lututku. Entah kenapa aku merasa sedih sekali. Rasanya aku benar-benar sendirian di dunia ini. Kedua orang tuaku sudah meninggal. Teman pun… aku tak punya. Ternyata aku memang benar-benar menyedihkan.
Sakura's POV End
Suara isak tangis tangis Sakura memenuhi ruang kesenian. Ia melepaskan semua kesedihannya yang ia pendam sendiri. Tiba-tiba ia merasa ada seseorang yang menepuk bahunya. Sakura pun mendongak. Iris emerald-nya menangkap bayangan seorang pemuda raven dengan seragam sepak bola menatapnya heran. Sasuke.
"Hey, kau menangis?" tanyanya.
Sakura hanya diam dan menundukkan kembali kepalanya. Merasa diacuhkan, Sasuke berinisiatif sendiri untuk ikut duduk dengan posisi yang sama di sebelah Sakura. Ia menoleh pada gadis itu.
"Kau ada masalah?" tanya Sasuke lagi.
"…"
"Mau cerita padaku?"
"…"
"Hey−"
"Berisik!" Sakura berteriak di depan wajah Sasuke. Wajah Sakura merona. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Secepat kilat Sakura mengalihkan pandangannya ke arah lain. Astaga, wajahnya memang tampan! Oh, apa yang kau pikirkan, Sakura?
Sasuke mengangkat sebelah alisnya. 'Kenapa dia?' pikirnya.
"Bisa kau ceritakan masalahmu?" bisik Sasuke. Ia jengah pertanyaannya tidak dijawab oleh Sakura dari tadi.
Sakura sadar dari lamunannya. "Aku…"
"Jadi… kau baru sadar kalau kau sama sekali tidak punya teman?" Sasuke menarik kesimpulan dari masalah yang baru saja diceritakan oleh Sakura. Sakura hanya mengangguk lemah. Ia menyandarkan dagunya di atas lututnya.
"Hn…" Sasuke menyandarkan tubuhnya ke dinding dan menaruh kedua tangannya di belakang kepala. Mata onyx-nya menerawang ke langit-langit ruangan. Tampak berpikir. Tiba-tiba sebuah ide melintas di kepala Sasuke.
Sasuke bangun dari sandarannya dan menatap Sakura penuh antusias. "Hey, aku punya ide!" serunya.
Sakura memiringkan kepalanya ke kiri dan balas menatap Sasuke bingung. "Ide? Apa?"
"Begini, bagaimana… kalau aku menjadi teman pertamamu?" ucap Sasuke sambil menunjuk dirinya dengan ibu jarinya.
"Hah? Maksudmu?"
Sasuke memutar bola matanya bosan. 'Gadis ini lemot sekali,' pikirnya.
"Kau bilang kau tidak punya teman, kan?" Sasuke menjelaskan dengan (berusaha) sabar. Sakura mengangguk. "Jadi, aku yang akan jadi temanmu sekarang!"
"Benarkah?" Sakura menatap Sasuke penuh harap dan mata berbinar-binar.
"Hn."
"Terima kasih, Sasuke!" Sakura secara spontan memeluk Sasuke. Sasuke tentu saja kaget. Oh, ayolah! Ini pertama kalinya Sasuke dipeluk oleh seorang wanita selain ibu kandungnya.
Tersadar dari perbuatannya, Sakura melepas pelukannya dari Sasuke. "Ma-maaf, aku… terlalu bersemangat," ucapnya sambil tertunduk malu.
Sasuke mengalihkan pandangannya dan menggaruk belakang kepalanya. "Hn, tak apa," ucapnya stay cool. Padahal dalam hati ia berdebar-debar. Mencoba menghalau perasaan aneh itu, Sasuke berdiri dan menepuk-nepuk celananya yang terkena debu di lantai. Lalu ia mengulurkan tangannya pada Sakura.
"Ayo, akan kuajarkan kau cara berteman yang cepat!"
"Eh? Bagaimana caranya?"
"Kau ini cerewet sekali. Nanti kau juga akan tahu!" rasanya Sasuke cukup jenuh dengan Sakura yang banyak bertanya.
Sakura mengerucutkan bibirnya tanda kesal. "Baiklah," ucapnya sambil menerima uluran tangan Sasuke. Tanpa sadar, mereka bergandengan meninggalkan ruang kesenian.
To Be Continued
O-oke! Silahkan lempari Michi dengan apapun yang kalian mau.
Udah update-nya ngaret, cerita pasaran, EYD nggak jelas, tambah pendek lagi.
*Pundung*
Yaaaah~ Michi (mungkin) emang nggak berbakat nulis fic.
Tapi Michi masih nekat juga dan suka nulis fic *lha?*
Hmm, kalau di hitung-hitung, udah hampir dua bulan nih fic terlantar.
o-oke, jangan dibahas lagi. xD
Oh ya, Michi mau ngucapin terima kasih pada:
Hikari Shinju
SASSHI
aya-na rifa'i
4ntk4-ch4n
C.U
nana
Akera Raikatuji
Miss Uchiwa 'Miko-chan
Misa UchiHatake
Kurosaki Naruto-nichan
Hikari Meiko Eunjo
Kazuma B'tomat
KristaL
Aoi Shou'no
beby-chan
Nakamura Kumiko-chan
Uchiha Sakura97
Honami
Rina-chan
Uchiha vee-chan
Terima kasih sudah bersedia meriview chapter kemaren,
Bersediakah kalian para reader, meRiview fic ini lagi? :)
