Journey To The Past
.
.
Desclaimer : Masashi Kishimoto.
.
.
Warning : Typo bertebaran, OOC, Receh dan berbelit-belit. EYD berantakan.
.
.
RnR :)
.
.
Latar, setelah 1 tahun Shikadai di angkat jadi Chuunin.
--
-
"Shikadai mau kemana?"
anak berambut nanas copy-an ayahnya itu menoleh pada sang sepupu.
"Ah, Boruto mengajak piknik, ah itu merepotkan, tapi aku sudah berjanji akan ikut"
"Uzumaki Boruto? anak itu cukup aneh"
"Kenapa Shinki? kau mau ikut?" tanya Shikadai pada Sepupunya itu.
Shinki menggeleng, "Aku akan membantu Oyaji di gedung Hokage" Ujar Shinki
"Selera mu merepotkan, baiklah lain kali, kau harus ikut" ujar Shikadai
Shinki mengangguk.
"Shikadai"
"hm?"
"Bawa adikku"
"ha?"
"Dia pasti kesepian di rumah, kau tak keberatan menjaga nya kan?" tanya Shinki.
Shikadai terdiam. lalu menggeleng.
"ah, semua perempuan itu merepotkan. tapi kurasa Aiko cukup penurut, jadi tak masalah buatku"
"tumben sekali".
"hhh, mendokuse~"
"baiklah, aku pergi"
Shinki pun menghilang di balik pagar Rumah keluarga Nara.
.
.
.
"Yo Shikadai!" Boruto melambaikan tangannya melihat kedatangan sosok berambut nanas.
"dimana yang lain? kalian cuma bertiga?" tanya Shikadai.
"Chochou lagi beli keripik kentang seperti biasa" kinkini Inojin menjawab.
"aku tak melihat mitsuki daru kemarin" Kata Boruto.
"kata ayahku, dia pulang kampung beberapa hari" Inojin bersender pada pohon di belakang nya.
"Ah, itu duo Uchiha, loh? Hima kenapa ikut?" Boruto bengong.
"HEH! BAKA! IBU MU ITU MENYURUH KAU MENEMANI ADIKMU! KENAPA MALAH KAU TINGGALKAN HAH?!" Sarada menjewer telinga Boruto.
"hah? benarkah?"
"Nii-chan jahat! meninggalkan Hima!" Himawari memanyunkan bibirnya sebal.
"eh- Maaf deh himaa"
"loh, Aiko-chan ikut!!" Himawari mengalihkan perhatiannya pada Gadis berambut merah yang duduk di sebelah Shikadai.
"ah, Ohayou Himawari.." Aiko tersenyum, senyum tipis tapi sangat manis.
'kawaaaiiii'
batin Sarada dan Boruto menjerit. (loh kok bisa samaan)
"yatta! aku akan bermain dengan Aiko saja!" Himawari menghampiri Aiko senang .
lalu mereka tenggelam dalam pembicaraan mereka.
"ne~ otoutou-chan" Sarada menyikut adiknya pelan.
Seiya yang melihat 2 gadis beda 1 tahun di bawahnya itu terlonjak kecil.
"hn?"
"Jangan terpesona begitu dong.. kau meruntuhkan Stoic clan uchiha" Goda Sarada.
"siapa yang terpesona huh?!" Seiya memalingkan wajahnya.
"hei, bahkan Kuchiyose mama akan tau kalau kau itu lagi terpesona bakaotoutou!" Sarada terkekeh melihat semburat merah tipis di wajah tampan adikknya.
"hm.. ku akui, seleramu benar2 bagus otoutou! sudah ku katakan kan, aku mendukung kalian berdua!" ujar Sarada.
"berhenti menggoda ku Nee-chan!" desis Seiya sebal.
Sarada ingin sekali memotret wajah malu2 Seiya itu.
otak jenius nya berpikir, 'apakah Papa juga berwajah seperti itu di dekat Mama?"
"Aiko itu anak yang manis, aku yakin dia akan meruntuhkan ke-dinginan dan sifat tsundere mu itu!"
"Nee-chan, kau berbicara seolah itu bukan sifat mu juga. hhhh" Seiya sedikit menyinyir.
Sarada terkekeh.
dia mulai berpikir, seperti nya Clan Uchiha tidak hanya menurun temurunkan Sharingan, mata kelam dan Rambut Gelap, tapi juga sifat Tsundere.
ya, mungkin ia akan memberi info itu pada mama nya nanti.
"Ya ampun, Si gendut itu kemana sih??" Inojin menghela nafas frustasi.
"siapa yang kau bilang gendut hey?!" Chocou sudah berdiri di samping Seiya sambil memakan keripik kentangnya.
"Ahh- err— Tidak ada"
"inojin.. aku mengawasi mu lohh"
"Yosh! dengan ini kita semua sudah berkumpul!" seru Boruto.
"semua? hanya segini?" tanya Seiya.
"ya, tim Iwabe sedang menjalankan misi, tim ninchou sedang latihan rutin bersama Hanabi-nee." kata boruto.
"lagi2 kita hanya seginian" Kata Chochou, "aku bosan tak ada pria tampan" lanjutnya.
"Hhh, dasar gendut"
"Apa mau mu Inojin!" Seru Chochou yang maju ingin menghajar cowok berkulit porselen itu.
"hhh. Urusai-yo" Seiya mendengus.
Chochou menoleh. "heyaa, ku tarik kata2 ku tadi, bukankah Seiya itu termasuk tampan, nee~"
"ne, Seiya-nii mirip sekali dengan Sasuke jii-chan, aku melihat foto kecil Sasuke jii-chan di Kamar Tou-chan, dan itu benar2 mirip!" seru Himawari.
"ya, apalagi rambut mu itu bakaotoutou!" Seru Sarada.
"jangan berkata-kata seolah kau tak mirip papa, Nee-chan"
Sarada terlonjak saat mata Adiknya itu berubah merah, sharingan nya aktif, hhh, sepertinya adiknya dalam mood yang buruk.
"hoii~ aku akan diam otoutou.. " Sarada menyerah. membuat adiknya kesal bukanlah hal yang baik.
Karna kalau kalian ingin tahu, Adiknya itu sudah menguasai mangekyou sharingan, bahkan tanpa di ajarkan sang papa, ia juga mahir menggunakan Katon sebagai Chakra dasar clan uchiha, dan chakra Raiton yang ia milik sendiri.
benar2 mirip papa, Ah, Sarada akui, sifat chakra nya juga Raiton, tapi.
Seiya lebih mahir menggunakannya, bahkan ia belajar Chidori tanpa di ajari Sang papa.
Si jenius Uchiha telah lahir kembali, kata orang2, Seiya benar2 mewarisi kejeniusan pamannya, Uchiha Itachi.
entah harus Iri atau bangga, mungkin keduanya di rasakan Sarada, tapi mengingat adiknya yang benar2 tak pernah bertemu papa nya hingga hari ini, menghapus segala iri nya pada adiknya itu.
di banding iri, ia justru menyalahkan dirinya sendiri karna belum bisa menjadi kakak yang baik untuk adik satu2 nya itu.
Karna tekanan, Seiya tumbuh menjadi anak pendiam yang menyembunyikan segala keresahannya.
beberapa bulan yang lalu, Ia terluka parah dalam misi dan mengobatinya sendiri. Mamanya sampaj menangis karna telat tau Seiya sakit. Adiknya itu terlalu mementingkan kepentingan orang lain.
maka tak heran dia sudah menjadi Genin di usia 9 tahun, ah bahkan di Rekomendasikan menjadi Chuunin tahun ini.
"Nee-chan apa yang kau lamunkan?" Seiya berdiri di depannya menatapnya penuh pertanyaan.
Sarada menggeleng, "lie, hm, jadi kita akan kemana?" Sarada bertanya pada teman2 nya.
"ayo kita cari tempat yang bagus minna!!"
.
.
.
hhhhhh.
Sarada berkali kali melihat adiknya menghela nafas.
"kau kenapa hn?"
Seiya menoleh. "nandemonai, "
"kau terlihat gelisah, ada sesuatu yang mengganggu mu eh?"
"Daijobu"
"kau tak bisa berbohong dari mata ini, seiya-kun" Seiya menatap kakaknya yang telah mengaktifkan Sharingannya.
"hhh, baiklah aku kalah"
"jadi, apa yang membuatmu gelisah, hn?"
"aku, merasa sesuatu terjatuh tadi, firasatku bilang itu benda berharga, tapi. hhh bukan masalahku sih, tapi, arrrgh" Seiya menggeram frustasi.
Sarada Terkekeh, "pergilah, cari benda itu, kami tak akan jauh2 dari sini"
"Tapi, akan sia sia kalau itu ternyata benda bodoh"
"membantu orang itu bukan hal sia-sia Seiya-kun"
"ah, Kau benar. aku pergi Nee-chan!" Lalu Seiya memutar arah, mencari barang yang di maksud.
"hey? Seiya mau kemana?" Tanya Inojin yang menyadari Seiya berbalik arah.
"Barang nya tertinggal" Jawab Sarada sekenanya.
.
.
.
"Kurasa ini tempat yang cocok"
"kita masuk terlalu dalam, asal kau tau Boruto" Shikadai yang dari tadi diam bersuara.
"Daijobu, lagi pula ini hutan Clan mu, kan Shikadai"
"jangan pernah meremehkan sesuatu, Baka!" Sarada menjitak pala kuning itu.
"ittai! Sarada kenapa kau selalu jahat padaku!!"
"Karna Pemikiran bocah mu itu!"
"heihei, kapan kita makan kalau kalian berantem terus! perutku sudah lapar!" Chochou berseru
"perutmu itu selalu lapar gendut!" Sarkas Inojin.
Himawari tersenyum, lalu memandang Aiko.
"mereka lucu ya Ai-chan!"
Aiko menoleh pada Himawari yang duduk di samping nya.
"Aku belum pernah piknik seperti ini" Aiko menatap senang Inojin dan Shikadai yang sedang menggelar tikar.
"loh, piknik keluarga?"
"sejak aku lahir, Tou-chan sudah menjadi Kazekage, dan sangat sibuk. kalau akhir pekan kami hanya bercerita di halaman belakang, bersama Kaa-chan dan Shinki-Nii" Curhat Aiko.
Himawari menatap Aiko dalam, Ia harusnya lebih banyak bersyukur, karna masih bisa merasakan piknik bersama ayahnya sebelum ayah nya menjadi Hokage.
"Tapi, Kankurou jii-san selalu mengajak ku main ke sana sini, jadi kadang kesedihan ku terobati" ujar Aiko ceria.
Himawari tersenyum lega. "ah. aku belum pernah melihat Kaa-chan mu.. dimana dia?" tanya Himawari.
"hm? mungkin sekarang di rumah Shikadai-nii, atau bersama Tou-chan ya? " Aiko Geleng2.
"huh.. ya sudah, nanti kenalkan padaku ya Ai-chan! ayok kita bergabung!" Himawari menarim tangan Aiko agar bergabung makan di atas tikar.
.
.
.
sreksrek
Semua orang di situ menoleh. langsung berdiri memegang kunai.
"hoi, Shikadai.. katamu, Hutan Clan mu itu aman?" Ujar Boruto.
"Aman dari binatang buas! kalau Manusia jahat, mana aku tau!" Seru Shikadai.
"Jadi? kita kabur atau kita hadapi?"
"kabur bukan Jawaban kalau perlu ku ingatkan" Kata Boruro dengan Sok nya.
"Boruto! kita belum tau kekuatan musuh! jangan seenaknya bertindak!" Sarada rasanya ingin memusnahkan Boruto dari dunia ini.
"aku tak dengar Sarada!"
Boruto mendekat ke Semak-semak itu, dan membukanya.
"EH—?!"
Lingkaran hitam itu?! kenapa seperti portal yang di buat papa nya? Sarada menerka-nerka, Apa papa nya ada di sekitar sini?
"ehh?! tolong! heh kenapa aku tersedot heyyy!!!" Boruro berteriak, lalu menghilang.
"Nii-chan!!!" Himawari berlari berusaha menolong Kakaknya yang satu itu, tapi.
"Aahhhh!!!!!"
"Hey! ck. BAKA!" Sarada melompat ke dalam lubang itu.
ino-shika-cho saling berpandangan.
"hhh, aku tak bisa membayangkan mereka tanpa kita, kau tau?" tanya Inojin yang sebenarnya tak butuh jawaban itu. lalu iya melompat masuk.
"hee, ayo shikadai!" chochou ikut melompat.
Shikadai diam, dia satu2 nya Chuunin di antara mereka. dilema. haruskah ia ikut? atau lebih baik memberitahu orang dewasa?
Ia menoleh, melihat Aiko yang menunjukkan ekspresi Kaget dan bingung menjadi satu.
ayolah shikadai! kau harus segera mengambil keputusan!.
"Aiko-chan!"
"nii-chan"
"ini sangat merepotkan, tapi mereka akan berlaku bodoh kalau aku tidak ikut, jadi. ikuti jalan yang tadi dan pulanglah, beritahu orang rumah apa yang terjadi. oke?"
"tapi, nii san"
"Ah, Bukankah Seiya masih ada di hutan ini? kalau begitu carilah dia! dia bisa di andalkan!" Shikadai melompat masuk ke lingkaran hitam itu.
.
.
.
Sharingan nya aktif, Ia merasakan chakra seseorang mendekatinya.
bersiap dengan kunainya.
"Seiya-kun?"
Seiya terperangah, itu bukan musuh, ia bisa melihat Chakra orang di depannya.
"A-Aiko? kenapa kau disini?"
"itu.. emm—"
Aiko pun menceritakan apa yang terjadi pada Seiya.
"sial" dengus Seiya.
sekarang bahkan otak jeniusnya tak bisa memikirkan kemungkinan yang baik.
"beri tahu aku jalan kesana Aiko!"
dan disini mereka berdua, 2 meter di depan lingkaran hitam itu.
"Aku akan menyusul mereka, kau akan ikut atau tidak?" tanya Seiya.
Aiko menunduk. "diam berarti iya." Seiya menarik pergelangan tangan Aiko, menggenggam nya. lalu membuat Raiton di sekelilingnya, hingga beberapa pohon tumbang.
.
Srekkk
iya merobek sedikit kaosnya, lalu menancapkan shuriken di atas kain itu.
"Seiya-kun apa yang kau lakukan?" tanya Aiko, mukanya memerah, merasakan genggaman tangan Seiya makin kuat.
"setidaknya, jika kita tidak pulang malam ini, orangtua pasti akan mencari kita, "
Aiko mengangguk.
"jangan coba2 menjauh dari ku! kau paham?" tanya Seiya
Aiko mengangguk.
lalu mereka masuk kedalam lingkaran hitam itu dan lingkarang hitam itu menghilang.
.
.
TBC—
(•ᴗ•)
Terimakasih telah membaca cerita yang, sebenernya sangat mendadak ini.
pengen aja Gaara sama Sasuke Besanan. hehehehe
tapi Summary nya ga nyambung ya? maaf tak pandai bikin sunmary.
mohon masukannya!!
Arigatou gozaimasu! (。・ω・。)ノ
