Disclaimer : Still, not my own.
Notes : OMG maaf yaaaaa lama ngapdet soalnya dua minggu kemarin saya UAS dan belum kepikiran buat nyentuh komputer. Tapi tenang aja, pasti dilanjut kok. Yo ah selamat membacaaaaa :
Clematis Parthenocissus
Chapter 2. Tell Me Why
"Ron, laporannya dikumpulkan tiga bulan lagi."
"Ya, Hermione, aku tahu."
Lalu gadis berambut cokelat itu melanjutkan goresan pena bulunya di atas perkamen yang setengah halamannya sudah penuh. Jari jemarinya bergerak halus mengikuti perintah kerja dari otaknya. Ia rehat sebentar untuk mengingatkan Ron akan hal tanaman merambat yang harus mereka kumpulkan tiga bulan lagi. Lalu dilanjutkannya lagi menulis tugas essay Profesor McGonnagal.
Mereka—ditambah Harry, berkumpul di pojokan ruang rekreasi Gryffindor yang dekat dengan tungku api. Tidak terlalu dekat, hanya untuk menjaga tubuh mereka tetap hangat. Harry dan Ron duduk di atas karpet merah tua dengan catur sihir di tengah-tengah mereka. Sebenarnya banyak hal yang bisa mereka lakukan di luar ruangan, hanya saja tugas-tugas sudah menyudutkan mereka akhir-akhir ini. Sehingga satu-satunya cara menghibur diri adalah dengan bermain catur. Dan untuk Hermione, ia tidak masalah jika harus diam di dalam ruangan. Toh kalaupun ia ada kesempatan keluar ruangan, hal yang ia lakukan akan sama saja; membaca. Tugas essaynya sudah tergulung rapi dengan pita merah tua sejak dua hari yang lalu. Jadi ia hanya akan menaruhnya saja di dalam tas malam ini. Kalau bukan untuk kedua sahabatnya, ia tak mau capek-capek membenarkan dan mengecek tugas yang telah mereka kerjakan sendiri.
Ya, well, Hermione benar-benar bersyukur bisa terhindar dari mengerjakan tugas seratus persen untuk Harry dan Ron. Ia sudah bersikap tegas dan menolak mentah-mentah ketika kedua sahabatnya meminta—memohon—kepadanya untuk mengerjakan tugas essay mereka. Dan Hermione bukan sahabat yang baik jika tugas-tugas mereka selesai tanpa mereka tahu isinya apa. Jadi mulai bulan Maret kemarin, Hermione menerapkan kebiasaan mereka mengerjakan tugas semampunya dan Hermione akan mengecek kebenarannya pada akhirnya. Satu hal; ia sangat sayang Harry dan Ron.
"Kau belum mulai menyicil laporannya dari sekarang, Ron?" Pandangannya teralihkan dari perkamen ke wajah Ron yang tengah merengut kesal gara-gara skakmat hasil Harry.
"Belum. Memangnya perlu?" Jawab Ron. Ia lalu mengalihkan perhatiannya lagi ke papan catur di depannya. Hermione menghela napas. Ia sedang datang bulan. Dan sedang tidak mau terpancing emosi. Harry melirik-lirik, waspada akan guyuran kata-kata Hermione akan tugas Herbology yang seharusnya Ron mulai malam ini juga.
Untungnya Hermione sudah hampir tujuh belas tahun dan tahu kalau marah-marah di depan kumpulan anak Gryffindor bukanlah hal yang tepat, mengingat ia sekaligus adalah seorang Prefek. Harry meliriknya lagi, dan Hermione sudah terjun di dalam perkamen milik Ron yang banyak coretannya. Ia balas melirik Harry, lalu meletakan perkamen Ron dengan kasar dan pergi menjauhi mereka—menaiki anak tangga yang ada menuju kamar asrama putri. Ron mengerutkan kening sembari matanya mengikuti arah jalan Hermione, dan Harry tahu Hermione belum selesai memeriksa hasil kerja Ron.
Dan Ron sepertinya belum paham kalau menyicil laporan itu sebenarnya perlu. Bagi Hermione, rekan kerjanya.
~0~
Lembar-lembar buku rapuh itu sudah dibukanya berulang kali hingga ia hapal dimana letak halaman masing-masing bab. Namun tak ada lagi yang harus ia catat dari buku sumber itu. Semua hal penting tentang tanaman merambat yang tengah satu angkatannya itu teliti sudah rapi tercatat di atas perkamen sepanjang lima kaki. Itu buku terakhir tentang tanaman yang ia baca di perpustakaan. Ia bahkan meminta daftar buku tentang tanaman pada Madam Pince, yang mana berjumlah 256 buku seluruhnya.
Banyak hal lain yang ia harus lakukan dibanding mengerjakan essay konyol tentang tanaman merambat yang sebetulnya sering ia temukan di taman belakang pada umumnya. Tapi, hey, siapa lagi yang mau mengerjakan kalau bukan Hermione sendiri? Tak ada. Ron? Tak ada. Titik. Ron menjanjikannya akan informasi-informasi langka mengenai tanaman itu yang nanti akan ditanyakan pada Charlie, kakaknya. Hermione, seperti biasa, menghela napas lalu mengangguk. Ia sudah muak, mengerti? Ya, mengerti.
Tak ada harapan jika harus berurusan dengan Ron. Ia terkadang melirik sana-sini ke setiap sisi ruang perpustakaan. Dan teman-teman seangkatannya rata-rata tengah mengerjakan tugas Herbology dengan partnernya masing-masing. Ernie MacMillan bahkan pernah menyindirnya, "Seorang Hermione tak usah ada partner pun oke, 'kan?". Putaran bola mata lagi. Please! Bahkan seorang Hermione hanya mempunyai dua tangan dan butuh tidur! Ia bukan orang yang gila belajar demi karirnya di masa depan. Ia bisa bersikap malas-malasan kalau ia mau. Tapi memang ini yang harus ia lakukan. Atau bahkan suatu saat ketika bertemu Zabini, lelaki gempal itu berkata santai, "Kau tak ada partner, Granger? Mau bersamaku?" Lalu tertawa dan Hermione melanjutkan lagi langkahnya di koridor. Seandainya boleh melakukan mantra, ia akan memantrainya langsung di tempat itu juga.
"Hermione?" Sapa Harry sambil duduk di sebelahnya. Ia membawa buku kopian yang sama seperti yang Hermione sedang pegang. "Kau di sini sejak tadi?"
Hermione mencoret beberapa kalimat yang salah di perkamennya lalu menoleh pada Harry dan mengangguk, "Kau tahu," ujarnya sambil meletakkan pena bulunya di samping parkemen, "Aku akan protes pada Profesor Sprout."
Harry mengerutkan keningnya, "Untuk ap—eh, aku tahu. Ya, menurutku juga seharusnya begitu."
"Menurutmu begitu?" Hermione menopang dagu.
"Ya, lagipula ini masih dua minggu sejak tugas diberikan. Belum terlambat, ku kira. Ron harus tau konsekuensi atas sikapnya selama ini."
Hermione tertawa mengejek, "Atas sikapnya selama ini? Bukankah kau—Harry Potter—yang mengajak Ron setiap sore berlatih sapu terbang?"
Harry berdeham, "Yeah."
Hermione menggelengkan kepalanya, "Kau tidak bisa dipercaya." Ujarnya sambil membereskan perkamen dan alat tulisnya yang tergeletak di atas meja.
"Hermione, kau tahu, 'kan, Gryffindor butuh pemain baru lag—"
"Aku tahu, Harry. Trims."
"Jadi wajarlah kalau aku mengajak Ron sebagai pem—"
"Ya, Harry, sangat sangat sangat wajar."
"Nah, kau mengerti sendiri, 'kan?" Harry tersenyum gembira, tidak mengetahui kata-kata Hermione yang sarkastis tadi.
"Harry, dengar," ujarnya sambil memasukkan barang terakhirnya ke dalam tas, "Kita semua punya kesibukan. Kau, aku, dan Ron. Tapi bukankah lebih baik jika kita membagi waktu untuk melaksanakan semuanya secara adil?"
Harry mengerutkan kening, "Ya. Tapi Hermione—"
"Kau yang bilang sendiri, secara tidak langsung, bahwa Ron tidak pernah membantuku dan tidak mengerjakan tugasnya sebagai partner dengan baik—"
"Quidditch penting, Herm—"
"Ya, Harry, Quidditch penting! Tapi apakah harus menyita waktu sebanyak itu?" Sentak Hermione dilanjutkan dengan bisikan murid-murid yang marah karena konsentrasinya terganggu.
Ia berdiri, lalu melangkah meninggalkan Harry. Emosinya sudah tidak karuan. Di depan daun pintu perpustakaan, bahu kirinya tertabrak bahu kiri seseorang. Ia menoleh ke belakang. Sosok itu menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Hermione dengan air muka dingin.
"Tidak pernahkah kau belajar dari masa lalu, Granger?"
Hermione mempertajam alisnya, "Kau tidak pernah berkaca, Malfoy? Atau kau—"
"Oh, tutup mulut, Granger! Sebaiknya kau urusi dulu penampilanmu baru bicara soal berkaca." Balasnya dingin.
Sosok itu masuk ke dalam perpustakaan. Meninggalkan Hermione Granger yang emosinya makin memuncak.
Merlin, memangnya apa yang salah dengan penampilannya?
Notes : Gimana? Reviews are always welcome :)
