Secret Admirer
Chapter 2
.
.
.
Pagi itu, sebuah senyuman tak pernah luput dari bibir seorang Na Jaemin. Ia merasa beruntung, memiliki teman sebaik Lee Jeno, meski seringkali gurauan yang pemuda itu lontarkan tak lucu sama sekali. Lain hal dengan Lee Jeno, yang setiap menit ia kembali jatuh hati kala melihat senyuman Jaemin. Mungkin dewi fortuna tengah berada di pihaknya kali ini.
Sesampainya mereka di sekolah, mereka langsung menjadi pusat perhatian. Atau lebih tepatnya, Lee Jeno yang menjadi pusat perhatian. Tentu saja, kalian tidak lupa mengenai sekumpulan ace bagi SOPA yang bernama NCT, bukan?
Namun, pandangan mereka kini beralih pada seorang pemuda yang tanpa sengaja menabrak Jaemin dan Jeno hingga beberapa buku yang dibawa oleh pemuda tersebut.
"Maafkan aku! Aku tak melihat jalan" ujarnya.
Tanpa pikir panjang, Jaemin segera membantu pemuda tersebut merapikan buku milik pemuda tersebut, "Tak apa."
Jeno terdiam beberapa saat lalu membuka suara, "Renjun?"
Pemuda tersebut-pun mengalihkan padangannya pada sumber suara, "Oh? Jeno-ya!"
Sedangkan Jaemin, ia hanya terdiam dan bertanya dalam hati. Ia bangkit dengan beberapa buku milik seseorang yang ia ketahui bernama Renjun di tangannya.
"Ini buku milikmu, dan kalian saling mengenal? Sepertinya, kalian terlihat akrab?" tanya Jaemin seraya menyerahkan buku di tangannya pada Renjun.
Jeno melingkarkan tangannya pada bahu Renjun, "Ini sepupuku, Huang Renjun. Ia baru pindah dari China di hari saat kau pindah kemari."
Renjun mengangguk. "Ya, aku dan Jeno adalah sepupu. Ah, salam kenal" uhar Renjun lalu mengulurkan tangannya pada Jaemin untuk bersalaman.
"Salam kenal, Renjun-ssi! Aku Na Jaemin. Aku harap, kita bisa menjadi teman baik."
"Tentu! Dan, terima kasih sudah membantuku merapikan buku yang jatuh tadi" ujar pemuda berdarah China itu lagi. "Maaf, Jaemin-ssi, Jeno-ya, aku harus pergi. Kau tahu kan kalau jurusan vokal harus masuk lebih awal?"
Jeno mengangguk. Lain hal dengan Jaemin yang menanggapinya dengan senyuman lalu berujar, "Ya, sampai bertemu nanti. Senang berkenalan denganmu, Renjun-ssi!"
"Senang berkenalan denganmu juga, Jaemin-ssi!"
Dan ya, Renjun segera berlari setelahnya. Menyisakan Jaemin dan Jeno yang kini tengah berjalan beriringan menuju kelas mereka.
.
.
.
Jam makan siang dimulai. Seperti sebelumnya, Donghyuck akan menghampiri Jaemin di kelasnya dan mengajaknya untuk makan siang. Sesampainya di kantin, manik mata Jaemin langsung menangkap sosok Renjun tengah makan di sudut ruangan tersebut. Dan tanpa pikir panjang, ia menghampiri Renjun dan membiarkan Donghyuck yang membeli makanan.
"Halo, Renjun-ssi! Bolehkah aku duduk disini?"
Merasa terpanggil, ia mengalihkan pandangannya, "Halo juga, Jaemin-ssi. Tentu saja boleh!"
"Aku bersama temanku. Tak keberatan, kan?"
"Tidak sama sekali. Mungkin saja temanmu bisa berteman denganku, bukan?"
Jaemin mengangguk. Beberapa menit berlalu, Donghyuck datang dengan dua buah nampan di tangannya. "Halo, Renjun-a. Kau berteman dengan Nana rupanya?" ujar Donghyuck dan segera duduk tepat disebelah Jaemin.
"Nana?"
"Itu panggilan untukku dari orang-orang terdekat. Mungkin, kita bisa dekat pula dengan tidak perlu formal memanggil nama satu sama lain terlebih dahulu, Renjun-a?" tutur Na Jaemin lalu tersenyum.
"Baiklah, Jaemin-a."
Mereka-pun terdiam, asik menyantap makanan mereka masing-masing. Namun, hal itu tak bertahan lama karena Chenle datang dan segera duduk di sebelah Renjun.
"Tak keberatan jika aku duduk disini, bukan?"
"Apa kabar dengan NCT, hm? Tak duduk bersama mereka?" Itu suara Donghyuck.
"Tergabung dalam NCT bukan berarti aku harus selalu bersama mereka, Hyuck."
"Hei, aku ini masih satu tahun diatasmu, bocah!" seru Donghyuck, namun volume suaranya tak terlalu keras sehingga tak menarik perhatian sekitar.
Jaemin tertawa dan tersedak makanan karenanya. Renjun yang melihatnya, segera memberikan Jaemin minum.
"Dasar bodoh, kalau makan itu hati-hati. Jangan sambil tertawa selebar itu," ujar Donghyuck.
Jaemin memajukan bibirnya, membuatnya terlihat sangat menggemaskan. Ia berusaha tak mempedulikan perkataan Donghyuck dan beralih menatap Renjun.
"Terima kasih, Renjun-a. Minumanmu malah ku habiskan."
Renjun menggelengkan kepalanya, "Tidak masalah. Aku bisa membelinya lagi."
"Kau baik sekali."
"Dan kau manis sekali."
Perkataan Renjun mengenai Jaemin yang manis, membuat Jaemin tergelak. Ia menganggap hal itu lucu. Namun, tidak bagi Donghyuck. Otaknya mencerna perkataan Renjun tadi adalah bentuk rayuan. Donghyuck tak ambil pusing, toh kalau memang Renjun menyukai Jaemin juga bukan masalah baginya. Sementara Chenle, ia terdiam beberapa saat lalu kembali menyantap makanannya.
Di lain meja, beberapa pasang mata tengah menatap ke arah meja yang ditempati oleh Jaemin dan lainnya. Ya, siapa lagi kalau bukan NCT.
Mark yang berada di hadapan Jeno membuka suara, "Sepertinya, kau memiliki pesaing kuat, tuan Lee Jeno?"
"Shut up, Mark Lee. Renjun itu sepupuku, tidak mungkin."
"There's nothing impossible in this world, bro. Lagipula, si Renjun itu juga tidak tahu kau menyukai Jaemin, bukan? Kalau perkataanku ini benar, well, sepertinya kau kalah start."
.
.
.
Setelah sekolah usai, Jaemin segera keluar dan menunggu sang kakak di koridor. Awalnya, Jaemin hendak bermain dahulu di rumah Donghyuck. Namun, Yuta melarangnya.
"Ayo, Na" ujar Yuta seraya menarik tangan sang adik menuju tempat dimana ja memakirkan motornya.
"Memang ada apa, hyung?"
"Para anggota NCT akan bermalam di rumah kita. Besok libur. Lagipula, ibu dan ayah sedang pergi seminggu. Jadi, bantu hyung merapikan rumah, oke?"
Jaemin hanya mengangguk dan segera menaiki motor milik Yuta setelah yang memiliki motor mengisyaratkan ia untuk naik. Dan tiba-tiba suatu ide terlintas di pikirannya.
"Hyung, bolehkah aku mengajak Donghyuck? Ya, anggap saja impas karena hyung melarangku ke rumahnya."
"Baiklah."
Setelah mendapat izin, dengan segera Jaemin mengambil handphone miliknya dan mengirimi Donghyuck pesan.
NaJaem: Hyuckie, kabar bagus! Anggota NCT akan bermalam di rumahku dan kau diizinkan datang. Cepat kemasi barangmu dan datang ke rumahku di [xxx xxx xxx]
Tak memakan waktu lama untuk sampai di kediaman keluarga Na. Sesampainya mereka si rumah, mereka segera membasuh diri dan mulai merapikan rumah. Mereka membagi tugas, yakni Yuta yang merapikan dan Jaemin yang menyiapkan camilan.
Malam tiba, dan beberapa anggota NCT mulai datang. Donghyuck? Tentu saja ia datang paling awal. Setelah menerima pesan dari Jaemin, Donghyuck langsung mengemasi barangnya untuk menginap dan pergi ke alamat yang diberikan oleh temannya itu. Hampir semua datang, namun Lee Jeno belum menampakkan dirinya.
Jaemin yang menyadari tidak adanya kehadiran Jeno, lantas teringat bahwa kemarin Mark berkata Jeno sakit parah. Ia-pun memutuskan untuk bertanya pada Yuta,
"Hyung, apa Jeno tidak datang?"
"Kenapa? Meridukan our prince charming, huh?" goda Yuta lalu tersenyum miring.
"Ah, ada yang merindukan si hidung besar disini" ujar Mark yang mendengar pertanyaan Jaemin seraya mendekati kakak-adik itu.
Jaemin memutar bola matanya malas, "Rindu apanya. Aku hanya khawatir. Mark bilang, Jeno memiliki riwayat sakit yang parah. Apa mungkin dia sakit atau bagaimana?"
Yuta mengerutkan keningnya. Dalam hati ia bertanya, 'Kebohongan apa yang duo Lee ini katakan pada adikku?'
"Dia akan datang, mungkin telat" jawab Yuta. Mendengarnya, membuat Jaemin lega dan memutuskan untuk meninggalkan Yuta dan Mark untuk mengambil camilan.
Yuta beralih pada Mark, "Kalian berbohong apa?"
"Aku menyelamatkan Jeno kemarin. Si hidung besar itu gugup saat Jaemin duduk sebangku dengannya dan pipi serta telinganya memerah. Dan ditambah, adikmu itu malah menyentuh kening serta pipi Jeno. Karenanya, aku katakan Jeno sakit."
Yuta mengangguk dan terkekeh. Sangat lucu baginya membayangkan bagaimana Jeno gugup ketika berhadapan dengan adiknya.
"Sungguh, hyung. Jaemin itu tidak peka atau bagaimana? Apa ia tidak sadar Jeno gugup karenanya? Terlebih, kemarin Jaemin mengatakan padaku dan Jeno kalau ia pindah untuk mencari 'Lee'. Sampai kapan akan seperti ini," ujar Mark lagi.
"Tenang saja. Aku berani bertaruh Jaemin akan jatuh hati pada Jeno."
.
.
.
Kini, seluruh anggota NCT telah berkumpul. Mereka, termasuk Jaemin dan Donghyuck, bermain beberapa permainan juga menonton film. Beberapa dari anggota NCT juga memasak makan malam dengan bahan baku yang mereka bawa. Ini kali pertama bagi Jaemin merasakan perasaan dimana ia merasa nyaman bersama orang lain. Jaemin memang baru mengenal mereka, namun mereka terasa dekat.
Malam kian larut, mereka memutuskan untuk tidur. Kamar milik Yuta dan Jaemin cukup luas, sehingga dalam satu kamar cukup untuk 4 orang. Dan seauai yang Yuta rencanakan, Jaemin akan berbagi kamar dengan Jeno, Donghyuck, dan juga Mark.
Meski malam semakin larut dan juga angin berhembus semakin kencang, tak kunjung membuat Jaemin mengantuk. Dan sedikit info lagi mengenai Jaemin, ia memang seringkali terjaga saat malam. Oleh karenanya, ia menghabiskan waktu dengan menonton film atau anime hingga rasa kantuknya tiba.
Namun, tidak untuk malam ini. Ia memutuskan untuk keluar kamar, menuju bagian belakang rumahnya. Malam ini perasaanya kalut, entah mengapa.
"Kau tidak tidur?" ujar seseorang yang Jaemin ketahui adalah Jeno.
"Ah, Jeno-ya. Apa aku membangunkanmu tadi?"
"Begitulah. Jadi, aku mengikutimu," ujarnya lalu menyampirkan selimut yang ia bawa dari kamar pada bahu Jaemin. "Disini sangat dingin, kau tahu? Dan kau belum menjawab pertanyaanku. Mengapa belum tidur?"
"Entahlah. Aku sedikit teringat akan ibuku, mendiang ibuku."
Jeno hanya diam, tak berniat menginterupsi perkataan Jaemin. Menurutnya, saat ini Jaemin membutuhkan seorang pendengar yang baik.
"Kau tahu, Jeno-ya? Terkadang aku ingin mati, saat rasa rindu akan ibuku begitu menyesakkan. Aku memang tumbuh dengan kasih sayang seorang ibu, yang ku dapat dari ibu tiriku. Tapi, tetap saja tidak bisa menggantikan ibuku. Kekanakkan, ya?"
"Tidak, tidak sama sekali."
Jaemin menghembuskan nafasnya kasar, "Seandainya ibuku ada, aku ingin memeluknya dan mengatakan aku sangat merindukannya."
"Kau tahu, Jaemin-a? Ibumu selalu ada," ujar Jeno lalu memegang bahu Jaemin dan membuat agar pemuda itu menghadap ke arahnya. "Ia selalu ada, disini" lanjutnya seraya menyentuh dada sebelah kiri Jaemin.
"Jaemin-a, tanpa diberitahu-pun, ibumu akan tahu seberapa rindu kau terhadapnya. Jangan bertindak bodoh. Kau seharusnya bahagia, bukan menangisi ibumu. Aku yakin ibumu tak ingin kau seperti ini."
Jeno benar. Jaemin tersadar, ia hanya bertindak bodoh jika menangisi kehidupannnya, bukan bahagia. "Terima kasih, Jeno-ya. Kau membuatku merasa lebih baik."
Jeno tersenyum, "Baiklah, ayo kembali ke dalam. Udara semakin dingin."
Jaemin mengangguk. Namun, sesampainya ia di kamar, tempatnya tidur justru diambil alih oleh Mark, sehingga membuat Mark bersebelahan dengan Donghyuck. Entah bagaimana tidur Mark, membuat Jaemin hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Jaemin-a, kau tidur di tempatku saja. Biar aku yang di sebelah Mark. Kau lihat kan, tidurnya itu tidak bisa diam?"
Jaemin menurut, berbaring di tempat yang seharusnya ditempati oleh Jeno. Awalnya Jeno sedikit gugup karena tidur bersebelahan dengan Jaemin. Namun, ia berusaha mengontrol dirinya.
Jaemin mulai terlelap. Ia tidur menghadap Jeno, membuat Jeno lebih leluasa menatap wajahnya. Sesekali Jeno merapikan anak rambut yang menutupi dahi Jaemin.
"Jaemin-a, aku mencintaimu. Kapan kau akan tahu hal itu? Aku berharap waktu itu segera datang. Waktu dimana akhirnya kau mencintaiku."
Jeno-pun mulai terlelap dalam mimpinya, tanpa menyadari bahwa Lee Donghyuck yang tak sengaja terbangun, mendengarkan ucapannya tadi dengan sangat jelas.
.
.
.
Fajar mulai menyingsing, semua mulai beranjak dari tidurnya. Para anggota yang tertua di grup NCT memasak sementara yang muda termaauk Donghyuck dan Jawmin bertugas merapikan meja juga mencuci piring. Mereka menyantap sarapan diselingi candaan atau pembicaraan ringan mengenai Jaemin dan Donghyuck, agar dapat saling mengenal.
Kini semua membersihkan diri, tanpa sengaja menyisakan Donghyuck dan Jeno yang tengah mencuci piring. Dalam pikiran Donghyuck, ia yakin yang semalam ia dengar rasanya adalah mimpi. Namun, batinnya menolak mentah-mentah hal tersebut.
"Jeno-ya," panggil Donghyuck. Ya, kini Donghyuck juga Jaemin cukup dekat dengan para anggota NCT, dan memutuskan untuk menghilangkan panggilan formal terhadap satu sama lain.
"Hm?"
"Jujur padaku. Kau menyukai Jaemin, bukan?"
Jeno sontak menoleh, 'Bagaimana ia tahu?!'
Donghyuck-pun sama, kembali menatap Jeno. "Kau terkejut. Berarti, yang semalam ku dengar memang benar dan bukanlah mimpi."
"Bisakah kau tidak memberi tahu Jaemin soal ini?"
Donghyuck kembali terfokus pada tumpukan piring kotor dan kembali membersihkannya setelah tertunda tadi, "Tentu. Tidak ada untungnya juga bagiku untuk membocorkannya."
Jeno menghela nafas lega dan kembali mencuci piring. Namun, aktivitas tersebut kembali berhenti kala Donghyuck membuka suara, "Kau tahu, kurasa ada yang menyukai Jaemin juga selain dirimu."
"Siapa?"
"Anak baru di kelas-ku, Huang Renjun."
"Tidak mungkin, kau tahu darimana? Lagipula, dia 'kan anak baru, mana mungkin semudah itu jatuh hati."
"Kau ini. Jatuh cinta bisa dilakukan dalam sepersekian detik. Dan sekedar info bagimu, kemarin sepanjang makan siang, Renjun hanya memperhatikan Jaemin bahkan merayunya. Dan sepertinya, Jaemin menyukai hal itu."
Jeno berusaha tidak ambil pusing. 'Mana mungkin Renjun menyukai Jaemin. Mark dan Donghyuck sama saja' batinnya.
.
.
.
Sebesar apapun usaha seorang Lee Jeno untuk berpikir positif mengenai sepupunya, namun kenyataan bahwa ia selalu memikirkan perkataan Mark dan Donghyuck tak dapat dipungkiri. Sudah 1 dan hampir 2 bulan sejak kejadian pagi itu di kediaman keluarga Na. Dan semenjak saat itu, Jeno mengamati setiap gerak-gerik Renjun.
Bahkan sejak saat itu, Jeno selalu makan siang bersama Jaemin dan Donghyuck. Yang sialnya, Jaemin selalu makan siang bersama Renjun. Jeno melihat dengan kedua matanya sendiri, bagaimana cara Renjun bersikap juga menatap Jaemin. Kini pikirannya mengenai Renjun tidaklah positif, justru perkataan Mark dan Donghyuck-lah yang memenuhi pikirannya.
Bel pulang sekolah berbunyi. Renjun adalah orang yang akan langsung keluar kelas dan pulang untuk beristirahat. Namun, lain dengan hari ini. Secara tiba-tiba, tangannya ditarik. Dan saat ia melihat siapa yang menariknya, ia cukup terkejut bahwa itu adalah Jeno.
"Renjun-a, ingin minum secangkir coklat panas ditemani cheesecake?"
Renjun mengangguk. Siapa yang tak ingin. Awalnya, Renjun pikir Jeno memang hanya ingin makan biasa. Namun, dari bagaimana cara Jeno yang menariknya, membuat ia bertanya-tanya.
Sesampainya di sebuah kafe, Jeno segera memasan dan mengajak Renjun untuk duduk di sudut bangunan tersebut.
"Jeno-ya, apa ada masalah?"
"Apa terlihat jelas? Ya. Sebenarnya tidak juga. Aku hanya ingin bertanya."
Renjun mengangguk. Jeno mengambil nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, "Apa kau sedang menyukai seseorang?"
"Kenapa menanyakan soal itu?"
"Jawab saja."
"Ya, aku memang sedang menyukai seseorang. Memang kenapa?"
Jeno tertegun. Ingjn ia bertanya siapa yang Renjun sukai, namun ia rasa tak mampu jika mendengar jawaban Renjun bahwa yang ia sukai adalah Jaemin.
"Boleh aku tahu siapa? Ayolah, aku ini sepupumu."
Renjun ragu, "A-aku... menyukai Na Jaemin. Kumohon jangan memberitahunya! Aku tak ingin ia menjauhiku jika mengetahuinya..."
Jeno membelalakan matanya, lalu berdiri dari tempat duduknya, "Ah, Renjun-a, sepertinya aku harus pergi. Aku lupa ada latihan hari ini. Maaf!"
Dan ya, Jeno meninggalkan kafe itu dengan beberapa sayatan di hatinya.
.
.
.
Awalnya Jeno memang sakit hati. Namun, ia bukanlah seseorang yang mudah putus asa. Ia berpikir bahwa cara agar Jaemin tidak jatuh dalam pelukan Renjun adalah dengan membuat Jaemin nyaman berada di dekat Jeno.
Seperti saat ini. Jeno tengah mengerjakan tugas kelompoknya bersama Jaemin di kediaman keluarga Na.
"Jeno-ya, bagaimana cara mengikat yang ini? Susah sekali" ujar Jaemin seraya mendekati Jeno. Jeno sendiri sudah tidak segugup itu saat berdekatan dengan Jaemin, justru sekarang ia berbalik dekat dengan Jaemin.
Jeno beralih ke belakang Jaemin, memegang kedua tangan Jaemin dari belakang dan mulai mengikat kerangka yang tadi sulit diikat oleh Jaemin.
"Seperti ini. Akan ada beberapa sisi yang butuh ikatan kuat seperti ini, jadi lihat baik-baik bagaimana aku mengikatnya."
Jaemin merasakan perasaan aneh kala Jeno mendekat padanya. Jantungnya berdebar, bahkan membuat ia tidak fokus memperhatikan Jeno.
"Selesai, kau paham kan?"
Jaemin menggeleng, "A-aku ke kamar dulu." Dan ya, Jaemin berlari ke kamarnya dan meninggalkan Jeno.
Jaemin bingung, jantungnya terus berdebar dan semakin kencang kala nama Lee Jeno melintas di benak dan pikirannya.
"A-apa ini? Aku tidak mungkin menyukai Jeno, kan? Sadar, Na Jaemin! Jeno sahabatmu, jangan rusak persahabatanmu!" monolognya.
Ya, mana mungkin Jaemin menyukai Jeno.
.
.
.
Hari berganti. Hari ini, seharusnya Jeno dan Jaemin menyelesaikan tugas mereka. Namun, Jaemin tidak bisa menyelesaikannya hari ini, "Maaf, tapi aku harus pergi ke suatu tempat."
"Kalau begitu, bolehkah aku ikut?"
Awalnya Jaemin ragu, namun segera menyetujuinya dengan memberi anggukan. Mereka pergi menaiki bis, dan berhenti di suatu tempat. Jaemin melangkahkan kakinya, mendahului Jeno menuju sebuah toko kue. Setelah membeli kue, ia kembali melangkahkan kakinya menuju sebuah toko bunga. Jeno diam saja, tidak ingin banyak bertanya.
Jaemin membeli 3 tangkai bunga lili. Awalnya, Jeno hendak bertanya. Namun, ia mengurungkan niatnya kala melihat bahwa Jaemin berjalan ke suatu bangunan. Bangunan krematorium. Setelah berjalan beberapa lama, Jaemin akhirnya berhenti begitupula Jeno di belakangnya.
"Ibu, ini aku. Kali ini, aku tak sendiri. Aku bersama sahabat baruku, namanya Lee Jeno."
Jeno yang mendengar namanya disebut, berjalan mendekati Jaemin dan membungkukkan badannya di hadapan krematorium yang ia ketahui adalah ibu kandung dari Jaemin. "Halo, nyonya Na. Namaku Lee Jeno."
Jeno kembali menegakkan tubuhnya. Sementara Jaemin, kini tengah mengulum senyuman. "Ibu, maaf aku datang terlambat hari ini. Jalanan sangat macet tadi. Tapi, aku tidak lupa untuk membelikan bunga untuk ibu. Bunga lili kesukaan ibu."
Jaemin membuka bungkusan kue yang dibelinya. Ia menancapkan beberapa lilin dan menyalakannya. Jeno yang melihat Jaemin kerepotan memegang bunga juga kue, berinisiatif mengambil kue tersebut.
"Ibu, selamat ulang tahun. Aku harap, ibu tenang disana dan bahagia. Aku baik-baik saja disini. Aku memiliki teman yang baik juga sayang padaku. Ibu jangan khawatir" ujar Jaemin dengan beberapa buliran air mata yang mulai jatuh membasahi kedua pipinya.
"Benar, nyonya Na. Aku, sebagai salah satu teman Jaemin, berjanji akan selalu bersamanya. Aku berani jamin bahwa anakmu akan bahagia disini."
Jaemin tersenyum lalu menyeka air matanya, "Terima kasih, Jeno-ya. Berhubung sekarang kau berada disini juga, kita berdua meniup lilin ini bersama. Oke?"
Jeno mengangguk. Jaemin menghitung mundur, dan keduanya meniup lilin itu bersamaan. Jaemin tersenyum, membuat Jeno melakukan hal yang sama.
"Jeno-ya, aku tak pernah mau membawa temanku datang kesini. Kau orang pertama. Kau tahu kenapa?"
Jeno menggeleng. "Karena aku berjanji hanya akan membawa teman yang kupercaya juga kusayangi kesini."
"Terima kasih. Dan haruskah aku tersanjung? Tak ku sangka aku bisa mengalahkan Donghyuck sebagai teman yang kau sayang. Atau, apa kau menyayangiku lebih dari teman?"
Jaemin tersipu, "Ish, tidak seperti itu! Dasar menyebalkan!"
Tangan pemuda bermarga Na itu beralih menyolek krim oada kue dan mengoleskannya di pipi Jeno. Tak ingin kalah, Jeno-pun melakukan hal yang sama. Mereka tertawa bersama, membuat suasana yang semula sendu terasa hangat.
Kita hanya tinggal menunggu waktu, kapan Jaemin menyadari perasaanya dan kapan Jeno akan menyatakan perasaannya.
.
.
.
Beberapa bulan sudah berlalu sejak Jaemin pindah ke SOPA. Dan selama beberapa bulan itu, Jaemin tidak mendapatkan makanan ataupun surat. Namun lain dengan kali ini. Kala ia membuka lokernya, ia mendapatkan sebuah paper bag di dalamnya.
'Hai, Na Jaemin. Ku dengar, kau masuk dalam tim dance mulai hari ini? Selamat! Dan ini kubawakan daging panggang. Kau tahu, aku bahkan mengurangi uang saku-ku demi membelikanmu daging panggang. Semoga kau suka! Dan jangan lupa, habiskan minuman isotoniknya ya. Semangat!
Lee.'
Setelah membaca surat tersebut, orang pertama yang ia cari adalah Jeno. Dan tak membutuhkan waktu lama baginya untuk menemukan Jeno, karena Jaemin tahu bahwa saat ini Jeno tengah berlatih basket dengan anggota NCT.
Benar saja, saat memasuki ruangan, ia menemukan Jeno tengah duduk di kursi penonton. Namun anehnya, ia tak sendiri. Ada Donghyuck pula disana.
"Ya, sedang apa disini?" tanya Jaemin yang tertuju pada Donghyuck kala ia berada di dekat kedua orang tersebut.
"Tentu saja menonton basket. Kau tahu bukan alasannya..."
Jaemin mengangguk dan beralih duduk di sebelah Jeno. "Kalian tahu, si 'Lee' ada lagi. Bagaimana ia tahu aku ada di tim dance?"
"Maksudmu?" tanya Donghyuck.
"Kau baca sendiri," jawab Jaemin seraya memberikan secarik kertas pada Donghyuck.
Donghyuck membaca surat tersebut, lalu melirik ke arah Jeno. Jeno tentu saja hanya diam, dan beralih menatap Jaemin.
"Ya, mungkin dia bertanya. Dia itu menyukaimu. Dia pasti menanyai orang agar tahu apapun tentangmu."
"Jeno benar. Dan jika boleh ku beri saran, kalau kau sangat ingin tahu siapa si 'Lee', coba kau cari tahu dengan cara tunggu dia. Dia memberikan ini setiap kau pulang sekolah. Sebelum pulang, kau tunggu saja dekat lokermu, perhatikan dari jauh dan lihat siapa yang melakukannya" ujar Donghyuck.
"Kau benar. Dan, ah, sebentar lagi latihan. Aku ke kelas dulu, untuk mengambil tas. Jeno-ya, kau juga latihan, kan?"
Jeno hanya mengangguk. Tentu saja ia masih syok dengan perkataan Donghyuck barusan. Jaemin mengambil surat yang berada di tangan Donghyuck dan pergi meninggalkan dua orang tersebut.
"Donghyuck, yang benar saja?!"
"Kau si 'Lee' itu, bukan?"
"Kau tahu dan kau menyarankan hal itu padanya? Kau mau buat aku mati, ya?"
Donghyuck memutar bola matanya malas, "Jeno-ya, ini saatnya. Sampai kapan kau hanya mengagumi dari belakang? Semangat agar tidak ketahuan jika kau akan melanjutkan acara petak umpetmu itu."
.
.
.
Latihan telah selesai. Dan kini sudah beranjak senja. Jaemin melangkahkan kakinya menuju halte bus terdekat. Namun, kesialan menimpanya. Sepatu yang ia kenakan tiba-tiba alas bawahnya terlepas sehingga membuat ia sulit berjalan.
"Ini," ujar Jeno sambil menyerahkan sepasang sepatu.
Jaemin menatap sepasang sepatu tersebut dan mengambilnya, "Jeno-ya, terima kasih. Lalu kau?" Jaemin menatap kaki Jeno, ia masih mengenakan sepatu.
"Aku selalu membawa dua pasang, untuk berjaga-jaga."
Jaemin tersenyum, "Terima kasih. Kau adalah penyelamatku."
"Dan sebagai penyelamatmu, aku meminta kau membayar makan siangku besok sebagai imbalannya."
"Siap komandan!"
Keduanya kembali tertawa. Bis yang mereka tunggu cukup lama, sehingga sesekali mereka bersebda gurau atau Jeno 'berusaha' merayu Jaemin hingga mendapat pukulan di lengannya.
Mereka terus tertawa, tak menyadari ada seseorang yang tengah memperhatikan mereka dari dalam mobil di seberang jalan sana.
"Tuan muda, hari sudah semakin larut. Bukankah lebih baik kita kembali ke rumah?"
Tanpa mengalihkan pandangannya ia menjawab, "Berani kau menginjak pedal gas sebelum ku perintahkan, kau akan ku pecat."
"B-baik, tuan muda Huang."
Renjun tersenyum miring, menatap Jaemin dan Jeno di sebrang jalan sana.
"Selamat menikmati kebahagiaanmu sekarang. Tapi, tunggu saja. Aku akan mengambil apa yang telah kau renggut dariku, Lee Jeno."
.
.
.
Hai, maaf lama ya. Sorry for typos, ya. Hp aku rusak dan yaaaaa susah deh ngetiknya. And yes, norenmin triangle love begin! Maaf buat Renjun atan, aku buat dia jadi jahat, huhu. Tapi, dia gak sejahat itu kok. Aku akan usaha update as soon as possible. See you di chap 3!
