Am mengupdate fic Our Episode ni.
Oya, fic ini memang multychap. Dan setiap chapternya adalah cerita yang terpisah. Jadi untuk yang penasaran sama chapter pertama," Age Different", maaf ya, mungkin lain kali am akan buatkan Sequelnya.
Naruto milik : Masashi Kishimoto
OOC, AU, TYPO'S, PENDEK, temukan lagi kekurangan-kekurangan Author jamuran ini. eyd tidak aktif.
Rate: k+
SasuHina
.
.
.
Our Episode
.
.
.
Toilet's Girl
.
.
.
"Ayolah, satu kali saja."
"G-gomen."
"Cuma bersentuhan, " pria berambut perak itu terus saja mendekatkan bibirnya pada seorang gadis yang juga terus melangkah mundur. Gadis malang itu merasa ketakutan. Terutama pada bibir pria di depannya yang kian bertambah condong ke depan. Bertambah ukuran seiring langkahnya yang semakin mendekat.
"A-aku…" lima senti lagi dan Hinata akan benar-benar menjadi gadis pendosa. Bayangan ayah dan kakak sepupunya terus berputar-putar di benaknya. Hinata, nama gadis malang itu. Dia merasa kepalanya menjadi pening. Suara-suara peringatan kakaknya melayang-layang di telinga kanan dan telinga kirinya.
"Kami akan selalu mengawasimu, Hinata. Jangan pernah berdua-duaan di tempat yang gelap. Apalagi sama cowok berandalan yang hobby ngewarnain rambutnya pake pewarna rambut yang gak alamiah. Awas, ya!" Awas ya! Awas ya! Kami-sama. Hinata benar-benar panik. Apa yang harus ia lakukan? Lab Fisika di waktu istirahat, nggak berpenghuni. Hinata ngelirik pintu keluar. Kayaknya dia musti kabur. Tapi, gimana caranya?
NO! Hinata tidak punya banyak pilihan saat punggungnya bertabrakan dengan tembok. Ia mengangkat kedua tangannya, memejamkan matanya erat-erat, dan mendorong muka kekasihnya dengan cukup sopan. Paling tidak, Hinata memang ngerasa gitu. Walau pada kenyataannya, muka pria itu jadi menjauh tiga meter dari hadapannya. Meninggalkan tanda merah berupa sepuluh jari yang berdempetan di wajah Hidan yang tanpa jerawat. Demi Jashin-sama! Hidan langsung ngerasa dunia tempatnya berpijak menjadi hitam. Mati lampu kayanya bukan jawaban yang tepat.
"Go-gomen." Hinata menelan ludahnya sendiri saat ngeliat Hidan yang kembali membuka matanya. Tersenyum sabar demi menyembunyikan segala macam ekspresi gemas yang anehnya selalu bisa Hinata prediksi.
"Reaksi alamiah saat ditampar itu wajar, babe." Hidan melangkah menuju Hinata yang bergerak ke samping. Mencari knop pintu laboratorium Fisika. Sungguh, Hinata tidak bermaksud buat nampar cowoknya. Harusnya, Hidan dan pria yang sudah jadi korban Hinata tahu pasti, kalo Hinata belum berpengalaman.
"Aa-aku ke toilet du-dulu." Pintu tertutup.
.
.
.
Hinata terus berlari. Seharusnya ia tidak menyanggupi Hidan buat ketemuan di lab Fisika. Namun Hinata yang gak tegaan dan berperilaku macam manusia yang harus ditauladani-pun akhirnya datang. Dan seperti yang kita ketahui. Akhir yang cukup tragis terjadi pada Hidan.
Hinata memasuki toilet itu. Duduk sambil menutup matanya. Rasanya setelah berada di toilet ini, rasanya setelah ia buang air kecil, semuanya terasa plong! Bener-bener plong. Nggak ada bibir gede, nggak ada bau mulut dan tentu saja nggak ada cowok yang nggak jelas agamanya, kayak Hidan.
Beberapa detik Hinata gunakan untuk tersenyum lega. Karena akhirnya beban yang bertumpuk di bawah perutnya keluar juga. Sampai akhirnya-
"Ide bagus. Bersembunyi di Toilet agar terhindar dari fans gilamu."
Hinata yang baru saja membuka pintu toilet, mengedarkan pandangannya ke sejumlah tempat. Beberapa siswa tampak buru-buru membenahi resletingnya. Bagus!. Hinata mengulanginya lagi. Salah masuk toilet lagi.
Mata Hinata beralih pada siswa berbadan tinggi yang berdiri di hadapannya. Mata hitamnya menatap Hinata dengan tatapan tajam.
"Maaf?"
"Kau tidak setia kawan. Membiarkanku berlari keliling lapangan dan kau diam di sini. Bebas bernapas, buang gas, dan berlagak bodoh saat ketahuan." Sasuke bilang. Mukanya hampir menyaingi lantai keramik yang lagi diinjaknya. Datar.
Sementara itu, Hinata nggak ngerti apa yang dibilang senpai terkenal yang nggak dikenalinya itu. Dia hanya diam.
Tapi tiba-tiba tangan pucat siswa itu menarik pergelangan lengan Hinata. Membawanya pergi dari tempat yang berparfum alamiah.
"Aku memaafkanmu. Ayo cepat kita ke kelas lagi, Neji."
Neji? Hei, hei! Kau salah paham. Hinata bukan Neji. Meskipun mereka samaan, tapi Hinata seorang siswi.
"Le-lepaskan!" beberapa kali Hinata bilang gitu.
Tapi Sasuke hanya ngelirik sekilas, dan kembali menyeret langkah seseorang di belakangnya.
"Mereka masih mengejar Kita."
Hinata menoleh ke arah belakang. Beberapa siswi berteriak sambil berlari ke arah Hinata dan Sasuke! Fans Sasuke Uchiha semakin hari semakin bertambah banyak. Apa mereka keturunan amoeba?
"Mereka ganas." Sasuke bilang. Hinata kembali menatap punggung Sasuke.
"Sudah kubilang potong rambut kesayanganmu itu. Mereka sepertinya masih penasaran cara membuat rambut mereka selembut rambutmu." Hinata tertegun. Ia jadi merasa iri kepada Neji. Apa benar selembut itu? Mau, dong! Mau, ah! Entar kalo udah nyampe rumah. Hinata bakalan minta resepnya. Tapi bagaimana dengan cowok di depannya ini? Dia terus saja menarik tangan Hinata. Bagaimana cara Hinata buat pulang? Hinata harus cepat bertindak.
"A-ano…" Hinata mencoba mengklarifikasi. Tapi hasilnya selalu sama.
"Percuma. Wajahku tidak akan berubah menjadi jelek, walaupun Orochimaru mengulitiku. Jadi, jangan menyuruhku untuk mengoperasi mukaku lagi, Ji."
"SASUKE-KUUUN!" Teriakan itu, grrrr… Tayuya!
"A-ano, a-aku-" Hinata ingin nangis sekencang-kencangnya. Kenapa pria ini selalu memotong kalimatnya, sih? Hinata kan punya hak buat bersuara. Lagi pula ia bukan Neji. Apa cowok di depannya nggak tau, kalo Hinata lagi pake rok mini? Seingatnya Neji nggak pernah mau memakai rok jenis ini. Dia suka celana panjang. Tertutup. Celana yang nggak ngeliatin auratnya. Neji nggak suka rok selutut yang membuat pantatnya kesempitan. Intinya Neji itu cowok normal. Handuk aja bentuknya kaya celana panjang. Kurang macho dari sebelah mananya coba?
Sasuke berhenti melangkah. Ia ngerasa lab Kimia adalah tempat yang aman. Dan karena dia udah cape lari-lari terus, dia berniat buat istirahat.
Sasuke akhirnya menoleh.
"A-aku pengen pipis." Hinata sesenggukan. Tangannya menekan perutnya yang kesemutan.
"Eh?"
"Aku nggak tahan lagi." Hinata bener-bener nangis. Sasuke ngelirik kanan, kiri.
"Mana Neji?" wajah Sasuke datar pas nanya begitu. Hinata benci ekspresi itu. Terlebih karena cowok keterlaluan ini udah membuatnya jauh dari toilet.
"Aku Hinata. Aku bukan Neji."
Hinata mengucek-ngucek matanya. Sasuke diam.
Angin berseok-seok seperti lagi ngetawain Sasuke yang bener-bener ngerasa malu.
"Aku pengen pipis!" dan Hinata masih dengan pendiriannya, yang pengen pipis.
"Pipis aja sendiri. Kau mau aku temani, huh?" Sasuke melenggang pergi meninggalkan Hinata yang tersedu.
"Iya. Temani aku pipis." Hinata bilang.
"…"
Blush!
"Aku pengen pipis, pengen pipis, pengen PIPIS!"
"Iya, iya. Kenapa kau cerewet sekali!"
.
.
.
Hari ini, di toilet laki-laki.
Sasuke lagi nungguin Hinata dengan tidak sabar. Dia ingin meminta maaf karena sudah berani mencium kening Hinata di hadapan banyak orang.
Sungguh! Sasuke nggak berniat jahat. Itu semua dilakukan Sasuke agar para fansnya bisa menerima kenyataan. Bahwa Sasuke Uchiha sudah punya cewek. Sasuke sudah bilang berkali-kali pada para fans-nya, kalau dirinya sudah berhubungan dengan Hinata selama 3 bulan. Tapi karena Hinata tipe perempuan yang pemalu, yang Sasuke tahu, tidak akan ada adegan kissu dalam perjalanan pacarannya. Apalagi kissu di depan banyak fansnya. Jadi, pas Sasuke lagi di kantin bersama Hinata, Sasuke dengan santainya mencium kening Hinata.
Reaksinya?
"A-aku pengen pipis."
Hinata kembali menjadi gadis toilet seperti sebelumnya.
Mungkin, kalau bukan karena perasaannya yang setia pada satu perempuan, Sasuke sudah nyerah di hari pertama bertemu Hyuuga Hinata. Gadis over panic yang selalu terjebak di toilet laki-laki.
.
.
.
Terimakasih bagi yang sudah baca dan meninggalkan ripyu
Chaper depan gendrenya cukup berbeda. Hurt comport, Romance, supernatural…
balasan ripyunya mohon maaf, seentara waktu am tampung dulu.. maaf ya!
jadi, bolehkah fic ini dilanjutkan?
