That Little Bird Who Sings
Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
Definisi anak IT: adalah sekumpulan manusia yang lebih pintar memanfaatkan search engine daripada orang lain.
-Pearl, 2018.
.
Malam itu Naruto bermimpi bertemu dengan seorang wanita berdada besar. Rambutnya pirang, kulitnya putih, tubuhnya molek seperti gitar Spanyol. Wanita itu menghampirinya dari kejauhan dengan dua tangan terkepal. Ia memincingkan mata untuk melihat sosok itu lebih jelas. Tidak kelihatan. Setelah beberapa saat sosok buram itu semakin mendekat dan membesar, akhirnya wanita itu kini berdiri tepat di depan wajah Naruto.
"Baa-chan! Tsunade-baachan!" Naruto memekik. Ia tidak menyangka bahwa wanita seksi itu adalah neneknya di dunia nyata.
"Hei bocah!" Teriak Si Nenek Tsunade geram. Wanita itu kemudian melayangkan tinjunya dengan sangat cepat ke pipi kanan Naruto.
Bugh!
"A—APA?" Belum sempat protes, sekarang gentian pipi kanannya yang ditinju.
Bugh!
"—Baachan! APA SALAHKU? —"
Bugh! Bugh!
Perutnya, dua kali.
"Dasar kau anak kurang ajar! Berani-beraninya membuat sumpah demi kuburan nenekmu!" Tsunade dalam mimpi Naruto kini mengarahkan kakinya ke udara untuk menendang Naruto yang masih shock karena tiba-tiba dipukuli. "MEMANGNYA NENEK YANG MANA YANG SUDAH MATI?"
"Aduh—MAAFFKAN AKU, BAACHAN!"
Benar juga. Naruto hanya mengenal satu nenek selama hidupnya, Nenek Tsunade. Memangnya kuburan nenek siapa yang telah ia sumpahi kemarin malam? Naruto bergerak kesana-kemari berusaha menghindari pukulan dan tendangan dari Tsunade, hingga punggungnya menabrak dinding yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Naruto panik ketika melihat kaki neneknya melayang dengan cepat menuju perutnya. BUGH! Perut malangnya seperti tertimpa besi seratus kilo. Bayang-bayang nenek Tsunade perlahan mengabur menjadi warna putih, Naruto menutup matanya dan ia telah berada di atas tempat tidur di kamarnya ketika membukanya lagi.
Tubuhnya gemetar hebat, napasnya tersengal-sengal. Nenek Tsunade adalah wanita kuat bahkan dalam mimpi Naruto, wanita itu bahkan membuatnya seperti baru saja dikroyok sepuluh preman. Bekas tendangan dalam mimpinya masih terasa nyeri. Bagaimana bisa nenek Tsunade tahu ia baru saja bersumpah demi kuburan neneknya kemarin malam? Namun semuanya menjadi masuk akal saat Naruto merasakan ada sesuatu yang berat berada di atas perutnya.
Kaki Sai menindihnya. Damn it.
Meski saat terbangun Sai adalah lelaki yang lembut, tidak ada jaminan bahwa saat tidur ia akan selembut saat terbangun. Sai termasuk dalam rotate-like-a-clock-when-sleep club, karena ia selalu berputar dalam tidurnya. Jika pada malam hari posisi kepalanya ada di barat, maka saat ia terbangun tempat itu sudah digantikan oleh kedua kakinya. Tidak jarang Naruto akhirnya mengalah dan tidur di lantai untuk memberikan kebebasan dan ruang bagi kekasihnya yang akan berotasi semalaman.
Naruto melirik jam digital yang ada di atas meja, pukul 6.45. Hebat. Bahkan ia sudah sadar sepenuhnya sebelum alarm menyala. Padahal di hari-hari biasa, ia dapat menunda alaramnya sampai tiga kali dan kembali tidur. Puncaknya adalah melepas baterai atau melempar benda tak bersalah itu hingga menghantam dinding dan pecah. Omong-omong, jam itu adalah miliknya yang ketiga tahun ini. Kedua pendahulunya telah beristirahat dengan tenang di tempat pembuangan sampah.
Ia harus bangun dan menelepon Nenek Tsunade untuk minta maaf. Setelah menyingkirkan kaki Sai dari perutnya dengan hati-hati, ia membentangkan selimut di atas tubuh pacarnya yang masih tertidur lelap. Kemudian ia berjalan menuju meja tempat ia biasa meletakkan handphone. Setelah melihat hanya ada satu handphone di sana dan ia yakin bahwa benda itu adalah milik Sai, baru lah ia teringat kejadian halte bus tadi malam.
Sialan, mulai hari ini ia resmi menjadi manusia gua.
.
Ada yang berbeda pagi ini, abaikan fakta bahwa Naruto sedang sarapan tanpa mengelus-elus layar smartphone-enya. Setelah sekian lama akhirnya mereka menyalakan televisi untuk menonton berita. Naruro harus membersihkan jaring laba-laba di sekitarnya saat menyalakan benda elektronik itu. Biasanya pagi hari menjadi waktu tersibuk di apartemen, namun pagi ini waktu seolah berjalan lambat.
"Aku menginap di studio malam ini." Celetuk Sai sambil menaburkan garam pada telur goreng mereka.
"Sepertinya aku juga akan pulang malam sekali—ups, no pepper please."
Sai berhenti memutar tutup botol merica, "masih membuka jasa stalking?"
"Obito yang terakhir, tapi aku punya dua deadline plugin* dan satu aplikasi untuk final project, minggu ini dan minggu depan."
Sai dan Naruto duduk berdampingan di sofa, memangku piring berisi sarapan mereka, roti, sosis dan telur goreng. Sai diam pura-pura tidak tahu saat garpu Naruto pelan-pelan mencuri beberapa potong sosis dipiringnya. Toh sebenarnya Sai tidak terlalu menyukai sosis, namun lebih baik jika segera dimakan sebelum berubah rasa karena terlalu lama di lemari pendingin atau kadaluwarsa.
"Omong-omong, bagaimana dengan orang yang menabrakmu kemarin?" Tanya Sai, membuka topik percakapan yang membuat hati Naruto berkedut sakit.
"Dia bilang akan menghubungiku." Jawab Naruto pesimis.
"Yakin?"
"Oh, Sai please—jangan hancurkan harapanku." Naruto mengambil sosis dengan potongan terbesar dari piring Sai dan cepat-cepat melahapnya.
"Sorry." Sai menyingkirkan semua sosis miliknya ke piring Naruto. "Kalau kau di kampus, siapa yang bisa kuhubungi kalau aku ingin tahu kabar pacarku?"
Pipi Naruto memerah mendengarnya, walaupun Sai memiliki wajah yang datar, ia tidak menyangka mulutnya bisa mengeluarkan kata-kata manis. "Hubungi Shikamaru, hari ini aku di lab mulai pagi sampai pagi. For your information, kau bisa mengirim email dan aku punya aplikasi chat via pc, kita bisa melakukan phone sex dengan fitur free call, oh bahkan video call juga bisa."
"Ah, jadi kau ingin phone sex denganku di lab saat ada Shikamaru dan teman-temanmu di sana, hm? Sejak kapan kau menyukai exhibitionist?"
"Kidding…."
"Well, I'm not."
"Oh, kau serius mau phone sex denganku?"
"No way." Sai berdiri membereskan piring sarapan mereka.
Oh God, dimana ia menemukan pacar dengan selera humor seperti Sai?
.
.
"Hhh…."
Shikamaru sudah menghela napas empat kali dalam setengah jam. Laboratorium hening, hanya terdengar suara ketikan keyboard dan dengung hardisk yang berputar. Sangat tenang namun hampir terlalu tenang, bahkan suara jarum jam tidak tedengar karena benda itu mati dan belum ada yang mengganti baterainya sejak minggu lalu.
"Hhhh…."
Helaan napas kelima, Naruto berhenti mengetik dan melirik Shikamaru yang sedang mengistirahatkan kepalanya pada sandaran kursi. Si Pirang adalah tipe orang yang tidak bisa berkonsentrasi dengan bunyi-bunyian yang terlalu keras, sepertinya tingkat sensitivitasnya makin meningkat dikala hatinya sedang galau. Suara sekecil nyamuk terbang dapat membuat isi kepalaya kacau sampai tidak mampu memperbaiki dua baris error dalam kodenya. Naruto harus melakukan sesuatu untuk megembalikan kewarasannya, mengingat deadline untuk testing* plugin adalah malam ini, sedangkan aplikasinya masih 'compile error' sejak tadi pagi.
Shikamaru mulai mengambil udara di sekitarnya, dan siap untuk menghela napas. No, no, jangan lagi!
"H—"
"Shut. The. Fuck. Up. Shikamaru, I swear to God, kalau kau terus mendesah aku akan merobek mulutmu." Naruto memencet keyboard dengan sepuluh jarinya, kesal.
Seluruh isi laboratorium tercengang dengan gerakan tiba-tiba Naruto. Shikamaru menatapnya bengong dengan mulut melongo.
"Easy dude, frequent sighing helps keep you alive." Celetuk Kiba yang duduk tak jauh dari mereka. Naruto melotot padanya.
"Seharusnya yang boleh mendesah sebanyak itu dalam setengah jam adalah aku. Ya, aku! Yang baru saja menjatuhkan benda senilai 130.000 Yen!"
"Yah, Naruto. Shikamaru sudah hobi mendesah jauh sebelum smartphone mu jatuh." Ujar Ten Ten, satu-satunya perempuan di ruangan itu. Ten ten dipanggil superwoman, karena ia adalah satu-satunya anggota perempuan di laboratorium. Bagaikan kisah anak perawan sarang penyamun, bedanya jika anak perawannya adalah Ten Ten maka seluruh penyamun adalah budaknya. Tidak ada yang berani macam-macam dengan si superwoman. Kebanyakan perempuan di jurusan mereka cenderung tidak terlalu menyukai kode, namun hal tersebut tidak berlaku pada Ten Ten, superwoman Ten Ten memiliki otak jenius yang bahkan dapat melakukan compile langsung di kepalanya.
"Yup. Bahkan nama tengahnya saja, desah. Nara 'Desah' Shikamaru." Kelakar Kiba, seseorang yang dijuluki bocah anjing karena isi galeri smartphone-nya hany foto-foto anjingnya, Akamaru dengan berbagai pose. Akamaru sedang makan, Akamaru tidur di sofa, Akamaru tidur di halaman belakang, Akamaru ini akamaru itu.
"Mana ada." Si pemilik nama memutar bola matanya. "Naruto, kulihat sejak tadi kau berhenti pada halaman itu, berhenti mencoba mengcompile karena kode error tidak akan pernah membetulkan dirinya sendiri,"
"Jangan mengguruiku, Shikamaru. Urusi saja milikmu sendiri."
"Aku sudah selesai testing sejak 2 jam yang lalu."
Naruto ingin mengumpat, namun kata-kata itu ditelannya kembali.
"Sepertinya perut dan otakmu sedang kosong." Ujar Shikamaru.
"Oh, kebetulan sebentar lagi jam makan malam." Sahut Kiba.
"Ide bagus! Ayo makan," Ten-ten cepat-cepat menyimpan semua pekerjaannya, kemudian mengubah PC-nya menjadi mode stand by. "Hmm… kupikir-pikir, Naruto sudah ada di sini sejak pagi dan belum beranjak dari kursinya."
"Kau melewatkan makan siang?" Tanya Kiba tak percaya.
"Tidak punya pilihan, aku sedang dalam krisis keuangan. Uchiha Obito belum membayar ongkos untuk informasi yang kuberikan."
"Well, Uchiha Obito juga mahasiswa, jadi wajar kalau kalian sama-sama miskin. Harusnya kau menjual informasi kepada perusahaan atau orang kaya raya yang akan membayarmu satu juta Yen, kau bisa beli sepuluh smartphone seperti milikmu yang jatuh seperti kau membeli permen jelly." Ten Ten berdiri dari kursinya, ia mengeluarkan dompet lipatnya dari tas dan memasukkannya ke dalam saku mantel. "Ayo kutraktir minum, asal makanannya yang bayar Shikamaru."
"I'm in!" teriak Kiba antusias.
"Tch, jangan minta traktir pada mahasiswa miskin." Keluh si rambut nanas, Ten Ten tertawa.
Mereka berempat baru saja keluar dan mengunci pintu laboratorium, tiba-tiba Shikamaru berhenti karena getaran di saku mantelnya. Si rambut nanas melihat ID penelepon kemudian mengangkat panggilan tersebut tanpa berkata halo. Ia menyerahkan smartphone di tangannya kepada Naruto.
"Untukmu."
"Siapa?" Naruto mengangkat alis pirangnya.
"Sai."
Di seberang panggilan, Sai mendengar sayup-sayup suara Shikamaru berubah menjadi suara pemuda yang pagi ini melahap habis sosisnya. Ada beberapa suara yang tidak ia kenali sedang menggoda Naruto, disusul dengan suara Naruto yang menyuruh mereka untuk diam.
"Halo, Sai?"
"Yo."
"Ada apa kau menelepon?"
"Kau bilang ingin phone sex?" Goda Sai namun tetap dengan nada datar pada suaranya.
"Seriously…."
"Yeah, tentu saja aku sedang bercanda."
"Pfft," Naruto tidak bisa menahan tawanya, Sai memiliki sisi 'imut'-nya sendiri. "Apa kau rindu padaku?"
"Hmm, sebenarnya aku lebih rindu pada kasur di apartemen daripada rindu padamu Punggungku lelah sekali karena melukis sejak pagi…."
"SAAAAI—Katakan padaku kau bercanda."
"Aku bercanda, Naruto. Aku hanya bercanda."
"Hehe, kau menggemaskan, Sai."
"Aku laki-laki, Naruto. Laki-laki selalu ingin dibilang manly, bukan menggemaskan. Omong-omong, sudah makan?" Meski saat mengatakan ini pipi Sai merona merah dengan sangat manly.
"Aku baru saja akan pergi makan Bersama Shikamaru, Kiba, dan Ten Ten. Ditraktir, tentu saja hehe."
"Selamat makan kalau begitu… Ah, benar juga, tadi siang seseorang bernama Sasuke, Uchiha Sasuke mencarimu. Sebentar…," Sai menghilang beberapa saat, Naruto mengalihkan pandangannya kepada teman-temannya yang mulai tidak sabar. Ia memberikan isyarat lima menit lagi kepada mereka dengan mengacungkan lima jari tangannya. Tidak lama kemudian Sai kembali, "Halo, Naruto… dia ingin bertemu di halte bus seperti kemarin, jam 21 tepat."
"Oke, apa hanya itu?"
"Sepertinya hanya itu, oh ya…. Dia berkata jangan sampai membuatnya menunggu, jika telat dia tidak akan membayar ganti rugi."
Bajingan tengik—
"Brengsek!" umpat Naruto spontan. "Ups maaf, bukan untukmu, Sai."
"It's okay, I love you too, Blonde."
"Hehe, see you tomorrow, jangan lupa sempatkan untuk tidur walau sebentar."
Sambungan telepon ditutup, Naruto melihat jam dari layar telepon genggam Shikamaru, pukul 19.04. Ia masih punya banyak waktu sampai jam 21 malam. Si pirang berjalan menuju kawan-kawannya, sambil mengembalikan smartphone Shikamaru, ia bertanya, "Apa kalian mengenal seseorang bernama Uchiha Sasuke?"
"Uchiha Sasuke?" Kiba balik bertanya.
"Ah, sepertinya aku tahu. Aku pernah dengar dari temanku bernama Neji, dia sepupu Hinata dari jurusan kita. Hinata punya teman dekat bernama Sakura yang kuliah di jurusan kedokteran, kurasa Sakura satu SMA dengan orang yang kaucari. Siapa tadi, Sasuke?" Ujar Ten Ten panjang lebar.
Para lelaki saling berpandangan sambil menghela napas bersamaan ketika Ten Ten menyelesaikan cerita silsilah panjangnya mengenai hubungan 'dekat'nya dengan Uchiha Sasuke.
"Aku butuh beberapa menit untuk mencerna semua nama yang disebutkan Ten Ten." Kiba memutar bola matanya.
"Yeah. Dia adalah… teman sma dari sepupu temannya?" Naruto mengangguk setuju.
"Bukan begitu bodoh, dia adalah teman sma dari teman sepupunya temannya?" Kiba mencoba meluruskan.
"Ck, kenapa kalian bisa berpikir serumit itu. Lihat saja nama belakangnya, ia pasti memiliki hubungan dengan Uchiha Obito." Semuanya memandang Shikamaru sambil mengangguk. Dibanding semua jawaban, argumen Shikamaru lah yang paling masuk akal.
Dari percakapan panjang mereka, akhirnya Naruto membuat kesimpulan. "Jadi, dia adalah saudara Obito-san?"
"Memangnya semua Uchiha di dunia ini harus bersaudara?" Cibir Kiba.
"Chris Hemsworth dan Liam Hemsworth bersaudara!"
"Oh Se Hun EXO dan Oh Ha Young Apink sama-sama bermarga Oh tapi mereka tidak bersaudara."
"Aaah, berisik kalian semua. Biar Naruto sendiri yang tanya apakah memang dia saudaranya Obito-san, oke? Aku sudah sangat kelaparan sampai ingin memakan kepala kalian!"
Naruto, Kiba dan Shikamaru terdiam. Superwoman Ten Ten versi normal saja sudah seram, jangan sekali-kali mencari masalah dengan Ten Ten versi lapar. Mereka bertiga berjalan mengekori gadis itu tanpa suara sampai ke tempat makan.
.
.
TBC
.
.
Plugin itu semacam fungsi atau fitur tambahan yang digabungkan ke sebuah sistem untuk menambah kemampuan dan kinerja dari sistem tersebut. Gampangnya plugin sama dengan add-ons dalam browser seperti adblock, idm, dsb.
Setiap aplikasi sebelum rilis pasti harus di testing supaya tau apakah sudah sesuai dengan apa yang diinginkan. Testing dilakukan dengan membuat skenario, untuk menguji reaksi dari aplikasi kalau skenario tersebut dilakukan. Misalnya aja input new password, kadang ada yang harus pake karakter, angka, dsb. Kalau kita nggak masukin karakter untuk password, harusnya ditolak kan? Testing ini menguji aplikasinya apakah benar akan menolak password yang akan diinput. Yah, kalau masih bingung bisa banget googling macam-macam testing software.
.
Sepertinya saya harus memberi penghargaan pada FayRin D Fluorite karena sudah menyadarkan saya kalo saya masih punya tanggungan banyak fic multichapter Im soooo sooorryyy. Komen-komen dari kalian sungguh berharga dan memberi saya semangat mengetik ini. Huhu. Semoga kedepannya bisa lebih rajin update yaa hehe. Kritik dari kalian sangaaat diharapkan untuk memperbaiki tulisan saya.
Mind to review?
