HANYA CINTA
SASUNARU
By : Pochi'90
Disclamer : Masashi Kishimoto
Warning : BL/ Don't like, Don't read. Please Review, and happy reading.
.
.
.
CHAPTER 2
.
.
.
Sudah satu bulan Naruto menjadi murid kelas 2. Sekarang banyak hal yang harus ia kejar. Semakin hari, rumus matematika semakin sulit di pecahkan.
Hari ini setelah makan siang, Naruto pergi menemui wali kelasnya. Ia ingin berdiskusi masalah nilai.
Wali kelasnya tentu senang, beliau juga memberikan sedikit motivasi untuknya. Naruto memang bukan murid yang menonjol, tapi dia juga bukan murid yang bisa di katakan bodoh. Nilainya memang naik dan turun. Tapi konsisten.
Wali kelasnya menyarankan Naruto agar lebih meningkatkan konsentrasi dalam belajar. Jangan hanya belajar untuk salah satu mata pelajaran yang di sukai. Wali kelasnya juga memberikan alternatif Universitas yang tak kalah bagusnya dengan Konoha. Naruto bersyukur karena di berikan wali kelas yang menyenangkan. Tidak seperti wali kelasnya yang dulu. Mereka suka meremehkan Naruto.
Setelah sesi konsultasi bersama wali kelasnya, Naruto berpamitan. Tujuan selanjutnya adalah kelas, lima menit lagi bel masuk akan berbunyi.
Tapi ketika akan di perjalanan menuju kelas, tanpa sengaja ia melihat Sasuke.
Di tangga, Sasuke duduk dengan wajah yang tenang sementara seorang gadis yang Naruto tahu cukup populer berdiri di depannya.
Naruto bersembunyi di balik tembok.
"Aku menyukaimu." Gadis itu mengaku dengan terus terang.
Setelah mengatakannya, ada keheningan. Sasuke melihat gadis itu tanpa ekspresi. Cukup lama diam, tapi kata-kata Sasuke sungguh jahat.
"Aku tidak suka gadis yang biasa. Kau jelek, bentuk tubuhmu buruk. Memakai make up terlalu tebal, parfummu terlalu menyengat. Jadi...enyah kau dari hadapanku."
Gadis itu wajahnya menjadi merah setelah mendengar jawaban Sasuke. Dia juga lari terburu-terburu dengan wajah antara kesal, malu, marah, kecewa semuanya melebur menjadi satu.
Ketika Naruto ingin keluar, gadis lain muncul dan berdiri di depan Sasuke
Sungguhan?
Bahkan gadis pertama masih lebih baik. Di lihat bagaimanapun, gadis kedua itu banyak sekali kurangnya di bandingkan lebihnya.
"Aku menyukaimu." Mungkin hanya ini kelebihan yang bisa di lihat. Dia terlalu percaya diri, sangat tidak sesuai dengan penampilannya.
"Apa di rumahmu kau tidak punya kaca? Kau tidak sadar kalau kau terlalu biasa? Aku tidak menyukai gadis jelek sepertimu."
Dan gadis itu dengan nada memohon dia melanjutkan, "Aku bisa berubah! Aku bisa berdandan, aku bisa--"
"Aku bukan pecinta barang palsu."
Gadis itu lalu terdiam, tapi masih belum mau menyerah. Lagi, dan lagi. Tapi kata-kata Sasuke semakin lama semakin tidak masuk akal.
Jadi gadis itu pergi dengan kondisi yang sama dengan gadis pertama.
Pria jahat itu, sepertinya mudah sekali menginjak-injak perasaan orang lain. Tapi bagaimanapun juga pria ini populer kemanapun ia pergi. Lihat saja, dua atau tiga minggu lagi gadis-gadis itu pasti akan datang dan memohon lagi padanya.
Menyedihkan! Apa yang gadis-gadis itu coba pikirkan?
Sudah tahu hasilnya akan berakhir penolakan, tapi masih saja tidak mau menyerah. Pria tampan di sekolah bukan cuma dia saja, kan?
Seperti barang edisi terbatas, mereka berebut untuk mendapatkannya. Kenyataannya adalah Sasuke hanyalah pria jahat yang sulit di mengerti.
Naruto keluar dari persembunyiannya, dia berjalan ke arah Sasuke.
"Apa? Kau juga ingin menyatakan cinta padaku?"
Naruto sebenarnya ingin menuju ke lantai dua dimana kelasnya berada. Tapi Sasuke yang duduk di tangga sebenarnya sangat mengganggu. Naruto ingin mengabaikannya, ia tidak mau berurusan dengan pria jahat itu. Tapi tidak bisa!
Lalu Naruto berbalik, berdiri di depan Sasuke, dengan pedas dia menjawab, "Yang terpikir olehku saat ini adalah bertanya padamu kapan dan bagaimana kau akan mati."
Tapi Sasuke tidak marah, dia malah meladeni Naruto. "Mungkin sekitar 50 tahun."
"Dasar gila!"
"Kau bertanya, maka ku jawab."
"Kau mau hidup selamanyapun aku tidak peduli! Di dunia ini, tidak ada kata yang pantas untuk menggambarkan betapa jahatnya kau."
"Tukang intip tidak punya hak mengatakan itu padaku."
"Mengintip? Siapa? Aku? Untuk apa?"
Naruto mengatakannya karena ia merasa tidak melakukan hal yang salah. Dia benar, mangkannya dia bertanya.
Sasuke mengedikkan bahu, "Mungkin karena aku tampan?"
Kotoran!
Rasanya ingin sekali melepas dan melemparkan sepatu padanya.
Bagaimana bisa dia mengatakannya dengan wajah tanpa ekspresi dan tidak merasa malu saat bicara.
"Dasar sialan brengsek!" Ini membuat Naruto kesal dan menggertakkan gigi
Sasuke tidak membalas, dia lalu berdiri dan berjalan menuju kelasnya. Melewati Naruto begitu saja.
(Kelas Naruto dan Sasuke bersebelahan)
Naruto melototi punggung Sasuke terus sampai dia menghilang di belokan. Kemudian dia membuang napasnya, di kemudian hari ingatkan Naruto agar jangan lagi berurusan dengan pria itu!
Dasar menyebalkan!
Hari minggu datang begitu cepat. Pagi buta sekali kakeknya pergi memancing bersama temannya. Pukul 10 Naruto baru saja bangun. Sebelum pergi kakeknya sempat berpamitan. Naruto yang masih mengantuk hanya bergumam dalam tidur. Dia tadi sempat bangun, tapi tidur lagi sampai sekarang.
Naruto turun ke bawah untuk sarapannya yang terlambat. Setelah itu dia mandi, dan tergeletak lagi di kasur. Ini sudah siang, tapi tanda kakeknya akan pulang belum terlihat. Karena di tinggal sendiri, tingkat kebosanannya naik ke level 9. Biasanya tidak seperti ini, tapi entah kenapa mood Naruto menjadi jelek.
Jadi dengan malas dia mulai mengirim pesan pada Kiba.
Naruto : Kakekku kabur dari rumah! Aku sedang sendirian! Cepat kemari! Kalau tidak, aku takut di culik!
Tidak lama kemudian, balasan dari Kiba muncul.
Kiba : Dasar brengsek! Orang sialan mana yang mau menculik bocah tidak berguna sepertimu! Tapi, tunggu, aku akan segera ke sana!
30 menit kemudian Kiba datang tidak sendiri, ada Chouji juga bersamanya.
"Naruto! Kami datang!" Seru Chouji saat dia masuk sambil melepas sepatunya. Dari arah belakang Kiba menyusul, juga melepas sepatunya.
"Kemana kakekmu kali ini? Pergi ke luar angkasa atau pergi ke alam baka?" Sotak saja Chouji yang berdiri di belakang, langsung memukul kepala Kiba. Bagaimana mulut sialan itu mengucapkan hal tersebut dengan mudah?
"Aduh!" Kiba meringis.
"Rasakan! Itu untuk mulut sialanmu. Kalau sampai kakek dengar, habis kau!"
Kiba akan membalas tapi Chouji lebih dulu kabur masuk ke dalam rumah. Anak tambun itu langsung melemparkan diri ke sofa, mengambil remot tv di meja sambil memakan camilan yang ia bawa. Dia sudah berlagak seperti di rumah sendiri.
Kemudian Kiba menyusul masuk, sebelum duduk dia membalas memukul kepala Chouji.
"Apa?" Kata Kiba melotot pada Chouji.
Lalu Chouji dia tidak membalas, hanya mulutnya mencibir pada temannya.
"Naruto kau beneran di culik? Kami sudah datang, nih!" Teriak Kiba, karena tak kunjung melihat sang pemilik rumah.
Naruto menyahut, tapi suaranya terdengar jauh. Ternyata bocah pirang itu sedang ada di kebun belakang.
Suara pintu geser terdengar terbuka, Naruto masuk langsung menuju dapur mengambil air minum di lemari es.
Naruto tidak perlu repot menyajikan makanan ataupun minum. Kedua temannya sudah biasa keluar masuk seenaknya di rumah kakeknya. Mereka berteman sejak menggunakan popok.
Dari arah dapur Naruto bisa melihat apa yang kedua temannya lakukan. Chouji yang terbaring di sofa dengan makanan ringan sedang menonton acara tv favoritnya. Dia terbahak keras saat peserta acara melakukan hal konyol. Sedangkan Kiba sibuk dengan tablet miliknya. Dia membawanya dari rumah. Bocah itu akhir-akhir ini katanya tertarik dengan suatu film.
Naruto menutup pintu lemari es dengan lututnya. Lalu ia berjalan ke ruangan tv dan duduk di samping Kiba.
Karena tertarik Naruto bertanya, "Lihat apa?"
"Film." Jawab Kiba tanpa mengalihkan pandangannya.
Naruto mencoba mengintip, dia duduk mendekat pada Kiba.
Beneran deh! Genrenya sama sekali enggak cocok sama karakter Kiba!
Ada apa dengan 'meloromansa?'
Naruto tidak mengerti, sejak kapan temannya menyukai hal-hal seperti itu.
Dia kesurupan setan dimana, sih?
Chouji yang terbaring di sofa, meraih bungkusan plastik berisi beberapa camilan di lantai. Dia meraih satu secara acak, lalu nelemparkannya pada Naruto.
Sambil makan, Chouji bertanya, "Kau tahu. Akhir-akhir ini pacar Kiba mulai ngasih sedikit perhatian dengannya. Menurutmu ini akhirnya akan gimana?"
Naruto melihat pada Kiba seraya memikirkan satu hal. "Ini enggak akan bagus." Katanya mencoba meramal.
Kiba mengerutkan alis, melihat Naruto dan bertanya "Memang apanya yang nggak bagus?"
"Bukan kuat-kuatan karena mau putuskan, kan?" Akibatnya Chouji langsung di lempar bantal sofa. Dan itu tepat mengenai wajahnya.
"Dasar brengsek. Putus pantatmu! Aku malahan ragu, pacarku suka pria lain. Aku beritahu kalian, gadis cantik kebanyakan bisa di percaya."
"Aku rasa pacarmu enggak sama, deh!" Balas Chouji.
"Pacarmu itu memiliki standar terlalu tinggi. Gadis yang terlalu menjunjung tinggi hatinya, enggak cocok di banggain. Lihat sekilas aja gadis kayak pacarmu itu cuma suka manfaatin orang. Kiba, kalau bisa ku bilang kau itu terlalu di sesatkan sama dia." Ujar Naruto menasehati.
Kiba berdecak lidah, "Jangan bicara buruk tentang pacarku. Orang sepertiku bisa menemukan pacar cantik, itu seperti keberuntungan. Sebagai teman bukannya senang, malah di doain putus."
"Terserah deh. Tapi nanti kalau beneran putus, jangan datang lalu nangis padaku dan Chouji, ya!"
"Enggak akan!"
"Yo. Sentimental sekali." Sahut Chouji menciibir.
Kiba akhirnya selesai menonton film di tabletnya. Lalu ia bangun dari sofa langsung menuju dapur. Ada beberapa kaleng jus di dalam lemari es. Jadi Kiba mengambil tiga kaleng jus, dan satu botol air mineral.
"Kalian tahu, apa yang membuat geram para senior di klub ku akhir-akhir ini?"
"Apa itu?" Sahut Chouji, sambil menerima kaleng jus dari Kiba.
"Sasuke!"
Chouji menelengkan kepala, dan bertanya, "Ada apa lagi dengannya?"
Kiba membuka kaleng jus dan meminumnya sampai habis, "Para senior mengeluh, karena rata-rata gadis incaran mereka lebih tertarik pada Sasuke."
Chouji dan Naruto saling menatap. Apa bagusnya berbicara masalah ini sekarang?
"Lalu?" Tanya Chouji, menaikkan satu alis.
"Brengsek! Si Uchiha itu, kenapa dia punya banyak sekali kelebihan di banding aku. Tampan, pintar, kaya! Beneran! Ini membuatku marah dengannya."
Kiba sedikit meninggikan suara, dia meletakkan kaleng jus di meja dengan hentakan keras.
"Kalau itu jadi standar kemarahanmu, itu terlalu berlebihan." Kiba memandang sengit ke arah Naruto.
Lalu Kiba tidak mengatakan apapun, dia hanya duduk sambil menggerutu.
"Kamu beneran cinta mati sama pacarmu itu." Ujar Chouji tiba-tiba seraya berbisik.
"Apa kamu bilang?"
"Enggak, nggak bilang apa-apa."
"Nggak bilang apa-apa, gimana? Kamu ngomongin aneh tentang pacarku, kan?"
"Apa? Kalau iya kamu mau apa?"
"Kau--! Kau ingin bertengkar denganku. Sini, ayo maju."
Chouji dan Kiba sudah berdiri, mereka sudah mulai bersiap untuk bergulat.
Tapi Naruto mengehentikan Chouji dan Kiba, ia memukul belakang kepala mereka.
Naruto juga mengancam akan mengusir keduanya jika masih saja tetap bertengkar.
Chouji dan Kiba mereka memang begitu. Sebentar bertengkar, sebentar baikan.
Karena tidak ada sesuatu yang menarik, Chouji dan Kiba memilih bermain playstation milik Naruto.
Sedangkan Naruto, ia memilih berbaring sambil membaca manga. Sesekali juga dia akan melempar, memukul, juga menendang Chouji dan Kiba jika keduanya terlalu heboh.
Pukul 5 sore Chouji dan Kiba memutuskan untuk pulang. Tepat saat itu mereka berdua bertemu kakek Naruto yang baru saja kembali dari acara memancingnya di halaman. Kemudian dengan kompak Chouji dan Kiba menyapa juga berpamitan pada kakek Naruto untuk pulang.
Lalu saat kakek masuk ke dalam rumah, ia menemukan Naruto berdiri di depan pintu.
"Kakek. Kakek bener pergi memancing, kan?"
Kakek Naruto berkedip, menatap cucunya dengan pandangan tidak mengerti. "Hah?"
"Kenapa baru pulang sekarang? Kakek nggak bener-benar pergi ke alam baka, kan?"
Tepat saat itu Naruto mendapat lemparan sandal dari kakeknya.
Karena ikut bimbingan belajar sepulang sekolah, Naruto jadi sedikit lelah.
Matanya juga sering sakit, karena sebelum tidur ia sering meriview pelajarannya. Kadang-kadang sampai ketiduran di meja, lalu paginya mengeluh kalau punggungnya sakit pada kakeknya.
"Jangan terlalu memaksakan diri. Istirahat yang cukup. Kalau sampai sakit, siapa coba yang repot nanti?" Kata Kakek, sambil mengusap punggung Naruto.
"Kalau nggak begini, mana bisa Naru masuk ke Konoha." Balas Naruto.
"Kenapa berambisi sekali masuk ke sana? Nggak ada jaminan juga kamu bisa lolos. Bukankah semua universitas endingnya juga akan sama saja."
"Enggak akan sama kakek. Setidaknya kalau bukan Universitas Tokyo, harus bisa masuk ke Konoha."
"Kenapa?"
"Kalau dari SMA yang sama, biaya masuk Universitas bisa dapat potogan setengah harga."
"Kayaknya bukan itu deh maksudnya."
"Pokoknya, Naruto ingin masuk ke sana."
"Terserah. Asal kamu bisa jaga kesehatan. Mau masuk kemanapun asal kamu betah, kakek juga senang lihat nya."
Naruto mengambil tas ransel di sofa, dia berdiri dan memeluk kakeknya sebentar sebelum berangkat. "Aku berangkat sekolah dulu. Kalau terlalu lama, nanti terlambat."
"Ya. Hati-hati. Pulangnya langsung ke tempat bimbingan belajar, kan?" Kakek Naruto mengantar Naruto, ke depan pintu.
"Iya."
"Pulangnya jangan terlalu malam. Nggak usah mampir ke tempat aneh-aneh. Selesai bimbingan langsung pulang. Kalau nggak dapat bus, langsung telpon ke rumah. Biar nanti kakek suruh orang buat jemput kamu."
"Enggak usah minta orang lain. Nanti ngeropotin. Naruto bisa tunggu, terus naik taksi. Aku berangkat!"
Dan Naruto berlari menuju halte bus. Kakeknya menatap punggung cucunya yang mulai menjauh.
"Kalau saja orang tuamu tahu kamu jadi seperti ini, mereka bakal ngapain kamu? Berambisi itu bagus, tapi kalau sampai jadinya cuma menderita, malah akan sia-sia, kan. Kamu itu...sebenarnya mirip siapa?" Desah Kakek, sambil bermonolog sendiri.
"Aku titip anakku padamu. Tolong jaga dia."
"Jagain dia gimana? Terus sampai kapan? Kamu enggak mikir apa? Nanti siapa yang bakalan jaga dia, kalau aku mati?"
"Jangan bicara begitu. Nanti setelah semua proses perceraianku dengan ibu Naruto selesai, aku akan bawa dia kembali."
Entah kenapa ingatan tentang ayah Naruto melintas begitu saja.
"Tapi, sampai anakmu itu sekarang 17 tahun...kamu nggak datang-datang juga. Jangan salahkan aku nanti, kalau Naruto benci padamu. Minato, kau ayah yang menyebalkan."
Bus berjalan mulus di jalan, hari ini penumpang bus sangat penuh. Saat Naruto naik, sama sekali tidak ada tempat duduk. Jadi dia harus berdiri.
Sambil berpegangan pada kursi penumpang, Naruto membuka note kecil berisi rangkuman yang ia buat sendiri.
Tinggal dua halte lagi, sampai di sekolah.
Satu persatu penumpang naik dan turun secara teratur, tapi Naruto tidak terganggu sama sekali. Dia masih mempertahankan posisinya. Sampai satu penumpang naik, auranya sangat tidak bagus. Beberapa penumpang secara naluri menjauhinya. Mereka tidak mau terlibat sesuatu, atau menyulut keributan dengannya.
Pria itu sangat tinggi, dia memakai hoodie berwarna coklat gelap. Wajahnya tidak terlihat karena tertutupi tudung hoodie-nya.
Karena hanya ada celah di samping Naruto, ia memilih berdiri di samping Narutuo yang kelihatan terlalu fokus dengan note miliknya.
Satu halte lagi sampai di sekolah. Tapi, tiba-tiba bus mengerem mendadak. Naruto yang tidak siap, jatuh kedepan langsung dalam dekapan pria asing yang tidak ia sadari sudah berdiri di sebelahnya. Note kecil miliknya jatuh ke lantai bus.
Tapi bukan itu masalahnya sekarang.
Posisi mereka jika saja di lakukan oleh pria dan wanita, maka orang lain akan memakluminya.
Sedangkan apa yang terjadi pada Naruto dan pria asing itu sama sekali bukan pemandangan yang umum. Jika orang lain yang melihat ini, mereka akan salah paham.
Walaupun terbalut hoodie, dari dekat seperti ini Naruto bisa mencium aroma musim semi dari pria asing itu.
Naruto mengangkat kepalanya perlahan-lahan.
Pertama kulit pucat dari lehernya yang mengintip di balik hoodie. Lalu naik sampai di dagu, bibir merah muda, hidung yang mancung, bulu matanya mulai menembus pandangan Naruto.
Dua detik kemudian, Naruto seperti di hempaskan dari langit ke tujuh. Dia membelalakkan matanya.
Naruto langsung membuang wajahnya ke samping.
Kotoran! Itu, Uchiha Sasuke!!
Tapi ada yang aneh, kenapa jantung Naruto berdetak tidak seperti biasanya?
Naruto tidak bisa mengendalikannya, detak jantungnya terlalu cepat.
Lalu...apa yang terjadi?
Aku tidak tahu, ini sangat MENYEBALKAN!!!
...
