:: Bruiser ::
~ChanBaek~
.
.
.
.
Park Chanyeol seketika mulai di kenal setelah mengalahkan Joowon dan teman-temannya, setibanya ia di sekolah ia melihat anak-anak tengah berkumpul, entah anak-anak dari kelas mana yang menjadi fokus Chanyeol adalah si pemuda berparas feminim Byun Baekhyun berada di tengah-tengah kerumunan itu. Chanyeol terbelalak dan mempercepat langkahnya kala seorang siswa mendorong Baekhyun hingga terduduk di lapangan dengan kasar. Oh Chanyeol mengerti, ini adalah upaya balas dendam dari anak-anak kelas Joowon.
"Siapa yang sedang berkelahi?" Tanyanya dingin pada seorang siswa di depannya sembari menyentuh bahu anak itu.
"Byun Baekhyun, dia harus membayar mulut sombongnya." Jawab pemuda itu.
"Oh begitu?" Chanyeol mencengkram bahu anak itu hingga anak itu mulai meringis. "Apa kalian juga menunggu Park Chanyeol untuk membalas pukulannya pada pecundang kelas kalian?"
"A-Akh a-apa yang kau—"
Anak itu menoleh dengan sorot mata yang sangat kesal namun sorot mata itu tak bertahan lama ketika matanya melihat wajah dingin Chanyeol menatapnya. Chanyeol mendorong anak itu hingga terhuyung ke tengah menabrak seorang siswa yang tengah berhadapan dengan Baekhyun, siswa itu hampir saja menginjak perut Baekhyun jika saja anak yang Chanyeol dorong tak menabraknya.
Kim Taedong, siswa itu diketahui adalah teman Joowon yang luput dari tinju Chanyeol karena anak itu tak sekolah kemarin. "Sial, apa yang kau lakukan!?" Teriak Taedong murka.
"P-P-Park Chanyeol!" Pekik anak itu lalu segera berlari ketakutan.
Semua anak kelas Joowon menoleh pada pemilik nama yang akhir-akhir ini menjadi topik para siswa, Chanyeol dengan sengaja meregangkan leher dan bahunya saat anak-anak itu melihat ke arahnya. Anak-anak itu menyingkir dan membiarkan dirinya berhada-hadapan dengan Taedong. "Siapa yang ingin aku membayar?" Tanyanya santai namun terlihat menakutkan bagi anak-anak yang memiliki nyali dimulut saja.
Chanyeol melirik Baekhyun, pemuda itu berbinar seketika melihatnya. Chanyeol berdecih tak suka ketika melihat lebam di sudut bibir Baekhyun, entah itu karena melihat Baekhyun sedikit terluka atau karena anak-anak ini. Nafasnya mulai memberat.
"Oh ini Park Chanyeol itu? Bertubuh besar dan bertampang idiot? Kau hanya beruntung mengalahkan teman-temanku kemarin, mereka semua tidak dalam kondisi baik." Taedong mengabaikan Baekhyun, kini ia fokus pada Chanyeol.
"Ah tentu pecundang memang seperti itu, memanfaatkan keadaan untuk mendapat sorotan." Taedong tersenyum meremehkan.
"Kau tahu siapa pecundang yang sebenarnya? Kau..." Chanyeol merunduk dan menyipitkan matanya untuk membaca tag name di seragam Taedong. "Kim Taedong, coba pikirkan dengan baik bagaimana bisa kau begitu sok jagoannya menyeret Baekhyun ke lapangan dengan anak-anak kelasmu? Ah benar pecundang memang seperti itu, memanfaatkan keadaan untuk mendapatkan sorotan." Chanyeol membalikan situasi, sekarang anak-anak yang lainnya mulai berpikir demikian pada Taedong.
"Kurang ajar kau!"
Taedong tersulut, ia berlari pada Chanyeol dengan tinju yang ia siapkan. Chanyeol menahan tinju Taedong dengan satu tangannya dan saat tangan lain Taedong akan menggantikan tinjunya yang tertahan Chanyeol lagi menahannya, Chanyeol dengan mudah membuat tubuh Taedong terhempas ke bawah dengan menarik kedua tangan Taedong ke sisi kanan hingga tubuh anak itu mengikuti tangannya. Chanyeol masih memegangi kedua tangan Taedong lalu ia menginjak perut Taedong seperti apa yang hendak ia lakukan pada Baekhyun.
"Kau akan melakukan ini pada Baekhyun kan? Kugantikan denganmu." Chanyeol menekan kakinya di perut Taedong dan anak itu mulai mengerang kesakitan.
Puk.
Chanyeol menoleh saat seseorang menyentuh bahunya. "Hei kau, kau cukup bodoh untuk berkelahi di sini." Kata seorang siswa yang baru saja menyentuh bahunya.
Siswa itu pergi setelah mengatakan itu dengan siswa lain berwajah lebih feminim dari Baekhyun, mengikuti siswa dengan tampang acuh itu seperti seekor anjing. Baekhyun beranjak dari berbaringnya di lapangan lalu merapihkan sedikit seragamnya yang kusut dan sedikit kotor, sedari tadi saat Chanyeol memberi pelajaran pada Taedong dirinya tetap pada posisi berbaringnya. "Yup, itu tadi adalah Oh Sehun." Ucapnya tiba-tiba memperkenalkan pemuda tadi.
Baekhyun menendang pinggang Taedong dengan kesal. "Sok jagoan dasar penjilat!" Baekhyun memanfaatkan posisi Taedong, ia terus menendanginya dengan bringas.
"Ayo Park, kita akan menghabisi bocah ini nanti, kita harus ke kelas." Ucap Baekhyun sembari memandang Chanyeol bak jagoan yang menghentikan keributan yang disebabkan oleh dirinya sendiri.
Siapa yang sok jagoan sekarang? Bocah ini menggelikan. Chanyeol melepaskan Taedong, ia melangkah pergi mendahului Baekhyun dan dengan segera pemuda Byun itu menyusul langkah lebar Chanyeol karena tak ingin tertinggal jauh. Baekhyun mengapit lengan Chanyeol sembari mendongak menatap Chanyeol dengan senyum ceria yang menggemaskan itu lagi.
Chanyeol melihat senyum menggemaskan Baekhyun dari sudut matanya. "Jangan tersenyum selebar itu, sudut bibirmu terluka." Chanyeol mengingatkan Baekhyun akan luka di sudut bibirnya.
.
"Hei Chan, Chan, Chan, Chan—"
Chanyeol meletakan bukunya dengan kesal lalu memandang Baekhyun di sampingnya. "Apa?" Sahut Chanyeol pada panggilan si pemuda mungil berwajah feminim yang terus saja menyentuh lengannya dengan jari-jari lentiknya yang sungguh menyebalkan bagi Chanyeol.
"Ada pertarungan besar malam ini, mau pergi tidak?" Tanya Baekhyun diakhiri dengan senyum manis yang entah mengapa membuat Chanyeol menelan ludahnya.
"Kau tahu aku ketinggalan pelajaran begitu lama? Aku harus belajar Byun, bukannya sebentar lagi ada ujian?" Chanyeol kembali pada bukunya.
Chanyeol bukan bocah yang kerjanya hanya berkelahi dan membuat masalah di sekolah, ia tak mengabaikan pelajaran seperti anak badung lainnya, nilai-nilai akademiknya standar jadi untuk mengejar ketertinggalannya ia tak begitu kesulitan. Baekhyun tertawa geli dan Chanyeol mengabaikannya, setelah ini Baekhyun pasti akan membuatnya terpancing. Chanyeol segera berdiri dari kursinya. "Sampah yang kumakan tadi malam mulai bereaksi." Katanya lalu segera melangkah panjang meninggalkan Baekhyun.
Chanyeol bukan hanya ingin menghindari Baekhyun dan kail dari mulutnya, ia sebenarnya memang ingin ke kamar mandi. Setelah membuang cairannya Chanyeol pergi untuk membersihkan tangannya, awalnya Chanyeol hanya fokus pada busa di tangannya, bermain-main dengan busa ditangannya untuk membuat dirinya lama berada di kamar mandi dan mungkin masuk dimenit-menit terakhir, siapa peduli dengan kulit tangannya yang akan mengkerut. Seseorang di sampingnya membuatnya mengabaikan busa-busa itu untuk sejenak.
"Hei ini jagoan bawang kita." Katanya menyapa.
Itu seniornya, senior Kim Woobin. Chanyeol mendengus, gelar itu masih melekat. Chanyeol selesai dengan sabun-sabun di tangan, ia hendak pergi namun seniornya itu menyentuh bahunya dengan tangan basah. Menjijikan. Chanyeol segera menyingkirkan tangan itu. "Raja ingin bertemu denganmu." Kata Woobin tiba-tiba sembari memandang pantulan Chanyeol.
"Maaf, aku tak ada waktu." Tolak Chanyeol.
Chanyeol sangat tahu siapa si 'Raja' ini, mereka menyebut pentolan sekolah yang mana berkuasa penuh di sekolah sebagai raja. Woobin terkekeh sinis lalu mendekatkan wajahnya pada telinga Chanyeol. "Benarkah ini Park Chanyeol si jagoan SMP Ganghan itu?" Woobin menyungingkan senyum yang sama sekali tidak bersahabat. "Bocah SMP yang menghajar Jung Daehyun?" Lanjut Woobin.
Chanyeol segera menjauh dari Woobin. Ya dulu dirinya pernah menghajar siswa SMA namun ia tak tahu siapa anak itu, dan mungkin Jung Daehyun itu yang ia hajar dulu. "Maaf senior mungkin kau salah orang, aku anak bawang mana mungkin menghajar siswa SMA?" Ucap Chanyeol sebelum pergi dari toilet.
Chanyeol tersentak saat dirinya baru saja keluar dari toilet, Baekhyun berlari kearahnya dan sedikit kesulitan untuk berhenti dan ya bocah itu menabraknya. Beruntung Baekhyun memiliki tubuh mungil dan hantaman tubuh mungil Baekhyun tak membuatnya terjatuh, namun si tubuh mungil terjatuh dan mendaratkan bokongnya di lantai. "Yaa! Park!" Baekhyun menatapnya dengan kesal.
Chanyeol terkekeh lalu mengulurkan tangannya untuk Baekhyun. "Ada apa denganmu Byun? Kau dikejar anak-anak itu lagi?" Tanya Chanyeol jenaka.
Baekhyun mendengus. "Ya kau tahu mereka sudah kapok." Baekhyun menarik tangan Chanyeol untuk membuat tubuhnya beranjak dari duduk di depan toilet.
Bertepatan setelah Baekhyun berdiri Woobin keluar dari toilet, menyapa Baekhyun yang memang sudah akrab dengannya. "Hei Baekhyun, jangan lupakan malam ini." Baekhyun tersenyum ceria sembari mengangguk menjawabnya.
"Sampai jumpa senior!" Baekhyun melambai pada Woobin saat senior mereka itu berlalu pergi.
"Jika ada taruhan besar mereka pasti mengajakku." Ucap Baekhyun tiba-tiba.
Chanyeol mengernyit. "Mereka?" Tanya Chanyeol.
Baekhyun menoleh dan menatap Chanyeol. "Senior Woobin peringkat lima di dalam barisan pengawal kerajaan, bukan hanya itu dia juga dibagian seleksi." Jelas Baekhyun.
Chanyeol mengerti, itu menjelaskan kenapa senior itu tahu dirinya mantan pentolan SMP Ganghan. Dikalangan para petarung sekolahan mereka harus tahu pentolan-pentolan di seluruh sekolah yang mana akan berpengaruh besar di dunia anak-anak badung seperti ini, Chanyeol menyadari memang dirinya berpengaruh, dulu. Alasan Chanyeol ingin berhenti bukan hanya karena hidupnya sudah hancur namun juga karena dirinya sudah lelah dikejar orang-orang semacam Woobin untuk bertarung dan bertarung.
.
.
.
Baekhyun tak masuk sekolah saat hari senin, keterangan yang diberikan pada pihak sekolah mengatakan Baekhyun sakit lengkap dengan surat dokter. Ya siapa yang tak percaya jika surat dokter menyertai? Namun hanya pihak sekolah yang percaya tidak dengan Chanyeol dan murid lainnya. Fakta baru yang Chanyeol ketahui tentang Baekhyun dari mulut tak berguna salah satu pecundang sekolah yang sialnya kali ini berguna untuknya. Baekhyun anggota kerajaan, Baekhyun dikenal sebagai si ahli judi. Mengejutkan.
Chanyeol bisa membayangkan apa yang terjadi jika Baekhyun kalah berjudi, penghasilan kelompok anak-anak badung yang tak bisa dianggap remeh ini adalah berjudi dan memungut uang keamana pada siswa lainnya. Baekhyun cukup berperan penting jadi jika perjudiannya kalah tamatlah riwayatnya. Chanyeol biasanya tak khawatir dengan nasib-nasib si pengikut raja, wajah feminim yang tengah tersenyum menggemaskan itu menghantui pikirannya, itu tentu mengganggunya.
Chanyeol merasa hampa, entah mengapa ia merindukan perbuatan onar Baekhyun yang selalu saja menyeretnya. Apa Baekhyun baik-baik saja? Pemuda itu tidak matikan? Chanyeol sangat khawatir, Baekhyun sudah melewatkan sekolahnya hampir satu minggu! Chanyeol berjalan melintasi koridor sekolah tanpa melirik siapapun, pandangannya lurus fokus pada tujuannya. Gerbang sekolah.
Sudah waktunya pulang namun seharusnya Chanyeol tetap di sekolah untuk kegiatan klub, karena semua siswa diwajibkan memiliki minimal satu klub Chanyeol mau tidak mau memilih tambahan waktu berada disekolah setiap hari senin hingga kamis. Chanyeol memilih klub buku, entah mengapa ia memilih itu mungkin karena menurutnya tidak terlalu penting untuk sekolah jadi ia bolospun tak masalah.
Chanyeol berhenti ketika melihat orang aneh melambai ke arahnya lalu bersembunyi ketika siswa lain keluar melalui gerbang, orang aneh itu mengenakan jaket berwarna merah muda dengan tudung yang menutupi seluruh wajahnya, Chanyeol melihat dua mata dijaket itu yang ia yakini dari sanalah orang itu dapat melihat.
Chanyeol akan menghindari orang kurang kerjaan itu dengan akan mengambil jalan ke samping kanan dan menghiraukannya, namun orang itu segera berlari dan menariknya. "Kau mau cari masalah?" Ucap Chanyeol dingin dan mengancam.
"Sst sst! Jangan banyak bicara cepat berikan nomor ponselmu karena aku begitu kesulitan untuk menghubungimu!" Cicit orang itu sembari berjinjit untuk menarik kerah seragam Chanyeol.
Chanyeol mencengkram lengan lemah orang konyol itu, satu remasan saja lengan itu bisa patah. "A-aah kau mau menyakitiku?!" Ringis orang itu. Orang itu berusaha melepaskan cengkraman Chanyeol namun sia-sia, cengkraman Chanyeol terkenal dapat mematahkan lengan siapapun.
"Ya-yak! Park ini menyakitkan!"
Manik mata Chanyeol melebar seketika lalu ia segera melepaskan lengan lemah itu, ia mengenal pekikan dan panggilan sarkas itu. Dengan gerakan cepatnya ia berhasil menurunkan zipper di bagian tudung jaket konyol itu, ia dapat melihat mata sipit imut itu membola lucu karena terkejut.
"Baekhyun..."
Ada rasa lega ketika mata tajam bulatnya menatap wajah feminim manis yang terlihatan baik-baik saja tanpa goresan sedikitpun, ingin rasanya memeluk tubuh mungil itu namun ada sedikit celah di otaknya yang masih berpikir mengapa ia harus memeluk si Byun ini? Ia tidak merindukannya ia hanya sedikit khawatir. Hingga tak terasa kedua tangan lebar Chanyeol menyentuh pundak sempit itu lalu meremasnya karena menimbang-nimbang apa ia harus memeluknya atau tidak, rasanya ingin memeluk Baekhyun namun egonya tetap bertahan.
"Park, jika kau ingin memelukku lakukan saja tapi tolong jangan di sini, aku buronan." Suara manis itu mengecil kala mengucapkan kata terakhir.
Tunggu, Buronan? Bibir tebalnya hendak bersuara namun tangan kecil Baekhyun menggenggam batang kekar lengannya, menariknya terburu kesuatu tempat. Ah gang dekat sekolah, gang biasa orang-orang membuang sampah, tidak ada yang datang ke sini karena bau busuk dari kantung-kantung sampah.
Baekhyun menabrakan wajah manisnya pada dada keras Chanyeol, memeluk pinggang Chanyeol begitu erat. Chanyeol terbelalak terkejut, lengan-lengan kekar yang terbiasa memukul orang hingga hampir tewas itu menjadi kaku dengan posisi hendak membalas pelukan manis Baekhyun. Lagi egonya yang menahannya untuk membalas pelukan Baekhyun.
"Luar biasa kau orang yang tahan dengan bau sampah." Chanyeol berbicara untuk menghentikan perdebatan hati dan egonya. Lengan kekar itu kini sudah turun, hatinya merasa teramat menyesal.
Baekhyun mendongak dengan senyum dan wajah ceria yang manis. "Bukankah itu kau?" Tanya Baekhyun lalu kembali menempelkan wajahnya pada dada bidang Chanyeol.
"Bau tubuhmu tidak buruk untuk mengganti oksigen di sini." Ucap Baekhyun teredam namun masih dapat Chanyeol dengar dengan jelas.
Kedatangan misterius Baekhyun sebenarnya terlalu sangat konyol menurut Chanyeol, Baekhyun dengan pakaian mencolok itu hanya datang untuk meminta nomor ponselnya lalu kembali lagi ke rumah untuk menghubunginya. Baekhyun menjelaskan bahwa ia ingin menerornya lewat telpon dan pesan text, jadi itu mengapa Baekhyun meminta nomor Chanyeol dengan pakaian dan suara yang konyol untuk mengelabui Chanyeol. Namun Chanyeol bagaimanapun tak akan memberikan nomor ponselnya pada sembarang orang, jika saja suara asli Baekhyun tak keluar mungkin saja pemuda itu tengah di rumah sakit sekarang.
Setelah insiden konyol itu mereka berdua berakhir dengan jalan-jalan sore, Baekhyun tetap memakai pakaian konyol itu namun hanya memasang tudungnya saja tanpa menarik zippernya. Baekhyun bercerita tentang bagaimana ia bisa menjadi buronan dan dugaan Chanyeol benar, itu karena Baekhyun kalah bertaruh. Jika yang Baekhyun taruhkan uangnya sendiri mungkin tak akan sampai seperti ini, namun uang yang Baekhyun taruhkan adalah uang kelompok dan uang itu dalam jumlah yang tak main-main karena Baekhyun bertaruh di tempat judi nyawa terbesar di negara ini.
Yeah nyawa Baekhyun terancam dan Baekhyun meminta pertolongan Chanyeol, tak ada siapapun yang bisa menolongnya kecuali Chanyeol.
.
.
To be continue...
.
.
[]
Hallo! Saya bawa chap lanjutannya dan selamat menunaikan ibadah puasa bagi umat islam! :D
Ah... ada yang tau komik dokgo? Ya saya ambil sedikit latar belakangnya, hanya sedikit dan cerita difanfiks ini seluruhnya berbeda dari cerita komik dokgo. Tapi entah dikomik lain, saya tidak plagiat atau apapun ini murni dari khayalan saya yang pasaran ini hehehe. So, jangan lupa review ya supaya saya semangat dan cepat update! :D
