Sumimasen, Icky datang lagi! ^^

Maaf soal part 1 yang gak memuaskan. Icky Nampak tak niat ya, menulisnya?

Well, namun Icky tetap melanjutkannya. Kalau diperbolahkan sih Icky mau mengedit part 1 itu = =a

Yah, ya sudahlah, silahkan menikmati part 2-nya~~~~ semoga yang ini memuaskan ^^"

ENJOY IT! ^^

*Rated: T

*Genre: Romance/Hurt/Comfort

*warning: AU, OOC ness, Sho-Ai (BL), maybe Mr and Miss Typo, AR, de el el...

DON'T LIKE, DON'T READ!


Dalam gelapnya malam ku terdiam sendiri, terbaring tanpa buaian hangat sang selimut. Kutatap kilauan cahaya emas yang menembus kaca, memancarkan seluruh keagungannya merajai malam. Ku taruh semua harapan dalam semunya, berharap kan menjadi kenyataan.

'hei, bulan yang bersinar terang… dapatkah kau mengabulkan permintaanku?...

Harapanku, seluruh impianku?'

Ku angkat lengan kecoklatanku, mencoba menggapai dirinya yang terpampang jelas di langit malam. Mustahil. Ku pejamkan kedua belah mataku, menyembunyikan sepasang orb blue sky di dalamnya.

Semilir angina menemaniku, membelai lembut wajahku. Membawa helaian rambut emasku berdansa bersama dalam kesunyian, kesendirian.

'hei, bolehkah jikalau diriku… pergi?

Dan menjemput pelukan hangat dari mereka di surga? Nampaknya… aku akan…'


Last Melody

A Naruto's Fanfiction

By: Navi Blue © 2011

NARUTO © Masashi Kishimoto


Part: II


#

Suara-suara lembut nun merdu memenuhi setiap sudut ruangan bercat putih ini. Melodi indah terus dilantunkan, memancarkan aura keseriusan yang pekat namun tertutupi dengan lembutnya melodi yang dimainkan.

Seorang pria berparas tampan tengah menghayati setiap nada-nada yang ia mainkan. Sebuah biola coklat tersemat di pundak tegapnya, mengapitnya dengan lembut. Digeseknya bownya diatas senar-senar biola perlahan, memainkan permainan musik yang rumit namun glamour.

Nampak dipaksakannya sedikit bownya saat memainkan nada-nada mayor. Tak dipungkiri memang, nampaknya pria ini memiliki kepribadian yang tegas dan lugas.

"Che, mendokusei," Umpatnya kala merasa pundaknya mulai pegal. Diturunkannya biola coklat klasik itu dari pangkuannya, meletakannya beserta bownya di atas meja tak jauh darinya.

Diistirahatkan dirinya duduk di sofa terdekat. Melonggarkan dasi hitamnya agar merasa lebih nyaman.

"Sudah selesai, Shikamaru?" Seru sebuah suara. Tak perlu bersusah payah pria ini memalingkan wajahnya, toh ia kenal betul siapa pemilik suara baritone itu.

Dihembuskannya nafas berat. "Ya," Jawabnya singkat, padat dan jelas, mewakili dirinya yang mempunyai motto 'mendokusei'.

"Tumben kau kemari, ada masalah apa, Sasuke?" Tanyanya tanpa menatap sesosok malaikat tampan yang tengah berdiri dengan angkuhnya di ambang pintu dan terus saja memandang arakan awan putih dari jendela kaca di hadapannya—tampak begitu menarik perhatiannya.

Tanpa permisi dan persetujuan dari sang tuan rumah, pria yang sedari tadi berdiri mematung itu melangkah masuk. Tak apa 'kan? Toh pemuda berambut nanas-mendokusei itu tak akan mengomel.

Shikamaru menggerakan tangannya, menggapai bungkus rokok diatas meja dan memulai ritual hisap-menghisap rokonya. Kebiasaan ini telah ia geluti selama setahun, tepatnya saat sang guru yang dihormatinya telah berpulang pada Yang Maha Kuasa. Bukan tanpa alasan memang, dengan menghisap rokok ia dapat merasakan kehadiran sang guru tercinta—yang selalu menjaga dan mengawasinya, mengingat beliau adalah seorang perokok berat.

"Bagaimana keadaan Kurenai-sensei?" Tanya Sasuke sekedar berbasa basi sembari mendudukan dirinya di sofa. Kaget juga dirinya, entah mengapa akhir-akhir ini ia menjadi out of character.

"Yah, seperti yang kau ketahui," Jawabnya santai sambil terus menghisap batang rokoknya. Yuuhi Kurenai adalah istri almarhum Sarutobi Azuma—guru Shikamaru. Setelah kematian Azuma, Shikamarulah yang menjaga Kurenai—dengan tanda kutip.

"—Lalu… apa yang membuatmu datang kemari, Sasuke?" Tanya Shikamaru serius. Jangan salah, ia hanya sekedar ingin mempersingkat waktu. Ia memang malas mengurusi hal-hal yang dianggapnya menyusahkan. Nampaknya si kepala nanas ini sedang moody.

Sang Uchiha menghela nafas panjang. Ia bangkit dari posisinya dan berjalan mendekati sebuah piano yang bertengger manis ditengah ruangan, meyisakan tatapan heran dari Shikamaru. Namun, nampaknya pria nanas ini mengerti akan maksud Sasuke.

Sasuke mulai memainkan jemarinya di atas tuts piano, mendendangkan nada-nada asing yang baru didengarnya bebrapa hari lalu.

Si jenius Uchiha yang mana memiliki daya tangkap dan ingatan yang luar biasa kuat sehingga dapat melantunkan melodi yang beru pertamakali ia dengar dengan sesempurna mungkin. Dalam sepersekian detik otaknya berputar cepat, mencoba menggali nada apa saja yang sekiranya dimainkan oleh pemuda pirang misterius waktu itu, serta mengingat dan menyesuaikan tempo yang dimainkannya. Inilah salah satu kemampuan dari si jenius Uchiha Sasuke.

Tanpa hambatan berarti, ia terus melantunkan sepenggal melodi lagu misterius itu.

Saat pertama mendengar dentingan piano yang dimainkan oleh Sasuke, Shikamaru Nampak tak tertarik, toh paling-paling ia dapat menebak apa judul atau komposernya. Namun, ini berbeda.

Shikamaru menautkan alis mendengar harmonisasi aneh yang ia dengar. Diperbaikinya posisi duduknya, menautkan jari-jemarinya dan menaruh siku tangannya di atas paha berbalut jalinan benang hitamnya.

Tak Nampak memang dari luar, namun di dalam otaknya yang notabennya memiliki IQ lebih dari 200 itu, ia tengah mencaritahu tentang lagu yang tengah dimankan pemuda raven itu.

'Nampaknya aku pernah mendengarnya di suatu tempa,' Batinnya. Selagi ia tengah memikirkan lebih dari 200 kemungkinan dalam otaknya, Sasuke yang telah menyelesaikan sepenggal lagu misterius itu terdiam mematung, menunggu respon apa yang akan diberikan si nanas padanya.

Tak jua ada respon, sang Uchiha membuka suara. "Bagaimana?" Tanyanya, melirik ke arah pemuda berambut hitam di sudut sofa.

"… itu… apa? Nada-nadanya tak harmonis…" Ujar Shikamaru setengah berbisik.

Sasuke mengangkat bahunya. "Akupun tak tahu, baru sekitar dua haru lalu aku mendengarnya," Ucap Sasuke datar. Mata beriris obsidiannya memandang lekat pada bagian piano yang biasanya berisikan pertituras.

Pikirannya kembali saat ia bertemu si blonde misterius itu. "Hei… Shika, apa kau mengetahui tentang partitur bertinta merah?" Tanya Sasuke yang masih hanyut dalam ingatan flashbacknya.

"Partitur bertinta merah?" Tanya Shikamaru memastikan, dan dibalas oleh anggukan ringan dari Sasuke.

"Entahlah… namun, nampaknya aku pernah mendengar lagu itu…"

~o~oOo~o~

#

Detik demi detik berlalu, kesunyian menghinggapi kedua insane yang sedari tadi hanya diam dan hanyut dalam pikiran masing-masing. Tak lama memang, berkisar antara 10 hingga 15 menit, namun rasanya bagai berabad lamanya. Entah mengapa kedua orang ini bisa tahan dengan keadaan seperti ini.

Lalu Shikamaru mulai meraih biola serta bownya dan bersiap memainkannya. Digesekya bow itu dengan irama yang pas.

Sasuke terhenyak, tatkala mendengar lantunan melodi yang dibawakan Shikamaru. "I-Itu…"

Ternyata Shikamaru tengah memainkan lagu misterius yang tadi dimainkan oleh Sasuke, namun tentu saja dengan penyesuainan bunyi biola. Oh, betapa jeniusnya Nara Shikamaru itu.

~o~oOo~o~

#

Rambulan bersinar terang, menyinari dalam gelanya malam. Deretan lampu menghiasi jalan, memberi pertolongan bagi para pengendara dan pejalan kaki kala menembus gelapnya malam.

Rintik-rintik hujan mulai turun dan membasahi jalan, tak perlu waktu lama, hujan pun mulai deras.

Seorang pemuda raven bermodel rambut pantat ayam (ralat) bermodel rambut belakang yang mencuat melawan gravitasi tengah dengan santainya menyesap secagkir cappuccino di sebuah café.

Pikirannya tengah melayang pada saat ia bertemu dengan Shikamaru di mansion pemuda nanas itu tadi siang.

"I-Itu…"

"Ya, kau benar," Ujar Shikamaru. Lalu mulai mencoba menggesekan bownya lagi. Menerka-nerka nada atau kunci apa yang selanjutnya.

"Ck, mendokusei. Sudahlah… coba nanti kuingat-ingat lagi, nampaknya akupun pernah mendengar lagu itu," Ujar Shikamaru gontai dan langsung duduk di sofa dengan tidak elitnya dan oh, nampaknya ia telah memasuki alam mimpinya.

Sasuke mngendus kala mengingatnya.

"Hhh… dasar, BAKA" Umpatnya ditujukan untuk si nanas-mendokusei itu. Di saat yang sama, Shikamaru bersin dan langsung terbangun dari tidurnya. Tak lama, sebab ia kembali tertidur.

Sasuke mengendus, mencoba menstabilkan emosinya. Toh, ia akan mendapatkan jawaban yang ia cari, yah jikalau Shikamaru terbangun nanti(lho?).

Ia kembali menyesap cappuccino-nya dengan glamour(?). namu, pandangannya seketika teralih kala mendapati sesosok pemuda berambut pirang terlihat di balik kaca jendela café itu.

'Dia…..'

~o~oOo~o~

#

Seorang pemuda blonde a.k.a Naruto tengan menyusuri trotoar dengan lemas. Ia tengah tersesat saat ini, maklum ia baru saja kembali ke Jepang setelah sekian lama menetap di Negeri Paman Sam beberapa hari yang lalu.

Diedarkan pandangannya ke sekeliling. Tak dipedulikan tubuhnya yang basah terguyur hujan yang tengah berlangsung.

Pandangannya langsung ke arah samping kiri, mendapati jalan aspal yang dipenuhi rintikan hujan. Pikirannya langsung melesat jauh pada saat masa-masa kelam menghampirinya.

Saat itu….

Seorang wanita berambut merah darah baru saja keluar dari sebuah mini shop. Di sampingnya seorang anak laki-laki yang berusia kira-kira 6-8 tahun tngah digandengnya.

Wajah ceria terlukis di wajah keduanya. Dengan semangat mereka berdua berjalan bergandengan menembus keramaian kota. Tiba-tiba ada seseorang yang tak sengaja menyenggol wabita berparas malaikat itu—mengingat keadaab yang sangat ramai saat itu. Sehingga mengakibatkan sebuah buku yang yang tengah digenggam wanita itu terhempas ke jalanan aspal.

Dengan panik wanita itu berlari menggapai buku berisikan partituras bercover merah gelap itu, meninggalkan putranya di belakangnya.

Mata bocah lelaki itu membulat tatkala melihat sebuah mobil melaju kencang kearah sang ibunda tercinta.

"Ibu, AWAAAAAAS!" Pekiknya.

BRAAAAAAK. Namun, semua terlambat, sang ibu kini terpental jauh akibat tertabrak mobil itu. Bocah kecil yang polos ini menyaksikan dengan jelas bagaimana nyawa sang ibunda tercintanya terrenggut.

Bocah kecil berambut pirang itu jatuh berlutut. Pandangannya beralih pada sebuah partituras yang tergelatak di dekatnya, itu adalah partitus yang tadi coba diselamatkan ibunya dan terhempas sampai kemari.

Air mata perlahan jatuh dari pelupuk mata kecoklatan itu. Ia tatap sosok ibunya yang terbujur kaku nun jauh darinya.

"I-Ibu…."

'Kebahagiaan, kesedihan, hingga kebecian telah ku korbankan…

Berharap kematian kan segera datang….

Aku ingin…."

Tanpa Naruto sadari lengannya telah terjulur, nampak menggapai sesuatu yang semu. Namun, dalam hitungan detik kesadarannya lenyap.

~o~oOo~o~


To Be Contiued….


Gimana dengan yang ini? Lumayan kah? Icky harap iya = ="

Well, terima kasih buat senpai-senpai dan readers yang mau mereview part 1 yang abal itu…. Jujur Icky merasa bersalah TT^TTv

Tapi semoga part ini bisa menutupinya!

Well, Icky lagi kesusahan coz' lapie-nya aniki lagi rusak, KUSO! Ukkkkh….. So, Icky cumin bisa mengupdate or mempublish fict di akhir minggu doank! Maaf ya (_ _)"

Well, maukah kalian memberi Icky kritik dan saran lagi? Thx b4! And hontou ni arigatou karena suah mau membaca fict Icky ini! Sampai jumpa di part depaaaaaaaaan #plaaaak

See You!

REVIEW PLEASEEEEEEEE!...