DESCLAIMER : BTS and Taekook is belong to God, their parents, and Bighit

This fanfiction is remake beside of korean movies '4th periode mysteri' 2009

Hope u enjoy it

Happy reading


.

Taehyung berjalan santai sambil memasang earphone di kedua telinganya. Hobinya adalah mendengarkan musik, maka dia selalu membawa earphone kesayangannya setiap waktu. Keadaan sekolah sudah sangat sepi, jarang siswa lain terlihat melintas di koridor-koridor. Taehyung sama sekali tidak masalah, toh dia terbiasa pulang dalam keadaan sekolah yang sudah sepi. Langkahnya begitu ringan, sangat menikmati musik berirama lembut di telinganya. Namun langkahnya otomatis terhenti, ketika hazelnya tidak sengaja menagkap punggung seseorang di bawah jendela. Matanya menyipit mencoba memperjelas di kejauhan, rasa-rasanya dia mengenal postur tubuh kurang tinggi itu. Dan benar saja, itu adalah Park Jimin. 'sedang apa dia di situ?' batinnya.

"Ya Jimin-ah! Apa yang kau lakukan di sana?"

Jimin terlonjak, segera ia berbalik dan mendapati Taehyung tengah berlari kecil ke arahnya. Jimin nampak salah tingkah menyambut Taehyung di sampingnya.

"Sialan kau Kim! Kau mengagetkan aku tahu! Cepat sini dan tutup mulutmu!"

Ternyata itu adalah jendela yang mengarah pada ruang kolam renang. Jimin tak hentinya menaruh jari telunjuk ke depan bibir tebalnya, mengisyaratkan Taehyung agar dia segera tutup mulut dan menyimpan suaranya aman di dalam mulut. Jimin tidak ingin kegiatannya tertangkap oleh objek yang sedang bergerak luwes di dalam kolam tersebut. Dia tidak ingin ketahuan.

"Kau ingin seperti Kim Namjoon, huh?" Taehyung berbalik, nampak tidak tertarik.

"Tentu saja tidak, bodoh."

Taehyung mendengus seraya memutar bola mata. "Lalu apa? Mengintip seseorang berenang, begitu?"

"Kau tahu tidak siapa yang sedang berada di dalam kolam itu?" Jimin berjinjit lebih tinggi, nampak berusaha lebih keras agar dapat melihat lebih jelas objek di dalam sana.

Taehyung tidak menjawab, toh dia tidak tahu dan sama sekali tidak ingin tahu. Jimin masih pada posisinya ketika ia lanjut berkata, "pemuda aneh super pendiam yang suka berjalan sambil menunduk di kelasmu, Jeon Jungkook bukan?"

Alisnya tebalnya mengernyit, membuktikan apa yang baru saja Jimin katakan, Taehyung berbalik dan ikut berjinjit seperti Jimin. Netranya langsung mencari satu-satunya objek di dalam ruangan penuh air itu. Dan benar saja, seorang pemuda seumuran dengannya nampak begitu luwes menggerakkan kaki dan tangannya di dalam air. Pemuda itu hanya mengenakan satu potong celana renang super pendek. Sukses memperlihatkan kulit serta bentuk tubuh yang ternyata nampak sangat menarik untuk dilihat. Kulitnya begitu putih dan terlihat halus seperti perempuan, dia tidak memakai penutup kepala sehingga rambutnya yang nampak tebal itu samar menghalangi wajahnya. Dan ketika Jungkook mengangkat wajahnya setelah menyelesaikan putaran pertama, ia menyibak poni yang menghalangi bagian depan wajahnya sehingga dahi mulus itu terlihat. Terdengar hentakan napas selanjutnya, itu adalah milik Taehyung. Tanpa sadar dia menahan napas.

"Aku tahu kualitasnya selama ini, kkk" Jimin terkekeh kecil. Taehyung tidak bergeming, fokusnya masih kepada Jungkook di depan sana. Terlebih ketika sosok itu keluar dari air, tubuhnya seperti menegang tanpa sadar menyaksikan pergerakan bagai slow motion di depannya. Bagaimana Jungkook menumpukan tubuh pada kedua lengannya, bagaimana ketika kedua kakinya akhirnya menapak pada lantai di atas kolam, bagaimana sosok itu berdiri menantang hanya dengan menggunakan celana renang ketat yang total memperlihatkan bentuk tubuhnya, terlebih ketika Jungkook menggerakkan kepalanya mengibas surai pendek itu dari air kolam. Tanpa sadar Taehyung menelan air liurnya paksa.

"Sial, tubuhnya benar-benar indah, benar kan?"

Tanpa di duga sosok yang kedua sejoli perhatikan sejak tadi itu menoleh tiba-tiba. Jimin bergerak cepat langsung merunduk menyembunyikan tubuhnya di bawah jendela. Namun sayang Taehyung tidak sempat melakukan itu, tubuhnya masih terpaku, tidak bisa digerakkan. Ia tertangkap basah oleh onyx yang kini telak menatapnya datar. Mereka bertatapan seperkian sekon. Taehyung tidak juga bersembunyi.

"Ya! Taehyung! menunduk bodoh!" Jimin berbisik.

.

Taehyung pulang ketika langit sudah berubah menjadi lebih gelap. Malam tiba ketika dia berada di dalam bus menuju apartemennya. Setelah tertangkap basah oleh Jungkook, Jimin segera menggeretnya yang masih kaku bagaikan patung itu menjauh dari arena kolam. Jimin mengajaknya mampir sebentar untuk megisi perut di rumah makan pinggir jalan favorit mereka. Jimin bercerita bahwa pada awalnya dia hanya tidak sengaja melihat Jeon Jungkook yang sedang berenang sendirian, lalu ketika esoknya ia kembali ke sana secara sengaja, Jeon Jungkook melakukan hal yang sama. Tidak setiap hari Jimin akan mendapati Jungkook berbasah-basah ria. Hari ini adalah keberuntungan, tetapi Taehyung mengacaukan rutinitasnya. Jimin tidak yakin Jungkook masih mau berenang di sekolah jika tahu bahwa ternyata ada yang memperhatikannya secara diam-diam selama ini. Maka dari itu Jimin meminta ganti rugi kepada Taehyung dengan menyuruhnya untuk membayar semua harga dari makanan yang dia pesan.

Bus melaju di jalanan kota Seoul, Taehyung memandang hamparan gedung yang terpapar sambil mendengarkan musik di telinga. Namun kali ini fikirannya tidak bisa fokus pada musik di telinganya. Melainkan masih tertinggal pada kejadian tadi sore, tepat ketika hazelnya bertemu pandang dengan onyx Jungkook yang besar. Taehyung tidak menyangka Jungkook dapat membuatnya terdiam bagai patung seperti itu. Sontak ia tersadar bahwa dirinya benar-benar menggelikan. Namun ia mengingat ekspresi yang Jungkook tunjukkan saat itu. Tidak ada ekspresi berarti yang Jungkook tunjukkan. Rautnya hanya menatap datar pada Taehyung, seperti dia sama sekali tidak merasa terkejut mendapati Taehyung mengintip kegiatannya dari balik jendela. Bahkan Jungkook segera berbalik dan pergi meninggalkan kolam setelah itu. Taehyung benar-benar merasa malu akan sikapnya tadi sore. Dia menertawakan dirinya sendiri.

.

.

Hingar bingar suara musik memenuhi ruangan. Seorang gadis bernyanyi sambil menggerakkan tubuhnya menikmati alunan musik, suaranya menggema. Terdengar memantul. Beberapa orang di dalam ruangan itu nampak asik menari. Tiga orang duduk di sebuah sofa yang tersedia, dua orang di antaranya adalah perempuan dan sisanya adalah laki-laki berada di tengah.

Kim Namjoon

Ia menerima minuman yang disodorkan gadis di sampingnya. Meminumnya sekali teguk hingga menghasilkan sorakan dari kedua gadis di sebelahnya, perlahan yang dilakukan oleh Namjoon tidak hanya diam. Ia beralih pada gadis di sebelah kanannya, memegang pipinya dan mengelusnya lembut, hal yang selanjutnya terjadi adalah bibirnya yang sudah berpindah di atas bibir gadis itu. Namjoon menciumnya kasar dan terburu-buru.

Suara meleking menghentikan aksinya, yang selanjutnya terdengar adalah semua teman-temannya yang menertawakan gadis yang memegang mic. Satu orang sibuk membawa kamera, merekam kegiatan mereka di dalam ruangan karaoke secara detail. Mengabadikan setiap moment masa muda yang mereka lakukan. Merekam satu persatu wajah dari ujung kaki─menetap lebih lama pada bagian-bagian tertentu─hingga ke ujung kepala.

Namjoon memperhatikan kawannya itu, masih diiringi suara tawa dan nyanyian memenuhi ruangan. Perlahan pengelihatannya memburam, lama-lama kawannya berubah menjadi sosok tinggi berkaca mata yang membawa kamera. Suara jepretan dan cahaya flash tertangkap indra pengelihatannya hingga membuatnya menyipit. Silau imajinatif. Lelaki itu bergerak, mengambil gambar menggunakan kamera yang dipegangnya sehingga menimbulkan cahaya-cahaya lain menyilaukan mata. Wajah lelaki itu buram. Kadang berkacamata lalu sedetik kemudian tidak. Kepalanya pusing, bayangan itu muncul lagi. Kemudian yang selanjutnya terdengar adalah benda jatuh cukup keras. Remote tidak bersalah itu telak menimpa kepala Jackson yang sejak tadi sibuk memegang kamera. Kemudian jeritan gadis-gadis terdengar. Namjoon menggeram kesal.

"Jackson, kau tidak apa? Namjoon! Apa yang kau lakukan?!"

Sosok tinggi itu tidak menggubris teriakan gadis yang sibuk memeriksa Jackson. Giginya bergemeletuk, emosinya membuncah tanpa bisa ditahan ketika bayangan itu lagi-lgi datang.

"Aku akan membunuh anjing-anjing kotor itu!"

Nafasnya terengah. Seringai mendadak muncul dari celah bibirnya. Selanjutnya ia bangkit dan pergi begitu saja tanpa menjawab panggilan teman-temannya.

.

.

Ruang Kepala Sekolah

Seluruh kursi yang ada telah terisi oleh orang-orang berpakaian rapih. Meja di tengah-tengah mereka menjadi saksi ketegangan yang terjadi. Kepala sekolah duduk di depan memimpin rapat bersama para guru.

"Bukankah kita nyaris menyelamatkan Teuin? Yang meninggal beberapa hari lalu, bukankah kita sudah berusaha? Benar begitu?" Sang kepala sekolah membuka suara. Suaranya terdengar serak seperti mengganjal di tenggorokan.

Guru-guru bergeming, tidak ada yang menjawab atau mengeluarkan suara sedikitpun. Seorang guru perempuan mengatupkan kedua tangannya di atas pangkuan. Ia adalah guru yang menyaksikan Teuin jatuh dengan mulut berbusa di dalam kelas.

"Aku meminta dokter untuk menutup mulut." Katanya, "aku mengatakan bahwa Teuin bereaksi terhadap alergi persik."

Masih tidak ada respon dari yang lainnya, sang kepala sekolah merenggangkan dasi dan melanjutkan, "tetapi bagaimana bisa seorang murid meminum minuman beracun di sekolah? Bukankah itu berarti seseorang dendam padanya dan ingin mrmbunuhnya?"

Hening. "Apakah aku salah? Apa aku berlebihan?

"Aku akan menyelidikinya secara diam-diam sehingga tidak akan ada yang curiga." Seorang guru laki-laki yang duduk paling dekat dengan kepala sekolah menjawab.

"Ya tentu saja! Tolong lakukan itu. Dan apakah kalian tahu hari apakah sekarang ini?"

Guru perempuan yang sejak tadi menunduk sembari mengatupkan tangannya gelisah itu mendongak, kemudian ia tersenyum manis begitu bertemu pandang dengan guru laki-laki di depannya. Mereka menebar senyum, sembari mengangguk sopan. Tidak tahu apakah mereka mendengar secara baik apa yang rekan mereka diskusikan.

"Komisaris sekolah akan mengunjungi sekolah! Jika mereka mengetahui kesalah, sekolah ini akan ditutup! Apakah aku salah?"

"Kami akan berusaha semaksimal mungkin agar komisaris tidak mengetahui hal ini."

Sang kepala sekolah menghela napas, meregangkan dasi yang teasa mencekik tenggorokan dan melepas kacamatanya pasrah. "Aku sangat mengandalkan kalian."

.

.

"Rasio r dalam deret geometris adalah.."

Pukul sepuluh lewat lima belas menit. Jam pelajaran sedang berlangsung dengan khidmat di dalam kelas Taehyung. Guru di depan sedang menjelaskan pelajaran matematika. Taehyung sedang sibuk mencatat ketika ia merasakan getaran hebat dari saku celananya. Ponselnya bergetar di saat yang tidak tepat. Taehyung mengambilnya, melihat pesan yang ternyata datang dari nomor tidak dikenal.

'Dasar mesum! Apa kau senang menyelinap di sekitar?'

Taehyung mengernyit membaca pesan tersebut, siapa yang tiba-tiba mengirim pesan mengatainya mesum? Matanya melirik, untuk kemudian mendapati sesorang sedang menunduk terlihat sekali tengah memainkan ponsel dari tempat duduknya. Jeon Jungkook.

'Jungkook?' sent.

'Lalu? Ada yang lain? Aku pasti bukan korban pertama.' received.

'Aku tidak mengintip. Aku hanya melihat pertunjukkan. Dan jujur saja, aku sama sekali tidak menikmatinya!' Sent.

Taehyung baru akan memasukkan ponselnya kembali setelah mengetik balasan dan mengirimkannya sebelum hal ada yang membuatnya begitu terkejut. Sesosok pria menjulang tinggi menatap geram kepadanya. Guru matematikanya mengambil ponsel dari tangannya secara paksa.

"Kau tidak mengintip, kau hanya melihat pertunjukkan, dan kau tidak menikmatinya?" semua mata tertuju pada Taehyung yang kini bergerak gelisah. Sialan, dia membaca pesan yang baru saja ia kirim di depan seluruh teman-temannya. Jungkook pasti sedang tertawa sekarang.

"Ada apa denganmu akhir-akhir ini, huh Kim Taehyung?" jeda sesaat, "ku dengar kemarin kau berkelahi, lalu sekarang kau bermain ponsel di jam pelajaran tengah berlangsung€─" getaran tanda pesan masuk terasa, "─woah, apa ini? Akulah yang terlebih dulu... siapa itu Jimin? Kau melihat itu bersama Jimin?" Taehyung meringis, mengapa Jimin mengiriminya pesan juga, sih? "apa yang sebenarnya kalian lihat? Oh aku sungguh tidak suka ini. Apa kau ingin gigitan bagus? Huh.." Taehyung mengusak wajahnya kasar, nampak sama sekali tidak bisa berkata-kata. "Sungguh menyedihkan."

Dari arah belakang, sepasang mata sipit memperhatikan. Lalu menangkap objek lain yang nampak sibuk sendirian, beralih pada Taehyung yang masih di introgasi. Ah, sepertinya ia tahu dengan siapa Taehyung bertukar pesan saat ini. Ia menyeringai bengis. Jeon Jungkook, dapat kau.

.

Lee ssaem sang guru matematika memasuki ruang guru segera menuju kursinya. Di belakangnya park ssaem bersama tongkat baseballnya yang setia ikut memasuki ruangan. Di samping kursinya, Min ssaem terlihat sibuk memeriksa catatan kesiswaan. Mengetahui kursi di sebelahnya tidak lagi kosong, Min ssaem menutup bukunya untu menyapa.

"Kelasmu baru saja berakhir?"

"Ya." Lee ssaem memasukkan buku kedalam rak, guru Min di sampingnya memperhatikan dengan seksama, tidak sengaja matanya melihat keanehan pada lengan jas yang sedang dikenakan oleh Lee ssaem. Salah satu kancing tidak berada pada tempatnya, nampak sekali dijahit secara asal sehingga posisinya menjadi melenceng dari yang lainnya.

"Aigoo Lee ssaem, anda harus menemukan wanita yang baik dan segera menikah." Ia terkekeh, "apa anda sudah melihat seorang calon, Lee ssaem?"

Yang ditanya tersenyum kecut, sambil berberes dia menjawab, "kenapa? Apa kamu memiliki wanita untuk dikenalkan kepadaku?"

"Aku tahu banyak kenalan mereka. Itulah sebabnya aku dijuluki girl bank Haha.."

"Girl bank.."

Seseorang melirik dua sosok di depannya, tanpa diketahui siapapun, wajahnya menyiratkan ekspresi tidak terbaca.

"Tapi Lee ssaem.."

"Nde?"

"Jika kau ingin berkencan dengan wanita, kau harus menginvestarikan dirimu." Katanya berupa gurauan.

"Investasi?"

"Lihat apa yang kau kenakan, sudah lebih dari sepuluh tahun, kan?" jeda sesaat, "tinggalkanlah gaya lama itu! setiap wanita normal pasti akan lari darimu jika kau tetap mempertahankan stylemu ini."

Guru Lee hanya mengangguk-angguk kecil mendengar saran rekannya, "Min ssaem, apakah anda tahu mengapa siswa memanggil anda MBC?" Min ssaem memiringkan kepala, MBC? "Margarine, butter, dan Cheese. Benar-benar berminyak."

"Berminyak? Siapa yang berani berkata begitu?!" suaranya menjadi sedikit lebih keras, nampak sama sekali tidak terima.

Selanjutnya adalah obrolan yang tidak lagi terdengar. Seorang guru cantik yang sejak tadi memperhatikan tersenyum begitu manis memperhatikan interaksi dua orang guru laki-laki di ruangan tersebut. Namun tak lama kemudian senyumnya berubah menjadi senyum aneh yang canggung. Seperti ia tengah mengingat sesuatu dan menghawatirkannya.

.

.

"Sujin-ah ayo cepat!"

"Ah tunggu sebentar."

Jam istirahat. Semua orang bergegas meninggalkan kelas guna mengisi perut. Dua orang gadis yang baru saja keluar kelas adalah yang terakhir. Menyisakan si ketua kelas bersama murid paling brandal di dalam kelas. Kim Taehyung dan Kim Namjoon.

"Kau benar-benar punya kekuatan yang besar heh Taehyung." Namjoon menggeret kursi mendekati Taehyung yang nampak masih sibuk dengan buku-bukunya. "Dari semua gadis yang ada, kau memilih untuk mengintip siswa aneh itu, huh? Si pucat bergigi kelinci? Si kelinci. Iya kan?"

Taehyung tidak merespon, total mengabaikan Namjoon yang malah semakin gencar mengoceh.

"Jadi apa kau mendapat pemandangan bagus? Dapatkah? Atau tidak dapat? Aku jadi penasaran." Namjoon memegang ponsel, mengotak-atiknya sebentar lalu berkata, "Aku memiliki fotonya, apa kau mau lihat?" Taehyung bergeming, serius mengabaikan Namjoon.

"Perverted punk." Taehyung menoleh cepat.

"Wow kau marah hah? Mau melakukan sesuatu padaku, iya? Kau bisa membunuh seseorang Taehyung." Menghela napas kasar, Taehyung berbalik kembali sibuk dengan buku-buku.

"Lihatlah mata itu, Kau mau membunuhku huh?" Tangannya meraba saku celana, mengabil sebuah benda pipih yang dapat diputar sehingga mengeluarkan sisi tajamnya. Sebuah pisau lipat.

"Lakukanlah! Lakukan jika kau bisa, man!" Pisau lipat menancap di atas meja hingga menimbulkan suara yang cukup keras.

"Keluar."

"Woah, kau pasti sangat menyukai Jeon Jungkook, huh? Kau tahu, aku bahkan sudah mendapatkannya." Suara menjijikan terdengar ketika Namjoon menjilat penuh layar ponselnya. Nampak sama sekali tidak kehabisan akal memancing Taehyung agar termakan umpan.

Tanpa banyak kata Taehyung bangkit berbaik, mengambil pisau itu yang sebelumny menancap dan menggenggamnya erat. Mengambil kerah kemeja Namjoon yang nampak terkesiap mendapati Namjoon, tak lama suara bel berbunyi diiringi suara gadis yang sedikit berteriak memanggil Taehyung. "Taehyung oppa!" matanya membulat sempurna ketika melihat sebuah ponsel berada di tangan gadis itu, terlebih dia adalah salah satu gadis penggemar yang selalu mengganggunya. Sial, dia pasti mendapatkan sesuatu.

Sedetik kemudian gadis itu berlari, mengabaikan tujuan awalnya mengunjungi kelas Taehyung sambil memegang ponselnya erat-erat. Di bawahnya, Namjoon nampak menyeringai puas. Ini bahkan lebih daripada yang ia rencanakan di awal. Habislah kau Taehyung.

"Lakukan."

"Kau tidak layak mendapatkan itu." Ia menghempaskan Namjoon dengan kasar dan berlalu meninggalkan kelas, tidak peduli bahwa bel baru saja berbunyi. Menandakan pelajaran akan kembali dimulai beberapa menit lagi.

.

Waktunya jam pelajaran olah raga setelah waktu istirahat. Murid-murid kelas 3-D bergegas mengganti pakaian mereka dengan seragam olahraga. Taehyung melepas kemejanya cepat-cepat karena dia sedikit terlambat, tidak lagi peduli pada Namjoon yang nampak malah berdiam diri sambil memainkan laptop. Taehyung muak untuk sekedar mengingatkan Namjoon bahwa jadwal mereka adalah berolah raga. Maka ia cepat-cepat berlari ke luar menuju lapangan out door sekolah.

Ketika sampai di lapangan, beberapa anak tengah menggiring kerancang bola. Gadis-gadis baru kembali dari ruang ganti dari memakai seragam olah raga mereka. Terlihat Jeon Jungkook berlari di belakang tidak memiliki rombongan. Dia memang laki-laki, tapi lebih memilih mengganti pakaian di ruang ganti daripada melapisi baju olah raga di balik kemejanya. Taehyung baru menyadari itu sekarang, namun ia mencoba untuk tidak terlalu perduli. Pasalnya ia masih kesal oleh ulah anak itu tadi pagi. Maka Taehyung langsung masuk ke barisan untuk berlari mengitari lapangan. Pemanasan.

Setengah jam berlalu sejak pelajaran olah raga dimulai. Namjoon nampak sama sekali tidak peduli akan nilai pelajaran olah raga yang tidak akan diperolehnya. Ia memasang earphonenya di telinga, menggerak-gerakkan kepala serta tubuhnya menikmati hentakan musik di kepala. Kelas dalam keadaan begitu sepi, hanya Namjoon yang berada di dalam kelas itu. Namun seseorang baru saja masuk dari pintu geser di belakang, ia melangkah sangat perlahan dan hati-hati. Tidak menimbulkan sedikitpun suara. Namjoon tentu sama sekali tidak menyadarinya, ia masih saja mengangguk-anggukan kepalanya sambil memejamkan mata, dia bahkan sama sekali tidak menyadari ketika seseorang itu sudah berada tepat di belakangnya. Terpantul dari layar laptop. Ia masih tidak menyadarinya sampai akhirnya sebuah tangan bersarung tangan putih membekap mulutnya. Matanya terbuka tiba-tiba akibat terlalu terkejut. Tubuhnya memberontak, ia mencoba menggerakkan kepalanya untuk melihat siapa orang yang sedang membekapnya ini. Namun kekuatan orang ini nyatanya lebih besar dari pada dia. Ia tidak mampu menggerakkan kepala atau melepas bekapan dimulutnya, hal itu membuatnya sadar. Bahwa orang ini bukanlah seorang siswa yang seumuran dengannya. Orang ini pastilah jauh lebih tua dan terlatih, ia benar-benar memiliki kekuatan yang besar menahan tubuhnya yang masih memberontak. Namjoon sibuk dengan segala pemikirannya sampai satu tusukan pada perutnya ia terima. Matanya membelalak, kemudian tusukkan yang kedua ia terima kembali, yang ketiga, keempat sampai akhirnya ia tidak lagi menghitung berpa tusukan ia dapatkan dari sosok di belakangnya. Nafasnya tercekat, pandangannya memburam, nyawa sudah sampai ditenggorokkan. Sampai akhirnya satu tusukkan terakhir mengambil telak kesadarannya.

.

Siswa laki-laki sibuk memain bola, bersama Jungkook di dalamnya. Namun ia sama sekali tidak banyak bergerak. Hanya sedikit berlari-lari kecil mengikuti teman yang menjadi kawan setimnya. Hal itu tentu saja sangat mengganggu. Jungkook hanya merepotkan dan mengacaukan permainan.

"Ya Jeon Jungkook. Berhenti mengikutiku dan kejarlah bola itu!" Jungkook hanya menunduk ketika Kim Yugyeom sedikit membentaknya. "Sudahlah, lebih baik kau diganti oleh Bambam. Cepat panggil dia." Jungkook mengangguk kecil dan kemudian sedikit berlari, ia memanggil temannya yang bernama Bambam dan meminta izin kepada Park ssaem untuk ke toilet.

Taehyung sedang mencuci tangan ketika seseorang masuk ke dalam toilet laki-laki. Ia meletakkan ponsel dengan gantungan berbentuk bulat bertulis ROTC 29, yang ternyata adalah sosok guru Kim ssaem, sang guru matematika.

"Mwoya..Apa yang kau lakukan di sini?" suara berat itu terdengar. Ia menyadari Taehyung memperhatikannya sedikit canggung.

"Ah, aku baru saja buang air kecil ssaem" katanya.

"Cepat kembali kelapangan, apa kau tidak tahu hari ini komisaris sedang berkunjung ke skolah hari ini? kembali ke lapangan sekarang."

"Baik, ssaem." Sedikit bersungut Taehyung pergi menuju pintu, namun sebelum ia sampai menggenggam kenopnya suara guru Kim kembali terdengar.

"Kim Taehyung." Ia menoleh dan menjawab, "Nde.." suasana berubah menjadi lebih serius ketika Kim ssaem menatapnya begitu tajam.

"Jika kau lelah dengan sesuatu, tinggalkanlah. Tidak perduli seberapa sulitnya itu.. waktu akan terus berjalan."

"Ah.. nde..." Taehyung mengangguk kecil dengan mulut terbuka, nampak sama sekali tidak mengerti apa yang baru saja guru itu katakan, selanjutnya Taehyung segera pamit dan keluar toilet itu secepatnya. Meninggalkan guru Kim yang menghembuskan nafas pendek memperhatikan kepergiannya.

.

Jungkook tentu saja tidak pergi ke toilet, ia berbohong kepada Park ssaem agar bisa keluar dari mata pelajaran yang paling tidak dia sukai. Kakinya melangkah pelan-pelan entah membawanya kemana. Di samping itu Taehyung justru kembali ke loker dan mengganti seragamnya. Terserah jika terpergok dengan komisaris sekolah atau siapalah itu, sepertinya ia memang sedang tidak dalam mood baik untuk mengikuti pelajaran olah raga. Ia memakai kembali kemeja dan celana seragamnya. Kemudian berniat kembali ke kelas, toh dia tidak akan sendirian di dalam sana. Terakhir yang ia ingat Namjoon masih sibuk dengan laptopnya. Setidaknya jika kemungkinan dia akan dihukum kembali, ia tidak akan dihukum sendirian, pikirnya begitu.

Begitu sampai di depan kelas, Taehyung segera membuka pintu geser kelas mereka. Lalu hal pertama yang dilihat hingga membuat kedua matanya membola sempurna adalah Kim Namjoon. Duduk tegap di atas kursinya sembari memejamkan mata, hal yang membuat jantungnya nyaris copot adalah seragam anak itu yang bersimbah darah. Bahkan beberapa tetes masih jatuh ke atas lantai. Dia juga dapat melihat cipratan darah memenuhi atas meja Namjoon biasa menulis. Jantungnya nyaris copot, nafasnya tercekat. Namun sedetik kemudian dia berusaha bernafas lebih rileks dan tertawa canggung. Hei, ini adalah Kim Namjoon, teman sekelas yang begitu membencinya dan senang sekali membuatnya terperangkap oleh jebakan yang Namjoon buat. Bisa sajakan ini semua hanyalah lelucon. Meskipun dia mencium bau amis pekat di sini, bisa saja Namjoon memang benar-benar niat untuk mengerjainya, kan?"

"He-heol.. kau benar-benar berhasil membuatku terkejut." Dia tidak bisa menyembunyikan suaranya yang bergetar.

Namun Namjoon sama sekali tidak menjawab, jantungnya kembali berdetak kencang. Kakinya melangkah pelan untuk mendekati sosok itu. "Hei, Namjoon-ah.." pelan, pelan dia melangkah sampai akhirnya ia tepat berada di samping Namjoon. Tangannya terulur menyentuh bahu Namjoon yang bebas dari noda, Taehyung masih memanggil. "Ya! Kim Namjoon!" ia masih menyentuh bahu itu berkali-kali sampai membuat tubuh Namjoon sedikit oleng, berbarengan dengan hal itu Taehyung dapat melihat wajah Namjoon yang benar-benar pucat pasi.

Jantungnya nyaris melompat, refleks kakinya melangkah mundur dengan sedikit bergetar. Namjoon nampak benar-benar seperti mayat. Kakinya terus melangkah mundur dengan satu lengan menumpu pada meja di sampingnya. Kemudian nafasnya menjadi tidak beraturan ketika ia melihat sebuah benda berlumuran darah teronggok naas di atas meja. Itu adalah pisau lipat milik Namjoon yang sempat ia pegang tadi! ia mengambil pisau itu dan dapat merasakan cairan yang memenuhinya benar-benar darah. Nafasnya menjadi semakin tidak teratur, tangannya bergetar hebat sambil memperhatikan benda tajam itu. Dan hal selanjutnya yang membuat dirinya nyaris ingin berteriak adalah. Pisau itu benar-benar telah membunuh seorang Kim Namjoon.

'Siapa yang membunuhnya?'

.

.

TBC

A/N : Hi i'm back. Terima kasih yang udah mampir dan baca cerita ini. chapter dua sudah up dan aku harap kalian tidak berhenti untuk membacanya. Jangan lupa tinggalkan vomment kalian. Karena meskipun sedikit, itu sangat-sangat berarti. Terima kasih.