If I said I love you, what should I do?
Kageyama Tobio x Hinata Shoyo
Haikyuu! milik Furudate Haruichi
Cerita milik saya
Summary:
Kalau kukatakan aku sudah terlanjur mencintaimu, apa yang harus kulakukan, hei malaikat pelindungku?
Enjoy!
.
.
Chapter 2 – Beginning
Kageyama menguap disepanjang perjalanan ke sekolah barunya –Karasuno- sambil sesekali menggaruk kepalanya malas. Kejadian tadi pagi masih berbekas dengan jelas diingatannya. Pemuda cebol berambut jingga, malaikat, sayap, semua itu membuat kepalanya pusing. Tapi setelah ia selesai mandi dan bersiap-siap tadi, bocah itu tidak ada dimanapun. Kageyama sempat bingung namun ia senang kalau anak itu akhirnya pergi dan juga ia harap tak perlu muncul dihadapannya lagi. Mungkin kehidupannya yang biasa sudah kembali, jadi ia tak perlu repot berpikir lagi. Cukup pikirkan belajar setelah itu pulang dan belajar lagi. Kembali seperti kehidupan monotonnya yang biasa. Berbicara tentang monoton, ia jadi ingat perkataan bocah cebol tadi. Membantunya berteman, huh? Ia tak butuh hal semacam itu. Ia tak butuh teman karena teman hanya akan meninggalkannya sendiri seperti dulu. Memanfaatkannya menyalahkannya, dan membencinya. Semua persis seperti apa yang ayahnya katakan saat ia masih kecil. Ia menyesal telah tidak percaya pada ayahnya karena ternyata benar apa yang ayahnya katakan, pertemanan hanya akan menghalanginya saja. Tidak ada gunanya sama sekali berteman dengan kumpulan orang bodoh.
"Ahh, menyebalkan." Gumamnya melihat banyak senpai yang mempromosikan klubnya. Ia mengacuhkan semua orang yang menawarkannya untuk masuk klub dan terus saja berjalan tanpa peduli apapun, tapi ia sempat berhenti sejenak pada saat retinanya menangkap tiga orang senpai tengah mempromosikan sebuah klub, voli. Ingin rasanya ia menghampiri ketiga senpai tersebut dan mendaftar sebagai anggota klub mereka, tapi seketika tangan imajinernya menampar pipinya keras-keras. Tidak ada lagi voli, ia sudah bersumpah untuk meninggalkan olahraga tersebut dan fokus pada sekolahnya untuk menjadi pewaris Kageyama Corp. Dan lagi, ia hanya akan membuka traumanya jika kembali bermain voli dan ia benci mengingat masa SMPnya yang suram. Jadi, dengan wajah dingin ia berjalan melewati senpai dari klub voli dan berniat langsung menuju kelasnya. Disepanjang perjalanan, tak sedikit bisik-bisik yang sampai ketelinganya, namun ia berusaha menahan luapan kekesalannya agar tidak menimbulkan masalah. Begitu tiba dikelas, ia membuka pintu kelas dan disambut keheningan sebelum berakhir dengan bisik-bisik yang sama seperti dilapangan tadi. 'Cih! Selalu saja!' Perlahan ia masuk dan berjalan menuju tempat duduknya. Banyak juga orangnya. Padahal ia kira akan sepi karena orang yang sibuk mendaftar klub.
"Hey, lihat itu Kageyama Tobio,'kan? Si Raja Diktator. Yang katanya anak bermasalah dismp Kitagawa Daiichi itu."
"Dia anaknya Kageyama Enji, yang pemilik Kageyama Corp itu,'kan? Tampannya! Pasti dia kaya."
"Katanya dia sombong dan egois, benar-benar menyebalkan! Aku benci orang semacam itu."
"Hey, dia anak nakal dari Kitagawa Daiichi itu,'kan? Lebih baik jangan dekat-dekat dengannya."
'Diam, jangan bicara.'
"Iya, katanya ia membully kakak kelas dan menyuruh anak lain menjadi babunya. Semua takut kepadanya."
'Mereka yang membullyku, aku hanya korban!'
"Dia juga egois. Kudengar dia itu jenius voli dan selalu dibanggakan oleh pelatih mereka, tapi karena dia egois semua anggota klub voli membencinya dan akhirnya ia dikeluarkan."
'Mereka benci padaku karena mereka iri dengan bakatku! Aku tidak salah!'
Kageyama menelungkupkan kepalanya kedalam lipatan tangannya. Ia muak mendengar orang-orang bodoh itu bicara. Padahal mereka tidak tahu apa-apa. Ia benci, benci sekali dengan orang-orang ini! Dia harap ia bisa cepat keluar dari sekolah ini dan melanjutkan studynya keluar negeri seperti apa yang ayahnya harapkan. Pergi jauh ketempat dimana tak ada seorangpun yang mengenalnya. Ah, kedengarannya bagus juga. Baru saja Kageyama mengkhayalkan tentang akan melanjutkan studynya dimana, bel berbunyi dan seorang guru masuk kemudian memulai penjelasan hari pertama mereka.
(SKIP TIME)
Langit yang semula biru cerah berganti menjadi jingga, dan bel pulangpun berbunyi.
"Sekian penjelasan untuk hari ini, kegiatan ajar mengajar akan kita mulai besok. Hari ini kalian boleh pulang."
"Akhirnya.." Kageyama menghela nafas singkat sebelum mengambil tasnya dan berjalan keluar kelas. Di sepanjang perjalanan, semua siswa-siswi menatapnya dengan berbagai macam tatapan. Mulai dari iri, benci, jijik, takut, bahkan muak. Tapi ia hanya mengabaikan mereka dan terus berjalan hingga keluar sekolah. Yang ada dipikirannya saat ini adalah pulang, berendam air hangat, makan malam, belajar, lalu tidur. Ah, memikirkannya saja sedah membuat Kageyama jadi ingin cepat-cepat sampai rumah.
Tanpa terasa, ia sudah sampai didepan apartemennya. Ia kembali berjalan masuk dan menuju lantai dimana kamar apartemennya berada. Ia masuk kedalam lift lalu berniat menekan angka 19 andai saja sebuah suara tak menghentikan kegiatannya.
"Kageyama-kun, tunggu aku!" Futakuchi berlari tergesa memasuki lift dan melanjutkan setelah ia masuk, "Oke, ayo tekan tombolnya."
Hening menguasai selama sekitar dua menit hingga Futakuchi yang notabenenya berisik menjadi jengah dan akhirnya mengalah untuk memulai percakapan.
"Kageyama, kau sudah pulang? Tidak ada kegiatan klub apapun yang kau ikuti?"tanyanya. Kageyama menoleh.
"Futakuchi-san sendiri? Kenapa sudah pulang? Tidak latihan voli?" tanya Kageyama balik dengan wajah cemberut. Futakuchi hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Kageyama.
"Dasar! Kalau orang bertanya itu harusnya dijawab bukan ditanya balik!" omelnya, "Dan ekspresimu tolong jangan cemberut seperti madesu begitu! Orang bisa salah paham mengira kau sedang marah dan akhirnya takut padamu!"
Futakuchi, dimananya orang yang memasang raut cemberut malah dikatai mirip madesu apalagi orang sedang marah? Yang ada kesal bukan?
Kageyama dengan senang hati memberi pelototan gratis dari matanya yang tajam. Futakuchi hanya nyengir tidak jelas.
"Tapi,'kan wajahku sudah begini dari lahir! Apa boleh buat,'kan?!" balas Kageyama kesal, "Lagi pula Futakuchi-san saja tidak takut, kenapa orang lain takut? Bodoh ya?"
Rasanya Futakuchi ingin menampar wajah tampan itu saat ini juga.
"Kau yang bodoh! Tentu saja aku tidak takut! Aku,'kan kakak sepupumu yang sudah sedari kecil selalu menemanimu!" Futakuchi mencubit kedua pipi Kagyama gemas. Sepupunya ini polos apa bodoh sih? Ah, mungkin bodoh lebih cocok.
"Futakuchi-san, lepaskan! Sakit!" Kageyama memukul-mukul tangan Futakuchi hingga akhirnya Futakuchi melepaskan cubitannya.
Ting! Lift akhirnya sampai lantai 19 dan Kageyama langsung melesat keluar meninggalkan Futakuchi sendiri didalam, sebisa mungkin mengabaikan segala panggilan yang ditujukan padanya.
"Tobio-chan! Tunggu aku! Aku ikut!"
"Kau punya kaki, Futakuchi-san! Dan jangan panggil aku 'Tobio-chan'!" Kageyama mempercepat langkahnya saat dirasa Futakuchi sudah masuk mode kurang waras alias gila yang sama dengan Oikawa-san, lagi. Ketahuan dengan panggilan yang mendadak berubah sok manis itu. Kageyama memasang muka jijik.
"Kunci, kunci.." gumamnya disepanjang perjalanan menuju kamarnya sambil merogoh kantong celananya. Begitu tiba didepan kamar apartemennya, ia segera membuka pintu dan masuk kedalam. Sepenuhnya mengabaikan Futakuchi yang berderap menuju apartemennya. Futakuchi menggedor pintu apartemennya sebentar sebelum terdengar seruan sarat akan nada manja –sepertinya tertular Oikawa-.
"Tobio-chan! Begitu sikapmu pada kakak sepupumu yang selalu menemanimu sejak kecil ini? Hiks!" akting sebagai kakak sepupu yang tertindas ia mainkan dengan baik. Kageyama mengerutkan keningnya, kesal. 'Sepertinya Futakuchi-san kebanyakan nonton telenovela,' pikirnya.
"Pergi sana! Pacaran saja dengan pacarmu yang entah siapa itu namanya! Jangan menggangguku!" usir Kageyama sadis. Terdengan seruan kesal dari luar kamarnya.
"Huh! Kageyama tidak seru! Awas kau! Kupeluk sampai habis nafas nanti baru tahu rasa!" ancaman itu menjadi kalimat terakhir dari Futakuchi sebelum yang terdengar setelahnya hanyalah suara langkah kaki yang kian menjauh sebelum hilang dalam debuman pintu.
"Kageyama, selamat datang!"
"Hm, aku pulang. Hhh…Sebaiknya Futakuchi-san tidak boleh terlalu dekat dengan Oikawa-san." Kageyama membuka sepatunya sebelum berjalan masuk kedalam kamarnya, "Ah, aku lupa. Mereka,'kan kembar! Pasti karena itu mereka sama-sama kurang waras!" Ia mengganti bajunya dengan kaos putih dan celana hitam selutut sebelum kembali keluar kamar.
"Kageyama! Bagaimana harimu? Apakah menyenangkan?"
"Lumayan. Ah, aku kehabisan susu," Ia menatap datar kulkasnya yang hanya berisi air mineral dan sayur yang hampir layu, "Kurasa setelah ini aku harus belanja."
"Ini, sudah kubelikan!" sekotak susu terulur kearahnya, "Semua kebutuhan sehari-harimu juga sudah kubelikan! Kau senang,'kan?"
"Ah, terima kasih." Kageyama menerima susu tersebut kemudian menuangnya kedalam gelas dan meminumnya hingga tandas, "Susu memang yang terbaik." Gumamnya.
Ia meletakkan gelasnya di bak cuci piring sebelum duduk disofa, berniat menonton televisi. Selang beberapa menit, matanya mendadak terbelalak. Tunggu! Tunggu! Tunggu! Dia,'kan tinggal sendirian, lalu yang tadi itu…siapa? Ia menoleh kesebelahnya dan menemukan seonggok manusia bersurai jingga tengah duduk santai sambil memakan sebungkus potato chip. Lho…?! Dia,'kan..?!
"Kau-! Hinata boke?! Kenapa kau ada disini?! Kukira kau sudah pergi!" Kageyama menuding wajah orang yang ternyata adalah Hinata tersebut dengan raut garang. Hinata yang merasa namanya disebut menoleh dengan raut kesal.
"Kau ini kenapa marah sih!? Kan kau sendiri yang mengijinkanku tinggal! Kau seperti orang bodoh, Kageyama-kun!" urat perempatan langsung muncul disisi dahi Kageyama dan dalam sekejap tangannya sudah meremas kepala si pemilik helai jingga tersebut.
"Akhh! Kageyama! Maaf, maaf, aku menyerah! Kepalaku! Aduduh! Aku bisa botak nanti!"
"Cih, pergi kau!" Kageyama mematikan televisi kemudian beranjak menuju kamar mandi. Hinata setia mengikuti dibelakang hingga sampai didalam kamar mandi.
"Apa yang kau lakukan, boke?! Pergi sana! Aku mau mandi! Mau mendinginkan kepalaku yang sedari tadi panas karena melihatmu!" Kageyama mendorong Hinata namun yang didorong tetap berdiam disamping Kageyama dengan posisi memeluk lengan si surai hitam.
"Aku tidak akan berhenti mengikutimu sampai kau mengijinkanku tinggal!"
"Kubilang lepaskan!"
"Tidak mau! Pokoknya biarkan aku tinggal dulu, baru kulepaskan! Titik! Tidak ada tawar menawar!"
"Boke! Lepaskan aku! Kau benar-benar…!"
"Apa susahnya sih mengatakan 'iya, boleh' saja?! Kageyama-kun keras kepala sekali!"
"Siapa yang keras kepala disini, Hinata boke?!"
"Ahh, aku tidak mau tahu! Tidak akan kulepaskan!"
"Hinata Boke! Baik, baik, lakukan sesukamu! Sekarang keluar! Aku ingin mandi!"
"Yayyy! Kageyama baik sekali! Aku sayang Kageyama!" Hinata berlari keluar layaknya bocah kecil sebelum kembali menyalakan televisi dan melanjutkan acara makan potato chipnya.
"Dasar! Benar-benar seenaknya!"
.
Pukul setengah delapan malam, Kageyama dan Hinata baru saja selesai makan saat kegelapan menguasai apartemen Kageyama –atau sekarang harus kita sebut apartemen mereka?-. Semua lampu mendadak padam tanpa alasan yang jelas. Hinata yang sedang mencuci piring sontak saja kaget dan tanpa sengaja menjatuhkan gelas yang sedang dicucinya.
Prangg!
"Oi, bunyi apa itu?" Kageyama bertanya sambil berjalan perlahan kearah Hinata dengan meraba dinding.
"Maaf, Kageyama. Gelasnya jatuh dan pecah. Aku akan membereskannya sekarang."
"Kau bodoh ya?! Nanti saja mengurus itu, sekarang sedang mati lampu, nanti tanganmu terluka!" Kageyama segera memalingkan wajahnya yang memerah kearah lain. Cih! Aku keceplosan! Pikirnya. Percuma sih, padahal sebenarnya Hinata saja tidak melihat dimana ia berada, "Bukan berarti aku mengkhawatirkan makhluk tidak jelas sepertimu ya! (Hey! Aku ini bukan makhluk tidak jelas!) Aku hanya malas mengobatimu kalau kau terluka nanti." Lanjutnya dengan gaya sok tidak peduli. Tampaknya penyakit tsundere yang Kageyama idap mendadak kumat.
"Tapi kalau terinjak bagaimana? Kan lukanya bisa lebih parah!" balas Hinata keras kepala.
"Pokoknya jangan dibereskan dulu! Kita fokus saja cari alat penerangan untuk sekarang!"
"Huh! Seenaknya saja." Hinata menggembungkan pipinya kesal.
"Aku mendengarmu, boke! Mau kuusir ya?"
"Maaf, Kageyama, aku hanya bercanda. Ayo cari lampunya." Hinata menggeleng. Hanya dengan mengandalkan penerangan dari cahaya bulan yang menelusup masuk dari jendela yang tirainya masih dibiarkan terbuka, Kageyama diikuti Hinata berkeliling rumah mencari lilin atau alat penerangan apapun yang ada.
"Kageyama, kenapa bisa mati lampu begini? Ini apartemen orang kaya,'kan? Tak kusangka fasilitasnya buruk begini! Apa yang sebenarnya terjadi sih?" Hinata yang sudah lelah meraba-raba dan menabrak sesuatu –ia menabrak dinding dua kali, ngomong-ngomong- akhirnya protes.
"Mana kutahu! Diamlah dan bantu saja aku!"
"Iya, iya.." Hinata dengan terpaksa kembali mengekori Kageyama dan berakhir menabrak dinding lagi, "Aduduh…" ia mengelus hidungnya yang mencium dinding dengan mesra.
"Makanya hati-hati, Hinata boke!"
"Aduh, sudah sakit dimarahi pula, Kageyama kejam.." ia masih mengusap hidungnya sebelum sebuah lampu lima watt muncul diatas kepalanya, "Ah! Benar juga! Kenapa aku bisa lupa!"
Srakkk!
"Hah? Cahaya apa itu?" Kageyama yang melihat cahaya menyilaukan muncul dibelakangnya sontak saja berbalik dan menemukan Hinata tengah melebarkan sayapnya. Seketika kening Kageyama berkedut.
"Hinata…" panggilnya. Hinata menoleh dengan kepala yang ditelengkan.
"Ya?" tanyanya polos.
"Kalau kau punya sayap yang terang benderang begitu kenapa tidak kau keluarkan sejak tadi, boke! Kau membuat kita harus berjalan digelap padahal sayapmu terangnya mengalahkan lampuku! Haaah! Aku tidak habis pikir!" Kageyama menggaruk kepalanya kesal. Pusing sekali. Kenapa bisa ia mendapatkan seorang Guardian Angel yang bodoh macam ini?
"Ma-maaf…Aku juga baru ingat kalau aku punya sayap…" cicit Hinata. Kageyama menepuk keningnya. Baru sehari bocah ini didunia manusia dan dia sudah lupa kalau dia punya sayap, bagaimana kalau seminggu, sebulan, atau malah setahun? Bisa-bisa dia lupa kalau dia malaikat yang sedang menjalankan tugas.
"Oke, sudah cukup, jangan bicara lagi. Kau hanya membuatku makin pusing saja." Kageyama memegangi keningnya, "Ayo kita ke dapur dan cepat mencari lilin. Aku mau mengerjakan tugas-tugasku lalu tidur." Lanjutnya. Hinata mengangguk sebelum kembali mengekori Kageyama menuju dapur.
"Hai,' aku mengerti, jadi tolong raut wajahnya dikontrol sedikit. Kau menyeramkan tahu," komentar jujur dari Hinata ternyata berhasil memancing keluar jiwa sadis Kageyama.
"Waaa! Kageyama! Kepalaku! Kepalaku! Aaaaa! Lepaskan! Nanti aku botakkk!"
"Bokeee!" teriak Kageyama sebelum akhirnya ia melepaskan tangannya dari kepala Hinata.
"Aduduh…Kau ini gampang tersinggung ya? Aku,'kan hanya jujur!" Sungut Hinata sambil melangkahkan kakinya setengah menghentak. Kageyama berbalik dengan raut horror dan sukses membungkam Hinata.
"Baik, baik, aku diam. Jadi jangan pelototi aku, oke?"
"Kau ini membuang waktuku saja!" omel Kageyama begitu mereka memasuki dapur.
'Apa? Salah sendiri kok malah menyalahkanku? Bodoh ya?' batin Hinata kesal sambil menatap Kageyama yang sibuk membuka-buka laci dan lemari. Bagaikan bisa membaca pikiran Hinata, Kageyama berbalik dan memelototi Hinata. Yang dipelototi hanya keringat dingin sebelum memutuskan ikut membongkar lemari serta laci.
'Ada ya manusia yang bisa membaca pikiran? Malaikat saja tidak bisa! Seram!' batin Hinata lagi. Lama mereka mencari alat penerangan -apapun itu- namun hasilnya nihil.
"Uhhhhh! Tidak ada apapun disini, Kageyama! Dimana lilinnya?" keluh Hinata. Kageyama mendecakkan lidahnya kesal.
"Ah, mana kutahu!"
"Ini,'kan rumahmu! Masa tidak tahu?!" Hinata masih bersikeras, membuat Kageyama kesal saja.
"Kalau kubilang tidak tahu ya tidak tahu, boke!"
"Lalu kita harus bagaimana?"
"Ya mana kutahu! Tidur saja!" putus Kageyama. Hinata sih mengangguk saja sebelum berniat keluar dari dapur dan menuju kamarnya andai saja teriakkan Kageyama tidak menghentikannya.
"Aaaakkkh!"
"Kageyama! Kau baik-baik saja?!"
"Tugasku! Sialan! Aku lupa! Hinata boke, ayo kekamarku!"
"H-huh? Mau apa? Aku ngantuk, ingin tidur!" protes Hinata tak dipedulikan oleh Kageyama yang malah menyeret Hinata kekamarnya.
"Duduk saja di ranjangku dan hadapkan sayapmu kearah meja belajarku! Pokoknya jangan hilangkan sayapmu sampai aku selesai mengerjakan tugas-tugasku, kau paham, Hinata boke?!"
"A-apa?! Seenaknya saja menjadikanku sebagai pengganti lampu! Kau pikir mengeluarkan sayap ini tidak menggunakan banyak energi, hah?!"
"Banyak omong! Kalau begitu nyalakan lampu! Pilih mana?!"
Mendadak Hinata cengo. Menyalakan lampu katanya? Dia pikir Hinata ini tukang listrik apa! Hinata ini malaikat! Sekali lagi ia tekankan, dia ini malaikat! Bukan tukang listrik! Pipinya ia gembungkan. Kageyama bodoh!
"Hmp! Memangnya kau pikir aku bisa! Aku malaikat, bukan tukang listrik apalagi penyihir! Bodoh!" katanya menyuarakan isi hatinya. Dengan sangat terpaksa ia menuruti keinginan Kageyama dengan menjadi pengganti lampu. Sungguh, rasanya harga diri Hinata sebagai malaikat seakan diinjak habis-habisan oleh Kageyama yang menjadikannya sebagai lampu darurat. 'Dasar otoriter!' batin Hinata.
Lama dia duduk dikasur Kageyama sambil menatap dinding bercatkan biru tua. Bosan! Kapan Kageyama selesai sih?!
"Kageyama, apa masih lama?" tanyanya memecah hening.
"Diam, aku sedang konsentrasi!" dibalas dengan ketus.
"Huh! Menyebalkan! Aku bosan tahu!" sungut Hinata. Kageyama mendecakkan lidahnya sebelum mengeluarkan jurus andalan untuk mendiamkan Hinata, ancaman.
"Diam atau buku ini melayang kekepalamu!" ancamnya. Hinata hanya bisa membalas dengan cibiran.
"Huh! Dasar galak! Kageyama jelek! Menyebalkan!"
Buak!
"Adududuh! Kepalaku!" ringis Hinata. Akhirnya ia memilih diam setelah benar-benar dilempar menggunakan kamus bahasa Inggris setebal lima senti.
Detik berganti menit, dan menit berganti jam. Pukul sebelas tepat Kageyama menutup semua bukunya sebelum merenggangkan tubuhnya yang pegal karena terlalu lama duduk. Tiga jam bukan waktu yang singkat bukan? Ia menatap Hinata yang sedari tadi bungkam sebelum menghela nafas.
"Oi, boke, aku sudah selesai. Kau boleh menghilangkan sayapmu sekarang."
"…"
"Oi, boke."
Syuut! Sayap Hinata mendadak pecah menjadi serpihan cahaya kecil sebelum lenyap. Hanya menyisakan Kageyama dan Hinata yang masih diam ditengah kegelapan kamar Kageyama.
"Oi, Hinata?"
"…" Hinata mendadak limbung kesamping, dimana susunan bantal Kageyama berada, dan tampaklah wajah tenangnya. Mendadak Kageyama kesal.
"Si bodoh ini! Seenaknya saja tidur dikasurku!" omelnya. Tapi nyatanya tak ada makian apalagi pukulan, Kageyama malah mendekati Hinata dan menetap lama wajahnya yang tampak polos tanpa beban. Ia tersenyum.
"Ya sudahlah. Anggap saja karena kau sudah membantuku," baru ia berniat mengelus surai oranye Hinata, tangannya berhenti ditengah-tengah disertai matanya yang membelalak lebar. Gemuruh dari langit mendadak terdengar, menandakan akan terjadi badai dalam waktu dekat. Kageyama mendadak melihat sosok lainlah yang berada diatas kasurnya. Bukan Hinata, tapi sosok lain yang tengah menyeringai sambil menyerukan namanya.
"Ou-sama… Kageyama si ou-sama dari Kitagawa Daiichi… Kageyama…"
"K-kau…"
"Kageyama…"
"T-TIDAKKK! Menjauh dariku!"
"Kageyama… kau yang membuatku begini…"
"Tidakk! Tidak! Aku bukan ou-sama! Jangan mendekatiku! Aku tidak salah! Aku tidak salah!" Kageyama jatuh terduduk saat sosok itu perlahan menghampirinya.
"Kageyama…Kenapa menjauh…?"
"Aku tidak salah! Berhenti mendekatiku!" ia terus beringsut mundur hingga punggungnya menabrak dinding kamar. Badannya bergetar ketakutan, apalagi saat dilihatnya siluet sosok tersebut yang tersenyum di tengah petir yang bercahaya membelah langit.
"Kageyama… Kau memang ou-sama yang sangat egois…"
"T-TIDAAAAKKKK!" ia memegangi kepalanya sambil menunduk dengan badan yang semakin gemetaran.
Greeebbbb!
Matanya terbelalak saat sebuah pelukan melingkupi tubuh gemetarannya. Ia mengangkat kepala dengan pelan sebelum sepasang sayap putih bercahaya memasuki retinanya. Hinata? Ini benar Hinata,'kan?
"Kageyama, kau kenapa?! Aku terbangun setelah mendengar teriakanmu tadi. Aku melihatmu gemetaran, ada apa? Aku juga terus memanggilmu sedari tadi, tapi kau malah semakin terlihat ketakutan dan malah meringkuk dipojok sana! Apa yang terjadi Kageyama? Katakan padaku!" tanya Hinata bertubi-tubi. Kageyama yang masih berada diantara sadar dan tidak sadar hanya celingukan kesana kemari seolah sedang mencari sesuatu.
"Dimana dia?"
"Dia? Dia siapa?"
"Dia!"
"Tidak ada siapapun disini, Kageyama! Hanya ada aku dan kau!"
Kageyama terlihat panik sesaat sebelum ia menghela nafas untuk menenangkan dirinya dan bangkit berdiri. Sesekali ia kembali celingukan kesana kemari, tampak sangat waspada, membuat Hinata bingung.
"Tidak, tidak apa-apa. Aku hanya berhalusinasi karena terlalu lelah." Kageyama kembali menghela nafas sebelum menyeret Hinata keluar kamarnya, "Sudah pukul sebelas lewat dua belas menit, kembali kekamarmu sekarang Hinata, aku mau tidur. Terima kasih atas bantuanmu tadi, selamat malam." Usai berucap demikian, pintu kamar Kageyama tertutup tepat dihadapan wajah Hinata. Menyisakan Hinata yang masih mematung di depan pintu. Ia menghela nafas lelah.
"Dia yang kau maksud itu…orang itu,'kan?" Katanya entah pada siapa, "Aku sudah tahu semuanya Kageyama-kun. Masa lalumu, rahasiamu, dan semua yang hanya kau yang tahu, aku juga tahu. Tapi aku akan menunggu sampai kau sendiri yang menceritakannya padaku, Kageyama-kun. Walaupun entah kapan hal itu terjadi." Hinata tersenyum lembut sebelum melangkah menuju kamarnya dan menghilang dibalik pintu.
.
.
Tbc…
A/N : Hai, ada yang kangen saya? (Gak!) Yaudahlah. Ini dia, saya membawakan chapter dua bagi yang menunggu upnya (itupun kalo ada). Maaf ya, agak telat upnya, abisnya saya sempat sakit dan juga keseksian Nicolas mengalihkan segalanya, hahaha v . Kapan season 2nya ya? Saya penasaran setengah mati! Akh! Saya benci ending gantung! Ok, maaf jadi OOT.
Hayo, siapa itu yang dilihat Kageyama dikegelapan… Ada yang bisa nebak? Saya gak ada ngasih ciri-ciri sih, tapi siapa tahu ada yang bisa nebak (gak berhadiah lho ya, Cuma seru-seru aja, hehe…) Btw ada yang tahu siapa bapaknya Kageyama? Itu saya comot dari anime sebelah karena menurut saya cocok, wkwkwk. Aduh, gak sadar udah banyak bacot aja saya, kalau mengganggu silakan saja lewat a/n ini ya. Ah, hampir lupa, ini dia balasan review chapter kemarin!
Kirelli-san : Terima kasih sudah membaca dan mereview, Kirelli-san! Emang kayak kata Kageyama entah diepisode berapa, wajahnya emang udah kek gitu sejak lahir, wkwkwk. Ini dia chapter 2nya, maaf lama ya, silakan dibaca kalau masih berminat.
Hanazawa Kay-san : Terima kasih sudah membaca dan mereview, Kay-san! Ini KageHina pertama saya. Apakah Kay-san suka? Btw ini sudah up, bila berkenan silakan baca lagi ya^^
Miawdesu-san : Saya kira hanya saya yang berpendapat kalau Hinata cocok jadi malaikat, ternyata Miaw-san juga sependapat dengan saya. Btw rencana awalnya itu Kageyama yang mau saya jadiin malaikatnya, tapi jadinya malah suram ntar makanya gak jadi, hehe. Ini chapter 2nya, maaf kalau kelamaan, saya sibuk *sok kamu nak* Silakan dibaca kalau masih berkenan ya.
Sekian balasan reviewnya. Terima kasih bagi yang sudah membaca (baik yang meninggalkan jejak ataupun sekedar menjadi silent reader), memfavorite, memfollow, dan terlebih sudah menyempatkan diri mereview cerita absurd saya, saya sangat senang sekaligus terharu^^ Karena membaca review para pembaca, saya jadi bersemangat untuk segera menulis lanjutannya. Jadi untuk yang selanjutnya juga, mohon kritik dan sarannya ya, semuanya. Terima kasih^^
