Maaf karena keterlambatan meng-update chapter ke-2 cerita ini..
karena berbagai halangan mulai dari komputerku yang harus di format jadi semua dataku hilang sampai adikku yang harus kuurus karena sakit.

RnR Please~..

-Stitch Pov-

Aku menjelajahi sebentar isi kota itu sampai aku mendengar suara teriakan seorang anak perempuan dari sebuah rumah bertingkat di sisi kota.

"Kenapa kau membakar semua gambar-gambarku? Aku benci padamu, Ven!"

Aku mendekati sebuah jendela di rumah itu. Aku menyelinap masuk tanpa menimbulkan satu suarapun. Aku meletakkan buku sihir di sebuah meja belajar, lalu aku bersikap seperti sebuah mainan.

"Ibu, aku benci padanya! Ven menyebalkan!" sahut seorang anak perempuan berambut blonde.

"Ayo, Ven. Minta maaf padanya"

"Sudah kubilang… bukan aku yang melakukannya, Bu"

"Lalu siapa yang melakukannya jika bukan kau?"

"Aku benci Ibu! Ibu selalu membela Ven!" kata anak itu sambil.. melempar-Ku kea rah seorang anak!

BRUGH

Aku jatuh tepat mengenai kepala anak itu. Ku lirik sedikit kea rah anak perempuan itu. Dia berlari ke dalam kamarnya dan menutup pintu kamar nya dengan keras,

BRAK

["Anak yang sadis.."] pikirku.

-Normal Pov-

Ven meletakkan Stitch ke meja makan lalu ia pergi untuk bermain bersama temannya. Ketika tak ada orang yang memperhatikannya..

Kruyuuk~..

["aku lapar.."] pikir Stitch.

Stitch kemudian melompat kea rah gagang pintu kulkas yang berada tak jauh dari tempatnya. Ia membuka pintu kulkas itu dan melihat berbagai macam makanan. Tanpa pikir panjang Stitch pun memakan hampir semua makanan di sana. Tanpa sadar, pintu kulkas tertutup sendiri sehingga Stitch terkurung di dalam.

At Naminé Bedroom…

"Aku sebal pada ibu! Eh! Lho, buku apa itu?" kata Naminé sambil terkejut melihat sebuah buku terletak di atas meja belajarnya.

"Buku sihir keturunan Gainsborough.." katanya sambil perlahan membuka halaman pertama.

"Untuk mendatangkan kelompok music Orchestra sebutkan 'Halicasogoorcestra..'

Tanpa Naminé sadari sekelompok anggota music Orchestra telah siap memainkan sebuah lagu

"Untuk mengembalikan keadaan sperti semula katakan 'Halicasogomissing!' "

Dalam sekejap mata kelompok music itu hilang.

"Ada-ada saja.. untuk mendatangkan sekelompok monyet katakan 'Halicasogomokore' dasar buku tipuan, Hah?" kata Naminé yang terkejut karena seekor monyet mengambil pensil dari mejanya.

"Monyet beneran! Aku harus mengalihkan perhatiannya! Hum.. Pisang!" dengan cepat Naminé turun ke dapur dan membuka kulkas untuk mengambil pisang.

"Hah?" ucap Naminé sambil terkaget-kaget.

"Ooh.. dingin..." kata Stitch sambil keluar dari kulkas dan memeluk badannya yang dingin.

"Kau.. naga beneran?" tanya Naminé terkejut.

"Iya aku di utus oleh seorang penyihir bernama Aerith Gainsborough, untuk mengubah seseorang menjadi penyihir.."

"Apa? Tapi a.. aku.. Ah! Kita lanjutkan pembicaraan ini nanti. Sekarang, bantu aku!" ujar Naminé sembari membawa Stitch ke kamarnya sambil membawa beberapa buah pisang.

(A/N: Dapet dari mana tuh pisang? Perasaan tadi si Naminé lagi ngobrol sama Stitch..)

Setelah menyelesaikan masalahnya dengan monyet-monyet itu (Sengaja di skip XP) Namine bertanya pada Stitch..

"Jadi yang membawa buku sihir itu.. kau, ya?"

"Ya, aku mencari orang yang dapat menggunakan buku itu, dan ternyata orang itu adalah kau. Apa kau mau jadi penyihir?"

"Aku mau.. Ta.. tapi a-aku kan anak perempuan biasa, mana bisa aku..!"

"Tentu saja bisa, tetapi kau harus mengikuti sebuah test"

"Test?" Stitch mengeluarkan sebuah buku notes beralaskan tatakan kayu coklat.

"Testnya adalah, kau harus menggunakan 99 sihir baik. Kalau kebanyakan kau menggunakan sihir buruk kau bisa menjadi penyihir jahat. Jadi, Test ini menentukan kau untuk menjadi penyihir seperti apa."

["agak sulit sih.. tapi aku mau.. bagaimana sebakinya ya?"] pikir Namine dalam hati.

"Baiklah! Akan ku coba! Kesempatan takkan terulang 2 kali!" kata Namine bersemangat.

["anak yang bersemangat.."] kata Stitch di dalam hati sambil tersenyum.

Saat malam hari..

"Namine, kau sudah selesaikan PR mu?" Tanya Tifa, Ibu Namine dan Ven sebelum Namine pergi tidur.

"Sudah"

"Kau sudah belajar untuk ujian matematika besok?"

"Sudah, bu"

"Kalau begitu, selamat malam. Semoga mimpi indah, sayang.." kata Tifa sambil mengecup pipi Namine.

"Selamat malam bu!"

Saat Ibunya sudah keluar, Namine bangun sambil mengeluh.

"Besok ujian matematika ya? Ah.. aku belum belajar.."

"Oh ya! Tenang saja, dengan bantuan buku mantra itu pasti aku langsung bisa menjawab!" katanya sambil kembali beranjak tidur.

"aku merasakan hari-hariku bakal seru" kata Naminé sambil tersenyum mebayangkannya.

Yang berminat silahkan baca dialog GaJe ini..

Me: Akhirnya Selesai! *nari-nari kayak penari jalanan di trotoar*
Namine: Ya ampun, kenapa aku sama Ven harus kakak beradik sih?
Me: gak tau, aku cuma pingin bikin kalian berdua jadi bersaudara..
Ven: kurang kerjaan banget!
Me: *Death Glare*
Ven: *pingsan seketika*
Stitch: maaf terjadi keributan di sini =.=, Review please..