Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: ooc, alur lambat dan ribet, banyak typo dan kekurangan lainnya.

Fic ini punya Chimi

.

.

.

Debaran jantungnya kian berpacu cepat seiring dengan langkahnya yang menyusuri jalanan aspal. Deretan rumah elit sepanjang jalan tersenyum ramah dengan warnanya yang cerah.

Entah ini ilusi ataupun bukan, yang jelas hati Nagato merasa senang. Kegugupannya memudar kala rasa senang lebih dulu menguatkanya.

Sepanjang ingatanya, bukankah ia tak henti menggembangkan senyum saat ia menerima secarik kertas itu? Yah, kertas yang membimbing langkahnya sampai di sini.

Akal sehatnya memperingatkan bahwa ia bukanlah remaja lagi. Tapi karena gadis itu yang sanggup membuatnya tampak aneh, seperti orang yang tengah kasmaran.

Untuk pertama kalinya sepanjang 25 tahun, ia baru memahaminya 'apa itu jatuh cinta?'. Rasanya menggelitik dan membuatnya salah tingkah.

Zaman sudah berubah. Ia yang polos kini telah menjelma menjadi lelaki sejati. Apakah ini kode untuknya menikah?

Usaha untuk mendapatkan pendamping bukankah tengah ia laksanakan? semoga... semoga gadis itu membalasnya.

Sepertinya ia mulai tidak sabar menemuinya.

Hahaha... ia nampak seperti orang gila. Berlari dengan senyum yang terus terkembang.

Ino Yamanaka, yah hanya dia yang mampu membuatnya hilang kendali atas dirinya.

Orang itu pula yang mengisi setiap mimpi-mimpi indahnya.

Dan membuatnya merajut angan tentang masa depan. Tentang harapan-harapan yang akan menjadi kita.

Angin dingin penghujung musim panas berhembus. Membangunkanya dari lamunanya.

Netranya menangkap rumah bercat ungu. Langkahnya terhenti dan perlahan membaca alamat pada kertas yang ia genggam. Cocok. Ah, rupanya ia telah sampai.

Keningnya mengerut melihat rumah gadis itu terlihat sepi. Kemana dia?

Orang-orang terhenyak kaget kala pintu bercat putih itu berdebam cukup keras begitupun Nagato yang terlonjak menyadari pintu rumah yang di datangi ditutup dengan kasar.

Netranya melirik pria berambut jingga yang baru saja keluar. Di belakangnya, gadis yang ia tunggu lari mengejar pria itu sambil menangis. Ada apa ini?

Oh ya ampun, netra bak riaknya membulat kala memandang Ino memeluk pria itu sambil terus merapalkan 'jangan pergi'. Nagato membeku menyaksikanya. Ia tidak percaya akan apa yang dilihatnya, meskipun ini nyata.

Hati yang tadi sempat berbunga-bunga kini perlahan gugur meninggalkan denyut-denyut yang menyakitkan. Ia menyaksikan bagaimana pria itu membalas pelukan Ino dan berkata 'aku menyayangimu'. Kenapa secepat ini?

Apa perasaan ini tidak boleh berkembang? wajahnya menyendu dan melangkahkan kakinya dengan lesu. Meninggalkan pemandangan yang semakin membuatnya sakit. Mungkin benar kata Hidan, temannya, bahwa ia telah dikutuk menjadi jomblo sejati.