~BREAK UP~

"Kau hanya boleh mencintaiku. Tak siapapun termasuk Ibumu! Tidak boleh!"

Aku mendengarnya. Mendengarnya berkata begitu dengan sangat lirih. Dan itu membuatku semakin ketakutan. "I-ibuku akan datang, dan memanggil polisi! Kau akan masuk penjara!" marahku sambil tetap berusaha berontak.

"… Begitu…?" bisik Kyu seongsaengnim sambil mengeratkan pelukannya –mencegahku semakin berontak. "… Kalau begitu aku tinggal menyingkirkannya."

Aku terbelalak mendengar bisikannya. "M-mwo?! Ani! Ani! Jangan bunuh ibu! Kumohon! Hiks hiks! Aku sayang ibuku! Jangan bunuh ibuku! Kau jahat! Aku benci! Aku benci padamu!" marahku berulang-ulang dengan air mata yang telah sukses membasahi pipiku.

Dia menatapku dengan pandangan… lembut. "… Aku tidak akan membunuhnya jika kau menurut, sayang." Bisiknya tenang lalu menjilat telingaku.

Aku membelalak. Takut, aku takut! Tubuhku gemetaran sementara keringat dingin mulai mengucur dari pelipisku. "T-tidak mau! Lepaskan aku! Aku ingin ibuku! Kau orang jahat! Aku tidak mau! LEPASKAN AKU!"

Dia menatapku lagi. namun kali ini dengan pandangan yang sangat menakutkan. Seakan ingin menelanku hidup-hidup. "… Aku bukan orang jahat, sayang…" bisiknya lirih.

Tubuhku semakin gemetaran. "Hiks… kau jahat… kau orang jahat… kau bukan… hiks… guruku… kau Cuma… orang jahat…!"

"AKU BUKAN ORANG JAHAT!" Kyu seongsaengnim membentakku marah. Dapat kulihat gurat kebencian diwajahnya. Dia benar-benar menakutkan! "AKU ORANG YANG MENCINTAIMU! KAU MILIKKU! TAK ADA ORANG LAIN YANG BOLEH MENYENTUHMU!"

~NO ONE~

Kau milikku.

Milikku.

Milikku. Milikku. Milikku. Milikku. Milikku. Milikku. Milikku. Milikku. Milikku. Milikku. Milikku. Milikku. Milikku. Milikku. Milikku. Milikku. Milikku. Milikku. Milikku. Milikku. Milikku. Milikku.

SELAMANYA KAU MILIKKU!

Walau kau menangis, membentak, mengatakan kau membenciku, tapi aku tahu, kelak kau akan bahagia dan berterima kasih padaku karena membawamu pergi dari tempat ini. Suatu saat kau akan mengakui perasaanmu padaku. Suatu saat nanti… kau akan menerimaku.

"Hiks… kau orang jahat… kau membunuh Wookie… juga paman dan bibi… kau jahat…"

"Aku melakukannya untukmu, sayang… agar tidak ada yang menyakitimu lagi…" kataku sambil mencium telinganya. Dapat kurasakan tubuhnya tersentak, lalu kembali gemetar.

"… Kau menyakitiku…"

Aku menggeram marah mendengar bisikan lirihnya. "Aku tidak pernah memukulmu atau melukaimu! Kenapa kau bilang aku menyakitimu, sayang…?" tanyaku putus asa. Apa yang harus kulakukan agar kau tidak menangis? Walau kuakui wajah ketakutanmu membuatku bergairah.

"Kau… membunuh orang-orang yang kusayangi…!" isakkannya semakin menjadi.

… Apa tadi dia bilang? Orang-orang yang disayangi?! "Kau hanya boleh menyayangiku! Mereka tidak pantas mendapat rasa sayangmu! Mereka hanya akan melukaimu!"

"Tidak! Mereka sangat menyayangiku! Wookie adalah teman mainku sejak kecil! Seongsaeng kejam! Kau tidak pernah mengerti!"

Aku mengerti. Aku mengerti segalanya tentangmu. Bahkan segalanya yang tidak kau ketahui. Aku tahu segalanya. Karena aku mencintaimu. Dirimu. Milikku.

"… Jadi… kau bahagia jika ada mereka…?"

Yesung mengangguk dengan air mata yang masih aktif mengalir.

Aku tersenyum lebar. "… Baiklah. Aku mengerti."

Dan dalam sekali gerakan, aku membekap mulut dan hidungnya dengan sapu tangan yang sudah kububuhi obat bius. Yesung memberontak, namun lama kelamaan gerakannya melemah dan berhenti sama sekali.

Aku mengangkatnya bridal style, lalu mengecup bibirnya yang sedikit terbuka. Tenang saja, sayang. Aku pasti akan mengabulkan permintaanmu. Apapun itu. aku pasti akan mengabulkannya.

… Tapi tolong.

Jangan pernah memintaku untuk melepaskanmu.

Karena aku tidak akan pernah melakukannya.

… Tidak akan pernah.

~DOLL~

Ibu… ayah… Wookie… paman… bibi…? Kalian… dimana…?

"Yesungie…!"

"Jangan!"

"Tolong…!"

"Tolong kami…!"

"CEPAT LARI!"

"… Ibu mencintaimu."

DEG

Aku tersentak kaget. Terbangun dari tidurku. Aku mimpi buruk… tentang ayah, ibu, paman bibi, dan juga Wookie. Aku mimpi mereka-

Hm? Dimana ini…? Ini bukan kamar tidurku…? Kamar ini bernuansa hitam kelam dengan aura negative yang entah kenapa… membuat bulu kudukku berdiri. Kamar ini sangat gelap… aku harus menyalakan lampu.

Aku bergerak perlahan, meraba-raba, dan menemukan sesuatu yang tipis dan panjang. Sepertinya tali lampu duduk. Aku menariknya sekali, dan seketika ruangan itu menjadi lebih terang. Aku memicingkan mataku dan memandang sekeliling.

Manikku terhenti disesosok… manusia…? Apa itu boneka? Aku perlahan turun dari ranjang queen size itu, lalu melangkah ragu kearah sosok itu. semakin aku mendekat, sosok itu semakin terlihat jelas.

Seketika aku terbelalak. "Wookie…?" lirihku tak percaya. Bukankah Wookie sudah... napasku seakan terhenti saat melihat dua sosok 'manusia' lain di samping kanan dan kirinya. "… P-paman…? Bibi…?" tanganku terulur, gemetaran, bermaksud menyentuh Wookie. Kulitnya dingin. Itu yang pertama kupikirkan.

"Wookie… bangun…" aku menepuk pipinya pelan. Namun matanya tak mau terbuka. Aku semakin ketakutan. Aku mengeraskan tepukanku pada pipinya. "Wookie…! Wookie…! Bangun! Bangun!"

Namun tak ada respon.

Aku beralih pada paman dan bibi. Berusaha membangunkan mereka. "P-paman… bangun…! Bibi juga…! Tolong bangun…!"

Tak ada respon dari mereka. Tubuh mereka dingin, wajah mereka pucat, dan… mereka tidak bernapas. Mendadak aku merasa kakiku melemah, sehingga membuatku terjatuh. Tidak… mereka memang sudah mati…! Tapi kenapa tidak ada bekas luka ditubuh mereka…?

Kyuhyun… ini pasti ulahnya. Aku takut… seseorang… tolong aku…

Aku memeluk lututku yang gemetaran. Isakkanku mulai keluar lagi. aku takut… aku tidak mau disini… aku benci disini… aku tidak mau melihat mereka… aku tidak mau melihat mereka yang sudah mati… aku ingin pergi dari sini…

"Ibu… hiks… tolong Sungie…" aku menggeleng. "Ibu…"

Krieet

"Ah, kau sudah bangun, sayang…?"

Tubuhku terpaku. Dapat kurasakan wajahku menegang. Aku menoleh perlahan, dan menemukan wajah seongsaengnimku yang tampak senang. Aku kembali dihinggapi rasa takutku. "J-jangan mendekat…!" kataku sambil perlahan memundurkan diriku sendiri, menjauh darinya.

"Kenapa sayang…? Kau tidak suka bonekanya?" tanya Kyuhyun sambil menunjuk Wookie serta paman dan bibi.

Aku menggeleng dengan air mata yang turun semakin deras dari kedua sarang obsidianku. "Tidak suka! Aku sangat tidak suka! Hiks! Kenapa?! Kenapa kau melakukan ini pada mereka?!"

Kyuhyun diam menatapku. Ia tersenyum, lalu beralih kearah Wookie, paman, dan bibi. "Baiklah jika kau tidak menyukai mereka. Aku akan membakarnya."

Aku terbelalak. "M-mwo?!"

"Kalau kau tidak menyukai mereka, artinya mereka sudah tidak berguna lagi." Kyuhyun menarik tali yang melingkari leher ketiga boneka itu, lalu menyeret mereka pergi.

Aku terbelalak. "T-tidak! Berhenti!" pekikku panik. Pandanganku mengabur ketika melihat Kyuhyun yang menghilang di balik pintu bersama Wookie paman dan bibi. Aku memaksakan diriku berdiri, namun mustahil karena kakiku seakan mati rasa. Akhirnya aku menarik diriku sendiri menuju pintu, dan meraih gagang pintu dengan susah payah. Setelah keluar dari kamar dingin dan pengap itu, aku menoleh kesekeliling.

Dimana Kyuhyun?

Aku menyusuri lorong rumah yang suram dan berdebu itu dengan perasaan tak menentu. Aku terus merangkak secepat yang kubisa, mencari keberadaan Kyuhyun. Hidungku tiba-tiba mencium bau yang mencurigakan. Bau itu berasal dari… halaman…?

Aku lalu merangkak menuju halaman rumah, dan yang kulihat mampu membuat tubuhku menegang.

Dibawah sinar rembulan, nampak tiga tubuh orang yang kusayangi dipenuhi oleh kobaran api merah. Itu… Wookie, paman, dan bibi…! Dapat kulihat tubuh mereka hangus dengan cepat ditelan api yang ganas itu.

"TIDAK! WOOKIE! PAMAN! BIBI!" pekikku histeris. Aku merangkak menuju mereka, bermaksud menyentuh mereka, namun sebuah tangan telah memelukku erat, membuatku tak mampu bergerak lebih jauh. Aku menoleh, dan mendapati Kyuhyunlah yang memelukku. "Lepaskan aku!"

"Tidak!" jawabnya cepat.

"Lepaskan!" pekikku lagi, berusaha berontak. Namun Kyuhyun semakin mempererat pelukannya. "Lepaskan…! Hiks…! Tolong lepaskan…" lirihku putus asa.

Kyuhyun menggeleng. "Aku tidak mau kau terbakar, sayang. Kau terlalu berharga…" bisiknya tepat ditelingaku sehingga membuatku merinding.

"… Kenapa… kau melakukan ini… padaku…?" tanyaku putus asa. "Kenapa aku…?"

Kyuhyun mengelus pipiku. "… Itu karena kau spesial. Kau milikku, Yesungie…" dapat kurasakan deru napasnya mengenai tengkukku. "Kau hanya milikku…"

Aku sudah tidak tahu lagi. Kyuhyun sudah gila. Dan tidak ada yang bisa kulakukan untuk menyadarkannya. Aku ingin berteriak, namun aku sadar. Rumah milik Kyuhyun berada hampir diperbatasan kota, dan tidak ada rumah lain disekelilingnya. Mobil dan motor juga sepertinya jarang lewat.

Walau aku berteriak, memaki, meminta tolong, tidak akan ada yang menolongku.

"Tenang Yesungie… aku sudah menyiapkan boneka yang lebih bagus dari mereka." Kyuhyun menggendongku menjauhi tubuh Wookie dan paman serta bibi yang telah tidak terbentuk lagi. aku mendongak, menatapnya yang tersenyum senang. "Aku baru saja selesai menjahitnya tadi."

Dia lalu membawaku kesebuah ruangan yang hanya memiliki pencahayaan minim. Aku terdiam melihat sosok yang tampak duduk disebuah kursi kayu didepanku. Dia tertunduk, rambut sebahunya tergerai menutupi wajah kosongnya, tubuhnya tampak putih pucat, dan… jahitan dilehernya… juga bekas darah yang belum kering menetes…

Dapat kurasakan ciuman Kyuhyun disuraiku. "Bagaimana, kau suka, sayang?"

… Sosok itu…

… Ibu.

~BROKEN~

Aku memeluknya. Sudah hampir sejam ini, namun tak ada respon darinya. Dia tetap diam, walau aku mengajaknya bicara. Aku tidak suka jika diam terus seperti ini. Apalagi wajah kosongnya yang seakan tidak punya semangat hidup. Boneka ibunya kusimpan dilantai bawah jika suatu-waktu ia ingin melihatnya.

"Sayang… kau mau makan apa malam ini?" tanyaku lembut sambil menghirup bau vanilla dari ceruk lehernya. Tapi dia tetap diam. Tak menjawab. Matanya menatap kosong entah kemana, sementara bibirnya tertutup rapat. Tak berniat bersuara sama sekali.

"Sayang…" panggilku lagi. namun dia masih diam. Aku mulai merasa marah. Kenapa dia mendiamkanku? Apa salahku? Apa dia sengaja ingin membuatku marah? Huh! Akan kubuat dia bicara!

Aku menghempaskan Yesung keranjang dan menindihnya. Bibirku mulai menjamah bibir merahnya, sementara tanganku telah merayap kedalam kaos tshirtnya. Namun wajahnya masih datar walau aku sudah memperlakukannya seperti itu.

Aku semakin memperdalam ciumanku, sementara tanganku mulai memilin nipple Yesung. Tanganku yang lain meraba pahanya yang terbuka karena dia hanya mengenakan celana pendek selutut yang cukup lebar bagian bawahnya. Dapat kurasakan tubuhku semakin bergairah. Tanganku masuk kedalam celananya, dan menemukan junior mungilnya. Segera kukocok junior mungil itu tanpa melepas ciumanku.

Lalu ciumanku turun menuju lehernya. Aku menggigitnya kecil dan menjilatnya seduktif sehingga meninggalkan tanda dileher putihnya. Tanganku semakin aktif mengocok junior mungil yang bahkan tak sampai setengah dari kepalan tanganku.

Nikmat… sangat nikmat… Yesungieku memang sangat menggairahkan… aku dapat merasakan celanaku sangat ketat sekarang. Baru saja aku hendak melepaskan celanaku, namun sebuah suara lirih menghentikan gerakanku.

"Kau menyakitiku."

~HURTS~

"Kau menyakitiku."

Itulah kata yang keluar dari bibirku. Walau sejujurnya tubuhku tak merasakan apa-apa. Namun pikiranku dapat merasakannya. Kembali mengingatnya. Mengingat mereka. Orang yang dia bunuh.

… Ibu… kenapa ini harus terjadi padaku…?

Aku membuang muka perlahan, menatap kearah samping, tak mau dia melihat wajah menyedihkanku. Aku menutup mataku, kembali membayangkan betapa damainya hidupku sebelum jatuh kedalam perangkapnya.

Dapat kurasakan cairan hangat yang turun dari sudut mataku –entah untuk yang keberapa kalinya. Aku sering menangis hari ini.

Aku benci… aku sudah tidak peduli lagi. Perkosa saja aku. Aku tidak perduli. Aku menyerah. Aku sudah tidak sanggup lagi.

… Tolong bunuh aku.

"…" dapat kurasakan tubuh Kyuhyun berpindah dari atasku. Lalu ada sepasang lengan kekar yang memeluk tubuhku dari belakang. Dia… memelukku…? "Mian… maafkan aku…"

… Aku diam. Tidak menjawab. Tidak mau menjawab.

"Maafkan aku…"

"Maafkan aku…" "Maafkan aku…" "Maafkan aku…" "Maafkan aku…" "Maafkan aku…"

Hanya kata-kata itu yang kudengar semalaman. Dan tak lama kemudian, aku jatuh tertidur.

… Aku merindukan… ibu…

~SILENCE~

"Yesungie… Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu."

Aku terus memeluknya. Menciumnya. Membelainya. Apapun untuknya. Aku akan mengabulkan apapun permintaannya. Bahkan aku terus berkata bahwa aku mencintainya. Jawab aku, jawab aku, sayang… ayolah. Kau sangat menyebalkan jika begini. Yang kau lakukan hanyalah berkedip dan bernapas. Sama sekali tidak ada kata yang keluar dari bibirmu.

Aku ingin mendengar suaramu, sayang. Bicaralah.

"…"

Tapi bibir cherry itu terus diam. Tak bergerak, tak mengeluarkan suara apapun. Seakan bibir itu adalah benda mati. Tapi kau hidup. Kau hidup, sayang… jadi berbicaralah, sebagaimana orang hidup bicara!

"Jawab aku, sayang… kenapa kau diam…?" tanyaku lembut. "Kau tidak lapar…? Tadi kusuapi juga tidak mau. Padahal itu ayam goreng kesukaanmu loh."

"…" dia masih diam hingga membuatku frustasi.

"JAWAB AKU!" bentakku marah sambil mencengkram bahunya, memaksanya menghadapku. "KENAPA KAU DIAM SAJA, HAH?! SIALAN! CEPAT JAWAB AKU SEBELUM AKU MEMUKULMU!"

Namun Yesung tampak masa bodo. Dia membuang muka. Tak menggubrisku sama sekali.

Aku menggeram. Berani sekali dia- ah… tunggu. Kurasa aku tahu cara agar membuatnya menjawabku lagi.

"Kim Heechul." Kataku dengan seringai mengerikan diwajahku.

Yesung nampak terbelalak. Ia menoleh kearahku dengan wajah horor.

Seringai diwajahku semakin mengembang. "Dia kakak sepupumu 'kan…?" tanyaku dengan suara rendah. "Kulihat kau sangat dekat dengannya… ah… aku tahu alamat rumahnya… bagaimana kalau aku mengunjunginya besok?" sejujurnya aku tidak tahu alamat rumah Kim Heechul, tapi aku hanya ingin menggertak Yesung.

Yesung semakin membelalak. "J-jangan sentuh kakakku! Kumohon!" air matanya yang sudah hampir seharian ini tak kulihat, kembali jatuh. Aku langsung merasa kesal. Sebegitu pentingnyakah dia bagimu?

Hmph. Yang penting Yesungieku sudah berbicara lagi. Aku kembali memeluknya. "Bagus. Kau sudah bicara lagi. Teruslah berbicara Yesungie… Aku ingin mendengar suaramu." Bisikku. "Ceritakan padaku tentang hari ini, Yesungie… apa kau gembira…?"

Dia terdiam. Dapat kurasakan tubuhnya yang gemetaran. "Kenapa kau gemetar sayang…? Apa ACnya terlalu dingin?" Aku meraih remot AC dan menaikkan suhu agar Yesungieku tersayang tidak kedinginan. Hampir semenit, namun Yesung tetap tak bersuara.

"Lebih baik kau bicara sekarang, sebelum aku mengunjungi sepupu tersayangmu itu."

Dapat kurasakan tubuhnya menegang, dan sayup-sayup aku mendengarnya bersuara. "Hari ini… hari yang… buruk… aku benci… hari ini…"

Aku mendengus. "Aku tidak suka ceritamu. Nyanyikan aku lagu, sayang."

"… Sarang… cham… apeuda… neomu apeuda…"

Aku memejamkan mataku. Mendengar tiap bait nyanyiannya. Merasakan kesakitan ditiap nadanya.

… Dan entah kenapa aku menyukainya.

~HERO~

Ini sudah hari ketigaku sejak tinggal bersama Kyuhyun. Dia tidak memperbolehkanku keluar rumah ketika dia mengajar di sekolah. Jadi disinilah aku, dirumahnya, meringkuk di dalam selimut. Aku ingin kabur, namun aku takut Kyuhyun akan melukai Heechul hyung

Aku tidak punya pilihan lain selain menuruti kemauannya. Aku tidak mau Heechul hyung yang sangat kusayangi mati ditangannya. Tidak. Aku tidak mau. Bahkan meski aku harus mati membusuk disini, Heechul hyung tidak boleh terluka karena Kyuhyun.

"Sudah, jangan menangis lagi Yesungie! Ini kubelikan es krim kesukaanmu! Jangan menangis lagi!"

"Anak lelaki tidak boleh cengeng! Ayo berhenti menangis!"

"Tenang saja! aku akan melindungimu! Tidak akan ada yang macam-macam padamu! Aku janji!"

Aku memejamkan mataku mengingat semua kebaikan Heechul hyung. Hyung yang lebih tua 5 tahun dariku itu sangat menyayangiku. Dia selalu melindungi dan menolongku. Bahkan jika ada anak yang menjahatiku, Heechul hyung tidak akan segan memukul anak itu.

Tidak mungkin aku membiarkan hyung yang sangat kusayangi itu mati.

Aku menghela napas. Aku merindukan kehidupanku yang dulu. Seandainya… Kyuhyun tidak ada didunia ini… hidupku pasti akan bahagia. Sayangnya… inilah kenyataannya. Kyuhyun nyata. Hadir dihidupku. Dan menghancurkan segalanya.

… Aku hanya anak kecil… kenapa dia bisa sekejam itu padaku…? Membunuh orang-orang terdekatku dengan alasan konyol dan egois. Aku marah, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Yah… memangnya apa yang bisa kulakukan?

"Aku akan melindungimu!"

BRAK

Drap

Drap

Drap

Aku tersentak saat mendengar suara pintu depan yang dibuka kasar, juga derap langkah kaki yang tengah berlari. Apa itu Kyuhyun…? Tubuhku kembali gemetaran.

Tidak… tidak…! Tuhan tolong aku…!

BRAK

"YESUNGIE?!"

Aku membelalak saat tahu siapa yang datang. "H-Heebongie hyung…?"

Drap

Drap

Heechul hyung memelukku sangat erat. "Syukurlah… syukurlah kau masih hidup…" bisiknya berulang kali. "Aku sangat mengkhawatirkanmu…"

"A-apa yang hyung lakukan disini…?" tanyaku takut. Aku takut Kyuhyun akan pulang dan melihat kami. Dia pasti akan membunuh Heechul hyung. Aku takut…

"Aku kesini untuk menyelamatkanmu! Ayo pulang!" Heechul hyung menggendongku, dan berbalik berlari keluar kamar, kaki panjangnya menyusuri lorong rumah dengan cepat, namun langkahnya mendadak terhenti.

Aku mendongak, dan terkejut saat melihat siapa yang tengah berdiri dihadapan kami dengan ekspresi menakutkannya.

… Kyuhyun…

Seketika tubuhku gemetar. Kuremas kemeja Heechul hyung dengan penuh ketakutan. "H-hyuung… dia akan membunuhmu… hiks…"

Heechul hyung menatapku sejenak, ia lalu mendengus. "Kau kira aku selemah itu hah? Begini-begini aku jago taekwondo! Tenang saja, kita pasti akan pergi dari sini, Yesungie!"

Aku semakin ketakutan saat menangkap ekspresi penuh kebencian diwajah Kyuhyun. "A-ani hyung… hiks… tolong pergi…! Aku tidak mau dia melukaimu… dia sudah membunuh ibu… dan… hiks… Wookie…"

Heechul hyung mengeratkan pelukannya. "Jangan takut. Kau ingat? Aku pahlawanmu 'kan?" bisiknya ditelingaku. "Aku pasti akan mengalahkannya, dan saat kita pulang nanti aku akan membelikanmu es krim!" Heechul hyung menurunkanku dari gendongannya, lalu memberikanku kunci mobilnya. "Cepat keluar, aku akan menyusulmu! Masuk kedalam mobil dan berjanjilah kau tidak akan keluar sampai aku datang nanti."

Aku menerima kunci itu dengan masih sedikit terisak. "Hyuung… hiks… aku tidak mau pergi… aku ingin bersama denganmu…" tangisku kembali pecah.

Heechul hyung mengacak suraiku lembut tanpa mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun. "Kau harus tahu Yesungie, aku melakukan semua ini untukmu. Kau mau mengecewakanku?"

Aku sontak menggeleng.

Heechul hyung tersenyum. "Bagus. Pergilah. Aku akan menyusulmu. Aku janji."

Aku menyeka air mataku lalu mengangguk yakin. Aku segera melesat pergi lewat pintu belakang setelah sebelumnya menatap sekilas ekspresi Kyuhyun.

… Dia marah. Aku yakin itu.

Heebongie hyung… kau sudah berjanji, bukan…? Aku percaya! Kau akan segera menyusulku!

Aku berlari kehalaman belakang, dan melompati pagar yang tidak terlalu tinggi. Kemudian aku berlari memutar kedepan rumah, dan menemukan sebuah mobil merah menyala dengan motif mawar. Aku yakin mobil itu milik hyungku. Dia memang sedikit aneh.

Aku segera masuk kedalam mobil dan menguncinya. Aku lalu menunggu dengan was-was. Mataku tak pernah lepas dari pintu depan rumah. Belum ada tanda-tanda akan dibuka. Apa Heechul hyung baik-baik saja…? tidak aku harus percaya!

Hampir 2 menit aku menunggu, tapi Heechul hyung belum keluar. Terbersit dalam pikiranku untuk keluar dan mencarinya, namun aku kembali mengingat janjiku pada Heechul hyung untuk menunggu di dalam mobil.

Apa yang harus kulakukan…? Aku khawatir pada Heechul hyung dan-

Tok

Tok

"SAYANG…"

DEG

Aku sontak menoleh keasal suara, dan menemukan Kyuhyun yang telah berlumuran darah tengah mengetuk kaca mobil.

"BUKA PINTUNYA…"

DEG

DEG

DEG

"HEEBONGIE HYUUUNGG!" pekikku takut. Namun Kyuhyun masih mengetuk kaca mobil dengan wajah mengerikannya. Aku takut! Dimana Heechul hyung?! Tidak! Tidak mungkin dia mati! Walau tidak dapat es krim juga tidak apa-apa! Yang penting aku menginginkan Heechul hyungku kembali!

"NAMJA BRENGSEK ITU SUDAH MATI… AYO… BUKA PINTUNYA…"

Monster! Dia monster! Dengan tubuh gemetar aku meraih kunci mobil yang diberikan Heechul hyung padaku, lalu menyalakan mobil.

"SAYANG… CEPAT BUKA PINTUNYA!" sepertinya Kyuhyun bisa membaca gelagatku. Ketukannya dipintu semain keras. Bahkan ada retakan kecil dikaca karena perbuatannya.

Aku sudah tidak peduli lagi. Heechul hyung sudah mati. Kata-kata itu terngiang dibenakku. Dan itu membuat rasa benciku pada Kyuhyun semakin tak terbendung. Aku segera menjalankan mobil dengan susah payah –mengingat tubuh pendekku, dan aku tidak pernah mengendarai mobil sebelumnya.

Aku terus menjalankan mobil dengan kecepatan penuh. Tak memperdulikan teriakan Kyuhyun dibelakangku.

Benci. Aku benci. Aku benci. Dia membunuh Heechul hyung. TIDAK ADA MAAF UNTUKNYA!

~GONE~

Aku menatap mobil yang semakin menjauh itu. Wajahku memucat dan tubuhku gemetar. Bagaimana ini?! Bagaimana kalau Yesungieku mengalami kecelakaan?! Bagaimana jika ada orang jahat yang mengganggunya?! AARGHH! INI GARA-GARA NAMJA KIM ITU!

Aku berlari masuk kedalam rumah, dan menemukan sosok yang sangat kubenci tengah merangkak berusaha keluar dari rumahku. Tubuhnya penuh luka dan darah. Napasnya juga tersengal.

Dia tersenyum mengejek. "Yesungieku sudah pergi, huh…? Baguslah. Kau tidak akan… bisa melukainya lagi…"

"BRENGSEK!" makiku murka.

Dia memejamkan matanya. "Hhh… aku senang… setidaknya Yesungie… bisa lepas darimu…"

Aku menatapnya dengan mata melotot.

BERANINYA DIA…

Perlahan tanganku turun dan mengambil pistol yang tersemat diikat pinggangku.

SEBAIKNYA KAU HATI-HATI DALAM BICARA.

… KARENA MEMBUATKU MARAH, SAMA JUGA DENGAN MENCARI MATI!

DOR

~ERASED~

Aku membuka mataku. Dan yang pertama kuingat adalah wajah Heechul hyung. Air mataku kembali jatuh. Apa yang telah kulakukan…? Jika saja saat itu aku tidak meninggalkan Heechul hyung sendiri, mungkin saja dia masih hidup sekarang…

BRUGH

Aku terbelalak. Rasanya… aku menabrak pohon waktu mengendarai mobil Heechul hyung dan… pingsan… lalu dimana aku sekarang? Aku celingukkan, menemukan sebuah kamar yang cukup luas. Dan tempat tidur yang kutiduri ini sangatlah empuk.

Krieet

"Huh? Sepertinya kau sudah sadar!"

Yesung menoleh keasal suara dan menemukan seorang anak laki-laki yang lebih tinggi darinya. Ia terbelalak saat mengenali siapa anak itu. "S-Siwon sunbae?"

Anak itu mengernyit. "Ah, kau mengenalku? Berapa umurmu?"

"11 tahun…" jawabku. Siwon manggut-manggut.

"Huh, aku menemukanmu didalam mobil aneh. Kau menabrak pohon dan pingsan. Aku bahkan harus menggunakan tongkat besi untuk mengeluarkanmu dari mobil itu." ujarnya. "Kenapa kau mengendarai mobil? Bukannya kau terlalu muda?"

Aku menunduk. "Um… itu…"

"Sudahlah. Jangan dipikirkan." Siwon menggaruk tengkuknya. "Siapa namamu?"

"Kim Yesung…" jawabku sambil mendongak, menatap wajah Siwon yang entah kenapa… terlihat aneh.

"Baiklah, kau mainan baruku mulai sekarang!" aku terbelalak. Apa katanya?! "Kau harus melakukan semua yang kukatakan!"

"K-kenapa aku harus mematuhimu?!" tanyaku heran.

"Jangan cerewet!" ia mendorongku hingga jatuh terlentang diatas tempat tidur. "Pertama, layani aku!"

Aku membelalak. "Tidak mau! Lepaskan aku!"

"Berisik! Kalau kau tidak mau, aku akan memberitahu guru konseling dan Kyuhyun seongsaengnim, kalau kau mengendarai mobil tanpa sim!"

DEG

Tubuhku menegang. "T-tolong jangan beritahu seongsaengnim!" pintaku terbata. Aku tidak mau bertemu dengan Kyuhyun lagi!

Siwon mengernyit, sepertinya dia bingung kenapa aku tiba-tiba ketakutan. "Bagus. Kalau begitu layani aku!" bentaknya sambil menanggalkan celanaku dengan kasar.

:

:

"Ini, makanlah!" Siwon menendang piring makan untuk anjing yang telah diisinya dengan makanan anjing. Aku menatap piring anjing itu dengan tatapan kosong. "Kenapa? Kau tidak lapar? Cepat makan!"

"T-tapi ini… makanan anjing…" cicitku takut.

"Benar sekali!" Siwon mendorong kepalaku kasar hingga membuatku jatuh kelantai. "Maka makanlah seperti anjing! Atau kau mau aku memberitahu Kyuhyun seongsaengnim?!"

Aku dengan cepat menggeleng. Dengan tubuh gemetaran aku mulai memakan makanan anjing itu. Air mataku jatuh dan terjilat olehku. Asin… sangat asin… Siwon terus memperlakukanku seperti ini. Apalagi dia sama sekali tidak memberikanku pakaian. Akhirnya aku hanya menjadi mainan di kamarnya yang luas ini. Dia tidak mengijinkanku keluar kamar. Mungkin dia takut orang tuanya akan melihatku. Ini sudah hari ketigaku bersamanya… dan dia selalu memasukiku kapanpun dia mau tanpa memperdulikan aku.

Aku tersentak saat merasa ada yang menepuk buttku. Aku menoleh kebelakang dengan tubuh gemetaran. "Apa yang kau… lakukan…?"

Siwon tidak peduli. Dia mulai mencubit buttku dengan kasar. Tanpa basa-basi ia melepas celananya, dan mulai memasukiku lagi. Padahal kami baru saja melakukannya sejam yang lalu.

"AKH!" Aku merintih saat merasakan sakit dibagian bawahku. Siwon terus menyodokku dengan kasar, tak peduli jika aku merasa sakit. Dia hanya ingin merasakan kenikmatan.

"Apa yang kau lakukan!? Lanjutkan makanmu!" bentaknya kesal. Aku kembali menoleh kedepan, dan dengan tubuh yang terhentak melanjutkan makanku. Air mataku kembali bercucuran. Sakit. Sakit sekali. "Kh… hiks…" tubuhku terasa semakin lemah, hingga tubuh bagian atasku pun jatuh. Aku mengepalkan tanganku saat merasa bagian bawahku seakan dibelah menjadi dua.

Aku benci… aku benci merasakan ini…

"A-aah…" sepertinya Siwon telah mengeluarkan semennya. Aku langsung merasa perutku kembung. Perutku penuh dengan cairannya. "Huh… lumayanlah."

Aku memejamkan mataku dengan napas tersengal. Aku lelah… lalu ambruk kelantai.

Tok Tok

"Ah, sepertinya mereka sudah datang." Aku membuka sedikit mataku, dan melihat Siwon melangkah menuju pintu kamarnya. Siapa mereka…?

Krieet

"Hei, Siwon ah, mana namja yang kau- ohhh~ apa itu dia~?"

Aku terbelalak melihat sekelompok anak lelaki, sepertinya anak kelas 6… apa yang mereka lakukan disini?

"Ya, itu dia! Ingat, satu ronde bayar 500 won padaku~!" Siwon tertawa sambil menuntun teman-temannya kearahku. "Aku baru saja selesai menggunakannya!"

"Wuah… seksi~! Eh? Bukankah dia Yesung? adik kelas disekolah kita?"

Siwon mengernyit. "Ah… itu menjelaskan kenapa dia sampai tahu namaku." Siwon melangkah menuju sofa, dan duduk disana sambil memandangiku dengan seringainya. "Ya, kalian boleh mulai."

Teman-teman Siwon mulai mendekatiku dengan wajah bernafsu mereka. Salah seorang dari mereka memaksaku untuk menungging, dan tanpa basa-basi memasukkan juniornya kedalam lubangku. Ia lalu menggenjotku dengan kasar. Sementara dua temannya yang lain memaksaku mengulum junior mereka.

… Dan yang bisa kulakukan hanyalah menurut…

… Ini lebih baik… dibanding bersama dengan Kyuhyun.

~LOST~

Aku mengacak suraiku frustasi. Sudah hampir seminggu aku kehilangan jejak Yesung. Dan rasa takut itu semakin besar. Aku sudah mencarinya disemua tempat, tapi aku tetap tak menemukannya.

"Sayang… kau dimana…?" bisikku sedih sambil terus melangkahkan kakiku menyusuri lorong sekolah. "… Aku merindukanmu…"

"Woah~ bukankah dia anak kelas 5, Siwon ah?! benar-benar seksi!"

Langkahku terhenti saat mendengar suara seseorang dari dalam gudang sekolah.

"Ya~ aku beruntung karena menemukannya~! Aku bisa memakainya kapanpun aku mau!"

"Wuah… aku iri padamu, Siwon ah!"

Aku mengendap-endap masuk kedalam gudang tua itu, dan menemukan beberapa anak kelas 6 yang tampak sibuk menonton sesuatu dihp salah seorang dari mereka. Namanya Siwon kalau tidak salah, siswa yang sangat terhormat karena kaya raya.

Apa yang mereka lihat? Aku beruntung karena keadaan digudang ini sangat gelap sehingga aku mampu mengendap-endap tanpa ketahuan. Mereka tengah duduk membelakangiku. Aku dengan berjingkat mendekati mereka, dan mengintip apa yang mereka tonton.

… Ye… Sung…? Dia tampak menderita... Mulutnya penuh dengan pen*s, begitupula buttnya…

… Choi Siwon… huh…? Dan… teman-temannya ini… aku janji… aku akan… mengunjungi mereka… malam… ini…

Tunggu aku Yesungie… aku akan datang dan menyelamatkanmu…

… AKU JANJI.

~JUST YOU~

"Aah! Akh! Khh! Uhhk!" aku terus merintih setiap Siwon memasukiku. Seperti sudah kebiasaan, dia pasti akan memasukiku. Dia juga memperlakukanku seperti pembantu –walau hanya didalam kamarnya. Dia juga memperlakukanku seperti binatang.

… Tidak apa… yang penting aku tidak bertemu dengan Kyuhyun…

BRAK

Aku sontak menoleh kearah pintu kamar yang didobrak paksa. Dan betapa terkejutnya aku ketika menemukan Kyuhyun berdiri diambang pintu dengan wajah yang benar-benar terlihat marah.

Tidak heran mengapa dia bisa sampai kesini karena dia tahu rumah Siwon, Siwon'kan juga muridnya. Dan yang aneh, apa yang dia lakukan? Apa dia akan membawaku bersamanya lagi?!

"K-Kyuhyun seongsaengnim?!" Siwon tergagap. "Apa yang kau lakukan dirumahku?! Bagaimana kau bisa masuk?! Dimana bodyguardku?! PELAYAN! ADA PENYUSUP!"

Kyuhyun menyeringai, dan menunjukkan pisau ditangannya. "Aku sudah membunuh mereka semua." Siwon membelalak. "Termasuk teman-teman brengsekmu."

"Kenapa kau melakukan itu seongsaengnim?!"

"KENAPA?!" Kyuhyun memicingkan matanya. "KARENA KAU BERANI MENYENTUH MILIKKU!"

Siwon tercengang. "M-maksudmu Yesung?!"

Kyuhyun semakin mendekati kami. "Tepat sekali. Dia milikku. HANYA AKU."

Siwon tampak gemetaran, apalagi dengan pisau ditangan Kyuhyun. "J-jangan mendekat! Ambil saja dia!"

"Kau kira masalah akan selesai begitu saja?" Kyuhyun menyeringai. "Kau harus membayarnya."

SLEB

Aku menatap kepala Siwon yang menggelinding jatuh kelantai, dan iikuti oleh tubuhnya. Darah memuncrat mewarnai lantai marmer berwarna putih di kamar Siwon. Aku hanya bisa tercengang dengan perasaan perut mual.

Kyuhyun memelukku dengan tubuh gemetaran. "Maaf… sayang… maaf… karena aku kurang cepat, kau jadi begini… aku janji aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuhmu lagi. tidak akan pernah."

Aku menatap kosong kedepan. Aku terjebak lagi dengannya…? Orang yang telah membunuh Heechul hyung…?

"Sayang? Kau baik-baik saja?" Kyuhyun melepas pelukannya, dan menatapku khawatir.

Aku membalas tatapan matanya dingin.

~HATRED~

"Aku… lebih baik dijadikan 'bahan giliran', dijadikan budak, disiksa, diperlakukan seperti sampah, dari pada kembali padamu!"

To Be Continue

Yefi Chan Note : Hai! Hai! Saya kembali lagi nih~ XD Bagaimana chap 2 nya? Namanya juga fic kolab, ya wajarlah kalau gaje, apalagi diriku kolabnya sama Ucchan nan jauh di sana~ dan hanya tuker ide vie bbm X3 semoga suka ne~ Review juseyo~

Ucchan Note : AAAAAAAAA! MIAN! KACAU BANGET!TWT untuk chap ini ucchan yang ketik, jadi mian kalau gaya bahasanya bedaTWT" yefi chan ngebantuin ngasih ide cerita agar sampai 4000an, tapi masih gak pdXD semoga diterima ne

N soal gimana heechul tau yesung ada di rumah kyuhyun.. hanya heechul dan Tuhan yang tahu'-')b /digampar rame2

Besok Ucchan terima rapor.. semoga dapat nilai yg lumayan, n paling penting bisa naik kelasTwT gomawo~

Oh Iya! UCCHAN DISINI ADALAH UCCHAN SI AIMIKKA CLOUDY YAH~

THIS IS AIMIKKA CLOUDY-AUTUMN CLOUDY XD

GOMAWO~