"Arigatou Shika!" Ino tersenyum tulus menatap sahabatnya itu. Keraguan yang semula membayanginya seketika sirna.

Shikamaru sendiri hanya tersenyum sekilas, ia tidak tahu harus bersikap seperti apa. Dalam hatinya ada rasa yang menyiksa, apalagi setelah mendengar cerita gadis itu. Ia tak siap jika harus kehilangan gadis pirang itu.

Someone Else

.

..

Naruto © Mashasi Kishimoto

..

Pair : KibaIno, SakuKiba

..

Warning : typo everywhere, OOC, absurd story

Shikamaru memelankan laju mobilnya saat melewati deretan kedai yang berjajar rapi di areal pusat perbelanjaan kota Konoha. Jalanan yang semakin ramai membuat Shikamaru harus ekstra hati-hati dalam mengendarai mobilnya. Apalagi saat ini adalah jam sibuk, dimana banyak orang-orang berlalu lalang menuju kantor maupun pergi ke sekolah seperti dirinya dan Ino. Ia menginjak rem pelan seiring laju mobil yang semakin lambat dan akhirnya berhenti, tepat di depan sebuah kedai kopi.

Shikamaru turun dari mobil tanpa berbicara pada Ino. Gadis itu sendiri juga tak bertanya pada sahabatnya itu, sepertinya dia sudah tau apa tujuan sahabatnya menghentikan mobilnya.

Selang beberapa menit kemudian pemuda tinggi dengan gaya rambut di kuncir itu kembali ke dalam mobil. Tangannya menenteng dua paperbag berwarna cokelat dengan logo khas kedai kopi. Ia meletakkan satu paperbag itu di samping kemudi dan yang satunya diberikan pada gadis pirang yang masih asik mentap jalanan dari kaca mobil.

"Makanlah ! Aku tahu kau tak sempat sarapan tadi." Shikamaru menyodorkan satu paperbag yang tadi pada Ino.

"Kau membeli roti ? Ku pikir itu tadi kopi ?" Ino langsung membuka bungkusan roti itu, menyisakan satu cup kopi di dalamnya.

Shikamaru sendiri juga melakukan hal yang sama, hanya saja dia lebih memilih meminum kopinya lebih dulu. Sebelah tangannya kembali memegang kendali setir dan berlalu melajukan mobil meninggalkan jalanan ramai Konoha.

.

.

"Kau saja yang bawa. Kita ketemu lagi di parkiran pulang sekolah nanti. Jaa shika!" Ino langsung berlari meninggalkan parkiran setelah melambaikan tangannya pada Shikamaru. Tak berniat menunggu si pemuda malas itu turun dari mobilnya lebih dulu untuk berjalan bersama menuju kelas, ya meskipun pada kenyataannya kelas mereka berbeda.


Yamanaka Ino baru saja melangkahkan kakinya ke dalam kelas saat netra seteduh lautan itu menangkap direksi dua remaja berbeda gender yang sedang berdiri berhadapan dengan aura canggung yang begitu kentara.

"Ku pikir tak ada lagi alasan yang harus ku lontarkan untuk menolakmu Kiba. Seharusnya kau sudah lebih dari mengerti kenapa aku tidak bisa menerimamu. Gomen !"

"Setidaknya beri aku satu kesempatan Saku! Aku janji akan berusaha membuatmu bahagia! Aku tidak peduli sekalipun kau tak bisa mencintaiku sebesar kau mencintai Sasuke !"

"Gomen e. Aku tidak bisa. Kumohon berjanjilah…ini terakhir kalinya kau mengungkapkan perasaanmu padaku !"

Kiba menatap tak percaya pada apa yang dikatakan oleh gadis cantik pemilik sepasang emerald yang memukau itu. Sakura menyuruhnya untuk tidak mengejarnya lagi, dan ini akan menjadi pernyataan cintanya yang terakhir. Demi apa, dia tidak mendapatkan kesempatan sama sekali untuk mengisi relung hati gadis merah muda itu.

"Sakura ku moh-

"Sekali lagi maafkan aku Kiba!"

Haruno Sakura berlalu dari hadapan si pemuda bersurai cokelat jabrik setelah meminta maaf untuk yang terakhir kalinya. Sedangkan Kiba masih berdiri gamang di tempat semula, kedua tangannya terkepal erat menahan gejolak emosi yang menyeruak memenuhi dadanya, rasanya sesak sekali.

Sakura melewati Ino begitu saja, dia tahu gadis pirang itu melihat adegan dramanya dengan Kiba yang baru saja di akhirinya. Tapi ia tak ingin ambil pusimg, toh dia tak begitu akrab dengan si gadis Yamanaka itu. Hubungan mereka tidak lebih hanya sebatas teman satu kelas saja.

Yamanaka Ino berjalan pelan menuju mejanya setelah Sakura benar-benar berlalu dari ruangan itu. Ia berjalan melewati Kiba yang entah kenapa masih belum beranjak dari tempatnya tadi. Sedikit ragu, akhirnya Yamanaka muda itu berujar pelan memunggungi Kiba.

"Kau tahu ? Di dunia ini ada beberapa hal yang tidak bisa kita paksakan. Seberapa keras pun kita berusaha meraihnya, kalau hal itu tidak ditakdirkan untuk kita, kau tetap tak mampu menggapainya."

"Kau mengejekku Yamanaka ?" Kiba sedikit tersinggung dengan kata-kata yang dilontarkan oleh Ino. Mengingat gadis itu baru saja melihatnya ditolak mentah-mentah oleh Sakura. Pastilah si pirang itu sedang menertawainya sekarang, dan kata-kata yang baru saja dilontarkannya tadi adalah buktinya.

"Apa kau begitu terpuruknya sampai-sampai tak bisa membedakan kata-kata yang terkesan mengejek atau bukan ?" Ino Membalikkan badannya seratus delapan puluh derajat menghadap Kiba. Matanya sedikit mendelik, tak terima dengan tuduhan si pemuda pemilik iris sewarna madu itu. Bibirnya menyunggingkan senyum miring.

"Kalau bukan mengejek lalu apa maksud dari kata-katamu tadi Yamanaka ?"

"Aku hanya berbicara mengenai kenyataan Inuzuka. Aku tidak bermaksud mengejekmu sama sekali. Seharusnya kau bisa membedakannya!"

"Jadi, kau tahu semua yang ku bicarakan dengan Sakura tadi ?"

"Semua orang di sekolah juga sudah tahu kalau Inuzuka Kiba menyukai Sakura Haruno. Dan Sakura Haruno selalu menolak pernyataan cintamu. Itu semua sudah menjadi rahasia umum."

"Souka.. Aku pasti terlihat menyedihkan sekali." Kiba berujar pelan menanggapi kata-kata Ino. Pemuda itu lalu menarik kursi terdekat dari tempatnya berdiri, sejurus kemudian ia menjatuhkan tubuhnya ke papan kayu itu.

Hal yang sama juga dilakukan oleh gadis pirang pucat itu, bedanya dia mendudukkan badannya di bangkunya sendiri.

"Kenapa tidak menyerah saja ? Bukannya semua pernyataan cintamu sudah ditolak mentah-mentah. Apa kau tidak bosan menyatakan perasaanmu berkali-kali dengan jawaban yang sama selalu kau terima setelahnya ?" Ino bertanya pada Kiba, sebuah pertanyaan yang sudah lama ingin ia lontarkan pada pemuda itu.

"Tck. Kau tidak mengerti sama sekali Yamanaka. Aku hanya memperjuangkan perasaanku padanya. Kau tahu aku serius dengan itu, tapi dia sama sekali tak memberiku kesempatan. Dia terlalu sibuk dengan perasaannya sendiri. Kenapa dia lebih memilih mengejar Sasuke yang jelas-jelas tidak memiliki perasaan apapun padanya ? Kenapa dia malah mengabaikan aku yang benar-benar menyukainya ? Apa dia bodoh ?" Kiba mengacak rambut cokelatnya yang memang sudah acak-acakan itu, ia mendesah frustasi.

"Kheh.. Kenapa kau tidak bertanya pada dirimu sendiri Inuzuka ?" Si gadis pirang tertawa mengejek mendengar pernyataan panjang lebar dari Kiba. Sebuah pernyataan yang menurutnya lucu atau bisa dibilang bodoh.

Kiba sendiri hanya menatap Ino dengan pandangan tidak mengerti. Kenapa dia harus bertanya pada dirinya sendiri.

"Sama sepertimu yang tak bisa menyerah pada Sakura. Sakura juga tak bisa menyerah pada Sasuke. Kenapa begitu ? Tentu saja semua atas nama perasaan. Seharusnya kau paham dengan apa yang ku bicarakan Inuzuka." Yamanaka Ino mengulas senyum lembut pada Kiba setelah menyelesaikan penjelasannya. Sedangkan Kiba sendiri masih diam menatap Ino, otaknya mencoba menerka sekelumit kalimat yang terdengar rumit itu. Dia masih tak mengerti juga dengan maksud si gadis pirang. Mungkin otaknya terlalu dangkal untuk sekedar memahami sebuah penjelasan tentang perasaan.

"Aku masih belum mengerti dengan apa yang baru saja kau katakan, terlalu rumit untuk dicerna oleh otak kecilku ?" Pemuda beriris caramel itu berkata jujur pada si gadis pirang pucat dengan tatapan bodoh. Ino yang diberi tatapan seperti itu semakin menampakkan cengirannya. Ada perasaan hangat yang menelusup masuk ke rongga dadanya. Akhirnya setelah hampir setahun penuh dia hanya bisa menatap Kiba dari jauh, hari ini dia bisa berbincang-bincang santai bersama pemuda itu. Sebuah progres yang membuat getar dihatinya semakin menjadi. Hanya perbincangan kecil, tapi bagi Ino itu sudah lebih dari cukup. Dia tak akan mengharap lebih. Yamanaka muda itu sadar dia berada dalam situasi yang sama dengan Kiba dan Sakura. Maka dari itu ia mengerti benar apa yang dirasakan oleh ke dua remaja itu. Sebuah perasaan yang tak tersampai karena masing-masing dari mereka memilih seseorang lain untuk menambatkan hatinya.

"Kring..

Dering bell masuk mengeinterupsi percakapan mereka. Mau-tak mau Ino harus merelakan untuk menyudahi perbincangan kecil antara dirinya dan Kiba. Satu persatu siswa yang lain pun mulai masuk ke ruangan, mengisi meja yang tadi masih kosong, diikuti oleh sensei yang mendapat jadwal mengajar hari ini di belakangnya. Dan setelah itu masing-masing dari mereka kembali berkutat dengan buku tebal serta rumus-rumus absurd yang harus dihafal seperti perintah senseinya.


Setelah empat jam penuh yang terasa bagai bertahun-tahun bagi para siswa, akhirnya jam istirahat pun tiba juga. Yamanaka Ino memutuskan untuk menuju perpustakaan dan menghabiskan waktu istirahatnya di sana. Ia sempat mendesah kecewa saat mata birunya tak bisa menemukan direksi pemuda bersuarai cokelat yang tadi pagi berbincang dengannya. Sepertinya Kiba sudah berlari meninggalkan kelas sesaat setelah bell berdering kencang.

.

.

Suasana perpustakaan masih sepi, sepertinya banyak siswa yang lebih memilih menghabiskan waktunya di kantin atau taman belakang sekolah daripada harus berkeliaran di tempat yang identik dengan siswa nerd ini.

Ino melangkah pelan menuju deretan rak yang berisi ratusan novel tebal. Matanya memindai satu persatu judul novel, mencari bacaan yang sekiranya mampu menarik atensinya. Tangannya terulur menggapai novel dengan judul yang cukup menggelitik otaknya. Tapi sebelum tangan putih itu menarik buku tebal bersampul hijau tua itu, sebuah tangan lain juga tengah melakukan hal yang sama. Sepertinya ada seseorang lain yang juga tertarik dengan judul novel yang dipilih si gadis pirang pucat itu.

Saat keda tangan itu bersentuhan, Ino reflek menatap wajah seseorang yang tengah berdiri di sampingnya. Di sana berdiri seorang pemuda tinggi dengan surai raven tengah menjulurkan tangannya untuk mengambil novel yang sama dengan Ino. Pemuda itu adalah Uchiha Sasuke, teman satu angkatannya hanya saja berbeda kelas dengannya. Ino sedikit canggung karena dia tidak mengenal pemuda itu, hanya sebatas tahu namanya saja mengingat pemuda itu adalah salah satu idola sekolah mereka.

"Kau boleh membacanya lebih dulu. Aku bisa memilih novel yang lain !" Sasuke berinisiatif lebih dulu. Sebelah tangannya menarik novel yang tadi, kemudian menyodorkannya pada Ino yang masih mematung di sampingnya.

"Ah. Tidak perlu. Kau saja, aku akan memilih judul yang lain." Ino menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Berusaha menutupi kecanggungan diantara mereka.

"Bukankah kau tertarik dengan novel ini ? Kenapa tidak kau saja yang baca lebih dulu ?" Pemuda itu menaikkan sebelah alisnya, manik sekelam jelaga itu memandang Ino heran.

"Dan kau sendiri juga sama tertariknya dengan novel itu Uchiha Sasuke ? Jadi tak apa kalau kau yang membacanya lebih dulu !" Yamanaka Ino mengulas senyum lembut pada pemuda tinggi yang saat ini tengah berdiri berhadapan dengannya itu. Ia memilih untuk mengalah dan membiarkan Sasuke membaca novel itu lebih dulu.

"Kau yakin erm.. Yamanaka Ino ?" Sasuke sedikit melirik seragam yang dikenakan Ino, melihat nama yang tertera di nametag-nya.

"Tentu saja. Kau bisa membacanya. Aku akan membaca novel yang lain."

"Hn. Aku akan memberikannya padamu setelah selesai membacanya nanti."

Ino mengangguk pelan menanggapi Sasuke. Setelah itu Ino menyambar asal judul novel untuk dibacanya. Ia melangkah menuju meja paling pojokan, Sasuke mengekorinya di belakang. Selanjutnya ke dua remaja itu duduk berhadapan dalam diam. Menyelami dunia fiksi yang disajikan oleh buku tebal dengan sub judul yang berbeda di tangan masing-masing.

Gadis dengan surai pirang pucat itu mencurahkan seluruh atensinya pada dunia khayal yang baru saja dimasukinya tanpa tahu jika pemuda yang duduk di depannya meliriknya sesekali dari balik buku tebal itu sedari tadi.

_to be continue_

.

..

Hai-hai authore balik lagi dengan chap ke dua. Rencana awal fic ini mau authore bikin twoshoot tapi kayaknya gajadi. Mungkin nanti akan jadi sekitar lima chap baru selesai.

Authore minta maaf karena masih utang beberapa chap fic yang ga up2. Akhir-akhir ini authore sempet kehilangan mood buat nulis ditambah lagi banyak hal yang mesti author urus. Jadi harap maklum.

Thanks buat yang udah ninggalin jejak dikolom review. Tectona Grandis, dan himewulan makasih banyak buat reviewnya.

Authore tunggu komentar kalian untuk chap ini. Arigatou !