Hari-hari berlalu, pangeran baby blue kita dikabarkan jatuh sakit karena kejadian ini. Selama itu pula dia tak mau berbicara pada Akashi yang notabe nya adalah penyebab semua ini. Orang tua kuroko dan akashi bahkan tak dapat menyatu kan mereka. Sebenarnya Kuroko sudah lama menahan kesabaran atas sikap Akashi namun kali ini menurutnya sikap overprotect nya sudah keterlaluan, ia sebenarnya tak ingin begini tapi sisi lain hatinya malah berkata sebaliknya.

Sementara akashi sekarang sedang uring-uringan diperpustakaan kerajaan. Biar pun si adik berkata dia sangat benci pada nya, akashi tetap akan mencari obat untuk sakit sang adik yang katanya tidak ada obatnya oleh sang tabib.

"Ah percuma, aku tak bisa menemukan petunjuk sedikitpun" Akashi melempar lagi buku tebal lainnya ke tumpukan buku-buku tua yang sudah ia baca sebelumnya, semua yang dibaca nya tak memberi jawaban apapun. Pada akhirnya ia terlelap dimeja belajarnya.

"Tetsuya—" Akashi bertemu kuroko dialam mimpi, ia melihat Kuroko terbaring lemas dikasurnya. Tapi tiba-tiba Kuroko bangun dan langsung melemparkan gunting-gunting merah kearah Akashi, sontak saja Akashi menghindar dan berlari menjauh dari kamar Kuroko. Namun tiba-tiba saja ia menabrak seseorang—

"Siapa kau?" Sergah akashi setelah melihat sosok tinggi bersurai hijau didepannya, pria ini mengenakan kacamata dan memiliki iris emerald yang indah.

"Aku Midorima shintaro, aku penunggu perpustakaan ini. Dan aku akan memberitahu mu jawaban apa yang ingin kau cari. Jawabannya ada disana" Tangan kanan laki-laki itu menunjuk kearah desa yang tepat dibawah istana yang ada dibawah bukit. Desa itu adalah desa tempat teman-teman Kuroko berada.

"Apa maksudmu aku harus meminta maaf dengan teman-teman Tetsuya yang kampungan itu?" Ujar Akashi sombong.

"Asal tahu saja, penyakit yang diderita Kuroko akan semakin parah jika kau tak melakukannya" Mendengar itu tiba-tiba Akashi terdiam, se iri apapun ia pada Kuroko ia tetap sayang pada adik kembarnya itu.

"Baiklah akan kucoba" Jawab Akashi dan tiba-tiba saja tubuhnya limbung dan ia terjun dari ketinggian menuju desa dibawah bukit. Akashi kaget bukan main, ia tak tahu ini masih mimpi atau nyata, yang penting dia harus berpikir dulu bagaimana caranya agar selamat saat menyentuh tanah.

Memejamkan mata adalah jawabannya.

"Akashi-sama—"

"Mungkin dia sudah mati"

"Hush diam lah hyuuga"

"Kau itu terlalu peduli padanya teppei"

Akashi mendengar semua percakapan mengenai dirinya tersebut, dan ia merasa familiar dengan suara yang diperkirakan lebih dari satu orang tersebut.

"Kalian?!" Ujar Akashi sambil memegangi kepalanya, rambutnya terlihat acak-acakkan dan jubah yang dipakai nya robek-robek dibeberapa tempat.

"Apa yang terjadi?" Tanya Akashi lagi. Riko, kiyoshi, hyuuga, izuki dan mitobe saling bertatapan satu sama lain.

"Anda tak ingat apapun Akashi-sama?" Ujar Riko. Akashi hanya menggeleng, kepalanya terasa berat.

Kelima remaja itu kembali berpandangan, lalu mengangguk kecil seperti memberi persetujuan.

"Kami menemukan anda sedang terbaring dihutan dekat desa Akashi-sama, tubuh anda dikelilingi oleh dua harimau yang sepertinya siap memangsa anda. Beruntung kami sedang lewat disana jadi kami langsung saja mengusir harimau-harimau itu lalu membawa anda kemari. Kami pikir tadi mungkin anda sudah mati menginggat keadaan anda yang cukup mengenaskan" Jelas Hyuuga, entah kenapa terdengar nada-nada mengejek dari perkataan lelaki muda ini.

"Begitu ya, jadi kalian sudah menolongku. Terimakasih ya" Jawab Akashi sambil tersenyum tulus.

Eh? Tunggu –apa barusan Akashi tersenyum? Dan coba lihat kelima remaja yang menolong Akashi sekarang tengah merinding ketakutan. Ternyata mereka menggangap Akashi yang tersenyum tulus seperti itu sebagai fenomena teraneh yang pernah mereka lihat. Pasalnya pangeran merah menyala ini dikenal selalu menampakkan wajah arogan yang mencerminkan kesombongannya, jangan kan tersenyum pada rakyat biasa, tersenyum tulus pada orangtuanya saja jarang.

"A-akashi-sama, apa anda tidak apa-apa?" Izuki mendekat ke Akashi lalu menempelkan tangannya dijidad Akashi.

"Wah masih waras" Ujar Izuki.

"Hentikan leluconmu itu Izuki, ngomong-ngomong apa yang membawa anda hingga sampai kehutan itu Akashi-sama" Sergah Hyuuga layaknya kapten, ia menuangkan air minum untuk Akashi lalu menyerahkannya.

Akashi menerima air yang diberikan Hyuuga, lalu ia menundukkan kepalanya melihat bayangan dalam air minum tersebut.

"Aku sebenarnya ingin menemui kalian dan meminta maaf. Semua yang kukatakan kemarin tentang Tetsuya hanyalah kebohongan" Ujarnya dengan nada seduktif, namun dapat terdengar oleh kelima remaja itu yang bengong untuk kedua kalinya oleh sikap Akashi.

"T-tunggu, anda sedang tidak bercanda kan Akashi-sama?" Sahut Kiyoshi teppei tidak percaya, akashi menggeleng. Oke sekarang kelima remaja ini hanya meneguk ludah masing-masing.

"Akashi-sama tak perlu khawatir, kami sudah memaafkan akashi-sama kok" Jawab riko.'Padahal sebenarnya kami takut dilempari gunting olehmu' Innernya.

"Benarkah?" Akashi menatap mereka senang yang dibalas anggukan pasti.

"Kalau begitu mau kah kalian menemaniku untuk menemui Tetsuya?" Akashi turun dari kasur yang ia tempati.

"Itu tidak perlu Akashi-kun" Belum sempat kaki Akashi menyentuh lantai, tiba-tiba sosok pria biru muda –kuroko- muncul disamping.

"Ke—oh eh? TETSUYA!" Akashi terkejut sekarang, tadi ia bermimpi bertemu seorang seperti malaikat, lalu jatuh dari ketinggian dan sekarang ia bertemu dengan Kuroko. Ada apa ini sebenarnya?

Kuroko terkikik geli melihat raut kebinggungan Akashi, sementara teman-teman kuroko tersenyum tidak jelas.

"Jangan pasang wajah seperti itu Akashi-kun, yang akashi-kun alami itu bukan mimpi kok. Itu adalah kenyataan." Sahut Kuroko, Akashi kembali kedunia nyatanya.

"Apa maksudmu Tetsuya?"

"Ini semua berkat Midorima-kun, ia adalah malaikat yang melindungi perpustakaan kita. Aku bertemu dengannya setahun lalu dan seminggu lalu aku bekerja sama dengannya untuk mencari cara agar kau menyadari kesalahan mu Akashi-kun" Jelas Kuroko.

"Apa kau ingin aku percaya semua itu Tetsuya?" Balas Akashi, sepertinya sifat sombongnya kembali lagi.

"Tentu saja, bukankah kejadian yang dianggap Akashi-kun tadi sudah jadi kenyataan sekarang?" Akashi tak menjawab, ia menatap satu-persatu teman-teman Kuroko.

Ia menghela nafas.

"Baiklah Tetsuya, kau menang" Akashi tersenyum lembut kearah adiknya tersebut, kemudian tangannya mengacak-acak surai biru nan lembut tersebut.

"Ano—Akashi-sama, apa sekarang anda mau menjadi teman kami juga?" Tanya Kiyoshi dengan takut-takut. Kuroko yang dilirik Akashi hanya mengangguk memberi persetujuan.

"Teman Tetsuya adalah temanku juga." Jawab Akashi kemudian diiringi dengan helaan nafas lega dan tertawaan ringan dari rumah kecil tersebut.

Yah begitulah akhirnya kisah kecil dari kerajaan Teiko yang mengisahkan tentang kehidupan kedua pangeran kembar. Akashi yang dulunya dikenal sebagai sosok kelam kini menjadi mahkluk yang bersahabat seperti adiknya, Kuroko tetsuya.

Happy Ending