Begitu sebuah lagu selesai dibawakan, seluruh isi klab bertepuk tangan dengan meriah. Segala sanjungan dan pujian membahana yang menggema hanya ditujukan untuk CN Blue yang masih berdiri di atas panggung dan memberi hormat kepada para penontonnya.
"Terima kasih, semuanya. Selamat malam, selamat bersenang-senang." Jung Yong Hwa memberikan ucapan perpisahan kepada para pengunjung di sana.
Yong Hwa dan antek-anteknya segera menuju ke belakang panggung.
Begitu sampai di backstage, Min Hyuk, Jong Hyun dan Jung Shin segera duduk di kursi masing-masing dan meneguk soft drink yang tersedia.
"Ahhh~.. capeknyaa…" Jung Shin bicara sembari mengambil tissue untuk menghapus keringat di dahi, wajah dan leher.
"Hari ini klab lebih ramai dari biasanya. Syukurlah." Jong Hyun menambahkan.
Sementara Jong Hyun dan Jung Shin mengobrol mengenai acara tamasya liburan mereka, Yong Hwa pergi menemui manager klab untuk mengambil honor manggung. Min Hyuk -yang duduk agak jauh dari Jung Shin dan Jong Hyun- mengambil ponsel dari dalam saku dan melihat ada dua pesan masuk di sana. Saat ia memeriksa inbox, ia melihat pengirim sms yang paling atas adalah JH alias Ji Hyun alias Kim Ji Hyun alias pacarnya atau lebih tepat pacar rahasianya. Dengan senyum-senyum-senang ia meng-klik pesan itu :
Kau bermain hebat malam ini..
Aku sangat menyukainya~…!
Kau makin hebat dengan drummu, hehe,, darling Ji Hyun~.. ^u^
Min Hyuk mereply pesan tersebut dengan penuh antusiasme :
Kau di mana? Honey Min Hyuk ingin bertemu darling Ji Hyun~.. ^O^
Min Hyuk mesem-mesem sendiri. Sambil menunggu reply dari pacarnya, Min Hyuk membuka pesan yang kedua. Kali ini ia tidak tahu identitas si pengirim sebab nomornya tidak tercatat dalam kontak ponsel. Saat dibuka :
Permainanmu sangat keren~..!
Aku sangat menyukaimu sejak lama..
Aku ingin sekali berkenalan denganmu..
Aku akan sangat senang jika kau mau.. maukah? ^^:
Min Hyuk membiarkan pesan itu begitu saja tanpa menghapusnya. Sms macam itu sudah banyak ia terima semenjak CN Blue manggung di klab itu setiap Sabtu malam dalam rangka menambah uang jajan. Jika ketiga temannya selalu membalas sms seperti itu dengan penuh keramahan, Min Hyuk tidak. Tepatnya ia sering mereply dengan penuh kesopanan khas Min Hyuk kepada sms yang datang, tapi tidak semuanya. Hanya beberapa sms yang menurutnya layak untuk dibalas-lah yang akan dibalas.
Sudah hampir tiga menit Min Hyuk menunggu pesan balasan dari Ji Hyun. Karena sudah tidak sabar, Min Hyuk memutuskan untuk mencari Ji Hyun. Ia yakin Ji Hyun masih ada di klab itu.
"Aku mau ke toilet dulu." Min Hyuk segera meninggalkan kedua kawannya yang masih mengobrol.
The Lovely Guy dalam cerita ini mulai membaur di kerumunan pengunjung klab. Para pengunjung sedang asyik menikmati olahan musik sang DJ mengingat saat itu sudah masuk jam party night. Dengan jam DJ seperti sekarang, CN Blue tidak akan terlalu menarik perhatian saat ikut membaur di kerumunan pengunjung. Berbekal mata yang terus terjaga melihat kiri-kanan, Min Hyuk berusaha mencari keberadaan cinta sejatinya di sana.
Sangat sulit. Musik yang kencang, bau alkohol di mana-mana, orang – orang mabuk yang turun untuk dance semakin menyulitkan Min Hyuk. Setelah merasa Ji Hyun tidak ada di lantai itu, Min Hyuk memutuskan untuk mencarinya di lantai dua. Saat menaiki tangga, ia mendengar sayup-sayup suara yang familiar di telinganya di sebelah kanan. Ketika ia menoleh, ia mendapati Ji Hyun. Sayangnya, Ji Hyun yang ia lihat sekarang bukanlah Ji Hyun yang ingin ia lihat. Ji Hyun saat itu sedang mengobrol dengan pria lain di pilar-pilar klab. Bagian sebelah kanan adalah bagian klab untuk 8-10 orang dan ada tirai di sekelilingnya. Ji Hyun ada di sana bersama anak-anak dari grup Infinite, grup dance di sekolahnya. Yang paling membuat Min Hyuk kesal adalah Ji Hyun sedang mengobrol berhadapan dengan Woo Hyun, pria yang dikabarkan telah menyukai Ji Hyun sejak lama. Min Hyuk makin kesal karena di sekitar mereka berdua adalah teman-teman satu sekolahnya. Dengan status 'bukan pacar Ji Hyun secara umum', Min Hyuk tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya ia menuruni tangga itu dan segera berjalan menuju basement.
Setelah sampai di basement, Min Hyuk menekan tombol no satu cukup lama untuk jalur cepat menghubungi orang di nomor tersebut. Ia menempelkan ponselnya ke telinga dan terdengarlah satu nada sambung, dua, tiga, empat, hingga akhirnya seseorang di sana menjawab.
"Halo?"
"Temui aku di basement sekarang. Aku ingin menemuimu." Min Hyuk segera memutuskan percakapan.
Nafas Min Hyuk tidak beraturan dan perasaannya campur aduk : geram, benci, sedih, kecewa, marah, sakit hati, putus asa, cemburu semuanya jadi satu.
Beberapa lama kemudian,
"Min Hyuk? Hai... Kau lelah? Aku bawakan kau teh dengan susu yang kau sukaa…" belum selesai Ji Hyun bicara, Min Hyuk segera menarik tangan Ji Hyun dan menggeretnya, mencari tempat yang pas untuk bicara. Teh susu yang dibanggakan Ji Hyun pun tumpah, tidak dipedulikan sama sekali oleh Min Hyuk.
"Min Hyuk, kau mau ke mana?" Ji Hyun bertanya dengan penuh rasa takut dan panik.
Min Hyuk yang sedang penuh emosi berjalan dengan cepat sambil terus menarik Ji Hyun. Seolah tidak peduli Ji Hyun kesakitan atau tidak, ia terus berjalan dan semakin memperkuat cengkeraman tangannya. Ji Hyun terus meringis kesakitan di setiap langkah.
"Min Hyuk?"
"Min Hyuk?!"
"MIN HYUKK?!"
DUAARR!
Min Hyuk yang semula kita kenal sebagai pria manis yang pendiam, kini menjadi pria dengan wajah penuh kebencian. Ia bahkan sampai memukul tembok dengan keras.
Ji Hyun hanya terdiam, agak kaget. Cengkeraman tangan Min Hyuk sudah lepas saat itu. Ji Hyun melihat ke arah tembok yang baru saja di pukul Min Hyuk lalu ia melihat ke arah punggung telapak tangan prianya. Robek dan penuh luka.
Melihat itu Ji Hyun bermaksud untuk meraih tangan Min Hyuk dan melihat seberapa parah lukanya. Namun sebelum Ji Hyun mampu meraih tangan itu, Min Hyuk telah mengibaskan tangannya lebih dulu. Ji Hyun semakin bingung dengan gelagat Min, 'ada apa dengan Min Hyuk?'
"Kau ini… kenapa?" Ji Hyun mencoba mencari tahu mengenai apa yang terjadi.
Min Hyuk menyeringai dengan mata tajam dan wajah penuh emosi.
"Kenapa, huh..?!" Min Hyuk memalingkan pandangannya ke arah lain seolah berusaha untuk tidak emosi, tapi tidak bisa. "KAU YANG KENAPAA?!" Min Hyuk berteriak di depan wajah Ji Hyun.
Ji Hyun di depannya memperhatikan dengan heran sekaligus takut. Min Hyuk yang ia kenal tiba-tiba berubah seperti orang lain.
"Ada apa denganmu?! Kau tidak mau membuka hubungan kita ke orang lain, ke depan umum, ke teman-temanku saja kau tidak mau! Tapi kau malah mau bermesraan dengan cowok lain di depan mataku! KAU GILA APAA?! Perempuan macam apa kau?! DASAR JALANG!" Min Hyuk seolah tidak dapat membendung perasaannya lagi.
Perempuan di depannya terpaku membatu. Di depannya ia melihat sosok pria yang sepertinya tidak ia kenal meneriaki dirinya, memaki-maki, berteriak dengan penuh ekspresi kebencian dan dendam. Perempuan itu terus terdiam sementara si pria terus meneriakinya dengan kata-kata kasar. Meneriakinya wanita jalang, murahan, egois, jual diri, pelacur dan masih banyak lagi kata-kata dari mulut cowok itu yang ia dengar. Sebenarnya Ji Hyun masih tidak mengerti mengapa Min Hyuk begitu marah. Ia hanya bertemu Woohyun tepat saat Ji Hyun hendak menemui Min Hyuk dan menyerahkan minuman kesukaan pacarnya itu. Mereka hanya mengobrol mengenai beberapa soal ujian kemarin, tidak ada yang lebih. Min Hyuk seolah tidak ingin mendengar penjelasan agar semuanya kian lurus. Perempuan itu hanya bisa menelan semua kata-kata kekasihnya. Tanpa sadar air mata mulai menggenangi mata dan mengalir dengan cepat tanpa henti. Cowok itu masih meneriakinya dan sempat terdiam.
"Ohh, sekarang kau menangis lagi di hadapanku? Sudah keseribu kali kau menangis di hadapanku seperti ini dan AKU BOSAN DENGAN AIR MATAMU!" Min Hyuk meneriaki perempuan itu lagi.
Perempuan itu menunduk sekarang. Air matanya masih jatuh, bahkan hatinya juga telah jatuh dan hancur. Ia merasa pacarnya telah pergi jauh sekali. Pacarnya yang selalu memberinya semangat untuk hidup dengan percaya bahwa dirinya berharga, pacarnya yang selalu memberinya pelukan dan belaian setiap kali dirinya menangis atau sedih, pacarnya yang selalu mendukungnya untuk melakukan sesuatu yang ia sukai dan pacarnya yang selalu mau mendengarkan apapun yang keluar dari mulutnya. Semuanya hilang.
"Kenapa? Kenapa kau tidak mengizinkanku untuk bicara?" Pertanyaan tersebut mampu membuat Min Hyuk yang jadi diam sekarang. Ia mulai bisa mengendalikan emosinya.
Ji Hyun mengangkat wajah. "Aku memang jalang. Aku memang tidak pantas untukmu. Aku memang pelacur, bukan perempuan baik-baik seperti yang selalu kau agungkan padaku selama ini. Aku memang MURAHAN!" kali ini Ji Hyun yang histeris dan air matanya tidak bisa berhenti mengalir. "Baiklah. Jika kau bosan denganku, tidak apa-apa. Maaf membuatmu capek selama ini. Terima kasih sudah mau menjadi pacarku. Semoga kau dapat perempuan yang baik, bukan murahan sepertiku." Ji Hyun segera melangkahkan kakinya dari hadapan Min Hyuk.
Min Hyuk yang baru saja tersadar bahwa ia telah menyakiti Ji Hyun berusaha mengejar. Ji Hyun berjalan dengan sangat cepat. Min Hyuk sendiri ingin bicara tapi entah kenapa suaranya tidak bisa keluar. Pada akhirnya, Ji Hyun hilang dari pandangan dan Min Hyuk hanya berdiri meratapi cintanya yang sudah pergi.
Di backstage…
"Waahh… lebih banyak dari target!" Jung Shin berseru keriangan.
"Jadi, vila di Jeju 3 hari 3 malam, cukup kan?" Yong Hwa tak kalah girang.
"Ayooo~… Akhirnya bisa senang-senang jugaaa~…!" tambah Jong Hyun.
Ketiga cowok itu berseru kegirangan membicarakan rencana liburan mereka yang sudah ada di depan mata. Saat semuanya masih diliputi rasa senang, Min Hyuk datang dengan raut wajah kusut dan sebal. Sambil melewati ketiga temannya…
"Ayo pulang, aku ngantuk." Min mengambil stik drum serta tasnya dan keluar dari area backstage.
Ketiga temannya hanya bingung. Lalu dengan sigap mereka segera mengambil peralatan masing-masing dan mengikuti Min Hyuk.
Di luar klab, CN Blue menunggu bis untuk pulang ke rumah masing-masing..
"Wah, lama sekali ya bis nya?" Yong Hwa menggerutu.
Min Hyuk masih cemberut.
Sambil menunggu bis datang, Yong Hwa, Jung Shin dan Jong Hyun kembali membicarakan rencana liburan mereka. Hanya Min Hyuk yang diam. Saat sedang asyik-asyiknya mereka berbicara, ada satu mobil mini bus silver berhenti di depan mereka. Perlahan kaca mobil paling belakang dibuka. Dan saat dibuka..
"Haiii…!" seru seseorang kepada CN Blue.
"Aaahh~.. Seung Yeol~… haaii.. kau habis dari mana?" ketiga teman Min Hyuk membalas sapaan Seung Yeol.
Sekarang kaca mobil bagian depan juga terbuka dan kaca mobil belakang makin terbuka lebar. Ternyata isi satu mobil itu adalah personil INFINITE. Dengan Myung Soo yang menyetir, Hoya duduk di sampingnya, Seong Yeol di paling pinggir sebelah kiri -persis di samping kaca mobil yang dibuka pertama kali-, di sampingnya ada Woohyun. Di belakang ada Sung Jong, Dong Woon, dan Sung Gyu. Ketujuh personel Infinite itu menyapa CN Blue dengan suka cita.
Min Hyuk makin sebal saat tahu isi mobil itu adalah grup Infinite.
"Kalian mau pulang? Naik apa?" tanya Sung Gyu.
"Bis.. seben…," belum selesai Jong Hyun bicara, ia menilik sedikit ke dalam mobil, ke samping Woo Hyun. Ia merasa melihat ada seorang lagi di sana. Dan setelah sepersekian detik ia tahu siapa itu.
"Ahhhh~… Ji Hyun~..!" sapa Jong Hyun dengan riang dan ramah.
Mendengar nama Ji Hyun dari mulut Jong Hyun yang sedang menatap ke arah dalam mobil, Jung Shin dan Yong Hwa yang kaget segera ikut mengintip isi mobil dari luar. Saat melihat ke dalam -Woohyun duduk sebelahan dengan Ji Hyun di paling pojok-, mereka bertiga menggoda Woohyun. "Aaahhh~… Woohyunnn~.. cuit.. cuit…"
Kekompakan tiga sahabatnya dalam menggoda Woo Hyun membuat Min Hyuk makin panas.
"Hahaha.. iya nih.. kita biarkan saja Woohyun duduk sebelahan dengan Ji Hyun. Semoga saja sehabis ini mereka jadi, ya? Hahahaha." Seung Yeol ikut menggoda dan terjadilah kericuhan yang makin menjadi.
Woohyun yang malu-malu mencubit pipi Yeollie dan Ji Hyun di sana hanya tersenyum dengan wajah merah. Yang lain tertawa puas melihat Woohyun malu-malu.
"Ahh… ya sudah, kami duluan tidak apa-apa? Ada anak gadis yang harus kami antar pulang," ujar Yeollie.
"Hu-um, tidak apa-apa. Hati-hati ya," balas Jong Hyun. "Woo Hyun, semoga berhasil~…!" teriak Jong Hyun sambil tertawa.
Satu mobil tertawa lagi. Lima detik kemudian mobil itu melaju. Saat mobil melaju adalah saat ketika kaca mobil makin lama makin naik dan menutup. Ketika kaca mobil di samping Yeollie sudah 5/7 menutup, Min Hyuk dapat melihat ke dalam mobil bahwa ada Ji Hyun di sana yang sedang tersenyum manis kepada Woo hyun.
Hati Min Hyuk sakit. Ada cemburu dan rasa bersalah yang timbul di benaknya saat mobil itu sudah beberapa meter meninggalkan mereka. Mendadak ia merasa bodoh dengan semua kata-kata kejamnya pada Ji Hyun, perempuan yang mengisi otak dan hatinya selama sebulan ini. Ia juga tidak bisa berbohong bahwa Ji Hyun yang 'jalang' adalah yang ia inginkan, sebenarnya. Min Hyuk ingin cewek yang sedikit agresif dan ia harap Ji Hyun dapat memberikannya kejalangan khas perempuan yang ia dambakan. Ia terus menyalahkan dirinya sendiri karena kejadian di basement barusan. Ia tahu dirinya masih mencintai Ji Hyun dan ia juga yakin Ji Hyun masih menginginkan hubungan mereka tidak berakhir secara real.
"Woi, Min Hyuk, bis nyaaa…!" teriak Yong Hwa.
Teriakan itu membuat Min Hyuk tersadar dari lamunan. Teman-temannya sudah berada di pintu bis dan mereka menunggu Min Hyuk.
Min Hyuk pun segera menyusul teman-temannya untuk naik ke dalam bis.
Di sebuah terminal Jung Shin dan Jong Hyun turun.
"Sampai jumpaa.. hati-hati yaa…" pamit Jung Shin dan Jong Hyun pada dua rekan mereka yang masih di dalam bis.
"Yaa.. Jangan lupa Selasa pagi kita berangkat," balas yong Hwa.
"Okeee… sampai nanti!" balas Jung Shin dan Jong Hyun dari luar bis, mereka sudah turun.
Sekarang hanya tinggal Min Hyuk, Yong Hwa dan beberapa orang yang tersisa di bis. Sepanjang perjalanan, Yong Hwa yang selalu mengajak Min Hyuk bicara terlebih dulu. Hingga beberapa menit kemudian, bis mereka berhenti di terminal dekat perumahan Ji Hyun. Mengingat ini kesempatan satu-satunya, Min Hyuk segera bersiap-siap untuk turun.
Yong Hwa cukup heran melihat Min. Ia tahu kalau terminal itu bukan destinasi yang dekat dengan rumah Min Hyuk. "Kau kenapa?"
"Aku mau turun di sini saja. Ada yang harus aku beli untuk ibu. Sampai jumpa, hyung," jawab Min Hyuk sambil berjalan menuruni bis.
"Ah… Ya sudah, hati-hati…"
Min Hyuk dan Yong Hwa saling melambaikan tangan. Setelah bis kembali melaju, Min Hyuk menyusuri jalan menuju rumah Ji Hyun sambil terus berpikir mengenai apa yang akan terjadi setelah Min Hyuk tiba di sana. Akankah Ji Hyun sudi menemuinya ? Apakah Ji Hyun mau memaafkannya?
Min Hyuk bingung. Ia mencoba berpikir mengenai beberapa cara manis untuk merayu Ji Hyun tapi rasanya semua sia-sia saja. Ia bukan Min Hyuk si penggoda atau pemain hati perempuan. Ia tidak bisa menjadi pribadi romantis yang mampu membuat kekasihnya jatuh hati atau mau menyerahkan apapun.
Kaki Min Hyuk terus berjalan dan otaknya terus bekerja. Tubuhnya letih dan ia butuh sandaran. Ji Hyun adalah yang ia butuhkan sekarang. Bahkan mungkin ia akan lebih memilih memandang Ji Hyun daripada tidur.
"Terima kasih sudah mau mengantarku."
Suara Ji Hyun membuat langkah Min Hyuk terhenti. Tak sadar, kini Min Hyuk sudah beberapa meter dari rumah Ji Hyun. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat wanitanya bersama seorang pria yang ia kenal. Mereka berdua berdiri di tempat terakhir kali Min Hyuk dan Ji Hyun berciuman.
Min Hyuk secara refleks langsung sembunyi di balik tembok pagar rumah lain yang memang agak menjorok ke jalan. Ia mengintip sedikit dan mendengarkan.
Hyukkie melihat Woohyun yang menatap dalam mata Ji Hyun dan Ji Hyun yang menunduk malu-malu.
"Aku masuk dulu, ya? Sampai jumpa. Terima kasih, hati-hati," ujar Ji Hyun sambil bergerak menuju pagar.
"Ji Hyun." Woo Hyun memanggil nama perempuan itu sembari menarik sedikit tangan perempuan di hadapannya. Ji Hyun berbalik. Woo Hyun menatap dalam mata perempuan itu, seolah hendak mengatakan sesuatu.
"Akuu.. ehm.. akuu.." Woo Hyun terbata-bata.
Ji Hyun menunggu, "ya?"
Woohyun masih berusaha. Dua detik kemudian…
"Kau sangat feminim malam ini. Aku suka sekali melihatnya." Woohyun blushing.
Ji Hyun agak canggung. Ia juga blushing. "Ah.. terima kasih.."
Keduanya malu-malu berhadapan. Min Hyuk yang melihat hanya menggigit bibir bawahnya karena gemas dengan adegan di hadapannya.
"Aku masuk, ya? Kau berhati-hati lah. Sampai jumpa…." sebelum Ji Hyun selesai berkata-kata, Woo Hyun dengan cepat telah mencium punggung tangannya.
Ji Hyun terkejut.
Min Hyuk makin panas dan kalut.
Woo Hyun dengan santainya menambahkan, "bonsoir, mesdames .. J'espère que vous dormez bien et beau rêve ''
''Eh ?'' Ji Hyun bingung dengan kalimat Woo Hyun barusan.
Woo Hyun tersenyum. ''Semoga mimpimu indah.''
"Ahhh… terima kasih. Kau juga, ya?"
Ji Hyun akhirnya masuk dengan canggung. Saat ada di dalam pagar, ia melambaikan tangannya pada WooHyun dan Woo membalasnya. Ketika Ji Hyun sudah masuk ke dalam rumah, Woo mulai berjalan pulang.
Min Hyuk masih berdiri. Setelah sosok Woo tidak terlihat lagi, ia segera berlari ke depan rumah Hyunnie. Ia melihat ke arah jendela kamar, berharap Hyunnie akan melihat ke luar jendela dan mendapati dirinya berada di situ.
Tapi yang terjadi tidak selalu sesuai dengan apa yang diharapkan. Beberapa menit menatap jendela kamar 'juliet' malam itu adalah usaha yang sia-sia. Juliet mematikan lampu kamarnya tanpa melihat ke luar jendela.
Sesaat suasana berubah menjadi sunyi senyap. Tak ada lagi aura cinta di tempat terakhir mereka menyatukan bibir. Suasana sepi mencekam itu sangat memeras hati Min Hyuk. Ia tidak tahu harus bagaimana. Mengetik pesan untuk meminta maaf pada Ji Hyun, ia tak bisa. Pada akhirnya, ia melangkahkan kaki untuk pulang.
