Kyungsoo masih sibuk dengan kado-kado di hadapannya. Beberapa sudah mulai ia buka, sedang sisanya ia susun rapi di ujung kamarnya.
"Oh Sehun…" gumam Kyungsoo membaca sebuah note mungil yang tersisip di dalam kotak tersebut. Gadis itu pun membukanya dengan perlahan, seminimal mungkin mengeluarkan suara nyaring yang bisa membangunkan seisi rumah dimalam yang mulai larut.
Isinya sepasang sepatu, modelnya cukup simple tapi Kyungsoo suka. Ia pun mulai membaca note berisi tulisan yang cukup rapi untuk ukuran seorang pria, hanya beberapa kata yang tertulis, tapi mampu membuat senyuman tercetak dibibirnya.
"Baiklah Oh Sehun, senang berkenalan denganmu" Kyungsoo menatap gembira pada sepasang sepatu itu.
.
.
.
.
.
Suasana sarapan pagi di kediaman keluarga Do cukup sunyi, hanya dentingan sendok dengan piring yang terdengar.
"Ekhm" deheman Tn. Do membuat beberapa penghuni di meja makan itu menghentikan santapan mereka, "Bagaimana ujianmu Luhan?"
"Aku sudah mencoba semampuku appa, dan aku optimis dengan hasil yang lebih baik dari tahun kemarin" jawab Luhan dengan senyumannya. Tuan Do ikut tersenyum, ia pun menatap putri bungsunya yang masih menyantap hidangannya.
"Lalu bagaimana denganmu Kyungsoo?"
"Kita lihat saja bagaimana hasilnya nanti. Aku bukan orang yang bisa mengatakan sesuatu yang belum pasti. Baiklah, aku sudah selesai, aku berangkat eommonie, abeoji, halmeoni. Selamat pagi" Kyungsoo menata dengan rapi peralatan makannya. Setelah membungkuk, ia berbalik menuju pintu utama.
Sejak berumur tujuh tahun, Kyungsoo tidak bisa akur dengan kedua orangtua serta kerabat keluarganya yang lain. Ia akan merasa terasingkan jika mereka semua berkumpul dalam satu ruangan. Kyungsoo sendiri heran dengan semua sikapnya, tak jarang kedua orangtuanya selalu menceramahinya tentang hal tersebut, tapi tetap saja tak mempan.
Sepuluh tahun hidup dengan cukup mandiri membuat ia tidak begitu peduli dengan sekitar, tapi ia sangat baik dalam hal mengurus diri. Bukan masalah besar ketika semua keluarganya sibuk berlibur bersama sedangkan ia ditinggal di rumah, karena itu sudah beberapa kali terjadi saat ia masih menginjak umur empat tahun. Awal kedatangan Luhan di rumah ini memang sempat membuat Kyungsoo tersingkir, semua orang mengagumi gadis cina itu. Wajah cantiknya, senyuman ramahnya, semua yang sebenarnya ada pada diri Kyungsoo, tapi tak pernah ia tunjukkan pada siapapun. Saat itu orangtuanya masih sibuk mengurus berkas adopsi Luhan di Cina, lalu tanpa mengabari Kyungsoo, mereka memutuskan untuk berlibur bersama Luhan selama 3 hari lebih. Kyungsoo tak ingat dengan jelas, karena itu disitulah kiranya awal mula semua sikap dingin kepada kedua orangtuanya.
"Apa melamun semenarik itu?" sebuah suara menyadarkan Kyungsoo. Gadis itu langsung melepas benda yang menyumpal telinganya lalu menatap sekilas pria yang ikut berdiri tepat di sampingnya.
"Apa rumahmu disekitar sini?" Kyungsoo bertanya tanpa menatap pria itu.
"Jauh sebenarnya, tapi aku suka saja jika menunggu bus di halte ini" jawab pria itu.
Kyungsoo berdecak, "Aneh sekali, baiklah busku sudah datang. Bye!" tubuh mungil itu melangkah masuk kedalam bus tanpa tahu bahwa pria yang tadi ia pamiti juga masuk.
"Kupikir kau sudah melihat bahwa kita satu sekolah" ujar pria itu. Kyungsoo yang awalnya bingung langsung menjatuhkan tatapannya pada seragam pria tersebut.
"Oh ya tuhan, maaf. Aku benar-benar tidak memperhatikanmu"
Pria itu terkekeh, ia tiba-tiba menyodorkan tangannya, "Kita memiliki perkenalan yang buruk beberapa hari yang lalu. Kurasa lebih baik aku mengulanginya. Halo, aku Kim Kai, senang bertemu denganmu"
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
Okay, I'm sorry karena terlalu lama melanjutkan ff ini, karena(?) aku baru saja selesai menenangkan dirinya setelah melewati 4 hari UN SMA yang WOW(?).
And, salam kenal, aku new writer disini(?)
Eh, bukan sih, sebenernya aku udah pernah publish sekitar 2-3 ff di sini, cuma aku hapus karena negara api(?) menyerang rumah tangga KAISOO, ehh!!
Kalau masih ada yang inget ff 'We Fight For Love', tentang militer2 gak jelas itu. Nah itu ff lama aku yang sudah aku hapus, aku ganti pen name juga jadi kesannya kek baru gitu.
And aku minta maaf karena di chapter 1 kemarin aku gak sempet ngasih note apa2, karena emang itu cuma iseng2 ngetik dan iseng2 publish, dan gila, waktu aku baca ulang, oh gosh itu bener2 singkat…
Maaf!! Maaf!! Maaf!!
Maaf atas ketidaksopananku…
So, just call me Soo or Nad, or something, Tapi jangan thor ok, itu kek gimana aja gitu dengernya, hehe
And thank you so much buat yang udah review, fav, and follow my story, maaf kalo masih banyak typo, udah ah, segini dulu
Terima kasih banyak!!!
and, wait for the next chap yang entah akan kapan lagi aku lanjutin, karena otakku lagi bantet nih, kk
Ku tunggu review di chap ini
See you
#SELAMAT HARI KARTINI #SELAMAT ULTAH LUHAN OPPA, telat!!!
21.04.2017
21.56
