A/N: Makasih buat semuanya yang udah ngereview. Arigatou minna-san! m(.__.)m dan maaf saya hiatusnya lama (baca: kelamaan)
Hehehe I'm back everyone!! *ngeglomp ke readers*
Ngomong-ngomong disini ada sedikit teks lagu yang bakal ditampilin. Cuma mau nyebut creditnya aja, kalo lagu itu bukan karangan saya (dan tidak akan pernah jadi milik saya) yang judulnya The Last Night. Lagu itu punya Skillet (band itu keren abis sumpah hih kapan deh ke Indonesia).
Disclaimer: I DO NOT OWN BLEACH AND THE LAST NIGHT LYRIC WALOPUN KEPENGEN UDAH YAA BYE BACA SONO AH HUS2 *ngusir ceritanya*
Becanda ah jangan di close tabnya
Enjoy everyone! ^^
"Rukia!" ucap Ichigo kaget. Saking kagetnya, suara yang dikeluarkannya itu cukup keras untuk bisa membuat banyak orang mendengarnya.
"Hei! Itu Rukia Kuchiki!" teriak seseorang sambil menunjuk Rukia. Kemudian beberapa fans Rukia yang lainnya mengejar mereka berdua.
"Omonganmu itu kelewat keras, dasar bodoh!" kata Rukia sambil berlari dibelakang Ichigo.
"Maaf.." pinta Ichigo sambil tetap berlari.
"Argh! Minta maafpun tidak akan menyelesaikan masalah!" ucap Rukia kesal. Darah Ichigo mulai naik.
"Heh, cebol! Sukur-sukur aku sudah minta maaf!" ejek Ichigo kesal. Rukia ikut-ikutan naik darah.
"Heh, jangan mentang-mentang band mu itu pendatang baru yang sedang naik daun kau jadi belagu, ya! Begini-begini aku seniormu, kepala duren!" Rukia balas mengejek.
"Apa katamu, maniak kelinci?" tantang Ichigo.
"Dari mana kau tahu aku suka kelinci?" tanya Rukia heran. Ia memang tidak pernah menyebutkan bahwa dirinya suka kelinci saat ditanya oleh pers. Pikirannya agak teralih sehingga larinya menjadi lebih lambat.
"Hei, bodoh! Jangan memperlambat larimu! Lihat ke belakang!" sahut Ichigo kesal sambil mencoba meraih tangan Rukia untuk ditarik sehingga larinya pun ikut melambat. Angin kencang berhembus tiba-tiba sehingga topi Ichigo jatuh. Saat hendak menangkapnya, kacamatanya ikut lepas.
"HEI! ITU ICHIGO KUROSAKI VOKALIS BAND EYOS!" teriak orang itu lagi. Bertambahlah orang yang mengejar mereka. Beruntung, mengingat tempat yang sempit dan terlalu banyak orang yang mengejar mereka, fans-fans yang berlomba mengejar idolanya tersebut tersendat dan kemudian jatuh menimpa badan masing-masing.
"Huah!" ucap Rukia lega sambil kembali memasang penyamarannya bersama Ichigo di tempat yang menurut mereka sudah agak aman untuk berhenti, yaitu di belakang Karakura Trade Centre yang sangat sepi. Jarang sekali ada orang yang berlalu-lalang disana. Walaupun gang yang tadi mereka labuhi untuk mengobrol sama, di belakang Karakura Trade Centre ini lebih sepi karena terkenal berbahaya untuk dilalui orang. Banyak cerita yang mengatakan kalau di tempat ini banyak penunggunya.
"Hei, Rukia." panggil Ichigo tiba-tiba.
"Ya?" ucap Rukia.
"..... apa kau tahu, kenapa dunia sekarang menjadi seperti ini?" tanya Ichigo.
"Maksudmu?" tanya Rukia balik bingung.
"Kenapa aku dan aku bisa menjadi artis, dan semua keanehan yang dialami orang-orang! Kau pasti tahu, kan!?" tanya Ichigo tiba-tiba memaksa.
"Apa maksudmu? Aku memang sudah jadi model sejak kecil, dan kau.. aku tidak tahu sejarahmu, kau yang tahu. Sudah puas kan? Ayo pergi sebelum orang-orang menemukan kita!" jawab Rukia buru-buru sambil menarik tangan Ichigo, tetapi rupanya Rukia kurang kuat sehingga banyak dari tenaga yang dipakainya tersebut terkuras sia-sia.
"Jangan bohong!" bentak Ichigo.
"Aku tidak bohong! Memang begitu dari awal! Justru kau yang aneh menanyakan hal begitu padaku!" Rukia balas membentak. Keheningan terjadi tiba-tiba setelah adu mulut mereka tersebut.
"… ya sudah, lebih baik sekarang kita kembali ke tempat latihan bandku. Kau ikut saja." putus Ichigo agak sebal.
"Oke.." jawab Rukia setuju dengan nada agak ketus. Ichigo yang tadinya berjalan dengan cepat yang hampir tidak tersusul Rukia, berhenti tiba-tiba. Rukia yang berlari menyusul Ichigo pun tertabrak punggung besarnya.
"Aw! Ada apa?" tanya Rukia heran sambil mengusap wajahnya yang sakit dan mendongakkan kepalanya ke depan wajah Ichigo.
"..... tempatnya dimana ya..?" tanya Ichigo polos. Sebuah tonjokan keras mendarat mulus di kepalanya.
"AW! Apa-apaan sih kau!?" Ichigo naik darah lagi.
"Tentu saja aku harus memukulmu! Semua orang yang berada di posisiku sekarang pasti akan melakukan hal yang sama!" jawab Rukia kesal.
"Dasar pendek.. oh iya, kalau tidak salah, tadi Renji memberitahuku.." ucap Ichigo sambil berusaha mengingat-ingat yang terjadi di limo tadi.
"Ah! Di.. Ke.. ke.. ah, aku lupa namanya.. daerahnya di.. kota Karasu, jika aku tidak salah mengingat.." ucap Ichigo. Rukia mengepalkan tangan kanannya sambil menepuknya ke tangan kirinya.
"Maksudmu Kenpachi Music Studio?" tebak Rukia.
"Kenpachi?" gumam Ichigo heran.
"Kenapa?" tanya Rukia bingung.
"Pemiliknya Kenpachi Zaraki kapten divisi 11?" tanya Ichigo.
"Kapten divisi 11?" tanya Rukia bingung.
"Kau tidak tahu?" tanya Ichigo heran. Rukia menggelengkan kepalanya. Benar-benar sebuah Déjavu.
".....tidak mungkin kau tidak tahu.. sebenarnya ada apa dengan orang-orang..? Padahal Hogyoku telah dihancurkan kemarin.." tanya Ichigo putus asa kepada dirinya sendiri. Kemudian Rukia mencetikkan tangannya tepat di depan wajah Ichigo.
"Coba kita bicarakan di Starbucks sebentar,"
"Jadi.. sebenarnya apa yang terjadi padamu?" tanya Rukia sambil menyedot Caramel Machiato-nya.
"Maksudmu?" tanya Ichigo bingung.
"Apakah kau terbentur atau sesuatu,.. sehingga menyebabkan kau jadi hilang ingatan begini." jawab Rukia.
"Sudah kubilang, aku tidak hilang ingatan! Kalianlah yang aneh! Aku yakin pasti dia masih hidup! Sudah kubilang lebih baik membunuhnya!" ucap Ichigo penuh emosi.
"Siapa?" tanya Rukia antara tertarik dan tidak tertarik.
"Aizen Sosuke.. setan itu.. sial.." maki Ichigo. Rukia hanya ber-ooh sambil melanjutkan minumnya. Entah kenapa tiba-tiba ia merasakan sakit kepala yang amat sangat.
"Ah.. akh..!" rintihnya tertahan sembari memegang kepalanya yang seakan-akan ingin meledak. Caramel Machiato yang dipegangnya pun jatuh ketanah.
"H-hei, kau kenapa?" tanya Ichigo panik, kemudian mencoba menyentuhnya.
"JANGAN SEN-TUH!!" bentak Rukia.
"Kau ini kenapa!? Apa yang ter--"
"Tidak.. aku tidak.. tahu.." ucap Rukia pelan, memotong kalimat Ichigo. Tiba-tiba badannya mendadak panas.
"Ukh.."
"...... mau tidak mau aku harus menyentuhmu! Jika tid—AW!! Panas! Kau demam!?" tanya Ichigo panik. Rukia mengangguk. "Sepertinya.." jawab Rukia pelan sambil mencoba menahan sakitnya. Karena badannya sudah tidak kuat, kemudian Rukia kehilangan kesadarannya dan jatuh pingsan.
"Gawat.." ucap Ichigo khawatir. Tanpa berpikir panjang, Ichigo langsung membawa Rukia ke rumahnya dengan taksi.
"Ting tong," Ichigo memencet bel rumahnya dengan agak serampangan karena diluar dugaan, badan Rukia lumayan berat. Setelah seorang pelayannya membukakan pintu untuknya, Ichigo langsung berlari menaiki tangga ke atas dan meletakkan Rukia di kasurnya.
"Fiuh," ucap Ichigo lega. Kemudian ia merenggangkan otot-ototnya yang pegal sambil berjalan keluar kamarnya untuk mencari ayahnya.
"Ayah," panggilnya sambil menepuk bahu ayahnya yang tengah menatap foto almarhum istrinya.
"Oh, kau sudah pulang? Ada apa?" respon ayahnya sambil menyembunyikan kesedihan hatinya sambil mencoba tersenyum.
".... ayah sedang apa?" tanya Ichigo mengalihkan tujuannya. Ia tahu ayahnya sedang sedih.
"Tidak usah mengalihkan pembicaraan. Ayah tahu kau bukan ingin berbicara tentang hal itu." ucap Isshin sambil tersenyum. Ayahnya yang sekarang benar-benar membuat Ichigo takjub. Dulu ia adalah seorang ayah yang berisik, namun sekarang pembawaannya menjadi tenang. Sedikit rasa kangen pada sikap ribut ayahnya sedikit terbesit dalam hatinya.
Ichigo menghela nafas berat, lalu kemudian berkata, "Tadi sore, aku melarikan diri dari tempat latihan karena tidak ingin diomeli oleh Renji. Pokoknya singkatnya di tengah jalan aku bertemu Rukia Kuchiki dan.." ucap Ichigo tertahan. Ia agak ragu untuk melanjutkannya karena mungkin ayahnya yang sekarang tidak seperti dulu, yang dengan mudahnya mengizinkan orang keluar-masuk rumahnya dengan serampangan.
"Kau jatuh cinta padanya?" goda ayahnya sambil mengedip-ngedipkan matanya. Wajah Ichigo memerah tiba-tiba.
"Ti-tidak! Enak saja! Bukan itu yang kumaks--" sebelum selesai mengucapkan kalimatnya, Isshin sudah melompat ke foto pajangan super besar bergambarkan istrinya.
"Masaki.. akhirnya anak kita sudah bisa mencintai wanita.." ucap Isshin terharu. Raut wajah Ichigo berubah masam. Ternyata ayahnya yang dulu dan yang sekarang hampir tidak ada bedanya.
"Aku tidak jadi saja," ucap Ichigo agak kesal sambil berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Meninggalkan Isshin yang masih terharu dengan dunianya.
"Ng..?" Rukia terbangun saat mendengar seseorang membuka pintu. Dirinya yang masih mengantuk mengucek matanya agar setidaknya bisa melihat orang tersebut.
"Kurosaki..?" panggil Rukia pelan sambil mencoba duduk. 'Oh iya, kalau tidak salah tadi aku memang sedang bersamanya.. tapi ini dimana..?'
"Eh, kau sudah bangun? Jangan duduk dulu, tidur lagi sana." ucap Ichigo sambil berjalan ke kasurnya lalu mendorong jatuh badan Rukia dengan hati-hati.
"Ini dimana?" tanya Rukia bingung.
"Rumahku. Aku tidak tahu harus kemana lagi jadi ya.. kubawa kau ke rumahku untuk dirawat sedikit. Tadinya aku ingin meminta ayah untuk mengobatimu. Tapi tadi ia menyebalkan, jadi kau kurawat sendiri saja. Tidak apa-apa kan?" jawab Ichigo sambil mengambil obat demam dan menyodorkannya pada Rukia. Lalu Ichigo membantu Rukia duduk kembali dan meletakkan bantal sebagai senderannya.
"Maaf,"
"Eh?"
"Maaf sudah membuatmu repot, sampai disuruh tidur di kasurmu pula, padahal aku orang lain." ucap Rukia pelan. Lalu ia menelan obatnya dibantu air mineral yang disodorkan Ichigo.
"......tidak apa-apa, aku sudah biasa." ucap Ichigo sambil mengambil gitarnya.
"Kau bisa main gitar?" tanya Rukia takjub.
"Tentu saja.. kalau tidak, gimana mau jadi vokalis band?" jawab Ichigo bangga dengan memasukkan status 'vokalis band' nya yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kemampuan bermain gitarnya. Ia memang sudah bisa memainkannya dengan lihai.
"Bisa main lagu apa aja?" tanya Rukia penasaran. Ichigo mencoba mengingat lagu apa saja yang bisa ia mainkan dulu.
"Mmm.. tergantung sih.. kau mau aku memainkan lagu apa?" tanya Ichigo balik sambil mencoba mencari sesuatu yang sejenis mp3 player untuk dipilih Rukia. Dibawah mejanya ia menemukan sebuah iPod touch berwarna hitam yang juga sudah lama diidamkannya.
"I-ini, pilih lagunya disini." ucap Ichigo gugup sambil menyodorkan iPod tersebut kepada Rukia. Kemudian Rukia mulai memilih.
"Kalau ini boleh tidak?" tanya Rukia setelah melihat beberapa judul lagu lalu menyodorkan iPodnya balik kepada Ichigo. Ichigo kemudian melihat lagu yang dipilih Rukia tersebut.
The Last Night (demo) by Exygency of Slayer
"Boleh?" tanya Rukia berharap.
"Yah.. tapi jangan sebar keberadaan lagu ini pada siapa-siapa ya, masalahnya ini masih demo, belum di publish." jawab Ichigo sembari mengandalkan pengetahuan band-nya. Walaupun di dunia 'sebelum dunia aneh ini' ia bukan orang terkenal, ia tahu lumayan banyak tentang band.
"Oke!" janji Rukia girang. Ichigo mendengarkan lagu tersebut sampai habis, kemudian mulai menoba memainkannya sambil menyanyikannya. Kemampuan Ichigo yang sangat langka membuatnya bisa memainkan dan menyanyikan sebuah lagu hanya dengan 2-3 kali mendengarkan.
"You come to me with, scars on your wrist, you tell me this will be the last night, feeling like this." Ichigo berhenti menyanyikan lagu tersebut sambil berpikir.
"Ada apa?" tanya Rukia yang tidak sabar ingin mendengar lanjutannya. Akhirnya ia tahu mengapa lagu yang dinyanyikan EYOS sangat banyak peminatnya. Hanya dengan mendengar intronya saja pendengar langsung ingin mendengar lanjutannya.
".....sepertinya bagian ini lebih bagus jika perempuan yang menyanyikannya." ucap Ichigo sambil mencari-cari kunci yang pas untuk nada lagu selanjutnya.
"......bilang saja kau ingin aku menyanyikannya." ucap Rukia agak tersipu. Ichigo menganggukkan kepalanya.
"Tapi badanmu sudah agak baikkan kan?" tanya Ichigo sambil memegang dahi Rukia. Suhunya sudah mendingan.
"Oke.. bagaimana nadanya?" tanya Rukia. Ichigo menyodorkan iPodnya lagi pada Rukia. Setelah selesai mendengarkannya, Rukia pun mencoba menyanyikannya.
"Wow, suaramu.. bagus sekali." puji Ichigo. Rukia tersipu sedikit.
"Makasih.." ucap Rukia sambil tersenyum kecil.
"Sudah dulu testnya, sekarang kita coba memainkannya." ucap Ichigo, bersemangat. Kemudian ia mulai menyanyikan intronya sambil memainkan gitarnya. Setelahnya, disambung oleh Rukia. Mereka berdua menyanyi sampai lagu itu habis.
"I won't let you say goodbye, and I'll be your reason why.. last night, away from me.. away from me." Ichigo selesai menyanyikannya. Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan dari luar kamar.
"Siapa?" tanya Ichigo sambil berjalan keluar kamarnya, ingin melihat siapa yang bertepuk tangan diluar. Setelah membuka pintunya, ia melihat Yoruichi dan seorang gadis berambut biru tua panjang bersamanya yang wajahnya sangat familier, tapi Ichigo tidak tahu siapa dia.
"Bagus sekali! Itu lagu untuk album baru, kan?" tanya gadis itu.
"I.. iya.. makasih.." ucap Ichigo malu.
"Yuki!" panggil Rukia tiba-tiba sambil berlari menuju gadis bernama Yuki itu.
"Ternyata kau disini toh.. kucari ke mana-mana.. ternyata kau berduaan dengan Kurosaki.." ucap Yuki heran sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Hehe.. maaf ya.." pinta Rukia.
"Sudah dulu senang-senangnya. Aku kesini bukannya tanpa tujuan. Ada sesuatu yang sangat penting yang harus ku beritahukan pada kalian berdua." ucap Yoruichi serius.
"Apa?"
Gyahaha akhirnya saya ngelanjutin juga! XD ada yang gregetan ga? Nggak? Hehehehe gapapa deh
Mau tau lagu The Last Night by Skillet kayak gimana? Download disini -- (http://www./get/64984558/8ea09c23/Skillet_-_The_Last_), niscaya anda akan tertular virus Skillet-obsessed dari saya.. huahahahaha..-_-
Maaf ya semuanya, aku udah sebulan lebih ga muncul. Itu semua gara-gara semua yang dibilangin sama Renji di fic The Best Day On Her Life ^^; tugas-tugas emang gila. Ck.
Review ditunggu! :D :D thankss for read! :3
