"Yang kau maksud cinta pertama itu, Hoshi?"

Jihoon tersenyum penuh arti. "Kurasa kau sudah tahu jawabannya, hyung."

"Kau ini, cinta pertamamu waktu sekolah dasar, 'kan?" Seungcheol terkikik.

"Benar, hyung. Dulu dia seperti pahlawan, membela disaat yang lain merendahkan dan menghinaku."

"Tsk, cinta monyet. Lalu kau tahu dimana dia sekarang?"

Wajah Jihoon berubah sedikit muram, namun dia tetap tersenyum. "Tidak tahu, hyung. Terakhir aku bertemu dengannya bahkan saat kelulusan sekolah dasar, dia memberiku ini.." Pemuda berambut keunguan itu mengeluarkan sebuah kalung dari balik bajunya. "Lihat, ada lubang kunci di liontin ini.."

Seungcheol yang menyimak dengan seksama penuturan Jihoon, mengangguk-anggukkan kepalanya. "Lalu?"

"Kunci dari liontin ini, dipegang olehnya." Memasukkan kembali kalung itu ke dalam bajunya. "Dia bilang, suatu saat nanti, kita akan bertemu kembali dan dia akan membuka liontin ini. Aku tidak tahu apa maksudnya, hanya merasa bahwa aku harus menjaga liontin ini sampai kami bertemu lagi."

"Cinta monyet yang manis, Jihoon."

Jihoon terkikik.

(-)

"Hei, Soonyoung, bukankah kau tak pernah menceritakan cinta pertamamu?"

"Iya, benar,"

"Bahkan saat kami membicarakan tentang kekasih atau hal-hal yang berhubungan dengan cinta, kau hanya tersenyum,"

"Kau selalu sendirian saat pergi bersama kami, padahal kebanyakan dari kami sering membawa pasangan,"

"Saat ditanya tentang pasangan, pun, kau selalu saja tersenyum dan menjawab tidak punya."

"Aku ragu kau tidak punya pasangan, ataupun tidak pernah jatuh cinta."

Soonyoung hanya tersenyum kecil.

"Aku memang tidak punya pacar." Ujarnya tenang.

"Tapi, setidaknya kau pernah jatuh cinta, 'kan?" celetuk salah seorang pemuda.

"Ya… pernah," Pemuda berambut kebiruan itu terkikik. "Dan mungkin kisah cintaku ini lebih manis daripada kisah cinta kalian semua."

"Kalau begitu, ceritakanlah!"

"…."

(o)

"Aku merindukanmu, Soonyoung."

Jihoon memandangi liontin yang saat ini berada dalam genggamannya. Liontin pemberian Hoshi—cinta pertamanya. Liontin yang juga saksi bisu perpisahannya dengan Hoshi. Liontin yang mengikat mereka, sampai keduanya bertemu kembali.

Dia merindukan Hoshi.

"Kau dimana sekarang, Hoshi? Apakah kau di Seoul?"

"Apa kabarmu? Apa kau baik? Ataukah sakit? Semoga cepat sembuh,"

"Sudah lama semenjak kita terakhir bertemu, Hoshi,"

"Bisakah kita bertemu lagi?"

"Kau harus menepati janjimu untuk membuka liontin ini.."

Bermonolog sendiri dalam keheningan ruangan pribadinya. Suaranya berubah serak sekarang, matanya berkaca-kaca. Seakan ingin menangis.

"Hoshi, apa kau.. mengingatku?"

Airmata meleleh, mengalir dari kedua matanya. Pertahanannya jebol sudah. Dia menangis. Pemuda itu menangis.

"Aku…hiks…merindukanmu!"

(o)

"Ehem," Seungcheol berdehem. Jihoon tersentak karena deheman pemuda yang lebih tua itu cukup keras.

"Kenapa, hyung?" tanya Jihoon polos.

"Jadi ini alasan kenapa kau mengajakku pergi ke perpustakaan, hm?" Alih-alih menjawab, Seungcheol justru balik melempar pertanyaan pada Jihoon.

Jihoon—refleks menengok kebelakang—sekumpulan pemuda di pojok ruangan. Tentu saja. Ada Soonyoung disana.

Pemuda mungil itu terkekeh, "Well, bisa saja kau, hyung," kembali ia menoleh kearah Soonyoung. "lihat dia, dikelilingi teman-temannya. Bercanda, seperti anak kecil yang polos, selalu bahagia." Berucap tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari Soonyoung—meskipun tengah berbicara dengan Seungcheol.

"Karena itu kau menyukainya?"

"Tidak—bukankah sudah kubilang, hyung? Aku tidak menyukainya." Menatap Seungcheol polos dengan senyuman lebarnya.

Seungcheol mengibaskan tangannya. "Ya, ya. Menurutmu dia bersinar, 'kan?"

Dan tawa Jihoon lepas seketika.

"Benar. Aku iri padanya, hyung. Aku ingin sepertinya, yang selalu dikelilingi orang-orang, dan semua menyukainya." Menghembuskan nafas kasar. "Sedangkan aku? Siswa biasa yang tidak punya teman, hanya kau saja temanku, bahkan sebentar lagi kau lulus. Haaah,"

"Jangan hanya iri, berusahalah mendapat teman, Jihoon."

"Ya, tapi.. sepertinya akan susah."

"Atau, cobalah berteman dengan Soonyoung?"

"Eh—" Jihoon tersentak. Mata sipitnya membulat. "Berteman… dengan… Soonyoung?"

"Benar, itu bisa menjadi batu loncatan bagimu. Jika kalian berteman, bukankah bagus? Temannya akan menjadi temanmu juga, bukan?"

Pandangan Jihoon kembali mengarah pada Soonyoung dan teman-temannya.

"Batu loncatan, ya?"

(o)

Jihoon berjalan pulang dengan wajah kusut yang ditekuk, langkahnya pun gontai. Dia pulang sendiri, tidak seperti biasanya. Setiap hari Seungcheol akan menemaninya pulang karena rumah mereka berdekatan, namun tidak dengan hari ini. Pemuda yang lebih tua darinya itu ada jam tambahan untuk persiapan ujian. Karena itulah, dengan sangat terpaksa, ia pulang sendirian hari ini.

"Menyebalkan." Gumamnya kesal. Pemuda itu mengusap peluh yang bercucuran di sekitar wajahnya. Cuaca begitu terik, yang menyebabkan peningkatan produksi keringat.

"Hei! Menyingkir dari jalanku!" Seorang pria berlari dengan kencang menuju kearah Jihoon. Dan di belakang pria itu, seorang pemuda berseragam sekolah yang sama dengan Jihoon, berlari mengejar si pria.

Jihoon sempat menoleh, sebelum—

Dugh.

"Ahh, sakit.." Jihoon mengerang. Dia jatuh tersungkur.

Pria tadi menabraknya.

"Kembalikan dompetku, dasar pencuri!"

Jihoon menoleh. Mendapati satu pemuda yang nampak marah, dan satu pria yang nampak putus asa. Siapa mereka? Apa yang terjadi? Jihoon tidak tahu.

"Baiklah, baiklah. Kukembalikan dompetmu,"

Pemuda mungil itu ber-'oh' ria. Sepertinya pria itu pencuri dompet, dan pemuda itu orang yang dompetnya dicuri.

Setelah terjadi transaksi pengembalian dompet, pria itu lari terbirit-birit. Dalam hati, Jihoon terkesan akan aksi si pemuda yang berani mengejar dan sampai meminta dompetnya kembali setelah sempat dicuri.

Jihoon mengamati pemuda itu. Seragam mereka sama, bahkan dengan emblem kelas yang sama; kelas dua. Rambut kelabu yang sedikit acak-acakan, badan yang proporsional—tak terlalu kurus ataupun gemuk. Dan—

Tunggu.. rambut kelabu?

Kedua onix hitamnya membulat seketika saat pemuda itu menoleh padanya.

Kwon Soonyoung.

"Kau tidak apa-apa? Pria itu sempat menabrakmu tadi." Pemuda Kwon itu menghampiri Jihoon. Alih-alih menjawab dengan untaian kata, Jihoon hanya mengangguk kecil.

"Terimakasih untuk bantuanmu barusan, ya. Uhm.. lebih tepatnya bantuan tidak sengaja." Soonyoung tersenyum kecil. Si lawan bicara menunduk dan ikut tersenyum.

"Kau kelas dua juga, ya? Aku tidak yakin kita saling mengenal. Namaku Kwon Soonyoung." menyodorkan tangannya pada Jihoon.

Jihoon sedikit tersentak melihat uluran tangan Soonyoung padanya. Uluran tangan berarti berkenalan, dia tahu itu. Balas uluran tangan itu, katakan siapa namamu, lalu kalian saling mengenal—Jihoon membacanya di salah satu buku dari perpustakaan.

Haruskah…?

Jihoon bimbang. Haruskah ia membalas uluran tangan Soonyoung? Haruskah ia memberitahukan namanya pada Soonyoung? Haruskah mereka saling mengenal?

"Benar, itu bisa menjadi batu loncatan bagimu. Jika kalian berteman, bukankah bagus? Temannya akan menjadi temanmu juga, bukan?"

Ucapan Seungcheol di perpustakaan siang tadi tiba-tiba muncul di benaknya.

Batu loncatan, ya?

"Uhm…aku…" Pemuda mungil itu bergumam kecil.

"Ya?"

"Jihoon. Lee Jihoon." Ucap Jihoon cepat tanpa membalas uluran tangan Soonyoung. Pemuda itu memalingkan wajahnya. Tidak berani menatap Soonyoung.

Soonyoung tertawa kecil melihat Jihoon. "Hei, Jihoon? Kau kenapa memalingkan wajahmu?" Pemuda yang lebih tinggi dari Jihoon itu mengubah posisinya menjadi tepat didepan wajah Jihoon.

Jihoon memerah saat mengetahui Soonyoung berada tepat didepan wajahnya. Refleks ia menundukkan kepalanya, demi menyembunyikan wajahnya yang memerah.

Meskipun Jihoon menundukkan kepalanya, Soonyoung masih dapat melihat pipi Jihoon yang sedikit memerah.

"Pipimu merah, kau sakit?"

"Ti-tidak!" Sergah Jihoon lalu membalik badannya membelakangi Soonyoung.

"Ehei, kenapa tingkahmu lucu sekali sih, Jihoon?" Entah kenapa Soonyoung jadi ingin menggoda Jihoon sekarang, melihat tingkah pemuda yang lebih pendek darinya itu.

"Be-berisik!" Jihoon menutup telinganya rapat-rapat. Lalu pemuda itu lari.

Meninggalkan Soonyoung yang terkikik kecil.

"Pendek, kecil, lucu.." Dia tersenyum. "Mengingatkanku pada seseorang."

Soonyoung baru saja akan melangkah saat ia melihat sesuatu di tanah. Sesuatu berkilauan memantulkan sinar matahari yang menerpa.

Soonyoung berinisiatif mengambil benda yang ternyata sebuah liontin itu.

"Liontin? Milik siapa?" Pemuda itu bertanya-tanya sambil memperhatikan liontin itu dengan seksama. Bentuk liontin itu tidak biasa dengan rupa seperti berlian dengan lubang kunci ditengahnya. Namun terlihat bagus dan artistik.

Tiba-tiba Soonyoung teringat sesuatu.

Sesuatu tentang masa kecilnya—apa itu, Soonyoung kurang tahu. Yang jelas, rasanya seperti liontin ini sangat familiar dengannya. Tapi.. ini kali pertama ia melihat liontin ini.

Milik siapa dan apa hubungan liontin ini dengan masa lalunya, Soonyoung merasa jawaban atas pertanyaannya ini akan terjawab nanti.

Sampai saat itu, sepertinya ia akan menyimpan liontin ini dahulu.

( tbc )

Hai. Hai. Hai. /gak

Saya kembali! Say 'manse'! /apasihlu/

Teheee. Maafkan saya baru update, ya? T_T saya bener-bener nggak ada waktu untuk ngetik ff. ya, maklum anak kelas 12 (calon maba, uhuk.) Yah, maafin aja ya kalau telat update, sekalinya update, ceritanya makin gaje orz maafin~~ Yang nunggu Strobe Edge (meanie fanfict) juga, diharapkan bersabar, ya :") setelah unas, saya janji mau post fanfict dan jadi lebih aktif. Doakan saja semuanya lancar, dari try out, ujian sekolah, ujian praktek, snmptn dan sbmptn juga… Aamiin!

Akhir kata, terimakasih apresiasinya. Review, follow dan fav, semuanya saya hargai.

See you next chapter!