Kazuma House Production present…
The Byun
.
.
.
Chapter 1 : Proposal
.
.
.
Dalam sembilan belas tahun hidupnya, baru kali ini Baekhyun mendapat sebuah lamaran.
Matanya mengerjap-ngejap tak percaya pada sosok bertubuh jangkung yang kini berlutut di hadapannya. Park Chanyeol adalah sahabatnya sejak kecil. Mereka berbagi segalanya. Mulai dari makanan, cerita, PR, sampai ciuman pertama. Hal-hal pertama yang Baekhyun alami hampir semuanya ia lalui bersama Chanyeol.
"Kau serius, Do Bi?" tanyanya nyaris terdengar seperti cicitan.
Hari ini merupakan salah satu hari di tengah musim panas, ketika banyak orang berbondong-bondong pergi ke pantai hanya untuk bermain air atau menghitamkan kulit. Lain halnya dengan mereka, Chanyeol dan Baekhyun memilih mengendap di lapangan basket sekolah mereka dulu sambil menikmati ssang ssang bar yang dibagi berdua. Hingga akhirnya Chanyeol tiba-tiba berlutut di hadapannya sambil mengeluarkan sebuah cincin.
Baekhyun mengamati cincin itu lamat-lamat. Ia pernah melihat cincin itu di foto pertunangan kedua orang tua Chanyeol. Bibi Junsu, ibu Chanyeol, dulu bercerita kalau cincin tersebut adalah cincin turun-temurun milik keluarga Park yang akan diwariskan pada putra pertama di keluarga mereka. Chanyeol sendiri adalah pemegang kelima dari generasi sebelumnya.
Cincin itu, meski usianya sudah sangat tua, tetap terlihat berkelas dan elegan seolah memang didesign agar tetap terlihat up-to-date setiap waktu. Warnanya kuning mengkilap, dengan batu giok berukirkan hanja sebagai matanya—entah apa artinya.
"Aku tidak pernah seserius ini, Baek," jawab Chanyeol. Baekhyun bisa melihat ada sebuah keyakinan besar di mata Chanyeol ketika sepasang mata besar itu menatap mata sipitnya. Sayang, Baekhyun berusaha menepisnya.
"Kita bukan sepasang kekasih," elak Baekhyun mencari-cari alasan. "Kita juga masih terlalu muda untuk menikah. Masih sembilan belas tahun, Yeol. Bahkan umurmu belum genap sembilan belas."
"Lalu kenapa?" Chanyeol bertanya seolah itu bukanlah masalah yang berat. "Kita sudah saling mengenal sejak masih memakai popok. Aku bahkan sudah sangat hafal dengan semua kebiasaanmu lebih daripada semua sahabatmu." Tangan besarnya meraih tangan Baekhyun dan menggenggam jemari lentiknya. "Aku hanya ingin mematenkanmu sebagai milikku."
Baekhyun menghela napas. Ia menarik jemarinya perlahan lalu mengangkup sebelah tangan Chanyeol dengan tangannya yang tidak sedang memegang batang ssang ssang bar. "Aku akan segera debut, Yeol. Kau mengerti aturan mainnya." Ibu jarinya mengusap pipi Chanyeol. "Aku takkan kemana-mana."
"Ragamu mungkin tidak, tapi hatimu? Siapa yang tahu?" Chanyeol menutup kembali kotak beludrunya, mendesakkannya di saku celana, lalu kembali duduk di samping Baekhyun.
Baekhyun melempar sembarangan batang kayu di tangannya lalu menyandarkan kepalanya di pundak Chanyeol. Ia menepuk-nepuk bisep Chanyeol yang terekspose begitu jelas karena lelaki itu hanya mengenakan sebuah sleeveless. Bibirnya bergerak, melantunkan sebait lagu anak-anak bernada ceria.
Chanyeol ingat, Baekhyun selalu menyanyikan lagu itu ketika mereka bertengkar dan Baekhyun mengalah meminta maaf. Terakhir kali Baekhyun menyanyikan lagi itu ketika mereka mulai menginjak bangku kelas dua sekolah dasar. Setelahnya lagu itu tidak pernah bekerja sebagaimana fungsinya dulu hingga hari ini ini lagu itu kembali bekerja di hati Chanyeol. Amarah yang mulanya memuncak, pelahan kandas bersamaan dengan lirik yang semakin mendekati akhir lagu.
Chanyeol menunduk, menatap wajah imut yang terlihat natural tanpa make-up. Ia semakin merunduk, mendekatkan bibirnya ke bibir yang merahnya seperti buah strawberry. Ia menekan bibir itu, saling bergerak, menyatakan kepemilikan masing-masing, saling menakhlukkan satu sama lain.
Baekhyun tidak menolak. Ia menikmati tiap gerakkan bibir tebal yang menguasai bibirnya. Tangannya meraih tengkuk Chanyeol, menekan kepala itu semakin dekat dengannya. Lenguhan sudah berkali-kali terdengar dari keduanya hingga akhirnya Chanyeol melepaskan diri, menyisahkan benang-benang saliva dan napas yang tak beraturan.
"Kau milikku selamanya, Baek."
.
.
.
.
.
Baekhyun mengelap kasar peluh yang menetes di dahinya. Senyum ceria terus-terusan mengembang di wajahnya. Ia berlari mengitari panggung, menyapa penggemarnya yang mayoritas berasal dari Jepang. Ia tidak merasa lelah sama sekali.
Hari ini adalah salah satu rangkaian konser solo tur dunia-nya, sekaligus konser solonya yang ke empat sejak dia debut enam tahun lalu. Hari ini juga bertepatan dengan ulang tahunnya. Ia bisa melihat banner-banner, slogan towel, ataupun papan nama LED bertuliskan namanya mengucapkan selamat ulang tahun. Tokyo Dome tidak hanya terlihat ramai dengan light stick warna pink berbentuk strawberry, tapi juga teriakan membahana dari seluru penjuru.
Matanya tak sengaja mendapati sosok bertubuh jangkung duduk di salah satu kursi VVIP sambil menggoyang-goyangkan light stick strawberry pink-nya. Baekhyun tertawa. Dia terlihat seperti seorang fanboy. Dengan semangat, Baekhyun melambaikan tangannya pada orang itu, membuat fans di sekelilingnya bergemuruh ramai.
Baekhyun segera berlari lagi ke tengah panggung, bergandengan dengan penari-penarinya. Mereka memberikan salam hormat sebelum akhirnya kembali ke belakang panggung yang berarti konser telah usai. Baekhyun langsung memeluk manager eonnie-nya begitu ia melihatnya di belakang panggung.
"Eonnie! Aku lelah sekali!" kata Baekhyun tanpa melepas pelukannya di leher perempuan yang sejak enam tahun lalu menjadi managernya. Ia bergelayut manja di pundak orang itu.
Taeyeon terkekeh melihat kelakuan anak asuhnya. "Makanya, cepat bersihkan make-upmu dan ganti baju supaya kau bisa segera tidur."
"Ayay, Captain!" balas Baekhyun ceria dan menurut. Ia segera menuju ruang rias. Seseorang langsung mendekat padanya bersama kapas dan sebotol cairan toner. Cairan mint itu langsung menyengat wajah Baekhyun. Gadis manis itu membiarkan wajahnya yang seakan sedang dipijat.
Setelah wajahnya polos tanpa make-up, Baekhyun mengganti bajunya menjadi sebuah kaos merah muda, cardigan putih, dan sebuah hotpants hitam. Ia menyambar tas Chanel terbarunya, lalu mengikuti Taeyeon menuju pintu belakang Tokyo Dome untuk menghindari fans.
Sepanjang perjalanan, Baekhyun tidak berhenti mengutak-atik ponsel touch screen miliknya. Wajahnya cengar-cengir seperti seorang bocah TK yang barusan mendapat permen. Entah apa yang sedang ia baca, Taeyeon pun tidak tahu. Tak ada seorang pun yang diperbolehkan Baekhyun menyentuh ponselnya.
"Eonnie!" panggil Baekhyun. "Nanti boleh aku pergi jalan-jalan?"
"Bukannya kau bilang lelah? Memangnya kemana? Mau kutemani?" tanya Taeyeon penasaran sekaligus khawatir. Pengalaman menjadikannya lebih awas. Baekhyun pernah menjadi korban penculikan oleh fans-nya sendiri. Setelah seminggu, ia baru ditemukan di sebuah perumahan lama di daerah Busan. Karena itu Taeyeon tidak pernah membiarkan artisnya melanglang buana sendirian seperti waktu itu.
"Tidak usah." Baekhyun menggeleng. "Aku hanya mau berkeliling di sekitar taman dekat kolam renang. Eonnie tidak perlu khawatir."
Taeyeon tampak berpikir beberapa saat sebelum mengangguk. Sekalipun dilarang, Baekhyun akan tetap melawan. Jadi percuma saja. "Oke. Tapi jangan terlalu larut. Kau mendapat jam penerbangan jam sepuluh pagi ke Manila."
Gadis manis itu mebentuk tanda OK dengan kedua tangannya. "Okidoki."
Begitu van putih tersebut berhenti di depan sebuah hotel berbintang lima, Baekhyun segera turun dan mengambil jalan memutar menuju kolam renang yang tampak sepi malam ini. Ia sudah sangat hafal dengan seluk-beluk hotel tempatnya menginap karena ia selalu menginap di sini kalau sedang mendapatkan job di Jepang.
Hotel ini hanyalah salah satu dari aset kekayaan milik Keluarga Park. Selain karena lengkapnya fasilitas dan pelayanan yang memuaskan, ada hal lain yang membuat Baekhyun betah untuk kembali menginap di sini. Ia bisa dengan bebas menemui Chanyeol tanpa menimbulkan skandal.
Baekhyun memasuki lift yang ada di lorong lain lalu menekan tombol berangka tujuh. Lima menit kemudian, pintu otomatis berwarna emas dengan gambar samar burung phoenix itu terbuka. Ia berjalan keluar lalu berbelok ke arah kanan setelah mengambil langkah lurus.
Ia berhenti di depan sebuah pintu yang sekilas tampak seperti pintu kamar-kamar yang lain. Yang membedakan hanyalah pintu ini tidak memiliki plat nomor dan lubang kaca sebagaimana pintu-pintu lain. Baekhyun meraih sebuah kunci kartu dari dompetnya, menggesekkannya pada alat pemindai, hingga lampu kecil di alat itu berubah menjadi warna kuning.
Baekhyun mendorong pintu itu pelan-pelan dan melangkah masuk lalu menutupnya. Ruangan itu sangat gelap karena tidak ada satupun penerangan yang dinyalakan. Tahu-tahu sepasang tangan memeluk pinggang Baekhyun. Sebuah kepala tenggelam di ceruk lehernya. Tanpa harus melihat Baekhyun sudah tahu siapa orang itu.
"Tidak berniat mengucapkan selamat ulang tahun padaku, Do Bi?" tanya Baekhyun. Ia hanya dapat melihat tebalnya rambut hitam sosok di pundaknya tersebut.
"Selamat ulang tahun," kata Chanyeol dengan suara teredam.
Baekhyun hanya memutar mata. Laki-laki itu pasti lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya—atau sengaja melupakan supaya dia emosi.
Ia membiarkan Chanyeol mulai mencium bibirnya, melumatnya, menguasai bibirnya seolah itu miliknya—omong-omong, segala milik Baekhyun memang miliknya, kan? Perlahan-lahan ciuman itu turun menuju leher jenjang Baekhyun dan berubah menjadi cumbuan. Baekhyun memeluk Chanyeol, semakin mendekatkan wajah lelaki itu ke tengkuknya.
Dan kau tahu apa yang terjadi selanjutnya.
.
.
.
.
.
Kamar itu bernuansa temaram, menghadap langsung pada pemandangan perkotaan. Gorden jendela besar di samping kasur memang sengaja tidak ditutup. Kedua anak Adam dan Hawa tersebut berbaring. Sang perempuan menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang lelaki. Ia mendekatkan diri polosnya pada lelaki itu, mencari kehangatan.
"Baek," panggil Chanyeol tanpa menghentikan tangannya yang sejak beberapa menit lalu memainkan rambut panjang berwarna coklat milik Baekhyun. "Sampai kapan hubungan kita seperti ini? Menggantung tanpa status. Tidakkah kau merasa kita seperti friends with benefit?"
Baekhyun memeluk pinggang Chanyeol. Ia mendongak untuk melihat wajah tampan sahabatnya. "Menurutmu seperti itu?" Chanyeol tak menjawab. "Friends with benefit, berarti sex without love. Apa kita melakukan ini tanpa cinta?"
Chanyeol menghela napas gusar sambil mengacak rambutnya. "Kau tahu aku mencintaimu. Aku sudah melamarmu, tapi kau selalu menolak—pacaran pun kau tidak mau. Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Do you do this without love?"
Baekhyun merangkak untuk mengecup bibir tebal Chanyeol. Hanya sepersekian detik. "Saranghae."
Mata Chanyeol masih berkilat marah. Baekhyun tahu itu. "Aku tidak membutuhkan semua kata cinta itu, Baek. Aku butuh bukti." Kedua tangannya menangkup sepasang pipi tembam Baekhyun. "Kau membuatku terdengar seperti wanita, kau tahu?"
Baekhyun terkekeh. Ia menjatuhkan dirinya begitu saja sehingga menimpa tubuh besar Chanyeol. "Ayolah, Yeol. Kita sudah membicarakan ini berkali-kali. Just wait for me until I'm ready. I won't leave you. Lagipula umurmu juga masih dua puluh empat."
Ini yang tidak Chanyeol suka dari Baekhyun sejak dulu. Baekhyun terlalu menganggap semua masalah sepele, seolah-olah semua akan selesai dalam jentikan jari. Ia masih bisa tertawa-tawa ketika mereka sedang membicarakan tentang nasib hubungan mereka yang seperti layang-layang—sampai di langit tidak, jatuh di tanah pun tidak. Chanyeol jadi ragu, apa Baekhyun benar-benar serius dengannya atau tidak.
"Enam bulan lagi umurku dua puluh lima," sanggah Chanyeol, tidak terima dianggap anak kecil oleh Baekhyun. Perempuan itu hanya memutar mata bosan. "Sampai kapan aku harus menunggumu, Baek? Katakan waktunya dengan jelas. Setahun lagi? Dua tahun lagi? Sampai Kontrak-Tiga-Belas-Tahun-Bodohmu selesai?"
Baekhyun terdiam. Ia terduduk di pangkuan Chanyeol ketika lelaki itu menegakkan tubuhnya.
Kedua mata mereka bertemu. Mata Chanyeol penuh rasa putus asa seolah Baekhyun adalah bintang yang tak mungkin diraih. Ya, Baekhyun adalah sang bintang. Dan Sang Bintang seharusnya berdiri sendiri di tengah panggung, di tengah lautan manusia yang berharap belas kasihan Sang Bintang untuk turun menghampiri mereka.
"Kau tahu siapa aku. Aku Park Chan Yeol. Aku bisa memberimu uang lebih banyak dari semua pendapatanmu selama sebulan tanpa kau harus bekerja. Kenapa kau malah lebih memilih melelahkan dirimu sampai jatuh sakit?" tanya Chanyeol tidak mengerti dengan jalan pikir Baekhyun.
Perempuan itu menggedikkan bahunya. "Obsesi mungkin?" jawabnya tak yakin.
"Baek, jadi istriku, dan semua yang kauinginkan akan kupenuhi tanpa kau harus bekerja," janji Chanyeol. Lelaki itu tak pernah main-main ataupun ingkar janji dengan semua hal yang pernah ia katakan pada Baekhyun. Ia akan selalu menepatinya.
Perempuan berponi rata itu hanya melontarkan tatapan tak terbaca yang Chanyeol sendiri tidak mengerti. Cukup lama ia terdiam, menyisakan desiran angin dari pendingin ruangan menerpa kulit terbuka mereka. Chanyeol berpikir, dia telah melukai hati teman mungilnya ini.
Kedua tangan besar Chanyeol menyentuh bahu Baekhyun, membawa perempuan yang masih mematung itu ke dalam pelukannya. "Maaf, aku tidak bermaksud melukaimu." Chanyeol menciumi puncak kepala Baekhyun. "I took your virginity. Aku hanya tidak mau kau menyesal di kemudian hari."
"Apa semua ini hanya tentang tanggungjawabmu sebagai laki-laki?" Akhirnya Baekhyun angkat suara. Chanyeol tercekat mendegar pertanyaan perempuan dalam pelukannya. "Berarti pertanyaanku tadi tepat, kan? Kau yang tidak melakukannya karena cinta."
Chanyeol panik. "Bukan begitu, Baek. Karena aku mencintaimu, makanya aku mau melakukan ini. Kalau aku seperti lelaki hidung belang di luar sana, aku sudah pasti meninggalkanmu dari kemarin-kemarin, mencari perempuan lain yang bisa kutiduri."
Tapi Baekhyun terlalu keras kepala untuk mendengarkan kalimat Chanyeol. Ia hanya menganggapnya sebagai angin lalu. Ia meraih semua pakaiannya, lalu memakainya secara kilat. Tidak ada lima menit, ia sudah berpakaian lengkap kembali seolah tidak terjadi apa-apa kecuali rambutnya yang masih berantakkan.
"Kau mau apa, Baek?" tanya Chanyeol sambil cepat-cepat memakai celananya.
Lengannya mencekal pergelangan kecil milik Baekhyun, menghentikan pergerakan tangan Baekhyun. "Lepaskan, Yeol."
"Jangan kekanakan, Byun Baek!" seru Chanyeol membuat Baekhyun kaget. Tak pernah sekalipun Chanyeol berkata sekeras itu padanya dalam raut wajah tegang dan serius seperti sekarang. "Masalah kita belum selesai, jangan pernah berani angkat kaki dari ruangan ini."
"Menurutku masalah ini sudah selesai," jawab Baekhyun tak kalah dingin dari Chanyeol barusan. "Kau bisa cari perempuan lain yang rela kau nikahi sekarang. Yang pasti perempuan itu bukan aku." Baekhyun menyentak cengkraman Chanyeol hingga lepas. Ia meraih Chanel miliknya lalu keluar dari kamar Chanyeol menuju kamarnya sendiri di lantai empat.
Baekhyun membiarkan Chanyeol tercenung seperti orang bodoh. Lelaki itu mengacak rambutnya frustasi, menganggap semua tindakkannya bodoh. Ia mencintai Baekhyun seumur hidupnya. Ia hanya menginginkan Baekhyun menjadi pendamping hidupnya yang sah sebelum orang tuanya menunangkan dia dengan perempuan lain.
Chanyeol meraih ponselnya, mengetikkan sederet pesan singkat.
Aku selalu mencintaimu.
.
.
.
.
.
To Be Continue…
2.121 words
Yeah, saya melahirkan(?) FF baru. Tenang aja, MP2 nggak akan terlantar seperti FF saya di FNI ._.v
Updatenya cepet, kan? Awalnya mau diupdate tiap hari. Tapi karena kendala malas dan reunian tiap hari(?) updatenya jadi agak ngaret gini ._.v
Saya masih bingung sama rated-nya. Ditulis M, rasanya nggak M banget. Ditulis T rasanya udah menyimpang juga ._. T+ kali ya? Hahaha~
Yang pasti main pairing-nya ChanBaek. Sedangkan pairing yang lain numpang lewat #serasaduniacumapunyaChanBaek #eaa #plak
Thanks to: Blacknancho, Ekso, tomatocherry, ima .park, aiiu d'freaky, liJunYi, welcumbaek, Yeollbaekk, ParkOna, pinzame, ritaanjani4, chika love baby baekhyun, Fifia SPENSABAEXO138, chenma, kimsangraa, uwiechan92, pujochi exo, cascade, dan semua yang sudah membaca, fave, alert.
Sign,
Uchiha Kazuma Big Tomat
Finished at :
November 13, 2013
09.19 P.M.
Published at:
December 21, 2013
00.12 P.M.
The Byun © Kazuma House Production ® 2013
