D. Gray-Man © Hoshino Katsura

Warning! AU, slave!Allen, Kanda's language, MxM, typo(s), violence, bloody scene(s), etc.

Please enjoy! :)

.

Chapter 2 : Beansprout

.

.

Kanda memejamkan matanya. Pria berdarah Asia tersebut menghirup napas secara perlahan, sebelum kembali mengeluarkannya dengan perlahan pula—mencoba mengontrol emosi yang berdesakan di dalam dirinya. Kemudian ia membuka kedua kelopak matanya, memperlihatkan sepasang manik cobalt yang begitu pekat—menatap Komui dengan tatapan yang sulit diartikan. Pria tersebut duduk di sofa ruang kerja atasannya itu, saling berhadapan dan hanya dipisahkan oleh sebuah meja kaca.

Pelipisnya berkedut. Sekali.

"Jadi, satu-satunya orang yang selamat di mansion itu hanyalah seorang pemuda berumur 18 tahun?"

Komui hanya mengangguk, sebelum menyesap kopi yang sebelumnya telah disiapkan oleh Lenalee tercintanya.

Kanda hanya menundukkan kepalanya, membuat sang supervisor tak mampu melihat kedua matanya yang tengah tertutup di balik helai poninya. Napasnya terdengar agak bergetar, dan suaranya mulai merendah secara drastis.

"Dan dia tidak mau membuka mulutnya mengenai kasus ini—sama sekali?"

"Hm." Komui kembali mengangguk.

Rahang Kanda mulai mengeras, dan kedua alisnya pun saling menyatu.

"Dan kau menyerahkan bocah itu padaku, sampai aku bisa membuatnya berbicara?"

Komui pun kemudian menyadari, bahwa suhu di ruangannya sedikit menurun dari sebelumnya. Atau apakah itu hanyalah perasaannya saja? Mengangkat kedua bahunya, pria itu pun kembali menyesap kopi miliknya. Mengabaikan aura gelap di sekitar salah satu agen terbaiknya itu, yang seakan-akan tengah berusaha untuk menyeretnya ke dalam kegelapan neraka.

"Aku bukan pengasuh bayi, Komui." Sialan.

Jika bukan karena Komui sudah terbiasa dengan temperamen Kanda, ia pasti sudah melarikan diri dan bersembunyi di tempat terpencil agar ia bisa aman dari tatapan membunuh agen tersebut. Atau dari sasaran tebas Mugenyang—untungnya—sedang tidak dapat hadir menemani sang pemilik dengan temperamen yang sangat buruk itu.

Komui beserta seluruh staff yang bekerja di markas tersebut telah belajar dari pengalaman terburuk, tentang apa yang akan terjadi jika mereka membiarkan sang iblis berkeliaran dengan tongkat besinya*. Saat itulah mereka semua bersyukur, bahwa Kanda bukanlah seorang kriminal yang harus mereka tangani.

Meletakkan minuman kafein favoritnya di atas meja, Komui pun kemudian menggelengkan kepalanya dengan kesan kecewa.

"Kanda, dia berumur 18 tahun. jadi—"

"Dan kau pikir aku peduli?"

"—secara teknis, kau tidak akan menjadi pengasuh—"

"Secara harfiah, aku menjadi seorang pengasuh!"

—bayi."

Setelah menyelesaikan kalimatnya, supervisor Black Order tersebut hanya menatap datar Kanda. Dilihatnya wajah merah padam yang menghiasi pria unggulan organisasi tersebut, tanpa menyadari arah lirikan pria itu pada sebuah vas yang terpajang manis di tengah meja.

Pria berkacamata itu kemudian melanjutkan, "Kau akan ditugaskan sebagai seorang pengawal, Kanda."

Sudut bibir pria yang tersebut namanya itu berkedut sekali.

"Sayang sekali, belum banyak data yang bisa kita kumpulkan tentang pemuda misterius itu…" ucap Komui menghela napas. Namun kemudian ekspresinya langsung berubah 180 derajat. Senyuman cerah kembali terukir di wajahnya—

"Tapi tenang saja! Ia saat ini sedang berada di salah satu ruangan khusus order, jadi kau bisa langsung ke sana dan berkenalan—"

PRANG!

—hingga sebuah vas keramik kesayangan pria itu melesat cepat di samping wajahnya sebelum mengakhiri nasib di dinding serta lantai ruangan tersebut.

Berkedip beberapa kali, Komui pun perlahan-lahan menoleh ke arah belakang sembari berharap bahwa benda yang baru saja menjadi calon senjata percobaan pembunuhan tersebut bukanlah hadiah natal pemberian Lenalee tahun lalu.

Bersikap seolah-olah tak ada yang terjadi, sang pelaku pun segera berdiri dan melangkahkan kaki-kaki jenjangnya menuju ke arah pintu.

Ia pun menoleh sedikit, "Baik. Aku akan mengunjungi bocah itu. Tapi apakah aku akan menjadi pengasuhnya atau tidak, itu semua tergantung dari caranya berkenalan denganku." Dan tanpa memedulikan ekspresi horror atasannya itu, Kanda pun segera menghilang dari balik pintu yang dibanting dengan cukup keras.

Sementara itu, Komui ditinggal seorang diri untuk meratapi dengan histeris nasib mengenaskan dari salah satu benda berharga pemberian adik tersayangnya.

Dan hal ini membuktikan, bahwa benda apapun bisa menjadi senjata potensial jika penggunanya adalah seorang Kanda Yuu.

..Beansprout..

Semua orang yang berada dalam radius beberapa meter dari Kanda langsung menepi dan menjauh, melihat betapa kesalnya sang agen. Apalagi mereka sempat mendengar suara dari sesuatu yang pecah, serta suara tangis histeris dari supervisor mereka.

Meskipun Kanda hampir selalu terlihat kesal tiap kali ia keluar dari ruangan tersebut.

Para staff dan petugas biasa yang telah lama bekerja di markas Black Order tersebut sudah hafal baik dengan tabiat dan temperamen buruk dari sang agen. Dan julukan 'inkarnasi iblis' itu sendiri memang terbukti cocok dengannya.

Baik dari luar, maupun dari dalam.

Sebagai seseorang yang masih sangat muda—21 tahun, kemampuan serta pencapaian Kanda Yuu sebagai agen elite dari Black Order benar-benar mengesankan. Sejak ia bergabung dengan organisasi level atas tersebut, tak satupun misi yang dipercayakan padanya berakhir mengecewakan. Skill pemuda itu dalam hal bela diri, persenjataan, maupun berpikir berada di atas rata-rata. Apalagi jika ia bersanding dengan senjata favoritnya, Mugen. Maka ia akan benar-benar menjadi gambaran dari 'iblis' itu sendiri.

Namun hal itu diperparah dengan sifatnya yang juga bak iblis—kejam dan tak kenal ampun. Ia adalah tipe orang yang sangat jarang tersenyum, apalagi peduli kepada orang lain. Bahkan Kanda adalah tipe orang kejam yang akan mengeksekusi rekannya yang ia anggap tidak becus dan hanya menjadi beban dalam misi—dan akan beralasan bahwa, cepat atau lambat orang tersebut juga akan tetap mati di tangan musuh.

Entah kenapa orang sepertinya mau bergabung di dalam organisasi elite seperti Black Order, mereka tak ingin tahu sama sekali. Bahkan banyak yang beranggapan bahwa ia bergabung dengan Black Order hanya untuk memuaskan hasrat haus darahnya. Karena itulah, dibanding merasa takut, semua orang lebih merasa bersyukur karena Kanda bukanlah seorang kriminal berbahaya yang harus mereka hadapi.

Sesuai dengan tujuan dibentuknya Black Order oleh pemerintahan dunia, yaitu mengurus dan membereskan kriminal-kriminal level atas serta bahaya yang menyangkut keamanan internasional.

Pembunuh berantai, buronan dunia, penyelundupan illegal, black market, human trafficking, penelitian illegal—sebut apapun itu yang menyangkut permasalahan dan keamanan internasional. Dengan markas besar berada di Inggris, serta kantor cabang di beberapa negara tertentu, Black Order selalu memiliki agen-agen khusus yang direkrut dengan ketat.

Dalam organisasi buatan petinggi dunia tersebut, terdapat berbagai macam divsi yang membuat mereka mampu menangani segala macam kasus. Komui misalnya, yang menjabat sebagai supervisor sekaligus kepala bagian divisi sains. Black Order juga memiliki staff serta petugas atau penyelidik biasa seperti organisasi intelijen pada umumnya.

Namun, pada organisasi ini terdapat agen 'elite'—agen spesial yang memiliki skill di atas manusia normal. Mereka memiliki inteligensi yang tinggi, serta kemampuan bela diri yang luar biasa. Mereka dibentuk secara khusus untuk menangani misi-misi berat dan berbahaya, dan telah dilatih langsung oleh jenderal tinggi dari organisasi tersebut—meski dalam kasusnya, Kanda hampir ingin berganti jenderal dengan yang lebih bisa ia tolerir.

Satu lagi yang spesial dari agen elite tersebut adalah, kebanyakan dari mereka direkrut ke dalam organisasi sejak usia yang masih sangat muda.

Ada yang berkata hal itu tidak manusiawi. Ada yang berkata hal itu sangat efektif.

Sebagai agen yang telah lama bergabung, Kanda memiliki segudang kesuksesan dalam setiap misi yang ia emban. Pria tersebut merupakan satu-satunya agen yang tidak pernah mengalami kegagalan dalam misinya.

Tidak berjalan sesuai dengan keinginan, sering. Namun tidak untuk kegagalan. Bisa dibilang, ia adalah agen elite papan atas yang hanya tinggal menunggu waktu saja sebelum dipromosikan menjadi jenderal.

Kanda selalu menganggap tiap-tiap misi sebagai sesuatu yang serius. Sifat perfeksionis miliknya itu menimbulkan suatu perasaan yang mengganggu, jika sampai sesuatu tidak berjalan sesuai yang ia inginkan. Meski misi-misinya berakhir sukses, tidak jarang ia dilanda bad mood yang parah karena sifatnya itu.

Dan Komui selalu bisa memanfaatkan hal tersebut, agar Kanda mau menerima misi apapun. Salah satunya seperti saat ini.

Komui tahu, semuak apapun pria itu terhadap misi kali ini, pasti ia akan tetap menerimanya.

Harga dirinya yang lebih tinggi dari gedung pencakar langit itu tidak akan mengizinkannya untuk menerima kalimat cemoohan seperti, "Bahkan agen elite 'Kanda Yuu' sekali pun tidak mampu menjalankan misi segampang itu?"

Resikonya hanya dua; harga dirinya akan hancur, dan Black Order akan kembali repot mengirim siapa pun itu ke rumah sakit. Bukan berarti hal kedua adalah ide buruk, tapi Kanda tetap tak bisa menerima hal pertama yang menyangkut harga dirinya itu.

Karena itu, Kanda akan menjalankan misi kali ini. Jika hal ini akan membawanya lebih dekat pada mereka, ia akan memprioritaskan misi kali ini lebih dari apapun.

Meski ia harus menjadi seorang pengasuh. Dan meskipun objek asuhannya itu kini tengah menatapnya dengan sepasang manik keperakan yang memudar.

..Beansprout..

Di setiap gedung Black Order, selalu ada ruangan khusus yang disediakan sebagai tempat perlindungan bagi saksi maupun korban dari suatu kasus. Kebanyakan dari mereka tidak memiliki tempat untuk kembali. Karena itulah organisasi menyediakan tempat perlindungan sementara untuk orang-orang tersebut hingga kasus terselesaikan. Setelahnya mereka akan dicarikan tempat tinggal yang baru, dan tak sedikit juga yang mendapat adopsi keluarga.

Menurut keterangan yang Kanda ketahui, pemuda berumur 18 tahun bernama 'Allen Walker' merupakan satu-satunya manusia yang selamat dari massacre yang terjadi di mansion milik Count Martin. Untuk sementara ia lolos dari kecurigaan sebagai pelaku dan dijadikan saksi dalam kasus ini, sehingga organisasi menempatkannya di salah satu ruangan khusus sembari mengobati luka yang ia derita.

Ia ditemukan tak sadarkan diri di ruang bawah tanah, dengan darah menggenang diakibatkan luka tembak pada kedua pergelangan kakinya. Adalah sebuah keajaiban pemuda itu bisa bertahan hidup dengan kondisi kekurangan darah seperti itu. Dan berdasarkan jejak darah, terungkaplah misteri mengenai jejak tetesan darah yang sebelumnya sempat dipertanyakan oleh Kanda saat berada di ruangan kerja dari bangsawan yang terbunuh itu.

Sidik jari yang terdapat pada pisau yang menjadi senjata pembunuh tidak cocok sama sekali dengan milik pemuda itu, namun semua bukti yang ada menunjukkan bahwa ia berada di tempat kejadian saat pembunuhan itu berlangsung. Orang yang bertanggung jawab atas luka yang diterima pemuda itu adalah Count Martin. Namun fakta bahwa pemuda itu tidak ikut menjadi korban pembunuhan sangatlah mengganggu agen tersebut.

Diberkati dengan intelegensi yang tinggi, Kanda pun mengasumsikan bahwa Allen Walker memiliki kaitan dengan pelaku pembunuhan, 'Noah Family'. Ia yakin, bahwa bocah yang berada di hadapannya saat ini memiliki 'urusan' dengan kelompok yang berisi pembunuh berdarah dingin itu, sehingga nyawanya tak ikut terkorbankan di malam kejadian.

Kanda tak pernah diam jika ia harus berurusan dengan Noah—yang sudah menjadi incarannya sejak lama. Karena itulah, ia sebenarnya sudah mengerti baik kenapa Komui memilihnya sebagai 'pengasuh' bocah ini.

Karena kemungkinan besar, Noah akan kembali mengincar bocah ini, untuk menyelesaikan apapun itu urusan di antara mereka.

Bocah yang juga dikenal dengan Allen Walker, yang kini tengah terbaring lemah di atas tempat tidur di ruangan itu. Ia memiliki kulit serta wajah yang terlalu pucat—akibat kekurangan hemoglobin yang memberi warna pada kulit manusia. Selang darah serta infus juga terhubung pada tubuhnya, membuat kondisi pemuda dengan surai seputih salju itu semakin terlihat memprihatinkan.

Kedua manik silver nya terlihat kurang fokus dan pudar, efek dari sisa anestesi yang membuatnya tidak sadarkan diri hingga beberapa jam yang lalu. Bibirnya pucat, dengan beberapa bekas luka di sudutnya. Beberapa luka iris dan lebam yang membiru juga dapat terlihat pada beberapa bagian wajah dan leher pemuda itu.

Untuk sesaat, Kanda dilanda perasaan déjà vu tatkala manik cobalt nya bertemu dengan iris berwarna keperakan itu. Ia pun kemudian mengabaikannya—merasa bahwa itu hanyalah imajinasinya saja.

Agen tersebut kemudian mulai berjalan mendekati ranjang pemuda itu dan berhenti tepat di sampingnya.

"Jadi kau adalah bocah yang dibicarakan Komui, ya?" ucapnya dengan ketertarikan yang tersirat pada nada bicaranya.

Melihat tak ada jawaban apapun, ia pun hanya mendengus. "Benar-benar mengecewakan. Sepertinya aku memang benar. Misi kali ini tak lain hanyalah menjadi 'pengasuh', melihat kau tak lebih dari seorang bocah."

Tak mengharapkan adanya jawaban, Kanda pun berbalik pergi. Namun tepat sebelum ia menutup pintu, pria itu menoleh pada Allen—yang tetap tak melepaskan pandangannya dari sosok sang agen.

"Kau akan berada khusus di bawah pantauanku, beansprout. Tepat setelah kau dinyatakan pulih, kau akan meninggalkan tempat ini dan ikut bersamaku."

Dan setelahnya, yang terdengar hanyalah dentuman dari pintu yang ditutup dengan keras. Sementara itu, Allen mengedipkan matanya yang benar-benar terasa sangat berat itu. Sisa-sisa perasaan lelah masih terjebak di dalam tubuh dan pikirannya. Seiring dengan kesadaran yang perlahan mulai menghilang, pikirannya mencoba memproses hal yang baru saja didengarnya.

'Bean…sprout?'

Dan kemudian, semuanya kembali menggelap.

..Beansprout..

"Jadi, bagaimana menurutmu?"

Kanda hanya melirik Komui dari tempatnya duduk, sebelum kembali mengalihkan pandangannya pada berkas-berkas mengenai kasus tempo hari. Sejujurnya ia merasa sedikit keberatan untuk kembali ke ruangan Komui, namun sepertinya supervisor Black Order itu sudah kembali normal dari 'tangisan untuk Lenalee tercinta'-nya.

Sambil membaca selembar berkas mengenai bocah 'beansprout' itu, Kanda hanya menggumam, "Dia tak lebih dari seorang bocah, jika itu yang ingin kau ketahui." Kedua alisnya menyatu, seiring dengan pergerakan manik cobalt yang sibuk menyusuri setiap kata pada lembaran itu.

Komui hanya memperhatikan dengan kilatan ketertarikan. Dagunya ia sangga dengan kedua tangan, mengingat saat-saat 'menyenangkan' ketika ia pertama kali berhadapan dengan Allen.

"Hoo… jadi dia tetap berhasil membuatmu kesal, meski ia berada dalam keadaan tak bisa berbuat apapun?"

Sang agen tak merespon. Malah, ia semakin mengerutkan keningnya dengan rahang yang mulai mengeras.

"Apa-apaan, Komui? Berkas yang kau dapatkan ini bukanlah suatu omong kosong, bukan?" ucapnya dengan geram. Tangannya yang memegang berkas itu sudah mulai meremas dengan erat—membuat Komui khawatir akan kondisi lembaran yang begitu penting itu.

Komui menghela napas pelan, "Itu adalah berkas-berkas yang valid, Kanda. Count Martin adalah orang yang telah 'mendapatkan' Allen dari sebuah pelelangan illegal. Allen adalah seorang budak." Ungkapnya dengan nada yang serius. Kanda merespon dengan melemparkan berkas di tangannya ke atas meja, lalu melipat kedua lengannya di depan dada. Kedua kelopak matanya terpejam, dan otot-otot di wajahnya menegang.

Sang supervisor hanya dapat merasa maklum, mengingat betapa bencinya Kanda berurusan dengan hal seperti ini.

Salah satu agen terbaik Black Order itu selalu mampu melakukan pekerjaan seberbahaya apapun. Ia terbiasa dengan medan perang, dengan segala bentuk kejahatan yang dapat diatasi dengan fisik. Namun sebaliknya, pria tampan tersebut tidak menyukai hal-hal yang berhubungan dengan moralitas. Ia tak tahu bagaimana cara berhadapan dengan hal-hal semacam human trafficking, percobaan manusia, sexual abuse, dan yang lainnya.

Memang, ia bisa memberi 'pelajaran berharga' kepada sang pelaku. Namun ia benci jika harus berhadapan dengan mereka, para korban yang masih bernapas—hidup. Karena instingnya akan menjadi tak berguna ketika ia dihadapkan dengan keadaan yang membutuhkan sisi kemanusiaan itu.

Merasa sudah cukup stress, Kanda pun berdiri dan mulai berjalan ke arah pintu. Di dalam benaknya kembali terbayang sebuah foto yang ia lihat dari berkas tadi. Foto dari tangan kiri bocah beansprout itu.

Seluruh lengan kirinya berwarna merah kehitaman—bagaikan bekas luka bakar yang begitu terlambat ditangani. Di tangannya, terdapat sebuah simbol yang sudah tak asing bagi Kanda, serta para agen Black Order yang lainnya. Sebuah simbol permanen dari stempel besi yang panas, berbentuk seperti salib. Sebuah simbol, yang merupakan trademark dari sebuah organisasi gelap yang tak kalah berbahayanya.

Apocryphos.

Berbeda dengan Noah yang berupa organisasi khusus berisi pembunuh bayaran, Apocryphos bergerak dalam banyak bidang, dan telah meluas ke seluruh penjuru dunia. Dengan kegiatan-kegiatan yang berbentuk illegal, banyak penguasa dan pejabat tinggi yang tergabung di dalamnya—membuat Black Order menjadi kewalahan dalam bertindak. Belum lagi keberadaan markasnya yang begitu sulit untuk dilacak.

'Seakan-akan masalah dengan Noah masih belum cukup merepotkan…' pikir Kanda geram.

Tepat ketika Kanda membuka pintu, Komui pun kembali bersuara.

"Ah, Kanda? Apakah kau berencana untuk mengunjungi Alma setelah ini?"

Kanda tak mengatakan apapun, melainkan hanya melirik pada supervisornya. Jawaban tak terucap 'Ya. Apa lagi maumu?' tercetak jelas dalam ekspresi.

Kemudian, Komui mengeluarkan sebuah amplop berwarna hitam.

Ia pun tersenyum ceria, "BIsa tolong berikan amplop ini pada Lavi? Di dalamnya ada misi selanjutnya untuknya…" pinta pria berkacamata itu.

Kanda hanya mengerutkan keningnya, merasakan rasa sakit mulai muncul di kepalanya tatkala memikirkan harus bertemu dengan kelinci menyebalkan itu. Lalu tanpa basa-basi, ia pun kembali ke meja Komui dan mengambil amplop tersebut untuk dimasukkan ke dalam saku bagian dalam jaketnya. Setelahnya ia langsung berjalan keluar dan kembali membanting pintu dengan kuat, membuat beberapa staff di sekitar sana tersentak dan menoleh kaget.

'Aku harus menenangkan diri setelah ini. Tch!'

..Beansprout..

Omake

Beberapa menit setelah Kanda menghancurkan vas milik Komui dan pergi berlalu begitu saja…

"Hiks… Kanda benar-benar kejam sekali, Reever! Dia tega sekali, menghancurkan vas berharga pemberian Lenalee!"

Reever hanya memberi atasannya itu tatapan datar, terbiasa dengan tingkah konyolnya. Kedua tangannya ia lipat di depan dada, sambil menyandarkan punggungnya pada dinding di sebelah pintu.

"Hmm."

"Padahal, kau tahu? Lenalee sudah berusaha keras untuk membelikan vas itu untukku! Kau tahu, dia masih menyempatkan diri mencarikan hadiah natal untukku walaupun dia sangatlah sibuk! Dan Kanda, dia… dia dengan dinginnya melempar vas cantik pemberian adikku yang paling manis!"

"Hmm."

Sejenak, Komui berhenti dari racauannya serta kegiatan bersih-bersihnya di lantai. Kemudian pria berkacamata itu menoleh ke atas, memberikan tatapan memelas pada asistennya.

"Reever… setidaknya bantu aku membereskan semua ini…"

"Tidak, terima kasih. Kau yang sudah memancing amarah Kanda. Jadi tanggunglah konsekuensinya."

"…."

"Dan ngomong-ngomong, masih ada tumpukan surat dan laporan yang harus kau tandatangani."

Tangisan Komui pun semakin menjadi-jadi.

"Kau kejam sekali, Reever!"

Reever hanya menghela napasnya.

.

.

A/N:

*Oni to Kanabō, makhluk jahat dalam kepercayaan jepang (oni) yang memiliki senjata berupa gada besi yang berduri tajam (kanabō).

Wah. Maaf ya, updatenya ngaret *tawamiris* Tapi saya terharu, ternyata masih banyak fans yullen yg berkeliaran di luar sana #plak

Balasan review chapter 1:

Kapten Pelangi : Awww pas baca review kamu saya jg loncat2 loh *LoL* Wah, itu prediksinya saya no comment dulu deh, takut spoiler *ketawalicik* Nggk semua anggota black order jdi agen kok. Cuma yg exorcist doang, dan selebihnya yaa…menyesuaikan *lirikkomui* Kalau allen sih, udah tahu kan sekarang dia jadi apa #ouch. Haha di chap ini lavi yg muncul cma nama doang… nah, di chap slanjutnya baru muncul orangnya *uhukspoileruhuk* Anyway, thanks reviewnya yaa~ review lagi di chap ini yaa#plak

Yuki ChibiHitsu-chan : thanks reviewnya yaa~ salam kenal juga, saya-umm… saya…err, siapa ya?#plak LoL iya kan, nulis dgm emg susah banget. Apalagi yullen. Apalagi kanda. Ahh untunglah fans yullen msih ada :') ini chap selanjutnya! Chap depan ditunggu lagi yaa#plak

kyunauzunami : thanks reviewnyaa~ yeeey hidup yullen! #eh. Ini allennya udh gede kok, noh umurnya udh 18tahun *lol* yang di awal itu cuman flesbek doang… kenapa noah pengen ngambil allen? Ya dia soalnya imut sih. Jangankan noah, saya aja pengen banget nyulik allen. Cuma takutnya sama kanda #plak becanda kok. Itu alasannya ntar dikasih tau di chap-chap mendatang, jadi ditunggu aja yaa… nggk apa kok, banyak nanya. Saya senang malah:')

Yui Yutikaishi : thanks buat reviewnyaa~ iya ini yullen. Saya senang kalau kamu juga senang:) Thanksss!

kuroshironekore : thanks reviewnyaa! Saya juga terharu kok, akhirnya udah bisa ngepost fic yullen:') makasihhh muach muach #plak

Hananami Hanajima : thanks udah reviewww! Iya iya, ini udh lanjut kok #plak bukan anak kecil loh, allen udh 18 loh! Ini kan yullen. Allen kecil itu cm pas di flesbek awal… kalau masih kecil, ntar malah kanda yg ditahan. Kan pedofil itu criminal yak (eh kok malah cocok sama genrenya). Haha nggk apa kok berimajinasi, sayangnya kita imajinasinya beda, jadi ginilah hasilnya! Thanks favfoll nya yaa~

Rabbit Aito : thanks udah review! Iya nggk apa kok telat, saya jg telag update *sosad* makasih! Ini lanjutannya, silahkan ditunggu lagi next chap yaa~

Shin Hikki : thanks reviewnyaa! Nggk apa kok, sya jg orangnya suka telat update:') ngakak baca review kamu, soalnya banyak yg ngira allennya masih kecil *lol* itu allennya jdi anak2 cuma di awal pas flesbek doang kok, sekarang mah dia udah gede/pelukallen. Ngakak saya bayangin kanda jadi pedo…malah dia dong, ntar yang jadi kriminal/plak

Sekali lagi, makasih banget yang udah ninggalin jejak:') Makasih banyak juga buat yg fave and follow!

Sebagai penebusan telat update, saya posting double yullen kok. Silahkan mampir di fic oneshot yullen saya yang satunya, The Mystery of Kanda Yuu ;)

Amanat chap ini: banyaklah bersabar setiap kali melakukan kesalahan penulisan pada nama komui, karena salah satu karakter di fandom sebelah memiliki nama yg mirip dengannya. Say hello, kamui! /plak/curhat

Please leave a review for this chapter! And please wait for the next chapter~

Sign,

MeganeD

.

.

Next Chapter : Seashore