Way to the Heaven

Author: Chocolite

Genre: Romance, Supernatural, Angst

Rated: T

Cast:

Lee Taemin

Choi Minho

Lee Jinki

Other

Pairing: 2Min

Summary: Chapter 2 Update~ Taemin, anak yang disebut 'anak iblis', akhirnya memiliki seorang teman. Namun, apa yang membuat Taemin memiliki seorang teman? Dan siapakah Minho? *Bad Summary* 2Min, Kaisoo.

Warning: Typo, gaje, BL (Boys Love), Yaoi, chapter kepanjangan, alur gak jelas, dll.

a/n: Annyeong~ Aku balik lagi buat post ff gaje aku :)) Sebelumnya, makasih banget buat yang udah review *meski cuma ada 3*. Mian kalo aku postnya kelamaan. Mau fokus dulu US. *maklum, aku kelas 9*. Chapter 3 juga ada kemungkinan di postnya seminggu lagi karena leppy aku disita T^T. Mian juga kalo ceritanya gak nyambung, kosakatanya gak bener, dan apapun itu karena saya manusia, bukan seperti appa saya *read: Kyuhyun –evil-* *ditendang*. Ngarepnya sih, chapter ini masih ada yang baca :) Yaaah, walau cuma dikit, tapi setidaknya ada yang baca -" Yang udah baca, please review *maksa* Yaudah lah, daripada aku ngomongnya makin ngelantur, baca aja langsung yaa :) Happy Reading. ^^

.

Chapter 2

.

Keesokan harinya, Taemin berjalan menuju sekolahnya. Ia menatap jalanan yang cukup sepi –karena memang hari masih pagi-. Tiba-tiba kepalanya berputar. Tanda di dahinya pun sedikit mengecil. Taemin bersandar di pohon dan memejamkan matanya.

Siluet seorang namja berdiri di seberang jalan dan tiba-tiba orang itu tertabrak. Taemin ketakutan. Ia melihat namja itu tewas. Seluruh tubuhnya hancur. Taemin memegang tanda di dahinya. Ia melihat siluet lain. Seorang namja bermata besar menangis tersedu. Namun siluet itu menghilang dan digantikan bayangan lain. Bayangan namja bermata besar itu menjadi orang yang terlihat depresi dan menyalahkan Taemin. Lalu bayangan itu lenyap. Taemin kembali menatap jalanan. Jalanan yang sama dengan apa yang ia lihat beberapa detik lalu. Kosong. Jalanan itu kosong sekali. Tak ada orang di seberang sana. Tunggu. 2 orang namja tampak sedang berjalan dan seseorang menghentikan langkahnya, seperti ingat sesuatu. Namja yang berjalan lebih dulu pun berbalik dan menatap namja yang tiba-tiba menghentikan jalannya. Taemin mengenal sekali namja di hadapannya. Tidak, bukan namja yang sudah berjalan lebih dulu. Namun namja yang menghentikan langkahnya. Dia D.O. namja yang kemarin membasahinya dengan minuman. Taemin terus memperhatikan gerakan mereka. Ia menatap lurus ke arah namja yang ia yakini 1 tahun lebih muda darinya. Ya, namja itu adalah namja yang tertabrak dalam bayangannya tadi.

D.O berbincang sebentar, lalu meninggalkan namja itu sendiri. Ia berlari sesaat setelah ia melihat Taemin di seberangnya. Namja berkulit tan itu merasa ditatap oleh Taemin. Ia menatap Taemin dengan tatapan innocent. Sementara Taemin menatapnya sambil memperhatikan sekeliling –memastikan tidak ada kendaraan-. Dan BINGO! Sebuah mobil melaju dengan cepat. Dapat Taemin perkirakan, mobil itu akan menabrak si namja berkulit tan jika namja itu mendekat 1 langkah. Dan benar saja, namja itu seperti hendak menghampiri Taemin.

Taemin memejamkan matanya, takut melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia berfikir, sebentar lagi, namja ini akan meninggal. Tidak! Aku tak ingin ia mati dan aku dicap pembunuh oleh D.O! D.O melihatku tadi. Itulah sebabnya ia memakiku jika aku tak menyelamatkan namja ini. Aku harus menolongnya!

Tanpa Taemin sadari, tanda di dahinya bersinar dan berwarna ungu cerah. Saat Taemin membuka matanya, ia melihat namja berkulit tan itu sudah berada di jalan. Sementara mobil itu hanya tinggal 1 meter lagi mengenai dirinya. Sebuah ketidakmungkinan jika namja itu kembali ke tempatnya sementara sebuah mobil dengan kecepatan tinggi sudah sangat dekat dengannya.

Tapi Taemin baru sadar, bahwa semua yang ada di hadapannya tak bergerak sedikitpun. Ia menengadah ke atas, menatap dedaunan yang berhenti jatuh dan mengapung di udara tanpa ada pergerakan sedikitpun. Taemin berjalan ke arah namja berkulit tan yang sedang dalam bahaya itu. Ia menarik namja berkulit tan itu agar kembali ke tempatnya. Setelah Taemin merasa namja ini cukup aman, tiba-tiba waktu kembali berjalan.

Mobil itu berhenti 2 meter dari tempatnya tadi. Terlihat wajah pengemudi yang begitu kaget lalu berubah bingung. Lalu mobil pun kembali melaju. Sementara namja berkulit tan itu menatap Taemin dengan tatapan ada-apa-ini-?

"Kai!" seru seseorang yang tak asing di telinga Taemin. Namja itu D.O, dan dapat diyakini sekarang D.O sedang berlari ke arah mereka. D.O langsung memeluk namja berkulit tan itu.

"Hyung~" jawab namja berkulit tan yang ternyata bernama Kai.

"Ya! Gwenchana? Aku tadi melihatmu hampir~~ Ah, aku juga tak mengerti~" ucap D.O, terdengar khawatir. Cara bicaranya berbeda sekali dengan caranya bicara dengan Taemin –selalu menghina-. "Dan aku tak mengerti mengapa kau bisa di sini. Tapi aku tau kau yang menyelamatkan suamiku~ Gomawo Taemin~" ucap D.O, lalu memeluk Taemin erat –membuat Kai sedikit mempoutkan bibirnya, cemburu-.

"Ya! Ada yang cemburu. Lepaskan aku! Bukankah kau membenci anak iblis sepertiku?" sindir Taemin, membuat D.O melepaskan pelukannya.

"Hmm~ Mianhae Taemin-ssi~ Aku selalu jahat padamu. Mianhae. Tapi aku yakin, sebenarnya kau itu baik. Mianhae~" ucap D.O sambil merangkul Kai.

"Aish~ Sudahlah~ Aku pergi duluan." ucap Taemin singkat.

"Ya! Hyung bermata ungu~ Bagaimana kalau kau pergi bersama kami? Aku dapat melihat dari mata hitammu bahwa kau kesepian~" ucap Kai polos, namun dapat membuat rasa sakit di dalam hati Taemin.

Ya, Taemin kesepian. Ia tak pernah merasakan rasanya punya teman. Selalu sendiri. Ia hanya dapat bicara dengan kakaknya. Menyakitkan baginya. Taemin berbalik dan tersenyum.

"Gwenchana~ Kalian berdua saja. Lagipula kalian bukan temanku. Aku takut kalau aku menggang~" ucapan Taemin terputus saat D.O menyelanya.

"Aku temanmu, Taemin-ssi~ Hmm, atau lebih cocok kupanggil Taemin-ah~ Apa kau mau menjadi temanku? Aku berjanji aku akan melindungimu seperti aku melindungi Kai. Kumohon~ Aku ingin menjadi temanmu~" ucapan D.O membuat air mata Taemin meluncur dari sudut matanya.

Hening. Hanya keheningan yang ada sebelum akhirnya Taemin mengangguk mengiyakan permintaan D.O. Kai dan D.O tersenyum ramah.

"Tapi kau selalu bilang aku anak iblis~" ucap Taemin dengan nada manja.

"Hmm, sebenarnya aku juga masih ragu apa kau ini manusia atau bukan. Tapi aku tak peduli. Temanku ini adalah sesuatu yang sangat baik dan ajaib. Aku harus melindunginya seperti aku melindungi suamiku." Ucap D.O, membuat pipi Kai bersemu merah.

"Hyung~ Berhentilah memanggilku suamimu~ Aku malu~" ucap Kai sambil menunduk, menyembunyikan wajahnya yang merah.

"Shireo! Kau suamiku." Ucap D.O tak terima dengan pernyataan Kai.

"Haaahhhh. Sudahlah. Ayo berangkat." Ucap Taemin melerai keduanya.

Setibanya di sekolah, D.O dan Taemin berjalan bersebelahan. Banyak murid yang menatap mereka dengan tatapan D.O-itu-kenapa-?. Tapi mereka berdua tak peduli. Mereka memang hanya berdua. Karena Kai masih SMP. Sekolah Kai dengan D.O dan Taemin bersebelahan.

Sampai di kelas, seorang namja yang cukup tampan bertanya pada D.O dengan wajah kebingungan. Namanya Gongchan. Ia salah satu siswa yang selalu mengejek Taemin setiap harinya.

"Kyungsoo-ya~ Kenapa kau datang bersamanya?" tanya Gongchan bingung.

"Loh? Bukankah dia juga teman kita? Kasihan loh jika dia sendiri di kelas. Dia tak punya teman. Wae? Kau mau berteman dengannya juga?" tanya D.O ceria.

"Ya! Apa kau di sihir oleh anak iblis itu?" tanya Gongchan menyelidik, dan dijawab dengan tawa D.O.

"Dia tak punya sihir, Gong ChanShik~ kekeke~ Sudahlah~ Ayo masuk~~" ucap D.O yang sadar kalau Taemin sudah berada di dalam kelas.

Hari ini D.O duduk bersama Taemin. D.O juga tak memiliki teman sebangku. Jadi, ia putuskan untuk hari ini dan seterusnya, ia akan duduk bersama Taemin. Memang aneh kelihatannya jika mengingat apa yang terjadi pada D.O kemarin. *baca: di chapter 1*

Singkat waktu, *alurnya kecepetan* bel istirahat pun terdengar. Taemin berjalan meninggalkan D.O yang notabenenya sekarang adalah seorang teman dekat sekaligus teman sebangkunya.

"Kau mau kemana?" tanya D.O.

"Ke tempat biasaku, bersandar di bawah pohon." Jawab Taemin singkat.

"Ah! Andwae!" ucap D.O.

"Selama hidupku, aku hanya dilarang ke gereja oleh eommaku. Lalu mengapa kau melarangku untuk ke tempat favoritku?" tanya Taemin, terdengar dingin.

"Hmm, karena aku~ Ingin mengajakmu makan. Selama kau bersekolah di sini, aku tak pernah melihatmu makan di kantin. Kajja~ Kita makaaaan~" ucap D.O ceria sambil menarik lengan Taemin dan membawa Taemin ke kantin.

"Ckck. D.O~ Kau menggenggam tanganku terlalu erat." Ucap Taemin pada D.O yang kini melonggarkan tangannya saat mereka sampai di kantin.

"Nah, Taemin, kau mau pesan apa? Biar aku yang bayar." Ucap D.O dan Taemin mengedarkan pandangannya.

"Aku tak lapar. Aku hanya ingin minum, boleh?" tanya Taemin

"Tentu. Aku yang pilihkan, ne? Tunggulah di meja itu~" ucap D.O pada Taemin, dan pergi untuk memesan.

Taemin duduk di sebuah kursi sambil menunggu D.O. Ia merasa jauh di belakang sana ada yang memerhatikannya. Ia berbalik dan mendapati seorang namja sedang memerhatikannya. Namun Taemin sadar kalau namja itu pernah ia lihat. Tidak, bukan dalam kenyataan. Tapi dalam bayangannya.

Waktu itu, bayangan namja itu tiba-tiba muncul. Namja itu menangis di hadapan Taemin. Selain itu, dalam bayangan yang lain, ia melihat namja itu memeluknya erat. Dan dalam bayangan lainnya juga, namja itu terbang. Ah, tidak. Bukan terbang. Tapi ada gumpalan hitam yang menarik namja itu terbang dan tiba-tiba lenyap. Bayangan-bayangan itu selalu datang menghampiri Taemin setiap hari. Tapi itulah yang membuat Taemin mulai menyukai kehidupannya. Di satu sisi, ia nyaman terhadap kehadiran namja itu yang selalu membuat hatinya sedikit tenang jika melihatnya –walau hanya bayangan-. Dan sisi lain, ia takut apa yang ada dalam bayangan itu terjadi. Ia takut kehilangan namja tampan itu.

Lamunannya buyar ketika D.O datang membawa makanan. D.O berbohong padanya. Ia bilang hanya akan membeli minuman. Tapi akhirnya ia memaksanya untuk makan. Saat makan, Taemin merasakan namja itu masih memperhatikannya.

"Apa namja bernama Minho itu baik?" tanya Taemin.

"Minho? Minho yang mana? Di sekolah ini banyak sekali yang namanya Minho~" tanya D.O.

"Minho anak kelas 3-C itu." Ungkap Taemin.

"Ah, dia~ Dia itu orangnya cukup berandalan. Dan kudengar, dia itu gay. Orang-orang kaget. Tapi aku tidak~ Kekeke~" tawa kecil D.O membuat Taemin mengangkat alis kanannya.

"Wae?" tanya Taemin.

"Karena aku juga gay. Kai itu pacarku, tahu~~" ucap D.O jujur dan dijawab gelengan kepala Taemin. "Memang kenapa dengan Minho sunbae? Kau suka dia ya? Ah~~ Taemin~ Seleramu bagus sekali~ Dia memang tampan." Ucap D.O, membuat pipi Taemin memerah.

"Ya! Aku tak menyukainya. Dia yang menyukaiku~" ucap Taemin.

"Huh. Kau narsis sekali~ Aku baru tahu kalau ada anak iblis yang narsis sepertimu." Ucap D.O.

"Akan kubuktikan kalau dia memang menyukaiku." Ucap Taemin santai, membuat D.O menatapnya bingung.

Tak lama, namja yang dibicarakan pun datang. D.O sempat kaget dan takut dengan namja yang kini berdiri di sampingnya.

"Boleh aku duduk di sini?" tanya Minho, membuat D.O menatap Taemin.

"Shireo. Kau tadi duduk di belakang. Dan sedaritadi ini tempatku." Ucap Taemin dengan nada dingin.

D.O mulai waswas melihat wajah Minho yang terkesan dingin dan menyeramkan itu. Beberapa hari yang lalu ada anak kelas 1 yang wajahnya rusak akibat tak mau memberikan tempatnya pada Minho. Dan ia yakin, Taemin tak akan selamat setelah ini. Tapi perkiraannya salah besar.

"Baiklah. Jika itu maumu. Maaf mengganggu kalian." Ucap Minho sambil melangkah pergi.

"Sudah kubuktikan. Apa kau percaya?" tanya Taemin, dan D.O hanya menatap Taemin dengan tatapan horror.

.

Hari berlalu. Fikiran Taemin mulai terbang entah kemana. Ia duduk di depan jendela kamarnya dan menatap langit.

Taemin POV

Minho. Siapa dia? Mengapa aku sangat tenang jika melihat wajahnya. Bayangan-bayangan yang datang tentangnya. Kenapa aku melihatnya dimakan iblis? Dadaku berdesir jika bayangan itu datang. Padahal baru tadi aku bertemu dengannya. Apa aku menyukainya? Bagaimana rasanya jatuh cinta? Apa seperti ini?

Mata namja itu menyiratkan kesakitan. Aku tahu ia sedang menahan sakit. Tapi mengapa yang kulihat di matanya hanya Jinki hyung? Apa Jinki hyung mengenalnya? Baiklah. Cukup. Aku tak ingin memikirkannya.

.

.

TBC

a/n: Huhh. Beres dah :)) Sebenernya sih sekarang aku mau bales review chapter 1 *walau cuma ada 3*. Yaudah. Nih balesannya ^^

sfsclouds: Annyeong chingu~ ^^ Gomawo udah review~ Iya. Yang satu lagi Jihyun. Iya ini udah dilanjut kok ;) Makasih udah bilang serem *asal jangan bilang muka aku yang serem, ne?* Tapi menurut aku sih ini gak serem amat :D Gomawo juga udah bilang ceritanya bagus ^^ Padahal menurut aku sih gak bagus amat~ Sekali lagi, gomawo udah review ^^

FiWonKyu0201: Annyeong chingu~ ^^ Sebelumnya, aku mau nanya dulu. WHAT IS THE MEANING OF 'MY TETEEEMMM'? Huaaaaaaa Taemin punya aku ^^ *ditendang Taemin*. Eheheh. Taemin emang keren kok ^^ Mau di ff aku, di ff orang, tapi yang jelas di hati aku Taemin keliatan lebih keren. *Taemin muntah-muntah* Yaudah. Gomawo reviewnya ^^

JewELFishy-Anchofish: Annyeong chingu~ ^^ Iya chingu, aku juga sebenernya gak ngerti sama apa yang aku tulis. Tapi udah terlanjur di post. Ehehe. Kalo chingu gak ngerti jalan ceritanya, perlu aku jelasin? *Tapi jujur, aku lagi males nyeritain secara keseluruhan :D* Atau perlu aku post ulang chapter 1 dengan kata-kata yang baru? Ntar ya chingu~ Berhubungan dengan FF SHINee pertama, emang iya aku baru pertama nulis FF SHINee. Dan ini sekaligus FF pertama yang aku post disini. Dengan kata lain, aku ini seorang Newbie :D Ihihi *ganti jadi ihihi* *gaje berat* Gomawo udah review, chingu ^^ Makasih sarannya ^^

Yasudah. ^^ Ada yang mau review? *ngarep* Sekian dari akuuu. Ngarep yang baca suka ^^