Bagaimana cerita yang di chapter one? Berani baca malem2? (?) *plak*
Author gak jago bikin r-M yang ehem ehem (?) mending bikin yang horor aja (gak penting mas!)
Disclaimer: Tetep Hikadez Himaruya, gak usah nanya lagi (?)
Chapter 2
"GYAAAAAAAA!,"
Kutebas leher anak itu sampai putus. Lalu aku mulai menusuk-nusuk perutnya. Dia sudah menjadi daging cincang. Mungkin cara membunuhku lebih parah dari Jack The Ripper yang di Inggris itu. Lalu aku mulai cekikikan seperti setan.
"Hihi.. hihi...,"
Aku menginjak mayat anak itu. Aku menyeringai. "Kau adalah korbanku yang ke 15," pikirku kejam. Lalu aku menyeret mayat itu dan kuletakkan di sebuah ruang bawah tanah yang penuh dengan mayat-mayat bekas siksaanku. Aku melempar asal mayat itu. Bau amis darah yang sedap tercium dari segala arah. Mendadak aku memikirkan sesuatu yang jorok.
"Haahh... kesepian lagi deh... tapi, tak apalah...,"
Aku mengambil salah satu mayat. Mayat itu perempuan. Aku menatap mayat itu dengan dengan tatapan penuh kebencian.
"Apa salahnya kalau Taiwan menyukai Japan?,"
Aku bergumam sendiri lalu dengan gesit, kupotong mayat itu menjadi dua bagian. Lalu kulempar asal saja. Aku menghirup dalam-dalam aroma amis darah. Aroma yang paling dicintai sisi hitamku. Saat aku sedang menikmati aroma darah, tiba-tiba saja ada yang memanggilku.
"Nii-san... Nii-san...,"
"Si-si-siapa di sana?,"
"Nii-san... tolong...,"
"Ho-Hongkong...?,"
Tiba-tiba saja muncul sosok mengerikan dan langsung menyerangku. Aku menjerit dan langsung keluar dari 'surga' darah.
"A-Aaghh! Tolong! Tolong!,"
"Aaaaaaa...,"
Suara-suara mengerikan datang dari bawah tanah. Aku terlonjak kaget ketika mayat-mayat yang tergeletak di bawah tanah mendobrak keluar. Aku ternganga dengan mata melotot. Tiba-tiba lantai sekolah terasa bergetar. Kakiku seperti ada yang menarik. Aku melihat kebawah dan menjerit sekeras mungkin. Ada empat buah tangan yang memegangi kakiku. Aku mencoba untuk melepaskannya. Tetapi sangat sulit. Akhirnya aku terpaksa memotong tangan-tangan itu. Setelah berhasil kupotong, aku berlari secepat mungkin tanpa berani melihat ke belakang.
"Aahh... kumohon seseorang! Tolong aku!,"
Aku terus berlari tanpa tujuan. Aku lupa kalau aku sudah membunuh mereka semua. Tak ada yang bisa menolongku.
-0-0-0-0-0-0-
Aku tiba di sebuah taman bunga yang indah. Tiba-tiba saja muncul rasa rindu dan rasa sedih. Aku memegangi dadaku. Rasanya seperti tertusuk-tusuk. Aku memejamkan mata. Air mataku pun menetes.
"Yao Yao...,"
Suara itu. Kata-kata itu. Aku mengingatnya! Dia.. Dia... Russia!
"Kenapa kau menangis, da?,"
Aku heran. Bicara dengan siapa dia. Tapi, aku melihat sosok yang mirip denganku. Dan itu memang aku.
"Ah... aku tidak menangis... hanya saja.. kupu-kupu ini... mati..,"
"Eeh? Mati, da? Kenapa begitu?,"
"Aku juga tidak tahu...,"
"Ah, begini saja... bagaimana kalau aku menghidupkan kupu-kupu ini lagi?,"
"Itu tak mungkin terjadi Russia...,"
Mataku terbelalak ketika mendengar kata-kata itu.
"Kalau tidak dicoba, mana bisa kita tahu?,"
"Hihi... kubilang tidak akan... karena bukan kita yang menciptakan kupu-kupu itu...,"
"Benarkah?,"
"Tentu saja... yang mencitakannya adalah Tuhan,"
"China, da... maukah kau mengajariku tentang kebahagiaan?,"
"Dengan senang hati".
Aku meremas bunga-bunga yang kududuki. Tiba-tiba saja langit menjadi hitam. Aku menatap keatas. Mataku membesar dan aku berteriak. Hantu yang rupanya seperti hantu Indonesia yang bernama kuntilanak, tiba-tiba saja mencekikku.
"AGHH! TOLONG! TOLONG! ARGHHHH!,"
Selagi aku minta tolong, ada seorang laki-laki yang mengintip dari balik pohon. Lelaki itu hanya menatapku. Tidak menolong atau apa. Aku hampir kehabisan napas.
"Aaahhh... kumo... hon... se.. seorang...,"
Aku pun jatuh pingsan.
-0-0-0-0-0-0-
"Nghh...,"
Aku sadar dan tiba-tiba saja mencium aroma yang sangat wangi. Aku mencoba untuk membuka mataku. Aku kaget ketika melihat sekumpulan orang-orang yang telah kubunuh. Mereka sedang asyik mengobrol. Aku melihat Latvia, anak yang belum lama ini kubunuh. Aku melihat sekitar dan di sana ada adik-adikku. Hongkong, Japan, Korea, dan Taiwan. Aku melihat tanpa berkedip. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku. Aku kaget.
"Sudah lama sekali ya, Yao Yao, da...,"
Su... Suara ini... Russia!
"Ru-Russia...?,"
"Iya... ini aku, da... sudah lama sekali ya...,"
Tak terasa air mataku meleleh. Lalu aku melihat sekelilingku.
"Ah... ini mimpiku bukan...?,"
"Ya, da... ini mimpimu...,"
"Ini adalah mimpi terindah dalam hidupku... ditambah lagi, ada semua orang yang kucintai dalam mimpiku ini,"
"Yao, da... kenapa kau membunuh..?,"
Aku tak menjawab.
"Jawablah Yao, da... aku tak akan marah...,"
"... aku... aku... aku tak punya alasan... hatiku berkata untuk terus membunuh...,"
"...Yao, da... lihat ini...,"
Aku melihat diriku saat aku masih kecil. Aku terdiam. "Ternyata aku manis juga saat aku masih kecil...," pikirku.
"Ayo kita lihat masa lalu kita berdua...,"
Lalu Russia menarikku dan membawaku ke dalam bundaran cahaya.
-0-0-0-0-0-
Memories 1
Just Dead
"Roshia-chan...,"
"Ada apa Nee-san?,"
"Ada surat dari Ayah,"
(Isi surat) Russia, Apa kabarmu nak? Ayah rindu sekali padamu. Ayah ingin sekali bertemu denganmu. Tapi... sayangnya hidupmu harus berakhir sampai di sini. Ayah sudah menyuruh beberapa orang untuk mencari dirimu. Dari dulu... Ayah selalu ingin membunuhmu. Jadi.. Ayah telah mengirimkan surat kematian? Indah Bukan?
"... Aku tak mengerti...,"
"Roshia-chan... sebaiknya kau... pergi dari sini..,"
"Ne-Nee-san..?,"
"CEPAT!,"
"I-Iya!,"
"Russia... kenapa Ayahmu ingin membunuhmu..?,"
"... Aku juga tidak tahu..,"
"Kenapa... Kenapa begitu menyedihkan...,"
"China,da... ,"
Russia menggengam tanganku. Rasanya dingin. Lalu aku tersenyum.
"Russia...,"
"Iya, da?,"
"Tunjukkan lagi... aku ingin tau kelanjutannya..,"
"Baiklah...,"
Lalu Russia membawaku masuk ke dalam sebuah cahaya berwarna ungu.
-0-0-0-0-0-
Memories 2
First Time
"Ayah... mengapa Ayah ingin membunuhku..? Apa salahku...?,"
-SREKK-
"Su-Suara apa itu? Si-Siapa di sana!,"
"A-aah... ma-maaf... tadi aku hanya lewat-lewat sini, lalu aku mendengar suara orang...,"
"... Ternyata manusia, kupikir babi hutan...,"
"Ti-Tidak sopan ya!,"
"Hahaha... aku hanya bercanda kok... oiya, ngomong-ngomong... kamu siapa?,"
"Aku? Aku China, aru...,"
"China? Waah... tetangganku ternyata, Aku Russia salam kenal ya, da~,"
-0-0-0-0-0-
Memories 3
Stay with me
"Russia... mengapa kau ada di sini?,"
"... Ayahku... Aahku ingin membunuhku, da...,"
"A-APA! MEMBUNUHMU! YANG BENAR SAJA!,"
"Sepertinya... Ayahku membenciku, da... tetapi aku tak tahu apa alasannya dia membenciku..,"
"Jadi... kau tidak punya tempat tinggal?,"
"Iya... aku tidak punya...,"
"Kalau begitu... tinggal bersamaku saja? Mau tidak?,"
"Bo-Boleh!,"
"Tentu, tapi maaf kalau rumahku sedikit ramai...,"
"Tak apa, da.. yang penting ada tempat tinggal untukku..,"
"Umm... soal baju, biar nanti kubuatkan saja..,"
"Kau bisa menjahit, da?,"
"Tentu, aru... hampir semua baju-baju adikku aku yang membuatnya,"
"Waah... bakatmu memang tak ada yang bisa menandingi..,"
"Aah... ka-kau terlalu memuji, aru...,"
"Ah... rupanya kau tinggal bersamaku waktu itu.."
"Haha... rumahmu sangat berisik, da...,"
"Yaah... namanya juga keluarga besar... jelas banyak yang tinggal di rumahku, aru...,"
-bersambung-
-0-0-0-0-0-
Muahaha (?) chap 2 apdet dan maaf kalo gaje amat ceritanya ^^"
Chapter 3 bagi yang baca dimohon untuk nangis (?)
