Mischievous Kiss

.

MinYoon's FanFiction

Story Jimsnoona, 2016

MinYoon and others Are belongs to God, Themselves.

Rated: T

Length: Chaptered

Warning:

Boyslove, OOC, typo(S)

Summary:

Min Yoongi bukan termasuk siswa pintar, ia jatuh cinta dengan sosok tampan dan jenius bernama Park Jimin. Namun sayang, cintanya tak terbalas karena Park Jimin tidak menyukai orang bodoh sepertinya.

.


Penting untuk tahu apa yang kau bisa dan apa yang tidak kau bisa. Jika kau memiliki kekuatan pikiran dan ketekunan, maka kau akan sukses di akhir –Jimin (Philip Chesterfield).


Semua murid kelas F nampak begitu lesu saat seongsaenim memberitahukan jadwal ujian akhir semester satu. Cuaca terik seolah begitu mendukung keadaan seluruh siswa kelas F untuk melakukan aksi bermalas-malasannya. Pengecualian untuk siswa bernama Min Yoongi, Lelaki itu tengah sibuk membolak-balikan lembaran buku diktatnya sembari menandakan dengan sebuah kertas post it kecil.

"Apakah ada pertanyaan?" Tanya Choi seongsaenim selaku wali kelas di kelas F.

Keadaan sekitar sangat hening, seluruh siswa kelas F terduduk lesu dan merasa sangat bosan jika membicarakan pelajaran.

"Seongsanim?" dengan cepat Yoongi mengangkat tangannya. Seongsaenim mengira jika Yoongi sakit perut dan akan meminta izin untuk pergi ke Toilet. Hal tersebut membuat seisi kelas menoleh kearah Yoongi.

"Ada apa, Min Yoongi?"

"Apa Anda sudah memutuskan materi apa saja yang keluar untuk ujian Sejarah?" Yoongi bertanya dengan semangat penuh, atensinya terfokus dengan semua perkataan yang dikeluarkan oleh seongsaenim.

Setelah menjabarkan apa saja materi yang dikeluarkan untuk bahan ujian nanti, seongsaenim memutuskan untuk membubarkan kelasnya. Yoongi masih menyibukkan dirinya dengan berbagai materi yang sempat ia catat satu persatu, mengeceknya sekali lagi dengan benar.

"Apa dia sakit?"

"Ada yang aneh dengannya."

Dari tempat duduknya, Hoseok dan Woozi mengobrol sembari berbisik pelan. Kedua pasang mata namja imut itu tengah asik memperhatikan sahabatnya yang tiba-tiba merasa sangat aneh dan tidak seperti biasanya seorang Min Yoongi mau merepotkan diri untuk mencatat materi ujian.

Tak jauh dari sana, sosok Namjoon diam-diam ikut memperhatikan Yoongi. Dalam hati ingin menghampirinya namun keanehan Yoongi seolah membuatnya enggan.

"Yoongi-ya, ayo kita ke Kantin,"

Yoongi menoleh ke sumber suara, lalu menemukan Hoseok dan Woozi yang saling merangkul mengajaknya untuk makan siang.

"Tidak, hari ini aku ingin menuntaskan catatanku. Aku harus menandai semua materi yang akan keluar saat ujian."

"Yoongi, kau sakit?" Woozi berkedip bingung.

"Tidak-tidak, kali ini aku serius. Aku harus mengalahkan si sombong Park Jimin itu! Aku yakin—"

"—aku bisa mengalahkannya pada ujian kali ini." ujar Yoongi dengan semangat menggebu-gebu.

"HMPFFTH—" baik Hoseok, Woozi maupun Namjoon, semuanya menahan tawa mereka masing-masing. Perut mereka serasa bergejolak hebat saking gelinya mendengar kata-kata yang Yoongi ucapkan.

"Ya, ya, ya. Puahahahaha!" hingga beberapa detik kemudian tawa mereka pecah dengan kerasnya.

"Kau tahu, itu tidak akan mungkin terjadi. Pfft… Min Yoongi, perutku sakit astaga."

"Benar, untuk apa kau berpikiran seperti itu. Lulus dengan nilas pas-pasan saja sudah bersyukur."

"Ya! kali ini aku serius, aku bersungguh-sungguh melakukannya." Kedua alis Yoongi menukik tajam. Matanya berapi-api begitu mendengar respon para sahabatnya.

"Mau bersungguh-sungguh sekalipun, akan tetap sama. Dia tak akan terkalahkan, apalagi denganmu." Hoseok bersedekap dengan wajah optimisnya, dengan keyakinan seratus persen ia berani jamin kata-katanya pasti menjadi sebuah kenyataan.

"Yoongi, pikirkan lagi. Jimin adalah penguasa ilmu."

"Tidak, aku akan mengubah sejarah kelas F. Setidaknya—setidaknya… namaku bisa di kertas yang sama dimana namanya juga tertulis. Aku akan masuk 100 peringkat tertinggi!"

"Yoongi-ya, kau membutuhkan waktu 100 tahun untuk mengalahkannya."

"Yoongi, ingatlah… jarak antara A sampai F jauh sekali. Kau harus melewati kelas B, C, D dan E dulu." Namjoon ikut memberikan nasihatnya dengan sangat pedas.

"Ya! sebenarnya kalian temanku atau bukan?!" ejekan demi ejekan Yoongi terima. Merasa jengah dengan keadaan, Yoongi memutuskan untuk merapihkan peralatannya kemudian melarikan diri menuju Toilet.

"Mereka benar-benar menyebalkan. Hoseok, Woozi dan Namjoon sama saja. Sahabat macam apa itu?"

Gumaman kesal itu Yoongi layangkan tiada henti sepanjang perjalanannya menuju Toilet ia tetap mengumpati para sahabatnya yang sudah sangat tega menjatuhkan semangatnya. Walaupun memang terdengar sangat mustahil, tetapi setidaknya Yoongi memiliki niat dan keyakinan yang sangat penuh. Dirinya hanya tinggal berusaha, kemudian mencoba menjalaninya.

Yoongi hendak memasuki Toilet namun dirinya sempat berpapasan sejenak dengan sosok Jimin, berjalan dari arah yang berlawanan. Keduanya bersitatap, Jimin dengan tatapan dinginnya dan Yoongi dengan raut wajah gugupnya.

"Kau harus mengingat jalan pulang dengan baik, aku tidak ingin direpotkan untuk mencarimu jika tersesat." Ketika keduanya sejajar dengan arah berlawanan, Jimin mengutarakan ucapannya dengan kalimat bisikannya yang begitu tajam.

Yoongi mendelik tak suka. "tentu saja aku mengingatnya dengan baik." Balas Yoongi sekenanya. Dalam hati batinnya memaki kasar mengapa jantungnya berdebar kian cepat saat Jimin berada di dekatnya.

"Satu lagi, jangan berbicara denganku saat di Sekolah." Selepas kalimat itu terucap Jimin memutuskan untuk mengambil langkahnya meninggalkan sosok Yoongi tercengang di tempat.

"Apa dia tidak sadar jika dia yang berbicara terlebih dahulu denganku?" Yoongi menggelengkan kepalanya tak percaya, mungkin saja fakta tersembunyi sosok Park Jimin adalah sifat idiotnya.

Yoongi mulai memasuki Toilet, suasana sepi membuatnya lebih leluasa melanjutkan acara limpahan kesalnya. Namja berkulit putih pucat itu mulai membasuh wajahnya dengan air mengalir pada westafel yang tersedia di sana. Setelah selesai matanya melihat pada cermin yang memantulkan tubuhnya di sana.

"Park Jimin, musnah kau!"

.

xXxXxXx

.

Sepulang sekolah Hoseok, Woozi, Namjoon beserta kedua anak buahnya-Kyuhyun dan Changmin- memutuskan untuk berkumpul sejenak. Rencananya akan pergi ke sebuah café untuk menikmati waktu luang. Namjoon melancarkan aksinya dengan seribu rayuan agar Yoongi turur serta pergi bersama mereka, tetapi nihil karena dengan tegas Yoongi melakukan penolakan berat.

'Aku harus pulang ke rumah sahabat ayahku kemudian belajar dengan giat.'

Kata-kata Yoongi barusan seolah masih setia terngiang pada telinga mereka, membuatnya terasa makin aneh. Hoseok menanyakan perihal dimana sahabatnya itu tinggal sekarang namun yang ia dapatkan hanyalah sebuah jawaban Yoongi yang kurang masuk akal.

"Aku baik-baik saja kalian tidak perlu tahu dimana tempat tinggal sementaraku."

Dan hal tersebut membuatnya penasaran bukan main.

"Jadi, sepertinya Yoongi makin aneh saja."

"Benar Hosiki, aku takut terjadi apa-apa dengannya."

"Kuharap Yoongi tidak dijadikan pembantu rumah tangga yang disiksa oleh majikannya."

"Kau berlebihan, Namjoon-ah." Secara bersamaan Hoseok dan Woozi melotot kearah Namjoon seolah tidak terima.

"Aku tidak bisa membayangkan jika itu terjadi dengan Yoongi-ku. Huwaaah!" Namjoon berteriak sedih dengan wajah mirisnya yang membuat teman-temannya mendesis tak suka.

"Kau menjijikan, Namjoon. Yoongi mana mau denganmu!" sindiran pedas keluar begitu saja dari mulut manis Woozi.

"Aku jadi penasaran," Hoseok mulai melanjutkan pembicaraan.

"Apa yang harus kita lakukan?"

"Iya, apa yang harus kita lakukan… Yoongi makin aneh saja."

"Kalian bodoh sekali, ikuti saja Yoongi saat perjalanan pulang." Celetukkan singkat anak buah Namjoon membuat semuanya kompak menatapnya penuh semangat.

"Woah! Idemu cemerlang Kyuhyun! Kau memang anak buahku dengan otak paling encer." Namjoon bertepuk tangan dengan riuhnya.

"Aku bisa mati jika konsistensi otakku encer, boss bodoh." Gumaman Kyuhyun dengan raut wajah datarnya mengundang tawa seluruhnya dari mereka.

.

xXxXxXx

.

Di kediaman keluarga Park, semua anggota keluarga Park dan Yoongi makan malam bersama. Kali ini Ayah Yoongi absen karena harus mengurus Restorannya yang penuh pelanggan. Yoongi melirik kearah Jimin yang sedang makan dengan karisma dinginnya yang melekat erat.

'Biar bagaimanapun dia memang sangat tampan.' Bisik Yoongi dalam hati. Matanya tidak lepas sama sekali memperhatikan sosok Jimin.

Heechul tampak menangkap basah kegiatan Yoongi barusan, kemudian dengan senyum genitnya ibu dua anak itu mulai bersuara. "Jimin tetap tampan, kau tidak perlu melihatnya terus-menerus, Yoongi-ya."

Ucapan Heechul sontak membuat Jimin mendongakkan kepalanya lalu matanya bertemu pandang dengan Yoongi. Pipi Yoongi memanas tiba-tiba, dirinya langsung mengalihkan pandangannya dan menyibukkan diri. Hankyung ikut terkekeh melihat interaksi Jimin dan Yoongi itu sementara Taehyung, si bocah kecil itu hanya mencibir dengan wajah kesalnya.

"Jimin hyung tidak menyukai orang bodoh." Celetukkan pedas Taehyung membuat Yoongi melihat bocah kecil itu dengan wajah kesalnya.

Heechul berusaha melerai dengan menyentil pelan bibir Taehyung yang nakal. "Taehyungie tidak boleh seperti itu dengan Yoongi hyung." Nasihat Heechul dengan Taehyung yang membuang mukanya kearah lain.

"Terima kasih atas makanannya." Yoongi mengundurkan diri dan mulai beranjak dari tempatnya.

Di sebrang mejanya tampak Jimin yang diam-diam meliriknya dalam satu detik. Yoongi membereskan peralatan makannya, mencuci piring bekas pakainya kemudian ia pamit ke kamar dengan alasan ingin belajar untuk persiapan ujian semester.

"Kau tidak perlu makan terburu-buru, Yoongi-ya."

"Sebentar lagi akan ada ujian, jadi aku harus belajar, Bibi."

Dengan semangat Heechul memuji ketekunan Yoongi yang mau repot-repot untuk belajar di malam hari. Selama ini ia mengeluh karena anak-anaknya tidak pernah seperti Yoongi, terlebih Jimin. Anak pertamanya itu sama sekali tidak pernah belajar dan Heechul merasa hidup anaknya sangat membosankan. Heechul terus memuji semangat belajar Yoongi sedangkan Jimin dengan cuek melihatnya, ia terus melanjutkan makan malamnya.

Di dalam kamarnya Yoongi memulai aksi belajarnya. Ia bertekad belajar mati-matian, namun kenyataannya tak ada satupun pelajaran yang masuk ke otaknya.

"Aku harus bisa, tidak boleh mengeluh…"

Yoongi mengambil buku cetak besar dengan judul sampul bertuliskan Sejarah di depannya. Mulai membacanya dengan teliti. Satu menit berjalan mulus hingga pada menit kelima belas cahaya matanya mulai meredup. Entah mengapa membaca menjadi sesuatu yang membuatnya mengantuk, kepalanya hampir saja terantuk meja belajar.

"Ah, aku harus semangat! Ah, kalau begitu Matematika saja. Benar!" semangatnya terkumpul lagi, ia mengeluarkan buku cetak tebal dengan judul Matematika lalu membukanya, mencari beberapa soal dan mulai mengerjakannya.

Yoongi terpekur melihat deretan soal pada buku tersebut, hanya cengiran yang bisa ia berikan. Pensil di tangannya bergerak acak dan tak jelas. Yoongi murung sejenak, menyesali waktu yang selama ini ia buang.

"Aku… aku tidak mengerti dengan Matematika. Hhh~"

Bahu kecil Yoongi semakin lesu, nampak seperti seseorang yang tak memiliki harapan hidup. Lagi-lagi yang dilakukan Yoongi hanya mengganti buku pelajarannya, membolak-balikan halamannya sebentar kemudian menjatuhkannya lagi. Wajahnya seperti orang mabuk akan ilmu melihat deretan tulisan di dalam buku tersebut, kepalanya terasa berkunang-kunang.

"Hoseok benar, kalau begini caranya butuh waktu seratus tahun untuk masuk 100 peringkat tertinggi."

Yoongi pundung, merasa begitu sedih dengan dirinya yang telahir dengan otak pas-pasan. Yoongi terhanyut dengan lamunannya namun tiba-tiba terdengar sebuah ketukkan pintu dari arah luar.

"Yoong-i-ya~" ia mengenali suara itu. Suara Heechul yang mendayu memanggil namanya. Tanpa mau menunggu lama Yoongi langsung membukakan pintu kamarnya dan di sana ada Heechul yang membawa nampan dengan beberapa camilan di atasnya.

"Snack malam hari untuk seseorang pekerja keras…" Yoongi tersenyum lembut melihat perlakuan Heechul padanya.

Keduanya masuk kemudian Yoongi mempersilakan Heechul duduk dan mulai mengobrol singkat. Yoongi bilang ia sangat tersentuh dengan kebaikan Heechul yang mengingatkan dirinya yang merindukan sosok sang Ibu.

"Yoongi-ya, kau tidak boleh sungkan, anggap saja Bibi adalah Ibumu."

"Terima kasih banyak, Bibi. Tidak apa, aku sudah cuku merasa senang dengan seluruh kebaikan yang Bibi dan Paman berikan." Heechul mendekatkan diri lalu merangkul Yoongi begitu melihat senyuman manis itu terpancar dari wajah lelaki manis di hadapannya.

"Kau sangat manis, Yoongi-ya. Sejak awal melihatmu Bibi sudah sangat menyukaimu."

"Yoongi juga." cengiran singkat kembali Yoongi berikan pada Heechul, membuat wanita paruh baya itu tersenyum lembut.

"Bibi senang sekali bisa melakukan hal seperti ini, menemani anaknya belajar di malam hari dan membuatkannya makanan ringan." Yoongi merasa janggal dengan perkataan Heechul, darinya berkerut meminta penjelasan lebih.

"Memangnya Jimin…?"

"Hah~ anak itu tidak pernah belajar." Ucap Heechul dengan nada sedihnya,

"Apa?! Jimin tidak pernah belajar sama sekali?" Yoongi menatap horror ibu dua anak tersebut. Merasa responnya sangat berlebihan, Yoongi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Jimin benar-benar jenius ya…" pujinya salah tingkah.

"Kau sangat mirip dengan Ibumu, Yoongi. Ah, memikirkannya membuatku sangat merindukannya." Mendengar penuturan Heechul membuat Yoongi tersenyum membenarkan.

"Oh ya, Bagaimana kau dengan Jimin?"

Mata Yoongi membola mendengar pertanyaan Heechul barusan. Apanya yang bagaimana dengan dirinya dan Jimin?

"Jimin…?" Heechul mengangguk antusias saat Yoongi malah balik bertanya kepadanya.

"Ya, Jimin. Bagaimana sifatnya kepadamu?"

"Jimin… dia baik…" Yoongi tersenyum dengan sarat dipaksakan, menutupinya dengan sangat rapih di hadapan Heechul.

"Kau tidak berbohong, 'kan? Ah syukurlah, aku kira sifatnya yang kaku dan membosankan itu akan mengganggumu."

'Bibi benar, aku berbohong. Jimin tidak pernah bersikap baik denganku. Dia terus-menerus merendahkanku dengan sifat angkuhnya, mengataiku bodoh. Dan dengan teganya ia menyuruhku untuk berpura-pura tidak mengenalnya, bahkan ia enggan berbicara denganku.'

Dalam hati Yoongi berbisik pilu, hatinya meringis sesaat. Perlakuan Jimin padanya selama ini memang lumayan keterlaluan.

"Tidak, Bibi tenang saja."

"Tadinya Jimin tidak seperti itu, ia sangat ceria dan menggemaskan. Tetapi, sewaktu dirinya memasuki Sekolah dasar ia mulai berubah."

"Berubah?"

"Iya, Jimin berubah total. Dia menjadi pribadi yang sangat membosankan. Aku takut jika ia tidak memiliki teman. Kejeniusannya membuatku takut,"

"Takut?"

"Tentu saja takut, siapa yang tahu jika temannya akan bersikap baik di depannya karena Jimin anak yang sangat pintar namun saat di belakangnya, bisa saja semua temannya membicarakan kejelekannya, 'kan?"

"Jadi, Jimin tidak memiliki teman yang benar-benar memahaminya?"

"Selama ini yang kutahu ia belum memilikinya, mungkin saja karena sifatnya juga yang tertutup pada semua orang, tetapi aku ibunya, Yoongi. Aku bisa merasakannya karena dia adalah anakku."

"Bibi tidak perlu khawatir, aku yakin Jimin pasti bisa melewatinya." Yoongi hanya bisa memberikan senyum terbaiknya, seolah berkata jika semuanya akan baik-baik saja.

"Hm, sebentar… ada hal yang ingin kubagi denganmu."

Jantung Yoongi berdebar kencang, hal apa yang sekiranya ingin diberitahu oleh Heechul kepadanya. Yoongi bergerak gelisah, masalahnya sesuatu yang Heechul beritahu nanti adalah sebuah informasi tentang Jimin, orang yang selama ini disukainya.

"Tadaaa! Photo album. Kau boleh melihat-lihat." Yoongi menoleh dan melayangkan pandangan bertanya yang dijawab anggukan oleh Heechul.

Saat tangannya mulai membuka halaman pertama, matanya disajikan dengan berbagai foto Jimin di sana. Jimin dengan seragam putih beserta dasinya yang dibalut oleh blazer merah, seragamnya di Bangtan High School. Yoongi bergumam pelan, telunjuknya mengelus lembut foto Jimin di sana.

"Ah foto ini."

Ia ingat betul, foto itu diambil ketika Jimin berpidato di atas panggung pada saat penerimaan murid baru. Jimin tampil sebagai siswa dengan nilai kelulusan tertinggi dan tanpa disadari Yoongi mulai jatuh terpukau dengan kehadiran sosok Jimin di sana.

Dalam diamnya Heechul menatap Yoongi yang dengan manisnya terhanyut mengagumi foto Jimin, senyumnya terasa berbunga-bunga melihat Yoongi yang nampaknya menyukai anak pertamanya.

"Eh?" Yoongi menatap heran beberapa foto dari photo album yang lain.

Matanya menelisik dengan tajam memperhatikan sosok tersebut. Seorang anak perempuan manis yang lucu dan menggemaskan dengan gaya tengilnya diabadikan di dalam photo album tersebut. Yoongi berpikir keras siapa gerangan gadis yang berada di foto tersebut.

"Itu Jimin…" penjelasan Heechul membuat Yoongi terdiam tanpa kata, rahang bawahnya hampir saja terjatuh mendengar kebenaran tersebut.

"Jimin…?"

"Ya, Yoongi. Dulu aku menginginkan sosok anak perempuan yang manis. Tetapi Jimin datang dengan wujud laki-laki. Aku sempat depresi mendengar hal tersebut, terlebih aku sudah mempersiapkan semuanya dalam bentuk aksesoris serba perempuan. Itulah mengapa aku dengan keinginan konyolku mendandaninya sebagai anak perempuan." Yoongi melotot tak percaya melihat sosok Jimin kecil di sana yang didandani dengan baju-baju dan gaun anak perempuan ditambah dengan bando merah jambu.

Terasa begitu menggelitik perutnya, Yoongi hampir saja menggelakkan tawanya namun ia ingat jika suasana sudah sepi. "jadi, Jimin? hahaha…" Yoongi terkikik dengan tawa renyahnya.

"Benar, sejak saat itu aku menikmati ketika Jimin yang manis dengan tampilan perempuan. Tetapi saat ia mulai memasuki sekolah dasar, beberapa temannya tahu jika aku suka mendandaninya sebagai anak perempuan. Jimin diejek habis-habisan kemudian ia mengalami trauma dan marah. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menghentikan itu semua."

"Bibi, aduh… dia manis sekali. Ahahaha!"

"Ah, Bibi jadi rindu saat-saat Jimin seperti itu."

Diam-diam Yoongi mengeluarkan seringainya, teramat bahagia bisa mengetahui sebuah fakta yang sangat rahasia tentang seorang Park Jimin. Jika ia jahat, bisa saja ia menyebarluaskannya dengan sangat cepat.

"Yoongi-ya, berjanjilah untuk menjaga rahasia ini, oke?"

Kekehan Yoongi tiada hentinya, lelaki manis itu masih sibuk memusnahkan tawanya yang begitu geli. "Oke Bibi…"

"Sebagai tutup mulutnya, aku memberikan dua koleksi foto Jimin yang menggemaskan ini kepadamu."

Yoongi masih cekikikan menatap hasil foto yang diberikan oleh Heechul. Foto Jimin dengan pose kedua tangannya yang menumpu bagian dagunya. Tersenyum dengan deretan giginya yang kecil, gaun merah jambunya senada dengan bando mungil yang menghiasi rambut sebahunya. Dan satu fotonya yang sedang memegang kedua sisi gaun merah jambunya, sungguh menggemaskan.

"Dia lucu sekali. Ahahaha…"

.

xXxXxXx

.

Keesokan paginya Kangin turut serta mengikuti sarapan pagi di kediaman keluarga Park. Suasana kekeluargaan di sana terasa cukup kental mengingat persahabatan kedua kepala keluarga tersebut yang menginjak cukup lama. Tak lama kemudian Jimin datang ikut bergabung untuk sarapan paginya.

"Selamat pagi~ Ji-mi-nie~" Dari tempat duduknya Yoongi tersenyam-senyum konyol sembari memperhatikan sosok Jimin yang tengah sibuk membaca Koran pagi. Wajahnya yang seakan mengolok-olok itu membuat Jimin heran bukan main.

Jimin tak mau ambil pusing, segera menuntaskan sarapan paginya dan mulai mempersiapkan keberangkatannya menuju Sekolah. Ia mengabaikan Yoongi yang tiba-tiba saja terkekeh kearahnya.

"Apa otak bodoh Min Yoongi rusak karena belajarnya semalam?" celetukkan pedas itu terdengar mengejek, namun Yoongi mencoba mengabaikan sosok Taehyung yang dengan sinisnya melihat kearahnya.

"Taehyungie, ucapanmu…" Heechul gemas sendiri, tangannya mencubit pipi Taehyung dan membuat bocah kecil itu meringis.

"Terima kasih atas makanannya." Dengan terburu Jimin mulai beranjak dari tempat duduknya.

"Jimin hyung aku berangkat bersamamu." Dengan gesit Heechul mendudukkan Taehyung kembali, tangannya menahan kedua bahu Taehyung yang sedikit protes karena ulahnya.

"Yoongi-ya, berangkatlah bersama Jimin, ayo cepat susul dia." Melihat lampu hijau di hadapannya, Yoongi bergegas menyusul Jimin yang sudah keluar dari pintu rumahnya.

"Eomma lepaskan aku! Ya, eomma~" Taehyung kecil merengek dengan kakinya yang menendang-nendang, Heechul masih setia menahannya dan sudah pasti rencana anak keduanya yang menginginkan berangkat bersama dengan Jimin gagal total.

"Anak nakal harus dihukum, cepat habiskan sarapanmu." Lagi-lagi Heechul mencubit gemas pipi gembil Taehyung yang tentu saja mengundang tawa dari Hankyung dan Kangin.

.

xXxXxXx

.

Yoongi melajukan langkahnya dengan cepat, berusaha menyusul langkah Jimin yang sudah jauh berjalan di depannya. Ia ingat posisinya yang selalu berada dua meter di belakang sosok yang dikaguminya itu. Pikiran Yoongi melayang bebas, membayangkan waktu dimana dirinya dapat berjalan beriringan dengan sosok Jimin. Berjalan bersisian dengan senyum lebar satu sama lain membuatnya ikut tersenyum membayangkannya di Pagi hari yang indah.

'Duk'

Yoongi meringis pelan begitu menyadari hidungnya membentur punggung Jimin yang keras, dirinya sudah terlalu lama terhanyut dalam khayalan tingkat tingginya.

"Ada apa?!" dengan emosi yang meluap-luap Yoongi bertanya.

Tanpa berbalik sedikitpun Jimin menjawab dengan lantang, "ingat untuk tidak berbicara apapun denganku."

Yoongi mendecih sebal melihat perlakuan Jimin terhadapnya, seharusnya ia mengaku saja kepada Bibi Heechul jika ia berbohong perihal Jimin yang berbuat baik dengannya.

Keduanya kemudian berpisah memasuki kelas masing-masing, letaknya benar-benar dari ujung ke ujung. Sangat jauh perbedaan antara kelas A dengan F.

Sepanjang pelajaran berlangsung Yoongi masih saja menggerutu akibat tingkah Jimin yang menurutnya sangat sombong. Tetapi ia berusaha untuk fokus, Yoongi harus bisa mengerjakan berbagai soal ujian semester kali ini.

"Gojoseon adalah kerajaan Korea pertama yang didirikan oleh Dangun pada tahun 2333 SM, 2333 SM Gojoseon 233 SM… kerajaan pertama, didirikan oleh Dangun. " daritadi Yoongi sibuk merapalkan pelajaran Sejarah, entah sudah berapa kali lelaki manis itu sibuk dalam hafalannya.

Bahkan di saat jam istirahat sekalipun, tak gentar menyusutkan niat belajar Yoongi yang berai-api. Melihat itu semua, Hoseok dan Woozi terbengong heran dengan sahabatnya yang benar-benar mencurigakan.

"Yoongi, kau serius sekali." Ujar Namjoon yang tiba-tiba datang lalu memperhatikan wajah imut Yoongi yang terlihat serius menghafal pelajaran Sejarah.

Yoongi sama sekali tidak menghiraukan ulah sahabatnya, dirinya tetap menaruh fokus pada pelajaran yang tengah ia geluti saat ini.

"Min Yoongi-sshi." Pengecualian untuk sebuah suara yang langsung mengambil atensinya.

Yoongi terlonjak begitu mengenali suara tersebut, Jimin memanggilnya. Tepat berada di pintu kelasnya. Seluruh siswa kelas F mendadak hening secara bersamaan, sosok Jimin begitu menarik perhatiannya.

"Min Yoongi-sshi, bawa tasmu dan temui aku di Halaman sekolah sekarang." sosok Jimin meloyor pergi meninggalkan Yoongi yang masih melongo dan secara tidak sadar mengikuti Jimin pergi.

Keadaan tersebut membuat para sahabat Yoongi panik, terlebih Namjoon yang mengira jika saja Jimin berubah pikiran dan menerima Yoongi sebagai kekasihnya.

"Tidak boleh terjadi! Kita harus menghentikan mereka!" Namjoon menggeret Hoseok dan Woozi beserta kedua anak buahnya, mereka berlima bergerak gusar menyusul Yoongi dan Jimin menuju Halaman sekolah.

"Ada apa, bukankah kau sendiri yang memintaku untuk tidak berbicara denganmu saat di Sekolah?"

"Jangan terlalu percaya diri. Keluarkan bekalmu, yang benar saja. Eomma pasti sengaja menukar bekalku dengan bekalmu." Jimin tampak gusar melihat keadaan sekitar. Ia sengaja memilih Halaman sekolah yang sepi.

Keduanya tampak menukar bekal dari dalam tas mereka masing-masing. Benar saja, Heechul tampaknya sengaja menukar bekal mereka. Terbukti dengan bungkus kain hitam yang biasa Jimin gunakan kini beralih dengan warna biru laut dengan sebuah tulisan nama Yoongi di sana. Begitupula dengan bekal yang berada di dalam tas Yoongi, terdapat nama Jimin di sana.

"Kalau sampai teman-temanmu yang berisik itu tahu, pasti akan terjadi keributan."

"Mengapa kau malah mengejek teman-temanku, kau tidak memiliki teman ya?!" Yoongi bersungut tidak terima.

"Itu bukan urusanmu," jawab Jimin ketus.

"Aku tahu sekarang, mana ada orang yang tulus berteman dengamu jika sifatmu saja seperti itu."

"Oh ya, kau begitu bahagia memiliki banyak teman ya."

"Tentu saja, aku tak yakin kau juga bahagia melihat dirimu yang dulu berakhir dengan trauma oleh ejekan teman-temanmu saat mengetahui kau memakai pakaian perempuan." Yoongi menatap puas sosok Jimin yang mulai terkejut mendengar sindirannya.

"Apa maksudmu?!"

"Kau itu dibesarkan dengan pakaian perempuan! Ya 'kan?" Yoongi tersenyum miring, tangan jahilnya menyelinap masuk ke dalam saku blazernya kemudian mengeluarkan sebuah foto yang menurut Jimin sangat berbahaya.

"Ya! darimana kau mendapatkan itu?! Kembalikan!" Jimin panik bukan main, dalam sekali terjang ia menghampiri Yoongi dan berusaha merebut fotonya sendiri. Benar, foto masa kecilnya.

Namun tingkah Yoongi yang begitu gesit membuat Jimin kewalahan dan mulai menyerah. Ia tidak ingin tertangkap basah oleh orang lain yang tengah berduaan dengan namja berkulit putih pucat di hadapannya.

"Kembalikan itu padaku,"

"Dududududu~ kau bisa jahat denganku, mengapa aku tidak bisa berbuat sebaliknya?" Yoongi bersenandung dalam kata-katanya.

"Jadi kau sedang memerasku?!" Jimin mulai emosi, namun ia berusaha untuk tetap tenang dan dingin.

Dengan otak cerdiknya Yoongi membuat sebuah penawaran, ia akan mengembalikan foto itu dengan satu syarat yang harus Jimin kabulkan; Jimin harus membantunya belajar untuk ujian akhir selama mendekati ujian.

"Aku? Kau?" Jimin bertanya tak percaya, masih tercengang dengan penawaran yang diberikan Yoongi.

"Benar, Kau harus membantuku belajar. Jika aku bisa masuk 100 peringkat tertinggi maka aku akan mengembalikannya padamu." Jawab Yoongi penuh antusias.

"Tidak mungkin!"

"Kenapa tidak?" balas Yoongi santai.

"Penting untuk tahu apa yang kau bisa dan apa yang tidak kau bisa; Philip Chesterfield." Jimin berdalih dengan intonasinya yang cepat, membuat Yoongi bingung menyerap kata-katanya barusan.

"Field, apa? Kau barusan ngomong apa?"

"Maksudnya, itu hanya buang-buang waktu untuk menantang hal yang mustahil. Mustahil sekali membantu orang bodoh sepertimu untuk masuk di 100 peringkat tertinggi." Jelas Jimin dengan nada dinginnya, ia hendak berlalu pergi namun Yoongi mengancam akan menyebarkan foto Jimin di mading sekolah.

"Aku tidak masalah jika kau tidak mau membantuku, tapi ya… mungkin aku akan berbaik hati menyebarkan foto ini—" ucapannya terpotong saat mengejek Jimin sembari mengeluar-masukkan foto tersebut dari sakunya.

"Ya! Baiklah-baiklah, simpan itu baik-baik. Aku akan mengajarkanmu. Puas?!"

Yoongi tersenyum bahagia, tangannya langsung memasukkan foto tersebut ke dalam sakunya. Akhirnya Jimin bisa dikalahkan dengan jalan licik seperti ini.

"Setiap malam setelah makan malam selama seminggu penuh. Ingat, aku tidak akan memberikan belas kasihan. 100 peringkat tertinggi hanya dipenuhi oleh murid A dan B, sedangkan kau dari F… butuh kerja keras yang sangat berat menempatkanmu di sana."

"Arraseo, aku tidak masalah."

Setelah melakukan kesepakatan diantara keduanya, Jimin memilih untuk pergi meninggalkan Yoongi yang tengah asik merayakan kepuasannya, tak lama dari itu para sahabat Yoongi mulai berdatangan menghampirinya. Menanyakan soal dirinya dengan Jimin karena percuma saja mereka daritadi mengintip interaksi Jimin dan Yoongi tanpa mengetahui hal apa yang dibicarakan keduanya.

"Tidak apa-apa, aku tidak sabar untuk pulang dan belajar di rumah. Ah senangnya~"

Lagi-lagi sifat aneh Yoongi membuat para sahabatnya menatap curiga. Yoongi melenggang pergi meninggalkan semuanya dengan senyuman manis yang tiada henti berkibar di wajahnya.

.

xXxXxXx

.

Makan malam kali ini Yoongi kembali ditinggal oleh ayahnya yang masih sibuk mengurusi Restorannya. Hal tersebut tidak membuat Yoongi merasa terbebani, dirinya sudah mulai terbiasa dengan adaptasi lingkungan keluarga Park yang ramah, tentu saja hanya Hankyung dan Heechul. Tidak dengan Jimin dan Taehyung.

Yoongi teringat kesepakatan yang ia buat bersama Jimin siang tadi. Tak dapat dipungkiri hatinya sedikit berbunga mengingat hal apa yang akan dilakukannya dengan Jimin setelah makan malam nanti.

'Belajar berdua… dengan Jimin…'

Pipi Yoongi memanas begitu matanya menangkap sosok Jimin di seberang tempat duduknya, Yoongi tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Heechul yang diam-diam memperhatikannya ikut tersenyum dan mengatakan kepada Yoongi jika dirinya akan membuatkan camilan lagi untuk Yoongi malam ini.

"Eomma, tolong buatkan camilannya dua." Pinta Jimin secara tiba-tiba, "lalu bawa ke kamar Yoongi, ya?"

Heechul terhenyak begitu pula suaminya dan adiknya –Taehyung- hendak mengajukan protesnya.

"Maksudmu kau akan belajar dengan Yoongi?!" Ibu dua anak itu memekik gembira melihat perubahan yang terjadi dengan anak sulungnya.

"Hyung, kau akan membantunya? Tidak adil sekali." Gerutu Taehyung melayangkan aksi ngambeknya. Jimin memberikan penjelasan jika Taehyung sudah pintar dan bisa belajar sendiri.

Tak lama Jimin pamit disusul dengan Yoongi yang mengekor di belakangnya, keduanya mulai memasuki kamar Yoongi dan Jimin menutup pintunya. Yoongi meneguk salivanya gugup, pasalnya hanya berdua dengan Jimin ditambah dengan keadaan pintu yang tertutup. Astaga, pikirannya mulai bercabang.

"Jadi, kita harus memulainya darimana?"

"Ehm—Matematika, mungkin?" jawab Yoongi dengan ragu.

Yoongi segera mencari buku Matematikanya, namun ia tidak menemukannya. Padahal hanya dengan sekali lihat Jimin berhasil menemukannya.

"Bukunya saja tidak hafal. Ketahuan sekali bodohnya."

"Kau ikhlas tidak, sih?" Yoongi menyahut galak ejekan yang Jimin berikan.

Jimin menarik kursi sembari menanyakan materi apa yang akan diujikan lalu Yoongi menjawab jika tentu saja materinya sama seperti Jimin.

"Aku tidak tahu punyaku." Yoongi menatap Jimin datar, kemudian memberitahu isi catatannya tentang semua materi yang sempat ia catat di kelas.

"Baiklah, ini poin yang penting." Jimin membolak-balikkan buku paket Matematika tersebut sembari menandai materi mana saja yang akan keluar.

"Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Yoongi penasaran.

"Kau lupa jika aku pintar?" dan Yoongi merasa dirinya menyesal menanyakan hal tersebut kepada Jimin.

"Bagaimana caramu belajar?"

"Jika aku mendengar atau membacanya sekali, aku bisa mengingatnya."

"WOAH! Daebak!" Yoongi berseru heboh. Membuat Jimin merasa terganggu dan menyuruhnya untuk diam.

Jimin berkata jika ia akan memberikan beberapa soal pada Yoongi dan dijawab oleh anggukan singkat. "kalau kau bisa mengerjakan ini, maka 80 % kau bisa mengerjakan soal ujian semester nanti." Ujar Jimin sambil memberikan soal yang telah selesai dibuatnya pada Yoongi.

Yoongi dengan semangat penuh mengerjakannya, namun yang bisa ia lakukan hanya memelototi soal tersebut.

"Kau bisa tidak sih?" Jimin mulai gusar dengan sikap Yoongi yang menurutnya sangat lelet.

Yoongi menoleh kearah Jimin kemudian menggeleng dengan wajah lesunya, Jimin yang paham maksudnya itu langsung menghela nafas.

"Apa yang kau lakukan di kelas?!" puncaknya Jimin selalu memarahi Yoongi dan mulai mengajarkannya dari awal dan dasar. Sesekali Jimin berteriak penuh emosi dengan kelambatan berpikir Yoongi yang membuatnya gemas.

Di ruang keluarga Heechul dan Hankyung sibuk mengobrol. Sepasang suami istri itu tampak masih kebingungan dengan perubahan sikap Jimin yang mau belajar dengan orang lain.

"Kira-kira apa yang membuat Jiminie berubah secepat itu ya, honey? Dalam waktu singkat Yoongi sudah merubah Jimin seperti itu!" komentar Heechul begitu antusias kepada suaminya.

"Mungkin ini perubahan yang baik untuk Jimin, sayang." Pikir Hankyung menjawab pertanyaan istrinya.

Tak jauh dari sana Taehyung mendengus bosan sambil meminum susunya, ia jengah mendengar pembicaraan kakaknya dengan Yoongi yang menurutnya tidak penting.

"Huh, apa bagusnya kalau hyung bersatu dengan si bodoh itu?"

Di dalam kamar Yoongi, Jimin telah usai membuat jadwal belajar yang akan Yoongi lakukan. Jimin berceloteh panjang lebar supaya Yoongi harus bisa menghafalkan semua rumus Matematika yang akan diujikan.

"Bawa terus buku kosakatamu, kalau perlu saat kau di kamar mandi sekalipun. Tempel semua rumus di dinding agar kau bisa membacanya terus-menerus." Jimin mati-matian membekali Yoongi dengan nasihat-nasihat kejamnya.

"Kalau kau merasa lelah, ingat satuhal… Kau siswa kelas F yang butuh kerja keras ekstra untuk mencantumkan namamu di 100 peringkat tertinggi. Hah, aku bahkan meragukanmu."

Yoongi menggerutu dengan keraguan Jimin atas kemampuannya. Dirinya harus bersabar supaya Jimin masih mau mengajarinya.

Tak lama Heechul datang untuk membawakan beberapa camilan lengkap dengan minuman teh di sana. Setelah selesai memberikannya, ia pamit keluar dan bersorak dalam hati atas kemajuan yang terjadi diantara Jimin dan Yoongi.

Keduanya belajar hingga larut malam, tak jarang jika Jimin yang harus bermalam di kamar Yoongi karena ia ketiduran di sana.

Yoongi melakukan tugasnya dengan benar, ketika di kelas ia sibuk belajar walau jam istirahat sekalipun. Perubahan tersebut tentu saja membuat Hoseok dan Woozi berdecak kagum meskipun hatinya masih penasaran.

"Aku sudah menghafalkan rumus ini, ini dan ini. Yeah!" Yoongi menandai sebagian rumus yang sudah berhasil dihafalkannya.

Kemudian pada hari-hari berikutnyapun terjadi dengan sama, dimanapun Yoogi berada ia akan terus belajar dan menandai apa saja yang sudah dicapainya pada jadwal yang sudah Jimin buatkan.

Interaksi Jimin dan Yoongi tana disadari bertambah pesat, baik setelah makan malam, sarapan pagi, bahkan diperjalanan menuju Sekolah keduanya masih melakukan pembelajaran singkat walaupun Jimin masih menuntut dengan jarak 2 meter yang ia pinta.

"Apa bahasa inggrisnya dalam kata lain?" suatu ketika Jimin bertanya kepada Yoongi ketika mereka berada dalam perjalanan pulang,

"Ah… other word... Bukan-bukan, In other words? Iya, In other words." Jawab Yoongi yang berhasil menjawab pertanyaan Jimin.

.

xXxXxXx

.

Malam sebelum ujian akhir terasa begitu cepat, Jimin memberikan sejumlah soal yang harus Yoongi kerjakan. Dengan bangganya Yoongi menjawab jika ia bisa menjawab soal-soal tersebut. Sembari memberikan tumpukan soal lainnya, Jimin menyuruh Yoongi untuk mengerjakannya karena masih banyak soal-soal yang harus ia kerjakan.

"Punggungku terasa mau patah…"

"Aku sudah pernah bilang jika aku tidak memberikan belas kasihan."

"Aku tahu, aku tahu!"

Perdebatan kecil mereka selalu memenuhi interaksi keduanya. Yoongi dengan segala ketekunannya berusaha memecahkan soal yang Jimin berikan. Waktu yang dilaluinya sangat tidak terasa cepat berlalu, begitu ia mendongakkan kepalanya yang ia temukan adalah sosok Jimin yang tertidur pulas di sampingnya dengan posisi duduknya yang begitu melelahkan.

"Wajahnya saat tertidur… Sangat damai dan semakin tampan…"

Yoongi memperhatikan setiap detail garis wajah Jimin yang begitu ia kagumi. Kedua matanya yang terpejam membuatnya seperti pangeran tidur yang begitu hangat. Tak terasa rasa kantuk mulai menyerangnya, daritadi Yoongi hanya memperhatikan Jimin tanpa berani menyentuhnya sedikitpun. Kemudian Yoongipun ikut tertidur berhadapan dengan Jimin di sampingnya.

Tak selang beberapa lama Heechul yang dengan rutinnya selalu datang tengah malam untuk memberikan camilan kepada Jimin dan Yoongipun datang, namun pada malam ini ada yang berbeda.

Ketika ibu dua anak itu memasuki kamar Yoongi, dia melihat Jimin dan Yoongi yang tertidur pulas. Dengan posisi tidur yang menggemaskan. Heechul berjengit kemudian dalam langkah terburu-buru ia keluar dan kembali dengan kamera yang selalu mengabadikan setiap moment berharga dalam hidupnya.

Kali ini ia mengabadikan sosok anaknya bersama Yoongi yang sama-sama tertidur pulas pada meja belajar, kepala keduanya berhadapan dan sangat menggemaskan menurutnya.

Keesokan paginya Jimin dan Yoongi kembali berangkat bersama. Heechul sudah bersiap mengantar keberangkatan keduanya sampai pintu depan.

"Kerjakan dengan teliti, Yoongi-ya. kau pasti bisa, semangat!"

"Ini cuma ujian akhir semester." Celetuk Jimin yang sudah bersiap untuk berangkat. Yoongi tidak peduli, ia tetap mengucapkan terima kasihnya kepada Heechul lalu berangkat menyusul Jimin.

Saat di perjalanan menuju Gerbang sekolah Jimin memutuskan untuk memisahkan diri dengan Yoongi. Kepalanya sedikit menoleh kearah belakang, memastikan Yoongi masih berada di belakangnya.

Yoongi yang heran dengan sikap Jimin hanya bisa mengangkat alisnya, bingung. Mereka akan berpisah menuju kelas masing-masing, namun Yoongi ingin satu kali saja mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Jimin.

"Terima kasih."

"Hwaiting." Tanpa diduga Jimin meresponnya, kemudian keduanya berpisah memasuki kelasnya masing-masing. Yoongi masih tidak percaya dengan Jimin yang membalas sapaannya.

Ujian di kelas F berlangsung, saat membuka soal ujian Yoongi nampak senang karena soal yang keluar sama persis dengan yang diajarkan oleh Jimin. Maka dari itu Yoongi mengerjakannya penuh semangat, berbeda dengan seluruh temannya yang terdengar mendesah kecewa. Yoongi mengerjakannya dengan teiti dan tenang.

Tiga hari kemudian ujian semester berakhir. Yoongi dengan kedua sahabatnya nampak begitu bahagia telah melewati hari-hari menegangkan, kemudian Namjoon datang beserta pengikutnya dan menarik Yoongi untuk keluar kelas. Namjoon memeluk Yoongi dengan sangat erat dan berjanji tidak akan melepaskannya meskipun Yoongi meminta.

"Kau jarang bersamaku akhir-akhir ini, jadi aku tidak akan melepaskanmu." Keenamnya pun bersemangat menuju tempat yang Namjoon putuskan.

Tak jauh dari kepergian Yoongi, Jimin berdiri terdiam menyimak dari jauh sosok Yoongi yang menghilang bersama kelima temannya. Jimin nampak tak suka melihat Yoongi dipeluk begitu erat dengan sosok Namjoon tadi. Dengan wajah juteknya ia bergegas pulang meninggalkan Sekolah.

.

xXxXxXx

.

Hasil ujian akhir semester sudah dipasangkan di papan pengumuman, kemudian ada seratus nama yang terpampang di sana.

"Akhirnya, keluar!"

Yoongi dengan penuh semangat menghampiri kerumunan di sana, dirinya mencari nama Jimin pada urutan pertama dan ia bisa bernapas lega saat menemukan nama Park Jimin di urutan paling atas dengan nilai sempurna. Pasalnya ia takut jika saja peringkat Jimin menurun akibat semalam suntuk mengajarinya.

Sementara di ujung papan Jimin tersenyum melihat nama yang terpampang di urutan paling akhir. Usahanya seminggu penuh tidak sia-sia, nama si bodoh itu berada di sana.

Jimin dan Yoongi berpapasan, lalu dengan tingkah konyolnya Yoongi mengucakan selamat kepada Jimin yang selalu menempati posisi pertama. Jimin juga sama halnya, memberikan ucapan selamat kepada Yoongi yang telah berhasil.

"Selamat."

"Apa, kenapa kau menyelamatiku?"

"Kau belum lihat?"

"Apa yang harus aku lihat?" mata Yoongi menyipit kemudian ia teringat akan satu hal, ia belum mengecek namanya pada papan pengumuman.

"Si bodoh itu…" Jimin menghela napasnya dan Yoongi kembali saat ia berhasil menemukan namanya di 100 peringkat tertinggi.

"Jimin! Aku bisa… astaga Jimin!"

"Aku tahu…" jawab Jimin sekenanya, tangannya terulur dan Yoongi mengambutnya. Namun seketika Jimin menepisnya lagi.

"Apaan sih? Bukan yang itu, cepat berikan fotonya!" Jimin menagih kesepakatan yang dibuatnya tempo lalu.

"Aaah, kau masih ingat rupanya."

"Bagaimana mungkin aku melupakannya."

Setelah memberikan selembar foto masa kecil Jimin, Yoongi tiada henti menyuarakan rasa bahagianya. Namanya yang dari kelas F tentu saja menarik perhatian seluruh siswa, membuatnya dipenuhi oleh decakkan kagum luar biasa.

Hari itu, adalah hari bahagianya ketika namanya bisa berada di dalam satu tembaran kertas dimana nama Jimin berada di dalamnya juga.

.

.

.

.

Tobecont.

.

.

.

.


Kepanjangan eh. Map ya 5,5K ini duh. Seperti yang dibilang, butuh imajinasi tingkat tinggi buat bayangin ke-OOC-an MinYoon di sini.

Fanfiction ini memang diambil dari drama Itazura na Kiss Love in Tokyo. Betul, banyak berbagai versi buat dorama ini. tapi Jims bukan ngambil dari yang Korean ver, karena menurut Jims yang Japan ini lebih mantap karakter Jiminnya xD

Fyi itakiss ada berbagai version;

Itazura na Kiss versi tahun 1996 (Japan)

Itazura na Kiss Anime (Japan)

Itazura na Kiss Manga (Japan)

Itazura na Kiss Love in Tokyo (Japan)

Playfull Kiss (Korean)

They Started With a Kiss (Taiwan)

Banyak 'kan? Bagi yang belum menonton wajibbb nonton untuk perbandingan di segala versi.

Keey, mind to RnR?

Terima kasih untuk reviewers, favers, followers dan siders di chapter sebelumnya! Jims tunggu kehadiran kalian semua! Lobyuuu :3

Jimsnoona.