Disclaimer: Naruto is not mine. I do not take any personal advantage (no profit) from this story. Except the happiness when receiving your awesome review, #thankyou.

Warning: Alternate Universe – Werewolf world... actually, supernatural world. Just see. A little bit of Out of Character. Typo (s). Ino's PoV. A lil bit of rush plot. #thankyou. XD.


Naruto © Masashi Kishimoto

Serigala Mencari Cinta

2


Kata orang kalau lapar itu, semua makanan terasa enak. Karena yang dipikirkan hanyalah mengisi perut yang sudah kosong. Seperti inilah yang dihadapi Ino sekarang.

Duduk di depan api unggun untuk mengurangi dingin yang menyengat, Ino mengambil lagi sedikit daging kelinci yang dibawa pulang oleh sang Serigala―mengutip kata-katanya. Tak dibumbui tapi rasanya seperti penuh rempah-rempah. Yap, lapar memang mengubah segalanya.

Dalam hati dia meminta maaf pada mahkluk imut ini karena telah memakannya. Tapi lapar mengubah orang. Kalau Hinata tahu dia memakan kelinci, mungkin dia akan jantungan di tempat. Ino tak bisa berkata apa-apa lagi, dia harus melakukan ini untuk bertahan hidup.

Walau jika dilihat, Ino hanya makan sekali hari ini, dan makanannya tidak terlalu mengenyangkan. Tapi lihat sisi positifnya; hitung-hitung diet dan menurunkan berat badan (bukan berarti dia tidak percaya diri dengan tubuhnya yang sekarang, karena oh, dia itu cantik. Tapi lihat sisi positifnya saja, karena kalau dia memikirkan yang negatif, kepalanya akan pecah dan emosi meledak-ledak. Dan sebagai catatan; tak peduli seberapa banyak Ino makan, tubuhnya akan tetap normal.) Haha, Sakura, saat dia kembali kau akan merasa iri atas kelangsingan tubuhnya.

Pria tadi duduk di sisi berlawanan gua. Diam menatap Ino dengan mata hijau itu. Menakutkan. Tapi setidaknya dia membawa makanan dan belum mengapa-apakan Ino.

Di luar matahari sudah terbenam. Tak ada sinar lagi kecuali yang berasal dari api unggun di hadapannya. Jadi yang tersisa hanyalah kegelapan yang mengerikan; suara jangkrik dan hewan-hewan nocturnal lain terdendang hingga ke telinga.

"Kau punya air?"

Pria itu berdiri dan berjalan tanpa kata ke arah mulut gua. Mengerikan.

"Setidaknya katakan sesuatu," katanya pada udara kosong. Mungkin Ino adalah orang paling aneh di seluruh dunia. Meminta penculiknya untuk berbicara padanya. Tapi ini membosankan. Sangat membosankan.

Beberapa menit kemudian pria itu kembali lagi dengan botol air. Entah dia mendapatkan botol itu di mana. Dia melemparnya ke arah Ino dengan akurasi seratus persen. "Itu."

Wow, dia sudah bicara. Tanpa ada sedikit pun dorongan. Hebat, walau hanya satu kata. Setidaknya Ino punya harapan untuk mengosongkan kebutuhan bicaranya. Karena berbicara pada seseorang yang tak menjawab itu rasanya berbicara pada benda mati. Lupakan fakta bahwa setiap kali dia berbincang dengan orang lain, dia yang paling sering berbicara. Ya, lupakan.

Ino menegak sedikit airnya, lalu melanjutkan makan. Dia mencoba untuk tidak terlalu memikirkan tentang asal usul botol ini, karena nanti ada banyak pertanyaan yang muncul di kepala pirangnya. Seperti darimana air ini berasal; seberapa bersih air ini; bagaimana dia mendapatkannya, dan masih banyak lagi.

Begitu dia selesai, hal pertama yang dia lakukan adalah menghangatkan tangannya yang dia cuci.

Pria itu masih menatapnya dari tempatnya semula. Tetap hiraukan, atau semuanya akan terasa canggung.

"Kau sudah selesai?" tanya pria itu.

Oke, Ino sempat terkejut saat pria itu bertanya. Dia mencoba untuk tak menunjukkan ekspresi itu di wajahnya. Entah dia berhasil atau tidak.

"Ya," kata Ino. "Aku ingin tidur."

"Kalau begitu tidur," jawab pria itu enteng.

"Uh, tak ada tempat tidur," kata Ino lagi. "Dan aku tidak mungkin tidur di atas sini," dia menunjuk ke arah kain putih yang menjadi alasnya.

Pria merah itu melihatnya dengan bingung, "Kau tidak keberatan kemarin tidur di atas tanah."

Ino meledak. Rasa marah yang tertekan oleh takut seolah meletus seperti gunung berapi. "APA!" teriaknya tak terima. "Aku tak keberatan," dia menunjuk dirinya, "Aku! Kau membuatku pingsan kemarin! Kau si serigala 'jadi-jadian' membuatku pingsan kemarin dan membawaku ke dalam gua mengerikan seperti ini. Lalu kau membaringkanku di atas kain putih ini tanpa sepengetahuanku. Dan sekarang kau mengatakan aku tak keberatan!" jangan heran jika dia bisa mengatakan semua itu dalam satu tarikan napas. Ya, jangan heran.

"Asal kau tahu, aku menghabiskan satu jam penuh menahan sakit tubuhku karena tidur di permukaan keras. Dan semua itu karena kau! Salahmu! Jadi cepat carikan aku tempat tidur karena aku tidak akan tidur lagi di atas tanah."

Napasnya keluar seperti dia sudah lari bermil-mil jauhnya. Hening menyapa setelah dia mengatakan semua itu.

Sepuluh detik.

Dua puluh detik.

Tiga puluh detik.

Satu menit.

Keberanian dan rasa marah yang tadi mengisi tubuhnya menghilang begitu saja. Ketakutan yang tadi sempat tertekan kini kembali. Kesadaran bahwa dia telah memarahi seseorang yang bisa membunuhnya dalam hitungan detik, mencabik dan mengoyak tubuhnya datang memberi tahu diri mereka.

Lalu hal yang paling aneh terjadi. Di saat Ino mengharapkan yang terburuk akan terjadi, si pria malah tersenyum.

Dan dia terbahak. Suara tawanya menggema dalam gua ini, meninggalkan Ino untuk menatapnya dengan kebingungan. Kemudian dia menggeleng.

"Kau itu mahkluk yang aneh."

Oke, itu benar-benar tidak sopan. Enak saja dia menyebut Ino dengan kata 'mahkluk' sementara dirinya sendiri adalah serigala jadi-jadian. Brengsek.

Untung dia sudah berjalan ke mulut gua, kalau tidak dia sudah pasti Ino beri ceramah panjang lagi.


XxX


Dengan luar biasa, pria itu berhasil membuat sebuah tempat tidur sederhana. Tempat tidur yang terdiri dari dedaunan dan ditutupi kain putih tadi. Dedaunan yang jumlahnya tidak sedikit. Memang bukan sesuatu yang bagus, tapi di tengah hutan seperti ini Ino tak akan pilih-pilih. Setidaknya dia tidak perlu tidur di permukaan yang keras dan bangun dengan sakit menyelimuti tubuh.

Satu hal yang kurang menyenangkan adalah udara dingin. Tapi itu tidak menghentikan Ino untuk masuk ke alam bawah sadarnya.

Dia bermimpi lagi. Dia berada di sebuah ruangan. Gelap. Lalu sebuah api besar muncul dari tengah ruangan, memberi cahaya untuk melihat sekeliling. Ada orang-orang mengelilingi api itu, entah berapa banyak. Suara mereka terdengar jelas di telinga Ino; keras, serentak, mengerikan. Kalimat-kalimat yang mereka katakan bukan sesuatu dimengeti Ino.

Ino mendekati api besar itu. Semakin dekat dia menyadari orang-orang tersebut menggunakan tudung hitam menutupi tubuh mereka.

Lalu sebuah wajah muncul dari api membuat Ino berhenti di tempat. Dia menahan napasnya saat dia mendengar suara pekikkan keras di antara nyanyian orang-orang itu. Wanita. Suara wanita. Wajah dalam api itu adalah wajah wanita; memiliki tiga mata... hanya itulah ciri-ciri jelas yang dapat terlihat di antara nyala api. Dan―mata ketiga itu melihat tepat ke arah Ino, seolah dia mengetahui keberadaannya.

Wajah itu tiba-tiba tertawa. Lengkingan tawanya bagaikan mengalir tepat ke dalam telinga Ino. Tajam dan menusuk, membuat ketakutan mencekamnya hingga seluruh rambut kecil di tubuhnya berdiri.

Dengan cepat dia berbalik. Tak peduli arah, hanya berlari yang dia pikirkan. Menjauh dari wajah wanita itu. Dia terus berlari dalam kegelapan, hingga dia melihat ada secercah cahaya di ujung jalan.

Semakin dekat dan semakin dekat.

Sampai dia terlepas dari kegelapan itu... dan dia berada di taman bunga. Taman bunga musim semi dengan segala macam bunga memenuhinya. Sangat berwarna, hangat, indah.

Saat dia melihat ke belakang, kegelapan tadi tak ada di sana. Semuanya sirnah seolah tak ada apa-apa di sana.

Dia memeriksa sekeliling lagi. Bunga... bunga... dan bung―serigala! Apa yang seekor serigala lakukan di sini. Serigala itu tengah berbaring, meletakkan kepalanya di dua kaki depan.

Besar. Ukurannya dua kali lebih besar daripada serigala normal. Itulah mengapa mudah untuk melihatnya di antara ribuan tanaman bunga ini.

Warna merah mendominasi bulu. Tapi saat Ino mengambil satu langkah untuk mendekatinya, warna merah itu seolah berubah menjadi emas. Mungkin hanya ilusi mata, atau ilusi mimpi. Satu langkah lagi diambil dan warna emasnya berubah lagi menjadi merah.

Matanya yang tadi tertutup kini terbuka. Sekali lagi menampilkan warna yang tak tentu, terkadang hijau pucat, terkadang kuning dengan pupil hitam―entah bagaimana polanya, tak terlalu jelas kelihatan.

Anehnya sejak pertama Ino melihatnya, tak ada rasa takut dalam tubuh. Tak seperti wajah wanita dalam api tadi. Yang dirasakan hanyalah kenyamanan. Itulah mengapa dia tidak ragu untuk mendekatinya. Tidak berlari menjauh.

Jika dipikir-pikir, ini bagaikan sebuah mimpi buruk berubah menjadi mimpi indah. Dia kini telah berada di depan serigala itu. Baru saja mengusap kepala besar itu sekali, Ino ditarik dari mimpi ini.

Dia berada dalam sebuah ruangan putih―ruangan rumah sakit. Mungkin ruangan VVIP, karena ruangan ini terlampau mewah. Ada kulkas, televisi, lemari, dan lain-lain. Di sisi barat ruangan, ada sebuah tempat tidur. Dan di dalam tempat tidur itu terbaring seorang wanita, dengan rambut biru―Hinata!? Tidak salah lagi, wanita yang terbaring itu adalah Hinata. Wajahnya tampak begitu pucat, dan rambut biru gelap panjangnya tergerai di atas selimut yang menutupi tubuh.

Ino melangkah maju, dan dia melihat ada kursi di samping tempat tidur. Neji duduk di kursi itu, melihat Hinata dengan tatapan khawatir.

Apa yang terjadi?

Baru saja melangkah maju lagi, sesuatu membuat Ino tersadar.

Tubuhnya menyentuh sesuatu dan itu bukan dari mimpi ini. Tubuhnya menyentuh sesuatu.

Tubuh lain.


XxX


Mata biru membuka dengan cepat. Diikuti dengan teriakan histeris dari pemiliknya, dan lompatan yang cukup jauh dari posisi semula. Tubuh putih berbalik, menganalisa keadaan di belakangnya. Satu tangan digunakan untuk memperlambat laju teriakan yang tak terbendung.

"Ka―Apa yang kau lakukan!?" teriaknya sambil menunjuk ke arah pria yang tadi tidur tepat di belakangnya.

Mata pria itu tadi begitu liar, melihat ke kanan kiri seolah mencari sesuatu yang mengancam. Dengan geraman―serius, geraman―wajahnya berubah menjadi setengah serigala. Kini pria itu melihatnya dengan bingung menghiasi mata, wajah kembali normal.

"Kenapa kau tidur denganku!?" teriaknya lagi.

"Kau ke―"

"Jangan cari alasan," potong Ino cepat. "Kau pasti―ya ampun, apa di dalam pikiranmu itu penuh hal mesum!?"

Kening pria itu mengkerut. Tak lama kemudian kerutan itu menghilang digantikan dengan satu putaran bola mata. "Terserahlah," kata pria itu. Dan Ino mencoba untuk tidak menatap saat pria itu meregangkan badannya. Wow.

Saat pria itu berjalan menuju mulut gua, satu alaram besar dalam kepalanya berdering.

Sendiri. Lagi.

"Hey, kau mau ke mana," tanya Ino cepat. Dia bergerak maju tanpa menyadarinya.

"Menemukanmu makanan. Tetaplah di sini karena di tempat aku mencarinya tidak aman."

Itu harusnya membuat Ino takut, tapi persetan, dia tidak akan menunggu sendiri lagi.

Nantinya setelah satu jam berlalu Ino akan mencabut pernyataannya ini. Tapi sekarang dia bertekad untuk tidak mati dalam kebosanan.


XxX


Ternyata tempat yang dituju mereka cukup jauh. Setelah melewati pepohonan dengan akar-akar yang luar biasa, dan tentu keluhan tentang tersandung yang tak pernah habis; juga tentang udara yang dingin, mereka sampai di sebuah tanah lapang besar dengan rumput menutupi betis dan pohon-pohon besar mengelilingi.

Mereka berhenti di sana, kemudian pria itu berbalik menatapnya. "Tunggu di sini."

"Tapi―"

"Tunggu saja."

Ino mempertimbangkannya. "Oke."

"Dan jangan ke mana-mana," tambah pria itu.

Ino mengangguk, menyetujui. Dia berbalik untuk melihat ke arah dia datang. Saat dia berputar kembali untuk melihat pria itu, dia sudah menghilang. Benar-benar hilang.

Hah, tetap saja sendiri.

Oke, dalam pembelaannya Ino hanya ingin melihat-lihat sekitar saja. Tak mungkin dia berdiri diam untuk waktu yang lama. Dan itu pun masih di tanah lapang ini, belum jauh. Belum juga memasuki hutan.

Harusnya dia tahu kalau itu bukan jaminan kalau dia akan aman. Jika diingat-ingat pria merah itu memang mengatakan kalau tempat ini tidaklah aman. Jadi dia yang harusnya disalahkan, karena meninggalkan Ino. Ya, karena berdiri diam di tempat juga tidak menjadi jaminan Ino tidak akan diserang.

Mungkin sudah sepuluh menit berlalu, ketika Ino melangkah beberapa kali dan berhenti di tempat. Dia menatap ke rerumputan liar yang tumbuh tinggi itu dengan bosan.

Tatap.

Tatap.

Seekor ular menerjang keluar dari rumput yang ditatap. Tepat ke wajahnya.

Saat itu Ino memutuskan ular adalah hewan yang paling dibencinya. Posisi teratas di daftar hewan yang paling dibenci.

Semuanya terasa terjadi begitu lambat. Teriakan histeris keluar dari mulutnya. Ular itu membuka mulutnya selebar mungkin; gigi taring menonjolkan diri mereka seolah ingin mengunyah wajah Ino. Tinggal beberapa senti lagi dari wajah Ino; yang terlalu terkejut hingga tidak bisa bergerak.

Dekat.

Semakin dekat.

Berhenti tiba-tiba.

Huh?

Menghentikan laju teriakannya yang tak terbendung (lagi) menggunakan kedua tangannya, Ino mengerjapkan matanya. Pria itu sudah berada di depannya. Tangan kanannya menggenggam leher ular itu, dan tangan kirinya memegang... kelinci.

Oke, Hinata benar-benar tak boleh mendengar kisah ini. Selamanya.

Lalu ular itu menggigit tangan lelaki itu dan teriakan yang tadi sudah mereda, kembali keluar. Sama keras.

Pria itu hanya mendesis. Dia menatap ular dengan serius, seolah memberi ancaman pada hewan melata itu. Beberapa saat kemudian ular itu melepas gigitannya dengan kepala menunduk. Ada keinginan besar dalam diri Ino untuk melihat tangan pria yang digigit tadi. Hanya saja dia harus mengurungkan niatnya karena ular itu masih dipegang.

Lalu pria itu melempar ular yang dipegangnya jauh hingga menghilang di pepohonan. Sedetik kemudian Ino mengambil tangan pria itu dan mengecek bekas luka.

"Kau baik-baik saja?"

Tidak ada apa-apa. Kosong. Hanya bekas darah yang masih basah saja, selain itu tidak ada bekas luka sama sekali. Tak peduli sebanyak apa pun Ino menggosok darah itu, tetap tak ada bekas gigitan.

"Bagaimana―" oh benar. Ino menghentikan pertanyaannya. Manusia serigala. Mungkin dia punya sihir alami untuk menyembuhkan diri. Pasti.

Dan dia sadar kalau dia sedang memegang tangan pria ini. Rasa malu memenuhi wajahnya. Bukan karena dia memegang tangan pria ini terlalu lama tapi karena dia terlalu banyak berteriak. Hilang sudah predikat gadis pemberani Ino. Entah sudah berapa kali dia berteriak seperti perempuan pada umumnya saat dihadapkan pada masalah ini. Benar-benar memalukan.

Dia melepaskan tangan itu dengan perlahan. Lalu melipat tangannya di dada. "Terima kasih... aku tidak menyangka ada ular yang menyerangku seperti itu."

"Ini hutan, bagaimana mungkin kau tidak menyangkanya?" jawabnya. "Tapi mereka tidak akan mengganggumu lagi."

Apa maksudnya?

Ino ingin bertanya padanya tapi pria itu sudah menyusur kembali jalan pulang ke gua itu. "Kau ikut atau masih mau melamun di situ?"

Ino berlari mengikutinya.


XxX


Nantinya saat Ino telah selesai menghabiskan sarapannya, dia melihat pria itu berdiri dan―dan membuka celananya.

"Hei! Apa yang kau lakukan!?" tanyanya dengan cepat. Tanpa disadari dia sudah mundur beberapa langkah.

"Berubah," jawabnya singkat.

Tidak butuh waktu lama bagi Ino untuk mengerti maksud perkataan itu.

"Tapi jangan lakukan di depan seorang wanita!" balasnya tajam.

"Kalau kau tidak mau melihatnya, silahkan berbalik."

Dan―oke, dia ada benarnya juga. Satu sisi dalam diri Ino ingin melihatnya benar-benar telanjang... tapi sisi lainlah yang menang, dan dia berbalik sambil melipat tangannya.

"Dasar tidak punya sopan santun. Enak saja kau―berubah, berubah," gerutunya pelan. Dia merasa perasaan tidak enak menjalar lewat tulang belakangnya, dan dia berbalik. Serigala yang tingginya melebihi tubuh Ino sedikit tengah menatapnya serius.

Oppss, seharusnya dia tidak menggerutu seperti itu. Dia tersenyum lebar, mencoba membuat dirinya terlihat sepolos mungkin. Beberapa saat kemudian, mungkin hanya perasaan Ino saja atau serigala itu mendengus―ha! Mana mungkin serigala mendengus, tentu hanya perasaannya saja.

Kemudian serigala itu berlalu pergi.


TBC


Selesai!

Oke. Ane mandek pas rewrite ini. benar-benar mandek. Inspirasi seolah hilang gitu aja.

Ingat waktu ujian chunin tahap 2 di hutan terlarang yang Sakura jagain mati-matian Sasuke ama Naruto di tanah lapang dari ninja bunyi? Tanah lapang itu adalah tanah lapang yang aku bayangkan pas aku tulis ular serang Ino itu. Bayangkan tanah lapang itu tambah rumput sebetislah. Okeeee...

Jadi ceritanya waktu si Gaara bilang mereka tidak akan mengganggumu lagi, itu dia udah kasih peringatan ama ular dan kerabatnya. Ya gitu deh, XD. dia kan udah bertahun-tahun tinggal di sini, jadi hewan-hewan itu semacam udah ngarti lah, #kagakk. Ya pokoknya gitu deh, malas jelasinnya. Atau mungkin dia bisa bicara ama hewan, #kagakk. XD. entah, (eh, kan gue authornya.)

Ada pertanyaan silahkan tanyakan di Review. Please.