CHEF: I LOVE YOU TOO!
Story by Rainy Elfath
Disclaimer: semua chara yang ada disini adalah milik Masashi Kisimoto
Rating : T
Warning: OOC, typos
Sudah dua bulan aku pulang ke Jepang dan menjadi kepala koki di salah satu restoran terkenal di Ropongi. Malam ini adalah malam yang panjang karena pesanan yang pulang sangat larut dan berjalan kaki setelah turun di ujung jalan menuju apartemen milikku. Karena air minum di apartemen sudah habis aku mampir ke minimarket di ujung jalan menuju apartemenku yang jarang kudatangi karena aku terbiasa belanja di supermarket dekat restoran.
Aku memasuki minimarket yang sepertinya hanya aku pelanggannya. Aku lihat seorang pramuniaga perempuan sedang berjaga. Aku kemudian berjalan ke bagian minuman untuk mengambil beberapa botol air mineral dan satu bungkus biji kopi juga beberapa jenis makanan ringan.
"Tuan tolong hentikan perbuatan anda!" ujar pramuniaga itu dengan suara yang cukup keras. Aku melihat ternyata ia mengalami pelecehan seksual oleh dua orang pria yang mengenakan jaket kulit serta wajahnya dipenuhi oleh piercing. Kemudian aku jatuhkan keranjang belanjaanku dan segera menghajar dua orang kurang ajar itu. Kemudian terjadi perkelahian diantara aku dan mereka. Mereka cukup babak belur dengan pukulanku. Salah satu diantara mereka kemudian mengeluarkan sebilah pisau lipat dan mengacungkan ke arahku. Aku meningkatkan kehati-hatianku menghadapi mereka. Si pemegang pisau menyerangku dan berniat menusukku aku menghindar dan pisaunya mengenai telapak tanganku. Darah segar mengalir dari telapak tanganku. Aku membalas perbuatan mereka dengan mengeluarkan beberapa jurus andalanku yang kupelajari saat di kub karate. Mereka rubuh begitu kugunakan jurus andalanku. Kemudian mereka lari terbirit-birit.
"Tuan, tangan anda berdarah!" ujar pramuniaga yang sudah memegang tanganku yang berdarah. Tangannya begitu lembut memegang tanganku yang kasar.
"Akan aku obati sekarang. Tuan, mari ikut denganku," ujarnya sambi membimbingku untuk mengikutinya menuju ruangan untuk pegawai seraya tak melepaskan tanganku. Aku belum pernah dipegang oleh tangan selembut ini. sehari-hari aku hanya memegang sayuran, tepung, bumbu-bumbu atau daging.
Pramuniaga itu kemudian mengambil kotak obat dan mulai mengobati tanganku yang berdarah. Ia mengolesi lukaku dengan hati-hati. Aku merasa perih saat ia mengolesi lukaku sehingga meringis.
"Apakah sangat perih?" tanyanya sambil tersenyum manis. Aku mengangguk kemudian ia melanjutkan pengobatannya dengan sangat hati-hati dan sangat lembut. Aku belum pernah mendapatkan perlakuan sedemikian lembut dan menyenangkan seperti ini. Perlahan perasaanku terasa sangat nyaman dan jantungku berdebar keras sampai aku khawatir suaranya terdengar oleh pramuniaga ini. Aku hanya memperhatikan ia selama ia mengobati tanganku. Rambutnya yang berwarna pirang dikucir empat dan bisa kucium wangi sampo yang ia gunakan. Rasanya ingin aku membelai rambutnya juga menciumnya. Ah tapi itu tidak sopan bukan?
"Nah sudah selesai, Tuan. Aku sangat berterimakasih atas pertolonganmu," ujarnya sambil tersenyum sangat manis.
"Ah tidak apa-apa. Aku yang harus berterimakasih atas pengobatanmu ini," ujarku basa basi. Ia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Aku Shikamaru Nara," ujarku memperkenalkan diri. Pramuniaga itu mengerutkan dahinya yang aku tak tahu maksudnya apa.
"Aku Temari. Oh iya apa pekerjaanmu akan terganggu jika tanganmu seperti ini?" tanyanya serius.
"Mungkin, tapi aku yakin lukanya akan cepat sembuh karena anda yang mengobatinya Temari san," ujarku bergurau.
"Anda bisa saja. Tolong panggil aku Temari saja tanpa embel-embel san," ujarnya akrab sambil merapikan kotak obat.
"Kalau begitu panggil aku Shika saja," ujarku bangkit dari duduk.
Kring Kring. Suara bel tanda ada pelanggan berbunyi.
"Shika, aku harus melayani pelanggan," ujarnya.
"Ya aku juga harus pulang," kami berdua keluar dari ruang staf. Aku pergi begitu saja dan lupa bahwa aku harusnya membeli air mineral saking fokusnya memperhatikan dan memikirkan Temari.
(L.O.V.E)
Di lain hari aku kembali ke minimarket itu lagi. Sejak peristiwa kemarin aku terus memikirkan si rambut pirang berkucir empat hingga lupa aku harus membeli beberapa keperluan.
Aku sedang berjalan menuju minimarket tempat Temari bekerja. Aku baru saja pulang dari bekerja. Saat aku masuk ke dalam minimarket ternyata bukan Temari yang sedang jaga. Seorang lelaki berambut oranye ang mendapat tugas jaga. Aku kecewa kemudian tetap masuk dan mengambil beberapa botol air mineral, sebungkus biji kopi, dan beberapa cemilan yang harunya aku beli kemarin malam. Aku kemudian membayar di Kasir.
"Naruto kun, aku pergi dulu ya," ujar seseorang wanita yang suaranya tak asing kemudian aku yang sedang memasukkan uang kembalian ke dalam dompet menoleh ke arah sumber suara. Ternyata Temari.
"Shika," ujarnya yang juga menyadari keberadaanku. Aku mengambil belanjaan dan berjalan ke arahnya.
"Apakah kamu akan pulang?" tanyaku akrab.
"Iya aku akan pulang," jawabnya sambil berjalan pelan.
"Pulang ke arah mana?" tanyaku sambil berjalan mengirinya.
"aku pulang ke arah stasiun. Apartemenku di daerah itu," jawabnya yang ternyata arah jalan pulang kami berlawanan. Tapi aku ingin menghabiskan waktu cukup lama dengannya.
"Cukup jauh juga. Apakah kamu tidak takut? Bagaimana jika kuantar?" tanyaku menawarinya. Jika banyak orang bilang ini modus kuakui mungkin ini memang modus karena aku hanya ingin lebih dekat dengannya. Aku tak peduli dengan julukan begitu asal Temari lebih dekat denganku.
"Apa tidak apa-apa?" Tanya sambil menolehkan wajahnya ke arahku dengan mimik yang serius. Aku kemudian mengangguk mantap meyakinkannya.
"Kalau begitu terimakasih. Sejak kejadian kemarin sejujurnya aku agak takut untuk berpergian di malam hari atau jaga minimarket di malam hari makanya aku meminta shift ku pagi dan siang saja," ujarnya sambil berjalan.
"Shika, apa lukamu baik-baik saja? Tidak mengganggu pekerjaankah?" tanyanya dengan mimik yang serius lagi.
"Ya baik-baik saja meski sedikit repot tapi masih bisa ku handle karena banyak yang membantu juga," jawabku santai karena memang aku tidak merasa terganggu dengan luka ini. aku justru senang dengan luka ini.
"Sudah berapa lama kamu bekerja di minimarket itu?" tanyaku basa-basi agar suasana tidak begitu kaku.
"Sudah satu tahun. Sudah lama juga ternyata," jawabnya.
"Sebelumnya kamu bekerja dimana?" tanyaku lagi. Aku benar-benar jadi manusia KEPO padahal sebelumnya aku tidak melakukan ini. ini efek jatuh cinta.
"Ini pekerjaan pertamaku dan ternyata bekerja memang menyenangkan," jawabnya dengan suara riang saat aku memperhatikan wajahnya ekspresinya tampak sangat bahagia.
"Sebelumnya belum pernah bekerja?" tanyaku heran dengan jawaban Temari.
"Belum. Aku lahir di Osaka dan ayahku adalah seorang konglomerat yang menguasai industri mobil dalam dan luar negeri. Aku hidup bagaikan seorang putri. Tapi aku bosan dengan kehidupan semacam itu maka aku pergi meninggalkan rumah dan bekerja di Tokyo. Aku tidak bekerja di perusahaan besar karena pasti mudah terlacak oleh ayahku dan adik-adikku. Aku memilih bekerja di sudut kecil Tokyo dan apartemen yang kecil," jawabnya menjelaskan yang semakin membuatku terperangah.
"Temari, apa kamu sudah makan malam?" tanyaku.
"Belum aku belum makan malam tapi aku akan makan malam setelah sampai di apartemen," jawabnya ringan.
"Makan malam dengan apa?" tanyaku yang hari ini benra-benar modus nan KEPO.
"Yakisoba instan. Ini aku sudah bawa dari minimarket tadi," jawabnya sambil menunjukan kantong plastik.
"Setiap malam kamu makan itu?" tanyaku.
"Yup karena aku tidak bisa masak dan aku tidak punya cukup uang untuk sekedar makan di luar," jawabnya enteng.
"Ne Temari setidaknya jika kamu pergi dari rumah jangan lupa jaga kesehatanmu. Hmmm bagaimana jika aku memasakkan sesuatu untuk makan malammu?" tanyaku menawari. Ini kesempatan bagus untuk unjuk gigi keahlianku. Mungkin ia bisa terpesona dengan kemampuan memasakku yang sudah tak diragukan lagi oleh semua orang.
"Sungguh? Tapi tanganmu sedang terluka," ujarnya mengkhawatirkan kondisi tanganku.
"Tak apa kamu bisa membantuku," ujarku meyakinkannya.
"Baiklah kalau begitu aku ingin makan nasi kare," ujarnya riang. Aku kemudian mengajaknya ke supermarket dekat stasiun untuk membeli bahan-bahan yang diperlukan. Meski aku koki masakan italia aku juga ahlinya dalam membuat kare karena itu masakan kesukaan ibuku.
Setelah kami belanja bahan-bahan untuk membuat kare, kami segera menuju apartemen Temari yang tak jauh dari supermarket. Apartemen Temari memang sangat kecil tapi sangat rapid an membuat nyaman.
Aku mulai memasak setelah meminta temari untuk memotong wortel dan bahan-bahan lainnya kemudian aku yang mencampurkan semua bahan dan membumbui. Sementara aku melakukannya Temari sedang menyiapkan meja makan. Sekilas kami tampak seperti sepasang suami istri yang baru saja menikah. Ah, andai saja ini terjadi tapi aku belum tahu perasaannya terhadapku lagipula kami baru saja bertemu.
"Shika? Baik-baik sajakah?" Temari mengagetkanku yang tenggelam dalam lamunanku sendiri mengenai kehidupan pernikahanku dan Temari.
"Aah iya aku baik-baik saja," ujarku gugup yang kepergok Temari melamun.
"Hmm, mejanya sudah siap," ujar Temari memberi tahu.
"Iya baik sebentar lagi karenya matang," ujarku memberitahu. Temari kemudian duduk menunggu di meja makan.
Kare yang ku masak sudah selesai kemudian aku memtikan kompor dan menyiapkannya dengan nasi dalam piring untuk dua porsi.
"Nasi karenya sudah matang, tuan putri," ujarku sambil menyajikannya di atas meja. Temari tersenyum bahagia begitu aku meletakkan piring di hadapannya.
"Itadakimasu!" kami berdua mulai menikmati nasi kare bersama setelah suapan pertama aku melihat Temari meletakkan sendoknya dan menutup mukanya. Aku ikut berhenti makan juga untuk memperhatikan Temari.
"Shika, siapa kamu sebenarnya?" Tanya ia tiba-tiba hingga membuat aku terlonjak kaget dengan pertanyaan itu. Pertanyaan apa itu seolah aku ini seperti mata-mata.
" Apa maksudmu?" tanyaku kebingungan dengan pertanyaan Temari.
"Saat aku mulai memakan kare ini. Aku teringat pada saat aku menikmati Ravioli yang aku makan pertama kali. Perasaan yang sama muncul saat aku memakan kare mu ini makanya aku Tanya kamu siapa sebenarnya," jawabnya sambil menatapku dalam.
"Oh begitu. Aku Shikamaru Nara seorang pria berusia 25 tahun lahir di Nara dan pergi ke Italia di usia 18 tahun untuk belajar memasak. Saat ini aku bekerja sebagai kepala koki di Carbonara," Ujarku menjelaskan siapa sebenarnya aku. Temari tampak kaget dan ekspresinya begitu aneh Antara kaget, bahagia, bingung dan speechless.
"Temari?"
Temari tiba-tiba memegang tanganku dengan erat kemudian mulai meneteskan air mata dan menunduk. Aku jadi semakin bingung dengan kondisi ini. ada apa sebenarnya ini?
"Chef, I Love You!"
Kini giliranku yang terkejut dengan ucapan Temari. Kenapa tiba-tiba ia mengatakan 'I Love You' padaku? Padahal kami baru saja bertemu kemarin. Mimpi apa aku ini?
"Shika, Aku mencintaimu!" ujarnya lagi menegaskan.
"Hah? I love you too!" aku mengucapkannya secara sepontan yang kemudian disambut dengan pelukan Temari.
Jadi cerita ini adalah lanjutan dari cerita Chef, I Love You. Jika di Chef, I Love You menjadikan Temari sebagai si pencerita disini Shikamaru yang menjadi pencerita. Tadinya akan menjadi sekuel tapi kuputuskan untuk menjadi multichap saja dengan 3 chap saja jadi next chap itu ending kisah mereka.
Nah, terimakasih banyak atas sukarelanya membaca karya saya yang masih kacau balau ini. This just another boring story :D
Selamat menikmati dan silakan boleh meninggalkan jejak di review
