.

.

.

Seperti yang kalian tahu, aku tidak bisa menulis chapter panjang hahaha, maafkan aku. Jadi aku minta maaf karena chapter ini pendek, as usual.

Langsung aja, saran dan kritik selalu diterima.

Selamat membaca.

.

.

.

Sehun berjalan menuruni tangga. Dia tersenyum melihat Jongin duduk di atas sofa dan menatap kosong TV yang sejak tadi malam menemani mereka, seolah sedang mengumpulkan nyawa.
"Akhirnya kau bangun juga."

Jongin berbalik dan mendapat kakaknya yang sudah segar, rambutnya sedikit basah, sedang mengambil kunci mobil yang selalu disimpannya di laci sebuah meja kecil di ruang keluarga. Pria berkulit tan itu menatap Sehun bingung dan penasaran.
"Hyung...kau mau keluar?"

Sehun mengangguk, memakai jaket kulit hitam di atas kemeja putihnya.

"Ke mana? Bolehkah...aku ikut?"

Mata Sehun bertemu dengan Jongin yang menatapnya penuh harap. Ah, dia sangat menggemaskan, batin Sehun.
"Tentu. Lagipula aku membutuhkanmu, memilih barang untuk mengisi kulkas."

Sehun kemudian tertawa pelan ketika Jongin membulatkan matanya. Adiknya itu sangat suka yang namanya berbelanja. Bukan, bukan berbelanja seperti kebanyakan orang, menghabiskan uang hanya untuk membeli satu atau dua helai pakaian. Meskipun harga tidak pernah menjadi masalah keluarga Oh.

Oh bersaudara memiliki banyak kemiripan dalam hal interest, dan salah satunya adalah kuliner. Mungkin sulit dipercaya jika mengingat Jongin yang sangat manja dan Sehun terlihat seperti tipikal lelaki yang tidak bersahabat dengan dapur.

"Apa kita akan berbelanja?"
Jongin sudah bangkit dari sofa lalu segera berlari menuju kamarnya untuk mandi setelah melihat pria pale kesayangannya itu bergumam sembari mengangguk.

"Dasar bocah."
Kata Sehun saat mendengar adiknya meringis kesakitan. Tanpa melihat apa yang terjadi, Sehun tahu kalau adik yang lebih muda setahun darinya itu menabrak sesuatu di atas sana karena tergesa-gesa. Sepertinya Jongin tidak bisa menghilangkan kebiasaan yang satu itu.

...

Cart yang mereka pakai sudah penuh dengan semua bahan dapur dan segala jenis makanan yang disukainya. Kedua bersaudara Oh itu sedang mengantre pada salah satu kasir. Kehadiran mereka mengundang banyak perhatian karena siapa yang tidak mengenal anak pemilik salah satu perusahaan paling terkenal di negara itu. Pakaian mereka tidak mencolok, tapi aura yang mereka miliki cukup untuk menunjukkan status.

Jongin berusaha mengacuhkan semua perhatian yang tertuju padanya, dia kembali pada bad boy modenya ketika berada di luar rumah. Sehun tertawa dalam hati melihatnya.

Setelah beberapa menit akhirnya mereka selesai membayar semua yang dibeli. Pria tan itu mendorong cart itu hingga mendekati mobil Sehun. Barang-barang yang lumayan banyak itu dimasukkannya ke dalam bagasi mobil.

Jongin menghelah nafas lelah ketika duduk di sebelah kursi kemudi. Sehun melirik adiknya sembari menghidupkan mesin mobil.

"Kau lelah?"

"Ya..tapi ini menyenangkan, as always."
Jawab Jongin bersemangat. Ekspresinya berubah bingung melihat kakaknya tertawa atas apa yang baru saja dikatakannya.

"Kau kenapa hyung?"

"Menyenangkan katamu? Kau bahkan menahan diri untuk tidak berteriak saat melihat es krim kesukaanmu, huh?"

Anak tertua keluarga Oh semakin tertawa, mengingat ekspresi adiknya. Kedua tangan yang dikepal di masing-masing sisi tubuhnya, bibir bawah berada di antara giginya.

Jongin tidak bisa melawan kakaknya kali ini. Dia malu, tadi itu dia benar-benar hampir lupa diri dan berteriak seperti anak kecil. Telapak tangan menutup wajahnya.
"Ah..memalukan."

...

"Kau akan memasak apa kali ini, Chef?"

Sehun meletakkan kotak es krim ke dalam kulkas sebelum menutupnya. Dia berbalik untuk melihat Jongin yang sudah duduk di kursi dengan kedua telapak tangan menahan dagunya, menahan agar wajahnya tidak mencium meja makan.
"Apa ada sesuatu yang ingin kau makan?"

Pengalaman hidup Oh bersaudara tanpa kedua orang tua membuat Sehun maupun Jongin memiliki keterampilan memasak yang bisa dibilang tidak biasa. Mereka secara bergantian menyiapkan sarapan, makan siang, dan makan malam. Kadang, saat mereka berdua terlalu sibuk atau malas, sebuah restoran sederhana yang berada beberapa blok dari kediaman Oh menjadi tempat favorit mereka, jangan lupakan delivery service yang berada di kontak penting handphone Jongin.

"Apapun terdengar enak saat ini," jawab pria tan itu sembari mengamati setiap gerakan kakaknya.

"Bacon and eggs? How does that sound?"
Sehun memakai apron putihnya dan bersiap untuk mengambil beberapa butir telur dalam kulkas.

"Jangan! Apapun selain bacon and eggs, please. Aku tidak ingin sarapan dengan menu yang sama dalam dua hari berturut-turut."
Pria pale itu melirik anak bungsu keluarga Oh. Sedikit menyesal dengan apa yang dilakukannya. Bagaimana tidak, siapa yang bisa menahan hormonnya saat melihat wajah Oh Jongin yang manis dan imut itu, bibirnya mengerucut, belum lagi kedua mata yang menatap harap padanya.

Shit...sadarlah Sehun, dia adikmu. Ah...aku semakin tidak waras.

"B-baiklah, bagaimana dengan fish and chips?"
Mendengar itu, Jongin mengangguk semangat meskipun kakaknya tidak melihat. Dia kembali mengamati gerakan Sehun. Salah satu yang hal yang paling dia sukai adalah melihat kakaknya beraksi di dalam dapur. Kakaknya memang tidak pernah berhenti membuat Jongin kagum.

Sebuah senyum terlihat jelas pada wajah pria manis itu. Dia memiringkan kepalanya, bertumpu pada telapak tangan kanan. Kau tahu hyung, aku penggemar nomor satumu.

Jongin teringat sesuatu saat pria yang lebih tua darinya itu selesai memberi bumbu pada ikan dory dan beranjak memotong kentang,"Hyung, kau tidak akan menggunakan bir beralkohol tinggi kan?"

"Tenang saja, aku akan membuatnya sesuai dengan seleramu," jawab Sehun, tangannya masih bekerja memotong kentang.

"Baiklah Chef kuserahkan padamu!"

Sehun tertawa pelan mendengar bagaimana Jongin bersemangat menanggapinya. Selalu saja seperti itu, dan Sehun bersyukur karenanya. Tidak ada yang bisa melihat sisi menggemaskan Jongin selain keluarganya dan dia.

Bunyi bel merusak keheningan yang nyaman diantara dua bersaudara Oh. Namun, itu tidak menghilangkan senyum di wajah Jongin, dia teringat kekasihnya akan berkunjung hari ini. Ya, dia yakin itu pasti kekasihnya. Dia segera bangkit dari tempatnya dan berlari menuju pintu utama, tidak sadar dengan perubahan aura kakaknya.

Tentu Sehun tidak bodoh untuk tidak menyadari siapa yang sedang bertamu pagi hari ini. Sudah menjadi rutinitas setiap minggunya untuk melihat tamu itu bersama Jongin di rumahnya. Dan yang dirasakan Sehun saat kekasih Jongin datang selalu sama, tidak suka, tidak nyaman, canggung, bahkan...cemburu?

Bersama dengan diletakkannya fish and chips di meja makan, Jongin dan seorang pria tinggi, yang bahkan lebih tinggi dari Sehun-padahal untuk ukuran orang Korea, Sehun termasuk tinggi di umurnya yang masih 18 tahun, yaitu 189 cm-berjalan ke ruang makan dengan jari-jari yang saling bertautan.

"Hari ini kakakku yang membuat sarapan hyung, kau tahu kan dia lebih mahir dariku dalam memasak."

Mood Sehun segera membaik mendengar adiknya memujinya. Dia bersorak menang dalam hati. Tidak sadar dia menyeringai pada kekasih Jongin yang hanya tersenyum melihat Jongin menariknya untuk duduk di salah satu kursi. Setelah duduk, pandangan pria tinggi itu bertemu dengan Sehun.

"Pagi, Sehun."

Sembari memilih kursi tepat di hadapan Jongin, Sehun membalas sapaan orang yang selalu ditemuinya di sekolah.

"Pagi, Chanyeol."

Ya, pria tinggi itu Park Chanyeol. Teman sekelas Sehun, sekaligus kekasih Jongin. Orang yang bisa melihat sisi manja dan menggemaskan Jongin selain keluarganya. Sehun tidak pernah menyukai, tidak, dia membencinya dan saat mendengar dia mengencani adik kandungnya, kebenciannya semakin memuncak. Beruntung, Sehun cukup handal mengendalikan emosinya, kalau tidak riwayat Chanyeol mungkin sudah tamat. Seakan tidak puas menyiksa Sehun dengan keberadaannya di sekolah, Chanyeol selalu saja menampakkan diri di rumahnya, ditambah dengan jadwal latihan basket yang membuat kapten dengan posisi point guard dan MVP tim sekolahnya dengan posisi shooting guard itu selalu bertemu. Sungguh, dia membencinya.

Tetapi, jika dipikirkan dengan baik, rasa bencinya terhadap Chanyeol tidak masuk akal. Sehun bahkan tidak tahu apa hubungan kebenciannya pada Chanyeol dengan Jongin. Meskipun begitu, pria pale itu terus meyakinkan dirinya bahwa dia cemburu karena Jongin sudah menemukan sosok kakak dalam diri Chanyeol selain dirinya, ya dia cemburu karena hanya dia yang berhak menjadi kakak Jongin.

Ya, kakak bagi Jongin, tidak lebih.

...

Jarum jam dinding di ruang keluarga sudah menunjukkan angka 02.36. Dan seperti biasa, tidak terkecuali hari itu, Jongin akan menikmati waktunya sendiri di rumah. Kakak kesayangannya akan meninggalkannya untuk latihan rutin tim basket sekolah. Begitu juga dengan Chanyeol, kekasihnya yang menemaninya sedari pagi di kamarnya. Tidak, mereka tidak melakukan sesuatu yang serius di sana.

"Jongin, kalau kau mau pergi jangan lupa untuk mengunci pintu dan pastikan sistem kemanan aktif."

Hanya itulah yang dikatakan Sehun sebelum melesat keluar menuju garasi. Dia tidak ingin berlama-lama di ruangan yang sama dengan Chanyeol apalagi harus melihat kemesraan pria itu dan Jongin. Sedangkan Jongin hanya bisa mengangguk sebelum kekasih yang seumuran dengan kakaknya itu membawanya dalam pelukan. Pria manis itu tersenyum merasakan kecupan yang diberikan pada puncak kepalanya. "Aku sangat mencintaimu Jongin."

Jongin mengangkat kepalanya menatap Chanyeol yang juga menatapnya dengan tatapan sayang. Perasaanya sangat tulus kepadanya. Oh, betapa Chanyeol ingin membolos latihan dan bersama Jongin seharian.

"Aku juga sangat mencintaimu hyung, kau tahu itu."

Chanyeol hanya bergumam, tersenyum. Dia sedikit, hanya sedikit menurunkan tubuhnya agar sejajar dengan Jongin yang berjinjit, lengan kekar pria dengan tinggi 192 cm itu melingkar dengan indah di sekitar pinggang Jongin. Chanyeol mengecup bibir Jongin pelan.

"Hyung, aku capek harus berjinjit, kau seharusnya yang berusaha untuk menyamakan tinggi kita."

Chanyeol tertawa, kekasihnya ini benar-benar lucu."Itu salahmu karena kau pendek."

Jongin membulatkan matanya. Dia mendorong tubuh Chanyeol menjauh darinya lalu melipat kedua tangannya di depan dada.

"Aku tidak pendek, kau saja yang terlalu tinggi. Lagipula perbedaan tinggi kita hanya 11 cm, dan aku lebih muda darimu, masih bisa tumbuh. Tunggu saja, aku akan lebih tinggi darimu."

Pria yang memiliki telinga seperti peri itu hanya menggelengkan kepalanya. Senyum masih setia di wajahnya. Dia menarik Jongin kembali dalam pelukannya. "Aku akan menunggunya, meskipun itu terdengar tidak mungkin. Kurasa, dance tidak membuatmu cepat tinggi."

Belum sempat Jongin mendorong tubuh Chanyeol, lagi, dia sudah berlari keluar dengan tawa yang mengiringnya.

"Aku pergi, Jongin!"

Bibir Jongin yang semula mengerucut sekarang membentuk sebuah senyum. Mendengar suara mesin mobil yang semakin menjauh, Jongin melempar tubuhnya ke atas sofa. Dikeluarkannya handphone dari saku depan celana. Raut wajahnya berubah bingung saat melihat sebuah pesan masuk dari kru tim dance sekolahnya, dia tidak akan mengirimkan pesan yang tidak ada hubungannya dengan tim dance. Jongin juga merasa tidak ada jadwal latihan hari ini.

From : Jeon Jungkook

Today 02.54 PM

Mate, aku lupa memberitahumu sebelumnya. Tapi, cepatlah ke sekolah hari ini perekrutan anggota baru tim. Sekarang.

Rasanya Jongin ingin memukul kepala Jungkook. Yang benar saja, Jongin itu leadernya bagaimana Jungkook bisa melupakannya. Sebenarnya secara tidak langsung itu salah Jongin sendiri yang tidak ikut rapat minggu lalu, tapi dia tidak akan mengakuinya. Bocah memang.

Jongin bergegas menuju garasi dan masuk ke dalam mobilnya, dia sudah memastikan sistem keamanan aktif sebelum melaju dengan kecepatan tinggi menuju sekolah.

Bad boy mode : ON

.

.

.

To Be Continued.

.

.

Tinggi mereka aku buat berbeda dari yang asli, biar lebih enak/? aku suka kalau Jongin dikelilingi cowo tinggi hahaha

Bagaimana? Review?

Haruskah aku menambah 'chankai' pada summary/description sebagai peringatan bahwa ff ini mengandung chankai?

Oh iya mau shout-out buat Jongyeolin author favku di aff! ff ini terinspirasi dari ffnya Jongyeolin yang 'Bad Romance' dan 'Forbidden Love' sequelnya. Kalau kalian tertarik dengan ff incest+hunkai aku sarankan kalian untuk baca itu! Gak akan nyesal! Feelnya kerasa banget!

Oke sekian.