NARUTO by MASASHI KISHIMOTO.

SAKURA X ITACHI

WARNING!

Saya hanya meminjam kedua karakter yang diciptakan oleh Kishi-Sensei, sisanya adalah cerita yang saya tulis.

Apabila terdapat kesalahan ejaan, penulisan, typo, mohon dimaklumi, cerita ini jauh dari kata sempurna seperti author ini.

Genre : Romantic,War and Drama.

Rate : T+

"Don't like don't read, NO FLAMES"

Thank you!

And

HAPPY READING!

...

...

...

Our way of life

(Watashitachi no seikatsu)

...

...

...

Jerman, 29 maret 1935.

Sakura menerjapkan matanya, kepalanya sakit dan semua badannya pegal, ia merasakan deru napas berat laki-laki, ia membelalakan matanya kemudian merasakan kehangatan yang menyenangkan, ia melihat laki-laki dengan rambut hitam halus, dengan wajah asia, terdapat guratan disisi hidungnya, terdapat lebam biru, beberapa sayatan luka, dan luka yang sudah diperban namun tidak rapih.

Sakura masih merebahkan kepalanya didada laki-laki itu, ia yakin bahwa ia tanpa busana, hanya selimut yang terbuat dari kain perca tebal dan kasar yang menyelimuti mereka, terakhir ia hanya mengingat suara-suara tembakan juga teriakan laki-laki asing yang tidak ia mengerti, tapi ia bisa mendengar suara laki-laki yang sekarang bersama nya ini, Sakura bahkan tidak peduli jika ia harus mati, karena sudah tidak ada lagi alasan untuk dia berada disini.

Semua yang ia cintai sudah mati, semuanya direnggut hanya dalam hitungan menit dari hidupnya.

Sakura kembali menitikan air mata, kepalanya sakit dan matanya berdenyut nyeri, air matanya kembali turun tanpa henti.

"Berhentilah menangis, karena semua yang sudah mati tidak akan kembali lagi." Ucap Itachi dengan suara datar, ia menahan rasa nyeri yang muncul dari pinggangnya.

Sakura hanya terus menangis dalam diam mengepalkan tangannya kuat-kuat mencengkram bahu Itachi, sementara itu Itachi hanya menghela napas frustasi dan menepuk pucuk kepala musim semi wanita itu, ia tidak pernah berurusan dengan wanita, tapi wanita ini terlihat menyedihkan, dia seperti robot, tanpa ekspresi dan tanpa semangat.

Itachi kembali mengingat kejadian semalam, ia hampir saja mati, ia tertembak namun alroji antik yang diberikan Pain melindunginya tepat pada jantung miliknya, sehingga menahan peluru itu untuk melukai dada yang hanya berlapis seragam lusuh miliknya, Itachi bersyukur atas hal itu, ia terperosok ke jurang, namun dengan sigap memegang sulur-sulur pohon dan turun ke bawah jurang dengan selamat, sebenarnya Itachi memiliki markas pribadi dibawah jurang ini, jadi mudah baginya untuk menyusuri jalan-jalan untuk menemukan markas nya.

Sementara itu Sakura masih saja menatap kosong, beberapa guratan luka menggores wajah, juga tangan dan kaki wanita itu, dia menuntun Sakura dengan sabar sampai akhirnya mereka tiba di markas milik Itachi.

Dengan susah payah Itachi menggantikan baju milik Sakura dengan selimut kering yang ada di rumah kayu itu.

Wanita itu terus menangis dan meringkuk diatas tatami sampai akhirnya ia tertidur, Itachi menggelar tatami disamping wanita itu dan tidur setelah membersihkan lukanya.

"Dengarlah ... kita sama-sama mengalami hal yang sulit, tapi aku yakin semua akan baik-baik saja." Ucap Itachi, Sakura bisa mendengar suara berat dan jernih dari dada laki-laki itu, namun Itachi tidak mendengar lagi isakan ataupun rintihan wanita yang sekarang berbaring bersamanya itu, ia merasakan Sakura kembali mengeratkan tubuhnya dan mendengkur pelan, Itachi menghela napas ketika menyadari wanita ini kembali tidur, ia menarik selimut dan menutupi tubuh keduanya, karena Itachi juga butuh istirahat, ia berharap lukanya membaik.

..

..

..

..

Setelah beberapa hari berlalu mereka hidup dan beraktivitas seperti biasanya, hanya ada rumah kayu sederhana, hutan hijau yang tidak tertembus oleh dunia luar dan hanya ada Itachi Uchiha juga Sakura.

Itachi kembali dengan dua derigen air yang dipikulnya dari sungai, ini adalah hari ke-4 ketika dirinya dan Sakura berada di markas Itachi.

Ketika kambali Itachi masih melihat Sakura duduk dipinggir pintu memandang kosong kearah hutan, ia menyimpulkan Sakura mengalami semacam trauma akibat melihat hal-hal mengerikan yang membuat hidupnya hancur.

Itachi tidak bisa meninggalkan dia disini, dan ia juga tidak akan yakin membawa wanita ini, karena jika dunia mengetahui bahwa Sakura bersama dengan Itachi, yang ada dalam hidup wanita itu hanyalah kematian.

Hidup dengan Itachi adalah hal yang mendekatkan siapapun dalam kematian, itu yang Itachi pikirkan.

"Aku kembali." Ucap Itachi meletakan kedua derigen didepan pintu yang terbuat dari kayu pohon pinus, Sakura hanya melihat Itachi kemudian kembali memandang hutan yang ada didepannya.

Itachi menghela napas, kemudian memasak air yang ia bawa kedalam ketel diperapian sederhana yang ia buat.

Itachi membuat bubur kacang hijau dan minuman jahe untuk menghangatkan tubuh, ia menyodorkan makanan itu pada Sakura, sementara wanita itu makan dengan tenang, namun ekspresi wajahnya sama seperti sebelumnya, tidak ada rona di tulang pipinya dan tidak ada semangat hidup yang terpancar dari manik emerald nya.

Setelah selesai makan, Itachi mencuci piring kemudian mempersiapkan peralatan miliknya, ia memikirkan beberapa hal untuk pergi dari tempat ini.

Hal yang paling ia benci selama seumur hidupnya dan hal yang sangat sulit baginya adalah membuang semua kebanggannya, membuang nama Uchiha Itachi untuk sementara, merahasiakan bahwa ia adalah seorang jendral dan Prajurit yang sangat cakap dalam strategi dan penyerangan.

Ia harus membuang semua itu, agar ia bisa hidup, kemudian ia kembali bergerak ketika ia sudah mendapatkan anggota yang baru, ia akan merebut kota ini, kota yang selalu ia jaga sepenuh hati.

..

..

..

..

..

Jerman, 11 desember 1935.

"Dengar Sakura, kereta ini akan membawa kamu dan wanita yang lain menuju tempat yang lebih baik, aku berharap kamu bisa menemukan kehidupan baru yang lebih baik, aku tidak bisa terus membawa kamu dalam bayang-bayang milik ku, karena tiap kali kamu berada didekat ku hanya kematian yang akan mengikuti mu, carilah kehidupan yang lebih baik, lebih membuat kamu menjadi hidup dan membuat kamu bahagia, dan ketika suatu hari dimasa depan kita bisa kembali bertemu dalam suka cita." Ucap Itachi merengkuh wajah mungil Sakura dengan kedua tangan milikya, Sakura bisa mencium aroma kayu-kayuan hutan dari sela-sela tangan laki-laki itu.

Sakura melihat mata hitam Itachi yang menatapnya seakan-akan ia harus menenggelamkan Sakura ke dalam danau tanpa dasar, Sakura menyentuh kedua tangan Itachi, jemari putihnya menyentuh punggung tangan dan menyusuri lengan kekar laki-laki itu dan menangkup kedua wajah tampan Prajurit yang sudah menyelamatkannya berkali-kali dari kematian itu dengan lembut.

Bahkan Itachi sedikit tersentak dengan interaksi yang Sakura berikan kepadanya, angin musim dingin berhembus perhalan menerbangkan helaian merah muda yang terbungkus kain woll dikepala wanita itu.

Sakura menatap Itachi, kini terdapat setitik emosi di emerald milik wanita itu, sesuatu yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata dan Itachi takjub olehnya, bagaikan melihat danau yang perlahan mencair dari musim dingin menuju musim semi, danau milik Sakura yang terpampang jelas dimanik milik wanita itu.

Sakura menemukan kata-kata yang mengandung arti yang dalam, melebihi semuanya, melebihi dunia yang sekarang ia pijaki, melebihi rasa sakit yang selalu mengisi relung hati miliknya, kata-kata Itachi yang memberikan suatu harapan baru akan kehidupan yang akan berjalan dengan baik, di tempat yang berbeda.

Itachi menyerahkan sebuah kalung, memakaikan nya dileher Sakura, kalung sederhana dengan tali yang terbuat dari kulit terdalam buah kelapa yang dianyam membentuk kepangan rumit, ditengahnya terdapat bandul juga lempengan perak dengan nama juga nomor seri yang Sakura tidak mengerti untuk apa itu.

"Ini akan membawa kamu ke tempat yang lebih aman, ada beberapa teman ku yang tersebar dibeberapa daerah, ketika mereka menemukan ID yang ada di kalung ini mereka pasti akan melindungi mu dan menjagamu, sekarang pergilah, kereta kudanya sudah hampir penuh."

Itachi kembali menuntun Sakura, kemudian membantu wanita itu naik ke salah satu kereta karapan dengan banyak wanita didalamnya.

Itachi sudah bersama dengan wanita itu selama kurang lebih 8 bulan, mereka menetap disalah satu lembah dan dalam perjalanan mereka menemukan kampung pinggiran yang masih ada, tidak terjamah perang dan jauh dari dunia luar, kemudian Itachi mendengar bahwa tentara Danzo akan menyisir kampung itu, anak-anak perempuan dan orang yang sudah lanjut usia segera diamankan oleh kepala desa menuju tempat yang tidak akan dijangkau oleh Prajurit yang menghancurkan satu susunan Negara beberapa bulan lalu.

Itachi mengerti bahwa Danzo melakukan nya karena laki-laki yang haus akan kekuasaan itu terus percaya bahwa Itachi masih hidup, Itachi sangat tahu bahwa Danzo bukanlah orang bodoh yang akan percaya bahwa dirinya sudah tiada, sebelum dia sendiri melihat tubuh milik Itachi dengan mata kepala nya sendiri.

Itachi menghela napas berat, hari semakin petang beberapa siluet pepohonan mulai terlihat bersama sang surya yang mulai tenggelam menyisakan akhir hari yang kembali membayangi Itachi dengan ketidakpastian, akankah ia masih bernapas esok? Entahlah ia sendiri tidak mengetahui nya.

Sakura melihat Itachi yang menerawang keatas langit dengan bisu, udara musim dingin kembali menusuk tulangnya, Sakura hanya mengenakan kemeja milik laki-laki itu dengan celana bahan yang pas di kaki jenjangnya, Sakura menekuri garis wajah Itachi yang terpantul langit senja, laki-laki itu terlihat berpikir keras namun menyembunyikannya dibalik topeng wajah miliknya, laki-laki itu terlalu banyak menyimpan rahasia.

Sakura merasakan jantungnya berdetak, ia bernapas dengan teratur, butiran-butiran uap muncul dari hembusan napas nya, beberapa lampu pita dinyalakan sementara itu hutan yang berada disekeliling mereka bagaikan benteng yang melindungi mereka dari dunia luar, dalam beberapa hal Sakura mendengar kepala desa meneriaki beberapa pemuda yang masih mengangkut barang-barang milik warga desa nya, anak-anak kecil yang masih seperti daun hijau mengikuti wanita yang menuntun mereka, beberapa dari mereka menangis ketika ayah atau saudara laki-laki nya mengucapkan kata perpisahan bersama dengan doa yang mengiringi mereka.

Sakura merasakan ketakutan mencekam diantara urat-urat syaraf juga nadi, jantungnya kembali memompa darah lebih keras ketika mengetahui ia tidak akan bersama dengan Itachi, bahwa Itachi akan tinggal bersama laki-laki yang tersisa di desa ini dan kemungkinan akan berperang kembali.

Sakura mencengkram kemeja putih Itachi, bagian punggung kemeja itu terlihat kusut karena tangannya mengepal terlalu keras, jika Sakura menggunakan semua kekuatannya ia yakin bahwa kemeja laki-laki itu akan benar-benar rusak nantinya.

Sakura memejamkan mata mendengarkan deru nafas teratur juga bunyi jantung yang biasa ia dengar ketika ia akan tidur ataupun ketika ia terbangun dari mimpi-mimpi buruknya,bunyi jantung yang mengalun selaras bersama dengan kehidupan yang selalu berdampingan bersamanya selama 8 bulan terakhir.

Waktu berputar menjadi lebih lambat, Sakura dikuasai rasa nyaman dan kehangatan yang selalu menenangkan, kehangatan dan bau Itachi yang selalu menjadi pengantar tidur nya, ketika badai sedang mengamuk diluar, atau ketika ia ketakutan dengan suara anjing hutan yang menyalak pada malam hari.

Sakura menyadari hal itu sekarang, itu lebih berharga dari apapun, laki-laki ini selalu menjaganya sejak hari itu, sejak ia kehilangan segalanya pada malam itu.

"Itachi-san ..." ucap Sakura membuat Itachi membelalakan matanya tidak percaya, bahwa wanita itu memanggil namanya untuk pertama kali dalam 8 bulan ini, Itachi tidak ingat bahwa Sakura pernah berbicara kepadanya, yang Itachi selalu dengar dari wanita ini adalah tangisan yang tak kunjung usai, namun beberapa detik lalu wanita ini memanggil namanya, sangat singkat, sangat indah seperti sebuah puisi yang terucap dari bibir nya.

"Hm?" hanya itu yang bisa Itachi gumamkan, laki-laki ini kini menatap mata emerald Sakura, Itachi bisa merasakan hembusan napas juga bunyi detak jantung wanita ini, hangat tubuh sakura beradu bersanding bersama dengan miliknya, mahkota merah muda yang dikepang sederhana menjulur bagaikan sebuah tali yang dibuat khusus dari untaian rambut indah wanita itu, wajah campuran sangat kentara ketika Itachi melihat mata Sakura yang dibentuk dan diturunkan dari mata orang asia kecuali bola matanya yang indah, juga hidung dan bibir yang diturunkan dari orang tuanya yang berkewarganegaraan asing.

"Terima kasih, tetaplah hidup sampai kamu menemukan aku kembali, dan kita bisa bersama seperti hari-hari yang lalu." Ucap Sakura menenggelamkan wajah cantiknya pada dada bidang laki-laki berdarah asia itu.

"Hn, tunggu kedatangan ku." Ucap Itachi tanpa sadar, hanya dengan kata terima kasih yang sederhana dari gadis ini, Itachi bagaikan emas yang dilebur dalam cawan dengan api menyala-nyala, hatinya bagaikan emas yang mencair dan hanya Sakura yang tahu bagaimana membentuk emas itu kembali, hanya dia yang tahu itu.

Itachi merasakan kemejanya basah, itu membuat ia tidak nyaman, ia tahu Sakura kembali menangis, sungguh air mata tidak cocok dengan wanita ini.

"Semua akan baik-baik saja, Sakura. Percayalah kamu adalah wanita yang kuat yang pernah aku temui, dan kamu akan terus menjadi wanita hebat yang bisa membuat orang lain menjadi kuat!" Itachi kembali memeluk Sakura dengan lembut, kembali membisikan kata-kata yang bisa membuat gadis itu tidak menitikan kembali air matanya, bahkan Itachi sendiri bingung mengapa ia bisa mengatakan hal-hal seperti itu, jauh sebelumnya ia tidak pernah mengatakan hal-hal seperti itu, ini bagaikan dirinya yang lain, ketika bersama Sakura.

Itachi sadar bahwa ia secara tidak langsung ingin melindungi wanita ini, membawanya hanya untuk dirinya miliki sendiri, namun ia tidak ingin menjadi laki-laki egois yang terbakar dengan ambisi nya, Sakura berhak hidup dan memilih jalannya sendiri, sementara Itachi harus menyelesaikan masalahnya, ia berharap dalam doa yang terbesit dilubuk hati yang paling dalam bahwa ia akan bersama dengan Sakura, ia akan ada untuk melindunginya lagi.

Dalam seumur hidupnya baru kali ini dia berdoa kepada tuhan.

Kemudian Itachi menuntun Sakura menuju ke kereta karapan, kereta itu lumayan besar untuk 20 orang, didepannya kusir yang mengendalikan kuda sudah menunggu dengan pakaian musim dingin lengkap hingga menutupi seluruh tubuhnya dan hanya menyisakan kedua mata yang tidak tersembunyi dibalik penutup wajah milik laki-laki itu.

Itachi memakaikan mantel hitam yang menutupi kepala hingga ke ujung kaki Sakura, berharap wanita itu tidak kedinginan, Sakura terus menggenggam lengan Itachi, jemarinya ia tautkan pada tangan laki-laki itu, tangan Itachi terasa sangat besar dan hangat untuknya, itu selalu membuat Sakura nyaman.

Mereka tiba di salah satu kereta karapan yang sudah menunggu, beberapa laki-laki mengangkut sisa makanan dan air ke masing-masing kereta, Itachi merasakan tangannya di remas kuat oleh Sakura, dengan lembut Itachi mengelus pucuk kepala wanita itu, membisikan kata-kata yang menangkan.

Kemudian Itachi mengangkat Sakura dengan sangat mudah keatas kereta, Sakura duduk di tepi kereta yang terbuat dari kayu itu, beberapa helai rambut nya tertiup angin keluar dari tudung mantel yang ia berikan, mata emerald itu kini memancarkan satu emosi yang membuat perut Itachi bagaikan disiram es, namun Itachi senang mendapati hal itu, Sakura mengeluarkan setitik emosi untuk nya, jelas berada dimata indah wanita itu.

Itachi mencium punggung tangan Sakura dengan lembut, itu adalah tradisi kuno dalam keluarganya ketika ia melamar seorang gadis, namun hanya dirinya yang mengetahui hal itu, ia berjanji akan menemukan dan menyusul Sakura kelak,tidak bisa ia pungkiri bahwa ia telah jatuh cinta pada wanita pemilik rambut musim semi itu, andai bukan karena tanggung jawab sebagai seorang Prajurit dan bukan karea perang yang terus berlanjut selama beberapa tahun ini, ia yakin bahwa ia akan menikahi Sakura dan membahagiakan wanita itu, ya itu janjinya.

Ketika suara cambuk menyentuh kulit kuda-kuda karapan, kereta mulai bergerak dan berangkat, Sakura masih tidak bergeming, ia masih duduk ditepi karapan, ia melihat Itachi dan mengingat bagaimana wajah laki-laki itu dengan baik.

"Aku akan selalu menunggumu, Itachi-san." Ucap Sakura pelan, suaranya bahkan terbawa oleh angin, biarpun Itachi tidak mendengarnya namun itu sudah cukup, karena Sakura akan selalu menunggu Itachi, laki-laki itu telah menjadi jalan hidupnya, ia membawa kembali nafas nya yang separo hilang dimakan kejamnya dunia.

Sosok Itachi semakin tenggelam bersama dahan-dahan pepohonan ketika kereta pergi meninggalkan perbatasan desa dan masuk lebih jauh kedalam jalan setapak dihutan.

Sakura memandang langit malam, bintang-bintang bertaburan bagaikan jajaran lampu-lampu indah yang berkelap-kelip, bulan sudah sepenuhnya menjadi purnama, suara hewan-hewan malam mulai mengintip dari balik pepohonan, kunang-kunang menari-nari mengikuti cahaya yang dibawa oleh kereta karapan yang berjalan pelan menelusuri hutan.

Sakura menghirup sebanyak-banyaknya oksigen dari udara disekelilingnya, bau bunga lily dan bau hutan dimusim dingin bercampur menjadi satu, ia menyukai baunya itu mengingatkan Sakura pada rumah yang ia juga Itachi tempati bersama, Sakura tersenyum kemudian menengadahkan kembali wajahnya kearah langit, ia akan memulai hidupnya kembali dengan optimis, dan menjadi wanita hebat sampai suatu ketika Itachi akan datang menemuinya.

..

..

..

..

..

..

..

..

Netherland, 20 februari 1939

Sakura menerjapkan matanya beberapa kali, ini sudah dipertengahan musim panas, ia dan beberapa wanita masih setia berada didalam kereta karapan, beberapa bulan yang lalu ketika akhir musim dingin, itu adalah musim yang sangat sulit ketika persediaan makanan habis dan wanita-wanita lain terinfeksi penyakit, beberapa dari mereka meninggal dengan mengenaskan.

Kemudian mereka melanjutkan perjalanan,sang kusir berkata bahwa mereka akan dibawa menuju tempat pembesar yang tersohor untuk mendapatkan hidup yang lebih baik, beberapa wanita dengan darah Prancis tersenyum senang, mereka merencanakan acara minum teh, mendesign gaun-gaun cantik, juga mereka merencanakan pesta dansa, mereka terlalu antusias menurut Sakura, sementara itu Sakura hanya menggenggam lempengan perak sederhana yang terus ada dilehernya.

Sakura hanya melihat awan dari tepi karapan, sesekali mengirimkan doa untuk Itachi, tiap kali ia melihat awan dilangit ia selalu ingat dengan laki-laki itu, hanya dengan mengingat Itachi Sakura bisa menjadi lebih kuat, dengan mengingat Itachi semua beban yang ada dipundak nya terasa lebih ringan, dengan mengingat Itachi ia yakin semua akan baik-baik saja, seperti yang selalu laki-laki itu katakan.

Angin berhembus pelan menerbangkan helaian merah muda miliknya, Sakura menghela napas ketika merasakan terik matahari yang semakin menyengat.

Kemudian samar-samar Sakura mendengar derap kuda yang berlari semakin lama-semakin mendekat, awan-awan tebal nan putih menutup kilauan sang surya memberikan keteduhan di bumi tempat Sakura berpijak.

Ketika matahari tidak tampak, angin semakin berhembus kencang, Sakura mempererat pelukannya pada tubuhnya sendiri, namun dengan cepat ia mendengar suara ledakan yang memekakan telinga.

Kereta karapan seketika berhenti, hentakan kaki kuda yang berhenti secara mendadak membuat semua penumpang panik dan memasang kuda-kuda siaga, Sakura melihat beberapa orang memakai pakaian khas Negara itu, mereka mengenakan kemeja dengan renda-renda dan rambut putih ikal terbungkus bersama topi yang mencuat menutupi ekspresi sang penembak.

Sakura merasakan firasat yang membuat nya tidak nyaman, Sakura segera mengeratkan mantel yang ia kenakan, menutupi sebisa mungkin rambut dan wajah nya.

Tidak lama 7 laki-laki yang terlihat seperti anak bangsawan mengelilingi kereta milik nya, mereka menahan sang kusir agar turun dan menurunkan satu persatu wanita di kereta karapan itu.

Beberapa dari mereka menimbang-nimbang wanita-wanita yang menjadi teman seperjalanan Sakura, bagaikan barang yang sedang dinilai apakah pantas untuk dipilih dan dibawa pulang oleh mereka, Sakura mengerutkan dahinya, yang terlihat dari dirinya hanyalah sepasang mata emerald yang memandang laki-laki yang ada didepannya.

Laki-laki itu melirik Sakura dengan matanya yang berwarna sebiru laut, rambutnya pirang dikuncir menyisakan helaian poni yang setia menutupi sebelah matanya, ia mendecih didepan Sakura.

"Danna-sama, aku menemukan satu yang mungkin akan membuat anda tertarik." Ucapnya sopan, Sakura membelalakan mata ketika laki-laki itu berucap dalam bahasa jepang dengan fasih.

Kemudian laki-laki dengan wig berwarna putih sebahu menghampiri Sakura, matanya berwarna hazel menatap Sakura dengan dingin, Sakura menatap laki-laki itu kemudian sedetik kemudian menundukan pandangannya, tidak bisa Sakura pungkiri bahwa ia takut dengan pandangan laki-laki yang berdiri sombong diatas kuda putihnya.

"Bawa dia kerumah utama." Ucapnya kemudian melenggang pergi disusul dengan cengkraman dipergelangan tangan Sakura, wanita bermata emerald itu menatap tangannya yang ditarik dengan paksa kemudian Sakura mulai menyadari sesuatu, bahwa dia tidak akan menuju tempat yang sudah ditentukan.

Napasnya tersengal-sengal dan berat, bahkan kakinya tersaruk-saruk ketika laki-laki pirang itu membawa nya menjauhi kereta karapan.

Beberapa meter dari tempat Sakura berdiri, cukup jauh dari kereta karapan yang membawa anak-anak dan lansia.

Sakura mendengar suara ledakan, dalam hitungan detik kereta itu berubah menjadi serpihan-serpihan kecil dengan api yang melahap sisi-sisi kayu kereta itu.

Sakura membelalakan mata tidak percaya, jantungnya memburu, kepalanya terasa sangat sakit menyaksikan pembantaian secara tidak langsung, Sakura sadar kakinya mulai melangkah kembali membuat kepulan debu di kaki nya yang telanjang.

"Lepaskan aku!" ucap Sakura mendesis, suaranya lebih kelam, siapapun tidak akan tahu bahwa ia sedang menitikan air mata, Sakura meronta dan mengepalkan tangan kanannya yang ditarik paksa, membuat beberapa guratan merah akibat kuku-kuku laki-laki pirang itu yang menancap dikulit putih miliknya.

"Deidara, cepatlah." Ucap laki-laki bermata hazel yang dipanggil 'danna-sama' oleh laki-laki bernama Deidara itu.

Deidara menoleh kearah Sakura kemudian mensejajarkan tinggi mereka, Sakura hanya bisa melihat leher jenjang laki-laki itu.

Kemudian dengan gerakan yang cepat laki-laki itu membuka penutup wajah Sakura, beberapa helai kain katun yang membebat wajah Sakura terlepas memperlihatkan helaian merah mudanya yang kini tertiup angin, mata Sakura menatap laki-laki itu dengan tajam, tanpa ampun bahkan jika Sakura berniat dan memiliki kekuatan ia akan mengutuk kedua laki-laki didepannya itu hanya dengan melihatnya, namun Sakura sadar dia hanyalah gadis biasa.

Deidara membelalakan matanya melihat gadis berambut musim semi dengan mata sebening giok yang kini menatapnya dengan pandangan menusuk, gadis ini terlihat lusuh dan kotor dengan pakaian sederhana yang tidak pernah diganti, sesuatu dileher gadis ini menarik perhatian Deidara, ia mencengkram tangan Sakura lebih keras membuat wanita itu memekik tertahan dan menitikan air matanya.

Deidara melihat kalung itu membaca ID dan nomor serinya dengan teliti, ia mengenali siapa pemiliknya.

Kemudian Deidara melepas paksa kalung itu dari leher Sakura, meninggalkan guratan merah di tengkuk wanita itu, Sakura sadar dengan apa yang laki-laki itu lakukan, ia mulai memberontak dan berusaha mengambil kalung itu.

"Kembalikan!" ucap nya parau, sementara itu Deidara menyerahkan kalung itu pada laki-laki yang sedang menunggang kuda dibelakangnya.

"Sasori-sama, jika berkenan lihatlah ini." Ucapnya menyerahkan kalung sederhana itu, Sasori memegang kalung itu kemudian menggenggam erat kalung itu tepat pada dadanya.

"Jika kamu ingin benda ini kembali, ikutlah bersama ku karena aku akan menanyakan sesuatu kepada mu, sebagai gantinya." Ucap Sasori kembali berjalan bersama kudanya, genggaman Sakura mengendur kemudian ia mengikuti Deidara yang menuntunnya pada kuda coklat yang Sakura pikir milik laki-laki itu.

Bagaimana pun kalung pemberian Itachi itu adalah benda yang snagat berharga bagi Sakura.

Deidara mengangkat Sakura dan mendudukan wanita itu dengan mudah pada pelana kuda berwarna coklat, disusul dengan nya yang duduk dibelakang Sakura.

Sakura terus membisu selama dalam perjalanan, ia disibukan dengan opini-opini yang bermunculan dikepalanya.

Apa yang akan ditanyakan mereka kepadanya?

Apa mereka mengenal Itachi?

Apa yang akan Sakura lakukan setelah ini?

Selang beberapa waktu mereka melintasi hutan, udara semakin dingin dan pepeohonan besar mendominasi perjalanan mereka, bau hutan liar mulai menyeruak dipenciuman Sakura, sesekali Sakura melilitkan syal katun miliknya, meski sudah lusuh dan memiliki warna yang kusam, Sakura tetap setia memakai syal itu.

"Apa hubungan kamu dengan orang yang memberikan kalung itu?" ucap Deidara pelan, Sakura bisa merasakan napas hangat menyapu telinga miliknya, Sakura bergidik dengan perubahan suhu itu.

Sakura menggeleng, kemudian terdiam beberapa saat Deidara yang tidak puas dengan jawaban wanita itu mendecih dan membuang pandangan dari helaian rambut musim semi Sakura.

Kemudian laki-laki bersurai pirang itu memacu kuda miliknya ditengah hutan rimbun, beberapa daun tidak sengaja menyentuh helaian merah muda Sakura, matahari samar-samar mengintip dari balik ranting pepohonan, setelah kurang lebih 30 menit mereka memacu kuda, ketiganya sampai pada salah satu halaman Mansion yang sangat megah, Sakura berpikir bahwa akan membutuhkan berhektar-hektar tanah untuk membangun Mansion itu.

Ketika laki-laki bernama Sasori datang beberapa penjaga memberikan penghormatan dengan mensejajarkan senjata disamping mereka dan memberikan hormat hingga membusungkan dada mereka, Sakura tertegun dan sekaligus merasakan perasaan yang tidak nyaman secara bersamaan.

Butuh lima menit untuk menuju ke Mansion yang bernuansa serba putih, dengan lampu-lampu khas eropa yang menggantungkan beberapa sumbu yang sudah terisi minyak.

Halaman depan yang mirip taman utama itu sangat luas bahkan lebih luas dari halaman utama kediaman Sakura di Jepang, ada beberapa bunga yang Sakura kenali ketika ia tinggal di Jepang beberapa tahun lalu sebelum ia menempuh pendidikan kedokteran di Jerman.

Hari sudah mulai gelap, Sakura melihat beberapa pelayan dengan pakaian serba hitam dan putih memegang lentera, masing-masing dari mereka menaiki kursi dan menyalakan lampu yang berada di taman, cahaya lampu dan bau minyak yang terbakar tercium di indra penciuman Sakura, Sakura menyeritkan dahinya merasa tidak nyaman.

Sakura melihat beberapa pelayan wanita berdiri di pintu utama, mereka mengenakan apron berwarna putih yang membungkus dress dibawah lutut, mereka mengenakan bandana dengan renda-renda sederhana rambut mereka sama rata, berwarna hitam membingkai hingga ke rahang mereka, semua pelayan memiliki wajah yang cantik khas wanita-wanita Netherland.

Sakura tidak buta dengan sastra ataupun pengetahuan yang lain karena mendiang ayahnya selalu memberikan buku-buku dari dunia luar, dan Sakura sangat senang dengan hal itu, membaca membuatnya tahu akan dunia luar, membuatnya memiliki bekal untuk berada di dunia luar, dan membuatnya merasakan 'hidup' karena dengan membaca membuka semua wawasan yang ia miliki, meskipun di zamannya wanita dilarang belajar banyak daripada kaum laki-laki, namun ayahnya selalu berlaku adil, ayahnya memperlakukan Sakura sama.

Karena Sakura adalah satu-satunya anak yang mereka miliki.

Ibu Sakura yang asli warga Negara Jepang dan ayahnya yang berkebangsaan Jerman memiliki komitmen mereka sendiri untuk mendidik Sakura dengan cara yang seharusnya, baik ibu maupun ayahnya tidak pernah melarang keingintahuan Sakura tentang apapun, selagi mereka bisa Sakura akan di beritahu dengan cara yang benar.

Hati Sakura mencelos ketika mengingat kedua wajah ayah dan ibunya, entah kenapa sesuatu di dalam dadanya menjerit dan membuat lubang tanpa dasar yang siap menelan dirinya hidup-hidup.

"Turunlah." Ucap Deidara mengulurkan tangan, Sakura menginjak pedal kuda kemudian memegang tangan Deidara yang sekarang memakai sarung tangan hitam, Sakura turun dengan mulus, kakinya menginjak lantai yang terbuat dari batu pualam, seketika dingin menguasai kakinya yang telanjang, Sakura sedikit bergidik.

Sasori memberikan beberapa isyarat kepada pelayan wanita yang sedang melucuti mantel, juga topi dan pedang yang Sakura baru sadari bertengger di pinggang laki-laki itu.

Kemudian pelayan kecil berusia kurang lebih 12 tahun dengan rambut hitam, berponi membingkai wajah nya yang tirus mendekati dia, pelayan itu tersenyum ramah pada Sakura.

"Izinkan saya merawat nona, atas permintaan tuan muda." Ucapnya dengan bahasa Belanda yang cukup sopan, menurut Sakura. Wanita itu membungkuk hormat, tanpa Sakura sadar ia menganggukan kepalanya, kemudian dua pelayan datang dan membimbing Sakura menuju ke dalam Mansion yang sangat besar itu, mendadak Sakura lupa bagaimana cara untuk bernapas.

'Apa ini keputusan yang tepat?'

Ucap Sakura memasuki Mansion yang lebih mirip istana di Kota antah-berantah itu.

.

..

.

..

.

.

Sakura keluar dari kamar yang menurutnya adalah kamar penyiksaan, karena selama dua jam wanita-wanita pelayan itu membersihkan seluruh tubuh sakura tanpa terkecuali, menggosok tiap inci kulitnya dengan krim yang dia kenal sebagai lulur, kulitnya bagaikan terkelupas secara paksa ketika salah satu dari ketiganya memegang tangan sakura agar tidak memberontak, setelah acara mandi yang mengerikan menurut sakura, dia kembali mengalami hal-hal mengerikan, rambut merah mudanya dibentuk sedemikian rupa, itu sangat menyakitkan ketika rambut nya dibuat keriting oleh benda panas yang hampir menyentuh kulit kepalanya, itu adalah hal yang tidak pernah sakura alami selama 18 tahun hidupnya.

Sakura dipakaikan pakaian yang pada zaman itu sangat mewah, gaun dengan warna hijau, beberapa renda terjahit rapih disetiap sisinya, dibelakang punggungnya terdapat pita berwarna keemasan, kini sakura memakai sepatu dari kayu cendana dengan ukiran rumit disisinya, hak sepatu yang terpasang pas di kakinya itu memiliki hak setinggi 5cm, sakura sedikit kikuk untuk berjalan.

Rambutnya lebih mirip sosis keriting yang diikat dengan pita hijau yang senada dengan gaun miliknya, sakura juga sedikit keseulitan bernapas karena korset yang diikat terlalu ketat, tidak! Tapi memang benar-benar ketat hingga dadanya terasa membusung, memperlihatkan belahan aset yang selama ini ia selalu sembunyikan, sungguh ini terasa amat memalukan baginya! Sakura menggeleng frustasi ketika salah satu pelayan menata wajahnya dan memakaikan lipstik berwarna merah.

Sakura melihat dirinya pada cermin besar yang tergantung, menjulur hingga menyentuh lantai, cermin yang dibingkai oleh kayu jati dengan ukiran-ukiran elegan itu memperlihatkan wajah cantik serta tubuh sakura yang pas dengan gaun hijau dan tatanan rambut yang terbilang sederhana, ketiga pelayan dibelakangnya tersenyum senang dengan hasil karya mereka, setelahnya mereka segera membawa sakura turun, sakura melintasi lorong panjang dengan karpet berwarna merah, tiap satu meter terdapat lampu pita yang tergantung, di beberapa dinding berwarna putih itu menggantung lukisan-lukisan yang sakura kenali adalah gambar sasori atau bahkan ayah juga ibunya.

Sakura berjalan tertatih, tidak lama ia mendengar deru angin menggulung sang malam, jendela-jendela yang membingkai ruangan itu menampakan siluet mengerikan pepohonan yang digulung oleh angin, sesekali ranting-ranting dan daunnya bergesek ke tembok atau memukul badan jendela membuat suara gaduh yang mencakar gendang telinga.

Jantung sakura bertalu-talu, tiap langkahnya lebih berat, ia merasakan peluhnya berjatuhan diantara poni-poni yang disusun rapih dan ikal di dahi putih miliknya.

Ketiga pelayan wanita itu terus setia menemani sakura, satu pelayan berjalan didepan sakura dan dua pelayan lainnya mengapit sakura disisi kiri maupun kanan, terkadang keduanya mengelap peluh sakura, mereka tidak berbicara ataupun berkomentar, bagaikan boneka yang hanya mematuhi apa yang tuannya perintahkan.

Setelah itu sakura melihat lampu gantung yang dipenuhi oleh susunan lilin, lilin-lilin itu mengeluarkan cahaya yang indah, besi yang menyangga lilin-lilin berukuran sedang itu terlihat sudah tua, namun tetap indah karena ukiran-ukiran yang terpasang dengan baik, berwarna emas dengan berlian yang ikut berpendar bersama cahaya, sakura tertegun melihat nya.

Kemudian sakura mendapati anak tangga yang sangat lebar, pegangan anak tangga itu terbuat dari kayu jati, dilapisi dengan cat berwarna coklat, bau kayu jati menguar dan menusuk indra penciuman sakura, satu demi satu anak tangga sakura lalui, gaun miliknya diangkat sebagian oleh kedua pelayan agar memudahkan langkahnya, sakura merasa risih dengan apa yang mereka lakukan namun memilih diam.

Setelah tiba dibawah sakura melihat beberapa kursi kayu berjejer gagah bersama dengan meja-meja dengan taplak berwarna cream, disisi ruangan terdapat guci-guci berukuran besar yang diisi oleh bunga-bunga yang tumbuh di halaman rumah.

Sakura sadar ketika mendekati kursi dengan bantalan empuk dan dilapisi kulit binatang, terdapat karpet yang membentang sepanjang kursi itu berada, itu bukan karpet namun lebih seperti kulit harimau, namun sangat besar karena kulit itu tanpa celah membentang luas beberapa meter didepan nya.

Kemudian sakura memutar arah pandangnya, ia memandang kesamping kanan dan kiri tembok, disana terdapat rak-rak buku yang terbuat dari kayu membentang dari bawah hingga langit-langit, bahkan buku-buku itu tersusun sangat rapih, masing-masing diberi tanda tentang penggolongan masing-masing buku.

Tanpa sadar sakura melangkahkan kakinya, ia mendekati salah satu rak buku dengan penggolongan buku 'tanaman obat' ia melihat-lihat judul di tiap-tiap buku tersebut, tanpa sadar sakura tersenyum, dalam beberapa tahun wanita ini tidak pernah tersenyum, namun hari ini ia tersenyum tanpa sadar hanya karena melihat rak dengan buku-buku bacaan.

"Kamu menyukai nya?" ucap suara berat yang terdengar angkuh di telinga sakura, sontak sakura menoleh melihat siapa orang yang berkata dan bertanya seperti itu.

Sakura hanya menatap orang itu dengan dahi berkerut, mencoba menyesuaikan cahaya dan menerka-nerka siapa orang yang mulai berjalan kearah nya itu.

Laki-laki itu memberikan tanda melalui tangannya agar ketiga pelayan yang setia berada disamping sakura pergi.

Sakura melihat rambut merah semerah matahari yang pulang keperaduan dan membakar langit, mata itu mata yang sakura lihat tadi sore, mata hazel yang memandang bosan dan dengan keangkuhan yang selalu ada disetiap gerakannya.

Sakura tidak bergeming dari tempatnya, ia hanya diam dan melihat laki-laki itu, semakin lama semakin dekat dengan nya, laki-laki ini memakai kemeja berwarna putih dengan celana bahan hitam dan sepatu, tidak lupa pedang yang selalu setia ada dipinggangnya itu.

Mata sasori tidak bisa lepas dari sakura, namun ekspresinya tetap sama, hanya rambut palsunya yang ia lepas, ia mendekat dan berdiri didepan wanita bersurai musim semi itu.

Bahkan wanita itu tidak takut dengannya, yang ia lihat dari wanita itu adalah kekosongan, matanya sangat indah, rambutnya mengingatkan sasori pada hanami terakhirnya di Jepang, ia belum mengetahui siapa nama wanita ini, namun hanya dengan melihat matanya sasori yakin bahwa ada sesuatu yang akan terjadi dan membawanya kepada takdir yang tidak ia ketahui.

"Pilihlah salah satu atau beberapa buku kemudian berbincanglah beberapa menit bersama ku, jika kamu berkenan." Ucap sasori melihat beberapa buku di perpustakaan pribadinya, tanpa menjawab apa-apa sakura memilih beberapa buku ditangannya, tanda ia setuju dengan tawaran laki-laki bersurai merah itu.

Sasori tersenyum tipis, kemudian dengan sopan membawakan buku yang dibawa sakura, laki-laki itu membimbing sakura untuk duduk di kursi tempat ia membaca, sasori melihat keengganan dan keterpaksaan pada bahasa tubuh wanita cantik itu.

Namun pada akhirnya sakura duduk disamping sasori, dia diam bahkan sasori tidak yakin bahwa wanita itu bernapas, ia tidak bisa mendengar hembusan atau tarikan napas wanita ini.

"Langsung saja, aku tidak akan basa-basi, jadi apa yang kamu lakukan didaratan ini?" ucap sasori bertanya dengan santai, ia membolak-balik buku tentang ramuan umum obat-obatan yang ada ditanah Netherland.

Sakura tidak bergeming.

Selama semenit sasori menunggu jawaban, namun ia tidak mendapatkan apapun, ia menghela napas kemudian mengangkat sebelah kakinya membuatnya dalam posisi nyaman dan santai.

"Aku tidak tahu." Ucap sakura singkat membuat mata sasori terbelalak, wanita itu masih menekuri bacaan ditangan nya, ia membolak-balikan buku tentang racun dan penawar racun pada umumnya.

"Lalu mengapa kamu bisa ke daratan ini, darimana kamu berasal?" ucapnya bertanya lagi, sakura merasa laki-laki itu sedang mengebor dirinya pada tatapan mata hazel indah yang bisa memenjarakan apa yang dia lihat.

"Seseorang ... menganjurkan aku untuk pergi, dan memulai kehidupan yang baru, sampai suatu saat ..." ucap sakura terhenti, sakura kembali mengingat wajah itachi, semuanya tentang laki-laki itu, perlahan relung hatinya menghangat ketika mengingat semua kata-kata juga perlakuan itachi terhadapnya.

"Dia adalah Uchiha Itachi, bukan?" ucap sasori, dalam hitungan detik buku yang ada pada tangan sakura terjatuh dan menimbulkan bunyi berdebam kecil, mata sakura bertemu dengan mata sasori, emerald bertemu dengan hazel, sasori kaget dengan apa yang terjadi, begitu menyebut nama Itachi wanita ini seolah memiliki emosi dimata dan hatinya terhadap laki-laki itu.

"Bagaimana kau tahu?" ucap sakura singkat, pertanyaan itu hanya dijawab beberapa detik, suatu emosi terlihat didalam emerald milik wanita itu, terlihat jelas bahkan bisa membuat sasori kehilangan akal dan ingin menyentuh juga memandangi wajah sakura dari dekat.

"Hanya seorang teman lama." Ucap sasori mengambil kalung yang ia rebut dari sakura, sakura mengangguk, kemudian laki-laki bersurai merah itu menyerahkan kalung Itachi tanpa menyentuh tangan Sakura.

Sakura tidak mengerti dnegan apa yang diucapkan oleh sasori, kemudian dengan sangat perlahan Sakura mengambil buku yang tergeletak dilantai, gerakannya begitu anggun dan alami, mata hazel Sasori terus menatap Sakura, wanita itu tidak tahu dengan keberadaan sepasang manik hazel yang memandangnya dalam diam.

"Izinkan aku mengetahui siapa nama mu." Ucap Sasori dengan suara yang sopan, sakura menghela napas kemudian kembali mendengar badai yang semakin mengamuk diluar.

"Sakura Haruno." Ucap Sakura pelan, ia masih menekuri isi buku yang ia baca.

"Akasuna Sasori, adalah nama milik ku." Ucap Sasori kembali, ia menatap sakura yang sedang asyik membaca Max Havelaar yang ditulis oleh Multatuli.

"Apa aku bisa mengajukan beberapa pertanyaan kepada kamu?" ucap Sakura menutup buku ditangannya, Sasori menimbang-nimbang kemudian mengangguk.

"Tanyakan, jika aku bisa menjawab aku akan menjawabnya." Ucap laki-laki itu masih menatap Sakura, ia merasakan perasaan yang aneh ketika Sasori menatap nya dnegan pandangan seperti itu.

"Kenapa kamu melakukan ini kepada ku?" ucap Sakura bertanya dnegan terang-terangan, ia mendengar petir yang saling menyahut, sepertinya udara saat pagi nanti akan sangat dingin, bagaimana pun mereka sedang berada ditengah hutan.

Sasori tertawa dengan pertanyaan wanita didepannya, ia bisa melihat bibir Sakura melengkung kebawah, wanita itu sedang marah bahkan jengkel.

"Membiarkan wanita secantik kamu dijadikan sebagai budak nafsu pada penguasa wilayah, akan terasa sangat sayang, anggap saja kau berhutang budi padaku." Ucap Sasori kini berdiri menatap Sakura dengan dingin, Sakura tidak mengerti dengan pemikiran laki-laki didepannya ini.

"Besok pagi aku akan keluar dari sini, jadi terima kasih atas kebaikan mu, tuan Sasori." Ucap Sakura sinis, dalam sedetik ia merasakan pergelangan tangannya dicengkram kuat, Sakura merintih karena nya, tangan Sasori bagaikan es yang terbentuk sempurna, dingin.

"Jangan macam-macam denganku, apa kau tidak mengerti aku membawa kamu kesini karena diluar sangat berbahaya, perang dunia ke II sedang berlangsung, dan aku sudah banyak melihat bangkai perempuan cantik sepertimu, jadi jika kamu ingin selamat ikuti saja perintahku!" ucap Sasori, suaranya menggema bagaikan orchresta Requiem-Lacrimosa milik Mozart.

Sakura duduk lemah dikursi, ia tidak bisa berkata apa-apa selain merasakan detak jantungnya yang memburu, semua perkataan Sasori benar adanya, tidak bisa disangkal dengan kenyataan yang ada, Sakura membutuhkan pelindung ketika Itachi sudah tidak ada disisinya untuk melindunginya.

Itachi kembali membawa kehidupan untuk Sakura hingga wanita itu bisa lebih tegar melupakan kejadian yang menimpa kedua orang tuanya di Kota kelahirannya, Jerman.

"Aku akan menyiapkan kamar untukmu, aku akan mengirim pelayan untuk memenuhi kebutuhanmu, jika kamu sayang dengan nyawamu ikuti saja perintahku, sampai kekacauan di Negeri ini berkurang." Sasori pergi menuju salah satu pintu yang dilansir Sakura dengan pintu keluar.

Sakura terus menundukan wajahnya, ia merasakan kepalanya pusing dan matanya memanas, bagaimana pun yang ia pikirkan sekarang adalah Itachi, diluar perang berkecamuk dan dia tidak bisa menghubungi Sakura atau sebaliknya, Sakura sangat mengkhawatirkannya karena selain ayahnya hanya Itachi laki-laki yang dekat dengan hatinya.

Kemudian wanita itu melirik tempat dimana Koran-koran dan surat kabar tersusun rapih, ia mengambil salah satu yang masih baru.

Berita itu berisikan tentang beberapa perang yang terjadi di Asia, Jepang ikut ambil alih dalam perang dunia ke II ini, membuat hati Sakura semakin mencelos, kemudian lembar demi lembar ia baca dengan teliti sampai ia tertuju pada satu kabar yang mengatakan bahwa terjadi pembantaian dan pengeboman yang langsung diterjunkan dari helikopter, semua oenduduk yang ada disana mati, hangus, dengan organ tercecer tidak tersisa, dan mata sakur semakin terbelalak mengetahui bahwa desa yang dibantai dengan terang-terangan itu adalah desa tempat dia dan Itachi tinggal.

Helaian surat kabar itu jatuh dan tercecer di lantai, Sakura kini jatuh lemas membentur lantai dingin yang menopangnya, kedua tangannya menyentuh lantai yang dilapisi dengan karpet yang dibuat dari kulit Harimau.

Matanya menekuri bulu-bulu indah dan halus yang juga menyentuh indra perabanya, dadanya terasa tersumbat batu yang sangat besar membuat paru-parunya remuk, ia sulit bernapas, kepalanya semakin sakit dan air matanya sudah bercucuran membasahi lantai, air mata Sakura sama derasnya dnegan air hujan diluar ruangan.

Sakura kembali merasakan kekosongan dna kehampaan yang ada didalam hatinya, Itachi pergi bahkan tanpa mengucapkan perpisahan yang pantas, tidak! Ia tidak salah, namun semua prajurit yang membunuhnya itu yang bersalah.

Sakura kembali meraung-raung, suaraya terdengar mengerikan lebih daripada petir juga suara amukan badai yang berada diluar ruangan.

Ia menggenggam kalung milik Itachi, Sakura mendekapnya membayangkan itu Itachi nya, laki-laki yang sangat ia cintai.

Tidak lama Sasori datang dnegan tergesa-gesa, ia melihat Sakura yang menangis bagaikan seorang yang ditinggal mati, ia tahu mengapa Sakura seperti itu, Sasori melihat selebaran surat kabar yang kini berserakan di lantai, ia mendekati Sakura dnegan perlahan kemudian menepuk punggung wanita itu, menenangkannya.

Sakura menangis semakin menjadi, kemudian dalam tangisnya ia mulai merasakan pusing dari kepalanya yang terus berdenyut kemudian pandnagannya menggelap, ia tahu bahwa ia kekurangan oksigen, dalam hitungan detik ia pingsan dan merasakan seluruh tubuhnya tidak berfungsi seperti biasanya.

"Itachi-san kenapa..." Ucap sakura ketika benar-benar tidak sadarkan diri.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC