Author : Lee Shita a.k.a Park Shita
Tittle : This is my life ? part 2
Rating : T
Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Kim Jongin, Oh Sehun, Zang Yixing, Kim Joonmyeon, Do kyungsoo, Kim Minseok, and other.
Makasi buat yang udah review di chapter sebelumnya. Review kalian sangat membangun, entah negatif atau positif sama-sama penting. Aku udah bales semua review kalian, maaf kalau ada yang gak kebales, habisnya gak ada link URL nya..
Di Chapter ini jangan lupa reviewnya..
Gomawo…
...
"Hah, rasakan. Baru aku ancam segitu saja kalian sudah takut , apalagi_" ucapanku terhenti saat arah pandang mereka bukan lagi ke mataku, tapi kebelakangku. Aku membalik tubuhku dan betapa terkejutnya aku saat mendapati Chanyeol berdiri di belakangku dengan jarak yang amat sangat dekat.
"Kyaa." Aku berteriak dan memundurkan tubuhku, tapi aku malah menginjak sesuatu sepertinya kaki Kai, dan dia mendorong tubuhku kesamping. Aku terhempas dan terduduk dilantai. Sebuah tangan terulur padaku, aku meraihnya dan sesaat aku merasakan sesuatu yang mengalir di tanganku,perasaan aneh, ada sensasi lain saat tangan kami bersentuhan.
"Sudah hyung katakan berulang kali, jangan bertengkar dan jangan bermain kasar. Terutama kau Kai, karena kau paling besar." Ucap Chanyeol dan sukses membuat kedua namja itu terdiam.
"Mianhae hyung." Ucap mereka tertunduk.
"Lalu?" ucap Chanyeol lagi, Kai dan Joonmyeon menatap Chanyeol lalu menghela nafas.
"Mianhae Baekhyunnie." Ucap mereka berdua. Aku hanya bisa menghela nafas lalu berjalan ke arah dapur dan membereskan dapur yang cukup berantakan. Chanyeol duduk di depan meja makan, aku meliriknya sebentar dan kembali fokus mengelap meja.
"Mana Sehunnie?" ucap Chanyeol dengan suaranya yang berat. Kai dan Joonmyeon menatap kamar Sehun lalu menghela nafas. Chanyeol ikut menatap pintu kamar Sehun yang tertutup lalu segera bangkit dan berjalan kearah kamar Sehun, bahkan dia tak jadi memakan makanannya.
"Hyunnie!" terdengar suara Sehun yang memanggilku, aku segera mencuci tanganku lalu berlari ke kamarnya. Ku dapati Sehun yang duduk di tengah kasur sambil mempoutkan bibirnya dan menyilangkan kedua tangannya, sedangkan Chanyeol ia duduk disisi ranjang Sehun.
"A-ada apa?" tanyaku gugup saat Chanyeol juga menatapku.
"Aku benti dengan Chanyeol hyung, aku hanya mau dengan Hyunnie." Ucap sehun.
" Sehun-ah?" ucapku pelan.
"Aku benti hyung, hyung thelalu tak punya waktu untukku. Aku kan lindu dengan hyung." Ucapnya lagi.
"Sehun-ah, Chanyeol hyung bukannya tak mau main denganmu. Tapi kau harus tahu kalau hyungmu itu sibuk." Ucapku sambil duduk dipinggir ranjang. Sehun masih melempar pandangannya, sedangkan aku melirik Chanyeol dengan canggung. Kami bertiga diam, aku hanya bisa menundukan kepalaku aku merasa tak enak dengan Chanyeol atas sikap Sehun, aku takut dia berpikir kalau aku yang mengajari Sehun seperti itu. Dia menghela nafas pelan, namun aku masih dapat merasakannya.
"Baiklah. Katakan apa maumu? Kau ingin hyung melakukan apa, supaya kau tak marah lagi pada hyung?" ucapnya dengan suara yang terdengar pelan dan pasrah. Sehun menoleh dengan wajah senang.
"Jinja? Hyung mau melakukan apa thaja?" Chanyeol mengangguk.
"Hhmm.. aku ingin bethok kita jalan-jalan." Ucap Sehun.
"Aniya Sehun-ah. Besok hyungmu kan harus bekerja." Ucapku, tapi kemudian Chanyeol menatapku dan memberikan isyarat bahwa itu baik-baik saja.
"Baiklah. Besok kita akan jalan-jalan." Ucap Chanyeol akhirnya.
"Pantai. Aku mau bethok kita ke pantai. Terakhir aku ke pantai saat eomma dan appa masih hidup." Ucap Sehun, Chanyeol tersenyum miris menatap adiknya.
"Ne. Besok kita ke pantai."
"Yeeeiiii..athik." ucapnya senang dan melompat-lompat di atas kasur. Aku mengikuti Chanyeol keluar dan sedikit tersenyum ke arah Sehun yang nampak kegirangan.
"hhmm.. a-apa tak masalah?" ucapku pelan, tapi untung masih terdengar olehnya. Dia menoleh ke arahku membuatku menundukan kepalaku.
"Hm?"
"Apa tak masalah mengajaknya berjalan-jalan? Bukankah besok kau harus bekerja?" tanyaku.
"Ne aku tahu. Tapi aku bisa minta cuti sehari, lagipula sudah lama kami tak jalan-jalan." Ucapnya dan aku hanya mengangguk.
"Tapi... apa_" dia tak melanjutkan kata-katanya.
"Wae?" tanyaku.
"Tapi apa kau bisa ikut dengan kami? Aku tak yakin bisa mengurus mereka semua, terutama Sehun-ah." Ucapnya akhirnya.
"eumm.." aku mengangguk.
"Ikut kemana hyung?" tiba-tiba terdengar suara Joonmyeon yang ternyata sudah berada diantara kami.
"Besok kita akan jalan-jalan ke pantai." Ucap Chanyeol.
"Jinja? Yeeeii..." teriaknya dan langsung berlari ke kamar. Kai yang melihat tingkah Joonmyeon hanya menengokkan kepalanya dari sofa dengan wajah bingung.
"Ada apa Baekhyun-ah?" tanya Kai padaku yang berjalan ke ruang tamu untuk mengambil gelas-gelas kosong yang berserakan di atas meja.
"Besok hyungmu akan mengajak kita jalan-jalan ke pantai." Sahutku.
"Jinja?" dia nampak senang, reaksinya sama seperti Sehun dan Joonmyeon.
"Tapi besok aku ada latihan dance lagi." Ucapnya kecewa.
"Ini hanya acara untuk menghibur Sehun sebenarnya, jadi kau tidak diharuskan ikut." Ucapku sambil mengelap meja .
"Tapi aku ingin ikut." Ucapnya lagi sambil sedikit merengek. Aku berdiri dan menghela nafas panjang, dasar kekanak-kanakan. Itulah yang terpikir olehku.
"Kau kan sudah besar, jadi kau bisa memilih kan?" ucapku sebelum akhirnya meninggalkannya.
...
...
Hari sudah malam, tiba-tiba aku kehausan dan ingin minum. Saat aku raih gelas di meja nakasku ternyata gelas itu sudah kosong, terpaksa aku bangkit tapi dengan perlahan. Tak ingin membangunkan pangeran disampingku, hehehe.. maksudku suamiku Park Chanyeol. Aku berjalan keluar kamar, saat menyalakan lampu dapur aku nyaris saja pingsan saking terkejutnya. Bagaimana tidak, tiba-tiba Lay duduk di dapur dengan wajah tertunduk.
"Lay-ah?" panggilku dan berjalan menghampirinya. Pundaknya bergerak naik turun, dan terdengar sedikit isakan. Aku rasa dia memang sedang menangis.
"Wae?" tanyaku sambil menyentuh pundaknya pelan.
"Hiks..hikss.. hyung." Suaranya terdengar parau, aku rasa dia sudah berjam-jam menangis.
"Wae?" tanyaku. "Apa ada masalah?" sambungku lagi. Dia masih saja menangis.
"Mian, hyung tertidur. Hyung tak menunggumu pulang. Apa kau menangis gara-gara itu? Apa kau sudah makan? Memangnya kau kemana sampai pulang larut?" tanyaku bertubi-tubi.
"Hyung.. aku..aku. Aku telah berbohong." Ucapnya.
"Maksudmu? Kau berbohong kenapa?"
"Aku sebenarnya tak mengikuti kelas tambahan hari ini, tapi aku... aku takut hyung." Ucapnya lagi.
"Ceritakan saja!" ucapku.
"Tadi aku pulang jam setengah sembilan, aku dapati Chanyeol hyung duduk diruang tamu menungguku. Dia tak berbicara padaku, bahkan saat aku minta maaf dia meninggalkanku. Dia sepertinya marah padaku hyung, dia sepertinya tahu aku berbohong." Ucapnya, aku segera memeluknya.
"Memangnya kau kemana? Sebenarnya kau kemana?" tanyaku lagi.
"Sebenarnya aku sudah mau pulang. Tapi temanku mengajakku pergi, mereka mengajakku berjalan-jalan sebentar. Karena aku fikir hanya sebentar jadi itu tak apa-apa, selain itu 'dia' juga ikut bergabung makanya aku semakin semangat. Ternyata mereka mengajakku untuk kencan buta, dan 'dia' sepertinya menyukai seseorang bernama Tao." Ucapnya lagi, aku semakin tak mengerti dengan alur pembicaraannya. Sebenarnya dia menangis karena hyungnya marah, karena dia ketahuan berbohong,karena dibohongi teman-temannya, atau karena orang yang dia sebut 'dia' itu menyukai orang lain. Aku menghela nafas.
"Lalu, apa masalahmu? Apa yang membuatmu menangis?"
"Semuanya hyung, semuanya. Aku menangis karena temanku berbohong padaku, aku menangis karena hyung marah padaku, aku menangis karena dia menyukai orang lain." Ucapnya lagi.
"Dia?" tanyaku pura-pura tak mengerti.
"hhm.. seseorang yang aku sukai di sekolah Hyung. Dia temanku namanya Kris." Ucapnya lagi. Aku tersenyum, dia dalam masa pubertas, jadi sudah wajar jika ada yang ia taksir.
"Hehehe. Jadi itu yang membuat adik iparku yang manis ini menangis di dapur malam-malam?"
"Ne. Tapi .. jangan katakan pada Chanyeol hyung!"
"Kau bisa pegang ucapanku." Ucapku sambil membuat gerakan mengunci pada bibirku.
" Kau tenang saja, hyungmu pasti tak akan marah. Seandainya dia marah pasti tak akan lama, tenang saja. Hyung akan membantumu. Oh iya, besok kita akan berjalan-jalan ke pantai, sebaiknya kau bersiap ne?"
"Ne. Hyung gomawo. Di rumah ini hanya hyung yang paling mengerti aku. Aku bersyukur hyung mabuk malam itu, sehingga akhirnya kalian bisa menikah. Hooammh.. aku ke kamar dulu hyung, aku lelah dan mengantuk." Ucapnya lalu berjalan meninggalkanku. Aku tersenyum, lalu teringat kejadian dua tahun lalu. Kejadian yang membuatku masuk ke dalam mimpi buruk ini, yah bisa dibilang begitu.
Flashback ( normal POV )
Malam ini terasa begitu dingin, beberapa toko sudah mulai tutup. Lalu nampak 3 namja cantik dan bertubuh mungil sedang berjalan dan nampak sedikit sempoyongan. Bahkan kau bisa mencium aroma alkohol yang begitu menyengat saat mereka lewat ataupun berbicara.
"Hah.. akhirnya.. eugh.. kita menginjak usia 20 tahun juga." Ucap seorang namja dengan wajah chubby, Xiumin.
"Ne, kau benar Xiuminnie eugh.. akhirnya aku bisa menikmati alkohol ini eugh." Ucap seorang namja lain dengan wajah yang terlihat amat polos dan mata bulat sempurna, Kyungsoo.
"Ne..ne.. eugh. Mulai sekarang aku tak akan minum dengan air lagi, tapi dengan minuman ini, hahahaha eugh..eugh.." ucap namja lain dengan wajah yang kelewat imut, siapa lagi kalau bukan Byun Baekhyun.
"Hei! Ini sepertinya sudah malam. Sebaiknya kita segera bergegas pulang eugh.." ucap Xiumin.
"Ne. Ayo eughh.." ucap Kyungsoo lalu merangkul pundak Xiumin, mengucapkan selamat tinggal dan berjalan berlawanan arah dengan Baekhyun.
Di sisi lain~
Nampak beberapa namja sedang berada di sebuah kedai, dan mereka juga nampak mabuk. Dari pakaiannya mereka adalah orang kantoran yang sudah bekerja tentunya. Dari lima namja itu, nampak seorang namja dengan wajah yang amat sangat tampan, sedang berusaha mengangkat ponselnya yang terus berdering.
"Wae? Eughh.. baiklah, hyung eughh.. pulang sekarang." Ucap namja tampan itu.
" Siapa Chanyeol-ah eugh.."
"Adikku , katanya adikku yang eugh lain bertengkar lagi, eugh.." ucap Chanyeol lalu berusaha berdiri.
"Hahahaa.. mengapa tak menggunakan baby sitter saja eugh."
"Sudah.. tapi tak bertahan lama eughh.."
"Kalau begitu cepat-cepatlah cari istri eugh, supaya ada yang mengurus adikmu. Lagipula kau sudah lama melajang eugh.. bila perlu saat kau bertemu namja atau yoeja di jalan kau segera melamarnya eughh.. hahahaha." Terdengar ocehan dan tawa teman-temannya. Chanyeol segera bangkit dan meninggalkan kedai itu.
"Hahaha.. sepertinya benar eugh.. aku harus menikah eugh hahaha.. menikah.. menikah.. Park Chanyeol eugh.." ucap Chanyeol sambil tetap berjalan sempoyongan.
Bruk..
"Aigoo, siapa yang berani menabrakku ? eeughh.." terdengar suara seorang namja yang juga mabuk. Namja itu adalah Baekhyun yang baru saja menabrak Chanyeol. Seketika Baekhyun terhipnotis dengan ketampanan Chanyeol, Chanyeol menatap Baekhyun dengan matanya yang sayu. Arah pandangnya tertuju pada bibir Baekhyun yang merekah, dan tanpa basa-basi Chanyeol segera mencium bibir Baekhyun. Keadaan jalan saat itu sedang sepi, lagipula saat ini jam 11 malam, jadi tak ada orang yang berlalu. Baekhyun menerima ciuman itu, dia berusaha menandingi ciuman Chanyeol. Ciuman Chanyeol sangatlah lembut, walaupun dalam keadaan mabuk sekalipun. Tangan Baekhyun bergerak mengacak rambut Chanyeol dan sesekali menjambaknya saat tak sengaja Chanyeol menggigit bibirnya. Tangan Chanyeol berada di pinggang Baekhyun dan sesekali mengeratkan pelukannya agar ciuman mereka semakin dalam. Setelah dirasa cukup, mereka melapaskan tautan itu dan saling pandang.
"Maukah kau eugh.. menikah denganku?" ucap Chanyeol, Baekhyun membulatkan matanya lalu menarik tangan Chanyeol.
"Kalau begitu kita menikah sekarang!" ucap Baekhyun sambil menyeret Chanyeol berjalan mengikutinya.
BRAAKK..
Baekhyun membuka pintu rumahnya kasar, dan parahnya saat itu sedang ada acara keluarga besar Baekhyun. Semua orang menatap mereka aneh, terutama kedua orang tua Baekhyun.
"Baekhyun-ah?" tanya eommnya heran.
"Eomma appa. Tolong nikahkan kami berdua!" ucap Baekhyun.
"MWOO?" teriak keduanya terkejut.
"Ne . Nikahkan aku eugh..dengan namja ini, dengan namja tampan ini!" ucap Baekhyun sambil menarik tangan Chanyeol. Semua masih menatap heran.
"Siapa dia?" tanya appanya.
"Dia kekasihku. Tolong nikahkan euggh.. kami malam ini juga!"
"Mwo? Apa kau gila?" ucap appanya kaget.
"Ani. Aku tak gila, tapi aku tergila-gila padanya. Aku mohon nikahkan kami."
"Tapi kau sedang mabuk Baekhyun-ah."
"Ani appa, aku tak mabuk! Cepat nikahkan aku, kalau tidak aku akan bunuh diri saja!" ancam Baekhyun sambil hendak memotong urat nadinya dengan pisau buah yang ia ambil dari meja disebelahnya.
"Ani..ani.. ani." Ucap semuanya.
"Tapi ini sudah malam!"
"Aku tak peduli, bukankah gereja tak pernah tutup. Lagipula Leeteuk ajusshi kan seorang pastur, dia bisa menikahkan kami kan?" bentak Baekhyun sambil menunjuk seorang namja paruh baya dengan baju pasturnya.
"Tapi_"
"Baik kalau appa tak mau, lebih baik aku bunuh diri saja!"
"Baik! Baik! Kami akan menikahkan kalian.. malam ini!" ucap Appa Baekhyun pasrah.
Dan malam itu juga mereka menikah, yang datang hanya keluarga besar Baekhyun dan kedua sahabat Baekhyun . Jangan tanya kenapa hal ini bisa terjadi, karena di dunia ini tak ada hal yang mustahil. Lalu keesokan paginya mereka bangun dalam satu ranjang, dan tentu saja terdengar suara teriakan nyaring dari kamar Baekhyun. Tapi mau bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur, sekarang mereka hanya tinggal menambahkan bumbu saja, agar bubur itu menjadi nikmat.
Flashback end~
Baekhyun terkekeh mengingat kebodohannya dimasa lalu. Hari terus berlanjut, dan kini tak terasa sudah dua tahun dia menjadi istri seorang Park Chanyeol. Semuanya pun berubah, kehidupan Baekhyun, bahkan perasaannya pun berubah, hanya saja yang masih tetap adalah sikap Chanyeol yang masih dingin terhadapnya. Mungkin Chanyeol belum bisa menerima kalau dia harus menikah, tapi usianya yang sudah 27 tahun bulan lalu, rasanya sudah pantas untuk menjalin bahtera rumah tangga.
Normal POV end~
Aku tersadar dari lamunanku, dan betapa terkejutnya aku saat menyadari Park Chanyeol berdiri di depan kulkas sambil menatapku aneh. Pasti dia berpikir aku sudah tak waras karena senyum-senyum sendiri di dapur, tengah malam pula.
"K-kau terbangun?" ucapku gugup.
"Ne. Aku haus. Kau?"
"Sama." Sahutku lagi.
"Lalu kenapa kau tak kembali tidur?" tanyanya lagi sambil mengelap bibirnya yang basah dengan punggung tangannya, membuatku menelan ludahku kasar lalu menunduk, entah mengapa aku jadi teringat kejadian dua tahun lalu.
"A-aku ... sedang ingin disini dulu." Sahutku gugup. Dia mengerutkan dahinya kemudian mengangguk.
"Baiklah. Aku tidur duluan." Ucapnya lalu berjalan pergi meninggalkanku. Aku menatap punggungnya yang mulai menjauh dan akhirnya menghilang. Aku menyentuh bibirku, setidaknya bibirku ini pernah bersentuhan dengan bibirnya dulu. Entah mengapa rasanya aku ingin disentuh seperti itu lagi, aku ingin disentuh olehnya dengan lembut.
"Aigoo! Apa yang kau pikirkan Baekhyun-ah!" ucapku sambil memukul kepalaku yang sudah mulai berfikir mesum. Aku segera berjalan ke kamar, tak ingin ada orang yang memergokiku lagi sedang duduk sendirian di dapur, bisa-bisa semua mengiraku aneh.
Aku berjalan ke dalam kamarku, tapi saat melewati kamar Jongin, eh maaf Kai maksudku. Aku mendengar sebuah suara.
"Aku ingin sekali memilikimu." Samar-samar ku dengar suaranya. Apa dia sedang mengigau, atau sedang berbicara dengan seseorang? Siapa yang ingin dia miliki? Semua pertanyaan itu berputar di kepalaku, sampai aku beranikan diri menyentuh gagang pintu yang berisi tulisan ' Satu langkah masuk tanpa izin, maka kau akan mati' aku tak memperdulikan kata-kata itu kali ini, aku segera membuka pintu yang awalnya sudah terbuka sedikit itu. Aku lihat Kai sedang tidur tengkurap dan tangannya memegang sebuah foto. Oh mungkin dia sedang bicara sendiri sambil menatap foto itu, tapi kira-kira foto siapa itu? Entahlah aku putuskan untuk tak mencari tahu terlalu banyak, jika ia tahu aku mengintipnya bisa-bisa aku benar-benar dibunuh olehnya.
Aku berjalan masuk ke dalam kamar, dan aku dapati Chanyeol sedang tertidur. Aku naik keatas ranjangku perlahan, dan segera membaringkan tubuhku. Malam ini dingin, padahal penghangat ruangan sudah aku nyalakan, selimut sudah membungkus tubuhku, tapi rasanya tetap dingin. Ingin sekali rasanya tubuh itu memelukku, apa mungkin mampu menghangatkanku? Huuh.. tapi aku terlalu banyak berharap. Aku membalik tubuhku karena aku merasakan suatu pergerakan. Saat ini Chanyeol sedang bertelanjang dada, OMO! Apa ini? Tubuhnya begitu sexy, dadanya bidang. Kenapa selama ini aku tak menyadarinya? Aku memperhatikan tubuhnya yang mengeluarkan titik-titik keringat, apa dia kepanasan? Aku segera mengambil remote AC dan menyalakannya dengan suhu yang cukup rendah. Biarlah tubuhku kedinginan sekali-sekali, lagipula tak akan membunuhku.
Kenapa tubuhku terasa sangat letih, bahkan aku sulit membuka mataku. Dan apa ini? Kenapa aku merasa ada sesuatu yang menimpa kepalaku, dan sesuatu lain yang menyumpal mulutku. Aku berusaha membuka mataku, tapi masih terasa sulit. Benda dimulutku tertarik.
"Huuh.. akhirnya turun juga." Suara itu? Aku rasa itu suara Lay. Apa yang ia lakukan di kamarku, malam-malam begini? Aku putuskan untuk membuka mataku paksa, dan betapa terkejutnya aku. Ini bukan lagi malam, tapi sudah pagi.
"Lay-ah?"
"Hyung,akhirnya kau sadar." Lay menatapku sambil tersenyum. Tunggu dulu! Sadar? Memangnya aku kenapa? Apa aku pingsan?
"Kau demam tadi pagi hyung. Untung sekarang suhu tubuhmu sudah normal." Ucapnya.
"Demam?" ucapku dengan suara yang serak, bahkan aku terkejut mendengar suaraku sendiri.
"Ne. Saat terbangun tadi, Chanyeol hyung terkejut saat tubuhmu sangat panas." Ucapnya lagi.
"Mwo? oh iya, mana yang lainnya?" tanyaku, tapi belum selesai Lay menyelesaikan ucapannya aku teringat sesuatu.
"Bukankah kalian akan pergi jalan-jalan pagi ini?" tanyaku yang juga syok.
"Heuh. Pagi? Apa kau tak lihat sekarang jam berapa? Jam 3 sore, kau tahu?" tiba-tiba Kai muncul dan melipat kedua tangannya sambil bersandar di pintu.
"Jinja? Mianhae. Apa kalian batal pergi?" tanyaku, berharap jawaban mereka seperti ini :
. Kami baru saja pulang.
mungkin kami batal, hanya karena kau.
, kau fikir hanya karena kau sakit, liburan kami jadi batal hah?
Tapi aku salah...
" tentu saja! Dan itu semua karena dirimu!" ucap Kai dan langsung meninggalkan kamar. Aku menatap Lay yang masih tertunduk. Aku harap dia tak menangis, tubuhku terlalu lemah untuk menghiburnya.
"Ne. Chanyeol hyung membatalkannya." Ucapnya pelan.
"Mianhae ne? Ini semua gara-gara hyung yang sakit. Hyung terlalu lemah, sampai tak bisa menjaga kesehatan sendiri."
"Ne. Gwenchana hyung. Itu bukanlah masalah, lain kali kita kan bisa pergi lagi." Ucapnya sambil tersenyum, dan aku mengelus rambutnya pelan.
"Chanyeol hyung mana?" tanyaku.
"Dia sedang mengurus Sehun-ah yang dari tadi menangis dan merajuk." Ucap Lay.
"Gomawo ne Lay-ah, kau benar-benar sangat perngertian." Ucapku dan dia tersenyum.
"Yaak! pengacau, ini buburmu!" Joonmyeon masuk sambil membawa sebuah nampan dan meletakkannya di meja nakasku. Aku menatapnya, lalu menarik tangannya dan memeluknya.
"Yaak! apa yang kau lakukan? Lepaskan!" rontanya.
"Gomawo kau peduli dengan hyung. Dan mianhae karena merusak liburanmu." Ucapku.
"Yaak! siapa yang peduli denganmu. Yang membuat bubur itu bukan aku, tapi Chanyeol hyung. Lagipula siapa yang mau membuatkan bubur untuk orang aneh sepertimu hah? bisa-bisanya kau demam di musim panas. Heuh.." gerutunya lalu meninggalkanku, dan kemudian Lay menyusulnya. Dasar anak kecil!
"Kau sudah bangun?" terdengar suara berat dari arah pintu.
"Chanyeol, aku benar-benar minta maaf. Aku merusak liburan kalian."
"Kau tak usah berlebihan. Lain kali kan bisa."
"Tapi aku tak enak dengan mereka, mereka sangat berharap bisa menghabiskan waktu bersamamu." Ucapku lagi.
"Ne. Tapi mana mungkin kami meninggalkanmu yang masih sakit. Sebaiknya kau makan buburmu!" ucapnya lagi, lalu meninggalkan kamar. Dia memang baik, aku tahu itu. Tapi kenapa dia tak bisa menghilangkan sikap dinginnya. Aku berharap dia menyuapiku, apa itu terlalu berlebihan? Aku mendesah kecewa. Tapi tiba-tiba dia kembali dan ditangannya membawa sebuah sendok.
"Ayo, biar aku suapi!" ucapnya lalu membantuku duduk. Dengan telaten dia meniup bubur itu lalu menyuapkannya ke mulutku. Aku benar-benar gugup, rasanya jantungku ingin melompat keluar sekarang juga. Aku menyesal telah mengharapkan hal ini. Dia membenarkan posisi bantalku, dan saat tubuhnya berada disampingku aku mencium aroma tubuhnya yang membuatku ingin selalu berada di sisinya. Seandainya tubuh itu memeluk tubuhku, aku tahu itu mustahil tapi aku tak bisa berhenti berharap.
"Cukup!" ucapku menahan tangannya yang hendak menyuapiku lagi.
"Wae?"
"Bubur ini terasa pahit di bibirku! Aku tak bisa memakannya lagi!" ucapku. Dia menyendokan sedikit bubur itu ke dalam mulutnya lalu menggeleng.
"Rasanya pas."
"Ne aku tahu, tapi dilidahku itu terasa pahit." Ucapku.
"Tapi kalau kau tak makan, kau tak akan sembuh."
"Tapi aku tak bisa,sungguh! Rasanya pahit." Ucapku lagi. Dia mengernyitkan dahinya, lalu kembali menyuapkan bubur itu ke dalam mulutnya, tapi kini dalam jumlah yang cukup besar. Aku menatapnya aneh, tapi kemudian dia menarik tengkukku dan menyalurkan bubur itu ke dalam mulutku melalui sebuah ciuman. Aku membulatkan mataku, lalu menelan bubur itu saat ciuman kami terlepas.
"Bagaimana?" tanyanya. Aku masih syok dengan kejadian barusan. Aku hanya bisa mengerjapkan mataku. Dia kembali mengulangi hal itu, dan bodohnya aku menerimanya lagi. Begitu seterusnya sampai suapan ke lima. Aku menahan tangannya yang ingin menyendok lagi.
"Cukup! A-aku sudah kenyang." Ucapku gugup, dan bisa dipastikan wajahku pasti sudah merah seperti kepiting rebus. Dia mengangguk, lalu bangkit dan membawa mangkuk itu keluar, tentunya setelah memberiku air minum. Aku menutup wajahku dengan bantal.
"Aigoo! Apa barusan? Apa aku bermimpi?" ucapku.
"Sesenang itukah?" terdengar sebuah suara, dari manusia paling menyebalkan didunia siapa lagi kalau bukan Kai.
"Kau? Apa maksudmu?" tanyaku tak mengerti.
"Kau pura-pura bodoh, atau memang bodoh?" ucapnya ketus. Aku mendengus kesal, lalu membulatkan mataku saat menyadari sesuatu. Apa yang dimaksud Kai adalah kejadian tadi? Apa dia melihatnya?
"K-kau melihat..nya?" tanyaku cemas.
"Bodoh! Pintu ini tak tertutup, mungkin jika Sehun-ah belum tidur dia juga akan melihatnya! Kau jangan membawa pengaruh buruk di rumah ini!" ucapnya lagi, lalu pergi.
...
...
Aku berusaha bangkit dan berjalan ke dapur, bagaimana pun aku harus membuat makan malam. Kasihan mereka pasti kepalaran. Aku mendengar suara ribut diruang tamu, aku rasa mereka asyik disana. Aku mulai mengeluarkan bahan-bahan dari dalam kulkas. Tubuhku masih terasa sedikit lemas, jadi aku bekerja secara perlahan. Lagipula ini masih jam setengah tujuh.
"Apa yang kau lakukan?" terdengar sebuah suara yang membuatku menoleh.
"A-aku sedang membuat makan malam." Ucapku.
"Tapi kau kan masih sakit. Kami berencana untuk makan diluar!" ucapnya.
"Benarkah? Aku fikir kalian tak makan." Sahutku lagi.
"Apa kau sudah selesai? Kalau sudah sebaiknya aku katakan pada anak-anak kalau makan dirumah saja!" ucapnya hendak berbalik.
"ANDWEE!" teriakku dan aku sempat terkejut saat suaraku berubah menjadi banyak. Ternyata itu bukan hanya suaraku tapi suara empat orang yang lain, yang nampak sudah berpakaian rapi.
"Jangan dibatalkan lagi hyung!" rengek Kai.
"Ne~ Yaak! Hyunnie, kenapa kau thuka thekali meluthak acala olang?" ucap Sehun yang nampak kesal.
"Ne. Kau selalu membuat kami batal melakukan sesuatu." Ucap Joonmyeon menghela nafas kecewa, padahal niatku baik ingin memasakan mereka, tahu begini lebih baik aku tidur di kamar.
"Sudah! Sudah! Kalau begitu kita makan diluar saja! Kau gantilah bajumu!" ucap Chanyeol dan aku mengangguk.
..
...
"Yaak! kau lama sekali Baekhyun-ah." Bentak Kai, dan aku segera berlari keluar kamar.
"Ne..ne. aku selesai!" sahutku.
Mobil kami melaju ke sebuah restourant yang cukup besar. Dan sesampainya disana kami disambut oleh beberapa pelayan.
"Huwaa.. aku sudah lapar." Ucap Kai.
"Ne. Aromanya tercium sampai kesini." Ucap Joonmyeon.
"Thehun ingin thegela makan." Ucap Sehun yang menggandeng tangan Chanyeol. Kami duduk di salah satu meja, lalu memesan makanan kesukaan kami.
...
...
Perut kami terasa sangat kenyang, bahkan anak-anak sedang tidur pulas di kursi belakang. Kami sedang diam di sebuah taman, Chanyeol bilang ingin menikmati kebebasan sesaat. Antara kami berdua tak ada yang bicara, benar-benar sepi.
"Bisakah aku keluar sebentar?" ucapku padanya, lalu segera keluar. Aku hanya ingin menghirup udara segar, rasanya sesak di dalam karena jantungku terus berdebar dari tadi, aku benar-benar gugup. Jarang-jarang aku berada satu mobil dengannya. Aku menyandarkan diriku di mobil bagian depan. Aku memegang jantungku yang berdetak dengan kencang. Lalu aku mendengar seseorang keluar dari mobil, dan ternyata itu Chanyeol.
"Kau kenapa?" tanyanya lembut.
"Ani." Sahutku.
"Hhm.. waktu cepat sekali berjalan ne?"
"Ne." Sahutku lagi.
"Tak terasa dua tahun kita telah menikah. Apa kau merasa bosan? Akhir-akhir ini aku perhatikan kau sering menghindar. Kau bosan?"
"Ak-aku.."
"Aku sudah memikirkannya. Sebaiknya kita bercerai saja!"
"Mwo?" pekikku.
"Aku merasa tak adil denganmu. Seolah-olah kau kunikahi untuk menjadi pengasuh dari adik-adikku. Kau pasti tertekan, kau masih muda tapi sudah harus menjadi ibu rumah tangga. Ini semua salahku yang melamarmu malam itu. Jadi untuk menebus itu, sebaiknya kita bercerai saja." Ucapnya sambil tersenyum ke arahku.
Cerai ? aku sama sekali tak pernah terfikir akan hal itu, baiklah dulu pernah. Tapi, sekarang? Tidak sama sekali. Aku menghindar karena aku selalu gugup tiap di dekatnya, bukan karena aku tak menyukainya. Bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan?
"Ka-kapan...?" tanyaku. Aku mengutuk diriku sendiri, kenapa hal itu bisa keluar dari mulutku? Seolah-olah aku menyetujui hal itu.
"Minggu depan." Sahutnya sambil tersenyum kearahku.
"Mwo?" hati ini benar-benar sakit. Aku tak ingin berpisah darinya sama sekali. Kenapa? Kenapa disaat aku benar-benar mencintainya ia mengatakan untuk berpisah? Apa dia tak ada perasaan denganku? Apa dihatinya tak ada tempat untukku?
" Selama perceraian kita di proses kau bisa tinggal di rumahmu, atau tetap di rumaku." Ucapnya lagi.
.
.
.
TBC
Maaf kalau tidak mengena di hati kalian..
Silahkan berikan kritikan dan pujian kalian melalui kotak review, hehehehe..
review nya please.
