Title : Daijobou (I'm fine) Chapter 2
Pairing : NaruHina slight NaruSaku, SasuSaku and find the others
Rating : T
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Angst, Family
Hinata merapatkan mantel bulunya. Ia dalam perjalanan menuju ke fashion week karena mendapat undangan dari desainer asal Perancis. Dandanannya tak begitu mencolok. Hanya gaun berwarna biru muda dengan atasan yang panjang serta membawa mantel bulu dengan warna senada. Rambutnya ia urai dan dipercantik dengan gelombang – gelombang. Wajahnya ia beri sedikit make up. Tak banyak, hanya blush on tipis untuk memberi kesan rona pada wajahnya dan lipgloss. Sebenarnya tanpa make up pun wajahnya sudah sempurna dengan rona yang alami dan juga bibir yang selalu lembab. Ia pikir bahwa make up hanyalah formalitas dan profesionalitas dari pekerjaannya yang memang berhubungan dengan dunia fashion dan make up.
Ia pergi sendirian. Tak mungkin ia mengajak Hanabi karena adiknya itu bukan tipe gadis yang suka dengan acara formal. Neji dan Tenten juga sibuk mengurusi perusahaannya. Kadang ia berfikir sudah saatnya mencari seorang pendamping hidup. Minimal seorang kekasih untuk menemaninya. Namun Hinata merasa ia tak ingin menyamakan perasaan dengan pekerjaannya. Perasaan, memiliki kekasih, bukan sekedar formalitas seperti yang ia lakukan pada setiap pekerjaannya.
Lagipula hatinya masih tertambat pada sosok pria pirang yang kini menjabat sebagai kepala perusahaan Namikaze. Hinata tak pernah tahu bagaimana perasaan pria itu terhadapnya, namun sikapnya selalu baik dan sopan pada Hinata. Tak ingin menyalah artikan sikap itu, Hinata tak ingin ambil pusing. Ia harus menganggap itu adalah hal yang wajar yang memang harus laki – laki lakukan pada kaum perempuan.
Gedung Shibuya Hikarie sudah ramai oleh pengunjung. Hinata bisa melihat mobil – mobil mewah berdatangan. Jangan ditanya siapa saja tamu – tamu di sana. Sudah pasti orang – orang dari kalangan atas dengan kemewahan menyelimuti tiap inchi dari diri mereka. Terkadang Hinata bosan dengan hal ini. ia lebih memilih berkebun dan memanen tomat atau pergi ke desa.
Seseorang membukakan pintu mobil dan Hinata keluar. Ia memasang wajah datarnya, sekali lagi itu hanya untuk formalitas. Hinata tak menyertakan desain karyanya dalam fashion week ini karena ia sadar akan predikatnya sebagai desainer baru yang ia rasa itu masih sangat amatir. Merendah memang sifatnya. Hinata bukan orang yang gila akan popularitas dan mengharuskan semua hal untuk kesempuranaan pekerjaannya. Diterima oleh orang banyak sudah cukup untuknya. Toh setelah ia menikah kelak, ia tak akan di ijinkan bekerja oleh ayahnya.
Konyol memang kalau dia masih berpikir akan dikendalikan ayahnya saat sudah menikah. Harusnya suaminya yang mengendalikannya. Tapi mungkin saja suaminya kelak tak jauh beda dengan sang ayah.
"Welcome, Hyuuga-san. It's a real honor to have you at this fashion week. Hope you enjoy." Sambut salah seorang kenalan Hinata. Ia adalah orang Amerika, nampak sangat cantik dengan gaun hitamnya yang memiliki dada rendah dengan bahu tereksposedan juga sarung tangannya yang mencapai siku. Ia nampak seperti Angelina Jolie dalam film The Tourist, hanya saja rambutnya lebih cerah.
"It's honor to see you here too Mrs Laurence. Shall we get in together?" ajak Hinata sopan.
"Sure.." mereka berjalan bersama di karpet merah. Tentu banyak sekali jepretan – jepretan dari paparazzi yang dibatasi garis merah dan pengawalan bodyguard. Hinata memasang senyum anggun. Ia tak boleh mengotori predikatnya sebagai putri bangsawan juga desainer muda. Bahkan ia dijuluki Lady karena sikap anggunnya yang bak putri kerajaan.
Di dalam, sudah banyak orang berdatangan. Ia dan Mrs Laurence berpisah dan Hinata mencari kursi miliknya. Ia duduk dengan anggun sementara menunggu dimulainya acara. Tempat duduknya terpisah dengan penonton yang datang dengan membeli tiket. Ia adalah tamu kehormatan, sama seperti Mrs Laurence.
"Hinata?" panggil seseorang. Hinata menoleh.
"Yamanaka-san." Seperti yang biasa wanita lakukan, memberikan ciuman di pipi kiri dan kanan adalah sebuah kewajiban.
"Kau sendirian?" tanya gadis pirang cantik itu.
"Iya.. tidak mungkin kan aku mengajak Hanabi atau Neji-Nii." Gadis pirang itu memutar bola matanya. Ia mantan kekasih Neji, pantas saja mereka saling mengenal.
"Sebenarnya aku mengajak temanku kemari. Mungkin kau bisa bersama mereka. Kalau kau mau. Aku meminta undangan khusus untuknya, jadi dia akan duduk di sini juga." Hinata tersenyum kikuk.
"Dengan senang hati, Yamanaka-san."
"Aduh, rubah cara bicaramu itu. kau benar – benar terkontaminasi oleh kakakmu yang kolot itu. panggil aku Ino saja. Ya?" Hinata tertawa kecil mendengarnya.
"Baiklah."
"Ino!" panggil seseorang. Ino dan Hinata menoleh.
"Waa...jidat! akhirnya kau datang! Eh..kenapa kau ajak si bodoh ini?" Ino memberikan pelukan untuk sahabat pink nya ini. Wajah Hinata memerah melihat siapa yang datang. Ini kah yang Ino maksud? Kenapa sepertinya Kami-sama sangat merencanakan pertemuan ini. apa mungkin mereka berjodoh?
"Aku baru sampai tahu..dan aku tadi ke salon sebentar, karena Naruto-kun sudah menemaniku ya kuajak saja." gadis musim semi itu tersenyum. tangannya masih setia menggaet tangan Naruto.
"Eh? Hinata-san?" Naruto yang semula bosan dengan percakapan kedua wanita beda warna di depannya ini menyadari adanya Hinata.
"K-Konbanwa.." ucap Hinata lirih.
"Wah..ada Hinata-san juga. Bagaimana kabarmu?" tanya gadis itu.
"Baik senpai,Sakura - senpai sendiri bagaimana?" untuk kesekian kali, kedua wanita itu memberikan ciuman di pipi kanan dan kiri.
"Baik sekali. Ah, kita duduk di sini kan? maaf ya Hinata-san, mungkin tidak akan terlalu tenang karena ada kami. Hahaha.." Ino hanya geleng – geleng kepala.
"Ya sudah, aku harus kembali ke backstage. Kau tau kenapa ku undang kemari kan, jidat?" Sakura mendengus kesal. Ia tahu kalau maksud Ino adalah untuk mengambil gambar dan videonya. Sakura merasa heran dengan sahabat pirangnya ini. jelas – jelas acara ini akan masuk tv dan tentu saja majalah fashion dan juga, Ino pasti akan menjadi point center. Kenapa ia masih meminta Sakura untuk mengambil gambarnya?
"Sudah sana kembali sebelum kutendang bokongmu." Ino tertawa dan kembali ke backstage. Naruto, Sakura dan Hinata duduk dengan Sakura berada di tengah.
"Kau kenal baik dengan Ino ya?" tanya Sakura.
"Oh..ya..Ino-san mantan kekasih Neji-nii." Sakura mengangguk – angguk.
"Sialan dia tidak pernah memberitahuku." Umpat Sakura. Naruto menutup mulut Sakura.
"Kau itu wanita, bicaralah yang sopan, apalagi ini acara untuk gadis bertata krama baik." Tegur Naruto dengan maksud meledek. Sakura menyipitkan matanya.
"Jangan bicara seolah – olah tata kramamu baik, baka." Sakura mencubit perut Naruto. Naruto merintih kesaikitan.
"Sekali –kali lakukan itu pada si Uchiha keparat itu." protes Naruto. Sakura hanya menjulurkan lidahnya saja. ia juga kesal karena Naruto membahas pria itu sekarang.
"Jangan hiraukan dia ya, Naruto kan memang baka." Hinata hanya tersenyum manis walau sebenarnya di dalam hatinya ada yang berontak. Ia tak suka melihat kedekatan itu, walau embel – embel mereka adalah sahabat.
Acara fashion week sudah dimulai. Tema kali ini adalah natal dan musim dingin, ya sesuai dengan keadaan musim di negri Sakura itu. Sakura dan Hinata melihat takjub pada model – model yang berjalan di catwalk dengan tubuh indah mereka. Ya tentu saja Ino adalah icon kali ini. ia memang hebat dalam hal modelling. Lalu apakah Naruto menikmatinya? Ya..ia menikmatinya, bukan fashion week nya namun senyuman di wajah Sakura. Ia senang melihat gadis itu senang. Hinata mengalihkan pandangan ke arah pria di sebelah Sakura. Ia hanya tersenyum miris. Naruto memang menyukai Sakura. Hinata kembali melihat model model yang berjalan di catwalk.
"Hari ini menyenangkaaan sekali.." setelah acara tersebut, mereka memutuskan untuk mencari makan di Mark City Mall, di bawah Shibuya Excel Hotel Tokyu, tak jauh dari gedung Shibuya Hikarie. Di hotel itu pula Ino menginap. Hinata mengganti gaunnya dengan pakaian yang lebih sederhana, begitu pula Ino dan Sakura. Naruto harus bersabar untuk mengantar ladies ini dan menunggu mereka.
Mereka tak mengambil menu mewah. Hanya sushi ditemani ocha panas.
"Hinata, kau tidak akan dimarahi Neji kalau pulang larut?" tanya Ino. Ia memakai topi dan jaket tebal untuk menghindar dari paparazi. Bisa terlihat kalau ia kedinginan, hidungnya memerah. Hinata mengelap bibirnya dengan tissue.
"Tidak. dia kan sudah punya istri. Jadi tidak akan se protektif dulu. Aku juga sudah besar.." Hinata tertawa kecil, diikuti Ino dan Sakura. Naruto menghela nafas bosan.
"Dasar wanita. Obrolan ini sungguh ti-hmmpphh.." Naruto yang tengah bergumam disumpal sushi oleh Sakura.
"Diamlah. Kalau kau tidak suka pulanglah." Ujar Sakura dingin. Naruto menelan sushinya.
"Oh tapi kalau aku pulang, tentu mulutmu tidak akan berhenti mengoceh kan."
"Nah itu kau tau." Naruto gemas pada sahabat pink nya ini.
'Sialan.' Batin pria berusia 24 tahun itu. sementara para wanita sibuk untuk mengobrol, Naruto bermain dengan smartphonenya. Sebenarnya tak bermain juga. Hanya membuka berita – berita terkini.
Naruto kadang merasa dirinya mengalami perubahan yang sangat luar biasa. Dulu Naruto sangat buruk di akademik. Namun ia bagus di olahraga. Sangat benci berbagai macam tulisan, terutama buku pelajaran dan koran. Tak pernah peduli dengan apa yang terjadi dengan sekeliling.
Namun sekarang ia berubah 180 derajat. Naruto sangat memperhatikan sekitar dan selalu update dengan berita berita terkini. Ia membaca berbagai macam berita.
Ia mengernyit saat menemukan link berita berjudul 'Uchiha yang kembali'. Ini postingan baru, masih 2 hari yang lalu. Naruto membukanya. Hatinya berdegup kencang saat loading sudah mencapai 95%. Dan akhirnya artikel itu terbuka.
"Baltimore(3/12). Keluarga Uchiha, dikabarkan akan kembali ke Jepang setelah tahun baru. Belum ada pernyataan resmi, namun sebuah akun SNS yang diindikasikan milik Itachi Uchiha, menyatakan bahwa Uchiha siap untuk kembali ke Jepang. Indikasi bahwa keluarga ini akan kembali yaitu dengan dibukanya kembali gerbang Uchiha yang bertempat di Shinjuku, setelah 7 tahun ditutup. Keluarga Uchiha pergi ke luar negri dengan alasan yang tidak diketahui. Namun belakangan ini, alasan itu terungkap bahwa pewaris bungsu Uchiha sakit dan dilarikan ke Baltimore. Pernyataan ini diungkapkan oleh seorang reporter bernama Yako yang tengah berlibur ke Baltimore, USA. Ia mengaku telah melihat seorang Uchiha keluar masuk rumah sakit Johns Hopkins, Rumah sakit kanker terkemuka di USA. Setelah diselidiki, anggota keluarga Uchiha yang menjalani pengobatan adalah adiknya, Sasuke Uchiha."
Naruto membelalak membacanya. ia sekarang sangat penasaran. Apakah benar ini alasan Sasuke pergi tanpa pamit? Pergi tanpa alasan? Bersikap tak seperti biasanya? Naruto membaca bawahnya.
Selengkapnya mengenai Uchiha yang kembali klik [here]
Naruto meng klik link tersebut, namun tiba tiba network error. Naruto mulai berkeringat dingin. ia me refresh halaman itu, namun dalam sekejap, muncul tulisan 'Page is not found' yang berarti halaman tadi telah dihapus oleh pemiliknya. Naruto panik. Ia terus me refresh halaman itu namun hasilnya sama saja.
"Naruto-senpai? Naruto-senpai? Kau baik baik saja?" tanya Hinata yang cemas melihat Naruto panik begitu. Naruto tersadar dan melihat ketiga perempuan yang mengamatinya.
"Kau kenapa?" tanya Sakura. Naruto tersenyum dipaksakan.
"T-tidak ada apa – apa." Jawabnya gugup. Sakura melihat dengan tatapan menyelidik.
"Kau berkeringat begitu..kau pasti nonton video porno kan?!" tuduh Sakura. Naruto membelalak.
"Tidak! enak saja! aku hanya baca berita."
"Lalu kenapa kau panik begitu?!" Naruto ingin berucap. Namun ia mengurungkan niatnya. Ia hanya diam saja.
"Naruto-senpai, ada masalah ya?" tanya Hinata halus. Naruto hanya tersenyum kikuk. Ia menggeleng saja.
"Kau seperti mengkhawatirkan orang sakit, Naruto-kun." Wajah Naruto memerah.
'Bagaimana dia tahu..' batinnya.
"A-aku tidak apa – apa. Kalian lanjutkan saja." Sakura mengernyit lalu melanjutkan minum tehnya.
"Kita pulang setelah ini." ujar Sakura datar. Naruto tak menanggapi. Ia berusaha mendapat kabar tentang sahabat terbaiknya itu.
.
.
.
.
Hinata jadi penasaran tentang apa yang sedang Naruto pikirkan. Sepertinya tebakannya benar, hanya saja Naruto tidak mau jujur padanya. Hinata memeluk gulingnya.
"Naruto-senpai.." bisiknya lirih. Wajah Hinata memerah mengingat pria itu. ia menyembunyikan wajahnya di guling dengan wajah merah padam,
"Baka!" ia mengumpat pada dirinya sendiri. Hinata menghela nafas. Ia berdiri dan menatap keluar jendela. Salju memenuhi kebun tengah. Gadis itu memeluk dirinya sendiri. Sedingin apapun, Hinata tak akan pernah bisa tidur memakai celana. Ini adalah rahasianya dan tak ada yang tahu. Ia akan mengenakan gaun tidur atau kaos kebesaran saja.
Gadis berambut ungu itu jadi teringat sang ibu yang sudah meninggal. Ibunya meninggal setelah melahirkan Hanabi. Hinata tak pernah menyalahkan adiknya. Ia harus menerima apapun yang terjadi. Ia lebih beruntung dibanding Hanabi karena paling tidak ia merasakan kasih sayang sang ibu selama 5 tahun, namun tidak dengan adiknya.
Biasanya, jika ada salju begini, Hinata akan bermain sampai larut. Ia suka sekali membuat boneka salju. Setelahnya ia akan memeluknya. Saat itu, ibunya pasti akan menemaninya dan meningatkan Hinata akan waktu. Kadang Hinata bermain sampai ketiduran. Dan sang ibu akan menggendongnya masuk dan meletakkan putri kecilnya di kamarnya.
Hinata mengingat masa – masa indah itu. ia tersenyum dan tak kuasa menahan air matanya. Ia menghapus air matanya dan menghela nafas panjang. Tiba – tiba handphone Hinata berbunyi. Hinata menuju kasur dan melihat siapa si pemanggil. Ia asing dengan nomor itu. namun akhirnya ia mengangkatnya.
"Moshi – moshi?" ujar Hinata.
"Hai Hinata." Ujar seseorang di sana. Hinata merasa asing dengan suara itu.
"Maaf, ini siapa?" tanya Hinata halus.
"Kau benar – benar lupa padaku ya?" Hinata mengernyit. Ia berusaha mengingat ingat, siapa gerangan orang ini.
"Oke oke...aku Kiba." Hinata membulatkan matanya dan tersenyum.
"Kiba-kun..apa kabar? Darimana dapat nomorku?" tanya Hinata antusias.
"Hinata, nomormu bahkan tidak kau ganti sejak kelas 1 SMA." Hinata terkekeh. Benar juga. Ia tak pernah mengganti nomornya.
"Iya..ada apa Kiba-kun?" tanya Hinata.
"Begini..eum..kau tahu kan tiap tahun sekolah kita..ah maksudku almamater kita mengadakan pelatihan untuk para siswa yang akan mengikuti kejuaraan tingkat nasional dan internasional."
"Ya...Lalu?"
"Kita diminta untuk membina. Kau seorang desainer, maka kau bisa membimbing anak anak lomba desain kan?" Hinata tersenyum.
"Lalu Kiba-kun?"
"Tentu saja basket, bersama si Naruto. Harusnya dengan Sasuke juga tapi kau tau kan dia hilang entah kemana, lalu..mantanmu.." Wajah Hinata memerah.
"Mantanku siapa?" tanya Hinata sedikit teriak.
"Alah..kau ini masa sudah lupa..inisial Gaara..kekeke~" wajah Hinata memerah.
"Dia bukan mantanku. Ya ampun, berapa kali aku harus bilang kalau aku tidak pernah pacaran dengan Gaara-senpai." Kiba tertawa di sebrang sana. Hinata memasang wajah cemberut.
"Sudah – sudah.. intinya, kau bisa atau tidak? kita akan menginap di sekolah selama 1 minggu. Setelahnya kita pulang untuk liburan natal." Hinata berfikir sejenak. Lalu ia tersenyum.
"Baiklah. Tapi.. apa Neji –nii dan Tenten akan ikut juga?" tanya Hinata.
"Sepertinya tidak. kakakmu itu sibuk, Tenten kan sedang hamil." Hinata mengernyit. Tenten Hamil? Kenapa dia tidak tahu?
"A-ah iya..kau benar. Ya sudah kalau begitu..kita harus tidur kan, Kiba-kun?"
"Hei hei.. kenapa kau jadi ero begitu mengajakku tidur bersama?" Hinata membelalak.
"B-bukan begitu! Ah Kiba-kun mesum. Maksudku..aku mau tidur. Jaa ne.." Hinata segera menutup sambungan lalu ia menghubungi kakaknya.
"Moshi moshi Hinata?" Hinata cemberut.
"Nii-chan jahat sekali, Tenten hamil kau tidak memberitahuku?!" protes Hinata.
"Hei hei...sejak kapan kau jadi galak begitu? Darimana kau tahu? Ya rencananya kami akan membuat kejutan. Kau malah sudah tahu duluan." Hinata memutar bola matanya.
"Aku diberitahu Kiba-kun."
"Hm..dia memang ember. Berarti kau akan membimbing di sekolah?" tanya Neji.
"Ya..seminggu."
"Dengan Hanabi kan?"
"Iya.."
"Ya sudah, kalian berhati – hati. Jaga kesehatan. Ingat, ayahmu akan segera pulang. Mungkin pagi setelah kau pulang dari sekolah, malamnya ayahmu akan mengadakan pertemuan."
"Ya ya..aku paham, Nii-chan." Suasana hening untuk sejenak. Hinata lagi – lagi cemas untuk memikirkan hal apa yang akan dibicarakan dengan sang ayah.
"Ya sudah. Ini sudah malam, kau sebaiknya tidur. Seminggu kedepan kau akan sibuk, iya kan?" ujar Neji penuh perhatian. Hinata hanya tersenyum manis.
"Iya, Nii-chan. Sampaikan salamku untuk Tenten ya. Oyasuminasai." Hinata memutus sambungan. Ia segera naik ke kasur lalu tidur.
.
.
.
.
Keesokan harinya, ia bersiap – siap pergi ke sekolahnya dulu. Hinata memang merindukan sekolah itu. ia ingin sekali ke sana dan bertemu dengan guru – gurunya dulu dan mengenang masa – masa SMA.
"Hana, kau sudah siap belum?" tanya Hinata dari luar kamar Hanabi. Hanabi keluar dengan muka kusut. Poninya menutupi wajah dan ia nampak kesal.
"Ini musim dingin, kenapa harus ada latihan di saat seperti ini." gumam Hanabi. Ia merupakan atlet beladiri sekolah, jadi ia tentu harus ikut. Hinata hanya tertawa kecil. Ia menarik Hanabi dan merapikan rambut adik semata wayangnya itu.
"Rapikan rambutmu ya? jangan acak – acakan begini dong, kan manisnya hilang." Ujar Hinata dengan nada menggoda.
"Sejak kapan Neechan jadi gombal begitu?" Hinata terkikik. Ia mengikat rambut sang adik sehingga terlihat rapi dari sebelumnya.
"Sudah cantik. Ayo berangkat." Hanabi lagi – lagi mecibir sang kakak yang antusias untuk berangkat.
"Naruto-senpai..tunggu aku ya.." Ujar Hanabi dengan suara menirukan Hinata. Ia seakan tahu apa yang Hinata pikirkan. Wajah Hinata jadi merah padam.
"H-Hei..apa – apaan kau ini." Hanabi sekarang yang terkikik. Ia mengangkat tasnya lalu berjalan bersama sang kakak keluar. Mereka mengendarai mobil Audy milik sang kakak dan bergegas menuju sekolah.
SKIP
Banyak siswa yang sudah berdatangan. Mereka sedang bersantai sembari menunggu semuanya lengkap. Begitu Hinata dan Hanabi datang, perhatian mereka tertuju pada Hinata. Gadis itu berjalan dengan anggun di koridor dibelakangnya nampak Hanabi berjalan malas – malasan.
"Itu Hyuuga Hinata.."
"Ternyata aslinya lebih cantik ya?"
"Dia cantik sekali.."
"Pantas saja disebut Lady, dia memang bak putri.."
"Bukankah dia memang putri?" bisikan bisikan itu terdengar di telinga Hinata. Hinata terbiasa mendengarnya. Ia sebenarnya bingung ingin bicara apa. Dan akhirnya memilih diam.
"Wah wah..kuda liar, kau sudah sampai ya? ah ada Hinata-sama, Ohayou.." seorang anak laki – laki memberi hormat pada Hinata dengan membungkuk. Hinata tersenyum manis pada pemuda itu. pemuda itu merona akibat senyuman Hinata.
"Nee-chan ini sangat cantik dan anggun, beda dengan adiknya yang seperti kuda liar...ck..ck..ck.." muncul perempatan di dahi Hanabi. Ia melempar tasnya kepada anak itu.
"Berhenti menggangguku!" teriak Hanabi.
"Hana, jangan berteriak." Tegur Hinata. Pemuda itu tertawa kecil.
"Dengar itu, kau tidak boleh teriak – teriak, kuda kan harusnya berlari." Hanabi mengeluarkan urat – urat matanya.
"KONOHAMARUU!" Ia mengejar pemuda yang sudah berlari duluan. Hinata hanya melongo saja melihat adikya bisa menjadi atlet lari begitu.
"Hah ya ampun.." keluhnya.
"Mereka memang selalu seperti itu." interupsi seseorang di belakangnya. Hinata menoleh dan mendapati seorang gadis tersenyum ke arahnya.
"Moegi desu. Teman Hanabi. Konohamaru juga. Aku fans Hinata-sama." Ujarnya antusias. Hinata terkekeh kecil.
"Panggil Nee-chan saja ne?" Moegi mengangguk. Ia mengambil tas Hanabi yang tadi dilempar.
"Biar kuantar ke kamar Nee-chan. Sakura Nee-chan dan Ino-nee juga sudah sampai." Ujarnya. Mereka mengobrol sambil berjalan.
"Honto? Apa aku yang terakhir sampai?" tanya Hinata.
"Tidak. Para pri-"
"Sugoi! Aku rindu sekolah ini!"
"Jangan teriak – teriak, Naruto no baka!" tegur seorang pria berambut merah.
"Memang kenapa? Mereka senang melihatku..hahaha.." ujar Naruto pede. Hinata hanya geleng – geleng sambil tersenyum. mereka lanjut berjalan.
"Mereka selalu begitu kah dulu?" tanya Moegi.
"Hanabi dan Konohamaru, itu mungkin seperti Naruto-senpai dan Sakura-senpai. Ya, rata – rata anak SMA memang begitu."
"Bagaimana dengan Sasuke?" tanya Moegi. Hinata menggeleng.
"Aku tidak begitu paham. Ngomong – ngomong, lomba apa yang kau ikuti?" Hinata mengubah topik pembicaraannya karena ia juga tak tahu menahu tentang Sasuke.
"Aku ikut desain. Sebenarnya cadangan saja. sebelumnya aku tidak terpilih, tapi begitu dengar akan dilatih oleh Hinata-nee, aku memohon pada guru pembimbing untuk mengikutkanku." Ujar Moegi dengan mata berbinar. Hinata tersenyum senang mendengar bahwa ia ternyata dinantikan.
"Berusalah yang keras ya? Nee-chan yakin kau bisa."
"Ha'i! Aku pasti berusaha! Nah itu dia kamarnya."
"Bangunan baru ya? bagus juga.."
"Kalau begitu aku pamit dulu. oh iya tas Hanabi biar aku ne neechan." Moegi berlari menjauh. Hinata menyeret kopernya dan masuk ke kamar yang bersebelahan dengan kamar Sakura.
"Hinata-san? Kau sudah sampai?" tanya Sakura yang baru keluar. Hinata mengangguk.
"Iya. Naruto-senpai dan yang lain juga sudah sampai."
"Honto? Ayo kita reuni. PIG AYO KELUAR!" teriak Sakura.
"Senpai, aku taruh tas dulu." Hinata masuk ke kamar dan menaruh tasnya. Lalu ia keluar bersama Ino dan Sakura.
"Suasananya tidak berubah." Komentar Ino.
"Iya..dulu Tenten suka sekali memanjat pohon di sana itu." Sakura menunjuk pohon besar di taman dan mereka tertawa bersama.
"Tak kusangka bahwa sekarang dia sudah hamil." Ceplos Hinata. Ino dan Sakura mengenryit.
"Hamil?" tanya mereka kompak. Hinata mengangguk.
"Iya. Tenten hamil. Aku tahu dari Kiba-kun."
"Dasar si cepol itu, sudah pacaran dengan Neji tidak bilang – bilang, nikah diam – diam, hamil juga tak memberi kabar!" umpat Ino.
"Jangan bilang kau cemburu dengan mantan pacarmu itu." Ino menjulurkan lidahnya. Ino sekolah di sekolah ini dari awal kelas 3, dan sebelumnya menjalani LDR dengan Neji. Setelah lulus, merekapun putus.
"Aku tidak akan cemburu."
"Ah, itu para kaum adam!" pekik Sakura. Mereka menghampiri teman – teman pria mereka.
"Hai!" sapa Sakura.
"Benarkah ini Sakura? Kau makin bohay saja.." komentar Kiba. Sakura menyambitnya dengan sarung tangan yang ia bawa.
"Kurang ajar. Dasar ecchi." Kiba hanya tertawa.
"Hinata-chan cantik ya..kau benar – benar seperti putri kerajaan." Puji Rock Lee. Hinata tersenyum manis.
"Arigatou."
"Sikapmu masih sama." Interupsi seseorang. Wajah Hinata merona. Pria itu Gaara. Mereka sempat dekat. Hinata adalah murid akselerasi, begitu juga dengan Gaara dan Sasuke.
"Ehem...ehem..aku tahu kalian lama tidak bertemu, tapi aku tidak ingin ada aura lovely dovey di sini." interupsi Ino.
"Aku bahkan lupa di sini ada Ino." Ujar Kiba lagi. Ino menjitaknya.
"Kau memang kurang ajar."
Naruto sedari tadi hanya diam saja. ia kalut dengan pikirannya akan Sasuke. Ia berharap Sasuke ada di sini dan berkumpul bersama mereka. Sebenarnya ia khawatir akan keadaan sahabat baiknya itu. sakit apa dia? Kenapa ia tak memberitahunya? Kenapa ia memilih pergi tanpa kabar? Sudah sehatkah dia sekarang? Pertanyaan – pertanyaan itu berputar di pikirannya seakan menuntut untuk dijawab. Naruto ingin sekali menyusul ke USA. Namun karena tugasnya, ia tak bisa, belum lagi ia tak tahu dimana posisi Sasuke sekarang.
"-ruto...NARUTO!" pekik Kiba di telinga Naruto.
"Brengsek kau!" Naruto memukul kepala Kiba.
"Kau kenapa sih? Diajak bicara dari tadi diam saja. tumben kau diam." Naruto menggeleng.
"Aku ingin ke toilet." ujarnya lirih. Naruto menjauh dari sana. Semua ikut diam.
"Dia kenapa ya?" tanya Rock Lee. Hinata merasa feelingnya benar. Naruto memikirkan Sasuke.
"Aku rasa..karena Sasuke-senpai tidak di sini." ujarnya lirih. Air muka Sakura berubah. Suasana jadi canggung dan Sakura memilih menarik diri. ia pergi mencari Naruto. Benar saja Naruto berada di ruang kelas mereka. Berdiri di dekat jendela dan mengarahkan pandangan ke luar jendela. Melihat beberapa siswa sedang bercanda di sana.
.
.
.
.
"Apa benar kau memikirkan Sasuke-kun?" tanya Sakura. Naruto tak menoleh. Ia hanya diam dan tetap fokus pada apa yang ia lihat.
"Kau menyembunyikan sesuatu dariku, Naruto?" tanya Sakura lagi. Namun lagi, Naruto tak menjawabnya. Sakura emosi dan menarik tangan Naruto untuk menatapnya.
"Jawab aku! Kau menyembunyikan sesuatu?" tanyanya dengan nada tinggi. Naruto hanya menggeleng.
"Aku hanya..rindu saat Sasuke masih di sini. Walau semuanya berkumpul, tapi tanpa Sasuke. Rasanya tetap hampa." Jawabnya. Ia tak mungkin meberi tahu Sakura tentang apa yang ia baca. Ia yakin Sakura akan histeris jika mengetahuinya.
"Kenapa kau masih memikirkan dia, Naruto? Dia mungkin sudah melupakan kita. Iya kan?" tanya Sakura dengan nada sinis.
"Karena dia sahabatku. Tidak semudah itu melupakan dia. Kau juga."
"Aku tidak peduli lagi."
"Kau bohong."
"Aku tidak!"
"Kau bohong Sakura!" Naruto menatap tajam Sakura. Mata gadis itu memanas. Ia menahan segala emosinya, air matanya.
"Kau mengira aku menyembunyikan sesuatu tentang Sasuke dan bersikeras ingin tahu. Itu berarti kau masih peduli!"
Kini pertahanan Sakura hancur. Ia menangis terisak dan Naruto hanya bisa memandanginya.
"Aku..aku lelah Naruto. 7 tahun menunggunya dan itu samasekali tidak berbuah apa – apa. Hiks..aku Cuma ingin secuil kabar darinya tapi..hiks..tapi dia samasekali tidak memberi kabar..aku lelah...aku lelah terus mengharapkan Sasuke-kun. Tapi hatiku berkehendak lain..hiks..hatiku masih ingin menunggunya..namun tidak dengan pikiranku.." Mata Naruto berkaca kaca. Ia tak bisa menangis di depan Sakura. Ia merengkuh tubuh sahabat gadisnya itu. mencoba untuk berbagi beban.
"Sasuke akan pulang. Kita harus yakin. Aku percaya ia juga tidak semudah itu melupakan kita. Iya kan? kita bersama – sama sudah dari kecil." Naruto berusaha menenangkan walau sebenarnya ia juga sedih dan lemah. Sakura memeluk Naruto erat dan menangis. Naruto pun mengelus punggung Sakura.
"Sudah sudah...Kau ingat kan bagaimana saat terakhir kau menangis di depan Sasuke?"
Sakura mengingatnya. Tentu saja. itu adalah kata yang pedas namun sangat berarti bagi Sakura.
'Kau boleh menangis di sini seperti pengecut, tapi kau punya pilihan untuk menjadi kuat dan tidak cengeng di luar sana. Tapi yang perlu kau tahu, aku tidak ada waktu meladeni seorang pengecut.'
Sakura tertawa mengingatnya. Ia masih memeluk Naruto dan sudah berhenti menangis.
"Dia itu pria kejam, sadis, tidak berperasaan. Tapi dia sangat manis, kata – katanya yang pedas begitu rasanya aku ingin mencekiknya dan memberitahukan pada orang – orang kalau Sasuke pernah ngompol waktu kelas 4 SD." Naruto tertawa mengingatnya.
"Setelah kau menertawakannya, Sasuke marah padamu 10 hari."
"Dia juga marah padamu tahu.." mereka tertawa bersama mengingat masa lalu yang menyenangkan itu.
"Lalu kita belikan dia tomat, menunggunya seharian di depan rumahnya. Akhirnya dia mau keluar sambil menangis, lalu mengajak kita menginap di rumahnya 1 minggu." Sakura tertawa lagi. Ia sadar air matanya akan turun lagi. Ia menjauhkan dirinya dari Naruto lalu menghapus air matanya.
"Huh, apa yang kita lakukan di sini? harusnya kita siap – siap untuk acara pembukaan. Ayo." Ajak Sakura. Naruto hanya tersenyum lalu mengekor Sakura.
.
.
.
.
Hinata memperhatikan mereka dari gedung sebelah. Ia hanya menyandarkan punggungnya ke tembok dan melipat tangan di depan dada serta menghela nafas berat. Sesakit ini kah melihat pria yang kau cintai bersama wanita lain, walau itu adalah sahabatnya dari kecil?
"Kau masih suka mengintip mereka, eh?" interupsi seseorang. Hinata menoleh.
"Gaara-kun. Kau sedang apa?" tanya Hinata.
"Aku sedang berdiri." Jawabnya santai. Hinata memutar bola matanya.
"Kau masih menunggunya, Hinata?" tanya Gaara.
"Aku tidak ingin membicarakannya. Itu bukan urusanmu."
"Wah wah.. kau memang hanya bisa ketus denganku saja ya."
"Ayolah Gaara-kun. Aku tidak suka gaya bicaramu itu. menyebalkan." Cibir Hinata. Gaara terkekeh.
"Maaf – maaf. Aku juga rindu masa – masa SMA dulu. Ya..kau tak berubah. Tetap cantik dari dulu, pintar dan anggun."
"Aku tidak akan termakan rayuanmu, Gaara-kun."
"Siapa bilang aku merayu? Aku bicara apa adanya. Oh ya, dan bedanya kau dengan dulu itu. kalau dulu kau kan kolot."
"Lalu sekarang?"
"Tambah kolot." Hinata mendelik.
"Hei!" ia melempar buku di meja sebelahnya. Gaara hanya tertawa. Hinata bisa lepas saat bersama Gaara. Ia tak perlu memikirkan kedudukannya atau statusnya. Dengan Gaara, Hinata bisa menjadi apa yang ia inginkan. Bahkan menjadi konyol dan bodoh sekalipun.
"Ayo turun. Sebentar lagi upacara pembukaan." Hinata mengangguk dan mengekor Gaara.
Hinata berusaha untuk sabar dan tak ambil pusing tentang kedekatan Naruto dan Sakura. Walau sebenarnya ia memang tidak rela Naruto di sana bersama gadis lain. Tapi Hinata sadar akan posisinya. Mungkin memang belum saatnya.
To Be Continue...
Akhirnya saya bisa publish chapter 2 ini. Sebelumnya terimakasih buat teman – teman yang udah review..maaf kalo banyak kekurangan..hehehe
Cerita ini murni dari hasil pemikiran saya sendiri, dan saya juga berusaha buat cari data akurat walau akhirnya juga banyak yang ngarang dikarenakan malas melanda XD
Oke deh, akhir kata..terimakasih sudah meluangkan waktu buat baca ff amatir ini, doain aja author publish next chapter itu dalam jangka waktu yang gak terlalu lama, itupun kalo ada yang nunggu sih, kekeke...see you..
