This is just some short ficlet of Madara and my other OC Izumi.
Disclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto
Sweet Memory With You © Lazuardi Loo
Chapter 2
"Insiden Tak Disengaja"
by Lazuardi Loo
.
.
.
.
.
"Bagian perbatasan sebelah selatan mulai diserang, Madara-sama," ucap Katashi sembari menunjukkan beberapa titik di atas peta yang cukup besar di atas permukaan meja berkaki rendah tersebut.
"Tampaknya ada beberapa dari mereka yang mengkhianati perjanjian," Toshiro memberitahu.
"Kita memang tak bisa berdiam diri, tapi wilayah selatan adalah wilayah cukup jauh dari distrik kita. Jika kita memang memutuskan untuk berperang, buat perjanjian dengan mereka. Aku tak suka dengan permainan perang diam-diam seperti itu. Sangat tak jantan," Madara melipat tangannya ke dada. "Bagaimana dengan para tetua?"
"Mereka mengembalikan keputusan kepadamu, Madara-sama."
"Baiklah kalau begitu. Gunakan elang tercepat kita dan kirimkan surat pada mereka mengenai pernyataan perang. Kalau mereka menerimanya, tentukan tempat dan siapkan semua persediaan kita!" Madara memandang Katashi, menggebrak meja. "Cepat suruh Eiji melakukannya!"
"Baik, Madara-sama!" Katashi beranjak dengan terburu.
"Toshiro, minta yang lain untuk mempersiapkan persediaan. Senjata, medis, pil makanan, semuanya! SEGERA!"
Izumi terdiam memandangi ketiga pria yang kini sibuk dengan urusannya. Sudah tiga jam ia menemani Madara membicarakan masalah penyerangan yang dilakukan klan Sarakushi. Yah, beginilah pekerjaannya semenjak menjadi istri seorang ketua klan. Ia hanya bisa menunggu, menemani suaminya begadang semalaman membicarakan ini itu sementara ia jadi pendengar setia. Padahal saat dulu ia masih di klan Kouki, ia selalu terlibat sebagai salah satu orang yang membicarakan strategi perang dengan dua orang pria lainnya. Dan kini, siapa dia di mata Uchiha? Tak lebih dari sekedar istri seorang ketua klan.
Ia benci mengakui, bahwa ia sangat tak menyukai kondisi dimana ia tak bisa (lebih tepatnya tak didengarkan) membantu klan Uchiha membicarakan masalah perang.
Dan, Madara-kun melewatkan jam makan siangnya lagi.
Ia beranjak berdiri, melangkah ke dapur. Setelah menyiapkan beberapa hidangan – semangkuk donburi, inarizushi dan teh hijau – ia kembali dengan sebuah baki di tangannya. Saat ia kembali, Izumi terpaku memandang keadaan Madara. Dilihatnya sosok ketua klan tersebut memijat pelipisnya, tampak pusing. Washitsu tampak telah kosong saat ia melangkah masuk. Ia meletakkan baki itu di meja, lalu menyentuh bahu Madara.
"Kau tak apa?" tanyanya dengan nada khawatir.
"Menurutmu?" tanya Madara sarkatis. Izumi tersenyum. Ia tahu betul siapa suaminya saat pria tersebut pusing atau bad mood. Izumi mengelus punggungnya dengan sayang.
"Aku tahu kau pusing tapi kau tak boleh melewatkan makan siangmu," Ia menyodorkan baki itu dengan tatapan lembut, "ayo makan. Kau pasti lapar kan? Semalam kau mengerjakan banyak laporan sampai melewatkan makan malam, dan tadi pagi kau juga hanya makan sedikit."
Madara memandang mangkuk itu dengan tak bernafsu. Malas. Ia memandang Izumi dengan tatapan sebal.
"Jangan bilang kau tak suka. Aku bahkan membuat inarizushi untukmu! Ayo dimakan," Izumi mulai agak kesal karena Madara mulai bersikap kekanakan.
"Aku malas."
"Ayolah, kau bisa sakit jika kau selalu melewatkan jam makanmu. Sini aku suapi," Izumi mengambil sumpit dan menyumpit sebuah inarizushi untuknya, "aaaa..."
Madara menutup mulutnya seperti anak kecil yang menolak makan. Izumi masih menyodorkan makanan itu dengan sumpitnya, dan akhirnya mau tak mau Madara pasrah, karena entah mengapa perutnya tiba-tiba memberontak saat mencium aroma makanan tersebut. Ia menerima suapan dari Izumi dan mengunyah.
Masakan Izumi selalu enak seperti biasanya, batin Madara sembari menelan.
"Nah, apa susahnya sih?"
"Aku tadinya malas makan Izu," ia masih mencebik dengan wajah merengut.
"Nah, sekarang kalau kau malas, biar aku yang menyuapimu. Sini..."
"Tidak, tidak. Biar aku makan sendiri saja," Madara mengambil sumpit dari tangan Izumi, lalu mengangkat mangkuknya dan kemudian mulai makan. Saat mangkuk tersebut tampak kosong tak bersisa, Izumi tertawa.
"Aku tahu kau lapar, Madara-sama," Tifa mengambil mangkuk tersebut dan meletakannya di baki, "kau mau tambah?"
"Jangan panggil aku dengan embel-embel '-sama', aku tak suka," ia memandang Izumi dengan serius.
"Lho, kenapa? Maksudku kan, aku menghormatimu sebagai ketua klan juga, sama seperti Uchiha yang lain," Izumi menggeleng tak paham, lalu beranjak berdiri, memanggil salah seorang pelayan untuk membawa baki itu ke belakang.
"Kalau kau memanggilku seperti Uchiha yang lain, lalu apa spesialnya dirimu untukku?" tanya sang suami jujur. "Panggil aku seperti biasa."
"Sejujurnya aku tak enak," Izumi duduk di sebelahnya, "entah kenapa, terkadang aku pribadi masih segan padamu, sebagai ketua klan Uchiha, orang yang ditakuti banyak klan, dan berstatus suamiku."
Madara menyeringai. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Izumi, lalu melumat bibirnya dengan cukup ganas, sebelum akhirnya melepaskan bibir tipis tersebut dan menyunggingkan senyum miringnya. Wajah Izumi memanas memandang wajah tampan tersebut, terpaku.
"Kau adalah istriku, jadi perlakukan aku sebagai suamimu, kekasihmu, dan orang yang kau cintai, kau mengerti?"
"I-iya..."
Madara tersenyum kecil, mencubit kecil pipi Izumi. "Kau selalu terlihat lucu saat memerah."
"Ma-Madara–kun..." Tifa menunduk malu. Madara tertawa lebar, memeluk istrinya.
"Kenapa kau harus malu-malu sih?"
Izumi melepas pelukan pria bertubuh tinggi tersebut, lalu dengan sedikit nakal, ia menangkup wajah Madara dengan jemarinya dan mencium bibir pria tersebut,lebih liar dari semula. Ciuman itu berlanjut cukup lama, dan saat itu Madara mulai terbawa suasana. Ia menjatuhkan tubuh Izumi di atas tatami sehingga posisinya tepat menindih sang istri. Tangan besarnya mulai meraba dada istrinya dan bermain di atasnya, sementara pagutan itu terus berlanjut. Suara Izumi mulai terdengar sedikit erotis saat tangan suaminya bermain nakal di atas tubuhnya sementara kecupan sang suami kini mulai merambah ke leher.
"Madara-sama, Eiji mengatak–" Katashi membeku melihat pemandangan di depannya.
Kedua insan yang sedang memadu kasih itu sontak membeku, dan seketika bangkit membenahi penampilan mereka yang kacau balau. Mereka baru ingat, bahwa sedari tadi pintu geser ruangan tersebut belum ditutup.
~oOo~
.
.
.
.
Moral of this story: Pastikan selalu menutu pintu setelah memasuki ruangan, karena kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi setelahnya di dalam ruangan tersebut. :3
.
.
TBC
Purbalingga, 18 Juni 2014
12.55 WIB
Bales repiu:
Blue13lack13lub3rry 6616 : Yea, emang sengaja. Keep reading ya, huehuehue.
Disini, saya mau minta pendapat kalian. Sebenarnya saya juga masih agak bingung terkadang untuk menggambarkan gimana sikap seorang Madara ketika sama cewek. Saya menggambarkan Madara (secara pribadi) sebagai pria yang flirty, bad boy, digandrungi banyak wanita dan semacamnya, tipikal pria yang benar-benar player, tapi saat ia menemukan wanita yang cocok (in this case, Izumi) dia cinta banget sama tuh cewek, gimana? Menurut kalian cocok ga? Kalian selalu free ngasih saran dan kritik (asal jangan pedes-pedes) serta pendapat kalian dengan ngasih repiu. Kalian juga boleh kok ngasih ide lewat repiu, nanti saya pertimbangkan. Tapi yang jelas, saya nggak nerima flame.
So, R n R, minna-san~? :3
