SWEET ENEMY

Judul : Sweet Enemy Part 1 dan 2

Author : Barbie (ot12barbiegirl)

Rate : T sampai M?

Casts : SUDO couple

Suho EXO

DO Kyungsoo

EXO Member

yang lain menyusul.

Warning : GS for some character,typo,crack!pair,OOC,don't like don't read.

STORY DON'T BELONG TO ME

REMAKE DARI NOVEL SANTHY AGATHA DENGAN JUDUL YANG SAMA

Oh iya ada pemberitahuan sebelumnya,karakter Chanyeol di FF ini bakal diganti sama Minho

Soalnya Chanyeol bakal jadi main casts di FF lain yang juga remake dari novel Santhy Agatha dan ada kaitannya sama FF ini.

Oke deh,enjoy.

"Cinta adalah ketika kau ingin memberi sebanyak mungkin bahkan ketika kau tidak diminta"

PART 1

Pagi itu, sebelum berangkat ke kampus, Kyungsoo mampir ke Garden Cafe, cafe dengan nuansa hijau dan taman dengandinding-dinding kaca yang berkilauan. Memantulkan nuansa taman di sekelilingnya. Cafe itu terletak di pinggir jalan yang sering dilalui Kyungsoo ketika berjalan kaki menuju kampusnya… Dulu pada awalnya Kyungsoo ragu memasuki cafe itu karena sepertinya harganya mahal, dia hanya berdiri di depan cafe itu, merasa tertarik tetapi ragu. Tetapi seorang pelayan, yang kebetulan sedang berada di depan cafe itu menyapanya dengan ramah, mempersilahkannya masuk sehingga akhirnya Kyungsoo memberanikan diri untuk masuk. Pelayan yang ramah itu bernama Lay dan mereka akhirnya berteman. Sekarang setiap pagi sebelum berangkat ke kampus, Kyungsoo pasti akan mampir ke cafe ini untuk membeli minuman kesukaannya : Oreo Milkshake. Kyungsoo sangat menyukai susu, dan ketika pertama kali memilih menu di cafe itu, matanya langsung mengarah ke bagian milkshake. Dia mencoba oreo milkshake, dari susu yang nikmat, dengan whipped cream yang lembut di atasnya, tentu saja dipadukan dengan remahan oreo yang bercampur putihnya susu menjadikan warnanya abu-abu yang menggugah selera.

"Milkshake lagi, Kyungsoo?" Lay langsung menyapanya dan menyebutkan pesanannya, bahkan sebelum Kyungsoo sempat memesan.

Kyungsoo tertawa, "Ya. Yang biasanya."

Lay menatap Kyungsoo dengan pandangan mencela, "Dan aku heran kau tidak bertambah gemuk padahal kau mengkonsumsi minuman itu setiap hari, kau terlalu kurus, mungkin kau harus menambah porsi makanmu."

"Aku sedang dalam program penggemukan, karena itulah aku memesan milkshake setiap hari." jawab Kyungsoo dengan senyum geli. Dia duduk di kursi tinggi di depan counter bar yang menyediakan sarapan dan kopi hangat tiap pagi, dan berubah menjadi bar minuman kalau menjelang malam. Beberapa saat kemudian Lay datang membawakan pesanannya. Kyungsoo menerimanya dengan senang, lalu menyedot Milkshake itu dari sedotan besar di gelas tingginya, rasa manis, gurih, dan nikmatnya susu bercampur oreo dan whipped cream langsung berpadu di mulutnya, membuatnya senang,dan yang pastinya memberinya kekuatan untuk menghadapi suasana kampus yang tidak menyenangkan setiap hari. Kyungsoo langsung mengerutkan keningnya, dan Lay yang masih berdiri disitu beserta beberapa pelayan lain yang menyiapkan pesanan sarapan di meja counter rupanya memperhatikannya.

"Suasana kampus masih tidak menyenangkan,Kyungsoo-ya?" tanya Lay penuh pengertian.

Kyungsoo mendongak dan menatap Lay, lalu tersenyum sedih. Lay benar-benar sudah menjadi teman bicaranya yang baik. Lelaki itu ternyata bukan hanya sekedar pelayan. Dari cerita pelayan lain, Lay ternyata adalah orang kepercayaan dari pemilik cafe ini dan diberikan kendali penuh untuk mengelola cafe, tetapi dia menyerahkan tugas itu kepada orang yang lebih muda, kemudian memilih menjadi pelayan dan menikmati hidup dengan bercakap-cakap dan berbagi cerita bersama para pelanggannya. Dia lelaki setengah baya yang hidup sendirian. Berdasar gosip juga, lelaki ini kehilangan keluarganya di masa lalu dan kemudian memilih untuk hidup sendiri selamanya. "Mereka semua masih bersikap dan memusuhiku." Kyungsoo mengangkat bahu. Dia memang sering bercerita tentang suasana kampusnya kepada Lay, karena lelaki itu sangat baik dan bersedia mendengarkan,Lay membuat Kyungsoo teringat kepada ayahnya. "Yah mau bagaimana lagi, aku memang bukan bagian dari mereka."

"Kau harus tetap semangat dan melupakan mereka." Lay tersenyum bijaksana seperti biasanya, "Sebenci-bencinya orang kepadamu, hidupmu adalah hidupmu, jadi teruslah melangkah maju."

Kyungsoo menatap Lay dengan senyum tulus, "Gomawo,Lay... Aku senang berbagi cerita kepadamu, kau benar-benar mirip ayahku," gumamnya malu-malu.

Lay tertawa mendengar perkataannya, "Apakah kau memujiku karena ingin mendapatkan milkshake gratis?" godanya sambil tergelak, "Bersemangatlah! Oke. Aku harus kesana dan melanjutkan pekerjaanku." setelah melempar senyuman untuk terakhir kalinya, Lay membalikkan badan dan meninggalkan Kyungsoo sendiri, menikmati oreo milkshakenya.

"Mereka menghebohkannya di kampusnya." Minho melirik ke arah Suho, "Adikku yang cerita. Banyak yang memusuhi dan merendahkannya karena menganggapnya tak sederajat."

Suho mengalihkan pandangannnya dari buku yang dibacanya, "Siapa yang berani memusuhi Kyungsoo di kampus?"

"Hampir semuanya," gumam Minho, "Yah sudah biasa terjadi kalau anak -anak keluarga kaya, di kampus khusus keluarga kaya akan merasa terganggu kalau tiba-tiba ada anak miskin yang naik status menjadi bagian dari keluarga yang paling berpengaruh di antara mereka. Dulu Kyungsoo hanyalah anak biasa yang mendapat beasiswa di sana, sekarang posisinya tentu berbeda, dia menjadi bagian dari keluarga Kim, tinggal di mansion ini. Tentu saja permusuhan ini tidak terang-terangan, tetapi ada. Anak itu tidak punya teman sama sekali."

"Dan bagaimana Kyungsoo? Apakah adikmu bisa mengawasinya?"

"Luna tidak tahu," gumam Minho, menyebut nama adiknya, "Dia satu tingkat di atas Kyungsoo jadi tidak bisa mengawasinya terus menerus, menurutnya, Kyungsoo biasa saja menghadapi semuanya, tampaknya dia sudah terbiasa menghadapi perlakukan macam itu."

Suho tercenung, "Apakah menurutmu dia butuh bantuanku?"

"Menurutku dia tidak butuh bantuan siapa-siapa." Minho tersenyum kagum, "Dia bisa menghadapimu dan mengalahkanmu, dan menurutku teman-teman di kampusnya tidak ada apa-apanya dibandingkan denganmu."


Kyungsoo duduk sendirian di kantin itu, di bagian paling ujung, tempatnya biasa duduk. Tidak ada yang menemaninya, tidak ada yang menyapanya. Begitulah kesehariannya di kampus swasta paling terkenal milik keluarga Kim ini. Tetapi tidak apa, dia sudah terbiasa. Dulu ketika masuk pertama kali ke sini dengan beasiswa dari mama Kim, dia sudah dimusuhi, tidak ada yang mau berteman dengan manusia yang mereka pandang dari kelas rendahan. Bahkan banyak yang tampak merasa jijik hanya dengan tersentuh olehnya. Tetapi sekarang, ketika kabar bahwa dia tinggal dan diangkat anak oleh Nyonya Kim di mansionnya sudah menyebar. Aura permusuhan itu terasa lebih kental dan menguar di udara meskipun makin tertahankan.

"Bolehkah aku duduk di sini?"

Sapaan manis itu membuat Kyungsoo mendongakkan kepalanya dengan kaget. Seorang perempuan. Perempuan yang sangat cantik dengan baju dan penampilan mahalnya.

"Silahkan." Kyungsoo mempersilahkan meskipun masih merasa bingung, siapa perempuan ini? Kenapa dia tidak pernah mengenalnya selama berada di kampus ini? Seharusnya perempuan secantik ini sangat terkenal di sini, apalagi dari penampilannya yang jelas-jelas berasal dari keluarga kaya.

"Namaku Jongdae." perempuan cantik itu meletakkan piring makanannya di meja lalu duduk di depan Kyungsoo dan tersenyum manis kepadanya, "Aku baru pindah kesini, sebelumnya aku kuliah di London, tetapi mama sakit sehingga aku memutuskan tinggal dekat dengannya." dia tersenyum manis, "Aku sudah mendengar tentangmu, Kyungsoo, dan aku tahu mereka memusuhimu karena alasan yang cukup konyol, jangan pedulikan mereka ya."

Kyungsoo menatap Jongdae yang tampak begitu tulus di depannya, dan kemudian tersenyum. "Aku tidak apa-apa, aku sudah terbiasa," gumamnya lembut.

Jongdae menatap menantang kepada beberapa orang di kantin yang menatap mereka dengan sembunyi-sembunyi, "Aku akan menjadi temanmu di sini, supaya mereka menyadari betapa konyolnya memusuhi seseorang hanya berdasarkan kekayaan dan kemiskinan."

Kyungsoo tersenyum tertahan melihat kekeraskepalaan Jongdae, "Terima kasih Jongdae, aku senang kau mau menjadi temanku."


"Bagaimana keadaan di kampus?" Suho menyambut Kyungsoo di ballroom mansion mereka, dengan gayanya yang elegan dan tetap tampan. Lelaki itu sekarang memegang beberapa cabang perusahaan Kim dan menjalankannya dengan baik. Karena kesibukannya, sangat jarang Suho berada di rumah sore-sore begini. Kyungsoo menatap Suho dan mencoba tersenyum. Hubungan mereka bisa dibilang baik. Suho benar-benar melaksanakan janjinya untuk bersikap baik kepada Kyungsoo di rumah ini, meskipun kadang lelaki itu masih menyimpan arogansi dan sikap kasarnya.

"Baik-baik saja." jawab Kyungsoo pelan.

"Aku dengar mereka memusuhimu."

"Mereka memusuhiku sejak awal, tidak apa-apa, aku sudah terbiasa Suho..oppa..." wajah Kyungsoo memerah saat mengatakannya.

"Kau memanggilku apa? Aku tidak dengar!Coba katakan sekali lagi!" Suho pura-pura tidak mendengar ucapan Kyungsoo.

"Oppa. Suho oppa" Kyungsoo mengucapkannya dengan cepat.

"Anak sekarang panggil aku oppa!" Suho mengacak rambut Kyungsoo gemas.

" akan memanggilmu oppa." Kyungsoo mengerucutkan bibirnya sebal.

"Kau adikku." suara Suho terdengar keras, "Mereka tidak boleh memusuhimu, itu penghinaan terhadap keluarga Kim."

Kyungsoo meringis mendengar suara mengancam Suho, dia takut lelaki itu akan melakukan sesuatu yang mengerikan. Seperti memaksa semua orang berteman dengannya misalnya. Kyungsoo berpikir itu bukan ide baik. Teman-temannya tidak bisa dipaksa menerimanya, ketika mereka dipaksa, yang timbul nanti malahan permusuhan yang lebih mendalam.

"Jangan lakukan apapun atas nama keluarga Kim." Kyungsoo menyela dengan waspada, " ?"

Suho mengerutkan keningnya marah, "Kenapa aku harus berjanji kepadamu? Aku bisa melakukan apapun yang aku suka, tidak perlu diatur-atur olehmu."

"Kau berhak melakukan apapun yang kau mau, selama itu tidak berpengaruh kepadaku." Kyungsoo mengeluarkan senjatanya, menatap Suho dalam-dalam, "Kau sudah berjanji kepadaku oppa, tidak akan berbuat jahat kepadaku."

Suho mengerutkan keningnya. Dia memang pernah mengucapkan janji itu, di malam yang berhujan, tetapi apa hubungannya dengan semua ini.

"Aku tidak akan berbuat jahat kepadamu, malahan aku membantumu supaya tidak dimusuhi di kampus. Aku akan memperingatkan dewan sekolah supaya memperingatkan teman-temanmu atas perlakukan mereka kepadamu, mereka harus bersikap baik kepada adikku."

"Kau hanya akan menghina mereka dan memaksa mereka melakukan sesuatu yang tidak mereka suka. Oh ya, mereka mungkin akan bersikap baik kepadaku, tetapi mereka akan semakin membenciku."

Suho mengernyit, "Kau harusnya tahu Kyungsoo, kami para orang kaya tidak peduli apa yang ada di hati semua orang. Yang penting mereka bersikap baik dan menghormati kami."

Kyungsoo menghela nafas, "Tetapi aku bukan orang kaya Suho oppa, aku tidak mau orang berbuat baik kepadaku dengan menjilat atau kebaikan palsu, tetapi di belakangnya menanam kebencian." lalu Kyungsoo teringat kepada Jongdae, "Lagipula akhirnya aku punya seorang teman."

"Siapa?"

"Namanya Jongdae, dari keluarga Lee, dulu dia sekolah di London, dan baru pindah kemari di awal bulan, dia berkata bahwa sikap semua orang yang memusuhiku hanya karena harta adalah konyol dan dia bersedia berteman denganku." Kyungsoo terkekeh kembali mengingat kata-kata Jongdae dan kedekatan mereka setelahnya, mereka cocok mengobrol bersama dan sepertinya benar-benar bisa bersahabat, "Aku senang menemukan orang kaya yang tidak berpikiran sempit seperti Jongdae."

"Aku juga orang kaya yang tidak berpikiran sempit," sela Suho sambil melipat tangannya di dada dengan santai

"Oh ya?" Kyungsoo menatap Suho menantang, "Kau adalah orang kaya yang berpikiran paling sempit yang pernah kukenal Kim Joonmyeon!"

Suho terkekeh, mencoba kelihatan tersinggung, "Aku hanya berpikiran sempit kepada orang-orang tertentu saja."

"Hei!bukannya kau tadi sudah bilang mau memanggilku oppa!" Suho menjitak kepala Kyungsoo pelan.

Kyungsoo mendengus, "Oh ya, tentu oppa"

"Aku hanya ingin kau berhati-hati Kyungsoo. Tentang Jongdae itu, kau harus memahami motif dibalik keputusannya menjadi temanmu."

"Tidak, tidak perlu, aku tahu Jongdae orang yang tulus." jawab Kyungsoo yakin.

Suho mengernyit menatap Kyungsoo. Jongdae, kenapa namaitu terdengar tidak asing?

"Namanya Jongdae, dari keluarga Lee yang terkenal itu. Pantas aku merasa dia tidak asing," Suho duduk di depan meja kantor mamanya yang besar. Sang mama yang dari tadi tampak menelusuri pekerjaannya terpaksa mengalihkan perhatiannya kepada anak laki-laki satu-satunya.

"Kalau mama boleh tahu, kenapa kau tiba-tiba jadi tertarik kepadanya?"

Suho mengerutkan alis, "Karena dia satu-satunya orang yang mau berteman dengan Kyungsoo di kampusnya."

Sang mama menumpukan jemarinya di dagunya, "Dan menurutmu itu aneh? Apakah kau tidak bisa berpandangan bahwa ada beberapa orang yang memang benar-benar tulus?"

"Itu aneh karena dia tiba-tiba muncul setelah sekian lama."

Nyonya Kim tersenyum, "Mungkin memang kebetulan yang aneh..." sang mama melepas kacamatanya di meja dan menatap Suho, "Lee Jongdae adalah perempuan yang pernah ditunangkan kepadamu sejak kau dilahirkan. Itu adalah salah satu janji antara kakekmu dengan kakek Jongdae."

"Apa?"

"Ya. Kau punya tunangan sejak kecil. Tetapi karena Jongdae tubuhnya lemah, dia dirawat di London dan bersekolah di sana sejak kecil. Dia seumuran denganmu, tetapi karena sakitnya dia terlambat bersekolah, mungkin karena itulah dia bisa setingkat dengan Kyungsoo. Dan karena dia sejak kecil di London-lah, kau tidak pernah bertemu dengannya sebelum ini."

"Kenapa mama tidak pernah bercerita kepadaku tentang pertunangan ini?"

"Karena hal itu sudah tidak penting lagi, sebab ketika usiamu lima tahun setelah kejadian percobaan penculikan itu, papamu membatalkan kesepakatan itu. Seperti mama bilang tadi, itu adalah janji yang dibuat oleh kakekmu dengan kakek Jongdae, mama tidak tahu alasan papamu membatalkannya, mungkin dia berpikiran kalau kesepakatan itu tidak relevan lagi di jalan sekarang, papamu adalah orang yang berpandangan modern… Kau bisa menanyakan alasan pastinya nanti kalau beliau sudah pulang dari Eropa."

Suho mengernyitkan keningnya makin dalam. Entah kenapa dia merasa bukanlah suatu kebetulan Jongdae muncul di kehidupan mereka dan menjadi sahabat Kyungsoo.


Kyungsoo melangkah di balkon sambil menghirup udara segar yang berhembus dari luar, rasanya dingin, menyejukkan dan menyenangkan. Rasanya begitu damai berdiri di sini. Dipegangnya kalung pemberian dari mendiang ayahnya dan tersenyum. Ayahnya pasti senang melihatnya diurus di sini. Kyungoo tidak pernah menyalahkan ayahnya karena hidup miskin. Kyungsoo tidak menyalahkan ayahnya karena kehilangan bakat di jemarinya yang membuatnya terpuruk menjadi seorang buruh bangunan. Mereka memang miskin, tetapi mereka bahagia, hidup dengan penuh cinta di rumah mereka yang kecil tetapi hangat. Tidak perlu takut akan niat lain di balik kebaikan orang-orang, karena mereka tidak punya apapun untuk diincar. Kehidupan di masa itu biarpun sulit dan berkekurangan, tetapi terasa menyenangkan karena kehangatan yang mereka miliki.

Suara alunan biola membuat Kyungsoo teralih dari lamunannya, suara itu terdengar dekat dari sini, dari ruang keluarga. Alunannnya begitu indah, memainkan musik yang menyayat hati, terbawa oleh hembusan angin merasuk hingga ke jiwa. Kyungsoo berdiri dengan ragu di ruang keluarga, lalu melangkah masuk. Ada seorang lelaki sedang memainkan biola di tengah ruangan, lelaki yang tampan dan sepertinya seumuran dengan Suho. Siapa lelaki ini? Lelaki itu menyelesaikan alunan lagunya dengan nada pedih yang semakin pelan, menyisakan kesesakan bagi yang mendengarkan, karena terbawa oleh kesedihan nadanya. Lalu berhenti, menghela napas, dan menatap Kyungsoo, seolah baru menyadari kehadiran Kyungsoo di sana.

"Hai." lelaki itu meletakkan biolanya dengan anggun di meja, lalu tersenyum lembut, "Kau pasti Kyungsoo, kenalkan aku Baekhyun," dia mengulurkan tangannya.

Dengan gugup Kyungsoo membalas uluran tangan itu.

"Aku sudah lama melihatmu, bahkan sejak kau datang pertama kali ke mansion ini, aku salah satu sahabat Suho," senyum lembutnya tidak pernah hilang dari wajahnya, "Tetapi baru sekarang aku berkesempatan berbicara langsung denganmu."

"Di sini kau rupanya. Aku sudah curiga kau tak tahan untuk memainkan biola dari koleksi papa," suara Suho menyela di pintu, lelaki itu melangkah masuk, dan kemudian berdiri tertegun, mengernyit kepada Kyungsoo dan Baekhyun yang berdiri berhadap-hadapan.

"Kenapa kau ada di sini Kyungsoo?"

Baekhyun tersenyum kepada Suho, "Dia mengikuti alunan permainan biolaku dan masuk ke sini, ah, aku harus pergi." Baekhyun melirik ke arah jam tangannya, "Terima kasih sudah meminjamiku biola itu Suho," sebelum keluar, Baekhyun mengedipkan matanya kepada Kyungsoo.

Setelah pintu itu tertutup Suho menatap Kyungsoo dengan tajam, "Jangan berhubungan dengan Baekhyun, jangan melakukan kontak dengannya, pokoknya jangan sampai kau berinteraksi dengannya."

Kyungsoo menatap Suho dengan bingung, "Kenapa?"

"Karena dia benci perempuan." Suho menatap Kyungsoo dengan serius, "Dia dipanggil sebagai penghancur hati perempuan, semuanya. Tidak peduli tua atau muda, bersuami atau lajang, semua akan dihanyutkan dalam pesonanya untuk kemudian dihancurkan. Dia menyimpan kebencian yang mendalam kepada ibu kandungnya yang meninggalkannya, lalu melampiaskannya kepada semua perempuan. Jangan pernah dekati dia atau kau akan menjadi korbannya."

Kyungsoo menghela napas, sedikit merinding mendengar penjelasan Suho. Kalau memang benar deskripsi Suho tentang Baekhyun, dia pasti akan menghindarinya. Tetapi entah kenapa ada perasaan aneh ketika dia melihat Baekhyun tadi, perasaan aneh yang akrab, seolah-olah dia telah mengenal Baekhyun sebelumnya.


"Keadaan makin buruk ya." Jongdae duduk di sebelah Kyungso di kelas sambil menatap ke sekeliling, beberapa orang tampak langsung berbisik-bisik melihat Jongdae mendekati Kyungsoo. Kyungsoo menoleh ke arah Jongdae dan tersenyum sedih,

"Mianhae."

"Tidak perlu minta maaf." Jongdae terkekeh, "Pendapat orang-orang yang picik dan dangkal sama sekali tidak mempengaruhiku. Aku senang dengan yang kulakukan, lagipula aku dulu sama sepertimu, tidak punya teman."

Kyungsoo menoleh ke arah Jongdae dan menatap dengan tertarik, "Benarkah?" Mana mungkin orang secantik Jongdae dan tampak jelas dari keluarga berkelas pula bisa merasakan tidak punya teman?

"Aku dulu sering sakit-sakitan dan tinggal kelas. Pada akhirnya aku harus diam di dalam rumah dan menjalani perawatan." Mata Jongdae menerawang jauh, "Dan kemudian teman-temanku hanyalah para dokter dan perawat dan hilir mudik."

"Kau sakit apa?"

"Bukan sakit yang penting." Jongdae memalingkan muka dan menatap buku di tangannya, "Sekarang aku sudah sembuh, dan aku masih tidak suka membicarakannya." lalu perempuan itu menatap Kyungsoo dengan mata bulatnya yang begitu bening,

"Maafkan ya."

Kyungsoo langsung luluh dan tersenyum pengertian pada Jongdae, "Tidak apa-apa. Yang penting sekarang kau sudah sembuh."

"Ya. Aku senang bisa berteman denganmu Kyungsoo." jawab Jongdae, setengah berbisik.


"Cinta terpendam adalah cinta yang paling sulit dipadamkan"

PART 2

"Kau sedang apa?"Suho tiba-tiba saja muncul di dapur dan mendapati Kyungsoo sedang memanaskan sesuatu dan mengaduk-ngaduknya di panci, lelaki itu tampak tertarik dan melangkah memasuki dapur, mendekat ke arah kompor, kemudian mengernyit, "Apa itu?"

Kyungsoo menoleh dan menatap Suho dengan malu, dia tidak menyangka akan dipergoki Suho di dapur selarut ini.

"Ini biji vanilla yang direbus bersama susu putih cair." "Untuk minuman?"

"Ne." Kyungsoo mengalihkan pandangan ke panci, airnya belum mendidih tetapi sudah tampak makin menghangat, Kyungsoo harus mengaduknya karena kalau sampai airnya mendidih dan tidak diaduk busanya akan naik dan tumpah dari panci, "Aku biasa meminumnya kalau sedang tidak bisa tidur."

"Kau bisa meminta pelayan membuatkannya untukmu."

"Tidak." Kyungsoo bergumam, "Ini sudah jam sebelas malam, mereka semua sudah beristirahat, aku tidak mau merepotkan."

"Kyungsoo." suara Suho berubah tajam, khas dikeluarkannya ketika dia merasa jengkel kepada Kyungsoo, "Para pelayan di mansion ini dibayar untuk melayani majikannya. Dan kau adalah anggota keluarga ini, salah satu majikan mereka."

"Ya… Aku tahu… Hanya saja aku tidak ingin mengganggu orang-orang yang sudah beristirahat malam."

Suho menggeleng-gelengkan kepalanya atas sikap keras kepala Kyungsoo. Dia melangkah, duduk di kursi kayu di depan meja kayu besar yang ada di dapur itu. Susu itu sudah mengeluarkan aroma harum yang khas, aroma wangi vanilla dan gurihnya susu menguar, memenuhi ruangan.

"Kau bilang tadi kau tidak bisa tidur? Kenapa?"

Kenapa Suho tidak pergi saja dan membiarkan Kyungsoo memasak susu vanilla hangatnya dengan tenang? Kyungsoo membatin dalam hati. Tetapi kemudian menghela napas dan menjawab.

"Kadang-kadang aku memang susah tidur, terjadi begitu saja. Tidak bisa dijelaskan kenapa."

"Hmmm." Suho menaruh tanganya di meja, "Karena banyak masalah di kampus?"

"Kenapa oppa bisa bilang begitu?" Susu di panci sudah mendidih dan Kyungsoo mematikan kompor. Ketika akan menuang ke mug, dia menyadari bahwa isinya cukup banyak. "Oppa mau?" tanyanya menawarkan ke Suho.

"Mau. Kebetulan aku juga sedang susah tidur." lelaki itu menjawab sambil tersenyum. Senyum tulus yang sangat jarang muncul di wajahnya yang angkuh itu. "Karena aku mendengar selain si Jongdae itu, tidak ada yang mau berteman denganmu."

"Itu tidak masalah, aku kuliah bukan untuk berteman, tetapi menyelesaikan pendidikanku sehingga aku bisa segera mencari pekerjaan." Kyungsoo menuang susu vanilla itu ke dua mug, menyaring isinya supaya biji vanilla tidak ikut masuk ke dalam mug. Satu untuknya dan satu untuk Suho. Dia lalu meletakkan mug itu di depan Suho. Lelaki itu langsung meraihnya dan menghirup aromanya, belum bisa mencicipinya karena masih panas sekali.

"Duduklah." Suho menatap Kyungsoo tak terbantahkan, meskipun sebenarnya Kyungsoo sangat ingin kembali ke kamarnya sendirian, dia akhirnya duduk di kursi kayu itu, di depan Suho.

"Dari kata-katamu, sepertinya kau ingin segera mencari pekerjaan."

"Ya. Supaya aku bisa hidup mandiri dan tidak merepotkan Nyonya Kim lagi." Kyungsoo tersenyum tipis, "Aku tahu kalau mengganti seluruh biaya yang dikeluarkan Nyonya Kim kepadaku tidak mungkin, tetapi setidaknya aku ingin membalas budi, dengan uangku sendiri."

"Tetapi kau bagian dari keluarga ini, menurutku." Suho menatap Kyungsoo dan bertanya-tanya, apakah Kyungsoo tidak tahu bahwa ayah Kyungsoo-lah yang menyelamatkan Suho di waktu kecil? Mengorbankan tangannya, mengorbankan keahliannya, dan mengorbankan masa depannya? Kalau memang benar Kyungsoo tidak tahu, bagaimana kalau Kyungsoo tahu nantinya? Akankah dia membenci Suho? Karena kalau Minjoon, ayah Kyungsoo itu tidak menyelamatkan Suho, dia mungkin akan menjadi pemain biola yang sangat tersohor dan Kyungsoo pasti hidup layak, tidak seperti yang dialaminya. "Lagipula sepertinya mama tidak mengharapkan pengembalian darimu, dia cukup puas kalau kau mencapai nilai tertinggi, seperti biasanya."

Kyungsoo tertawa pelan. "Ya. Aku akan berusaha untuk poin nilai tertinggi itu." Kyungsoo mengamati Suho. Lelaki ini sungguh tampan, sekaligus terasa jauh, tak tersentuh, Kyungsoo bahkan kadangkala merasa begitu canggung kepada lelaki itu, meskipun mereka tinggal serumah dan Suho melaksanakan janjinya untuk tidak mengganggu Kyungsoo.

Ngomong-ngomong… Apa yang membuat Suho berubah pikiran secepat itu? Dari membencinya lalu berubah menerima kehadirannya di rumah ini? Bahkan lelaki itu sendiri yang menjemputnya. Apakah penyebabnya hanya karena penyesalan? Kyungsoo sudah lama bertanya-tanya, tetapi tentu saja dia tidak berani menanyakannya langsung kepada Suho. Mereka duduk berhadap -hadapan dalam keheningan, di ruang dapur yang temaram itu. Kyungsoo meniup susunya dan menikmati aroma vanilla segar yang menyeruak, membuatnya santai.

"Ayahku dulu sering membuatkanku minuman ini di malam hari sepulang kerja. Aku akan meminumnya kemudian tertidur nyenyak dengan santai." Kyungsoo menyesap minumannya dan tersenyum kepada Suho. Lelaki itu entah kenapa membalas senyumannya, lalu ikut meniup minuman di mugnya untuk kemudian mencicipinya.

"Masitda." suara Suho berubah serak, "Aku rasa aku akan tidur nyenyak juga malam ini."

Tiba-tiba Kyungsoo teringat sesuatu, dia berbalik dan membuka laci atas dapur dan menemukan biskuit yang dicarinya, oreo dengan gula vanila yang melapisinya. Sementara itu Suho menatapnya dengan bingung sekaligus tertarik.

"Kau sedang apa?"

"Aku mau mencampur oreo ini dengan susu."

Mata Suho menatapnya ngeri, "Apa? Nanti akan jadi bubur biskuit kental yang menjijikkan." gumamnya, mengamankan susu hangatnya seolah takut Kyungsoo juga akan menuang oreo itu ke minumannya.

Kyungsoo melirik Suho dengan tatapan mencela, "Biskuit ini tidak akan hancur menjadi bubur, dia akan menjadi remahan keras yang memberikan cita rasa khas. Oppa kan belum mencobanya,padahal ini enak. Aku selalu minum oreo milkshake setiap pagi di cafe langgananku."

"Di mana?" Suho langsung bertanya dan tertarik. Dia tidak pernah tahu bagaimana kegiatan Kyungsoo sehari-hari, yang dia tahu Kyungsoo selalu berangkat kuliah lalu pulang ke mansion, informasi ini membuatnya ingin tahu.

"Di Garden Cafe, sebuah cafe dengan nuansa hijau dan taman dengan dinding-dinding kaca yang indah." mata Kyungsoo berbinar, "Dan oreo milkshake yang paling enak di dunia."

Suho terkekeh, "Sepertinya aku harus mencobanya kapan-kapan." lelaki itu lalu melirik ragu ke arah Kyungsoo yang sekarang memecah oreo itu menjadi serpihan-serpihan dan menaburkannya ke dalam gelas susunya. Setelah semua oreo hancur dan tertuang di dalam gelas susunya, Kyungsoo mengambil sendok dan mengaduknya sehingga titik-titik gelap muncul dari susu yang semula putih itu, menimbulkan warna keabuan.

"Kau benar-benar akan meminumnya?" Suho menatap Kyungsoo dengan pandangan tak percaya.

Kyungsoo tertawa, lalu meneguk susu oreo itu dengan nikmatnya, kemudian menatap Suho mengejek, "Ini adalah minuman yang sangat lezat."

"Benarkah?" tanpa diduga, Suho mengambil gelas itu dari tangan Kyungsoo dan meneguknya. Sementara itu Kyungsoo tertegun dengan perbuatan Suho. Lelaki itu meneguk dari gelas yang sama dengannya, sebuah bentuk keintiman yang tidak disangkanya.

Kyungsoo masih tertegun ketika Suho meletakkan gelas di itu di depannya, tersenyum misterius.

"Kau benar, ternyata enak."

Kyungsoo masih melirik gelas itu, susunya masih setengah…

Tapi ada bekas bibir Suho disana. Apakah dia boleh meminum dari gelas itu? Kalau-kalau nanti mereka minum di tepi gelas yang sama… Bukankah sama saja mereka sudah berciuman secara tidak langsung?

Pipi Kyungsoo memerah dengan pikiran itu, membuatnya salah tingkah. Sementara Suho tampaknya tidak peduli, dia menatap Kyungsoo dan mengerutkan keningnya.

"Kenapa diam? Ada apa?"

Kyungsoo langsung menggelengkan kepalanya, dan meraih gelas susu itu dalam genggamannya, "Eh tidak ada apa-apa."

Suho mengedipkan sebelah matanya, "Kapan-kapan ajak aku ke Garden Cafe itu, aku ingin tahu seperti apa minuman paling lezat di dunia menurut versimu." gumamnya menggoda, lalu berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Kyungsoo di dapur.


Suho memarkir mobilnya di pelataran kampus. Kedatangannya di kampus Kyungsoo ternyata memang mencolok. Beberapa orang tampak berkerumun dan mulai menatapnya dengan tertarik. Beberapa perempuan tampak tak malu-malu melemparkan tatapan mata memuja. Suho sudah terbiasa menerima tatapan semacam itu, dari tatapan kagum, tatapan iri, tatapan memuja dan banyak lain jenisnya. Dia sudah belajar untuk tidak mempedulikannya. Dengan tenang dia melangkah melalui pintu kaca besar di gedung kampus itu dan melangkah menuju hall depannya. Kedatangannya rupanya sudah menyebar dengan cepat, karena salah satu petinggi kampus tampak turun dari tangga dan menyambutnya. Pengaruh mama Suho memang besar di kampus ini. Karena mama Suho adalah pemilik kampus swasta paling megah di Seoul ini. Meskipun itu tak menghentikan mereka membenci anak angkat mama. Batin Suho, mencibir dalam hati.

"Tuan Suho, kenapa anda tidak mengabarkan kedatangan anda sebelumnya?" petinggi kampus itu menyambutnya dan menyalaminya.

Suho menyambut uluran tangan itu dan tersenyum, "Saya bukan dalam kunjungan resmi menemani mama saya.

Saya hanya kebetulan lewat dan sekalian mampir untuk menjemput adik saya."

"Adik anda?" petinggi kampus itu mengerutkan keningnya, "Maksud anda, Kyungsoo?"

"Yah. Siapa lagi." Suho melirik beberapa orang yang tampak begitu tertarik, menguping percakapannya dengan sang petinggi kampus ini. "Terima kasih atas sambutan anda, sekarang saya akan mencari adik saya dulu."

"Eh… Apakah anda ingin duduk dan masuk di ruang tamu atas dulu, tuan Suho?"

"Tidak. Mungkin lain kali." Suho menganggukkan kepalanya dan melangkah meninggalkan petinggi kampus itu. Dia menelusuri koridor demi koridor berlantai marmer itu dengan tenang. Seluruh bagian dari kampus ini sudah sangat dihafalnya, karena dulu dia juga bersekolah di sini sebelum melanjutkan magisternya di England. Dia melangkah menuju kelas Kyungsoo, seharusnya, kalau Kyungsoo belum pulang, dia ada di sana. Suho rupanya tidak salah. Dia menemukan Kyungsoo sedang duduk di salah satu sudut kelas, sendirian dan membaca buku yang tampaknya sangat menarik baginya karena dia seperti larut di dalamnya, tak peduli dengan dunia luar. Rupanya perkuliahan sudah selesai dan sekarang para mahasiswa sedang berdiskusi santai sebelum pulang. Suho melangkah mendekat dan begitu orang-orang menyadari dia datang, suasana langsung berubah. Semua menatap ke arahnya, tetapi Suho tidak peduli.

"Kyungsoo." panggilnya lembut.

Kyungsoo yang sedang menunduk mengangkat kepalanya, menatap ke arah Suho, lalu matanya membelalak, kaget. "Kenapa oppa ada di sini?" suaranya setengah berbisik, setengah tercekik.

"Menjemputmu. Aku kebetulan lewat."

Kyungsoo menoleh ke arah sekeliling. Suho benar-benar membuktikan kata-katanya. Dengan kedatangannya ke sini, terang-terangan menjemput Kyungsoo, dia benar-benar ingin menunjukkan bahwa Kyungsoo adalah bagian dari keluarga Kim yang harus dihormati, Suho terang-terangan menunjukkan bahwa Kyungsoo harus diperlakukan sama seperti ketika mereka semua menghormati keluarga Kim. Semua orang memandang ke arah mereka. Dan ketika Kyungsoo menatap orang-orang itu, semuanya mengalihkan pandangan. Tidak berani balas menatap. Well, ternyata kehadiran Suho cukup mengintimidasi di sini. "Aku rasa tidak perlu oppa melakukan ini semua." Kyungsoo berbisik lirih, yang hanya bisa didengar oleh Suho saja.

Hal itu membuat Suho terkekeh, "Aku cuma datang menjemputmu Kyungsoo-ya, jangan berpikiran terlalu rumit. Ayo kemasi barang-barangmu, ikut aku."

Ketika itulah Kyungsoo menatap kedatangan Jongdae dari pintu kelas. Tadi Jongdae bilang mau ke kamar kecil, dia mengajak Kyungsoo untuk mampir ke toko roti di dekat kampus sebelum pulang dan Kyungsoo sudah bilang iya. Jadi dia tidak mungkin mengikuti Suho pulang begitu saja,

"Jongdae-ya!." Kyungsoo memanggil Jongdae yang tampak ragu melangkah ketika menyadari sosok Suho yang berdiri menghadap Kyungsoo, membelakangi Jongdae.

Suho yang menyadari nama Jongdae disebut langsung menoleh, penuh ingin tahu. Kata mamanya, Jongdae adalah mantan tunangannya. Dan sejauh yang diketahui Suho, kedatangan Jongdae kemari, meninggalkan London, kota yang bisa dikatakan merupakan tempat dia menghabiskan sebagian besar hidupnya masih misterius. Belum lagi alasannya mendekati Kyungsoo yang masih dipertanyakan. Yang berdiri di depan Suho adalah seorang perempuan yang cantik. Dengan tubuh mungil yang tampak rapuh dan rambut panjang menjuntai. Jongdae tampak seperti peri yang sangat cantik.

"Aku mungkin harus memprotes mama karena membatalkan pertunangan itu", Suho bergumam dalam hati, tetapi kemudian menatap Kyungsoo dan senyumnya semakin dalam, tetapi bagaimanapun juga Kyungsoo terasa lebih menarik, entah kenapa. Mungkin karena mereka berasal dari latar belakang berbeda, sehingga Suho merasa akan terus menemukan hal-hal baru jika bersama Kyungsoo. Suho lalu mengalihkan pandangannya kembali kepada Jongdae.

"Annyeong haseyo, aku sering mendengar namamu dari Kyungsoo." Suho bersikap ramah, seolah-olah tak tahu kalau Jongdae adalah mantan tunangannya.

Jongdae mengamati wajah Suho lama, sebelum kemudian tersadar dan menjabat uluran tangan Suho, "Annyeong haseyo. Aku Jongdae."

"Terima kasih sudah mau berteman akrab dengan adikku. Keadaan sulit baginya di sini, dan aku senang dia bisa menemukan teman yang bisa mendukungnya."

Jongdae tertawa, "Aku cuma mengikuti kata hatiku, dan tidak peduli dengan pemikiran dangkal orang-orang. Kyungsoo sungguh teman yang baik."

Kyungsoo yang masih duduk di kursi kelasnya mengamati kedua orang di depannya itu. Mereka tampak sangat cocok ketika berhadap-hadapan seperti itu. Tampan dan cantik, dan berkelas, dan sudah pasti sama-sama dari keluarga kaya. Kalau mereka berpasangan pasti akan menjadi pasangan yang membuat iri orang-orang yang memandangnya saking cocoknya.

"Kyungsoo. Ayo kita " Suho menarik tangan Kyungsoo

"Eh…" Kyungsoo tersadar dari lamunannya. "Tapi aku sudah berjanji kepada Jongdae untuk menemani ke toko roti…"

"Lain kali saja Kyungsoo, kasihan Suho sudah susah-susah menjemputmu kemari." Jongdae tersenyum manis, "Lagipula kita kan bertemu lagi besok, kita bisa kesana sepulang kuliah besok."

"Oh. Oke. Mianhae Jongdae-ya." Kyungsoo beranjak dari duduknya dan memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. "Aku tidak sabar menanti besok." Dia membiarkan Suho dengan gentle meraih tasnya dan membawakan tasnya.

"Aku juga tidak sabar." Jongdae melambai, masih dalam senyum manisnya.

Kyungsoo lalu melangkah mengikuti Suho. Meninggalkan Jongdae yang berdiri diam, mengamati mereka berdua sampai menghilang.


Malam itu hujan turun dengan lebatnya. Tak terkira, diiringi suara angin dan hujan. Sementara Kyungsoo berbaring diranjangnya gemetaran. Mencoba menutupi seluruh tubuhnya dari ujung kaki sampai dengan kepala dengan selimut. Tetapi setiap suara guntur menggelegar dia terlonjak kaget lalu meringis ketakutan. Tidak ada yang tahu selain ayahnya. Tetapi Kyungsoo memang takut dengan guntur. Dulu sewaktu kecil kalau mendengar suara guntur, Kyungsoo akan menangis meraung-raung. Dan ayahnya akan memasukkannya ke dalam selimut bersamanya. Ketika Kyungsoo beranjak dewasa pun sama saja, dia akan mengetuk pintu kamar ayahnya dan minta izin untuk bersembunyi di balik selimutnya sampai badai guntur di luar reda. Ayahnya adalah satu-satunya tempat Kyungsoo bergantung. Guntur berbunyi lagi, kali ini demikian kerasnya sampai membuat kaca-kaca dan kusen jendela bergetar menimbulkan bunyi yang tak kalah kerasnya. Kyungsoo berusaha menahan ketakutannya, sambil menyusut air matanya. Ayah… Ayahnya. Di saat seperti ini dia merasa amat sangat merindukan ayahnya, dan berharap ayahnya masih hidup.

Tiba-tiba lampu mati, gelap gulita. Cahaya yang masuk hanyalah kilatan-kilatan guntur yang menembus kegelapan, menimbulkan bayangan bayangan menakutkan yang kemudian menghitam secepat kilat. Kyungsoo makin gemetar, makin takut. Astaga. Kapan siksaan ini akan berakhir? Kapan hujan guntur itu akan berhenti? Kyungsoo begitu takut, ketakutan yang tidak mampu dijelaskannya ketika mendengar suara guntur. Ketakutan yang menggelayutinya, entah kenapa, dan entah karena apa. Lalu pintu kamarnya terbuka. "Kyungsoo, kau tidak apa-apa? Lampu mati sebentar sepertinya ada pohon tumbang menimpa kabel listrik di luar. Tetapi sedang diperbaiki…" Itu suara Suho. Dan kemudian, tanpa mempedulikan rasionalitasnya, meskipun nanti kalau dia sudah tidak ketakutan Kyungsoo pasti akan merasa malu, dia melompat dengan histeris dari ranjang, melemparkan selimutnya dan setengah berlari, lalu menubruk Suho dengan kerasnya, hingga tubuh lelaki itu sempat mundur sedikit, lalu memeluknya erat-erat. Pada saat yang sama guntur menggelegar lagi dengan kerasnya, dan seluruh tubuh Kyungsoo mulai bergetar.

"Kyungsoo?" Suho tidak menolak pelukan Kyungsoo. Dia balas memeluk perempuan kecil itu, berusaha menenangkan tubuh kecil yang gemetaran tenggelam di pelukannya. Ketika petir menggelegar lagi dan Kyungsoo berjingkat kaget lalu makin erat memeluknya, Suho tahu, Kyungsoo takut pada suara petir. "Sttt…"

Suho berbisik lirih, berusaha menenangkan Kyungsoo. Perempuan ini memeluknya begitu erat sampai membuatnya susah bernafas, dan Kyungsoo pasti melakukannya tanpa sadar. Suho tersenyum, kalau Kyungsoo sadar, dia pasti tidak akan mau memeluknya seperti ini. Tiba-tiba Suho teringat, lalu tersenyum penuh syukur, untunglah hujan deras waktu itu, ketika dia menemukan Kyungsoo setelah terusir dari mansion, hujan deras waktu itu tidak dihiasi oleh petir yang menggelegar seperti ini. Kalau tidak mungkin Kyungsoo sudah melemparkan dirinya ke pelukan siapapun yang dia temukan, Suho tersenyum kecut. "Sttttt… Tenanglah aegi, jangan takut. Ada aku di sini. Lampu akan menyala sebentar lagi. Ayo akan kutemani kau sampai tertidur."

Seluruh tubuh Kyungsoo bergetar ketika Suho mengangkatnya seolah dia sangat ringan, lalu meletakkannya di ranjang, Suho duduk di tepi ranjang dan menyelimuti Kyungsoo.

"Tidurlah, aku akan ada di sini menemanimu."

Kyungsoo mengangguk, dan memejamkan matanya. Petir menyambar-nyambar di luar dan suara guntur menggelegar, tetapi kehadiran Suho rupanya membuat Kyungsoo lebih tenang. Perempuan itu masih mencengkeram jemari Suho seolah takut di tinggalkan. Dan kemudian lampu menyala kembali, memenuhi kamar dengan nuansa kuning lampu tidur yang temaram. Hujan mulai reda pada akhirnya, lama kemudian, meskipun aliran airnya masih tercurah ke bumi.

Kyungsoo tampaknya sudah di ambang tidurnya, dia menatap Suho dengan mata setengah terpejam dan tersenyum. "Gomawo.Suho oppa" gumamnya pelan sebelum larut di dalam tidurnya. Suho hanya menatap Kyungsoo yang sudah terlelap itu. Dia lalu hendak melangkah berdiri, tapi tangan mungil Kyungsoo ternyata masih menggenggam tangannya begitu erat. Lelaki itu lalu duduk lagi dan termenung di atas ranjang, kembali menatap wajah Kyungsoo dalam-dalam.

Tadaaaa….

Ini dia update-an nya. Dua part sekaligus

Semoga suka ya

Di chapter ini ada yang ditambahin dikit sih dari cerita aslinya.

Terima kasih kepada pembaca yang sudah review chapter sebelumnya.

Selamat datang kepada pembaca baru.

Oke,jangan lupa klik reviewnya ya readers,supaya author tau kesan dan pesan kalian

Annyeong ^^