a/n: Semua! Chapter 2 update! Jadii, berapa hari? Tumben author cepat updatenya ya? Haha, sedang libur jadi waktu luang terpakai semuaa^^ Terima kasih untuk readers yang sudah mau membaca fic ini! Yang review, fav, and follow juga terima kasih! Author senang sekali^^ Author tidak menyangka dengan jumlah review di chapter pertama O_O! (I'm a bit suspicious with that).Tapiii jadi bingung sendiri balasnya gimanaa T^T, jadi di chapter ini author sebutkan yang me-review dan balas sekalian semua ya? Tidak apa-apa bila begitu? Dan balas reviewnya di bawah~! Maaf bila ada misstypo m(_ _)m. Chapter satu ini kayanya panjang deh XD (?) ohiya, marga Kazusa di sini author ubah ya? okee cukup sekian~
Selamat membaca~^^~
Disclaimer: Kamichama Karin & Kamichama Karin chu © Koge Donbo
Warnings : AU, OC, OOC, miss typo, dll
.
.
.
~*Out On A Limb*~
[Himeka POV]
Hari ini aku akan menghampiri Karin. Aku tidak akan takut dengan mereka, para pembully. Maksudku, aku tahu Karin adalah ketua dari mereka, tapi kemarin Karin berkata bahwa ia merasa bersalah karena telah menggunting rambutku dan ia berniat untuk merapikannya untukku. Dan aku ingin mengetahui apakah yang ia lakukan kemarin termasuk permainan mereka atau memang Karin merasa bersalah?
"Himeka!" seru seorang pemuda yang berlari mendekatiku dari arah gerbang sekolah. Aku lihat sosok itu baik-baik dan ternyata ia adalah Kazune, sepupuku yang kemarin malah menampar Karin tepat di hadapanku.
"Kazune? Ada apa?" tanyaku memastikan bahwa ia baik-baik saja karena ia seperti tergesa-gesa. Kazune sendiri tidak datang sendiri, anggotanya yang lain kini mulai berdatangan dari belakangnya dan menyapaku dengan senyum di wajah mereka. Hm, untung saja aku sudah terbiasa dengan senyum mempesona mereka. Bila tidak, aku akan segera berteriak histeris seperti...
"Kyaaa~ Kyaaa~" ya, contohnya seperti yang aku dengar saat ini dari belakang mereka, para fansnya yang setia mengejar mereka kemana pun mereka pergi.
"Uh Himeka, boleh aku minta bantuanmu? Sekali saja! Aku mohon!" pinta Kazune dengan merapatkan kedua telapak tangannya di hadapanku. Sejenak aku terdiam karena tingkahnya yang aneh. Apa yang bisa aku perbuat untuk 'berandalan' seperti dirinya?
"Hm, baiklah. Bila aku bisa. Memang ada apa?" tanyaku kembali. Saat aku menjawabnya, Kazune menghela napas panjang yang sepertinya mengisyaratkan bahwa ia merasa lega karena aku akan membantunya. Tapi... apa yang bisa aku lakukan? Aku penasaran.
"Hari ini aku ada keperluan di tempat yang agak jauh, jadi... bisa kau membuat izin untukku? Ya? Aku mohon!" pinta Kazune kembali dengan memelas. Ohhh, akhirnya aku mengetahui apa maksud dari permintaannya itu. Karena aku satu kelas dengannya, Kazune ingin aku mengatakan bahwa dirinya tidak masuk sekolah karena izin? Ck, dasar.
"Baiklah, asalkan hanya hari ini saja. Kau tidak boleh bolos untuk esok harinya. Tapi, memang ada apa kau pergi ke tempat yang agak jauh?" tanyaku penasaran. Saat mendengar pertanyaan yang sepertinya memojokkan dirinya, teman-teman yang berada di belakangnya pun tertawa garing mengalihkan perhatian dan mereka menggaruk belakang kepala mereka yang tidak gatal.
'Hey hey hey, aku mencium sesuatu yang tidak beres di sini.' Batinku berbicara sembari melontarkan tatapan menyelidik kepada Kazune.
"U-Uh, sebenarnya belakangan ini kami mendengar bila berandalan kota membuat ulah di sekitar wilayah XQ. Tapi aku tidak akan melakukan apa-apa pada mereka, tenang saja Himeka. Hehe." Ujar Kazune dengan tergagap. Aku tahu ada kebohongan dalam kata-katanya itu dan hal seperti itulah membuatku mendengus kesal melihat sepupuku memulai ide nakal lagi.
"Huh, terserah. Asal kau tidak berbuat macam-macam dan tidak merusak nama baikmu aku tidak akan melarangmu." Ujarku sembari membalikkan badanku dan berlalu meninggalkan mereka yang berteriak kegirangan setelah mendapat izin dariku.
Tapi baru saja beberapa langkah aku maju.
Bets!
Tiba-tiba Kazune menarikku sedikit kencang sampai aku hampir terjatuh ke belakang. Astaga, sebenarnya apa lagi maunya? Bukannya aku sudah—
"Che! Menghalangi saja!" cibir seseorang di hadapanku yang di belakangnya sudah berkumpul beberapa temannya. Aku melihat pada wajahnya dan ternyata mereka adalah para pembully. Seperti biasa, mereka sepertinya mulai memanas-manasi mangsanya, atau bisa dibilang mangsanya itu adalah aku. Aku ingin sekali membalas mereka dengan tatapan sinis, tapi niatku terpatahkan dengan Kazune yang maju di depanku dan menatap mereka lebih tajam dari biasanya. Lalu diikuti dengan Michi, Jin, dan Yuuki yang menghalangiku dengan punggung bidang mereka. Bila dipikir-pikir situasi ini membuatku sedikit takut, karena bisa saja mereka bertengkar karena diriku.
"Pergi dari hadapanku!" sentak Kazune membuat mereka terkejut dan melangkahkan kaki mereka menjauh dariku. Aku sendiri menatap Kazune dengan shock. Bila dirinya sedang pada mode 'berandal' ternyata ia bisa juga mengerikan ya? O_o
"S-Sudahlah Kazune. Jangan sampai kau terbawa emosi hanya karena mereka mencibir," kataku mencoba meluluhkan hatinya. Tapi sepertinya rasa kesal Kazune sudah sedikit tinggi, aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menenangkannya.
"Ck! Yasudah! Bila ada apa-apa denganmu, cepat hubungi aku." Ujar Kazune sembari meredam amarahnya. Lantas ia langsung mengisyaratkan pada Michi, Jin, dan Yuuki untuk segera pergi dari sekolah dan pada akhirnya mereka meninggalkan aku juga di sini sendiri.
"Haah mereka itu.. Eh tapi.. kenapa aku tidak melihat Karin diantara para pembully ya?"
.
.
.
.
[Kazune POV]
Dengan kecepatan tinggi aku mengemudikan motor diikuti dengan teman-temanku yang lain. Rencananya hari ini aku ingin mengobservasi wilayah XQ yang katanya menjadi tempat berkumpul para berandalan kota, mereka sering berbuat onar di sekitar wilayah itu, dan yang membuatku sedikit naik pitam adalah karena aku mendengar bila salah satu murid Sakuragaoka, sekolahku, menjadi bahan pembullyan mereka.
"Kazune! Bukannya itu seragam sekolah kita?" tanya Yuuki dari sampingku sembari mengendarai motornya dengan hati-hati. Aku melihat ke arah yang ditunjukkan Yuuki dan mendapatkan sekumpulan orang sedang mengerumuni seorang murid Sakuragaoka.
"Tidak salah lagi, ayo!" seruku begitu melihat seseorang itu terpojokkan ke sebuah gedung kosong dan aku langsung menancap gas menghampiri mereka.
Vrroom! Vroooom! Vrooooom!
Gerungan motorku sepertinya mengalihkan perhatian mereka terhadap kami yang baru datang. Jumlah mereka memang banyak dan wajah-wajah mereka pun tidak ada satu pun yang menampakkan bahwa mereka orang baik. Setelah itu aku turun dari motorku dan dengan lancang mendekati mereka.
"Jadi, ada perlu apa kalian dengan murid sekolah kami?" tanyaku dengan serius. Para berandalan itu terdiam dan menatap kami dengan sinis seperti melihat penggangu datang. Benar sekali, kami adalah pengganggu yang akan segera menghabisi para pengganggu.
"Kau sendiri? Mau apa kau kemari? Menjadi pahlawan? Ha! Jangan pikir kau bisa mengalahkan kami hanya dengan empat orang seperti kalian! HAHAHA!" seru mereka dilanjut dengan tawa keras. Di sela menahan amarahku, aku sempat melihat seorang gadis yang sedang dikepung oleh para berandalan itu, kalau tidak salah dia adalah adik kelas yang lumayan populer di angkatannya. 'Oh, jadi mangsa mereka adalah anak populer huh?'
"Hey! Jangan diam saja! Katakan apa yang kau inginkan dari kami, huh?!" tanya salah satu dari mereka dengan nada marah. Mendengarnya seperti itu semakin membuatku naik darah. Tanpa ragu lagi kini aku memasang wajah mode berandalanku, tatapan sinis sudah terpajang pada mataku dan dengan sekali tarikan napas aku mencoba mengucapkan kata-kata yang sedari tadi aku tahan.
"Bila kau ingin kabur, aku beri kau waktu 10 detik dari sekarang.."
.
.
.
[Karin POV]
Gawat. Semuanya semakin gawat! Baru saja aku keluar dari rumah karena dipanggil oleh para pembully, masalah baru muncul dan itu bukan karena ulahku, tapi karena mereka, para berandalan sekolahku yang tiba-tiba muncul menjadi pahlawan untuk menyelamatkan adik kelas yang aku kenal. Mereka menghabisi berandalan kota itu dengan sekejap mata dan meninggalkan mereka di gedung tua.
Aku sendiri sedang bersembunyi di balik tiang besar penyangga bangunan toko kue yang dekat dengan gedung tua itu. Untung saja aku datang setelah mereka pergi, karena bila aku muncul di saat yang tidak tepat itu, mungkin akulah yang mendapat masalah.
"Karin." Namaku terdengar begitu berat keluar dari seseorang di belakangku dan membuatku terperanjat. Dengan sigap aku menolehkan wajahku ke belakang dan mendapatkan para pembully dengan seragam mereka dan wajah sinis yang mereka pasang.
"K-kenapa kalian ada di—"
"Kami hanya ingin tahu. Apa kau orang yang memberitahu lokasi gedung tua itu pada para berandalan sekolah, huh? Setahu kami, tidak ada yang mengetahui bahwa murid Sakuragaoka menjadi bahan bullyan para berandalan kota." Ujar sang leader dengan nada memojokkanku, atau kalian ingin tahu namanya? Baiklah, akan aku beritahu nama dari leader yang asli dari para pembully, dia adalah Rika Karasuma. Gadis paling ditakuti setelah aku di sekolah. (Karena akulah yang menjadi leader bayangan di sekolah).
"B-Bukan aku. Aku tidak pergi ke sekolah hari ini, bukan?" tanyaku tergagap. Mereka menilik-nilik gerakanku. Mencari tahu apa yang aku katakan itu bohong atau benar. Aku berdoa dalam hatiku agar mereka percaya kepadaku, karena bila mereka salah paham dan mengira aku yang memberi tahu para berandalan, maka sesuatu yang buruk akan terjadi padaku.
"Ck! Yasudah! Hanya satu mangsa yang diselamatkan, tidak masalah bagiku. Tapi rencanaku gagal dengan adik kelas itu! Agh! Sekarang satu-satunya orang yang bisa aku manfaatkan sepertinya tertinggal hanya satu.. Betul bukan, Karin?" senyuman sadisnya kembali membuat sekujur tubuhku merinding. Aku tahu dibalik nada dingin itu ada sesuatu yang ia sembunyikan, dan aku akan menjadi bonekanya lagi.
"T-Tapi..!" aku berniat untuk menolak apa pun itu yang akan mereka katakan padaku, tapi niatku terurungkan dengan tatapan mereka yang semakin tajam.
"Jangan sampai aku kesal padamu lagi, Karin. Kau beruntung karena hanya mendapatkan memar, tapi bila sekali lagi kau membuatku kesal, bukan hanya patah tulang yang akan kau dapat."
.
.
(Skip time)
Keesokan harinya, aku harus pergi ke sekolah. Kemarin aku tidak pergi ke sekolah, selain karena para pembully melarangku, aku juga takut mereka melampiaskan kekesalan mereka kepadaku. Aku juga tidak ingin luka yang aku dapat dari mereka terlihat oleh orang lain di sekolah. Bisa-bisa aku dibuat lebih buruk lagi oleh mereka.
Bila dipikir-pikir, hari ini benar-benar akan menjadi hari yang berat bagiku. Karena aku harus memberi pelajaran kepada adik kelas yang kemarin diselamatkan oleh para berandal sekolah. Adik kelas itu bernama Kazusa Shiori, gadis dengan penampilan menarik mempunyai rambut panjang berwarna blonde pirang dan kedua iris safir yang mirip seperti milik ketua berandal sekolah. Gadis itu terlalu baik hati dan manis untuk aku apa-apakan! Ahhh! Aku merasa frustasi!
"Haah...!" lagi-lagi helaan napas keluar dari mulutku. Mengingat tugas yang mereka berikan kepadaku saja sudah membuatku muak, aku benar-benar tidak ingin melakukan apa yang mereka suruh. Untuk melangkahkan kakiku saja rasanya berat sekali. Di depan gerbang sekolah ini aku bisa melihat para berandal sekolah datang dengan motor mereka dan masuk ke tempat parkir sekolah. Tidak hanya itu, seperti biasa dengan sembunyi-sembunyi para pembully memerhatikan mereka dari jauh, dan aku harus menghampiri mereka untuk aktingku sebagai ketua pembully.
Aku mulai memasang wajah 'ketua pembully'ku saat aku memasuki gerbang sekolah. Lantas dengan segera aku berjalan menuju para pembully yang berada di depan gedung sekolah. Tentu saja mereka menyambutku dengan wajah manis mereka di sekolah. Tapi aku tidak pernah terbiasa dengan senyuman palsu mereka itu.
"Hai Karin~ Kau siap menjalankan tugasmuu~?" tanya Rika dengan manis. Aku terdiam sejenak menatap mereka lalu memalingkan wajahku sembari mengangguk. Hanya jawaban itulah yang dapat membebaskanku dari bullyan mereka.
"Baiklah~ Jam istirahat, di atap sekolah~ Jangan lupa oke?!" seru Rika sembari mempersilakan aku maju duluan ke dalam sekolah. Dan akhirnya aku harus menjalankan tugas itu walaupun aku tidak ingin...
.
.
[Himeka POV]
Hari ini aku melihat Karin di antara para pembully itu dari kelasku yang berada di lantai dua dan tepat sekali jendela di kelasku mengarah ke lapangan sekolah. Tapi apa aku salah lihat ya? Karin terlihat tidak seperti biasanya. Wajahnya yang biasanya begitu dingin, kini tersirat kesedihan di dalamnya.
"Ada apa ya?" tanyaku berbicara sendiri di bangkuku. Mungkin ada masalah dengannya? Atau... eh? Kenapa aku jadi merasa khawatir dengan ketua pembully?!
"Sedang apa kau melamun saja Himeka?" tanya seseorang dengan suara yang sangat aku kenal. Ya, tidak salah lagi, sepupuku yang kemarin membolos.
"A-Aku tidak melamun. Aku sedang memperhatikan mereka." Ujarku sembari menunjuk ke arah para pembully yang sedang berjalan menuju gedung sekolah. Kazune mengikuti arah tanganku dan melihat mereka dengan wajah yang kesal. Nah, sekarang ada apa lagi dengannya?
"Grr! Aku sangat ingin memberi mereka pelajaran!" geram Kazune sembari memalingkan wajahnya ke arah lain. Aku kembali penasaran dengan masalah apa lagi yang sedang terjadi saat ini. Sepertinya masalah kali ini ada hubungannya dengan kejadian kemarin saat ia membolos.
"Memang ada apa lagi Kazune?" tanyaku sedikit gugup. Kau tahu kan bila sedang kesal wajah Kazune seperti apa? Bayangkanlah, seperti godzilla!
"Mereka adalah dalang dari pembullyan adik kelas kita oleh berandalan kota. Ternyata selama ini mereka bersekongkol dengan berandalan kota dan aku tahu informasi ini dari adik kelas yang kemarin hampir di bully oleh mereka." Jawab Kazune dengan malas-malasan menjawabnya. Ohhh, aku pikir aku mengerti dengan kekesalannya terhadap para pembully. Tapi aku masih mempunyai perasaan aneh pada Karin, sang ketua pembully.
"Lalu apa yang kau lakukan kemarin, Kazune?" tanyaku sekali lagi untuk memastikan bahwa ia tidak melakukan hal yang buruk.
Dengan api yang berkobar dalam matanya ia menjawab, "Tentu saja aku menghabisi mereka dan menyelamatkan adik kelas itu!"
"..." aku hanya bisa sweatdrop mendengar jawabannya yang... benar-benar.. ugh! Apa dia tidak memikirkan resikonya?!
"Hm? Ada apa?" tanyanya.
"Kazune! Bukankah ada kemungkinan bila mereka akan balas dendam kepada kalian dan adik kelas itu di sekolah?!"
"..."
"..."
"... Benar juga..."
.
.
.
(Skip time)
[Karin POV]
Waktu berlalu dengan cepat dan begitu pula dengan waktuku untuk mengerjakan tugasku dari para pembully. Dengan mudahnya para pembully memancing Kazusa ke atap sekolah hanya dengan surat cinta palsu yang mereka buat dan aku yang mengirimnya ke loker miliknya. Benar-benar merasa bersalah aku ini saat melihat wajah Kazusa penuh dengan shock saat membuka pintu atap sekolah dan mendapatkan para pembully berkumpul.
Keringat dingin mulai bercucuran dari pelipis adik kelas yang sedang berdiri di hadapanku dan para pembully. Tubuhnya gemetar karena mengingat perlakuan para pembully yang sangat membuat trauma semua korbannya, termasuk aku. (?)
"Hmm, kau senang sudah diselamatkan oleh mereka? Para pangeran kesiangan? Ahhh, atau kau juga.. memberitahu mereka bila kita adalah dalang dari semuanya, huh?!" tanya Rika memanas-manasi suasana. Baru mendengar suara yang dingin milik Rika itu Kazusa sudah mulai berjalan mundur mendekati pintu keluar atap, berusaha mencari celah untuk kabur. Tetapi pintu atap sekolah sudah dikunci oleh mereka bukan?
"Kazusa Shiori, kau gadis populer di seluruh angkatan karena kecantikanmu dan juga kepandaianmu. Tapi... aku tidak suka denganmu.." ujar Rika menekankan kalimat akhirnya. Kazusa menundukkan kepalanya mencoba tidak menatap Rika tepat di matanya. Karena aku pun tahu, hanya dengan melihat matanya yang seperti pisau itu pun dapat membuatku tidak bisa bergerak.
"Ck! Aku semakin risih melihat wajahmu! Lebih baik aku selesaikan masalah ini sekarang!" pekik Rika dan ia berbalik menghadapku dengan wajah kesalnya.
Karena ia berbalik tiba-tiba aku pun terkejut dan melangkah mundur beberapa kaki darinya. Ia melihat gerakanku dan ia tersenyum. Senyuman yang paling aku tidak suka darinya. Senyuman evil.
"Habisi dia sekarang, Karin."
Perintah itu merasuk kedalam tubuhku dan membuat badan ini kaku. Aku tidak ingin melakukan apapun pada Kazusa. Aku tidak ingin melukainya! Kazusa mengetahui aku bukan ketua pembully yang asli dan dia pernah menolongku. Dia orang yang sangat tidak ingin aku lukai! Karena dia.. dia satu-satunya orang yang mengetahui posisiku yang asli..
.
(Flashback)
Angin dingin berhembus menembus kulitku sampai ke tulangku. Tubuhku sudah menggigil, nyeri-nyeri karena dipukuli, dan aku hanya bisa tergeletak di lantai yang dingin.
Tap.. tap.. tap.. tap.. Tap! Tap! Tap! Tap!
Suara langkah kaki yang asalnya terdengar pelan kemudian tergesa-gesa mendekatiku. Aku tidak bisa membuka mataku karena aku terlalu lelah. Tapi aku bisa mendengar suara seorang gadis yang memanggil namaku, entah siapa itu tetapi orang itu menghampiriku dan saat itu juga aku merasakan kehangatan yang menyelimutiku.
"S-Senpai? K-Kau tidak apa-apa?"
(End of Flashback)
.
"T-Tapi..." satu kata itu keluar dari mulutku dengan susah payah. Namun ternyata Rika benar-benar tidak ingin mendengar satu kata pun dariku, karena ia langsung menarik kerah seragamku dan melemparku mendekati Kazusa yang berada di pintu keluar atap.
Brugh!
"U-Ugh!" ringisku saat merasakan tubuhku yang terhempas ke lantai.
"Cepat lakukan! Aku tidak ingin ada penolakan apapun darimu!" sentak Rika dengan keras.
Aku memalingkan wajahku dan hanya menatap lantai dengan genangan air di pelupuk mataku. Tenggorokanku kering dan sakit menahan keinginanku untuk menangis dan membantah perintahnya. Apa yang harus aku lakukan?! Haruskah aku melukai orang yang tidak berdosa hanya karena takut oleh seorang manusia?!
"Karin! Kau tunggu apa lagi?!" seruan Rika membuatku tersadar dari lamunanku dan tanpa aku sadari, Rika dan gadis-gadis yang lainnya sudah memegangi tangan Kazusa agar tidak kabur.
"T-Tidak! Lepaskan aku! Lepaskan aku!" Kazusa memberontak saat tangannya mereka pegangi dengan kuat. Tetapi usahanya itu tidak menghasilkan apapun, ia malah mendapatkan perlakuan yang lebih kasar lagi dari para pembully, khususnya Rika.
"Kau diam! Dan kau Karin! Aku tidak akan mengulangi kata-kataku lagi! Sekarang cepat habisi dia!" sentak Rika semakin keras. Para pembully sudah memperlihatkan wajah sinisnya kepadaku, dan itu artinya mereka sudah mulai kesal.
"K-Kh!" aku mulai benar-benar tidak bisa membantah mereka karena rasa takutku semakin meluap dan membuat tubuhku bergerak sesuai keinginan Rika. Pada akhirnya, dengan tidak ada niat sedikit pun, aku berdiri, dan menyiapkan tanganku yang sudah dikepalkan.
"S-Senpai!" seru Kazusa dengan memelas dan wajah ketakutannya menancap ke hatiku. Air mataku kembali berlinang dan beberapa tetes terjatuh membasahi pipiku.
"K-Kazusa... M-Maaf..!"
Dengan sekuat tenaga aku melayangkan tanganku ke arah Kazusa dan saat itu juga suara hantaman terdengar.
.
BRAK!
.
"Kau berani berbuat ulah lagi?!"
.
Pintu atap terbuka dengan paksa dan menampakkan beberapa orang yang berwajah kesal. Kejadian itu tepat sekali saat tanganku hampir menyentuh wajah Kazusa yang membelalakan matanya terkejut.
"Kalian itu orang paling menjengkelkan yang pernah aku temui!" suara baritone dari seorang ketua berandal terdengar nyaring di telingaku. Ternyata mereka sudah mencium ada sesuatu di atap sekolah, pikirku. Sebenarnya ada rasa syukur karena mereka datang menyelamatkan adik kelas itu, tapi aku sedikit takut dengan wajahnya itu.
Para pembully bergegas menjauh dari Kazusa dan berkumpul di satu tempat memasang wajah kesal mereka. Tapi Kazune maju menghadap kepadaku dengan tatapan sinis, secara aku adalah orang yang paling dibenci oleh ketua berandal sekolah.
"M-Mau apa kau kemari?" tanyaku sedikit tergagap. Selain karena aku takut dengan wajah kesalnya, aku pun masih gemetar karena kejadian sebelumnya.
"Kau yang bersekongkol dengan para berandalan kota itu, bukan?!" Sentak Kazune dengan keras membuatku terperanjat saat mendengar suaranya yang meninggi. Aku memalingkan wajahku ke arah lain dengan reflek karena wajahnya sudah sangat dekat dengan wajahku.
"A-Apa urusannya denganmu?!" tanyaku balik kepadanya. Saat aku mulai menaikkan nada bicaraku, Kazune pun semakin terlihat geremat sekali. Tubuhnya yang sudah bergetar menahan amarah itu membuatku semakin takut menghadapinya. Tangan kanan ia kepalkan kencang-kencang dan aku pun sudah menyiapkan nyaliku untuk menerima tamparannya lagi...
"Ha, kau pikir aku akan menamparmu lagi? Sayang sekali, aku membawa yang lain untukmu." Ujar Kazune sembari membalikkan tubuhnya dan ia menepukan tangannya seperti memberi isyarat.
Pak pak!
Tidak kusangka, ia malah mundur membalikkan tubuhnya dariku, dan sekelompok perempuan yang memakai seragam Sakuragaoka dengan tidak benar itu muncul. Anggota berandal yang lainnya, Yuuki, Michi, dan Jin hanya tertawa kecil saat melihat mereka datang dan memperlihatkan senyum kemenangannya.
"Inikah orangnya?" tanya salah satu gadis yang entah dari mana asalnya itu kepada Kazune. Kazune pun langsung mengangguk dan melihatku dari jauh bersama anggota yang lainnya.
"Well, sayang sekali, wajahmu manis, tetapi aku harus menghajarmu..."
.
.
.
[Normal POV]
Bugh! Bugh! Bugh!
Suara hantaman itu terdengar menusuk telinga sang adik kelas yang hanya bisa terdiam terkejut melihat Karin dipukuli oleh utusan Kazune. Para pembully yang lain berhasil kabur karena dibiarkan oleh Kazune. Kini hanya tertinggal Karin sebagai ketua pembully yang menerima konsekuensinya.
"Uhk! Uhk!.." ringisan Karin begitu perih terdengar oleh sang adik kelas. Ia tidak bisa berbuat apa-apa meskipun ia sangat ingin memberitahu para berandal bahwa Karin bukanlah ketua pembully.
"H-hentikan!" suaranya yang sedikit serak karena gemetaran itu mengalihkan perhatian Kazune dari tontonannya. Ia terheran karena sang adik kelas malah memintanya untuk berhenti menyuruh para gadis memukuli Karin. Dan terbesit pikiran, 'Mungkin dia takut bila pembully akan balas dendam lagi kepadanya?'
Lantas Kazune menghampiri Kazusa dan berbisik kepadanya, "Tenang saja, kau akan kami lindungi. Sekarang.. biarkan dia merasakan apa yang sudah ia lakukan selama ini." Ujar Kazune dengan dingin saat mengucapkan kalimat terakhirnya.
"B-Bukan begitu, S-Senpai! Tapi K-Karin-Senpai—"
DUGH!
Tinjuan keras terdengar dari arah Karin dan ternyata Karin sendiri yang meninju lantai. Kazusa ikut mengalihkan perhatiannya pada Karin dan saat itu Karin menatapnya dengan penuh arti. Seakan ia berbicara, 'Jangan beritahu mereka! Kau diam saja!'
Ia tersentak dengan tatapan mata Karin seperti itu. Begitu pula dengan Kazune yang tidak mengerti dengan tatapan Karin sama sekali, ia malah menganggap bila Karin menakut-nakuti adik kelasnya itu.
"Kau masih bisa memojokkannya disaat seperti ini?!" tanya Kazune kesal. Karin masih tetap memaku pandangannya pada Kazusa dan lagi-lagi dengan tatapannya ia mengarahkan Kazusa ke arah pintu atap sekolah. Karin ingin Kazusa lekas pergi dari atap karena bila tidak, pasti ia akan membongkar rahasia tentang Karin sebagai 'ketua' pembully itu.
"Kau jangan diam saja!" sentak Kazune menghampiri Karin dan menghalangi pandangan Karin terhadap Kazusa. Karin pun dibuat berdiri oleh para gadis yang diutus Kazune dan menghadapkannya kepada Kazune. Tapi Karin tidak memberontak, ia malah tersenyum dan tertawa kecil meremehkan.
"Haha... Kau takut denganku?" tawa itu mengundang amarah Kazune memuncak dan kali ini tangannya sudah melayang tepat ke arah wajahnya.
PLAK!
"S-Senpai!" teriakan Kazusa terdengar seperti protes karena ia sudah kehilangan kesabaran, ia tidak bisa melihat Karin diperlakukan seperti itu. Tetapi saat ia berjarak beberapa langkah mendekati Karin, tatapan Karin dengan cepat dan sinis menghentikan pergerakkannya dan membuat Kazusa terdiam beberapa langkah dari mereka. Ia mengisyaratkan, 'Cepat pergi dari sini!'.
"T-Tapi—"
"Kau senang melihatku seperti ini?!" sentak Karin kepada Kazusa yang terkejut. Karin sebenarnya hanya ingin Kazusa pergi, tapi sejak tadi Kazusa tidak menuruti keiinginannya, dan Karin terpaksa untuk mengeluarkan kata-kata itu pada Kazusa.
Kazune pun kembali mengalihkan perhatiannya kepada Karin dan menarik kerah seragam Karin mendekat kepada dirinya.
"Kau diam atau akan aku robek mulutmu!" sentak Kazune dengan mata yang penuh dengan kebencian. Untuk kesekian kalinya Karin memalingkan wajahnya dari Kazune. Tatapan Karin kembali kepada Kazusa dan kali ini Kazusa sudah terlihat benar-benar akan menangis. Tentu saja, Kazusa tahu betul bila Karin melakukan semua ini demi kebaikannya, tetapi Kazusa tidak bisa rela melihat Karin dipukuli seperti itu demi dirinya!
"K-Karin-Senpai...!" panggilan nama Karin di sela isakan Kazusa terdengar kecil sekali sampai yang lain tidak bisa mendengarnya, tetapi Karin yang melihat pergerakkan mulutnya sadar bahwa adik kelas itu memanggilnya.
"Aku bilang pergi—!"
"Kau benar-benar harus diberi pelajaran!" dengan nada bicara semakin tinggi Kazune memotong ucapan Karin. Dengan kasar Kazune mendorong Karin ke lantai, kepalanya yang membentur atap sekolah sampai menghasilkan suara keras.
DUGH!
.
.
[Karin POV]
"U-ugh..." aku meringis saat merasakan kepalaku pusing dan pandanganku berputar. Tubuhku seketika menjadi lemas dan aku hanya bisa merasakan begitu pusingnya kepalaku.
"Kazune! Kau sudah melewati batas! Apa kau ingin membunuhnya?!" seru anggotanya yang bernama Michi itu sembari menarik Kazune menjauh dariku. Meskipun aku sudah tidak ditahan di lantai olehnya, tetap saja aku tidak bisa menggerakkan tubuhku. Aku sudah sangat lemas karena pandanganku yang masih berputar karena pusing.
"Ck! Kau selamat hari ini! Lain kali aku melihatmu membully lagi, aku tidak akan segan-segan denganmu!" sentak Kazune dengan sinis dan ia melangkahkan kakinya keluar dari atap sekolah bersama yang lainnya.
Terkecuali... gadis yang sejak tadi tetap bertahan di atap. Kazusa tidaklah pergi mengikuti mereka. Ia hanya berdiri di dekat pintu keluar memperhatikanku sembari mengeluarkan air matanya yang sejak tadi terbendung.
Kini hanya ada aku dan Kazusa yang menangis. Aku mencoba membalikkan tubuhku yang asalnya menghadap ke lantai dengan sisa tenaga yang aku miliki, lalu saat aku berhasil menghadapkan tubuhku ke langit yang cerah itu, kepalaku semakin pusing dan kelopak mataku yang semakin ingin menutup.
Tap.. tap.. tap.. tap.. tap..
Suara langkah kaki ringan yang tidak asing di telingaku terdengar dari arah kananku dan dengan perlahan langkahnya terhenti di sampingku bersamaan dengan pecahnya isak tangis darinya.
"U-Uhh..! Hiks.. Senpai...! K-kenapa kau tidak meminta bantuan?! Hiks... Kau bisa meminta bantuan kepada polisi, guru, ataupun Kazune-Senpai, bukan?!" tanya Kazusa masih sambil menangis. Aku masih bisa mendengarnya, aku juga masih bisa berbicara, hanya saja mataku lelah dan aku sedang tidak ingin melihat wajah Kazusa yang bersimpati kepadaku.
"Kazusa, kau tahu kakakku sedang berada di rumah sakit? Kau tahu mereka mengancamku dengan nyawa kakakku, bukan? Aku tidak mungkin melawan perintah mereka, karena aku tidak ingin kehilangan keluargaku lagi..." ujarku dengan lemas. Mungkin suaraku pun tidak terdengar olehnya karena aku berbicara seperti berbisik-bisik.
"A-aku tahu.. Tapi... Hiks.. Apa kakakmu akan senang bila melihat adiknya berkorban seperti ini demi dirinya?! Apa kau tidak pernah menanyakannya kepada kakakmu, Senpai?!" tanya Kazusa dengan nada kesal. Untuk menanggapi pertanyaannya, apa yang harus lakukan? Aku hanya bisa tersenyum... masam.
"Pernah. Aku pernah menanyakannya.. B-bahkan sudah satu tahun yang lalu aku menanyakan hal itu kepada kakakku." jawabku dengan nada yang menggantung.
"L-lalu jawabannya?" tanya Kazusa penasaran.
Sejanak aku terdiam. Aku.. teringatkan lagi dengan pertanyaan itu, pertanyaan yang selama ini belum aku temukan jawabannya.
.
.
(Flashback)
"Hiks.. Kakak.. Kakak buka matamu, kak! Hiks..." di pinggir ranjang tempat Kakak berbaring aku terus terisak. Terus menanti kedua kelopak mata milik kakakku itu terbuka dan berbicara kepadaku.
Baru kali ini aku menangis di sampingnya. Baru kali ini juga aku merasa sendiri di dunia yang penuh keasingan. Hari ini pertama kalinya aku bertemu dengan para pembully, dan hari ini menjadi hari terburuk sepanjang masa hidupku. Baru satu bulan aku memasuki sekolah Sakuragaoka Highschool, cobaan sudah mulai datang kepadaku.
"Kak, mereka mengancamku untuk menuruti kemauan mereka dengan nyawamu.. Hiks.. A-Aku tidak ingin kehilangan satu-satunya keluarga terdekatku.. Tapi, apa yang harus aku lakukan kak?!" tanyaku masih diselingi isakan. Aku menunggu, menunggu jawaban darinya yang sama sekali tidak mendengarkanku.
Meskipun aku menunggu berjam-jam, berhari-hari.. Kakak tidak pernah menjawabku. Aku masih terus melakukan sebisaku untuk tidak melanggar perintah para pembully, demi kakaku. Tapi, apa yang aku lakukan itu benar? Apa kakak setuju dengan yang aku lakukan saat ini?
Setiap hari sejak aku bertemu dengan para pembully, aku menangis di samping kakakku. Aku kehilangan arah.. aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan selain mengorbankan diriku. Aku sangat ingin mendengar suaranya. Suaranya yang mengatakan...
"Jangan lakukan hal itu. Aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu, Karin. Aku akan selalu berada di sampingmu. Aku yang akan menjagamu..."
(End of Flashback)
.
.
"T-Tapi Kazusa. Pada kenyataannya.. Ia.. Ia tidak menjawabku! T-Tidak sepatah kata apapun yang aku dengar darinya! Dan sejak saat itu aku kehilangan arah..!" saat itu juga aku menangis. Air mata panas mengalir melalui lekuk wajahku. Terus menderas karena hatiku pun menangis sederas badai.
"S-Senpai... A-Apa maksudmu.. kau sudah putus asa?! Kau akan terus menunggu jawaban dari kakakmu itu dan sampai kau mendapat jawabannya kau akan terus menyakiti dirimu sendiri?!" tanya Kazusa dengan sentakan. Aku tidak bisa bergeming, di lantai yang dingin, di bawah terik matahari, air mataku terus mengalir seperti air terjun. Sudah sejak lama aku menahan perih hati ini.. setiap kali aku mengingat pertanyaan yang aku lontarkan kepada kakakku.. aku selalu berkata kembali pada diriku sendiri...
"Y-Ya.. Kau benar..
A-Aku akan melakukan apapun untuknya..
Dan aku akan terus menunggu jawabannya..."
.
.
.
.
.
.
~To be Continue~
~Review?~
a/n: Selesaii! Haha author bangga menyelesaikan chapter 2 ini agak cepat^^ Bagamana? Misstypo? Saran-saran? Pertanyaannkah? Oh iyaa, "Kekerasan itu tidak baik!" jadiiii hal-hal baik dilakukan+diamalkan, hal-hal buruk jangan ditiru+dilakukan~! Ok?
Balas review untuk:
Guest, karinkazune, putri, avi, Keiko Rikawa, Natsume Viona-chan, Annie Leonhart, kazufika, sofie. siquelle, poy-chan, gubu, nani, Guest, viviii, yana, dinotnot, tyarya, kiki, dung dung, tyo, ikawa, karin, arini, aki, ayu. dinarwati, Alung, Meirin Hinamori 16, kaka, caca, yara, vivi, hana, yumi, karinkazu, dan saku-chan.
Terima kasih banyak! Author tidak bisa banyak berkata-kata karena saking terharunya T^T Yang ingin update kilat bagaimana nih? Apakah sudah kilat updatenya?! Updatenya rada cepet ya? Wkwkwk author bangga T^T Maafkan kalau nanti rada macet lagii ya updatenya hehe~ XD. Teruss Kazune di fic ini kejam ya?! Benar sekali! Berarti authornya juga kejam! Wuahaha eh.. tapi ngga deng, Kazune kan tetap berandalan pembela kebenaran!^^ Yang ingin Kazune tahu keadaan Karin ya ditunggu saja ya~ Seiiring waktu berjalan semua itu akan terbongkar XD. Lalu yang ingin fic ini nyesek semoga chapter ini ada nyesek-nyeseknya ya? =)) Kemungkinan dua chapter dari sekarang akan ada yang lebih nyesek kayanya? Ditunggu saja ya^^ terima kasih yang sudah memperhatikan penulisan author~ kalau ada misstypo atau kesalah yang lain tolong beritahu ya?^^ Untuk yang menyukai fic ini terima kasih banyak! Author tidak bisa berkata apa-apa lagi T^T. Terakhir, untuk panggilan author silakan panggil apa saja~ Tiara? Boleh, Pictorial? Boleh, Carmine? Boleh, Author? Tentu saja boleh^^, pakai embel-embel –san atau –chan juga boleh~^^ (author kePD-an -_-)
Cukup sekian author notesnya^^ Sampai jumpa di chapter 3^^
