Tittle: All I Want for Christmas is You

Cast:

Jung Taekwoon, Lee Jaehwan

Cha Hakyeon, Kim Wonshik, Lee (Han) Sanghyuk, Lee Hongbin

Rate: T

Genre: Romance, Hurt/Comfort, Family

Warning! OOC, Typo's, etc

Keo! Navi! slight! Woonhyuk

Alur maju mundur. So, tolong di perhatiin tanggalnya ya, biar gak bingung, kekeke

Happy Reading~~

CHAPTER 2

~Keo~

Even if I'm born again

I can't be anyone but you

~Keo~

25 Desember 2015

Keesokan harinya Taekwoon berjalan dengan senyum mengembang menuju kamar yang sudah sangat ia hafal, ia membayangkan betapa bahagianya Jaehwan saat melihat kado natal darinya, sebuah boneka chopper besar yang terlihat begitu fluffy. Namun dahi namja tampan itu berkerut bingung saat tak mendapati siapa-siapa di dalam ruangan tersebut. Mungkin Jaehwan sedang jalan-jalan dengan dokter Cha, pikir Taekwoon. Karna biasanya pagi-pagi seperti ini kekasihnya memang suka merengek pada siapa saja yang datang ke kamarnya untuk ditemani jalan-jalan, dengan alasan ingin menikmati sejuknya mentari pagi.

Taekwoon terus menunggu dengan sabar, hingga jam di pergelangan tangannya menunjukkan hampir pukul 11 siang namun sosok yang ia tunggu tak kunjung kembali. Tak mungkin kekasihnya pergi hingga lebih dari jam 10, karna pada pukul 10 merupakan jadwal kekasihnya untuk meminum obat, dan hingga kini pun tak ada seorang pun yang datang sekedar untuk membawakan sarapan Jaehwan. Ah, ngomong-ngomong tentang sarapan, Taekwoon tak melihat nampan berisi sarapan yang baisanya berada di nakas samping ranjang Jaehwan. Keadaan kamar itu pun hening, seakan tak pernah ditempati. Perasaan takut mulai menggelayuti Taekwoon. tak mungkin kan ada apa-apa dengan kekasihnya? Karna buktinya tak ada yang mengabarinya. Lalu, kemana kekasihnya ini?

Karna penasaran, Taekwoon ragu-ragu melangkah menuju lemari di ruangan itu, dimana diisi oleh baju Jaehwan maupun baju Taekwoon. Dalam hati Taekwoon berdoa, berharap semoga firasatnya tak benar. Tangan gemetarnya memegang handle lemari itu, perlahan membukanya, dan seketika hatinya mencelos sakit. Firasatnya benar. Tak ada baju Jaehwan disana, hanya beberapa potong baju Taekwoon yang masih tersusun rapi. Dengan gusar Taekwoon meraih handphonenya, menelpon Jaehwan namun kemudian mengumpat saat mendengar jawaban yang mengatakan bahwa nomor yang Taekwoon hubungi tidak aktif. Lagi, Taekwoon mencoba lagi, namun yang terdengar masih sama. Taekwoon masih terus-terusan mencoba entah keberapa kalinya, hingga akhirnya tubuhnya merosot lemah. Air matanya lolos begitu saja. Sebenarnya ada apa dengan kekasihnya? Apa ia marah karna Taekwoon tak menemaninya di malam natal semalam? Tapi Jaehwan yang ia kenal bukanlah sosok yang kekanakkan seperti itu. Kekasihnya adalah sosok yang pengertian. Lalu apa yang membuat Jaehwan pergi begitu saja tanpa pemberitahuan?

Ditengah kekalutannya, mata musangnya menangkap dua buah kantung di bawah pohon natal yang berada di dalam kamar itu. Perlahan diraihnya dua kantung tersebut, dan terdapat sebuah kado dan sebuah kartu pada masing-masing kantungnya.

Taekwoon hyung, terimakasih karna telah menjadi kekasihku. Terimakasih telah membuatku merasakan indahnya jatuh cinta, mencintai dan dicintai. Aku akan selalu mencintaimu, hingga aku menemui Tuhan nanti. Saranghae.. tetaplah di sisiku..

Kekasihmu,

Jaehwan

Taekwoon menggigit bibirnya, entah kenapa saat membaca isi kartu itu, hatinya merasakan sangat sakit. Ia menatap kantung ditangannya, dan matanya terbelalak seketika. Jangan-jangan..

Bunyi pintu yang terbuka membuyarkan lamunan Taekwoon. Ia berharap bahwa Jaehwan lah yang membukanya dan berharap bahwa semua firasatnya salah, namun ia harus menelan rasa kecewa saat mendapati Hyuk lah yang membuka pintu itu.

"Taekwoon hyung? Mana Jaehwan hyung?"

Taekwoon tak menjawab, membuat Hyuk menatapnya bingung. Kemudian namja yang lebih muda 4 tahun dari Taekwoon itu melangkahkan kakinya menuju Taekwoon yang masih saja duduk terpekur di lantai.

"Apa yang kau lihat, hyung?"

Alih-alih menjawab, Taekwoon malah menyodorkan sebuah kantung padanya.

"Kado natal untukku?" meski bingung, Hyuk tetap mengambilnya. Bukankah Taekwoon sudah memberikan kado kepadanya semalam.

Dahinya berkerut bingung saat mendapati sebuah kado dan kartu disana. Dibukanya kartu itu.

Hyukkie! Adik hyung yang paling hyung sayangi~ kau tahu.. kau adalah salah satu alasan hyung untuk terus bertahan hidup. Terimakasih karna telah menemani hyung selama ini. Hyung sellau bersyukur karna Tuhan telah menganugerahkan kau sebagai adik hyung. Hyung mencintaimu~ by the way, carilah pacar, agar kau tak terus berkutat dengan dunia perkuliahan saja, kekeke

Hyung mu yang terimut,

Jaehwan

Hyuk tersenyum senang membacanya. "Ini kado dari Jaehwan hyung! Lalu Jaehwan hyung mana, hyung?"

"Kurasa.. Jaehwan sudah pergi.." suara Taekwoon terdengar begitu menyedihkan saat mengucapkannya. Air mata menetes di pipinya.

"Apa maksud, hyung?" tanya Hyuk bingung. Ia mendudukkan dirinya di samping Taekwoon. "Jaehwan hyung pergi kemana memangnya, hyung?" tanyanya gusar. Entah kenapa perasaannya tidak enak.

Dengan bahu yang bergetar dan wajah menunduk, Taekwoon mengendikkan bahunya, "Kurasa.. Jaehwan telah mengetahui hubungan kita.."

Mata Hyuk terbelalak kaget mendengarnya, "Bagaimana bisa? Bagaimana hyung tahu?!"

"Sesungguhnya.. semalam di bawah pohon natal.. aku seperti melihat sosok Jaehwan. Namun aku menyangkalnya karna tak mungkin ia berada di luar.." Taekwoon menarik nafas dalam, "Namun pagi ini.. aku tak mendapati dirinya hingga kini, nomornya tak bisa dihubungi, bajunya pun tak ada dilemari, dan.. yang tersisa hanya dua kantung kado dan kartu di bawah pohon natal. Ia membeli kado ini di toko di dekat taman kota.." jelas Taekwoon panjang lebar.

Rasa sesak menyelimuti hati Hyuk, ia menangis, rasa bersalah menyeruak. Ini memang kesalahannya. Andai ia tak membuat Taekwoon berpaling sebentar padanya kala kakaknya tengah terbaring koma, mungkin kini kakaknya masih bersama dengannya, menikmati hari natal seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun kini, kakaknya pergi meninggalkan mereka. Air matanya mengalir membayangkan kakaknya yang begitu disayanginya menangis pilu karna ulahnya dan Taekwoon.

"Jaehwan hyung.. hiks.. maafkan, Hyukkie.. hiks.."dan Sanghyuk terisak berharap kakaknya dapat kembali.

Taekwoon yang melihatnya pun hanya dapat membawa Sanghyuk ke dalam pelukannya. Air matanya juga mengalir. Ia juga merasakan sakit dan sesak, terlebih saat bayangan kekasihnya yang menangis melintas di pikirannya, semakin membuatnya membenci dirinya sendiri.

Sementara di tempat lain, Jaehwan meringkuk di ranjang di salah satu ruang rawat inap di sebuah rumah sakit. Mungkin orang yang melihatnya menyangka jika ia tengah tertidur, namun jika lebih teliti maka akan diketahui bahwa namja manis itu tengah menangis, membuat siapa saja ikut sedih melihatnya, begitu pula dengan Hakyeon yang tengah berada di pelukan Wonshik yang menatap Jaehwan dari balik pintu. Air mata itu terus mengalir, terkadang Jaehwan merutuk akan hatinya yang lemah, namun bayangan itu terus melintas, saat Taekwoon dan Hyuk berciuman, kemudian kenangan mereka dulu pun semakin membuat dadanya semakin sesak. Jujur, Jaehwan tengah kalut dan bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Oh, Tuhan, apa yang harus Jaehwan lakukan? Apa aku biarkan saja mereka bersama? Tapi.. Jaehwan sangat mencintai Taekwoon hyung? Tapi.. apa Taekwoon hyung juga mencintai Jaehwan? Atau ia hanya kasihan pada Jaehwan yang penyakitan ini? Apa selama ini Taekwoon hyung hanya bersandiwara?

Jaehwan meraih handphone yang sejak semalam ia matikan, dengan air mata yang terus mengalir, ia mengetik beberapa kata, dan mengirimkannya, sebelum akhirnya mematikan lagi handphonennya. Iya.. ia yakin bahwa keputusannya sudah benar, toh hidupnya tak lama lagi bukan? Dan ia juga sudah pernah merasakan jatuh cinta, mencintai dan dicintai, meski ia tak tahu apakah Taekwoon memang benar mencintainya seperti yang selalu ia katakan. Karna, jika Taekwoon mencintainya, tak mungkin kan ia mengkhianatinya?

Taekwoon merasakan handphonenya bergetar. Ia melepaskan pelukannya pada Hyuk dan meraih handphonenya yang tergeletak pasrah di lantai. Ia menatap tak percaya notifikasi di handphonenya. Jaehwannya mengiriminanya pesan. Dihapusnya air mata yang berniat untu keluar dari matanya, tak ingin pandangannya memburam saat membaca pesan dari kekasihnya. Ah, apa Jaehwan memang masih kekasihnya?

Dengan tangan gemetar Taekwoon membuka pesan itu, memejamkan mata dan merik nafas dalam sebelum membacanya.

Taekwoon hyung, maaf karna aku pergi tanpa pamit, tapi ku harap kau mengerti alasan kepergianku. Aku tak marah pada kalian berdua, hanya saja aku.. kecewa. Aku marah dan kecewa pada diriku sendiri yang penyakitan dan tak pantas bersanding denganmu. Ya, seharusnya sedari awal aku tak menerimamu, bermimpi merajut cinta bersamamu, karna.. namja sesempurna kau memang lebih cocok untuk mendapatkan yang lebih baik, setidaknya yang dapat menemanimu hingga tua, tidak sepertiku, yang bisa kapan saja meninggalkanmu. Terimakasih atas segalanya, hyung. Aku bersyukur pernah memilikimu. Kenangan yang pernah kita ukir dulu terasa sangat indah, dan biarkan aku membawanya saat aku sudah tak bisa bertahan lagi. Aku bahagia atau segala yang pernah kita lewati. Jaga Hyuk untukku, katakan bahwa aku mencintainya dan tak pernah menyalahkannya. Dan.. jangan cari aku. Aku mencintaimu, hingga maut menjemputku..

Tangis Taekwoon pecah kembali setelah selesai membaca pesan itu. Jika tadi hanya tangis tanpa suara, namun kini berubah menjadi isakan yang memilukan.

"Maafkan aku, Jaehwan~ah! Ku mohon maafkan aku.." lirihnya.

Hyuk yang sedari tadi memandang Taekwoon bingung, mengambil handphone Taekwoon dan membaca pesan yang terpampang disana.

"Jaehwan hyung.." lirihnya. "Hyung.. kau harus berjanji.. hiks.. untuk menemukan Jaehwan hyung.. hiks.. carilah ia.. hiks.. bahagiakan ia.. hiks.. " Hyuk menghapus air matanya kasar. "Jaehwan hyung.. terlalu sering menderita.. hiks.. ia berhak untuk bahagia.. hiks.. dan aku, mengambil satu-satunya kebahagiaannya.. hiks.. maafkan aku, Jaehwan hyung.." dan Hyuk pun berdiri sebelum akhirnya berlari meninggalkan Taekwoon yang tengah meratapi nasibnya.

Ya.. Taekwoon tahu, Hyuk pun melepaskannya, sama seperti Jaehwan yang melepaskannya. Mungkin inilah waktunya Taekwoon untuk memilih, atau masihkah ia memiliki kesempatan untuk memilih?

~Keo~

I miss you, I'm letting your hand go now

But

I miss you

Meet someone who's completely different from me

And bury your memories of me

Romance is over

~Keo~

20 Desember 2016

"Jaehwan~ah! Lihat apa yang hyung bawa!" pekik sebuah suara yang sudah sangat ia kenal. Siapa lagi kalau bukan Hakyeon. "Wonshik~ah! Cepat bawa masuk! Kenapa kau lemah sekali sih jadi seme?!" sewot Hakyeon, ia berkacak pinggang di depan pintu kamar rawat Jaehwan, memandangi suaminya yang tengah kesusahan membawa benda yang tak dapat di bilang kecil itu. Tak ada niatan sedikit pun untuk membantu suaminya itu.

"Kenapa kau jadi suka marah-marah sih semenjak hamil?" sungut Wonshik.

"Oh! Kau tak suka dengan kehamilanku?" Hakyeon mengelus perutnya yang mulai membuncit. "Baby~ lihatlah appamu, dia memarahi eomma. Appamu sudah tak sayang lagi pada eommamu ini~" rengek Hakyeon dramatis, memancing wajah gelisah dari Wonshik dan tawa renyah dari Jaehwan.

"Bukan begitu, sayang!" elak Wonshik cepat.

Jaehwan sudah terbiasa dengan pertengkaran kecil pasangan suami istri itu, yang terlihat romantis di matanya. Tak jarang terkadang rasa iri menelusup ke dalam hatinya. Ah, andai dua sejoli di depannya itu adalah ia dan Taekwoon.

Ia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, menghalau air mata yang seakan hendak keluar dari kedua maniknya. Entah mengapa setahun belakangan ini ia menjadi sangat mellow, terlebih saat bayangan tentang Taekwoon dan kenangan mereka terlintas di pikirannya.

"Tada!" pekik Hakyeon senang, membuyarkan lamunan Jaehwan.

Mata Jaehwan yang sedikit memerah menahan tangis itu membelalak saat mendapati apa yang ada di hadapannya. Matanya berkaca-kaca karna terharu, dengan perlahan ia turun dari tempat tidurnya, yang dengan sigap Wonshik segera membantunya dan membawanya ke tempat dimana Hakyeon berdiri dengan bangganya.

"Hakyeon hyung.." lirih Jaehwan. Ia memeluk namja berkulit tan itu saat sudah berada di depannya. Tak terlalu erat, karna ia masih ingat dengan individu lain yang berada di perut Hakyeon. "Gomawo, hyung.." lanjutnya tulus.

Hakyeon tersenyum, begitupun dengan Wonshik yang ikut tersenyum melihat kedua sosok yang ia sayangi itu. Istrinya, dan namja yang sudah ia anggap sebagai kakaknya.

"Aku tahu, kau sangat menyukai pohon natal, makanya aku langsung meminta suamiku ini untuk membelikannya dan membawanya ke sini untuknya." Hakyeon melepaskan pelukan itu. "Bagaimana? Kau suka?"

Jaehwan mengangguk antusias. "Kyaa! Kyeopta!" gemas Hakyeon, sembari mencubit pipi tirus Jaehwan. Ya, semenjak hamil, Hakyeon memang sangat suka untuk mencubit pipi Jaehwan, meskipun hanya terlihat seperti tulang berbalut kulit, namun bagi Hakyeon, Jaehwan adalah adik termanis dan terimut yang pernah ia punya.

"Nahh! Sekarang waktunya pemberian kado!" girang Hakyeon. "Wonshik~ah! Mana kado untuk Jaehwan?"

"Ah! Sebentar!" Wonshik melangkah menuju bungkusan kado yang berada di atas sofa di dekatnya. "Ini dia!" Wonshik menyerahkan kado dengan bungkus kado bergambar chopper itu kepada Hakyeon.

"Nah! Ini dia kado dariku dan Wonshik untukmu! Tapi, kau tak boleh membukanya sekarang ya! Harus pada malam natal!" peringat Hakyeon.

Jaehwan mengambil kado itu dan memeluknya. "Gomawo, hyung.." matanya terlihat berkaca-kaca. "Tapi, hyung.. aku ingin meminta sesuatu darimu, boleh?"

"Apa?" tanya Hakyeon sembari tersenyum senang.

"Kau janji harus mengabulkannya ya?"

Entah kenapa perasaan Hakyeon terasa tak enak saat mendengar ucapan Jaehwan, namun kepalanya tetap mengangguk mengiyakan, mengundang senyum manis dari Jaehwan yang masih berdiri dengan kado di pelukannya.

Namja manis itu menelan ludahnya, "Hyung.. ayo kita berhenti saja.."

"Sayang!" pekik Wonshik saat melihat tubuh Hakyeon yang limbung. Hakyeon memijit pelipisnya. Ini yang ia takutkan. Disaat Jaehwan memilih untuk menyerah.

Wonshik membawa Hakyeon untuk duduk di sofa, diikuti oleh Jaehwan yang melangkah perlahan.

"Kau.. serius?" tanya Hakyeon saat ia sudah merasa bisa menguasai diri, yang di jawab dengan anggukan mantap dari Jaehwan.

"Jae!" pekik Hakyeon setengah membentak.

Jaehwan menunduk takut.

"Sayang, jangan seperti itu. Kau menakuti Jaehwan hyung!" sela Wonshik, berusaha menenangkan istrinya.

"A..aku.. sudah yakin dengan keputusanku, hyung." Namja manis itu mengangkat wajahnya, menatap Hakyeon dan Wonshik yang jua menatapnya. "Ini.. terlalu menyakitkan. Obat-obat itu, kemoterapi itu, rasa sakit yang terus-menerus.. segalanya.." air mata Jaehwan mengalir saat mengingat betapa menyakitkannya semua terapi yang telah ia lalui selama ini. "Aku tahu, mungkin aku bodoh karna tak mau berjuang hingga akhir, namun.. aku tak sanggup lagi, hyung.." kepala Jaehwan menunduk dalam. "Maafkan aku.. hiks.. tapi.. aku sudah.. hiks.. menyerah.." dan terdengar isakan pilu setelahnya.

Hakyeon memeluk Wonshik, menumpahkan air matanya di sana. Ia tahu, segala yang mereka lakukan memang tak dapat menyembuhkan Jaehwan. Hakyeon pun tak berharap banyak, ia hanya berharap semoga dengan upaya yang telah dilakukannya itu, paling tidak waktu dimana Jaehwan akan bertahan akan bertambah, meskipun hanya sedetik. Lalu Hakyeon harus bagaimana jika Jaehwan sendiri sudah menyerah? Hakyeon bukannya tega. Ia juga tak tega dan sedih melihat bagaimana Jaehwan merasakan sakit yang semakin bertambah di setiap waktunya. Miris saat melihat Jaehwan harus bertahan dengan rasa sakit saat kemoterapi, yang seakan tak memberikan banyak manfaat pada tubuhnya yang ringkih. Surai coklatnya dulu pun sudah semakin tipis karna efek samping kemoterapi tersebut.. Tapi, Hakyeon tak bisa apa-apa selain berusaha menghibur Jaehwan, berusaha menjauhkan kata menyerah dari Jaehwan, dan kini sepertinya usahanya sia-sia karna Jaehwan telah memutuskan untuk menyerah.

~Keo~

I don't want a lot for Christmas

There's just one thing I need

I don't care about the present

Underneath the Christmas tree

~Keo~

20 Desember 2016

Taekwoon memijit pelipisnya. Kepalanya terasa pening. Semenjak kepergian Jaehwan hampir setahun yang lalu, semuanya terasa hampa. Kehidupannya terasa kacau balau, ayahnya yang sudah lama pensiun bahkan meminta untuk mengambil kendali perusahaannya beberapa waktu, hingga Taekwoon mampu menyelesaikan masalahnya, yang disambut bahagia oleh Taekwoon. ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk mencari Jaehwan ke seluruh penjuru Seoul, bahkan Korea, namun entah kenapa sosok yang masih ia klaim sebagai kekasihnya itu seakan menghilang di telan bumi. Ia sudah menanyakan kepada dokter Cha, dokter yang mengurusi Jaehwan, yang juga ikut pindah pada hari kepergian Jaehwan, namun dokter itu memilih untuk bungkam. Tak sampai disitu saja, namja tampan itu pun secara diam-diam menyelidiki apakah terdapat pasien yang bernama Jaehwan di rumah sakit dimana Hakyeon bekerja yang baru, namun hasilnya nihil. Tak ada yang bernam aJaehwan disana, membuat Taekwoon putus asa.

Namja tampan itu menghela nafasnya. Ia baru saja akan beranjak dari duduknya, hendak mengisi perutnya yang kosong semenjak kemarin pagi, saat dering ponsel menghentikannya.

Dokter Cha's Calling

Dengan segera Taekwoon menekan tombol berwarna hijau.

"Yeoboseyo dokter Cha, ada apa?"

Terdengar isakan kecil di sebrang sana. "Rumah Sakit Hanyang, kamar nomor 106, pasien bernama Ken."

Jantung Taekwoon bertalu mendengarnya. "A–apa maksud anda?"

"Sudahlah datang saja!" bentak disebrang sana, membuat Taekwoon sedikit berjengit kaget. "Ku mohon.. biarkan ia bahagia.. meski ia sudah menyerah.. meski kau, hanya berpura-pura membahagiakannya.." lirih Hakyeon.

Taekwoon menggigit bibirnya. "Gomawo, dokter! Gomawo!"

Dengan tergesa ia mematikan sambungan telpon itu, meraih kunci mobilnya dan berlari menuju basement tempat mobilnya di parkir.

"Tunggu aku, Jaehwan~ah! Ku mohon!" lirihnya.

Ya, Taekwoon berjanji akan membahagiakan Jaehwan hingga ia tak sanggup untuk bertahan lagi, dan tak ada kepura-puraan, karna ia memang benar mencintai Jaehwannya.

~Keo~

I don't need to hang my stocking

There upon the fireplace

Santa Claus won't make me happy

With a toy on Christmas day

~Keo~

20 Desember 2016

Jaehwan duduk bersandar di kursi dengan selimut yang menyelimuti kakinya. Memandangi jendela yang menampakkan jalanan sore yang lengang.

I don't want a lot for Christmas

There's just one thing I need

I don't care about the present

Underneath the Christmas tree

Terlalu khusyuk menyanyi dan memandangi ke luar sana, ia bahkan tak menyadari seseorang tengah membuka pintu kamar rawat inapmya perlahan.

I don't need to hang my stocking

There upon the fireplace

Santa Claus won't make me happy

With a toy on Christmas day

Air mata Jaehwan mengalir. Ia tahu bahwa keputusannya untuk menyerah itu salah, namun ia tak mungkin memberitahukan pada Hakyeon bahwa.. ia rasa waktunya sudah tak lama lagi. Ia sudah merasa bahwa Tuhan akan mengirimkan malaikat mautNya untuk menjemputnya sebentar lagi.

Sosok itu terus mendekat, dengan air mata bahagia yang mengalir di pipinya. Ia tak menyangka bahwa sosok yang tengah duduk bersandar di dekat jendela sana memanglah sosok yang ia cari selama ini.

I just want you for my own

More than you could ever know

Make my wish come true

All I want for Christmas is you

Mata Jaehwan memejam. Ia tahu ia egois. Ia sudah memutuskan untuk melepaskannya, namun kenapa kini ia menangkup tangannya di depan dada dan berharap Tuhan memberikan kesempatan untuknya bertemu dengan sosok itu, dan mengembalikan segalanya seakan pengkhianatan itu tak pernah ada? Ya.. itu karna ia merindukannya, merindukan Taekwoonnya.

I won't ask for much this Christmas

I don't even wish for snow

I'm just gonna keep on waiting

Underneath the mistletoe

I won't make a list and send it

To the North pole for Saint Nick

I won't even stay awake to

Hear those magic reindeers click

'Cause I just want you here tonight

Holding on to me so tight

What more can I do

Baby all I want for Christmas is you

Jaehwan membuka matanya. Ah, entah kenapa ia merasakan aroma Taekwoon saat ini. Tawa miris melantun dari bibirnya, apa ia sudah gila karna sangat merindukan namja yang masih dan akan terus mengisi relung hatinya itu?

All the lights are shining

So brightly everywhere

And the sound of children's

Laughter fills the air

And everyone is singing

I hear those sleigh bells ringing

Santa won't you bring me the only one I really need

Won't you please bring me my baby to me

Suara Jaehwan terdengar parau karna isakan yang juga turut mengiringi nyanyian Jaehwan yang terdnegar begitu pilu, membuat sosok yang ia rindukan, Taekwoonnya, sedari tadi hanya dapat mematung, tak berani mendekat kepada sosok yang sebenarnya sudah sangat ingin ia peluk itu.

Oh I don't want a lot for Christmas

This is all I'm asking for

I just want to see my baby

Standing right outside my door

Jaehwan telah sampai pada bagian akhir lagu, dan Taekwoon tahu, itulah saatnya ia muncul, membiarkan Jaewan tahu tentang keberadaannya. Setelah menarik nafas dalam, ia yakin ia sudah siap.

Oh I just want you for my own

Mata Jaehwan membelalak kaget saat mendengar suara lain yang turut menyanyi bersamanya. Seketika itu pula ia berbalik, mencari sumber suara itu. Dan betapa terkejutnya ia saat mendapati Taekwoon lah yang turut bernyanyi bersamanya. Sosok yang ia rindukan, berdiri tepat di depannya.

More than you could ever know

Jaehwan berdiri namun mulutnya mengatup, tak sanggup untuk ikut bernyanyi. Maniknya hanya menatap Taekwoon yang tetap menyanyi sembali melangkah mendekatinya.

Make my wish come true

Tuhan, benarkah ia Taekwoon hyung? Apa aku hanya bermimpi? Atau ini hanya halusinasiku saja? Pikir Jaehwan.

Baby all I want for Christmas is you

Jaehwan masih menatap sosok yang kini telah berdiri di depannya. Matanya berkaca-kaca. Sosok itu menangkup kedua pipi Jaehwan di tangan hangatnya.

All I want for Christmas is you.. baby

Dan kedua bibir yang sudah lama tak bertemu itu akhirnya menyatu. Taekwoon tersenyum di sela ciumannya. Akhirnya ia bisa merasakan manisnya bibir Jaehwan, meski bibir itu terasa kasar dan tak selembut dulu, namun rasanya tetap sama, sensasinya tetap sama, tetap membuat jantung Taekwoon berdegup kencang. Tangannya menarik pinggang Jaehwan mendekat, memeluknya sebelum akhirnya mengubah kecupan mereka menjadi lumatan kecil, membuat Jaehwan menutup matanya, dan mengalungkan tangan ringkihnya di leher Taekwoon.

Saat merasakan bahwa Jaehwannya butuh bernafas, Taekwoon melepaskan tautan mereka, meninggalkan Jaehwan yang sedikit terengah.

Tes

Sebercak darah mengalir dari hidung Jaehwan dan menetes di lantai.

"Jaehwan~ah!" pekik Taekwoon. Ia langsung menggendong namja manis itu dan meletakkannya di atas ranjang disana.

Taekwoon sudah akan berlari mencari dokter ataupun perawat yang bisa menolongnya, namun Jaehwan menahan tangannya.

Jaehwan tak pernah sebahagia ini saat darah mulai menetes dari hidungnya. Awalnya Jaehwan menganggap ini semua hanya halusinasinya. Namun saat ia merasakan cairan itu mengalir keluar, ia tahu bahwa ia tak sedang berhalusinasi atau bermimpi. Dan ia tak membutuhkan siapapun, karna yang ia butuhkan, Taekwoonnya telah ada disini, bersamanya.

Namja itu tersenyum manis meski dengan darah yang masih terlihat mengalir keluar dari hidungnya, mengundang kerutan bingung pada Taekwoon. Ia mengucap syukur dalam hati karna Tuhan masih berbaik hati untuk mengabulkan do'anya, sebelum akhirnya memeluk Taekwoon erat, meyakinkan sekali lagi bahwa sosok itu memanglah nyata.

"Jaehwan~ah!" protes Taekwoon. Ia bingung dengan perilaku kekasihnya. Demi apa, ia harus segera memanggil dokter tapi kekasihnya malah memeluknya.

"Tetaplah seperti ini. Aku.. merindukanmu, Taekwoon hyung.. sangat.." lirih Jaehwan pelan namun masih dapat di dengar oleh Taekwoon, membuat namja bermata musang itu ikut memeluknya erat.

Dan Taekwoon tahu, bahwa Jaehwannya telah memaafkannya dan masih miliknya.

~Keo~

I just want you for my own

More than you could ever know

Make my wish come true

All I want for Christmas is you

~Keo~

TBC/END?

Heyho~~ Akhirnya selesai diketik juga ni chapter 2~ Sorry for slow update ide di otak Kyura tu munculnya suka gak tau tempat, pas lagi nyuci lah, makan lah, mandi lah. Giliran udah diem di depan laptop buat ngetik eh malah ngeblank T.T

By the way, kenapa ku buat TBC/END lagi? Karna chapter 2 ini bisa di bilang semi ending (?). Sebenernya ending aslinya bukan begini, masih pen buat scene dimana Keo ada lovey doveynya gitu. Cuma kalo semisal gak bisa ngelanjut paling gak ceritanya gak terlalu ngegantung, kekeke

Lagi-lagi ku minta review yaa~~ ni fanfic di lanjut atau cukup sampai disini aja endingnya~ dan juga follow sama favsnya di tunggu loh~ biar makin semangat~~ ^^

Makin banyak yang review, Kyura makin semangat loh buat fanficnya~~ beneran deh~~

Bubye~~~